Annyeong..

Maaf soal masalah tahunnya, lol.. Well, kalo yang ini flashback itu umm.. anggap aja ratusan tahun yang lalu, zzzz aku juga bingung lol yang penting ratusan tahun yang lalu.

Dan yang present time nya anggap aja tahun sekarang yaa… *peace


Leo berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia masih memikirkan tentang Hongbin yang ia temui semalam.

"Hyung? kau okay? Kau terlihat…. Bingung… dan… aneh" Ravi duduk di tempat tidur Leo yang masih rapi.

"Uh.. Aku.. aku melihat Hongbin"

Ravi hanya diam, ia menunggu Leo untuk berbicara lagi. Tapi saat Leo hendak berbicara, Hakyeon masuk ke kamar dan memeluk Ravi.

"Hmm? Hongbin? Kau bermimpi Leo"

Leo menatap temannya itu dengan kesal. "tidak! Aku tidak bermimpi! Aku memang bertemu dengannya di festival. Hanya saja rambutnya lebih panjang sekarang"

"Kau bermimpi hyung, mana mungkin-"

"Aku memang melihat Hongbin!"

"HONGBIN SUDAH MATI, LEO!" Teriak Hakyeon. Dan dalam sekejap, Leo sudah berada di depan Hakyeon dan mencekik lehernya dengan kuat.

"hey.. hey hentikan!" Ravi mencoba melerai mereka dan menenangkan Leo.

"Kau harus terima kenyataan pahitmu Leo! Hongbin sudah lama mati! Dan kau juga ada disana saat tubuhnya hancur dan menjadi debu malam itu kan! Kau bermimpi Leo!" teriak Hakyeon sambil memandangnya dengan penuh amarah.

Leo terlihat sakit hati dan dengan cepat ia berbalik dan meninggalkan istana mereka.


Leo terus berlari kencang hingga ia berakhir di kota. Saat itu sudah sore dan suasana di kota sudah sangat sepi dan gelap. Ya, kota ini selalu terlihat gelap. Leo berada di sebuah taman kota yang kecil dan ia duduk di sebuah bangku. Ia mengatur amarahnya dengan bernafa teratur sambil mengamati orang-orang yang sedang olahraga di taman.

"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau akan kembali secepat ini?"

Leo menatap ke sekelilingnya dan menemukan si pemilik suara yang tidak asing baginya itu. matanya menyipit ke arah Hongbin dengan seorang lelaki muda dengan rambut blonde –bukan lelaki yang semalm-, dan mereka berdiri dengan sangat.. sangat dekat. Leo menarik nafas dalam-dalam dan fokus mendengar pembicaraan mereka.

"Sorry baby.. aku sangat merindukan mu" lelaki itu mencium Hongbin di pipi.

'APA!'

Leo mengatur amarahnya lagi, tidak mungkin ia menunjukkan taringnya disini. Ia mengepal kedua tangannya saat lelaki itu mencium Hongbin di bibirnya.

Leo segera berdiri dan dalam sekejap ia berada di samping Hongbin.

"Hongbin!"

Pasangan itu terkejut dan Hongbin shock sedangkan lelaki blonde itu menatap Leo dengan kesal.

"Sorry bung! Kau merusak suasana kami!" kata lelaki blonde itu sambil menarik Hongbin.

Leo menahan lengan Hongbin yang satu lagi dan membuat lelaki blonde itu terlihat kesal.

"Hey! Apa masalahmu!" sahutnya sambil mendorong tubuh Leo.

Leo melihatnya dengan geram dan tetap menahan emosinya.

"Hyuk.. sudahlah.. dia hanya teman, umm.. aku rasa begitu. Kami bertemu semalam di festival"

Lelaki blonde yang bernama Hyuk itu pun menatap Leo dengan sombong. Lalu ia menarik Hongbin ke pelukannya dan mencium pipinya sambil terus menatap Leo dengan sombong.

"Oh yeah? So.. Aku Hyuk, pacar Hongbin" bahkan ia tidak menyodorkan tangannya pada Leo. Ia hanya menyeringai pada Leo.

"Well, kami sedikit sibuk. Sorry.. bye" Hyuk langsung menarik Hongbin jauh dari Leo dan Leo hanya menatap mereka dengan lemas.

'Pacar? No..'


Hongbin melepas dirinya dari Hyuk, "Kenapa kau kasar sekali?" ia cemberut pada pacarnya itu.

"Well.. aku tidak suka cara ia memandangmu. Lagian kan aku pacarmu, ya wajar dong kalo aku kasar padanya."

"Yeahh.. well.. sudahlah" Hongbin tidak ingin membuat pacarnya itu kesal lalu mereka melanjutkan kencan mereka.

Leo sedang duduk di sofa sambil menikmati suasana sore hari di kamarnya. Ia memainkan gelas di tangannya dan ia masih memikirkan Hongbin. Tapi kali ini ia memikirkan Hongbin yang sekarang, bukan Hongbin yang hidup bersamanya dulu. Leo menghela nafas. Kata-kata Hyuk masih terngiang di pikirannya.

Aku Hyuk, pacar Hongbin


Gelas yang ditangan Leo pun pecah akibat genggamannya yang terlalu kuat. Ia tidak suka dengan lelaki yang bernama Hyuk itu.

Matahari sudah tenggelam dan suasana kota di bawah sana mulai terlihat terang dengan lampu-lampu yang menghiasi kota. Leo menyipitkan matanya dan mencoba fokus pada Hongbin. Ia bisa merasakan dan melihat Hongbin dengan jelas walau dengan jarak yang sangat jauh. Ia bisa melihat Hongbin sedang di kamarnya yang gelap dan hanya mengenakan celana trainingnya. Hongbin yang sedang tiduran di tempat tidur kecilnya dan ia bersama dengan… Hyuk.

Leo menggeram kuat. ia meninju dinding di depannya dengan kuat. taringnya muncul dan matanya berubah menjadi merah. Ia bernafas dengan berat dan cepat.

Leo tidak suka jika Hongbin bersama Hyuk. Ia merasa cemburu.

Leo meninju dinding itu lagi.

Kenapa wajahnya mirip dengan .. Hongbinku! Kenapa!

Kenapa dia dengan... orang lain!

Leo mundur ke belakang dan duduk di pinggir tempat tidurnya. Kedua tangannya berada di kepalanya dan ia dengan frustasi menyisir rambutnya dengan jari-jarinya. Ia mengusap wajahnya dengan frustasi.

"Leo-yah? Kau ingin ke festival lagi? Aku dengar ini hari terakhir" Ravi mengintip ke kamar Leo dan ia bisa melihat Leo tampak sangat stress. Lalu Ravi berjalan masuk dan ia menepuk pelan punggung Leo.

"What's up man? Kau tampak….. lelah"

Leo menghela nafas dan tidak menjawab Ravi. ia malah langsung berdiri dan berjalan keluar, "Ayo ke festival" katanya singkat dan ia berharap kalau ia akan bertemu dengan Hongbin lagi malam ini.

Ravi menaikkan alisnya, ia heran karena Leo tidak biasanya mau diajak keluar istana. Tapi ia mengangkat bahunya dan mengikuti Leo.


Ravi dan Hakyeon sudah berlari ke arah suatu permainan dan meninggalkan Leo sendirian. Leo mencari-cari sosok Hongbin dengan rambut sebahu dan warna coklat itu. Leo mengelilingi lapangan sambil fokus mencari Hongbin. hingga ia mendengar seseorang memanggil nama Hongbin, lebih tepatnya terdengar seperti desahan. Leo mengikuti arah suara itu dan ia sampai di belakang gedung yang gelap dan tidak satu orang pun di sana. Suara desahan itu semakin dekat dan dekat dan Leo perlahan mengintip di balik dinding.

Hongin dengan rambut yang berantakan di wajahnya dan wajahnya terlihat merah dan berkeringat.

Yang mengejutkan bagi Leo adalah Hyuk yang sedang menciumi leher Hongbin dengan nafsu. Dan yang paling membuatnya shock adalah saat Hyuk sedang mengancing kembali celana Hongbin dan celananya. Mereka berdua tersenyum seperti orang bodoh dan Hyuk menciumnya dengan nafsu.

Tubuh Leo bergetar hebat menahan amarahnya. Tapi ia bisa merasakan taringnya yang tajam menyucuk bibirnya. Dan mata merahnya bertemu dengan Hyuk.

Hyuk melompat kaget dan Leo segera pergi menghilang.

Hongbin menatapnya bingung, "Hyukkie? Ada apa?"

Hyuk terlihat sangat pucat dan ia segera menggeleng kepalanya dengan cepat, "aku.. aku rasa melihat… sesuatu…"

Hongbin melihat ke sampingnya dan ia tidak melihat sesuatu yang aneh, "Hyukkie.. tidak ada apa-apa.. Kau lelah? Kita pulang sekarang?"

Hyuk yang masih shock hanya bisa mengangguk pelan.


Leo masih terengah-engah saat ia berjalan pulang ke istananya. Ia mengusap mulutnya yang masih berlumuran darah rusa yang diburunya tadi. Ia berjalan menuju ruang makan dan mengambil sebotol beer. Ia langsung menegak botol itu.

"Kenapa kau cepat sekali pulang!" sahut Hakyeon saat mereka tiba di istana.

Leo tidak menjawab, ia mengambil sebotol beer lagi dan membawanya ke kamarnya. Ravi dan Hakyeon mengikutinya dan bahkan mereka berdua langsung mengambil posisi di tempat tidur Leo. Hakyeon menepuk tempat tidur itu sambil menggoda Leo.

"Ayolah Leo, berbaring bersama kami."

Hakyeon dan Ravi berbaring di kedua sisi tempat tidur dan memberi tempat untuk Leo di tengah mereka. Leo malah memutar bola matanya dan berjalan ke balkon. Ia bisa mendengar suara desahan Hakyeon dan Ravi. Ia tau kalau dua temannya itu sedang menggodanya. Dan yeah, mereka memang sering melakukan ini bertiga, atau kadang dia hanya menonton, atau hanya bersama Hakyeon atau Ravi. Tapi ia tidak memiliki perasaan lain terhadap dua temannya itu. Ia hanya… bermain. Ia juga sudah bilang pada Ravi dan Hakyeon kalau dia hanya menganggap mereka berdua sebagai teman dan tidak lebih. Mereka berdua mengerti, karena mereka tau betapa cintanya Leo terhadap Hongbin. walau Hongbin sudah meninggalkannya. Dan sekarang, ia malah bertemu dengan orang yang mirip dengan Hongbinnya yang dulu.

Hakyeon mendesah dan memanggil nama Leo. Ia sedang tidak mood akibat yang dilihatnya tadi di festival. Hongbin dan Hyuk yang sedang…

Leo melempar botol beer yang telah kosong itu ke lantai dan membuat Hakyeon berteriak kaget.

"THE FXCK! JUNG TAEKWOON!" Hakyeon menyumpah lalu ia menatap pacarnya dengan bingung. Ravi mengangkat bahunya dan tidak ada niat untuk menghentikan perbuatan mereka. Ravi mencium pacarnya untuk mengalihkan pikirannya tapi mereka mendengar suara dinding yang sedang dipukul kuat. Dan Hakyeon kehilangan kesabaran. Ia segera berdiri dan berjalan ke balkon, tidak peduli untuk memakai celananya kembali.

"Apa masalahmu Leo! Kalau kau ingin bergabung bersama kami, kau bisa langsung masuk dan bercinta pada kami! Kau tidak har-"

"HONGBIN! HONGBIN!"

Hakyeon mendorong tubuhnya dengan kuat ke dinding, "Hentikan Leo! Hongbin sudah mati!"

"NO!"

Mereka saling bertatapan marah dan kedua taring mereka mulai muncul. Ravi menarik tubuh Hakyeon dan menenangkannya. Hakyeon melepaskan dirinya dan ia masih menatap Leo dengan kesal.

"Jika kau memang melihatnya, kenapa kau tidak menunjukkannya pada kami!"

Leo memalingkan wajahnya dan mendengus marah.

"Aku gak bisa!" jawab Leo singkat dan hampir berbisik.

"Oh? Jadi kau hanya bermimpi kan!" ejek Hakyeon sambil melipat lengannya dan mencondongkan tubuhnya.

"Aku tidak… bermimpi!" Leo memejam matanya, rasa cemburu itu kembali hadir dan rasa sakit di dadanya mulai muncul, "Aku melihatnya tadi di festival… hanya saja dia…. Dia bersama dengan orang lain"

Hakyeon tertawa mengejek tapi Ravi mengetahui kalau Leo sedang sakit hati. Ravi melihat Leo yang memejam matanya dengan kuat dan bibirnya yang mulai bergetar.

"Yeah, whatever! Kau harus bangun dari mimpi burukmu!" Hakyeon hendak berjalan masuk saat Leo tiba-tiba berbicara.

"Aku melihatnya sedang berciuman dengan orang lain. Dan orang lain itu adalah, pacarnya." Suara Leo terdengar serak dan seperti berbisik. Air mata Leo jatuh untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia tidak menangis.

Hakyeon berhenti dan ia mendengar kalau temannya itu terdengar sakit.

Leo duduk di lantai sambil menangis. Hakyeon dan Ravi merasa iba, lalu Hakyeon memeluknya dan mengelus punggungnya.

"Sssh, okay… Kami percaya…"

Hakyeon melirik Ravi dan mengirim pesan padanya lewat pikirannya.

'Kita harus mencari lelaki yang dimaksud Leo ini. Aku harus benar-benar memastikan kalau dia memang terlihat seperti, Hongbin. atau lelaki itu memang Hongbin. ntahlah, kita harus segera mencarinya'

Ravi dan Hakyeon mengangguk pelan sambil menenangkan Leo.