Hongbin dan Jaehwan sedang berjalan menuju tempat kerja mereka ketika tiba-tiba Hyuk menghampiri mereka.
"Binnie hyung.." sapa Hyuk sambil melingkarkan lengannya di leher Hongbin. Hongbin yang mengetahui itu langsung menjauhkan dirinya dari Hyuk.
"Hai Hyuk, kau tidak sibuk hari ini?" Tanya Jaehwan.
Hyuk menatap Hongbin dengan bingung dan mencoba melingkarkan lengannya di pinggul Hongbin, "Um, gak hyung. Bolehkan kalau aku ikut?"
"Tentu"
"Tidak"
Jawab Hongbin dan Jaehwan bersamaan. Jaehwan melirik adiknya dengan bingung, ia tidak pernah melihat Hongbin berkata kasar seperti itu pada Hyuk. Lalu Jaehwan melihat keduanya secara bergantian.
"Aku rasa itu tidak masalah Beannie."
"Aku rasa kau sebaiknya menunggu saja di rumahmu" ucap Hongbin sambil memandang Hyuk dengan kesal. Ia mempercepat langkahnya dan meninggalkan Jaehwan dan Hyuk.
"Binnieeee.." teriak Hyuk dan ia mendecakkan lidahnya sambil berjalan dengan diam di samping Jaehwan.
"Kalian tidak seperti biasanya" kata Jaehwan dengan pelan.
"Hmm.. yeah gitu deh hyung."
Jaehwan mengangguk, tapi Hyuk langsung berkata, "Tapi aku yakin, mungkin Binnie hyung sedang lelah dan tidak mood"
Jaehwan hanya mengangguk dan ia tau benar tentang dongsaengnya.
'Pasti dia melakukan kesalahan dan Hongbin marah dengannya' pikir Jaehwan.
Hongbin sudah memakai seragam pekerjaannya dan sudah berdiri di depan mesin kasir. Beberapa orang juga sudah mulai berbelanja di supermarket mereka. Jaehwan dengan cepat mengganti pakaiannya dan membantu Hongbin.
Hyuk mencoba membantu Hongbin memasukkan belanjaan ke plastik, tapi Hongbin bersikeras menyuruh Hyuk untuk pergi. Tapi Hyuk tidak akan pergi sebelum Hongbin mau memaafkannya. Dan itulah yang terjadi saat ini.
"Please babe… maafkan aku.." kata Hyuk dengan manja sambil mencoba menarik perhatian Hongbin.
Hongbin memutar bola matanya untuk yang kesekian kalinya dan menghiraukan Hyuk.
"Hongbin-ah.."
"Hongbin hyung.."
"Binnie"
"bean"
"Beannieeeee hyunnng"
"Babe"
"Binnie baby?"
Dan Hongbin tidak menjawab satupun panggilan Hyuk. Hyuk mulai kesal dan ia pergi keluar dan duduk di kursi yang ada di luar. Ia melihat seseorang dengan kulit coklat sedang duduk di salah satu kursi di depan. Hyuk duduk sambil menghela nafas dengan kesal. Ia menaikkan satu kakinya ke pahanya dan melipat lengannya. Dia tidak percaya kalau Hongbin begitu kekank-kanakan sekarang, dan dia kesal pada Hongbin. Ia melirik orang di sampingnya yang memandangnya dengan curiga. Hyuk berdehem dan orang itu perlahan tersenyum padanya.
"Bad day?" Tanya nya. Hyuk berkedip dan ia terkejut, ia tidak pernah mendengar suara indah seperti itu. wajahnya melongo menatap lelaki di sampingnya itu. lelaki itu menyunggingkan senyum padanya dan Hyuk tersenyum dengan canggung.
"Uh yeah.." lalu Hyuk menjauhi tatapan lelaki di sampingnya itu. sesuatu tentang lelaki itu membuatnya merinding.
(Di dalam supermarket)
"Bean? Bukankah kau terlalu kasar pada Hyuk?" kata Jaehwan yang sambil memeriksa belanjaan Wonshik.
Ravi yang mendengar nama Hyuk langsung menatap mereka berdua dengan serius.
Hongbin yang memasukkan belanjaan Ravi ke dalam plastik menghela nafas dengan panjang, "Yeah… tapi, hyung… dia itu.. ugh! Well, kau tau aku tidak suka dengan asap rokok kan? Dan dia juga tau itu! dan dia merokok semalam saat kami kencan! Ugh!" Hongbin menahan emosinya hingga ia hampir mencampakkan belanjaan Ravi.
Jaehwan tertawa pelan, "Yeah.. sudahlah.. bicaralah padanya, kasihan tau!"
Hongbin terdiam, ia berpikir sesaat.
Mata Ravi terus menatap Hongbin dengan menyipit dan ia melihat ke arah keluar. Ia melihat Hyuk yang dimaksud mereka itu sedang berbicara pada Hakyeon. Ravi mengirim pesan lewat pikirannya kepada Hakyeon.
'Hyung, itu dia yang bernama Hyuk'
Ravi bisa melihat wajah Hakyeon yang tersentak kaget.
"Tuan, ini belanjaan anda"
Lalu Ravi tersenyum pada Jaehwan ketika ia membayar belanjaannya dan pergi keluar. Ravi berjalan ke arah Hakyeon sambil melihat wajah Hyuk. Ia ingin sekali memukul Hyuk saat itu juga. Tapi Hakyeon menenangkannya lewat pikirannya. Seketika itu juga Hongbin keluar dari supermarket dan berjalan ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah Hyuk.
"Hyuk-ah"
Hyuk langsung berdiri dan tersenyum lebar pada Hongbin, "Beannie baby.." Hyuk menarik Hongbin dan memeluknya.
"Maafkan aku… okey? Aku janji aku tidak akan merokok lagi di depanmu"
"yeah.. i'm sorry too Hyukkie"
Ravi dan Hakyeon dengan diam-diam melirik dua orang itu dan mereka tidak akan memberi tau hal ini pada Leo, karena Leo nantinya akan cemburu dan sakit hati. Mereka tidak ingin Leo merasakan sakit hati lagi.
Setelah Hongbin dan Jaehwan selesai bekerja di supermarket, Hongbin pamit pada hyungnya untuk pergi berkencan dengan Hyuk. Hyuk membawanya ke bioskop dan seperti pasangan lainnya, mereka malah bercumbu di kursi belakang dan cekikikan seperti pasangan lainnya. Setelah selesai menonton bioskop, Hyuk mengajaknya ke apartmentnya.
Sampai di apartment Hyuk, Hongbin terlihat gelisah dan Hyuk melihatnya dengan bingung.
"Babe… kenapa kau terlihat takut?" Hyuk menariknya ke pelukannya dan mencium Hongbin.
Untuk pertama kalinya, Hongbin merasa bosan bercumbu dengan Hyuk, dan jantungnya tidak berdetak kencang seperti biasanya. Hongbin dengan cepat mendorong tubuh Hyuk.
"Hongbin-ah…" Hyuk hendak menariknya lagi tapi Hongbin menahannya.
"No!"
Hyuk memandangnya dengan aneh dan ia tertawa mengejek, "Kau ini kenapa sih Hongbin?"
"Hyuk-ah.. bisakah kita… umm, hanya tidur atau .. cerita-cerita mungkin? Aku sedang tidak mood"
Hyuk mendengus marah, "Semalam karena rokok, ini? Hongbin-ah? Wae? Ha? Apa kau menyukai orang lain sekarang?"
"Hyukkie.. tapi aku sedang tidak mood"
"Hongbin!"
Hongbin segera keluar dari apartment Hyuk dan berlari menuju rumahnya. Saat itu sudah hampir larut malam dan Hongbin ingin segera tiba di rumahnya. Hanya saja seseorang telah menunggunya di ujung jalan. Pria itu tampak tinggi-ramping, dan Hongbin tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Hongbin memperlambat langkahnya, ia takut jika orang itu ingin berbuat macam-macam padanya seperti kejadian semalam. Ia menyesal karena telah meninggalkan apartment Hyuk. Tapi ia juga tidak ingin bercumbu dengan Hyuk. Ntah kenapa ia merasa bosan.
"Hongbin-ah.." Hongbin mengenali suara lembut itu. itu lelaki yang ada di mimpinya. Penasaran, Hongbin pun berjalan mendekatinya. Kini ia bisa melihat wajah lelaki itu dengan jelas. Sama seperti kejadian di kamarnya semalam, jantungnya berdebar kencang saat ia melihat wajah Leo.
"Bagaimana kau bisa tau aku disini?" bisik Hongbin dan Leo tersenyum tipis padanya. Ia menggenggam kedua tangan Hongbin dan Hongbin merinding karena dinginnya tangan Leo.
"Aku akan selalu tau kau ada dimana Bin-ah.."
"Bagaimana.. bagaimana kau bisa tau namaku?"
Lagi lagi, Leo tersenyum padanya, ia mendekatkan wajahnya ke Hongbin dan meletakkan dahinya ke Hongbin. mereka saling bertatapan dan Hongbin merasa kakinya menjadi lemas.
"Kau tidak perlu tau jawabanku, Bin-ah.."
Hening…
"Si-siapa kau?" bisik Hongbin dan mencoba menelan ludahnya. Ia mencoba untuk mundur dan Leo menatapnya dengan lembut.
"Leo, panggil aku Leo"
"Leo…" bisik Hongbin dan membuat Leo tersenyum lembut padanya. Ia menyukai cara Hongbin memanggil namanya.
"Leo…" bisik Hongbin lagi dan pandangannya jatuh ke bibir Leo.
"Leo…"
Leo mendekatkan bibirnya dan mengecupnya pelan.
"Pulanglah… kau kedinginan" Leo memberikannya jaket hitamnya dan meletakkannya di bahu Hongbin. Hongbin mengangguk pelan dan berjalan melewati Leo.
Leo terus menatap Hongbin dan mengawasinya hingga Hongbin masuk ke rumahnya. Hongbin menoleh ke belakang sebelum ia masuk ke rumahnya dan melihat Leo sedang berdiri mengawasinya.
"Oh, Beannie? Aku kira kau bersama Hyuk" sapa Jaehwan yang sedang menonton TV.
"Umm, yeah.. tadinya" Hongbin segera berlari ke kamarnya dan meninggalkan Jaehwan.
"Oh Bin? Kakek akan pulang besok! Well, aku tidak ingin jika dia tau kalau kau membawa Hyuk ke kamarmu"
"Oh, yeah thanks hyung"
Hongbin mengunci pintunya dan jendelanya masih terbuka lebar. Ia menghidupkan lampu kamarnya dan berjalan untuk mengunci jendela. Setelah ia menutup jendela kamarnya, ia berbalik dan mulai melepas jaket Leo dan mengganti pakaiannya. Dan tiba-tiba angin dari luar masuk ke ruangannya. Hongbin yang bertelanjang dada merasa kedinginan dan berbalik untuk menutup jendelanya kembali. Hanya saja ia bertemu dengan Leo yang berdiri tepat di belakangnya. Itu membuat Hongbin kaget dan menabrak dada Leo yang keras. Leo segera menangkap tubuhnya dan dengan cepat menariknya ke pelukannya. Mata Hongbin yang besar menatap Leo dengan shock.
'bagaimana ia bisa melakukan itu?' pikir Hongbin.
Leo menyunggingkan senyumnya dan menunduk untuk mencium bibirnya. Hongbin kaget tapi ia merasa… tenang. Ciuman Leo lambat dan lembut dan membuat Hongbin rileks. Leo mendorong tubuhnya ke tempat tidurnya dan ia juga ikut naik ke tempat tidur Hongbin. Tempat tidur Hongbin membuat suara tapi mereka tidak peduli. Tubuh Leo yang lebih tegap membuat tempat tidur itu terlihat sempit dan kecil untuk mereka berdua. Leo menarik Hongbin ke pelukannya dan terus menciumnya. Ciuman mereka berubah menjadi ganas dan Leo menarik selimut Hongbin dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Lalu Leo melepas ciumannya dan mengecupnya berkali-kali. Hongbin merasa lelah dan ia menyandarkan kepalanya ke dada Leo.
"Tidurlah Beannie.."
Hongbin menghela nafas dan memeluk Leo. Anehnya, ia merasa lebih nyaman bersama Leo.
Leo tersenyum dan memeluk Hongbin sambil mengelusnya hingga ia tertidur. Leo sangat merindukan berada di pelukan hongbin seperti ini. Walau Hongbin saat ini bukanlah Hongbinnya yang dulu. Tapi ia akan membuat Hongbin mencintainya. Bahkan ia tidak memikirkan bagaimana cerita cinta mereka kelak. Ia sedang tidak ingin memikirkan hal itu. saat ini Leo sedang berbahagia, karena setelah ratusan tahun lamanya Hongbin meninggalkannya.
Mereka di dunia yang berbeda, Hongbin adalah manusia, dan Leo adalah.. seorang vampir. Tidak mungkin mereka akan terus bersama. Karena suatu saat nanti, Hongbin akan menjadi tua dan mati. Sedangkan Leo akan tetap abadi.
Aigoo, mianhe kalau ceritanya gak bagus.. i've tried my best
