Jaehwan menatap rumahnya dari kejauhan. Ia tau kalau ia tidak bisa pulang ke rumah karena kakeknya yang sudah tiba di rumah. Ia hanya akan membahayakan dirinya sendiri. Karena kakeknya adalah seorang penyihir. Ia tau betul kalau kakeknya sangat membenci vampir. Ia juga ingat sewaktu ia dan Hongbin masih kecil, kakeknya pernah sangat sibuk membuat sebuah jimat untuk mereka dan untuk beberapa warga saat itu. Saat itu kota mereka diserang oleh vampir dan saat itu juga kakeknya membawa mereka berdua ke kota lain. Dan disinilah mereka sekarang, di kota yang sangat kecil.

Jaehwan berdiri di salah satu ranting pohon yang besar di seberang rumah mereka. Matanya tetap mengawasi rumah mereka, hingga ia melihat seesorang yang baru saja keluar dari kamar Hongbin. Jaehwan menggenggam batang pohon di sampingnya dengan kuat.

'Siapa si brengsek itu! sudah kuduga! Hongbin menyimpan rahasia dariku!'

Jaehwan menatap lelaki yang bertubuh tingga dan ramping dengan rambut hitam sebahu itu sedang melompat ke atap mereka. Jaehwan mengerutkan dahinya. Ia merasa ada yang aneh dari lelaki itu. lalu lelaki itu mengarahkan pandangannya ke arah Jaehwan. Jaehwan segera sembunyi di balik batang pohon dan dedaunan yang lebat. Jaehwan tetap dalam posisinya dengan insting vampirnya yang berjaga-jaga. Hingga satu jam kemudian, ia mencoba mengintip dari persembunyiannya. Ia melihat lelaki tadi itu yang mencoba membuka jendela Hongbin dan ia kaget saat ia melihat lelaki itu melompat dan jatuh ke bawah lalu pergi. Jaehwan mencoba mengingat kejadian yang barusan.

'kenapa dia seperti terbakar saat menyentuh jendela.. shit! Kakek pasti telah menabur jimatnya!'

Jaehwan mulai bingung, ia pun turun perlahan dari pohon itu dan berjalan ke arah pintu rumahnya. Ia meraih gagang pintu dan sesuatu seperti menyengat dirinya. Jaehwan teriak dan terpelanting ke belakang. Ia mendengar suara hentakan kaki dari dalam dan ia segera pergi menghilang.


Hongbin bangun dengan perasaan senang. Ia tidak pernah tidur senyenyak semalam. Ia melihat ke sekeliling ruangannya dan tidak menemukan Leo. Ia cemberut dan menghela nafas. Ia merindukan Leo. Ia melihat jendelanya yang tertutup rapat, ia ingat kalau kakeknya lah yang terakhir menutup jendelanya. Lalu ia melihat jam dan ia pun bersiap-siap untuk pergi bekerja.

Hongbin bekerja sendirian di supermarket hari itu. ia terus melihat ke arah pintu setiap bel toko berbunyi, dan ia selalu menghela nafasnya setiap ia melihat wajah yang bukan Jaehwan. Ia khawatir pada hyungnya itu. Jaehwan tidak pernah tidak pulang ke rumah seperti ini. Ia juga sudah menelepon ponsel hyungnya itu beberapa kali, tapi tidak ada jawaban dari hyungnya.

Hari berlalu dengan cepat, dan waktunya Hongbin kembali pulang ke rumah. Ia disambut oleh kakeknya yang sedang duduk di ruang tamu dengan koran di tangannya.

"Hello Binn"

"Kakek.." rengek Hongbin sambil memeluk kakeknya yang duduk di sofa.

Kakeknya melipat korannya dan mengacak rambut Hongbin sambil tertawa. "Kau lapar?"

Hongbin menggeleng, "Aku tidak lapar Kek"

"Lalu? Kenapa kau terlihat murung?"

"Jaehwan hyung.. dia belum pulang dari semalam Kek"

Hongbin bisa merasakan tubuh Kakeknya yang menegang. Ia pun menatap Kakeknya dengan bingung, "ada apa kek?"

"Kau sudah menghubunginya?"

Hongbin mengangguk dan Kakeknya mengelus punggungnya, "Ia pasti pulang sebentar lagi, mungkin dia sedang bersama teman-temannya?"

Hongbin tau kalau hyungnya tidak pernah menginap di rumah temannya tapi ia hanya mengangguk pelan, "Mungkin"

Hongbin pergi ke kamarnya dan telah bersiap untuk tidur, ia juga telah membuka jendelanya. Ia juga telah berbaring di tempat tidurnya sambil menatap jendelanya yang sesekali bergerak akibat angin malam, hingga ia tertidur.

( Di mimpi Hongbin )

Hongbin berada di kamar Taekwoon, ia berada di tempat tidur Taekwoon yang besar dan ia juga melihat Leo yang sedang berdiri di ujung tempat tidurnya. Hongbin tersenyum saat ia melihat Leo.

"Leo-yah.. aku sangat merindukanmu" kata Hongbin sambil melompat ke pelukan Hongbin.

"Aku juga merindukanmu Binnie"

"Dan kenapa kau tidak datang ke kamarku?" Tanya Hongbin dengan wajah cemberut.

Leo menatapnya dengan ekspresi yang serius, dahinya berkerut. "Aku juga tidak tau Bin-ah.. aku tidak bisa menyentuh jendelamu"

"Hmm? Apa maksudmu?"

"Kau meletakkan sesuatu di jendelamu?"

"Sesuatu? Aku rasa tidak ada apa-apa disana"

Leo menyipitkan matanya lalu ia duduk di tempat tidur sambil menarik Hongbin ke pangkuannya. Ia mengecup pipi Hongbin lalu menyandarkan kepalanya di pundak Hongbin sambil mencium lehernya.

"Aku tidak bisa masuk karena ada jimat di dalam ruanganmu Binnie.. itu bisa membahayakanku. Itu sebabnya aku tidak bisa menemuimu di kamarmu. Aku hanya bisa menemuimu lewat mimpimu Binnie"

Hongbin menatapnya dengan kesal, "Lalu kenapa kau tidak datang ke mimpiku semalam?"

"Kau tidak bermimpi semalam Hongbin"

Hongbin berpikir sejenak, "Ahh yeah.. mungkin aku sangat lelah dan tidurku sangat nyenyak"

Leo tersenyum lalu mengerutkan bibirnya dan menyondongkannya ke Hongbin. Hongbin mengecup bibir Leo dan Leo menarik bibirnya dan mulai menciumnya dengan ganas.

"Aku akan membuang jimat itu nanti" kata Hongbin di sela ciuman mereka.

Leo tersenyum dan menarik Hongbin berbaring di tempat tidur sambil menciumnya, "Yeah yeah.. let me kiss you first, I miss you so bad"


Keesokan harinya…

Hyuk dan Hakyeon menghabiskan waktu mereka di apartment Hyuk. Mereka terus bercinta, menonton film, dan malam itu Hyuk mengajak Hakyeon untuk pergi ke sebuah kafe.

Kafe itu adalah kafe favoritnya Hongbin. dan Hyuk mengambil tempat yang dekat dengan favoritnya Hongbin. ia ingin membuat Hongbin cemburu dan menyesal karena telah putus darinya.

"Hmm.. tempat ini bagus" gumam Hakyeon sambil menatap ke sekelilingnya, suasana kafe sangat sepi, hanya mereka berdua dan satu pasangan lain.

Hyuk tersenyum sambil menyeruput kopi yang dipesannya. Hyuk menatap ke arah pintu masuk, ia yakin kalau Hongbin akan datang malam ini. Karena Hongbin memang selalu datang ke kafe setiap hari Selasa.

Tak lama, lonceng pintu masuk pun berbunyi. Hongbin dengan sweater pink yang terlihat kebesaran sedang menggandeng seorang pria tinggi dan berbahu lebar. Lelaki itu memiliki rambut hitam sebahu dan mata yang… terlihat tajam. Hongbin tersenyum lebar menunjukkan dimplesnya pada orang itu. Hyuk menggenggam cup kopinya dengan geram.

"Hyukkie?"

Hyuk langsung tersenyum pada Hakyeon. Ia dan Hakyeon duduk berseberangan.

"Yeah baby?"

Hakyeon tersenyum lembut dan mengelus tangan Hyuk. "Kau yakin kau tidak keberatan jika aku tinggal di apartment mu?"

Hyuk menggeleng dengan cepat dan wajahnya masih terlihat kesal. Ia mendengar suara Hongbin yang semakin dekat, dan ia melirik melihat Hongbin yang menarik teman lelakinya itu untuk duduk di tempat favorit Hongbin. Hyuk menggeram dan itu menarik perhatian Hakyeon. Hakyeon melihat ke arah pandangan Hyuk dan shock.

"Leo? Hey Leo-yah!" teriak Hakyeon sambil melambaikan tangannya.

Lelaki yang berambut sebahu itu pun menoleh dan kaget melihat Hakyeon yang sedang tersenyum padanya sambil melambaikan tangannya. Hongbin ikut menatap ke arah mereka dan ia menatap Hyuk dengan kesal lalu ia tersenyum pada Hakyeon.

Hakyeon sudah berdiri dan berjalan ke arah meja mereka.

"Hakyeon-ah… kau sedang apa?"Tanya Leo.

"Oh.. well.. aku sedang um… kau sendiri?" Tanya Hakyeon yang sedang menahan senyumnya melihat Hongbin.

"Ah! Kau Hongbin kan?" Hakyeon menunjukkan giginya yang putih pada Hongbin.

Hongbin tersipu malu.

"Ohhh pantes saja Leo tergila-gila!" lalu Leo meraih Hakyeon untuk memukulnya, tapi Hakyeon segera menghindar sambil terkikik.

"Aku temannya Leo, aku Hakyeon."

"Aah nice to meet you Hakyeon-ssi"

"Kau boleh panggil aku hyung kok" Hakyeon tersenyum dan Hongbin tersenyum kembali.

Leo melirik ke arah Hyuk, mata Leo menyipit dan ia menatap Hakyeon dengan bingung.

"Kau bersama… dia?" Tanya Leo ia melirik melihat ekspresi Hongbin yang mulai tidak nyaman.

Hakyeon teringat kalau Hongbin adalah mantannya Hyuk dan ia segera, "Uh.. yeah.. well.. Bye guys… see you later" Hakyeon menarik Hyuk pergi dan dengan cepat Hyuk menarik Hakyeon dan menciumnya dengan kuat. Hakyeon kaget dan membiarkan Hyuk menciumnya.

Hongbin menatap dengan shock lalu ia merasakan tatapan Leo padanya. Ia segera melihat Leo dan tersenyum kecil padanya.

Hongbin mendengar bel pintu masuk yang berbunyi lagi dan Hakyeon dan Hyuk sudah pergi dari kafe itu. Ia menunduk dan memutar cup kopi nya.

"Hongbin-ah.."

"Hmm.."

Lalu diam. Leo terus menatap Hongbin.

"Ak-aku.. aku ingin pulang" kata Hongbin yang masih menunduk. Ia mendengar kursi Leo yang bergerak dan ia merasakan tangan Leo yang dingin menariknya.

Mereka berjalan melewati jalanan yang sepi dan udara yang dingin. Hongbin menangis di belakang Leo dengan diam. Lalu tiba-tiba Leo berhenti dan menarik Hongbin ke pelukannya.

"Hey.. hey.. it's okay.."

"I'm sorry.. aku hanya… aku tidak tau kenapa .. kenapa terasa sakit… saat… saat.."

Leo menciumnya dengan lembut, "let him go Binnie.."

"Aku…. aku…."

Leo menciumnya dengan lembut lagi.

"It's okay… aku akan tetap bersamamu Binnie…"

Hongbin terisak dan Leo memeluknya, "T-thanks Leo.."

Leo mengantar Hongbin hingga ia tiba di depan rumahnya. Leo tersenyum lembut sambil menunggu Hongbin masuk ke rumahnya. Ia bersembunyi di balik semak dan melihat ke arah kamar Hongbin. ia melihat Hongbin yang membuka jendela kamarnya dan Leo tersenyum. Ia melompat dan terbang masuk ke kamar Hongbin. Ia segera memeluk Hongbin dan menciumnya.

"Thank you Binnie…"

Hongbin tersenyum dan menarik Leo ke tempat tidurnya. Mereka kembali berciuman dan Hongbin pun tertidur di pelukan Leo malam itu.


Helloo thank you uda kasi review guys..

hope you enjoy this

dan mungkin aku gak bisa post besok T_T karena huhuh... i'm not feeling well..

so.. be healthy yaahhh