gomenasai karena lama, sebenernya, gw juga rada kepepet soalnya harus kuliah + ngejar SBM lagi ( T_T), tapi karena kemarin dujin EliUmi (Yukiiti), di translate , tiba2 ide ngalir, jadi karena ada yaaa, buat apa di anggurin


Chapter 1: I'm (not) alone

"Baiklah, sampai besok Umi chan", ucap dua gadis, seraya mereka melambaikan tangan kepada seorang gadis berambut biru panjang yang hendak memasuki apartemennya

"iya, sampai besok Honoka, Kotori" jawabnya, lalu tersenyum kepada dua temannya, tangan kanannya juga sudah mulai memasukkan kunci kedalam lubang pintu miliknya.

Untuk sesaat dia memandangi kedua sahabatnya yang mulai berjalan menjauhi gedung apartemennya, Dan pada akhirnya dia, memasuki kamarnya, "aku pulang" dia tetap mengucapkan hal itu walaupun dia tahu tidak akan ada yang menjawab salamnya, dia mulai melepaskan kedua pasang sepatu miliknya, lalu melangkah masuk lebih dalam, tubuhnya melangkah menuju ruang tamu, Dan secara otomatis menjatuhkan dirinya pada sofa di belakangnya, "haaahhh…" dia menghembuskan nafas panjang melalui mulutnya, tangan kirinya menaruh tasnya tepat di samping kirinya, dia mulai merebahkan kepalanya pada sandaran sofa.

Ternyata ini resiko untuk memilih hidup sendiri, dia meletakkan punggung tangannya untuk menutupi kedua matanya, "mungkin dengan berendam bisa menenangkan pikiranku" ucapnya seraya perlahan bangun dari sofa, dan berjalan lunglai menuju kamar tidurnya.

Dia membuka pintu kamarnya, pintu belum terbuka seutuhnya, tangan kirinya mulai meraba – raba dinding untuk mencari tombol untuk menyalakan lampu, sinar telah menyinari kamranya dan memperlihatkan perabotan yang ada di dalamnya. Dia berjalan masuk, menuju lemari baju, mengambil sepasang baju tidur, dan keluar kamar dengan membiarkan lampu menyala kali ini.

Gadis berambut biru itu, kini sudah berendam di bak mandi milikinya, mencoba meregangkan semua bagian tubuhnya yang terasa kaku dan letih, dia mulai menutup kedua matanya dan merebahkan tengkuknya. Sepiaku memutuskan untuk pindah ke tempat ini dan tinggal seorang diri, keuntungannya adalah, apartemen ini dekat dengan sekolah ku, begitu pun dengan Universitas yang ingin ku masuki nantinya, aku seorang diri, karena aku pikir aku akan bisa menjadi lebih fokus dalam belajar untuk ujian akhir dan juga ujian masuk universitas, tapi dengan cerobohnya aku juga tidak terlalu mementingkan resikonya.

Dia mengambil air sabun dengan tangan kanannya, perlahan membawanya mendekati wajahnya, lalu mulutnya mulai meniupkan udara sehingga menyebabkan gelembung itu perlahan meninggalkan telapak tangannya, terbang melayang mengikuti arus angin yang membawa gelembung putih itu semakin mendekat pada jendela yang terbuka di sampingnya, Umi menyaksikan hal itu, kedua mata topaznya terus melekat pada pergerakan si gelembung, yang pada akhirnya lingkaran bening itu melayang keluar melewati jendela yang terbuka.

"haaahh… bahkan gelembung saja ingin meninggalkanku" dia mengatakan hal itu seraya badannya menyelam semakin dalam, dan hanya memperlihatkan mata dan hidungnya.

Dengan sudah memakai baju tidur, gadis berambut biru itu berjalan kembali menuju kamar tidurnya, dia menolehkan matanya sejenak ke arah dapur Aku sudah makan cukup banyak cheesecake saat bersama Honoka dan Kotori, saat dalam perjalanan tadi, jadi sepertinya aku akan langsung tidur saja. Dia meneruskan langkahnya menuju kamar tidurnya, membuka pintunya, tangannya secara otomatis bergerak untuk mencari saklar lampu guna untuk mematikan lampu, di saat saklar sudah di tekan, ruangan menjadi gelap, namun belum seutuhnya karena Umi masih belum menutup pintu kamarnya, sehingga lampu yang berasal dari ruang tamu masih dapat memberikan sedikit cahaya pada kamar tidurnya.

Tanpa sengaja matanya melihat sesuatu yang asing, terlihat seperti ada siluet seseorang yang sedang tidur di ranjangnya, namun dia mengabaikannya karena pikirnya kalau itu hanyalah halusinasi, dan segera menutup pintu kamarnya, sehingga sekarang keadaan kamar sudah benar – benar gelap gulita. Namun itu tidak menghalangi Umi untuk berjalan menuju tempat di mana ranjangnya berada, karena dia sudah hafal di mana letak dari masing – masing barang miliknya

Hanya karena aku sedang merasa kesepian bukan berarti aku harus mengkhayal sesuatu yang tidak mungkin. Batinnya, seraya merebahkan diri di atas ranjangnya dan mulai menarik selimut untuk menutupi hampir selururuh bagian tubuhnya

"Oyasumi" dia mengatakan hal itu, dan perlahan mulai memejamkan kedua matanya

"hmmnn… Oyasumi"

Balasan salam yang tak terduga sontak membuatnya terkejut dan membuka kembali kedua matanya, saking terkejutnya dia menarik tubuhnya ke belakang untuk keluar dari ranjang, dan menyebabkan terjatuhnya si gadis berambut biru, mengahantam lantai, rasa sakit yang di rasakan tubuh bagian bawahnya dia abaikan, dan langsung berdiri untuk mencari saklar, jantungnya berdegup layaknya bom waktu, jarinya berhasil menekan saklar lampu, dan di saat cahaya mulai kembali menyinari kamarnya, Kedua mata milik si gadis berambut biru, terbuka lebar karena apa yang dia lihat sebelumya ternyata bukan halusinasi.

Yang dia lihat sekarang adalah seorang gadis berambut pirang, mengenakan blazer biru laut cukup panjang, syal merah tua masih terikat longgar di sekeliling lehernya,dan kedua kakinya terbalut legging hitam sepanjang mata kaki, dari penampilannya dia terliat seperti seseorang yang baru saja pulang dari bepergian namun belum sempat mengganti bajunya. Gadis pirang itu juga sekarang memasang ekspresi yang sama dengan Umi, yaa, terkejut dengan apa yang terjadi, dan kedua bola mata birunya terbuka lebar saat melihat gadis berambut biru yang ada di hadapannya.

Umi bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang di lihat oleh matanya, perlahan otaknya mulai bekerja, karena sepertinya Umi pernah melihat sosok pirang yang ada di depannya, perlahan bibirnya mulai bergerak dan mengeluarkan kata – kata

"U..Umi, So..Sonoda Umi"

si Pirang menggumamkan nama gadis yang ada di depannya, kenapa aku bisa ada di sini?, bukannya aku tadi sedang berbelanja dengan Arisa, lalu bertemu anak anjing, dan cahaya terang menghampiriku.

"E..Eli senpai"

Otaknya mulai mengolah tentang apa yang terjadi, dia terus memandangi si pirang yang duduk di atas ranjangnya, yang ternayata adalah mantan kakak kelasnya, banyak pertanyaan yang mulai berdatangan di dalam pikirannya, tapi yang paling mendapat perhatiannya sekarang hanyalah satu pertanyaan.

Jika ini halusinasi, tidak mungkin dia dapat memanggil namaku, lalu kalau dia bukan halusinasi, mengapa seluruh tubuhnya tembus pandang?


yaa, sesuai dengan judulnya yaitu Ghost, bisa dibilang Eli ini adalah Eli namun tidak dalam bentuk Eli seutuhnya(?), karena hanya dalam bentuk roh, terus badannya?, jadi Elinya udah mati apa belum?

kuy tebak - tebakkan ( ^o^)/