Chapter 6: Old Friend
.
.
Eysha CherryBlossom presenting
.
.
CRAZY for YOU
.
.
Fic ini terinspirasi dari sebuah drama Korea berjudul "The Heirs" dengan beberapa ide milik saya jadi NO PLAGIAT dalam bentuk apapun
.
DISCLAIMER :
Dari awal pembuatan Naruto sampe sekarang sih masih Om Masashi Kishimoto
.
STORY :
RATE : T (Belum berani bikin rate M XD)
.
GENRE:
Romance, Hurt/Comfort with lil bit humor maybe
.
PAIRING :
Sasuke x Sakura, Sakura x Gaara, slight Sasuke x Matsuri
.
WARNING :
AU, OOCness, gaje, EYD amburegul, dapat menyebabkan mual, muntah dan gangguan kehamilan pada janin #plaaak
.
DLDR
(DON'T LIKE DON'T READ)
.
If You Like Then Give Me Your Review Or Concrit, Flames Will Be Avoided
.
.
Happy Reading ^_^
.
.
.
.
.
.
Sasuke membaringkan tubuhnya di atas sebuah kasur king size. Dia menjadikan kedua tangannya menjadi bantal. Sasuke sedang berpikir mengenai Sakura.
Gadis itu, entah bagaimana bisa menarik perhatian Sasuke. Sasuke sangat penasaran dengan Sakura. Menurutnya, Sakura adalah seorang gadis yang penuh misteri. Entah apa itu, yang jelas gadis itu menyembunyikan sesuatu dari orang-orang sekitarnya.
Sasuke membaringkan tubuhnya di atas sebuah kasur king size. Dia menjadikan kedua tangannya menjadi bantal. Sasuke sedang berpikir mengenai Sakura.
Gadis itu, entah bagaimana bisa menarik perhatian Sasuke. Sasuke sangat penasaran dengan Sakura. Menurutnya, Sakura adalah seorang gadis yang penuh misteri. Entah apa itu, yang jelas gadis itu menyembunyikan sesuatu dari orang-orang sekitarnya.
Sasuke merogoh kantung celana jeans yang dipakainya dan mengambil smartphone dengan flip cover berwarna biru donker miliknya. Jari-jarinya dengan lincah menyentuh layar, mencari kontak seseorang dan mulai menghubunginya.
"Halo, Ibiki! Aku ingin kau mencari informasi tentang seseorang. Namanya Haruno Sakura."
"..."
"Hn. Aku tunggu hasilnya."
Sasuke mengakhiri panggilannya dan meletakan ponsel pintarnya di atas nakas. Lalu ia kembali merogoh kantung celananya, mengeluarkan dompet dan mengambil sesuatu yang ada di dalam dompetnya.
Benda itu berbentuk persegi panjang, tipis. Itu adalah kartu identitas milik Sakura yang ia temukan dihari pertama mereka bertemu. Ia belum mengembalikan pada Sakura. Ia yakin, gadis itu pasti mencarinya kesana kemari atau malah tidak tahu jika kartu identitasnya terjatuh.
"Haruno...Sakura." Sasuke membaca nama yang tertera disana.
"Dia cantik ya."
"Hn. Dia memang cantik," ujar Sasuke ketika sebuah suara memasuki gendang telinga.
"Kelihatannya dia gadis baik," lanjut suara itu.
"Hn. Dia memang gadis baik tapi sayang kasar."
"Hee? Kasar?"
"Hn. Dia pernah sekali memukul–
Sasuke dengan cepat bangkit dari kasur dan melihat siapa pemilik suara yang berbicara dengannya.
"HUWAAAAAA! SETAAAAAAN! KAA-CHAN ! CACU ATUUUUUUUUT!"
.
.
BRUUUK
"OUCH!"
"Kenapa kau melemparku dengan bantal Sasuke?!"
Sasuke membuka kedua matanya dan menatap sosok yang baru saja ia lempar dengan bantal. Ia sedikit bergidik melihat wajah orang itu.
"Aniki?" tanya Sasuke ragu.
"Iya, aku aniki-mu yang tampan. Memangnya siapa lagi hah?!" ujar sosok itu dengan sinis yang ternyata adalah Itachi.
"Apa yang kau lakukan disini? Kapan kau masuk? Dan apa itu?" Sasuke menyerang Itachi dengan pertanyaan bertubi-tubi, seraya menunjuk sesuatu di wajah Itachi.
"Satu-satu, Bodoh! Aku hanya ingin memastikan kau sudah pulang atau belum. Dan aku masuk ketika kau memandangi kartu nama itu. Dan satu lagi, ini adalah masker wajah," jelas Itachi panjang lebar.
Rupanya terlalu lama memikirkan tentang Sakura, membuat Sasuke tidak sadar akan kehadiran sang kakak. Dan ia tersadar akan kehadiran kakaknya itu ketika Itachi berkomentar tentang Sakura.
Itachi menyadari sesuatu dan menyeringai.
"Aku baru tahu ternyata Pangeran Ayam kita satu ini kalah dengan seorang gadis dan juga takut setan," ujar Itachi mencoba menggoda adiknya.
"Tsk, aku tidak kalah. Tenaganya saja yang terlalu kuat untuk seorang gadis. Dan, hey! Aku tidak takut setan!" bantah Sasuke.
"Lalu tadi itu apa? Kau tadi berteriak histeris seperti anak perempuan yang akan diperkosa."
"Tidak! Aku hanya terkejut melihat wajah anehmu yang mirip setan itu," ujar Sasuke seraya memalingkan wajahnya yang merona tipis.
Tadi itu Sasuke benar-benar takut ketika melihat wajah Itachi yang sedang memakai masker. Ia hampir saja kencing di celana, jika saja ia tidak dapat mengontrol dirinya sebagai Uchiha. Uchiha man! Uchiha!
"Dasar tsundere. Bilang saja takut," gumam Itachi.
"Apa?!"
"Tidak." Itachi lalu mendudukan dirinya di kasur sang adik.
"Ngomong-ngomong, gadis itu siapa? Apa dia pacarmu?"
"Bukan. Lagipula mana mungkin aku punya pacar di saat telah bertunangan, Bodoh!"
CTAAK
"Jangan panggil aku bodoh. Aku ini kakakmu Sasu-cake," ujar Itachi dengan tampang galak. Ia baru saja menyentil dahi Sasuke, menyebabkan Sasuke meringis akibat ulahnya.
"Jadi? Siapa dia?" tanya Itachi lagi.
"Dia murid baru di kelasku," jawab Sasuke asal sambil mengelus-elus dahinya yang kena sentil.
"Hanya itu?"
"Hn. Memangnya apa lagi?"
"Pasti bukan murid baru yang biasa."
"Sok tahu," ujar Sasuke ketus.
Itachi terkekeh pelan.
"Tentu saja aku tahu. Jika tidak, mana mungkin kau sampai meminta Ibiki mencari info tentangnya." Itachi bangkit dari kasur sang adik dan keluar menuju kamarnya sendiri.
"Sial!" umpat Sasuke lalu membaringkan kembali tubuhnya di atas kasur.
.
.
.
.
.
.
KRIIING
.
KRIIING
Sebuah jam waker berbunyi nyaring di sebuah kamar apartemen bernuansa pink dan hijau. Sebuah tangan terjulur dari dalam selimut, menghentikan bunyi berisik dari jam waker itu.
Selimut tebal bermotif bunga clover tersibak, menampilkan sosok seorang gadis berhelaian merah muda.
Sakura, gadis itu mengucek matanya beberapa kali dan mengerjap pelan, berusaha mengumpulkan nyawanya. Lalu ia bangkit dari atas ranjang empuknya, menuju kamar mandi setelah menyambar handuk di dekat pintu kamar mandi.
Tak lama bunyi keran air mengisi keheningan di dalam apartemen sederhana itu.
.
.
.
Sakura mengunci pintu apartemen dan segera melangkahkan kakinya untuk berangkat ke sekolah.
Ia menarik napas kencang-kencang dan menghembuskannya, mencoba merasakan udara pagi yang sejuk dan berangkat menuju sekolah.
Ketika hampir sampai beberapa meter ke gerbang sekolah, sebuah motor sport berwarna silver hampir menyerempetnya. Sakura hanya merutuki pengendara motor itu yang sembarangan mengendarai motor tanpa melihat ada orang lain.
Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya yang terhenti gara-gara kejadian tadi.
"Hey, Pinky!"
Sakura menghentikan langkahnya menuju gedung sekolah dan menoleh, ketika seseorang menyebut kata 'Pinky'. Dilihatnya sesosok pemuda berseragam KHS, memakai helm. Ia pun melirik ke sekitarnya, mencoba memeriksa apakah ada orang lain selain dirinya.
Sedangkan pemuda yang memanggilnya berdecak kesal melihat respon Sakura. Ia pun membuka helmnya.
"Hey, aku memanggilmu Pinky!"
Sakura hanya diam sebentar menatap pemuda yang telah membuka helmnya. Lalu ia pun kembali melangkahkan kakinya yang tadi sempat terhenti kembali.
Sasuke, pemuda itu membelalakan matanya ketika Sakura meninggalkannya. Secepat mungkin ia mengejar Sakura, lalu menyambar tangan gadis itu dan membawanya ke tangga menuju ke atap.
Sakura berusaha melepaskan cengkraman Sasuke, tetapi gagal. Pemuda itu terlalu kuat, sampai-sampai ia merasakan perih di tangannya.
Sasuke membuka pintu dengan kasar dan membawa Sakura ke atap gedung sekolah. Sakura terpesona akan pemandangan yang ada di depannya.
Ia tidak mengira jika atap sekolah akan sebegini indahnya. Di atap gedung sekolah ini, ada beberapa gazebo kecil dan beberapa pot tanaman yang menghiasai atap sekolah ini.
Sepertinya atap gedung ini dibuat sedemikian rupa untuk para siswa yang ingin menikmati suasana damai. Sakura pun mencatat dalam hati, jika ia menjadikan tempat ini sebagai salah satu tempat favoritnya.
Sakura tersadar dari lamunannya ketika merasa Sasuke kembali menarik tangannya. Ia lupa bahwa ia sedang diculik oleh pemuda ini tanpa sebab yang jelas.
Sakura tersentak ketika Sasuke mendorong tubuh mungilnya ke dinding. Ia meringis pelan, ketika punggungnya membentur dinding. Ia menatap tajam Sasuke yang diacuhkan oleh Sasuke.
Sasuke memerangkap tubuh mungil Sakura dengan kedua tangannya yang berada di samping gadis itu. Sakura sedikit takut akan posisi itu, apalagi sekarang mata onyx Sasuke menatapnya intens.
Sakura pun dapat merasakan hembusan napas Sasuke yang berbau mint menerpa wajahnya. Membuat kedua pipi Sakura menimbulkan sedikit rona kemerahan.
"Kau..."
Sakura mencoba memandang Sasuke ketika pemuda itu membuka suaranya.
"Sebenarnya ... siapa kau ini? Kenapa kau selalu menggangguku?"
Sakura mengerjapkan matanya bingung akan ucapan Sasuke.
'Menganggu? Sebenarnya siapa yang mengganggu disini?' batin Sakura.
"Jawab aku, kenapa kau selalu muncul di pikiranku?!"
Sakura mendengus keras, ia semakin bingung terhadap ucapan pemuda ini. Apa dia mabuk? Begitulah pikirnya.
Sasuke semakin mendesak tubuhnya ke dinding. Wangi cherry yang menguar dari tubuh Sakura hampir saja mengacaukan kontrol terhadap dirinya, apalagi ketika dia menatap bibir berwarna merah muda itu. Jika saja ia tidak dapat mengendalikan diri, mungkin ia sudah menyerang Sakura.
Merasa tidak nyaman akan situasi ini, Sakura mencoba mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya dan berhasil. Ketika ia akan melangkah pergi, tangannya kembali ditarik dan sekarang ia berada di dalam dekapan Sasuke.
Mata hijaunya yang teduh melebar akan tindakan pemuda itu. Jantungnya berdetak kencang, dia pun memberontak dalam pelukan Sasuke, takut jika pemuda ini benar-benar dalam keadaan mabuk.
'Tidak ada cara lain.' Sakura mulai mengambil ancang-ancang, dan dengan sekuat tenaga ia menginjak kaki Sasuke.
"Aargh!"
Sakura berhasil lepas dari dekapan Sasuke. Ia meletakan tangannya di pinggang, menatap Sasuke yang sedang kesakitan dengan kesal. Lalu memeletkan lidahnya ke arah Sasuke seolah-olah mengatakan 'rasakan itu' sebelum meninggalkan Sasuke disana sendirian.
"Khh, awas kau Pinky!" seru Sasuke.
"Arrrgh, ini sakit sekali! Apa sepatunya terbuat dari besi?!"
Sasuke merasakan kakinya berdenyut nyeri akibat injakan super dari Sakura. Ia pun meninggalkan atap sekolah menuju kelasnya dengan langkah tertatih-tatih.
.
.
.
Sakura berlari sekuat tenaga, ia takut jika nanti Sasuke mengejarnya seperti sebelumnya. Ini serangan kedua yang ia berikan pada Sasuke. Tapi itu salahnya sendiri.
Ketika akan berbelok di koridor, tubuh mungil Sakura bertabrakan dengan tubuh jangkung seorang pemuda yang sedang membawa peralatan melukis. Melihat Sakura akan terjatuh, pemuda itu melepaskan peralatan lukisnya, dan menyambar pinggang Sakura.
Sakura yang sudah siap merasakan kerasnya lantai, menutup kedua matanya. Ia merasa heran ketika tidak merasakan sakit apapun.
Malahan ia merasakan sebuah tangan kekar memeluk pinggangnya erat. Eh? Tangan? Sakura cepat-cepat membuka kedua tangannya dan mendorong pemuda itu. Pemuda itu tersentak dan terjatuh karena tidak siap.
"Ugh..."
Sakura dengan cepat mengulurkan tangannya mencoba membantu pemuda itu berdiri.
"Arigatou," ucap pemuda berambut hitam itu menerima uluran tangan Sakura dan menatap Sakura yang berojigi meminta maaf padanya.
"Sakura?"
"Kau Senju Sakura kan?"
Sakura mengangkat kepalanya dan memandang dengan ekspresi terkejut orang yang memanggilnya.
Ia menutup mulutnya ketika melihat pemuda berambut hitam, berkulit pucat itu.
'Sai...'
"Ya benar ini aku Sakura, Sai." Pemuda bernama Sai itu memberikan senyuman kepada Sakura, lalu ia terlonjak kaget, ketika tiba-tiba Sakura memeluknya erat.
Mereka hampir terjengkang ke belakang, jika saja Sai tidak menahannya.
"Hey, pelan-pelan. Kau mau aku jatuh lagi?" ujar Sai sembari terkekeh.
Sakura melepaskan pelukannya dan menatap Sai dengan tatapan tidak percaya. Ini Sai, salah satu sahabatnya. Ia berteman dengan Sai semasa SMP.
Dulu ia tidak memiliki teman, ia juga dijauhi orang-orang. Alasannya karena ketidakmampuan Sakura dalam berbicara. Ia juga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
Dan pada waktu itu ia bertemu Sai, seseorang yang mengerti dirinya, mengerti apa yang ia katakan. Sai dapat mengerti bahasa isyarat, karena kakaknya yang merupakan seorang dokter yang mengajarkan Sai.
Sai selalu membelanya, selalu menolongnya ketika ia mendapatkan kesulitan. Sai jugalah yang membawanya pada kakak Sai dan kakak Sai mengatakan bahwa, ada kemungkinan jika Sakura dapat berbicara lagi jika ia mau berusaha.
Tapi karena suatu hal yang membebani Sakura, membuatnya sulit untuk kembali menggunakan pita suaranya.
"Kau bersekolah disini? Ku kira kau sekolah di Kiri," tanya Sai.
Saat ini mereka sedang duduk di taman belakang sekolah.
'Tadinya iya, untuk setahun karena nenek memintaku kembali.'
"Kenapa?" tanya Sai kembali.
'Entahlah. Awalnya aku menolak, tetapi aku mengajukan beberapa syarat jika nenek ingin aku kembali dan ia mengabulkannya,' terang Sakura.
"Begitu ya. Lalu kenapa namamu jadi Haruno Sakura?" tanya Sai heran ketika melihat nametag Sakura.
Sakura menghela napas dan kembali menggerak-gerakan jarinya.
'Aku ingin hidup mandiri tanpa nama klan.'
"Apa itu syarat yang kau berikan?" Sakura mengangguk sebagai jawaban.
"Aku senang bisa bertemu kembali denganmu Sakura. Kau tahu selama setahun aku tidak dapat menghubungimu, itu adalah masa-masa tersulit," ungkap Sai dengan sebuah senyuman di wajah tampannya.
Sakura hanya tersenyum sembari menggaruk pipinya yang tidak gatal dan mecubit kedua pipi Sai.
'Gomen gomen, tapi sekarang kita sudah bertemu kan. Lebih baik kita sekarang masuk ke kelas, sebentar lagi bel.'
"Baiklah, ayo ku antar ke kelasmu."
Mereka berdua pun beranjak meninggalkan taman belakang sekolah menuju kelas masing-masing.
.
To Be Continued
.
Author's Cuap-Cuap Area:
Yo! Minna-san, gomen bru update nih fic. Author kena sakit parah yaitu malas dan sibuk #plaaak tdnya mo update dr bulan april tp ada masalah ama internetnya n pas lg mo update filenya kena format n bru skrg d update setelah ngetik ulang. Awalnya ga tau mau update apa ga, soalnya beneran sbuk d RL smpe ga sempet buat buka laptop. Tp ada yg nanya d inbox kapan d update ficnya, akhirnya aku update, jd terharu ternyata msh ada yg inget *nangis gaje*.
Arigatou buat semua review buat chap2 sbelumnya n gomen ga bsa balas satu persatu tp aku usahain buat update ga pake berbulan-bulan lg tp bertahun-tahun XD *dihajar readers* .
Arigatou udah baca n Berkenan buat review lagi?
Palembang, 18-06-2015
