Hyuk datang ke supermarket tempat Hongbin bekerja. Dan ia tersenyum pada Hongbin lalu menariknya keluar.

"Hyuk-ah, kau lihat aku sedang sibuk kan? Dan aku tidak punya waktu untuk membicarakan hal yang tidak penting saat ini."

"Hongbin hyung, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Fine. Dan cepatlah!"

Hyuk menghela nafas dan meletakkan tangannya di bahu Hongbin.

"Apa kau mencintaiku hyung?"

Hongbin memutar bola matanya, ia sangat membenci topik ini.

"Please Hyuk-ah, aku sibuk!" Hongbin melepaskan diri dari Hyuk sambil menatapnya marah.

"Oh! Jadi kau sedang dekat dengan orang lain? Dan kau melupakanku hyung?"

Hongbin menghiraukannya dan ia mendengar Hyuk berteriak padanya.

"FINE! INI YANG KAU MAU HYUNG. KITA PUTUS!" Teriak Hyuk dan ia melihat Hongbin yang mengabaikannya. Hyuk menendang batu kerikil sambil menyumpah dengan frustasi.


Jaehwan melihat adiknya dengan khawatir, "hongbin? Kau baik-baik saja?"

Hongbin mengangguk dan menjauhi tatapan Jaehwan. Jaehwan tahu kalau Hongbin berbohong. Ia akan menanyakannya nanti.

Malamnya, Hongbin dan Jaehwan membawakan makanan untuk kakek mereka. Mereka tidak sabar untuk bertemu dengan kakek mereka. Bahkan saat mereka masuk ke rumah, mereka langsung memeluk kakek mereka.

"Kakeeek..."

"Kek! Kami sangat merindukanmu!"

Kakek mereka tertawa dan mengecup kepala mereka.

"Yeah cucu-cucuku, tapi kali ini kakek akan tinggal beberapa bulan di sini. Dan kita bisa berjalan bersama-sama seperti dulu"

"Woah! Serius Kek?" Tanya Hongbin sambil tersenyum menunjukkan lesung pipitnya.

Kakek mereka tersenyum dan mereka pun duduk di ruang tv sambil memakan snack dan bercerita. Seperti yang biasanya mereka lakukan


Hyuk berjalan sempoyongan sambil tertawa sendiri. Ia berteriak sambil memanggil nama Hongbin. Yeah, ia sedang mabuk.

"Hongbin hyung... kau...tega sekali"

Hyuk terus berjalan hingga ia tidak sadar kalau seseorang sedang mengawasinya.

Hakyeon berdiri bersandar di salah satu tiang di pinggir jalan. Ia mengamati Hyuk sambil tertawa pelan.

"So cute" bisik Hakyeon sambil tersenyum melihat tingkah mabuknya Hyuk.

"Ooh Hongbin hyung... kau pasti menyesal... meninggalkanku..." Hyuk terkikik lalu ia terjatuh di jalan.

Hakyeon segera menolongnya berdiri dan menahannya di dinding.

"Hey... kau sungguh mabuk!" Kata Hakyeon sambil mengerutkan hidungnya.

Hyuk menatapnya dengan mata berat sambil tersenyum, "Hmm.. apa kau... seorang peri?" Ia mengelus wajah Hakyeon dan ntah kenapa Hakyeon merasa tersipu malu. Well, Hyuk memang terlihat ganteng dan... hot. Dan itu membuat hakyeon semakin tersipu malu. Wajah Hakyeon memerah saat Hyuk mendekatkan wajahnya. Mata Hakyeon membesar saat bibir Hyuk menyentuhnya dan menciumnya dengan lembut.

Hakyeon merespon ciumannya dan ia tidak menyangka kalau ia bercumbu di pinggir jalan dengan seseorang yang sedang mabuk. Hakyeon memang sudah tertarik sejak ia melihat Hyuk kemarin. Hanya saja ia menahan dirinya karena saat itu ada Ravi di dekatnya dan Hyuk yang saat itu masih berpacaran dengan Hongbin. Kini ia sudah tau kalau Hyuk dan Hongbin sudah putus. Tapi ia yakin, kalau Hyuk masih memiliki perasaan pada Hongbin.

"Binnie hyung.. aku mencintaimu" bisik Hyuk.

Hakyeon mematung dan itu membuat ia sakit hati.

'Kenapa aku ini? Tentu saja Hyuk masih mencintainya.'

Hyuk sudah tertidur di pundak Hakyeon dan mereka berdiri seperti itu dengan lama.

Hakyeon merasa aneh, tidak seharusnya ia merasa sakit hati. Ini adalah hal pertama yang ia rasakan selama lebih dari ratusan tahun. Bahkan dengan Ravi dan Leo ia tidak pernah merasakan sakit hati seperti ini.

'No! Tidak mungkin aku jatuh cinta! Hyuk mortal, dan aku... immortal!'

Hakyeon mencoba menghapus pikiran anehnya itu, dan ia membawa Hyuk ke istananya.


( malamnya di rumah Hongbin )

Hongbin duduk di tempat tidurnya sambil menghadap jendela. Ia membiarkan jendelanya terbuka. Ia menunggu kehadiran Leo malam ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.35 am, dan Hongbin masih menunggu. Rumah itu bahkan sudah sunyi. Ia yakin pasti semuanya sudah tertidur. Hongbin menguap dan ia dengan perasaan sedih berjalan ke arah jendela. Ia menutup jendelanya dengan pelan, berharap Leo akan menghentikan tangannya, tapi tidak ada tanda-tanda Leo.

Dengan lemas ia berjalan kembali ke tempat tidurnya. Ia menghela nafas lalu berbaring.

"Leo... kenapa aku malah merindukanmu?"

Dan hongbin tertawa pelan, ia merasa kalau dirinya aneh.

"Leo oh Leo..."

Hongbin berbalik dan menatap jendela. Ia berharap Leo masuk dari jendelanya itu. Tapi tidak ada yang terjadi. Perlahan Hongbin pun tertidur.

( di dalam mimpi Hongbin )

Hongbin berada di sebuah ruangan. Ruangan yang sungguh lebar dan terlihat simple tapi mewah. Karpet merah yang tebal dan terlihat mahal menutupi lantai granit. Dinding bercat cream, lukisan yang mahal tergantung di depannya, tempat tidur yang besar dan terbuat dari kayu yang mahal, seprei yang mahal dan lembut. Hongbin melihat ke sekelilingnya, ia sendirian. Ia melihat pintu balkon yang terbuka, membiarkan sinar bulan masuk menyinari kamar itu.

Lalu ia duduk dan perlahan berjalan ke arah balkon. Ia melihat sesosok lelaki yang berbadan tinggi dan ramping, dna pakaian serba hitamnya, juga rambut yang ditata rapi yang mencapai bahunya.

Leo

Hongbin tersenyum lebar, ia berjalan perlahan lalu mengalungkan lengannya di pinggang Leo. Ia menghela nafas lega saat ia menyandarkan kepalanya di punggung Leo.

"Kau sudah bangun?" Tanya Leo dan Hongbin tau kalau Leo pasti sedanv tersenyum.

Leo berbalik dan menangkup wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut.

Hongbin cemberut.

"Aku sudah menunggumu lama tadi!"

Leo tersenyum lembut, " maafkan aku... tapi aku tidak bisa pergi ke rumahmu"

"Kenapa? Kau... bosan padaku? Atau.. aku sangat menjengkelkan bagimu?"

Leo tertawa pelan dan mencubit pipi Hongbin. Leo tersenyum geli melihat betapa imutnya wajah Hongbin.

"Kau merindukanku?"

Wajah Hongbin memerah, ia tersipu malu dan menjauhi tatapan Leo.

"Yess.. kau merindukanku kan?" Tanya Leo sambil menggodanya.

Hongbin menatapnya dengan bibir yang cemberut dan mengangguk pelan. Leo mengecup bibirnya sekali lagi.

"Aku sedang... berburu tadi."

Hongbin melihatnya dengan serius. Lalu Hongbin melihat bercak darah di dagu Leo dan ia baru tersadar kalau Leo bau amis darah. Mata Hongbin membesar.

"Hongbin-ah.. kau tau aku ini... bukan manusia kan? Aku sudah menunjukkan diriku yang asli padamu waktu itu."

Hongbin masih shock.

'Tangannya yang sangat dingin, mata merah, taring? Dia... dia vampir?'

Leo tersenyum masam, "yeah.. kau benar. Aku juga bisa membaca pikiran seseorang jika aku mau, dan yeah.. aku bisa baca pikiranmu Binnie"

Hongbin ingin pergi dari Leo tapi ia yakin, kalau Leo tidak akan menggigitnya.

"Aku tidak akan menyakitimu, sayang" bisik Leo sambil mencium Hongbin lembut.

Mereka bertatapan dan Leo tersenyum lembut padanya.

"Aku akan menemuimu besok malam"

"Sungguh?"

"Yeah Binnie.."

Hongbin tersenyum lebar menunjukkan lesung pipitnya yang sempurna.

Dan tiba-tiba wajah Leo dan sentuhannya terasa memudar dan Hongbin terbangun dari mimpinya.


Hongbin terbangun dan ia menoleh melihat jamnya.

7.30 am

Seseorang mengetuk pintu kamar Hongbin dan ia menjawab.

Kakeknya masuk sambil tersenyum lembut pada cucu kesayangannya itu.

"Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kalian"

Hongbin tersenyum kembali, "thank you Kakek, aku akan ke bawah sebentar lagi"

Hongbin segera bersiap-siap untuk pergi bekerja lalu ia pun turun ke bawah. Ia melihat Jaehwan dan kakeknya yang sedang menikmati sarapan mereka. Dan ia dengan senyumnya menyapa keduanya sambil ikut sarapan dengan mereka.


Hyuk terbangun dengan kepala yang berdenyut sakit dan ia merintih. Ia membuka matanya dengan perlahan dan ia berada di ruangan... yang bukan kamarnya.

Spontan Hyuk duduk dengan tegak dan itu membuat kepalanya semakin berdenyut sakit.

"Aah.."

"Oh.. kau sudah bangun?" Seseorang berkata lembut padanya.

' Suara itu... sepertinya aku pernha mendengarnya '

Lalu Hyuk mencoba mengingat kejadian semalam. Dan ia menyumpah saat ia ingat kalau ia mencium orang asing semalam.

"Shit!"

"Hey.. kepalamu sakit kan? Minum ini" Hakyeon menyodorkan gelas dan obat padanya sambil tersenyum lembut. Ia duduk di depan Hyuk dan Hyuk teringat kalau Hakyeon lah yang ia cium semalam.

Hyuk tersipu malu dan salah tingkah. Ia mengambil gelas dan obat itu dari tangan Hakyeon.

"Thanks" ia meminun obat itu dan menegak gelasnya.

"Aku.. maafkan aku... semalam... uh..."

Hakyeon meletakkan tangannya di atas pundak Hyuk dan Hyuk merasakan dinginnya tangan Hakyeon.

"Gak masalah" jawab Hakyeon sambil tersenyum. Ia mengambil gelas kosong itu dari tangan Hyuk dan jari mereka bersentuhan. Hyuk hampir menjatuhkan gelas itu akibat shock dari dinginnya tangan Hakyeon. Hyuk menatapnya curiga.

"Maaf.. aku tidak tau dimana rumahmu, jadi aku membawamu ke istanaku."

"I.. istana?" Hyuk melihat ke sekelilingnya lagi.

'Sepertinya ini benar istana'

Hakyeon mendekatkan wajahnya sambil berbisik, " aku bisa membawa keliling nanti.." lalu ia menggoda Hyuk dengan bibirnya.

Hyuk yang langsung terpesona dengan suara seksi Hakyeon membiarkan Hakyeon mencium bibirnya dengan lama.

Dan untuk pertama kalinya, ia lupa tentang Hongbin.