Ravi sedang duduk di atas gedung yang kosong sambil menikmati cahaya bulan. Ia meneguk kaleng sodanya dan melihat pemandangan di depannya. Seperti biasa, hanya beberapa lampu kota yang menghiasi kota kecil itu. Hingga sesuatu menangkap perhatiannya. Ia melihat Jaehwan yang sedang berlari bersembunyi di balik pohon besar di seberangnya. Ravi heran, bagaimana bisa Jaehwan berlari secepat itu. Hingga ia tersadar, kalau Jaehwan adalah seorang vampir sekarang. Ia melihat Jaehwan yang sedang mengintai seorang lelaki yang sedang berjalan di jalan sepi itu. Ravi segera melompat dan berlari ke arah Jaehwan dan membatalkan niat Jaehwan yang hendak menyerang lelaki itu. Ravi menahan tubuh Jaehwan dengan kuat dan Jaehwan terlihat shock.
"Kau?"
"Apa yang kau lakukan!" geram Ravi, ia melihat bekas darah di sudut mulut Jaehwan. Ravi menarik Jaehwan ke tempat yang lebih sepi dan gelap. Ia memastikan kalau tidak ada manusia yang melihat mereka.
"Bagaimana kau bisa tau!" Jaehwan terlihat bingung.
Ravi memutar bola matanya, "Ini tempat favoritku! Ayo ikut aku!" lalu Ravi membawa Jaehwan ke istana mereka.
Hakyeon menutup luka Hyuk dengan perban dan ia menyuruh Hyuk untuk istirahat malam itu. Ia masih terbayang oleh wajah Jaehwan yang sekilas dilihatnya tadi. Mungkin ia akan mencari tau besok, pikirnya.
Jaehwan menceritakan semuanya pada Ravi. dan Ravi terus menatapnya dengan serius, lalu ia menghela nafas.
"Ini semua salahku"
"Huh?" Jaehwan menatapnya bingung.
Ravi menyisir rambutnya dengan jarinya, ia terlihat frustasi. "Temanku, Baro, ia yang menggigitmu malam itu. Dan… kau kehilangan banyak darah malam itu hingga kau terlihat sangat pucat. Jadi aku, aku terpaksa memberikanmu darahku. M-maafkan aku Jaehwan-ah" Ravi menunduk, ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Jaehwan.
"Thanks" bisik Jaehwan dan membuat Ravi menatapnya.
"Uh, thanks karena kau sudah menyelamatkanku. Walau umm… sudahlah! Ini sudah terjadi" kata Jaehwan sambil mengibaskan tangannya.
Ravi menatap Jaehwan dengan perasaan bersalah, "Uh.. pasti kau sulit mengendalikan dirimu kan?"
Jaehwan mengangguk, "Aku bahkan hampir menggigit adikku sendiri, dan …. Dan rasanya aku ingin menggigit seluruh orang di kota"
Ravi menggangguk sebelum ia berdiri dan berjalan ke kulkasnya. Ia mengambil sesuatu seperti sebuah kantung plastik putih dan darah di dalamnya. Ia memberikan bungkusan itu pada Jaehwan. Mata Jaehwan sudah bersinar penuh semangat dan ia merobek bungkus plastik itu dengan taringnya. Tapi wajahnya berubah masam saat cairan merah itu menyentuh lidahnya.
"Apa ini?" Tanya Jaehwan yang melihat bungkus itu dengan wajah jijik.
"Itu darah hewan. Itu akan mengontrol dirimu sedikit"
Jaehwan mengembalikannya ke Ravi tapi Ravi bersikeras menyuruh Jaehwan untuk meminumnya. Jaehwan dengan terpaksa menghabisi darah hewan itu.
"Gimana?"
Jaehwan membersihkan mulutnya dengan tisu lalu ia meletakkan sampah plastik itu di meja di sampingnya.
"Hmm, yeah.. aku merasa lebih baik, tapi tidak sebaik aku meminum darah manusia sih."
"Kau juga harus mengontrol untuk tidak menghabisi darah mereka Jaehwan-ah. Tapi cukup untuk hari ini, aku akan mengajarimu berburu lusa malam."
"Really? Tidak bisakah kita berburu sekarang juga?"
Ravi menggeleng, "Kau harus mengontrol dirimu Jaehwan-ah"
Jaehwan menghembus nafas dengan kuat. "Fine. Aku rasa aku akan kembali pu-"
"No no no! Kau tinggal disini sekarang!" Ravi sudah menariknya ke kamar barunya.
Jaehwan terlihat shock, ia melihat sekitarnya dan ia benar-benar berada di istana. Ia mengagumi lukisan di setiap dinding dan beberapa barang antic. Ravi membawanya ke ujung lorong yang berisikan banyak kamar hingga mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu hitam yang terlihat mulus dan mewah.
"Ini kamarmu. Dan yang itu umm kamarku" ia menunjuk ke samping kamar Jaehwan. Jaehwan melirik ke arah kamar Ravi yang di tengah pintu itu terdapat huruf R.
"Hmm, apa aku harus membayar uang bulanan pada kalian?"
Ravi menggeleng kepalanya sambil terkikik pelan, "No, tidak perlu. Kita hanya ada 5 orang disini, termasuk kau sekarang."
"Lalu kenapa banyak kamar?"
"Setiap tahun kami akan kedatangan tamu, para tetua akan tinggal disini untuk beberapa hari."
"Oh. Apa.. mereka tidak keberatan jika aku tinggal disini?"
"Tentu saja tidak, kita kan sesama vampir. Mereka akan dengan senang hati bertemu denganmu nanti."
Jaehwan mengangguk dengan sedikit ragu.
"Kau tidak boleh keluar tanpa izin dariku sekarang" ancam Ravi sambil menunjukkan taringnya. Jaehwan tertawa, "Emangnya kau siapa Ravi!"
"Aku serius! Kau masih newborn, dan aku tidak ingin kau menghabisi seluruh kota. Kita juga harus berhati-hati, aku dengar kota sedang diserang oleh vampir dan aku yakin itu bukan dari kelompok kita, terlalu banyak korban dan aku tidak ingin penyihir-penyihir sialan itu mencium keberadaan kita dan menyerang kita lagi."
"Penyihir?"
"Itu cerita yang panjang Jaehwan-ah. Bangsa vampir dan penyihir tidak pernah akur. Mereka tidak berhenti mencari cara untuk melenyapkan kita."
Jaehwan teringat dengan kakeknya, tapi ia menutup mulutnya.
Ravi menghela nafas, "Aku juga penasaran, kelompok mana yang menyerang kota ini." Ia menggeleng kepalanya lalu ia menyuruh Jaehwan untuk istirahat.
"Aku rasa vampir tidak perlu tidur, aku bosan dan-" Jaehwan hendak pergi tapi Ravi segera menahannya.
"Aku tau, tapi bukan berarti kau tidak bisa tidur kan?"
Jaehwan cemberut saat Ravi mendorongnya masuk ke kamar barunya itu. Ia masih cemberut menatap Ravi dan Ravi tersenyum saat ia menutup pintu Jaehwan.
Hongbin terbangun saat ia merasakan cahaya matahari yang masuk dan menerangi kamar Leo. Hongbin menghela nafas sambil memeluk tubuh Leo lebih dekat. Tubuh mereka masih terbungkus oleh selimut Leo dan Leo mengecup kepala Hongbin.
"Morning babe" bisik Leo sambil menyisir rambut Hongbin yang berantakan dengan jarinya. Ia melirik Hongbin yang masih memejam matanya. Ia mendengar erangan pelan dari Hongbin.
"Aku tidak ingin bekerja hari ini" bisik Hongbin dengan suara serak.
"Hmm?"
Hongbin membuka matanya sambil mengangkat kepalanya melihat Leo, "Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu, Leo-yah" Hongbin tersenyum nakal dan ia sudah duduk menunggangi Leo.
"Bin-ah.." Leo menarik leher Hongbin sambil menciumnya dengan penuh nafsu. Bahkan ia sudah terangsang dengan ciuman itu.
Hongbin menggoyangkan pinggulnya dan merintih di mulut Leo. Leo perlahan duduk dan menarik Hongbin lebih dekat. Tangan Leo mencari-cari botol lube yang mereka gunakan semalaman, setelah Leo bersikeras untuk menggunakan lube agar ia tidak menyakiti Hongbin. Lalu ia segera menumpahkan isinya dan menyiapkan Hongbin. Hongbin merintih kuat saat jari Leo menyentuh entrance nya dan memasukkan dua jari sekaligus. Hongbin tidak sengaja menggigit bibir Leo dan lidahnya bermain dengan taring Leo. Leo melepas ciumannya dan menjauhi wajahnya dari Hongbin. Hongbin merengek.
"Leo-yaaahhh"
Leo tersenyum nakal, ia tidak menjawab dan masih sibuk bermain dengan entrance nya Hongbin. Ia melihat perubahan dari wajah Hongbin dan suara rintihan Hongbin yang semakin hot. Leo mencium leher Hongbin dan ia bisa merasakan hangatnya darah Hongbin dan ia menahan dirinya untuk tidak menggigit Hongbin.
Hongbin menahan kepala Leo di lehernya dan berbisik, "Mark me!" pinta Hongbin yang membuat Leo terkejut. Ia segera menatap Hongbin dengan shock.
"Please…" Hongbin menatapnya dengan tatapan memelas. Leo masih menahan dirinya dan saat Hongbin menengadahkan wajahnya dan memberi Leo lehernya, Leo menggeram dan ia menjilat leher Hongbin dengan pelan. Itu membuat Hongbin menahan nafasnya dan ia memejam matanya. Leo tidak ingin melukai Hongbin, jadi ia mengurungkan niatnya itu.
"Leo please…"
"No"
"Leo-yaaah"
"Itu akan sakit Binnie"
Hongbin menggigit bibirnya, ia mengambil member Leo yang sudah dilumuri gel dan mengarahkannya ke entrance nya. Mereka saling bertatapan.
"Gigit aku saat aku bercinta denganmu, aku yakin aku tidak akan merasa sakit nanti"
Leo terlihat ragu dan ia melihat membernya yang sudah terbenam di bokong Hongbin. keduanya merintih nikmat dan Hongbin mulai bergerak. Ia terus menatap Leo dengan tatapan menggoda dan Leo tidak dapat mengontrol insting vampirnya saat Hongbin menunjukkan lehernya yang jenjang. Leo mengeluarkan taringnya dan menancapkannya di leher Hongbin.
Nafas Hongbin tercekat saat rasa sakit menjulur ke seluruh tubuhnya. Ia memegang bahu Leo dengan kuat dan ia perlahan memejamkan matanya saat Leo menghisap darahnya. Sensasi baru yang nikmat itu membuat Hongbin merintih. Leo tidak berhenti bercinta dengannya. Lalu Leo berhenti menghisap darah hongbin dan ia menatap Hongbin sambil mengusap sisa darah di sekitar mulutnya.
"You feel so good baby" Leo berbisik di telinga Hongbin dan membuat Hongbin memanggil nama Leo berkali-kali.
"Yes baby?" jawab Leo sambil mendorong pinggulnya ke atas dengan kuat dan ia mendengar jeritan nikmat dari Hongbin.
"Ahh thereee!" rengek Hongbin dan Leo terus mendorong pinggulnya sambil menarik pinggul hongbin. keduanya merintih kuat hingga akhirnya Hongbin mencapai klimaksnya dan Leo pun menyusul.
Keduanya masih dengan posisi seperti itu sambil berciuman. Hanya terdengar suara nafas mereka yang memburu hingga suara perut Hongbin yang tiba-tiba berbunyi.
"Binnie? Apa kau lapar?" Tanya Leo sambil terkikik.
"Umm yeah" jawab Hongbin yang tersipu malu.
"Okay… kita ke dapur dan lihat apa yang bisa aku masakkan untukmu" Leo mengecup bibirnya sebelum mereka memakai pakaian mereka dan pergi ke dapur.
Hakyeon kembali ke istana dan ia meninggalkan Hyuk sendirian di apartmentnya. Ia bersenandung sambil berjalan ke arah kamarnya dan berhenti saat ia melihat Hongbin dan Leo yang baru saja keluar dari kamar Leo.
"Oh Hongbin!" Hakyeon tersenyum sambil berjalan ke arah mereka.
Hongbin terlihat kaget saat Hakyeon menghampiri mereka.
"Kau ingat aku kan? Hakyeon! Kita bertemu di kafe malam itu!"
Hongbin mengangguk dan tersenyum kecil padanya, "Yeah hyung"
"Oh! Kau tinggal disini sekarang?" ia menyindir Leo sambil melirik Leo dengan tajam. Hongbin terlihat tidak nyaman dan Leo pun berdehem.
"Hakyeon hyung, dia hanya menginap semalam, dan please excuse us, kami sudah lapar" Leo segera menarik Hongbin meninggalkan Hakyeon dan Hongbin tersenyum pada Hakyeon.
'Kau sungguh ceroboh Leo! Kalau Baro melihatmu bagaimana! Dan kalau para tetua tau kau-' sahut Hakyeon ke dalam pikiran Leo.
'Hentikan Hakyeon! Kau juga bersama dengan manusia itu kan!' sentak Leo kembali.
Hakyeon terdiam, ia tidak menjawab Leo dan pergi ke kamarnya.
Annyeong.. maafkan aku yang terlalu lama ngepostnya T.T
