Chapter 5
.
.
Eysha CherryBlossom presenting
.
.
CRAZY for YOU
.
.
Fic ini terinspirasi dari sebuah drama Korea berjudul "The Heirs" dengan beberapa ide milik saya jadi NO PLAGIAT dalam bentuk apapun
.
DISCLAIMER :
Dari awal pembuatan Naruto sampe sekarang sih masih Om Masashi Kishimoto
.
STORY :
RATE : T (Belum berani bikin rate M XD)
.
GENRE:
Romance, Hurt/Comfort with lil bit humor maybe
.
PAIRING :
Sasuke x Sakura x Gaara, slight Sasuke x Matsuri
.
WARNING :
AU, OOCness, gaje, EYD amburegul, Typos dimana-mana, dapat menyebabkan mual, muntah dan gangguan kehamilan pada janin #plaaak
.
DLDR
(DON'T LIKE DON'T READ)
.
If You Like Then Give Me Your Review Or Concrit, Flames Will Be Avoided
.
.
Happy Reading ^_^
.
.
.
Sakura bergegas membereskan buku-bukunya. Hari ini dia ada kerja paruh waktu, jadi dia harus bergegas atau dia akan terlambat.
Manik emerald-nya menatap Naruto yang sibuk dengan buku-bukunya. Lalu ia menyentuh bahu Naruto untuk mendapatkan perhatian pemuda beriris saphire itu.
'Naruto, aku duluan ya. Aku ada urusan penting.'
"Eh? Tapi Sakura-chan–
Sakura tidak menghiraukan Naruto, ia hanya melambaikan tangan kanan sebagai ucapan perpisahan.
"Kenapa dia?" tanya Sasuke mendekati Naruto ketika melihat Sakura pergi.
"Entahlah. Katanya ada urusan."
Sasuke hanya mengangkat bahu tidak peduli, lalu menghampiri Matsuri untuk pulang bersama.
.
.
.
Gaara berjalan melewati koridor yang ramai oleh siswa-siswi yang keluar dari kelas mereka masing-masing. Ketika sedang mencoba melewati sekawanan siswi yang menghalangi jalannya, Ia melihat sosok gadis bersurai merah muda keluar ia melihat sosok gadis bersurai merah muda keluar dari kelas dengan terburu-buru. Ia berusaha menyingkirkan para siswi yang merupakan fans-nya itu, lalu menyusul Sakura. Tetapi, ramainya siswa di koridor membuat ia tidak dapat menyusul Sakura.
"Sial! Cepat sekali gadis itu," ujar Gaara ketika ia keluar dari kerumunan para siswa yang pulang dan tak melihat sosok Sakura lagi.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia mengambil ponsel di kantung celananya dan melihat siapa yang menghubunginya. Matanya hijau susu miliknya melebar melihat nama yang meneleponnya.
"Hn? Ada apa?"
"..."
"Apa?! Kenapa tiba-tiba?!"
"..."
"Aku bukan anak kecil lagi. Jadi–
"Iya iya aku segera kesana."
Gaara meninggalkan sekolah dengan terburu-buru setelah mendapatkan telepon itu. Bahkan ia lupa jika ia harus menunggu Sasori. Tapi ia tidak dapat berpikir lagi jika orang di telepon itu sudah memintanya.
.
.
.
Sakura telah sampai di tempat ia bekerja sambilan. Ia pun segera mengganti seragam sekolah dengan seragam khusus di tempatnya bekerja.
Tempat Sakura bekerja adalah sebuah kafe. Nama kafe itu adalah Couple Cafe. Kafe ini diberi nama seperti itu karena pemiliknya adalah sepasang kekasih. Sakura bekerja sebagai salah satu maid di kafe itu.
Awalnya Sakura meminta pada pemilik kafe untuk menempatkannya di bagian belakang karena Sakura sadar akan kekurangannya. Tetapi, pemilik kafe memiliki rencana lain. Ia meminta Sakura untuk menjadi maid di kafe-nya. Ia berpikir bahwa Sakura cocok menjadi maid karena sifat ceria yang Sakura miliki, maka jadilah ia sekarang bekerja sebagai maid.
Sakura telah selesai mengganti bajunya dengan seragam maid berwarna hitam dan dengan renda putih. Di dadanya tersemat nametag berbentuk cherry. Setelah memastikan penampilannya, ia pun segera keluar dari ruang ganti untuk melayani tamu.
"Lho? Sakura? Kau sudah datang?" tanya seorang pria berambut orange terang ketika melihat Sakura.
Sakura hanya menganggukan kepalanya dan tersenyum ramah pada pria itu.
"Ku kira kau akan datang lebih lama. Mengingat hari ini hari pertamamu di sekolah baru."
Sakura mengambil notes dari kantung bajunya, menulis beberapa kata disana.
'Karena aku murid baru, jadi aku belum punya banyak kegiatan disana. Ngomong-ngomong, dimana Konan-nee?'
Pein, pria berambut orange itu mengangguk mengerti setelah membaca tulisan Sakura.
"Konan ada di ruangannya sekarang. Apa kau mau menemuinya?" tanya Pein. Sakura menggeleng menjawab pertanyaan Pein, lalu menunjuk segerombolan murid-murid sekolah yang baru masuk ke dalam kafe.
"Baiklah, aku mengerti. Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ada jadwal kuliah," tukas Pein seraya mengusap kepala Sakura dan pergi setelah Sakura melambaikan tangan sembari mengucapkan hati-hati tanpa suara.
Pein dan Konan adalah pemilik kafe ini dan mereka sepasang kekasih. Mereka juga masih mahasiswa.
Sakura memperhatikan beberapa tamu yang tadi baru datang dan mendekati mereka, memberikan buku menu dan mencatat pesanan mereka. Setelah ia mencatat pesanan, ia berojigi dan tersenyum seolah mengatakan 'tunggu sebentar'.
Para pelanggan tidak heran dengan cara Sakura melayani mereka atau keberatan karena Sakura bisu, malah mereka senang. Sakura seperti memberikan aura positif dengan senyumannya. Maka mereka sudah terbiasa dengan cara Sakura memberikan pelayanan.
Bel di atas pintu berbunyi menandakan ada pelanggan baru datang. Sakura segera bergegas menyambut. Sakura berojigi singkat lalu menampilkan senyuman manis sehingga matanya menyipit.
"Kau?!"
Sakura membuka kedua matanya ketika mengenali suara berat itu. Kedua bola mata sewarna emerald itu membelalak lebar, melihat siapa yang datang.
"Ternyata kau bekerja disini ya?"
"Kau mengenalnya?" tanya seorang gadis berambuta pirang sebahu.
"Hn. Dia teman satu sekolahku. Dia juga murid baru."
"Waaah, kau sudah mendapatkan teman baru? Hebat sekali Gaara," ujar wanita itu senang. Gaara mendengus mendengar ucapannya.
"Aku kembali ke sekolah lamaku. Jadi wajar jika aku memiliki teman," ujarnya kesal.
"Oh begitu." Wanita itu berkata seraya tersenyum kikuk. Lalu mereka duduk di salah satu meja kosong, setelah Sakura mengantarkan mereka kesana.
Sakura memberikan buku menu pada mereka dan mengeluarkan notes kecil.
"Ah, iya. Siapa namamu?"
Sakura menunjukan nametag di dadanya mejawab pertanyaan wanita pirang itu.
"Sakura ya? Nama yang cantik. Aku Temari, Sabaku Temari. Kakak dari pria dingin dan irit kata ini," ujar Temari memperkenalkan diri sembari tersenyum. Sakura hanya menganggukan kepalanya.
"Aku tidak seperti itu, Temari." Gaara mendesis menimpali ucapan Temari.
"Panggil aku nee-san, Gaara." Temari menekankan kata-katanya.
"Tch!"
"Kau lihat kan? Baru saja ku katakan. Hahaha."
"Hentikan! Lebih baik cepat pesan," peringat Gaara.
"Baiklah, kau ini tidak bisa diajak bercanda sedikit," rutuk Temari.
"Aku pesan cheese cake dan orange juice saja, Sakura. Kau apa Gaara?"
"Aku cappuchino saja dan blackforest." Sakura mencatat pesanan mereka dan akan beranjak dari sana jika saja Gaara tidak memanggilnya.
"Ganti saja blackforest dengan spageti. Disini ada spageti kan?" Sakura mengganti pesanan Gaara.
"Aa, tidak tidak. Spageti terlalu berat. Ganti saja dengan potato chips," ujar Gaara lagi. Sakura dengan sabar mengganti kembali pesanan Gaara.
"Bagaimana kalau–
Ucapan Gaara terpotong ketika Sakura mengambil buku menu di tangannya dan memberikan sebuah kertas kecil.
'SILAHKAN TUNGGU PESANAN ANDA!'
Sakura meninggalkan meja mereka dengan langkah kaki dihentak-hentakan.
Kertas tadi berisi tulisan Sakura yang di tulis dengan huruf besar semua. Menandakan bahwa ia sangat kesal. Gaara hanya hampir tertawa jika saja tidak ada Temari.
Dia hanya menutup wajahnya dengan sebelah tangan sembari tersenyum dan meletakan tulisan tadi di atas meja. Rasanya menyenangkan sekali mengerjai gadis itu. Bukan begitu Gaara?
Temari yang sedari tadi memperhatikan Gaara dan Sakura, mengangkat alis tinggi-tinggi karena heran. Lalu ia mengambil kertas yang tadi di dapat Gaara dan membacanya.
"Jangan disentuh," ujar Gaara protektif sembari mengambil kertas dari Sakura dari tangan Temari.
Temari semakin mengerutkan dahinya bingung. Kenapa adiknya sewot begitu hanya gara-gara kertas? Seolah-olah dia akan mengambil sesuatu yang berharga darinya. Sesuatu yang berharga eh? Temari menyeringai menyadari sesuatu.
"Kau menyukainya kan?" tanya Temari dengan nada menggoda.
"Tidak. Siapa bilang aku menyukainya? Aku tidak!" Gaara berujar ketus, lalu mengalihkan pandangannya menatap pemandangan di luar. Mengabaikan tatapan menggoda sang kakak.
"Jika tidak menyukainya, lalu apa? Hanya karena sebuah kertas darinya saja, kau sudah seprotektif begitu."
Gaara merutuki sifat kakaknya satu ini yang suka sekali menggodanya.
"Tenang saja, aku merestui kalian. Dia kelihatannya gadis baik dan dia juga cantik."
"Eh tapi, kenapa dia memberikanmu kertas? Kenapa tidak langsung bicara saja?" tanya Temari penasaran.
"Dia... tidak dapat berbicara. Entah sejak kapan," jawab Gaara.
"Sayang sekali ya. Padahal dia cantik. Tapi, aku tetap merestui kalian," ujar Temari mantap.
"Hentikan itu! Lebih baik kau katakan sekarang, kenapa kau datang kemari?" tanya Gaara dengan tatapan serius.
Temari menghela napas sejenak sebelum berbicara.
"Tou-san memintaku untuk melihatmu. Dia khawatir ketika kau kembali, bukannya datang sebentar ke rumah, tetapi langsung ke Konoha."
"Untuk apa aku pulang? Untuk melihat wanita itu?" tanya Gaara sinis.
"Kau masih marah? Masih belum bisa menerimanya?" tanya Temari.
"Tentu saja. Kau kira ini mudah?! Apalagi ketika aku bertemu dengan mereka lagi."
"Seharusnya kau katakan yang sebenarnya pada Tou-san," ujar Temari dengan lembut.
"Apa kau kira dia akan menghentikannya jika ku beri tahu? Lagipula itu keinginannya."
"Dia memilihnya, dia tidak ingin bersamaku. Harusnya kau tahu itu," lanjut Gaara.
"Tapi setidaknya–
"Lebih baik hentikan pembicaraan ini. Aku muak membicarakannya," Gaara berujar dingin seolah-olah tidak ingin membahasnya lagi. Suasana canggung pun tercipta diantara mereka.
Beberapa saat kemudian Sakura datang membawa pesanan mereka, meletakannya di atas meja.
"Arigatou Sakura," ucap Temari. Sakura mengangguk singkat dan membalikan badannya bermaksud kembali, jika saja Gaara tidak menahan tangannya.
"Kau mau kemana? Setidaknya temani makan disini," ucap Gaara. Sakura menggeram kesal lalu menunjuk dapur seolah mengatakan ia masih ada pekerjaan.
Gaara melepaskan tangan Sakura dan terkekeh pelan. Sedangkan Temari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Adiknya memang jahil, tapi tidak pada perempuan. Kecuali pada 'dia'. Tapi itu dulu, sebelum semuanya berubah. Dan dia tidak pernah melihat Gaara dekat dengan gadis manapun setelahnya.
.
.
.
Sakura mendudukan dirinya di salah satu kursi kafe, dia menyeka keringat yang membanjiri dahi lebarnya.
Tiba-tiba seseorang meletakan segelas jus strawberry di hadapannya. Ia pun menoleh, menatap sang pelaku.
"Minumlah Sakura! Kau pasti lelah," ujar seorang wanita berambut biru tua.
'Arigatou, Konan-nee.' Sakura menggerakan tangannya, wanita bernama Konan itu mengangguk paham. Konan adalah salah satu orang di sekitarnya yang mengerti bahasa isyarat karena mereka sudah saling mengenal satu sama lain bahkan sebelum ia bekerja di sini.
Ia beruntung dapat mengenal Konan yang telah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Dia adalah bos yang baik bersama Pein juga tentunya. Mereka juga pasangan serasi.
Sakura merasa memiliki seorang kakak yang tidak pernah didapatnya, ketika bersama mereka berdua. Karyawan-karyawan lainnya pun begitu. Mereka seolah mengistimewakan Sakura, bukan karena identitas Sakura melainkan karena Sakura adalah gadis yang baik, ceria, dan juga pekerja keras.
Konan dan Pein tahu siapa Sakura sebenarnya. Bagi mereka, Sakura bagaikan sosok seorang adik yang rapuh dan harus dilindungi. Karena itulah mereka menerima Sakura bekerja disini dengan senang hati.
Sakura meminum jus yang dibuat oleh Konan untuknya. Rasa asam manis dari buah strawberry dan juga sensasi dingin menyatu di dalam mulutnya. Ia hampir saja tersedak, karena tidak dapat mengontrol dirinya ketika minum minuman kesukannya yang dibuat oleh Konan.
"Hey, pelan-pelan saja! Jangan terburu-buru! Tidak ada yang akan memintanya," ujar Konan sembari terkekeh ringan.
Dari belakang Sakura, sebuah tangan mengambil gelas di tangan Sakura dan meminumnya. Sakura terlonjak kaget dan melihat siapa pelaku itu.
Dia merengut melihat tindakan si pemilik tangan.
"Sasame, kau ini! Kau bisa membuatnya sendiri kan!" seru Konan sembari menggeleng-gelengkan heran kepalanya.
"Rasanya tidak sama dengan buatan Konan-nee. Lagipula, kenapa cuma Sakura yang dibuatkan?" ujarnya seraya memeletkan lidah ke arah Sakura.
Sakura memberikan cubitan kecil pada gadis bernama Sasame itu yang juga maid di kafe ini. Ia juga masih pelajar seperti Sakura. Kebanyakan karyawan di kafe ini masih berstaus sebagai pelajar atau mahasiswa.
"He–hentikan Sakura! Ahahaha... hey...itu geli hahaha. Cukup!" Sasame tertawa kegelian ketika Sakura menggelitikinya.
"Kalian berdua, cepat beres-beres lalu pulang. Tidak baik bagi seorang gadis untuk pulang malam-malam. Ini sudah jam 8." Seorang pemuda berambut coklat dengan nametag Utakata menghampiri meja mereka.
Sakura melirik jam tangannya. Benar juga, ini sudah jam delapan. Dia kemari dari jam 2, artinya sudah 6 jam ia bekerja.
"Konan-nee, Pein-nii menunggumu di dalam sana. Katanya mau pulang sekarang atau nanti," ujar Utakata sembari menunjuk sebuah ruangan yang diketahu sebagai ruangan sang bos.
"Baiklah, ku serahkan semuanya pada kalian ya. Aku pulang duluan, dan kalian hati-hati pulangnya. Utakata bila perlu antar mereka," pesan Konan.
"Siap bos!" ujar Utakata sembari memberi hormat ala tentara.
Konan beranjak pergi dan mengampiri kekasihnya yang berada di ruangan pribadinya, untuk pulang bersama.
"Nah, kalian berdua. Ayo cepat bereskan semuanya! Yang lain sudah menunggu."
"Iya iya, kau ini cerewet sekali," rutuk Sasame sembari mengerucutkan bibirnya.
"Apa kau bilang?! Aku hanya tidak ingin kita pulang larut malam. Jalanan tidak aman jika terlalu larut."
"Iya iya. Wakatta ne!" ujar Sasame dengan malas. Sakura hanya tersenyum geli melihat keduanya.
.
.
.
"Lepaskan aku, Dobe!"
Seorang pemuda berambut ala pantat ayam, memberontak dari pegangan seorang pemuda berambut pirang.
"Ayolah Teme. Kau kemarin sudah janji akan menemaniku ke kedai ramen Ichiraku bukan? Kau tidak boleh melanggar janjimu."
"Aku tahu, tapi setidaknya lepaskan dulu tanganmu," desis Sasuke.
"Tidak! Nanti kau melarikan diri lagi," ujar Naruto.
"Lepaskan atau ku hajar?! Kau tidak lihat orang-orang sekitar memandang kita aneh!"
Naruto memperhatikan sekitarnya. Benar juga, beberapa gadis menatap mereka dengan wajah merona. Bahkan ada yang mengabadikan foto mereka sembari berteriak 'kyaaa' atau 'mereka pasangan seme-uke terbaik'.
"Mereka kenapa Teme?" tanya Naruto heran dengan tampang polosnya.
"Baka. Lihat tanganmu!" Sasuke melirik sinis tangan Naruto yang memeluk sebelah tangannya. Wajar saja jika mereka menjadi tontonan. Naruto memeluk sebelah lengan Sasuke dengan erat, seolah-olah mereka pasangan yang sedang pergi berkencan.
Naruto tiba-tiba bergidik ngeri akan pemikirannya sendiri dan cepat-cepat menghempaskan lengan Sasuke.
"Tsk, baru sadar dia," ujar Sasuke kesal.
"Hehehe gomen gomen." Naruto menggaruk kepalaya yang tidak gatal, sedangkan Sasuke hanya melengos.
"Ayo kita masuk ke dalam. Aku sudah tidak sabar menyantap mie ramen buatan paman Teuchi!" seru Naruto.
"Kau kan sudah makan ramen buatan paman di sekolah tadi. Dasar bodoh!" ujar Sasuke sadis.
"Ini berbeda Teme," tukas Naruto tak mau kalah.
"Beda apanya? Yang membuat kan sama. Kenapa tidak pergi dengan Hinata saja? Merepotkan," ucap Sasuke sembari menggunakan trademark salah satu temannya.
"Tidak! Kemarin Hinata sudah menemaniku, dan juga kau sudah janji dan harus ditepati. Lagipula rasanya sedikit beda dengan yang di kantin." Naruto menyeret Sasuke memasuki kedai ramen itu.
'Beda apanya? Jika yang membuat ramen itu sama,' batin Sasuke sweatdrop akan ucapan sahabatnya yang aneh ini.
Ia sungguh heran terhadap sahabat sejak dalam kandungannya ini. Si maniak ramen ini tidak ada bosannya makan ramen buatan paman Teuchi setiap hari, baik itu di sekolah ataupun di kedainya.
Pernah sekali ketika hujan deras melanda Konoha, si bocah rubah ini nekat pergi ke kedai Ichiraku untuk menikmati semangkuk ramen. Padahal ia sedang sakit demam.
Jika ditanya kenapa tidak di rumah saja buat sendiri? Kenapa harus ke kedai Ichiraku? Alasannya karena di rumah tidak bisa makan ramen, ibunya tidak bisa masak ramen.
Naruto pernah meminta Kushina-basan memasakan ramen untuknya. Hasilnya? Naruto dinyatakan keracunan makanan setelah memakan ramen buatan sang ibu. Ibunya sebenarnya pintar memasak, tetapi entah kenapa ia tidak mahir dalam memasak ramen.
Makanya ia melampiaskan hobi makan ramennya ini di sekolah atau di luar rumah. Dan ramen yang dimakan pun cuma ramen buatan paman Teuchi, pemilik kedai ramen Ichiraku sekaligus pembuat ramen di kantin sekolah.
Mereka berdua mendudukan diri di kursi yang ditata semacam kursi bar.
"Waah, Naruto kau datang lagi? Kali ini bersama Sasuke," ujar seorang pria paruh baya.
"Iya Paman. Pamaaaan, aku pesan ramen jumbonya dua ya!"
"Aku ramen porsi biasa satu Paman," ujar Sasuke.
"Baiklah, pesanan segera datang!" ujar Paman Teuchi tak kalah semangat dengan Naruto.
.
.
.
"Kau yakin Sakura?" tanya Utakata pada Sakura. Sakura menganggukan kepalanya.
"Tapi ini sudah pukul 8.30. Berbahaya sekali jika kau pulang sendirian," timpal Sasame.
"Biar aku panggilkan Idate untuk mengantarmu pulang," putus Utakata.
Sakura mengetik sesuatu di smartphone miliknya lalu menunjukan pada temannya.
'Tidak perlu, aku baik-baik saja. Lagipula Idate ada urusan.'
"Baiklah kalau begitu. Tapi kalau ada apa-apa hubungi kami ya." Utakata menepuk pelan pundak Sakura.
"Sakura jaga dirimu ya, kami pulang dulu. Ingat! Hubungi kami jika ada apa-apa," perintah Sasame.
'Jangan khawatir, jika ada yang macam-macam nanti akan ku hajar '
"Jangan bercanda Sakuraaa! Pokoknya hati-hati, kau itu perempuan. Sekuat apapun dirimu, jika berhadapan dengan laki-laki sendirian, itu sama saja cari mati." Utakata berujar kesal.
'Ha'i ha'i aku akan menghubungi kalian jika terjadi sesuatu. Sekarang pulanglah. Utakata jaga Sasame ya.'
"Baiklah, kami pulang dulu Sakura. Jaa ne!" ujar Sasame sembari melambaikan tangan bersama Utakata meninggalkan Sakura sendirian.
Sakura membalas lambaian tangan mereka, lalu berjalan berlawanan arah dengan mereka. Ia menghela napas lelah, pekerjaan hari ini cukup melelahkan lantaran banyaknya pelanggan yang datang.
KRUYUUK
Wajah Sakura merona mendengar suara perutnya yang keroncongan. Untung tidak ada yang mendengarnya.
'Mungkin makan semangkuk ramen, bukan ide yang buruk,' batinnya.
'Ku harap kedai itu masih ada disana.'
.
.
.
"Ini dia ramen pesanan kalian," Ujar Paman Teuchi meletakan ramen pesanan Naruto dan Sasuke di hadapan mereka berdua.
"Waaah, kelihatannya enak sekali Paman. Itadakimasu!" ujar Naruto mengambil sumpit dengan terburu-buru, tidak sabar untuk mencicipi ramennya.
Sasuke mengernyit jijik melihat cara makan Naruto yang berantakan dan terkesan terburu-buru. Seperti tidak makan selama setahun saja, pikirnya.
"Ah, selamat datang! Lho? Sakura-chan? Kaukah itu?" tanya Paman Teuchi seolah tak percaya.
Sasuke yang membalikan tubuhnya ketika mendengar Paman Teuchi menyebut nama Sakura. Manik onyx miliknya bertemu dengan emerald milik Sakura.
Sakura juga lumayan terkejut melihat sosok Sasuke di kedai. Ia mengalihkan pandangannya dari Sasuke dan tersenyum pada Paman Teuchi.
"Waah, Sakura-chan! Ayo duduk disini, kita makan ramen sama-sama," ajak Naruto.
Sakura menghampiri kursi di sebelah Naruto dan duduk disana. Ia pun menatap Paman Teuchi.
"Seperti biasa ya Sakura-chan. Baiklah tunggu sebentar." Paman Teuchi lalu membuatkan pesanan Sakura yang biasa Sakura pesan dulu.
"Seperti bernostalgia ya Sakura-chan. Dulu kita sering sekali makan di sini bersama. Bertiga dengannya tentu saja," ujar Naruto, diiringi nada lirih pada kalimat terakhir.
"Dulu?" Sasuke tidak dapat menahan rasa penasarannya akan masa lalu mereka.
"Iya dulu. Dulu kami sering makan ramen di sini setelah pulang sekolah." Naruto bercerita dengan semangat menggebu-gebu.
'Ini bagus,' pikir Sasuke. Ia jadi mendapatkan informasi mengenai Sakura tanpa dimintanya, walaupun sebagian besar mengenai masa lalu mereka.
Entah kenapa, ia sangat penasaran akan sosok Sakura yang menyimpan banyak misteri baginya.
"Kami bertiga pasti makan ramen di sini setiap pulang sekolah. Dan posisi duduknya pun sama seperti ini."
"Bertiga? Lalu,siapa satu lagi?" Pertanyaan Sasuke membuat tubuh kedua orang di sampingnya menegang. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
"Aaah sudahlah lupakan saja Sasuke. Lebih baik kau habiskan ramenmu sebelum dingin," ujar Naruto seolah menutup-nutupi sesuatu.
Naruto menggerakan tangannya pada Sakura seolah mengatakan sesuatu yang sangat rahasia, dan dibalas anggukan oleh Sakura.
Tak lama pesanan Sakura datang dan gadis itu lekas memakan ramennya.
.
.
.
"Sakura-chan, ku antar pulang ya. Sekalian aku mau lihat apartemenmu, jadi kapan-kapan aku bisa mampir."
'Apa tidak merepotkan?'
"Kau ini bicara apa? Tentu saja tidak. Kau kan sahabatku."
"Terima saja, supaya si Dobe ini bisa cepat mengantarku pulang," ujar Sasuke memaksa. Sakura merengut mendengar ucapan Sasuke. Sebenarnya Sasuke juga ingin tahu dimana gadis ini tinggal.
.
.
To Be Continued
.
.
Author's Cuap-Cuap Area:
Yo! Minna-san, arigatou udah nunggu fic ini update. author tau ini fic updatenya molor, iya saya siap menerima hukuman dr para readers *sujud* ok akhirnya setelah melawan si malas, fic ini update juga. Yosh! Saatnya balas review. . .
HazeKeiko: Sedikit sop iler deh, ini endingnya pasti SasuSaku, happy atau ga tebak sendiri yaa XD
hanazono yuri: Gomeeeen ga bisa update kilaat, salahkan si malas yang selalu nempel trus nih X( #plaaak
Cand Chan: Iya nih sayang banget Sakura nya bisu X(, arigatou udah suka n fav fic abal2 ini XD
Animea-Khunee-Chan: 'Dia' itu, ah sudahlah ntar jadi sop iler kalo dikasih tau XD ntar bakal terbongkar siapa itu 'dia'
Restychan: Salam kenal Restychan, iyaaa aku dr palembang XD jangan2 kamu dr palembang jg lagi XD, jangan d bayangin bagaimana interaksi mereka tp bacalah chap2 slanjutnya XD #plaaak
Kirei Apple: Ini udah lanjuuuut, r n r again? XD
miikodesu: Iya dia baik tp sedikit yaaa, gitu deh XD
May sarada sq: Salamkenal May-chan, iyaaa ini udah update again? XD
Subarashii Shinju: Gaara genit ya? Pdhal pengennya buat dia jd badboy XP haaa iyaa itu emot,kurang t itu maklum ngetik d hp XD
.1: Iyaaa sibuk makan n tidur XD #plaak Sakura-nya bisu tp karena sesuatu XD bukannya rebutan Gaara n Sasu tp d rebutin mreka berdua nih XD
Arigatou yang udah baca dan review yaaa, arigatou juga yg udah foll n fav juga arigatou buat silent readers. R n R again?
Palembang, 30-11-2014
