Chapter 2: That Meet

.

.

Eysha CherryBlossom presenting

.

.

CRAZY for YOU

.

.

Fic ini terinspirasi dari sebuah drama Korea berjudul "The Heirs" dengan beberapa ide milik saya jadi NO PLAGIAT dalam bentuk apapun

.

DISCLAIMER :

Dari awal pembuatan Naruto sampe sekarang sih masih Om Masashi Kishimoto

.

STORY :

RATE : T (Belum berani bikin rate M XD)

.

GENRE:

Romance, Hurt/Comfort with lil bit humor maybe

.

PAIRING :

Sasuke x Sakura x Gaara, slight Sasuke x Matsuri

.

WARNING :

AU, OOCness, gaje, EYD amburegul, dapat menyebabkan mual, muntah dan gangguan kehamilan pada janin #plaaak

.

DLDR

(DON'T LIKE DON'T READ)

.

If You Like Then Give Me Your Review Or Concrit, Flames Will Be Avoided

.

.

Happy Reading ^_^

.

.

.

Sang gadis bersurai senada bunga Sakura kembali berlari cepat. Mengalahkan kecepatan lari pemain rugby bernomor punggung 21 dari fandom sebelah, menghindari Sasuke yang mengejarnya.

"Hey Pinky! Cepat kembali! Kau harus bertanggung jawab!" seru Sasuke berlari dengan sekuat tenaga mengerjarnya.

"Hah... hah...apa dia... hah... itu keturunan cheetah? Larinya cepat sekali," gumam Sasuke seraya berlari. Napasnya terengah-engah namun dia tidak menghentikan larinya mengejar gadis yang dia anggap penyusup.

Sang gadis masih berlari, tiba-tiba di depannya ada dua orang pria yang sedang melintas, mengangkut sebuah meja besar.

'Tidak ada cara lain,' batin sang gadis mengambil ancang-ancang.

Sasuke yang mengejar gadis itu terperangah dengan bola mata melebar. Ia terkejut dengan apa yang dilakukan sang gadis.

Gadis itu kembali berlari dengan kecepatan penuh walaupun di depannya ada sebuah meja yang diangkut dua orang pria. Tiba-tiba ia melompati meja itu dengan kekuatan ninjanya (Readers: Hoooi, ini AU kelees) dan kembali berlari.

.

"Gadis itu benar-benar keturunan cheetah. Sudah kekuatannya seperti monster, larinya juga cepat, sekarang melompat seperti seorang ninja," gumam Sasuke setuju dengan author #plaaak

"Sial, dia berlari lagi," ucap Sasuke kembali berlari seraya mengumpat setelah terperangah akan tindakan sang gadis.

Sasuke melihat sebuah benda yang terjatuh di dekat kakinya dan mengangkat benda itu.

"Hn? Kartu identitas ya?"

"Sa-ku-ra Ha-ru-no," ujarnya membaca sebuah nama di kartu itu kemudian menyeringai begitu mengetahui kartu milik gadis yang dikejarnya terjatuh. Melanjutan kembali aksi pengejarannya.

.

.

Gadis yang diketahui bernama Sakura berbelok ke kanan ketika mendapati sang pemuda berambut aneh tidak di belakangnya lagi. Ia membuka sebuah pintu dan masuk ke dalam menyembunyikan dirinya.

Sasuke berhenti ketika ia tidak mendapati sang gadis, menoleh ke kanan dan ke kiri mencari jejaknya.

"Sial. Kemana gadis itu? Cepat sekali menghilang."

Sasuke mendengus,"Ugh, ini sakit sekali. Kurasa aku harus memeriksakannya di rumah sakit, jangan sampai bekas pukulannya meninggalkan jejak. Bisa-bisa ketampananku hilang," ujarnya sembari bernarsis ria.

"Benar-benar tenaga monster. Kalau aku bertemu, akan ku patahkan tangannya." Sasuke berujar kesal sembari mengusap pipinya yang lebam akibat pukulan sang gadis dan beranjak pergi mendapati koridor sekolah mulai ramai oleh para siswa.

.

.

Sebuah pintu di sebelah toilet pria terbuka menampilkan sosok Sakura. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri mencoba mencari sosok pemuda yang tadi mengejarnya.

Sakura bernapas lega ketika tak mendapati pemuda itu lagi.

'Gawat. Aku harus menemui Kurenai-sensei sekarang,' batinnya setelah melirik jam tangan berwarna pink di tangan kirinya.

.

.

.

Setelah beberapa menit mencari ruangan yang di tuju, Sakura berdiri di depan sebuah pintu bercat coklat gelap dan mengetuknya beberapa kali hingga sebuah suara memintanya masuk.

Seorang wanita muda berambut hitam panjang bergelombang dengan mata berwarna merah sedang berkutat dengan beberapa berkas di tangannya. Ia lalu mengangkat wajahnya ketika seseorang berdiri di hadapnnya.

"Ah Sakura ya? Silahkan duduk. Aku sudah menunggumu," ucapnya mempersilahkan Sakura untuk duduk.

Sakura berojigi singkat sebagai tanda terima kasih dan mendudukkan dirinya di kursi di depan wanita itu.

"Aku sudah mendengar tentangmu dari Tsunade-sama dan aku juga sudah melihat salah satu karyamu. Itu benar-benar indah Sakura," ujar Kurenai.

"Kau benar-benar berbakat," lanjutnya seraya tersenyum ke arah Sakura.

Sakura mengeluarkan sebuat buku kecil dengan cover bunga Sakura dan pena berwarna pink. Jari-jari lentiknya mulai menuliskan sesuatu di buku itu.

'Itu bukan apa-apa sensei dibandingkan para pelukis profesional. Aku hanya seorang pemula'

Sakura menunjukkan tulisannya dan Kurenai hanya tersenyum ketika membacanya.

"Kau gadis yang rendah hati Sakura. Benar-benar seorang bangsawan dari klan Senju," ujar Kurenai memuji Sakura.

Sakura hanya tersipu mendengarnya.

"Ah iya hampir lupa. Kau akan memulai kelasmu di kelas spesial besok. Jadwal, buku-buku, seragam dan peralatan lainnya bisa kau dapatkan di ruang administrasi dan juga kunci loker," ucap Kurenai seakan sadar akan maksud kedatangan gadis itu.

'Arigatou sensei. Kalau begitu aku permisi'

"Douita. Dan selamat datang di KHS," ucap Kurenai seraya tersenyum.

Sakura bangkit, berojigi singkat dan meninggalkan ruangan Kurenai setelah menutup pintu.

.

.

Sakura' s POV

Haah, akhirnya beres juga. Sekarang aku harus mencari ruang administrasi. Jika mencari seperti tadi, bisa-bisa menghabiskan tenaga dan waktu. Lebih baik bertanya saja pada siswa di sini.

Aku berjalan mencari seorang siswa yang setidaknya bisa dimintai tolong mengantarku ke ruang administrasi.

Sekolah ini besar sekali. Benar-benar menguras tenaga jika harus berkeliling. Ah! Itu dia! Gadis itu, mungkin bisa aku mintai tolong.

Sakura's POV End

.

.

Sakura berjalan menghampiri seorang gadis berambut indigo panjang. Dia menepuk pundak sang gadis pelan ketika langkahnya mencapai sang gadis.

Sang gadis berambut indigo membalikkan tubuhnya ketika merasa seseorang menepuk pundaknya, lalu melihat seorang gadis cantik tersenyum manis kepadanya. Seketika gadis dengan mata ungu pucat itu menunduk dengan wajah merona.

Sakura mengeluarkan buku kecilnya dan menulis sesuatu lalu menunjukkanya kepada sang gadis indigo.

'Sumimasen. Bisakah kau menolongku, Nona?'

Sang gadis indigo mengerjapkan matanya membaca tulisan Sakura dan mengangguk paham.

"Bi – bisa," jawabnya terbata.

'Aku mencari ruang administrasi tapi aku tidak tahu di mana letaknya. Bisakah kau mengantarkanku ke sana? Jika kau tidak keberatan'

"Te – tentu sa – saja," jawab sang gadis indigo seraya tersenyum kepada Sakura.

Sakura berojigi kepada sang gadis tanda terima kasih. Lalu mereka berjalan beriringan menuju ruang administrasi, melewati koridor panjang.

"Ah. I – ini dia ru-ruang administrasi. Um..."

'Sakura. Panggil saja aku Sakura' Sakura menunjukkan tulisannya ketika melihat wajah bertanya sang gadis indigo.

"Sakura-san. Ba – baiklah, a – aku Hinata. Hyuuga Hinata. Yoroshiku ne!" ujar sang gadis bernama Hinata berojigi singkat seraya tersenyum manis.

'Ah. Gadis dari keluarga Hyuuga ternyata,' batin Sakura.

"A – ano aku harus ke – kembali ke ke – kelas. Sebentar lagi pe – pelajaran pertama di – dimulai. Gomen ne Sa – Sakura-san," ucap Hinata.

'Daijobu Hinata-san. Arigatou atas bantuanmu.'

Sakura kembali menunjukkan tulisannya dan berojigi kepada Hinata.

"Do – douita Sakura-san. Umm... Jaa ne."

Hinata melangkahkan kakinya meninggalkan Sakura menuju kelasnya setelah berojigi kepada Sakura.

'Gadis yang baik. Dia bisa menjadi teman yang baik,' batin Sakura sembari tersenyum menatap punggung Hinata yang menjauh.

.

.

.

Sasuke memasuki kelasnya, berjalan ke arah bangku di pojok kiri di dekat jendela dan meletakkan ranselnya. Ia melirik bangku di depan nomor dua baris ketiga dari pintu masuk, mendapati bahwa bangku itu masih kosong.

Sasuke membatin, 'Kemana dia? Kenapa jam segini belum datang?'

Alis Sasuke berkerut heran, siswa lainnya telah berdatangan tetapi bangku yang ia tatap belum juga terisi. Padahal biasanya penghuni bangku itu tidak pernah datang terlambat.

Lalu ia mengarahkan pandangannya pada bangku di sebelah kanannya yang juga masih kosong.

"Cih. Si bodoh itu juga kemana? Pasti dia menghampiri kekasihnya di kelas XI-3," ujarnya pada diri sendiri.

.

.

"TEMEEEEE! Hey Teme, tumben sekali kau datang pagi-pagi. Loh?" teriakan seorang pemuda berambut pirang jabrik dengan iris saphire terhenti ketika melihat kondisi orang yang di panggilnya 'Teme'.

Sosok yang dipanggil Teme yang ternayata Uchiha Sasuke hanya mendengus kesal akan suara toa yang di keluarkan oleh si duren berjalan.

"Teme. Pipimu kenapa lebam begitu? Kau habis berkelahi," tanya si pria berambut pirang.

"Hn. Berkelahi dengan seekor cheetah kesasar," ujar si teme asal.

"Eh? Cheetah? Memangnya sekolah kita memelihara Cheetah ya? Kok aku tidak tahu?" tanyanya dengan wajah bingung.

"Tentu saja tidak DOBE. Seorang gadis penyusup memukulku ketika aku menangkapnya," ujar Sasuke dengan menekankan kata 'dobe', panggilan untuk sang pria berambut pirang.

Si dobe mengangguk-anggukan kepalanya, lalu dia tertawa terbahak-bahak. Sasuke mengerutkan alisnya heran melihat si dobe tertawa.

"Aku baru tahu kalo Sasu-teme bisa kalah dengan seorang gadis. Dan juga apa itu? Gadis penyusup? Memangnya ada ya?" tanya si dobe kepada Sasuke.

"Berisik. Naruto," desis Sasuke seraya memberikan deathglare kepadanya.

"Baiklah. Baiklah. Memangnya siapa gadis yang memukulmu?" tanya Naruto si dobe

"Aku. Tidak. Tahu. Lagipula aku gagal menangkapnya. Kalau tertangkap, awas saja," ujarnya kesal.

"Ohayou Sasuke-kun" sebuah suara feminim menyapanya.

"Hn. Ohayou."

"Ohayou Naruto."

"Ohayou Matsu-chan," jawab Naruto dengan semangat.

"Matsuri, kenapa kau baru datang?" tanya Sasuke heran kepada gadis bernama Matsuri.

"Ano, tadi aku ada keperluan di gedung sebelah Sasuke-kun. Jadinya baru ke kelas sekarang," jawabnya seraya menyengir.

"Hn"

Bel sekolah berbunyi, menandakan kelas akan segera dimulai. Mereka bertiga lalu duduk di bangku masing-masing dan mengeluarkan buku dan peralatan belajar.

.

.

.

Tidak terasa hari telah menjadi sore. Langit sore berwarna orange, menunjukkan matahari telah beranjak kembali ke peraduannya. Seorang gadis tengah berjalan di trotoar dengan langkah kaki terseok-seok.

.

Someone's POV

Haah... Aku lelah sekali. Ternyata begini ya rasanya hidup mandiri. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, melakukan semuanya sendiri. Ternyata pekerjaan Chiyo-baasan berat ya.

Aku berjalan sendirian dengan langkah gontai di pinggir jalan bersama pejalan kaki lainnya yang ramai memenuhi jalan. Matahari telah kembali ke peraduannya menandakan bahwa petang telah datang.

Ah. Aku harus ke minimarket dulu membeli persediaan yang habis. Hampir saja lupa.

Someone's POV End

.

.

Sakura lalu memasuki sebuah konbini dan mengambil sebuah keranjang untuk barang-barang yang akan ia beli.

Gadis berurai senada bunga Sakura itu menghampiri rak bagian mie instan, memilih beberapa mie ramen untuk persediaan di apartemennya.

Seorang pemuda berambut merah menabrak bahu Sakura ketika ia akan memasukkan belanjaannya ke dalam keranjang, menyebabkan barang-barang Sakura jatuh.

Sakura memperhatikan sosok yang menabraknya yang sibuk dengan barang belanjaan di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya mengambil beberapa barang lain dari rak.

'Apa dia tidak sadar telah menabrak ku?' batinnya.

'Tidak minta maaf lagi,' lanjutnya masih menatap pemuda itu dan mengambil belanjaannya yang terjatuh.

"Hey! Kemana saja kau, Bodoh?!" ujar pemuda itu tanpa menghiraukan Sakura yang telah ia tabrak.

Sang pemuda berhenti di depan rak mie ramen instan di dekat Sakura dan mengambil beberapa mie ramen secara acak.

Sakura yang mendengar suara pemuda itu menoleh ke arahnya.

'Oh bagus. Setelah dia menabrak ku tanpa minta maaf, sekarang mengataiku bodoh?!' batinnya kesal.

"Aku sudah lama menunggumu di apartemen. Aku bosan, jadinya aku berjalan-jalan sambil membeli makanan. Kau gila ya? Tidak punya apapun di dalam kulkasmu, bagaimana aku mau makan?" ujar si pemuda kembali.

Sakura mengerutkan dahinya, kemudian ia menulis sesuatu di atas buku catatan kecil yang selalu di bawanya. Lalu ia menepuk si pemuda.

Sang pemuda masih tetap acuh, tanpa memperdulikan Sakura. Sakura merasa kesal karena tidak di hiraukan. Akhirnya sang pemuda berbalik menatap seorang gadis bermata emerald yang menyodorkan buku catatan kecil kepadanya.

'Gomen ne. Bisakah kau bersikap sopan santun? Kau telah menabrak ku dan tidak minta maaf. Sekarang, kau mengatakan aku bodoh. Padahal kita tidak kenal sama sekali'

Sang pemuda mengerutkan alisnya membaca tulisan itu. Lalu menatap Sakura dengan tatapan tidak mengerti. Awalnya dia bingung kenapa Sakura menyodorkan buku kecil itu, kenapa tidak berbicara langsung.

Tapi seakan sadar, pemuda dengan manik hijau susu itu mengerti jika gadis dengan helaian soft pink ini, tidak dapat berbicara alias bisu Setelah mengerti akan keadaan Sakura, ia pun akhirnya bersuara.

"Apa maksudmu?" tanyanya.

Sakura kembali menulis dan menunjukkannya.

'Kau tahu maksudku, Tuan. Setidaknya minta maaf.'

Pemuda itu terdiam. Ia bingung, jujur sangat bingung. Kenapa ia harus minta maaf kepada gadis yang tidak di kenal itu?

'Kenapa harus minta maaf?' batin pemuda itu

Ia memang merasa menabrak sesuatu ketika berjalan sambil berbicara dengan sepupunya tapi tidak di hiraukannya. Tapi ini? Mengatainya bodoh? Bukannya ia mengatai sepupunya bodoh bukan gadis ini.

'Gaara?'

Pemuda bernama Gaara itu tersadar ketika mendengar seseorang memanggilnya melalui alat komunikasi yang di pasangnya di telinga.

"Hn? Tunggu sebentar, nanti ku hubungi lagi," ujarnya pada orang di seberang.

Sakura mengerjapkan matanya bingung, lalu ia menatap pemuda itu yang melepaskan benda yang ternyata headset dari telinganya.

Tiba-tiba wajahnya merona ketika tahu bahwa ia sudah salah paham. Lalu cepat-cepat menuliskan sesuatu.

'Gomen ne. Aku tidak tahu jika kau sedang menelepon seseorang. Ku kira kau mengucapkan kata bodoh untukku. Setidaknya minta maaflah karena telah menabrak ku.'

Gaara menatapnya datar tanpa ekspresi.

"Hn," balasanya singkat lalu meninggalkan Sakura yang melongo melihat respon yang diberikan Gaara.

'A – apa? Dia meninggalkanku tanpa minta maaf,' batin Sakura bersungut kesal.

.

.

.

.

Gaara berjalan santai dengan tangan kiri menggenggam kantong belanjaan sedangkan tangan kanannya berkutat dengan smartphone miliknya, mencoba menghubungi seseorang. Tanpa sadar ia berjalan memasuki lorong yang sepi dengan pejalan kaki.

Di depan Gaara terdapat beberapa berandalan yang berjalan berlainan arah dengannya. Tanpa sengaja, Gaara menabrak bahu salah satu dari mereka

"Hey! Kau sengaja ya, bocah?!" ujar berandalan yang ditabrak Gaara.

"Hn? Aku tidak sengaja," balas Gaara dan melangkah pergi.

Merasa tak dihiraukan, berandalan itu menahan bahu Gaara.

"Heh! Kau harusnya minta maaf bocah! Jangan bersikap seolah-olah tidak bersalah!" desisnya.

"Aku memang tidak bersalah, tapi kau saja yang tidak melihat jalan selebar ini," balas Gaara sinis.

"Kau!"

"Hey! Ada apa?" tanya salah satu teman si pria berandalan yang menabrak Gaara.

"Bocah ini menabrak ku dan tidak mau minta maaf," adunya.

Berandalan-berandalan itu melirik Gaara, melihat penampilan Gaara yang kelihatannya orang kaya, salah satu pria berandalan itu lalu menyeringai.

"Hey bocah! Jika kau tidak ingin minta maaf, berikan saja uangmu sebagai ganti rugi," ujar teman si pria yang menabraknya.

"Tsk. Memangnya dia terluka, sehingga harus ganti rugi?" balas Gaara sengit.

"Kau tidak tahu siapa kami ya?" ujar pria lainnya.

"Memangnya penting?" tanya Gaara.

Sang pria yang tadi minta ganti rugi, mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam kantong celana dan mengacungkannya kepada Gaara.

"Jika kau ingin selamat, maka serahkan uangmu sekarang juga. Maka kami akan melepaskanmu."

.

"Aku lebih baik membuat kalian babak belur," ucap Gaara seraya tersenyum sinis.

"Berani juga kau bocah. Serang dia!" perintahnya kepada teman-temannya untuk menyerang Gaara.

Gaara memasang kuda-kuda menghadapi berandalan-berandalan yang menyerangnya.

Ia tidak tampak kesulitan melawan mereka. Satu persatu berandalan itu di hadapinya. Terlalu sibuk melawan kawanan berandalan itu, Gaara tidak menyadari jika pria yang memegang pisau tadi berjalan mengendap-endap di belakangnya.

.

.

.

.

Sakura baru saja keluar dari sebuah konbini setelah membeli barang-barang yang dibutuhkannya. Ia menghela napas lelah dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang ke apartemen sederhana miliknya.

Ketika ia sampai di sebuah jalan yang sepi, ia mendengar suara seorang pria yang sedang berdebat dengan seseorang. Mencoba mengatasi rasa penasarannya, Sakura melangkah menuju sumber suara dan mengintip dari jauh perdebatan itu.

Ia melihat sesosok pemuda berambut merah yang di temuinya di konbini tadi. Ia melihat pria lain dari pria-pria itu berbicara sesuatu pada Gaara. Tidak jelas apa yang di katakan karena jarak Sakura dan mereka cukup jauh.

Emerald Sakura melebar, melihat si pria yang berbicara dengan pemuda berambut merah itu mengeluarkan sebuah pisau. Terlihat bahwa pria itu mengancam pemuda itu.

Beberapa saat kemudian, ia melihat pemuda itu berkelahi melawan beberapa pria berandalan itu.

'Dia melawan mereka sendirian?' batinnya.

Matanya kembali melebar, ketika melihat pria pembawa pisau berjalan mengendap-endap di belakangnya.

'Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku menolongnya?'

Batin Sakura berkecamuk antara membantu pemuda itu atau meninggalkannya. Lagipula ia masih merasa kesal dengan sikap pemuda itu padanya tadi.

'Jika aku tidak menolongnya, pemuda itu bisa terluka,' batinnya lagi

'Baiklah.'

Sakura berlari secepat mungkin, memasang kuda-kuda untuk menendang pria itu.

.

.

BRUUUUK

.

Pria itu terpental menabrak tiang listrik ketika tendangan Sakura mengenai kepala pria itu. Pisau sang pria pun terpental ke bawah kaki Gaara.

Gaara dan beberapa pria yang sedang bertarung, terkejut akan suara keras yang berasal dari belakangnya.

"BOOOS!" ucap pria-pria itu melihat pria yang dipanggil mereka bos terkapar.

Gaara menatap gadis berambut merah muda yang menolongnya tadi.

"Kau..." ucap Gaara ragu melihat gadis itu.

"Kurang ajar. Apa yang kau lakukan, Hah?!" ujar salah satu preman.

Lalu mereka mendekati Sakura.

.

Gaara terlalu syok atas apa yang dilakukan gadis itu sehingga ia tidak dapat bergerak cepat menahan berandalan itu. Sementara Sakura yang melihat berandalan itu mendekat ke arahnya kembali memasang kuda-kuda.

"Awas kau, gadis kecil!"

.

.

BUUAGH

.
.

BUUUGH

.
.

.

BRUUK

.

MEOOONG

.

Yang ada di hadapan Gaara saat ini adalah berandalan-berandalan itu terkapar tak berdaya melawan kekuatan monster milik Sakura. Gaara pun tercengang melihatnya. Salah seorang berandalan bangkit meraih pisau yang ada di dekatnya dan kembali mencoba menyerang Sakura.

'Gawat. Aku tidak ikut asuransi untuk ditusuk dengan pisau,' batinnya dan berlari menghindari pria itu.

"Heeei! Tunggu kau, jangan lari!" ujar pria yang mengejarnya.

Sakura tidak menghiraukannya dan kembali menambah kecepatannya berlari, menghindari si pria.

'Kenapa hari ini aku harus berlari-lari terus sih,' batinnya histeris.

.

.

Gaara kembali melihat kondisi sekitarnya Pria-pria itu masih tak sadarkan diri akibat serangan Sakura.

"Tsk. Hebat juga gadis itu," ujarnya.

"Menarik sekali," lanjutnya di sertai seringai tipis di wajah tampannya dan pergi meninggalkan lokasi sambil kembali menghubungi seseorang yang sempat tertunda.

"Hei! Jemput aku sekarang juga. Gara-gara kau, aku hampir mati," ujarnya.

'Memangnya apa yang terjadi?' tanya seseorang yang sedang di hubungi Gaara.

"Nanti ku ceritakan. Aku akan mengirimkan email mengenai lokasi ku sekarang," balasnya lalu mematikan panggilan.

.

To Be Continued

Author's Cuap-Cuap Area:

Holla minna~ ^_^ Ketemu lagi sama saya. Ga banyak cincong lagi ya, arigatou yang udah baca n review di chap pertama kemarin. Ga nyangka kalo responnya baik. Dan sekarang saatnya balas review kaliaaaan.

.

Little pinky mouse: Iya ini udah update :D, gomen nunggu lama ya.

.

motoharunana: Huwaaa ini bener2 panjang loh reviewnya :D Nana-chan tpi aku suka. Arigatou atas reviewnya dan ini benar2 membantuku. Dan soal anak laki-laki itu, kira2 siapa ya? :v #authorsokmisterius

.

Kazama Sakura: Iyaaa akhirnya publish juga ntar kita tumpengan bareng2 ya :D ini masih butuh belajar byk dr author senior #lirikkazama Dan arigatou udah review yaaaa.

.

hanazono yuri: Iyaa ini udah lanjut. Arigatou udah review, review lagi ya? :D

.

Subarashii Shinju: Arigatou udah review, iya itu typo dr yg sebelumnya tp lupa d ganti #dasar gomen gomen kalo membingungkan :D Itachi emang absurd n cocok jd bulan2annya Sasuke #plaak

.

Manda Vvidenarint: Iya ini udah, arigatou ya :D

.

Kirei Apple: Iyaaa arigatou :D

.

Floral White: Arigatou yaa udah review, senengnya dapet review dr para author2 senior, mohon bantuannya ya *ojigi*

.

ayahime: Iyaa, Itachi emang sengaja dibuat gitu, tuntutan peran sih :v

.

Aeni: Itu seseorang yg berharga buat Sakura :3 itu bukan gadis berambut pirang tapi bocah berambut pirang. Arigatou udah review

.

miikodesu: Aa arigatou atas reviewnya :D aku kira tdnya ini bakal garing n ga lucu :v iyaaa Sakura bukan bisu dr lahir. Soal siapa itu temen Sakura wktu kecil masih d rahasiakan :p

.

Yo! Minna-san arigatou udah baca, review, follow n fav, ini chap 2 udah update jadi di tunggu concrit n reviewnya ? ^^

.

.

Palembang, 30-10-14