( ratusan tahun yang lalu )
Leo sedang bermain di hutan bersama Hongbin. Gelak tawa Hongbin yang bergema di hutan yang luas malam itu terdengar seperti nyanyian bagi Leo. Leo menyukai tawa Hongbin.
"Hahah oh ayolah! Aku tau kau bisa lebih cepat dari itu!" Ejek Hongbin yang terus berlari kencang menjauhi Leo.
Leo menyeringai lalu ia mempercepat kakinya. Dengan sekejap ia menarik tubuh Hongbin lalu mendorongnya dan menekannya ke pohon besar. Keduanya terengah-engah. Suasana saat itu sudah gelap, suara burung hantu juga mulai terdengar. Tapi mereka berdua tidak takut karena keduanya adalah vampir. Dan tidak ada yang perlu ditakuti.
Leo mendekatkan wajahnya pada Hongbin dan mencoba menciumnya.
Hongbin tersenyum nakal lalu langsung menolehkan wajahnya sehingga ciuman Leo jatuh pada pipinya.
"Hongbin!" Leo mencari-cari bibir Hongbin tapi Hongbin sambil terkikik dan menghindari bibir Leo.
Leo tertawa pelan dan menahan wajah Hongbin dengan kedua tangannya.
"Got ya!" Lidah Leo menyelinap masuk ke dalam mulut Hongbin dan mulai menciumnya dengan kasar.
'Ini hukuman bagimu Binnie!' Bisik Leo sambil menggeram ke dalam pikiran Hongbin.
Hongbin membalasnya dengan menggigit lidah Leo dengan taringnya. Leo mendesah nikmat saat Hongbin mulai mengisap darahnya. Mulut Leo lalu turun menciumi dagu Hongbin lalu ke leher Hongbin. Ia bisa merasakan darah Hongbin yang lezat dan itu membuat nafsunya semakin memuncak. Ia mengeluarkan taringnya dan membuka mulutnya lalu menancapkan taringnya yang tajam ke leher Hongbin.
Hongbin terkejut, mata nya berubah menjadi warna hijau lumut. Ia membiarkan Leo mengisap darahnya karena ia menikmati sensasi itu.
Setelah puas Leo melepas gigitannya dan mencium Hongbin dengan kuat. Tangan Leo mulai menjelajahi tubuh Hongbin yang masih berbalut baju dan perlahan ia mulai melepas kancing baju Hongbin. Hanya saja Hongbin langsung menahan tangan Leo dan menatap wajahnya dengan senyum menggoda. Hongbin menggeleng kepalanya.
"No no no"
Leo cemberut, "Ayolah... kita sudah lama tidak-"
"Ssh! Tapi kita harus menghadiri pesta sebentar lagi"
Leo memutar bola matanya dan menghiraukan tatapan Hongbin. Ia kembali menjilati leher Hongbin dan itu membuat Hongbin mendesah kuat.
"No Jung Taekwoon!" Geram Hongbin sambil mendorong tubuh kekasihnya itu dengan kuat.
Leo cemberut lagi, "Hongbin-aaah" rengeknya sambil mendekati Hongbin dan mencoba menciumnya.
Hongbin menoleh kepalanya menjauhi Leo dan menggeram, "Okay! Tapi setelah kita selesai menghadiri acara pernikahan Kai!"
Leo tersenyum lebar menunjukkan sederet gigi putihnya, "janji?"
Hongbin memutar bola matanya, "Huh! Yeah!"
Leo mengecup bibir Hongbin "Okay! Let's go!"
Leo menarik tangan Hongbin sambil tersenyum lebar. Hongbin menggeleng kepalanya sambil terkikik geli.
Hongbin sedang menikmati suasana pesta malam itu. Kai dan D.O terlihat sedang bahagia dan berdansa bersama. Hongbin bermimpi ia akan seperti itu nanti dengan Leo. Ia menghela nafas sambil terus memikirkan kapan Leo akan melamarnya.
"Tenang saja, aku akan menikahimu nanti" bisik Leo sambil mencium pipi Hongbin.
Hongbin menatapnya dengan kesal dan Leo menatapnya dengan lembut.
"Ya, sebaiknya kau nikahi aku cepat atau seseorang akan melamarku duluan!"
Dan Leo yang menatapnya dengan tajam sekarang.
"Apa?! S-siapa yang hendak melamarmu!"
Hongbin suka membuat kekasihnya itu cemburu. Ia melirik Leo sambil menyeringai, siapa lagi kalau bukan Gongchan!"
Leo menggeram, "NO! Kau milikku Hongbin!"
Hongbin tertawa, kuat.. "Yeah babe, maka cepat nikahi aku!"
"Fine! Kita akan menikah sekarang!"
Hongbin shock dan menatapnya ngeri, "What! Tanpa cincin dan suasana yang romantis? Tanpa puisi? Oh please Taek! Kau payah!"
Tapi Leo telah menariknya ke atas panggung dan berteriak kuat.
"Perhatian! Maaf Kai, D.O, aku menganggu pesta kalian. Aku hanya ingin mengumumkan kalau aku dan Hongbin akan segera menikah besok"
Semua bersorak bahagia dan mereka mendapat sambutan yang meriah.
"WOW! CONGRATS BRO! KAMI SEMUA AKAN HADIR BESOK!" Teriak Kai sambil memberinya dua jempol.
Hongbin mematung dan wajahnya merah padam. Lalu Leo menciumnya di depan semua vampir dan mereka bersorak gembira.
Semuanya terlihat bahagia dan baik-baik saja hingga tiba-tiba..
Mereka semua mendesah kesakitan dan menutup telinga mereka. Semua vampir termasuk Leo dan Hongbin yang ikut jatuh ke lantai sambil berteriak kesakitan.
"KITA DISERANG!" Seseorang berteriak dan semua nya mencoba untuk melarikan diri.
Keadaan sangat kacau.
Semua berteriak dan Leo masih menutup kedua telinganya.
"Le-Leo..." bisik Hongbin yang mencoba meraih tangannya.
Leo tersadar, ia dan hongbin juga harus segera melarikan diri. Ia tau ini perbuatan para penyihir. Leo menyumpah pelan dan mencoba untuk berdiri. Ia menolong Hongbin dan keduanya lari menuju tempat yang aman.
Beberapa vampir ikut berperang melawan penyihir dan beberapa juga ada yang gugur.
Leo melihat sahabatnya Ravi yang ikut berperang sedangkan Hakyeon yang membantu vampir lainnya untuk bersembunyi.
"Hongbin-ah! Kau pergi bersama Hakyeon. Okey? Kita akan bertemu di sana. Aku akan membantu Ravi! Aku akan kembali. I love you!" Leo menciumnya dengan singkat lalu pergi menginggalkan Hongbin dan berlari menyusul Ravi.
Hongbin diam di tempat, ia tidka rela membiarkan Leo berperang. Ia harus ikut. Ia harus ikut.
"Hongbin! Ayo ikut denganku!" Teriak Hakyeon yang sambil menariknya.
Di saat Hakyeon lengah, Hongbin segera melarikan diri dari Hakyeon dan membantu para vampir lainnya untuk berperang.
"HONGBIN NO!"tapi Hakyeon tidak bisa menyusul Hongbin. Ia juga sibuk melindungi vampir lainnya.
Hongbin meloncat tinggi dan memukul dada penyihir dengan kakinya.
Semua sangat kacau. Hongbin terus melirik Leo, dan ia mampu mengalahkan 12 penyihir dengan kekuatannya dan taringnya. Ia tersenyum saat ia hendak menyusul di samping Leo. Tapi ia merasakan sesuatu menancap tajam di punggungnya.
Hongbin merasakan seluruh oksigen dalam tubuhnya lenyap. Dan rasa sakit itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Bahkan ia sulit bernafas dan berbicara. Kepalanya pusing, ia bahkan tidak bisa mendengar di sekelilingnya. Ia melihat Leo yang telah menghabisi musuhnya dan mata mereka bertemu.
Leo shock, ia melihat wajah dan tubuh Hongbin yang sangat pucat. Ia meneriaki nama Hongbin dengan kuat. Ia menggeram dan mengejar si pembunuh Hongbin. Ia mencabik leher penyihir yang membunuh Hongbin. Setelah ia puas, ia berlari ke arah Hongbin.
Hongbin telah tergeletak di lantai yang penuh dengan darah. Mata Hongbin yang besar tampak kosong. Bibir pinknya kin berubah menjadi sangat pucat. Tubuhnya tampak kaku.
Air mata Leo tidak berhenti dan ia terus meraung nama Hongbin. Ia tidak sadar saat Ravi menarik tubuhnya dari Hongbin.
Ia melihat Hakyeon yang mengatakan sesuatu padanya dengan air mata yang mengalir di wajahnya. Ia tidak bisa mendengar apapun. Ia terus melihat Hongbin dengan lesu. Ia terus memanggil Hongbin ke dalam pikirannya. Tapi Hongbin tidak pernah menjawabnya.
Hingga Hakyeon menarik pisau dari tubuh memberontak dan berteriak. Hakyeon dan Ravi tidak pernah melihat Leo seperti itu.
Leo lalu terjatuh di samping tubuh Hongbin yang sudah tak bernyawa. Ia mengubur wajahnya ke dada Hongbin dan menangis kuat.
'Tidak! Hongbin tidak mati! Ia tidak mati! Hongbin tidak boleh mati!'
Ia tidak tau sudah berapa lama ia seperti itu. Tapi Hakyeon dan Ravi tetap berada di sampingnya.
