Hongbin dan Hyuk sedang berkencan di kafe favorit mereka malam itu. dan Hyuk sedang menyalakan rokoknya dan menghembuskan asapnya ke arah Hongbin. Hongbin terbatuk dan mengipaskan tangannya di depannya sambil menatap marah pada Hyuk. Hyuk hanya tertawa.

"Bisakah kau tidak merokok jika kau bersamaku?" kata Hongbin dengan nada kesal.

Hyuk menghisap kembali rokoknya dan tidak menjawab Hongbin. ia hanya tersenyum masam pada Hongbin sambil menggeleng kepalanya.

"I'm sorry babe…" katanya sambil terkikik.

Hongbin menghela nafas dengan kesal lalu berdiri sambil membawa tas sandangnya.

"Hey hey.. Kau mau kemana Binnie?" Tanya Hyuk sambil ikut berdiri, ia melihat Hongbin yang mulai meninggalkannya lalu dengan cepat ia menarik tangan Hongbin.

"Babe! Kau belum menghabiskan kopimu"

Hongbin segera melepaskan tangannya dari Hyuk dan menatapnya kesal, "Aku ingin pulang, lagian juga ini sudah malam"

Hyuk tertawa lalu ia membuang rokoknya ke tanah dan menginjaknya sampai api dari rokok itu padam, "Fine fine fine.. happy now?"

Hongbin masih membuang wajah dan melipat lengannya. "Aku tidak suka kalau kau merokok, hyukkie. Kau tau itu kan?"

Hyuk menghela nafas dan memeluk pacarnya itu, "I'm sorry babe.."

"Itu tidak baik untukmu Hyukkie, aku melakukan yang terbaik untukmu"

"Yeah babe… kita duduk lagi, okay? Atau.. kau ingin…." Ia menatap Hongbin dengan tatapan nakalnya dan menyunggingkan senyum pada Hongbin.

Hongbin memukul dada Hyuk dengan pelan, "NO! Aku.. aku rasa sebaiknya aku pulang saja"

Hyuk menatapnya dengan penuh kecewa, "Hongbin-aaahhh.. pleaseeee.."

"Aku bilang gak Hyukkie!"

"Please?"

"No!"

Hongbin kembali kesal dan ia membalikkan tubuhnya dari Hyuk sambil melipat lengannya. Hyuk menghela nafas dan mendecakkan lidahnya.

"Fine! Ya sudah! Pulang aja sana!" kata Hyuk tiba-tiba dan membuat Hongbin shock.

Hongbin menatapnya dengan tidak percaya sambil menggeleng kepalanya. Hyuk mengambil bungkus rokok yang diletakkannya di meja tadi sambil menatap Hongbin dengan kesal lalu ia pergi meninggalkan Hongbin sendirian di kafe itu.

Hongbin menatap pacarnya itu dengan tidak percaya. Ia masih berdiri mematung menatap punggung Hyuk yang makin lama makin menjauh. Ia tidak percaya jika Hyuk meninggalkannya begitu saja di kafe. Hongbin menjulurkan lidahnya pada Hyuk .

"I hate you!" Hongbin yang masih kesal dengan cepat berjalan pulang ke rumahnya.


Saat itu sudah menunjukkan pukul 11 pm, dan Hongbin mempercepat langkahnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan merasakan dinginnya udara malam yang menembus sweater rajutnya. Giginya juga ikut gemertak akibat dinginnya udara malam itu. Ia menyumpah dan masih kesal pada Hyuk.

Jalanan yang Hongbin lewati terlihat gelap dan sepi. Hongbin melihat ke sekelilingnya dan entah kenapa ia merasa seseorang sedang mengawasinya. Hongbin setengah berlari dan tiba-tiba seorang lelaki yang sedikit lebih tua darinya muncul dari gang kecil di sampingnya. Lelaki tua itu tersenyum nakal dan Hongbin berhenti.

"Hai pretty!" sapa lelaki itu yang kelihatannya sedang mabuk.

Hongbin bisa mencium bau alcohol dari mulut lelaki itu. Hongbin mundur ke belakang dan mengepal kedua tangannya. Matanya tetap waspada pada lelaki itu.

"Kau mau kemana anak muda?" lelaki itu semakin mendekat pada Hongbin lalu dengan cepat lelaki itu memeluk Hongbin dan mencoba untuk menarik sweaternya.

Hongbin berteriak dan mencoba melepaskan dirinya dari lelaki itu tapi tubuhnya gemetar hebat dan ia merasa lemas. Lelaki itu tertawa nakal dan menarik Hongbin ke arah gang kecil itu. Hongbin berusaha sekuat tenaganya untuk memukul lelaki itu tapi lelaki itu dengan kuat menahan kedua tangannya. Hingga tiba-tiba tubuh lelaki itu tercampak ke dinding. Hongbin kaget dan melihat lelaki yang menyerangnya itu sudah tidak sadarkan diri terbaring di lantai.

Hongbin merasa bulu kuduknya merinding dan ia menoleh ke belakang. Ia tidak bisa melihat wajah orang yang menyelamatkannya itu.

"Uh.." Hongbin tidak tau harus mengatakan apa, "t-thanks" jawab Hongbin yang perlahan menjauh. Sesuatu yang membuat lelaki yang menolongnya itu terlihat seram.

"Lari!" kata lelaki yang menolongnya itu dengan suara lembut namun tegas.

Hongbin segera berlari menuju rumahnya sekencang mungkin.


Ia membanting pintu kamarnya dan ia mencoba mengatur nafasnya. Ruangannya masih gelap dan jendela kamarnya masih terbuka. Angin malam menerpa kencang tirainya dan Hongbin segera menutup jendelanya dengan rapat. Ia melemparkan tas sandangnya ke lantai lalu berjalan ke arah tempat tidurnya.

Ia menyalakan lampu tidurnya dan ia berbaring lemas di tempat tidurnya. Ia mengusap wajahnya dengan lelah dan menghela nafas. Tak lama ia pun tertidur dengan pulas.

Hongbin kembali bermimpi tentang lelaki misterius itu, lelaki yang memiliki rambut hitam dan sebahu, yang memakai pakaian yang serba hitam dan memiliki mata yang tajam. Kali ini ia sedang bermimpi kalau ia berada di kamarnya sendiri dan sedang duduk di tempat tidurnya. Keadaan kamarnya sama seperti tadi, gelap dan jendela terbuka. Hanya saja kali ini lelaki misterius itu berdiri di depan nya. Hongbin tidak bisa melihat wajah lelaki misterius itu. Hongbin berdiri dan mendekati lelaki itu. Anehnya Hongbin merasa … tenang.

Hongbin bisa merasakan tatapan dari lelaki misterius itu padanya. Mereka terus berdiri saling berhadapan dan saling bertatapan. Hongbin bisa melihat senyum kecil dari lelaki itu dan Hongbin ikut tersenyum padanya. Lelaki itu menarik tubuh Hongbin lebih dekat dan dada mereka bersentuhan dan Hongbin bisa merasakan hembusan nafas dari lelaki itu.

"Hongbin-ah" kata lelaki itu dengan suara lembutnya. Hongbin memejam matanya dan tersenyum.

"Hongbin-ah.. lihat aku"

Hongbin membuka matanya dan ia shock, ia melihat dua taring tajam di mulut lelaki itu dan Hongbin pun terbangun dari mimpinya sambil terengah-engah.

Hongbin langsung terduduk dan mendengar suara jendelanya yang terbanting pelan. Hongbin menatap jendelanya yang terbuka dan tirainya yang diterpa angin kencang. Hongbin memberanikan dirinya untuk menutup jendelanya kembali.

Lalu berbalik menuju tempat tidurnya, tapi ia melihat sesuatu bergerak di sampingnya. Hongbin kaget lalu ia berputar dan tidak menemukan apapun. Ia menggeleng kepalanya dan hendak berlari menuju tempat tidurnya. Tapi ia merasa seseorang berada di belakangnya dan ia berbalik.

Sepasang mata hitam yang melihatnya dengan tajam dan bibir yang tipis dan rambut hitam sebahu sedang berdiri di belakangnya. Hongbin membuka mulutnya dan ingin berteriak tapi lelaki itu segera menutup mulutnya dan hanya terdengar rintihan pelan dari mulut Hongbin.

"Jangan takut Hongbin-ah.."

Tapi jantung Hongbin terus berdetak kencang dan ia masih takut akibat mimpi buruknya. Hongbin menggeleng. Lelaki itu mendorongnya kembali ke tempat tidurnya.

"Hongbin-ah.."

Mata Hongbin langsung terbuka lebar. 'dari mana ia bisa tau namaku?'

"Hongbin-ah" katanya lagi dengan senyum tipis. Perlahan ia menarik kembali tangannya dari mulut Hongbin.

"Maaf jika aku menakutimu"

Hongbin terus menatapnya dengan takut. Lelaki itu terus memandangnya dengan mata tajamnya lalu ia tertawa pelan.

"Jangan takut.. aku tidak akan menggigitmu"

Hongbin menarik kedua kakinya ke dadanya dan menjauhi Leo.

"No.. please.. don't"

Leo menarik kaki Hongbin dan Hongbin teriak kaget.

"Ssh.. kau akan membangunkan abangmu, Hongbin"

Hongbin masih gemetaran ketakutan. Tangan Leo terasa sangat dingin di kulitnya. Hongbin mendesis. Leo mengelus pelan pergelangan kaki Hongbin sambil menatapnya dengan lembut sekarang. Dan Hongbin merasa sedikit rileks. Leo tersenyum lembut padanya.

"Aku hanya ingin menemuimu Hongbin-ah.."

"K-kau.. bagaimana kau bisa tau namaku..?"

"Kau tidak perlu tau jawabanku"

Hongbin menutup mulutnya dan menunduk. Leo mendekati wajahnya dan menaikkan dagunya sehingga mereka bertatapan.

"Hongbin-ah.. "

Hongbin tidak menjawab, matanya terlihat berat saat ia memandang bibir Leo. Leo semakin mendekatkan bibirnya ke arah Hongbin dan terus membisikkan nama Hongbin.

Hingga, bibir mereka bertemu. Bibir Leo yang terasa dingin menciumnya dengan lembut. Hongbin merintih akibat perbedaan suhu di antara bibir mereka. Mereka terus berciuman dengan lembut. Hongbin menyukai cara Leo menciumnya dan ia menarik tubuh Leo lebih dekat ke arahnya. Leo merangkak ke samping tubuh Hongbin dan tiba-tiba Leo tidak sengaja menjatuhkan dan memecahkan lampu tidur Hongbin. tidak satupun dari mereka yang peduli, mereka terus berciuman dan Leo mendorongnya berbaring di tempat tidur.

"Hongbin-ah? Kau baik-baik saja?" pintu kamar Hongbin terbuka dan hyungnya, Jaehwan masuk sambil mencoba mencari sosok Hongbin di tempat tidur.

Hongbin membuka matanya dan terengah-engah. ia menatap Jaehwan dengan bingung dan Jaehwan kembali menatapnya dengan bingung.

"Hongbin? you okay?" Tanya hyungnya yang berjalan ke arahnya. Ia melihat lampu tidur Hongbin yang pecah di lantai.

"Uh.. yeah.." Hongbin mencari-cari Leo di sekeliling kamarnya, dan tidak menemukannya. Jendelanya kembali terbuka dan angin malam masuk ke ruangannya.

Jaehwan berjalan ke arah jendela dan menutupnya, "Mimpi buruk?" tanyanya.

"Uh.. yeah, aku rasa gitu" jawab Hongbin dengan hati sedih, sedih karena Leo sudah pergi.

Jaehwan berjalan ke arahnya dan mengecup dahinya, "Gosh! Kau dingin sekali Hongbin. lain kali kau harus mengunci jendelamu! Belakangan ini cuaca sedang buruk, aku tidak ingin kau sakit Binnie"

Hongbin menggangguk dan Jaehwan meninggalkan kamarnya.

Hongbin kembali duduk di tempat tidurnya dan menghela nafas. 'Tidak mungkin aku bermimpi, ciuman itu…' Hongbin menyentuh bibirnya dan bibirnya terasa bengkak dan basah. Ia kembali melihat ke sekelilingnya dan tidak menemukan Leo lagi.

'Mungkin itu cuma mimpi'


Helloo.. thank you uda review, fav dan follow :))

Maaf kalo ini lama, dan pendek... lol... tapi ntar dipanjangin kok :D