Hakyeon membiarkan Hyuk tertidur di tempat tidurnya. Hakyeon menatap wajah Hyuk yang sedang tidur itu. ia tersenyum lembut sambil mengelus wajah Hyuk dengan jarinya.

Ravi masuk ke kamar Hakyeon dan shock.

"Hyung! apa yang kau lakukan!" wajahnya marah pada Hakyeon dan taringnya sudah muncul dari mulutnya. Dengan sekejap, ia sudah berada di samping Hakyeon.

Hakyeon mendorong tubuh Ravi hingga membentur dinding. Ia mendesis sambil menunjukkan taringnya pada Ravi.

"Diam Ravi!"

"Kau membawa seorang… mortal! Kau tau itu berbahaya baginya kan!"

"Aku tau Ravi-yah"

"Lantas? Kenapa kau membawanya!"

"Dia mabuk-"

"Kalau dia mabuk kenapa? Hyung! dia mortal! Dan aku atau kau bisa saja menggigitnya."

"Jangan kau berani menyentuhnya Ravi! aku peringatkan kau!"

Ravi tersenyum menantang dan mendorong tubuh Hakyeon darinya, "Atau apa? Ha? Kau ingin duel?"

Untuk pertama kalinya ia merasa kesal dan marah pada Ravi. Ravi mengetahui kalau Hakyeon sedikit berubah, ia memiringkan kepalanya dan menatap hakyeon dengan ngeri.

"Hyung? Jangan katakan kalau kau sedang jatuh cinta pada… pada mortal itu!"

Mata Hakyeon membesar dan ia Ravi benar.

"Aku tidak… aku tidak mungkin mencintainya!"

Ravi menyipitkan matanya dan memandangnya curiga, "Well, kalau kau rasa begitu." Ravi melirik Hyuk yang masih tidur. "Aku berharap kau memang tidak sedang jatuh cinta pada manusia hyung. kalau tidak… mungkin … ntahlah.. kau tau kalau itu dilarang kan?"

Hakyeon mengangguk dan sekali lagi berkata meyakinkan Ravi, lebih tepatnya ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, "yeah. Aku tidak mungkin mencintai manusia. Aku tidak mencintai seorang mortal!"

Mereka diam sesaat.

"Hyung? kau lihat Leo hyung?"

"Hmm.. aku tidak melihatnya sejak aku pulang semalam. Mungkin dia sedang berburu"

"Atau di rumah Hongbin"

Mereka saling bertatapan dan keduanya shock, "Jangan katakana kalau teman kita yang satu itu mencintai Hongbin! Hongbin adalah mortal sekarang!" kata Ravi yang tiba-tiba tersadar sesuatu.

"Aku rasa…. Dugaanmu benar"

"Hyung? bagaimana kalau…. Bagaimana kalau… kalau para tetua mengetahui hal ini?"

"Kita harus peringatkan dia sebelum terlambat Ravi-yah. Jangan sampai ada yang tau. Dan mengenai Hyukkie.. aku … aku akan membawanya kembali ke rumahnya"

"Yeah. Sebaiknya kau cepat membawanya pergi dari dunia kita hyung. eh? Hyukkie?"

Hakyeon tersipu malu dan menunduk, "Uhm, itu hanya.. nama panggilannya. Karena ia terlihat imut"

Ravi hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Hakyeon.

Hakyeon berjalan ke arah Hyuk dan menghela nafas, "Apa yang harus aku lakukan Hyukkie, aku rasa… aku menyukaimu"

Dengan gerakan cepat, Hakyeon telah menggendong Hyuk di lengannya dan membawanya pergi kembali ke rumah Hyuk.


Jaehwan meninggalkan Hongbin setelah mereka mengunci supermarket. Alasannya adalah ia ada janji dengan teman SMA nya dulu. Dan Hongbin berjalan pulang ke rumah sendiri. Setelah sampai, ia juga tidak menemukan kakeknya dirumah.

Hongbin-ah? Jaehwan-ah..

Maafkan kakek, kakek harus menghadiri suatu rapat dan ini sangat penting. Kakek mungkin akan kembali lusa atau.. ntahlah. tapi kakek pasti akan kembali. Oh! Kakek juga meninggalkan makan malam kalian.

Jangan lupa makan ya cucu-cucuku sayang.

Hongbin tersenyum lebar saat membaca tulisan kakeknya itu. Ia melihat ke meja makan dan yep, kakeknya meninggalkan makanan untuk mereka. Hongbin yang lapar segera mengambil piring dan makan makanan yang dimasak kakeknya itu.

Setelah ia selesai, ia mencuci piring dan pergi ke kamarnya. Ia sungguh tidak sabar untuk bertemu dengan Leo malam ini. Saat itu sudah hampir jam 9 malam. Hongbin mengunci pintu kamarnya dan mendapati jendela kamarnya yang terbuka. Hongbin tersenyum saat ia melihat sosok lelaki yang berdiri di depan jendelanya.

"Kau datang!" Hongbin segera berlari ke arah Leo dan memeluknya. Ia menghirup bau Leo yang tampaknya ia baru saja dari hutan.

"Kau sangat merindukanku ya?" ejek Leo sambil mendorongnya ke tempat tidur.

Hongbin tersipu malu.

Tubuh Hongbin jatuh ke tempat tidur dibelakangnya dan Leo berada di atasnya dengan bertumpu pada tangannya. Hongbin bisa melihat wajah Leo walau kamarnya hanya diterangi cahaya bulan. Tapi cahaya bulan malam itu sungguh terang dan indah. Hongbin menatap Leo dengan lembut sambil mengelus wajah Leo yang dingin. Leo menutup matanya, dan membiarkan tangan Hongbin yang hangat menangkup wajahnya. Perlahan Hongbin menarik wajahnya dan mencium bibirnya.

Ciuman mereka semakin ganas dan Leo mendorong Hongbin untuk naik ke tempat tidurnya. Tangan Leo menjelajahi tubuh Hongbin dan mulut mereka masih sibuk saling mengunci. Hongbin merintih pelan saat ia merasakan sesuatu yang tajam menusuk bibirnya. Dan Leo merasakan darah Hongbin di mulutnya, dan untuk pertama kalinya selama ratusan tahun setelah kematian Hongbin –yang dulu-, Leo meminum darah manusia. Leo menggeram kuat dan segera mendorong tubuhnya dari Hongbin. ia menjauhi Hongbin dan bersandar di dinding di depan Hongbin. Mata merahnya dengan liar menatap Hongbin dan taringnya yang runcing keluar dari mulutnya.

Hongbin shock, ia berteriak kaget. Leo terlihat menakutkan. Dan ia melihat di ujung taring Leo yang berwarna merah dan…. Ia sadar kalau itu adalah darahnya. Anehnya, ia tidak merasa takut. Ia hanya kaget. Tapi Leo berpikir kalau ia telah menakuti Hongbin.

"Leo…" bisik Hongbin.

Leo masih terengah-engah sambil mengontrol insting vampirnya untuk tenang. Hongbin duduk dan hendak berjalan ke arahnya. Leo menggeleng kepalanya dengan kuat. Ia menahan insting vampirnya untuk menggigit Hongbin, ia tidak ingin melukai atau menggigit Hongbin. Tapi ia telah menggigitnya bibirnya dan tidak sengaja menghisap darahnya, walau sedikit.

"JANGAN MENDEKAT!" Geram Leo dengan suaranya yang tegas. Hongbin terkejut. Leo membuatnya takut sekarang. Ia tidak menyangka kalau Leo bisa berkata dengan kasar padanya. Hongbin ingin menangis dan matanya sakit menahan air matanya itu. Tubuh Hongbin mulai gemetaran dan ia bahkan tidak mengerti apa yang terjadi pada Leo. Ia tidak mengerti karena beberapa menit yang lalu mereka berciuman dengan mesra dan lalu sekarang Leo malah membentaknya. Hongbin terduduk di lantai dan Leo menatapnya dengan perasaan sakit.

'Apa aku menyakitinya? Shit Leo! Lihat apa yang telah kau lakukan!' pikir Leo, ia panik saat Hongbin mulai menangis dengan kuat. Leo tidak tau harus berbuat apa, ia ingin mendekati Hongbin tapi insting vampirnya belum mereda. Leo menggeram lagi dan ia pergi meninggalkan Hongbin.

Hongbin melihat Leo pergi begitu saja dan ia menangis lebih kencang.


Jaehwan sedang berjalan menuju rumahnya. Saat itu sudah hampir tengah malam dan suasana jalanan sangat sepi dan dingin. Ia melewati sebuah gedung tua dan gelap dan ia mempercepat langkahnya. Ia mendengar suara tawa seorang lelaki dan Jaehwan berlari sekencang mungkin.

Hingga tiba-tiba seseorang memblokir jalannya. Jaehwan segera berhenti dan ketakutan. Lelaki itu terlihat seperti orang jahat.

"Uh.. aku.. aku hanya punya ini.. ini.. ambil saja… biarkan aku lewat… aku mohon…." Jaehwan menyodorkan uangnya ke orang itu dan orang itu menatapnya aneh. Lalu lelaki itu tersenyum dan tertawa jahat sambil mendekati Jaehwan. Jaehwan mundur dengan kaki yang gemetaran.

"Aku mohon… adikku.. dia sendiri… aku yakin… dia pasti…. Kh-khawatir"

Lelaki itu menghiraukan perkataan Jaehwan dan ia tiba-tiba berhenti. Ia memiringkan kepalanya dan tersenyum pada Jaehwan. Dan ia membuka mulutnya dan menunjukkan taringnya pada Jaehwan.

Jaehwan berteriak dan dengan sekejap lelaki itu menggigit leher Jaehwan dan menghisap darahnya. Jaehwan tidak bisa berbuat apa-apa, lelaki itu memegangnya dengan kuat. jaehwan merasa pusing seketika itu dan sakit yang amat luar biasa di lehernya. Jaehwan merintih kesakitan dan ia pun jatuh pingsan.

Ravi sedang duduk di atas gedung tua dan ia mendengar suara jeritan seseorang. Ia yakin, Baro, temannya pasti sudah mendapat makan malamnya. Tapi Ravi tidak asing dengan suara itu. Ia melihat ke bawah dan melihat Jaehwan…. Jaehwan!

Ravi segera meloncat dari atas gedung dan berlari menghentikan temannya itu. ia menarik tubuh Baro dari Jaehwan dan ia memukul Baro dengan kuat.

"What the fck man!" teriak Baro sambil menatap temannya dengan marah.

"Jangan dia! Aku peringatkan! Jangan Jaehwan!"

"jaehwan?" Baro menatapnya dengan senyum nakal lalu ia melihat manusia yang baru digigitnya tadi dengan alis yang terangkat, "Oh? Dia Jaehwan?"

Ravi menahan amarahnya. "Jangan ganggu dia Baro!"

"Oh Ravi, okay okay. Sorry man!" ia mengangkat kedua tangannya sambil tertawa lalu ia mendekati Ravi, "Apa dia pacarmu?" ejeknya.

Ravi menggeram dan Baro mengangkat kedua tangannya lagi.

"Fine… So, kau mencintai .. Jaehwan?" Tanya Baro dengan ekspresi serius.

Ravi hanya diam, tapi wajahnya mulai melembut saat ia berbalik melihat Jaehwan.

"Oh man.. you're in trouble!"

"Baro, please…" Ravi berbalik menatap temannya dan memasang wajah memelas.

Baro menghela nafas, ia dan Ravi telah lama berteman dan ia tidak pernah mengecewakan temannya itu juga sebaliknya. "Fine man. Jangan sampai para tetua tau akan hal ini"

Ravi mengangguk dan menepuk bahu temannya itu. "thanks man"

Baro mengangguk, "Sorry for… umm.. aku tidak tau kalau.."

"It's okay man. Dan mulai sekarang please jangan Jaehwan"

Baro mengangguk dan ia pergi.

Ravi segera berjalan ke arah Jaehwan dan ia merasakan denyut nadi Jaehwan yang mulai melemah, wajah Jaehwan yang pucat dan mulai dingin.

"No!"

Ravi menggigit bibirnya saat ia berpikir apa yang harus ia lakukan. Ia tidak bisa mengantar Jaehwan ke rumah sakit, karena di sana terlalu banyak darah yang ia lihat nanti, dan ia tidak mungkin bisa menahan dirinya. Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan Jaehwan adalah… ia harus mendonorkan sedikit darahnya pada Jaehwan.

"I'm sorry Jaehwan." Ia menggigit pergelangan tangannya sendiri lalu membuka mulut Jaehwan dan membiarkan darah mengalir dari tangannya ke dalam mulut Jaehwan. Ia tau ini adalah kesalahan yang sangat besar ia lakukan. Ia berharap kalau apa yang ditakutkannya saat ini tidak menjadi kenyataan nantinya.

Perlahan wajah Jaehwan mulai hangat dan denyut nadi nya mulai terasa dan kembali normal.

Setelah selesai, Ravi mengangkat tubuh Jaehwan dan membawanya pulang ke rumah Jaehwan. Ia menemukan kunci rumah mereka di saku Jaehwan dan membuka pintu dengan pelan. Ia membaringkan tubuh Jaehwan di sofa dan ia menatap wajah Jaehwan yang masih tertidur. Ravi mengelus wajahnya dan bergumam minta maaf padanya. Lalu Ravi pun pergi.