Leo sedang tidur pulas di tempat tidurnya. Ravi dan Hakyeon mulai mencari lelaki yang mirip Hongbin, kekasih Leo yang dulu. Mereka masih tidak percaya jadi setelah Leo tertidur, mereka keluar istana dan menuju kota kecil itu.
"Hyung? gimana kita bisa menemukannya?" Tanya Ravi dengan wajah bingung.
Hakyeon menghela nafas, "Aku juga tidak tau Ravi-yah.. Kita tunggu di taman mungkin? Sebentar lagi juga sudah pagi. Mungkin dia orang yang suka olahraga? Ntahlah.. semoga kita menemukannya nanti"
Mereka berdua duduk di sebuah bangku di taman sambil yeah.. menunggu. Ntah sudah berapa lama mereka menunggu, hingga matahari sudah terbit dan menerangi kota kecil itu. beberapa orang juga sedang olahraga di taman. Mata tajam mereka memperhatikan wajah orang-orang disitu dan mereka belum juga menemukan Hongbin. Mereka juga menahan nafsu mereka untuk tidak menyerang orang-orang itu. untungnya mereka telah mengonsumsi darah manusia semalam, dan itu membuat mereka tidak merasa lapar sekarang.
Ravi menghela nafas dan mulai bosan, "Hyung.. aku rasa Leo hyung hanya berimajinasi"
Hakyeon perlahan mengangguk, "Aku rasa juga begitu"
"Hmm.. sudahlah, kita pulang saja. Eh hyung, kita ke supermarket dulu ya? Aku ingin membeli.. hehe ramyun."
"Aish! Kau ini! Hentikan makan makanan seperti itu! itu tidak baik untukmu Ravi!" Hakyeon melompat untuk memukul kepala Ravi.
"Ouw! Hyung!" Ravi memasang wajah cemberut sambil mengusap kepalanya.
"Fine fine! Tapi jangan sering makan makanan itu Ravi!"
Ravi tersenyum lebar seperti anak kecil dan menarik Hakyeon ke arah supermarket.
Mereka sedang mengantri untuk membayar belanjaan mereka. Hakyeon menggerutu saat Ravi mengambil banyak macam ramyun. Tapi Ravi tidak peduli, ia bahkan berkata kalau ia yang akan membayar belanjaannya. Hakyeon merasa bosan dan sedikit kesal dengan Ravi, jadi ia pergi menunggu di luar supermarket.
Lelaki dengan nama Lee Jaehwan dengan rambut blonde sedang menghitung belanjaannya. Mata Ravi terus menatapnya dengan serius. Bahkan saat Jaehwan mengatakan nominal yang harus ia bayar, Ravi tidak berkedip dan terus menatap Jaehwan. Hingga Jaehwan menepuk tangannya pelan dan Ravi tersadar. Ia merasa sedikit malu dan membayar belanjaannya. Lalu Jaehwan tersenyum manis padanya dan Ravi mengedipkan matanya pada Jaehwan.
Hakyeon duduk di sebuah kursi di luar supermarket dengan kaki yang disilang dan lengan yang dilipat. Matanya menyipit pada sosok dengan rambut coklat dan dipotong rapi dan lesung pipit di kedua pipinya.
'HONGBIN!'
Mata Hakyeon langsung membesar dan ia langsung berdiri dengan spontan. Ia terus mengikuti langkah Hongbin dan melihatnya masuk ke dalam supermarket. Ia melihat Hongbin sedang tersenyum dan berbicara dengan pelayan kasir yang berambut blonde itu. Sampai ia tidak sadar kalau Ravi telah keluar dari supermarket.
"Ayo hyung!" ajak Ravi sambil tersenyum lebar. Ia masih memikirkan betapa cutenya pelayan yang beranama Lee Jaehwan itu.
"Hongbin!" bisik Hakyeon dan membuat Ravi bingung.
"Hmm? di mana?" Ravi melihat Hakyeon yang terus menatap ke dalam supermarket dan Ravi mengikuti arah pandangannya.
Dan Ravi hampir melepas plastik belanjaannya. Bagaimana bisa ia tidak melihat Hongbin saat mereka berpapasan tadi.
"Tidak mungkin!"
"Dia benar-benar mirip Hongbin"
"Lalu sekarang apa hyung?"
"Kita akan menunggu"
Hakyeon dan Ravi menunggu sampai Hongbin dan Jaehwan menutup supermarket. Mereka bersembunyi lalu mereka mengikuti Hongbin dan Jaehwan. Mereka bisa mendengar percakapan dua orang itu. Mereka baru mengetahui kalau mereka berdua adalah kakak-adik. Dan mereka berhenti saat dua orang itu masuk ke rumah mereka.
"Kau dengar tadi hyung? Jaehwan terus mengejek Hongbin dengan Hyuk. Dan aku ingin tau bagaimana si Hyuk ini dan aku harus memberinya pelajaran"
"Jaehwan? Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Hakyeon dengan wajah heran.
Ravi salah tingkah dan menggaruk tengkuknya, "Um.. Aku membaca namanya tadi saat dia melayani ku di supermarket"
Hakyeon hanya mengangguk. "Well.. ayo pulang. Aku lapar. Kita akan terus mengawasinya."
Leo sedang duduk di balkonnya dan lagi-lagi pikirannya lari ke Hongbin. Ia bisa merasakan perasaan Hongbin yang sedang bahagia saat itu dan ia tau kalau Hongbin sedang bersama seseorang, mungkin Hyuk.
Itu membuat Leo sakit hati lagi.
"Ooohh Leeeooo…" Hakyeon memanggilnya dan tiba-tiba sepasang tangan yang muskular melilit di lehernya. Leo dengan cepat memberontak dan berdiri. Ia mendecakkan lidahnya dan pergi ke tempat tidurnya.
"Oh please.. kami membawa kabar bagus!"
Leo tidak peduli, ia memejamkan matanya dan menghiraukan kedua temannya itu. ia merasakan seseorang naik ke tempat tidurnya, lebih tepatnya dua orang. Dan dua lengan memeluk pinggulnya dan ia berada di antara Ravi dan Hakyeon.
"Urgh!"
"Kau tidak ingin dengar berita bagusnya?" bisik Hakyeon yang nafasnya menggelitiki tengkuknya.
"Hmm.." respon Leo dan tidak membuka matanya.
"Kami menemukan rumah Hongbin!"
Leo kaget, ia langsung membuka matanya dan bertemu dengan sepasang mata Ravi dan Ravi yang sedang tersenyum lebar padanya. Leo langsung turun dari tempat tidur dan menatap pada kedua temannya itu.
"Kalian? Kalian mencarinya? Jadi sekarang kalian percaya padaku?"
Hakyeon tersenyum bangga, "Yes, maafkan kami kalau tadinya kami mengejekmu. Tapi yeaah.. kami melihatnya dengan mata kami sendiri"
Leo menatap kedua temannya dengan serius.
"Kau tidak ingin menemuinya Leo?" Tanya Hakyeon dan Ravi yang sedang menatapnya penuh ingin tau.
Leo berpikir sejenak dan ia sedikit ragu. Ini sudah larut malam dan mungkin Hongbin sedang bersama.. Hyuk. Dan Leo tidak ingin melihat mereka berdua lagi, itu membuatnya sakit.
"Kami akan menemanimu kalau kau tidak keberatan sih" kata Hakyeon yang tersenyum lembut.
"Umm.. mungkin tidak sekarang" kata Leo singkat.
Hakyeon memutar bola matanya, "Ah kau ini terlalu gengsi! Sudahlah, ayo Ravi!"
Ravi dan Hakyeon berada di samping Leo dan mulai menariknya dan membawanya keluar.
Leo berusaha untuk memberontak tapi Ravi menahannya dengan sangat kuat.
"Hey hey! Kalian mau membawaku kemana!"
Tidak satu pun dari temannya itu menjawab. Hingga mereka tiba di sebuah rumah tingkat dua dan sederhana. Mereka berdiri di depan rumah itu dan mendongak ke atas.
"Kau tidak ingin menyapanya?" Tanya Hakyeon pada Leo sambil menunjuk ke arah jendela yang terbuka di lantai dua dari rumah kecil itu dengan dagunya. Tampaknya Hongbin sudah tidur, karena tidak ada lampu yang menyala dari ruangan itu.
Wajah Leo sedikit muram, tapi ia memberanikan dirinya untuk masuk lewat jendela itu. Dalam sekejap Leo sudah berdiri di bingkai jendela yang terbuka itu. bayangannya terpancar dari sinar bulan di belakangnya dan perlahan Leo turun dari jendela. Ia melihat sosok Hongbin yang berbaring membelakanginya dan ia bisa mendengar suara dengkuran Hongbin yang lembut.
Leo berjalan tanpa suara dan berdiri di samping tempat tidurnya. Ia melihat Hongbin yang mulai bergerak dari posisinya dan berbalik menghadapnya. Sekarang Leo bisa melihat wajah angelic Hongbin yang sedang tidur. Leo tersenyum lembut dan tangannya sangat ingin menyentuh wajah Hongbin yang lembut itu. Dan ia melihat rambut Hongbin sudah dipotong pendek dan rapi.
Tempat tidur Hongbin kecil dan hanya bisa menampung satu orang. Leo membungkuk dan mengelus wajah Hongbin dengan jarinya yang panjang dan lentik. Ia melakukannya sambil tersenyum lembut.
'Apa kau memimpikanku, Hongbin-ah?'
Leo menekan bibirnya pelan ke bibir Hongbin dan mengecupnya dengan lembut.
Hongbin terkejut dan matanya langsung terbuka. Ia menahan nafasnya dan ia merasakan kalau sesuatu menekan di bibirnya tadi. Hongbin duduk dan melihat ke sekelilingnya. Dan kamarnya kosong. Hongbin menyentuh bibirnya dengan jarinya dan bibirnya terasa sedikit basah.
'Aneh'
Hongbin menggeleng kepalanya. Mungkin itu cuma perasaannya saja, dan ia pun kembali tidur.
Keesokan malamnya, Hongbin baru saja pulang berkencan bersama Hyuk. Dan ia merasa lelah, jadi setelah ia mengganti pakaiannya dan menggosok giginya, ia langsung berbaring di tempat tidurnya.
Dan untuk pertama kaliny ia bermimpi dengan seseorang. Seseorang yang bukan Hyuk dan bukan Jaehwan ataupun temannya yang lain. Ia bermimpi kalau ia sedang bersama seorang lelaki dengan mata hitam dan tajam, rambut hitamnya yang lurus dan mencapai bahunya, bahunya yang lebar, senyumnya yang tipis dan indah, dan suaranya yang lembut. Lelaki itu terus memanggil nama Hongbin dengan suaranya yang sangat halus dan lembut. Hongbin menyukai suara itu. Pakaiannya lelaki itu serba hitam dari baju hingga sepatu bootsnya. Hongbin juga tidak tau mereka ada dimana. Tapi ia yakin kalau mereka sedang berada di istana. Dilihat dari sekelilingnya yang lebar dan megah dengan banyak tiang yang besar, juga patung di setiap sudut ruangan, lampu hias yang besar dan megah tergantung di atas mereka.
"Hongbin-ah…"
Untuk ke sekian kalinya lelaki itu memanggil namanya. Hongbin tidak tau nama lelaki itu dan ia juga tidak tau harus berbuat apa.
Mereka berdiri sangat dekat hingga Hongbin bisa merasakan hembusan nafas yang lembut di pipinya. Hongbin terus menatap matanya yang memandangnya dengan lembut. Dan perlahan bibir lelaki itu pun mencium bibirnya. Hongbin meresponnya dan membuka mulutnya sedikit, membiarkan lelaki itu lebih leluasa menciumnya. Tanpa sadar Hongbin menyukai cara lelaki itu menciumnya dan Hongbin merintih di mulutnya sambil berpegangan pada lengan lelaki itu. Lalu sesuatu yang tajam menyayat bibirnya dan Hongbin merintih kesakitan. Ia melepas ciumannya dan menatap lelaki itu dengan ngeri. Dua taring yang tajam muncul dari mulutnya dan matanya yang merah menatap Hongbin dengan lapar. Hongbin berteriak.
Lalu ia terbangun dari mimpi buruknya itu. ia keringatan hebat sampai bajunya basah dan lengket i tubuhnya. Ia menatap ke sekeliling kamarnya yang kosong dan gelap. Ia mengatur nafasnya.
'Hanya mimpi… itu hanya mimpi Hongbin.. hanya mimpi!'
Hongbin kembali berbaring dan ia tidak bisa melanjutkan tidurnya malam itu. Wajah lelaki yang bertaring itu terasa tidak asing baginya. Tapi ia tidak tau kapan ia pernah melihat lelaki itu. Ia berharap kalau itu hanya mimpi. Tidak mungkin ada manusia bertaring seperti itu di jaman modern ini. Hongbin berharap seperti itu.
