Leo duduk di atas balkon kamarnya. Ia baru saja selesai mandi dan rambut hitamnya yang panjang dikuncir ke belakang. Ia sedang memegang gelas yang berisikan whiskinya itu. Ia menyukai pemandangan di balkonnya itu pada sore hari. Hal ini sudah seperti rutinitas baginya. Bagaimanapun juga, ia juga belum bisa melupakan Hongbin. Dan gambaran Hongbin yang pucat masih menghantui pikirannya. Leo menggenggam gelasnya dengan erat dan gelas itu hampir remuk dibuatnya.
"Hey Leo! Akan ada festival malam ini di kota sana. Kau ikut?" Tanya Hakyeon sambil mengalungkan tangannya ke leher Leo.
Leo hanya menatap tangan Hakyeon dengan tatapan tajamya, dan Hakyeon segera melepasnya.
"Okay, sorry mengganggu. Tapi, ayolah!" rengeknya yang kini malah mengayunkan sebelah tangan Leo dengan manja.
Suara gelak tawa Ravi yang menggelegar di belakang mereka, "Oh Leo hyung! ayolah.. kau selalu mengurung diri selama ratusan tahun ini. Apa kau tidak bosan?" Ravi merampas gelas dari tangan Leo dan menghabiskan minumannya.
Leo juga menatapnya dengan kesal dan menggeram.
"Yeah, ayo bersenang-senang. Dan kau juga sudah lama tidak minum darah manusia kan? Kau tau bagaimana rasanya kan? Hmmm… aku bahkan bisa mencium betapa segarnya darah mereka." Hakyeon mengendus-endus di udara dan senyum nakal di wajahnya. Seketika matanya berubah menjadi merah dan perlahan taringnya juga ikut muncul.
Leo menghela nafas dan meninggalkan kedua temannya itu. Ravi dan Hakyeon bertukar pandang lalu mereka mengikuti Leo masuk ke kamarnya.
Leo berhenti dan berkacak pinggang, "Aku tidak ingin meminum darah manusia lagi dan aku sedang tidak mood"
Hakyeon tertawa mengejeknya, "Kau dengan itu Ravi? Lucu sekali Leo! Mau sampai kapan kau akan mengonsumsi darah binatang?"
"Yep! Mau sampai kapan Leo hyung? Ayolah! Sekali ini saja" lalu mereka berdua cekikikan.
"Yeah, sekali saja dan aku akan ketagihan nantinya. Puas?" Leo berbaring di tempat tidurnya dan menjauhi tatapan Ravi dan Hakyeon.
Hakyeon ikut berbaring di samping Leo sambil memeluknya. Leo mendorong tubuh Hakyeon sampai ia terjatuh dari tempat tidur.
"OUW!" Teriak Hakyeon dan Ravi tertawa kuat. Hakyeon menatap Ravi dengan kesal.
"whatever Ravi! Kau akan mendapat balasannya nanti"
Mata Ravi langsung membesar dan ia tau apa yang dimaksud pacarnya itu. Ravi dengan sekejap berada di samping Hakyeon dan menolongnya.
"yah! Jung Taekwoon! Kau harus ikut malam ini bersama kami! Tidak ada alasan!" lalu Hakyeon dan Ravi meninggalkan ruangan sambil terkikik.
Malamnya, Leo dengan wajah cemberut dengan kedua tangannya ditarik oleh Ravi dan Hakyeon. Mereka memaksa Leo untuk pergi bersama mereka ke festival. Leo terus menggerutu sepanjang jalan.
"Ugh!" Leo menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
Ravi dan Hakyeon terus menariknya hingga mereka tiba di pintu masuk festival itu.
Suara musik dan suara jeritan dari permainan di depan mereka meramaikan suasana. Hakyeon dengan mata merahnya melihat ke sekelilingnya dengan takjub. Hidungnya mengendus-ngendus di udara.
"Baby, kau harus menahan nafsumu itu" kata Ravi sambil mengelus wajah Hakyeon.
"Yeah.. tapi.. hmm… mereka… sungguh… menggoda…."
Ravi menariknya ke suatu kios makanan di samping mereka dan memesan gulali yang besar untuk Hakyeon. Hakyeon dengan senang hati melahap gulali itu.
"Tahan nafsumu itu dan bertingkah normal"
Hakyeon tersenyum lebar pada Ravi sambil mengangguk.
Leo berjalan menelusuri lapangan itu. Suara jeritan anak-anak yang bahagia memekakkan telinganya. Lalu ia berjalan ke tengah-tengah lapangan dan melihat ada pertunjukan tarian di situ. Ia melihat dengan takjub saat seorang pria memasukkan obor ke mulutnya lalu menghembuskan api ke udara.
Terdengar sorakan dan tepuk tangan dari beberapa penonton dan Leo ikut menepuk tangannya. Hingga beberapa orang mendekati pria dan penari itu dan melemparkan koin ke topi pria itu.
Lalu sesuatu menarik perhatiannya. Lebih tepatnya, seseorang.
Leo terdiam terpaku di tempat. Mulutnya ternganga.
'Hongbin?'
Leo melihat lelaki yang terlihat mirip dengan Hongbin. Lelaki itu sangat mirip dengan Hongbin. bedanya, lelaki ini memiliki rambut dengan panjang sebahu dan sedikit keriting. Tapi, lesung pipit di kedua pipinya itu. Hongbinnya yang dulu juga memiliki lesung pipit seperti itu. Tapi.. ia penasaran dengan lelaki yang mirip dengan Hongbinnya itu.
Leo mendekati pria itu. ia melihat pria itu sedang tertawa bersama seorang temannya mungkin. Lesung pipit itu tidak pernah hilang dari wajahnya. Wajah Leo berubah serius saat telinganya yang tajam mendengar pembicaraan mereka.
"Hongbinnie.. aku tidak tahan lagi.. please, stop membuat lelucon aneh!" teman si lesung pipit itu berkata sambil menahan tawanya.
"Okey okey hyung.. aku lapar. Kita cari makan?"
"Fineeee"
Leo menatap mereka pergi sambil bergandengan tangan.
'Hongbinnie?'
Leo semakin penasaran dan mengikuti mereka. Mereka duduk di sebuah kafe kecil dan sedang memesan makanan.
"Permisi tuan, kau ingin memesan sesuatu?" seorang pelayan bertanya padanya.
Leo menatap pelayan itu dengan bingung. Leo sudah lama tidak keluar ke dunia manusia dan membuatnya sedikit canggung. Ia tidak tau harus berkata apa pada pelayan di sampingnya. Jadi ia mencoba mendengar pembicaraan Hongbinnie dengan temannya itu.
"Aku pesan.. um.. hazelnut chocolate" kata Hongbinnie dan Leo mengatakan hal yang sama pada pelayan di sampingnya. Pelayan itu menulis pesanannya dan menanyakannya jika ia ingin memesan yang lain. Leo melirik ke meja Hongbin dan pelayan mereka sudah pergi. Lalu Leo menggeleng pada pelayan di sampingnya dan pamit pergi.
"So, Hongbinnie? Aku dengar Hyuk akan pulang minggu ini?" Tanya teman Hongbinnie itu yang memiliki rambut blondenya dengan kaca mata yang sedikit longgar di hidungnya.
Leo terus memfokuskan pendengarannya pada meja Hongbinnie itu.
"Hmm? yeah…" Hongbinnie itu tertawa.
'Suara tawa itu? kenapa begitu… mirip?' piker Leo.
"Eyy! Ingat! Jangan bawa dia ke rumah!"
"Wae hyung?"
"Kau ingin kakek membunuh kalian? Lagipula aku yakin, dia tidak ingin mendengar desahanmu dan dia di rumah!"
"Ssh! Hyung!"
Leo mengerutkan dahinya. Ia semakin penasaran. Tak berapa lama kemudian pesanannya datang.
"Ini pesanan anda tuan, dan ini billnya"
Leo menatapnya aneh. Dan pelayan itu menatapnya dengan senyum, "Tuan boleh membayarnya sekarang."
Leo mengangguk dan merogoh kantung celananya. Ia memberi pelayan itu beberapa koin emas dan pelayan itu terkejut.
"T-tuan?"
Leo menaikkan alisnya.
"K-kami tidak memiliki kembaliannya.. umm.. ini…" pelayan itu menatap koin-koin emas itu dengan takjub.
"Ambil saja kembaliannya, apa masih kurang?"
Pelayan itu menggeleng lalu pamit pergi sambil mengucapkan terimakasih pada Leo.
Leo melihat Hongbinnie dan temannya itu berdiri dan pergi meninggalkan kafe.
Leo pun segera mengikuti mereka dan membawa minumannya bersamanya.
Lalu ia melihat mereka berhenti di toilet umum dan Hongbinnie sedang sendirian. Ia sedang meminum minumannya sambil melihat ke sekeliliing.
Leo tersenyum dan dalam sekejap, ia berada di belakang Hongbin.
"Hi.." Leo berbisik dan membuat Hongbin melompat dan terkejut. Ia berbalik dan melihat Leo dengan mata besarnya.
"H-hi.."
Leo tersenyum lembut, "Aku Leo.." ia mengulurkan tangannya dan Hongbin dengan ragu menjabat tangannya.
"Umm… aku Hongbin"
Dan Leo shock. Ia menggenggam erat tangan Hongbin dan mencoba merasakan apakah lelaki ini memang Hongbinnya yang dulu. Tapi ia tidak merasakan apa-apa. Ia malah menyakiti tangan Hongbin dan membuat Hongbin merintih kesakitan.
"Aah.. tanganku.. please.." Hongbin mencoba menarik tangannya tapi Leo masih menggenggamnya dengan erat.
Leo malah mencium harumnya darah Hongbin dan membuatnya pusing. Perlahan ia merasakan taringnya mulai muncul dan matanya merah. Untungnya Hongbin tidak melihat itu dan saat itu suasana memang sedikit gelap. Ia sibuk menarik tangannya dari Leo.
"Hongbin? Siapa?" Tanya teman Hongbin yang baru keluar dari toilet.
Leo segera melepas tangan Hongbin dan pergi secepat kilat. Hongbin berbalik menemukan hyungnya yang menatapnya dengan curiga. Hongbin berbalik lagi untuk melihat Leo, tapi Leo sudah pergi. Hongbin mulai merinding.
"Uh.. tidak ada siapa-siapa hyung.. Kita pulang?"
