Hongbin masih berbaring lemas di tempat tidurnya, ia bahkan tidak semangat untuk bekerja hari ini. Leo mengecup pipinya dan menyapanya.
"Morning Binnie"
Hongbin tersenyum mendengar suara lembut Leo dan ia berbalik sambil mengecup pipi Leo.
"Maafkan aku tentang… umm…"
"It's okay Binnie.." Leo mengelus punggungnya sambil mencium kepalanya dengan lembut.
Hongbin menyandarkan kepalanya ke dada Leo dan menghela nafas, "Aku tidak bersemangat hari ini".
Leo tertawa pelan dan ia menepuk bokong Hongbin dengan lembut, "Ayolah! Kau harus bekerja kan?"
Hongbin menggerutu pelan sambil mengerucutkan bibirnya dan Leo tertawa melihat Hongbin seperti itu. ia pun dengan segera memberinya ciuman singkat dan dalam sekejap Hongbin kembali tersenyum.
Hongbin berlari turun ke lantai bawah dan ia yakin kalau kakeknya belum pulang. Tapi ia melihat seseorang yang sedang duduk di ruang tamu, ia melihat rambut blonde orang itu yang mirip dengan milik Jaehwan.
Jaehwan
"Jaehwan hyung?"
Jaehwan mengintip dari balik sofa sambil memegang gelasnya. Ia tersenyum pada Hongbin.
"Hello Hongbin"
"Kau dari mana saja hyung? kenapa tidak pulang selama 2 hari ini?"
Jaehwan berdiri sambil berjalan ke arah Hongbin. Hongbin yang masih berdiri mematung di dekat tangga. Lalu ia berdiri tepat di depan Hongbin. Hongbin bisa mencium bau hutan dari hyungnya itu dan ia juga merasakan aura yang aneh dari Jaehwan.
"Aku pergi dengan teman-temanku. Maafkan aku karena aku tidak menghubungimu dan kakek dan aku mungkin akan lebih sering pergi nanti"
"Hyung? kau ngapain dengan mereka? Bersenang-senang gitu? Hyung, kau tau kan kalo kakek tidak suka-"
"Tenanglah Binnie" ia meletakkan tangannya di pundak Hongbin dan Hongbin tersentak akibat dinginnya tangan Jaehwan.
"Kami um.. bermain band"
"Band?"
"Hmm yeah.. tapi mereka menerimaku menjadi vocal di band mereka"
Hongbin menaikkan alisnya, ia tidak pernah tau kalau hyungnya tertarik dalam dunia band seperti itu. tapi ia percaya pada hyungnya.
"Hmm okey.. congrats kalau gitu hyung. umm, apa kau bekerja hari ini?"
"I'm sorry Hongbin, tapi hyungmu harus pergi ke suatu kota hari ini"
"Oh.. Umm… apa kau pulang nanti?"
Jaehwan tersenyum dan menggeleng. Hongbin murung dan ia memaksakan senyumya, "Well hyung, hwaiting! Okay?"
Jaehwan mengacak rambut adiknya itu dan mereka berdua berjalan ke arah pintu.
"Thanks Beannie, aku akan mengantarkanmu hingga ke swalayan okay?"
Hongbin mengangguk.
Hingga mereka sampai di swalayan dan Hongbin memeluk hyungnya itu dengan kuat.
"Aku akan sangat merindukanmu hyung" ia merasa menggigil seketika.
"Aku juga Hongbin-ah"
Lalu Jaehwan pun pergi dan menghilang dari pandangan Hongbin. Hongbin merasa ada yang aneh dari Jaehwan tapi ia yakin itu hanya perasaannya saja.
Hongbin mengunci pintu swalayan dan ia menutup swalayan lebih cepat. Saat itu sudah pukul 9 malam dan Hongbin ingin lebih cepat tiba di rumahnya, mengingat ia sendirian berjalan di gang yang sepi dan ia takut.
Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Leo yang sedang menunggunya di seberang jalan. Hongbin tersenyum dan Leo pun berjalan ke arahnya. Ia melihat Leo sedang menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
"Hi.." sapa Hongbin dengan senyum lebarnya.
Leo tidak menjawab, ia berdiri dengan sangat dekat di depan Hongbin. Leo perlahan memberinya sebuah kejutan. Sebuah kotak perhiasan kecil yang berwarna ungu di telapak tangan Leo. Leo terus menatap hongbin dengan ekspresi seriusnya.
Hongbin kaget dan ia menatap Leo dengan bingung. Ia menatap kotak dan Leo secara bergantian.
"Leo?" bisik hongbin.
"Buka kotak ini"
Hongbin perlahan membuka tutup kotak itu dan melihat sebuah cincin dengan permata biru di tengahnya. Hongbin terlihat shock dan bahagia.
"Leo?"
"Ini untukmu, Hongbin-ah. I love you"
Leo mengambil cincin itu dan memasukkannya di jemari Hongbin. dan cincin itu terlihat cocok. Hongbin mengagumi cincin itu dan memeluk Leo.
"I love you too.. and thank you so much Leo-yah"
Leo memeluknya kembali dan berbisik di telinga Hongbin.
"Ingin merayakannya malam ini?"
Mata hongbin membesar mendengar bisikan Leo dan ia memang ingin menghabiskan waktu bersama Leo malam ini. Tapi ia teringat kalau kakeknya sedang berada di rumah mereka.
"Umm.. kakekku…"
"Di tempatku Hongbin-ah.. di istanaku.."
Hongbin merinding mendengarnya, ia mengingat mimpinya dan ia pun mengangguk.
Leo membawa Hongbin langsung ke istananya dan mereka masuk lewat balkon kamar Leo. Leo sepertinya telah mempersiapkan segalanya. Ia telah membuat ruangan kamarnya menjadi lebih terlihat romantis. Beberapa kelopak mawar memenuhi tempat tidurnya dan lantainya dilapisi karpet merah yang tebal. Ia juga meletakkan beberapa lilin di sekitar ruangannya.
Hongbin menatap ke sekelilingnya dengan wajah takjub dan ia melompat kegirangan. Leo tersenyum dan melingkarkan lengannya di pinggang Hongbin dan menciumnya dengan kuat. Ia juga mendorong tubuh Hongbin ke tempat tidurnya. Hongbin melepas ciuman mereka dan ia terawa geli melihat ekspresi bingung dari Leo. Hongbin mundur hingga kepalnya bersandar di tumpukan bantal Leo. Perlahan ia melucuti pakaiannya dan menatap Leo dengan nakal.
Leo tetap di tempatnya mengamati Hongbin dengan tatapan seriusnya. Bahkan ia sudah merasa terangsang melihat Hongbin melucuti bajunya. Hongbin telah melemparkan semua pakaiannya di ruangan Leo dan ia berbaring santai di tempat tidur Leo dengan kedua kakinya yang sedikit dibengkokkan ke atas dan memberi Leo pemandangan yang bagus.
Leo segera merobek bajunya dan ia merangkak menuju Hongbin. Ia segera melahap mulut Hongbin dengan ganas dan memainkkan lidah Hongbin. hongbin mendesah di mulut Leo dan ia menarik tubuh Leo lebih dekat. Ia melingkarkan kedua kakinya di betis Leo sambil menggesekkan membernya ke celana Leo yang terasa ketat dan keras. Leo dengan tergesa-gesa melepas celana jeans nya tanpa melepas ciuman mereka. Segera setelah celana jeans Leo turun dari pinggulnya, Hongbin pun memompa member Leo yang sudah keras dan Leo merintih saat tangan Hongbin yang lembut menyentuhnya. Hongbin mencium Leo dengan ganas dan ia setelah ia merasakan cairan precum dari member Leo, ia pun menuntunnya ke entrance nya.
Leo segera melepas ciumannya dan menatap hongbin dengan ngeri.
"Hongbin-ah! Aku akan menyakitimu"
"Ssh"
Hongbin tidak peduli, ia menggesekkan member Leo di sekitar entrance nya dan mereka berdua merintih nikmat.
"Hongbin" kata Leo dengan suara tegas dan Hongbin mendorong member Leo masuk perlahan dan Hongbin mencoba untuk mengatur nafasnya. Leo menarik kembali membernya.
"Please Leo.. please"
"Hongbin! Aku akan menyakitimu"
"I want you.. please.."
"Fine! Biarkan aku mengambil lub-"
"No!"
"Well.. kalau gitu suck this"Leo mendorong 4 jarinya di mulut Hongbin tapi hongbin menggeleng.
"Hongbin!"
"Please Leo… I want to feel you" Hongbin menciumi wajahnya dan meyakinkan Leo kalau ia akan baik-baik saja.
Leo menghela nafas dan ia pun menuntun membernya untuk masuk ke Hongbin. Ia menatap wajah hongbin sambil menggigit bibirnya. Perlahan ia mendorong membernya dan ia melihat dahi Hongbin berkerut sambil menggigit bibirnya. Leo tidak berhenti, ia mendorong membernya secara perlahan dan ia mengecup wajah Hongbin dan merintih lembut padanya.
"God! L-leo.." Hongbin merintih dan ia mencoba rileks. Seketika itu juga Leo menciumnya dengan ganas dan Hongbin merasa rileks. Rintihan mereka memenuhi kamar Leo dan mereka menghabiskan malam mereka berdua seperti itu.
Setelah mereka selesai dengan sesi panas mereka, Leo memeluk Hongbin di balkonnya sambil menikmati cahaya bulan malam itu. Mereka juga bersulang dengan wine mereka dan Hongbin bersandar di dada Leo.
"Ada yang aneh dengan hyungku hari ini" gumam Hongbin dengan nada pelan.
"Hmm?"
"Ntahlah, tapi aku merasa aura yang berbeda darinya dan… dan… tangannya sangat dingin"
Dahi Leo berkerut mendengarnya dan ia menatap Hongbin dari bahu Hongbin.
"Sedingin tanganmu…. Apa dia…. No.. mana mungkin dia …"
"Apa kau melihat taringnya?"
Hongbin menggeleng kepalanya.
"Itu hanya perasaanmu saja Binnie.." Leo mencoba menenangkan perasaan Hongbin dengan memeluknya lebih dekat dan mengecup bahunya.
Jaehwan bersandar di sebuah pohon besar di hutan. Ia baru saja menghabisi darah seorang pemburu di hutan hari itu. ia mengusap mulutnya yang masih berbercak darah. Ia sedikit merasa bersalah, dan ia ingin menceritakan inin kepada Hongbin. Ia yakin kalau Hongbin mengerti dirinya, ia juga percaya pada adiknya itu. dan ia pun pergi menuju kota.
Jaehwan sedang menunggu Hongbin pulang. Ia langsung melihat ke arah pintu depan saat pintu itu terbuka. Tapi ia tidak mencium bau Hongbin, ia tersadar kalau itu adalah kakeknya. Jaehwan segera keluar dari rumah melalui pintu belakang dan pergi menuju swalayan.
Tapi ia mendapati swalayan itu sudah tutup. Jaehwan mengerutkan bibirnya sambil menghela nafas kecewa. Padahal ia ingin bertemu dengan adiknya dan ingin menceritakan semuanya.
"Jaehwan hyung?"
Jaehwan menatap ke arah asal suara itu, dan ia tersenyum pada Hyuk.
"Hyukkie"
"Hyung? kau sedang apa?" mata Hyuk menyipit saat ia melihat perubahan pada mata Jaehwan yang sekilas berubah mnejadi merah.
"Aku mencari hongbin. kau sendiri?" Jaehwan mendekati Hyuk dan mulai mengitarinya.
Hyuk merasakan sesuatu yang aneh pada Jaehwan dan ia merasa menggigil saat Jaehwan berjalan mengitarinya.
"Uh.. Aku juga ingin bertemu dengannya"
Jaehwan menggangguk, "Kau ingin menemaniku ke suatu tempat?" Tanya Jaehwan dan ia tidak bisa menahan insting vampirnya. Taringnya mulai muncul dari mulutnya dan Hyuk menatapnya dengan horror. Hyuk berteriak dan mencoba untuk melarikan diri tapi jaehwan sudah memblokir jalannya.
"Sorry Hyukkie" Jaehwan segera menahan Hyuk dan menggigit lehernya.
Hakyeon mendengar suara teriakan Hyuk dari kejauhan. Ia segera mencari Hyuk dan ia kaget saat seorang vampir sedang menyerangnya.
Hakyeon menendang vampir itu dan menampung tubuh Hyuk yang lemas. Hakyeon menggeram dan vampir itu pun segera berlari menghilang dari pandangannya. Sepertinya ia melihat sekilas wajah vampir itu.
"Jaehwan hyung" bisik Hyuk.
'Jaehwan? Jaehwan… bukannya dia..' Hakyeon teringat kalau Jaehwan adalah abangnya Hongbin, yang bekerja di swalayan itu. Tapi Hakyeon tidak percaya. Tapi ia akan segera mencari tau nanti.
I'm so sorry.. for the late update huhuh
