Leo sedang membuat pancake untuk Hongbin, dan Hongbin pun ikut membantunya, ikut membantu membuat dapur Leo terlihat berantakan. Hongbin terkikik saat ia melempar segenggam tepung ke kepala Leo. Leo terlihat tenang, tapi tidak dengan tatapan tajamnya pada Hongbin. setelah ia selesai membuat pancake, Leo segera mematikan kompor dan berjalan ke arah Hongbin. Hongbin teriak dan ia melompat ke atas meja makan mereka. Leo dengan cepat menarik tangan Hongbin dan memeluk pinggang Hongbin yang slim lalu menurunkannya dari atas meja.
"Mau kemana sekarang hmm?" bisik Leo ke telinga Hongbin yang membuat Hongbin merinding.
"What? Aku kan tidak mengganggumu!" jawab Hongbin sambil mencoba melarikan diri. Leo tertawa pelan sambil mendorong tubuh Hongbin ke arah meja. Ia menatap Hongbin dengan serius dan pandangannya jatuh ke bibir Hongbin yang terlihat menggoda. Leo menekan bibirnya ke bibir Hongbin dan menjilatnya pelan. Ia mendengar suara erangan pelan dari Hongbin dan ia menggigit bibir Hongbin dengan pelan.
"L-leo.."
Leo tidak menjawab, bibirnya masih sibuk menjelajahi dagu Hongbin dan leher Hongbin. ia bisa merasakan darah Hongbin yang hangat, yang memanggilnya, yang menggodanya untuk dihisap. Ia menemukan bekas gigitannya tadi malam. Ia menjilat bekas luka itu dan Hongbin mencondongkan tubuhnya ke depan sambil merintih.
"You like it?" bisik Leo dengan suara lembut dan dalam. Ia merasakan tubuh hongbin yang bergetar dan ia semakin menekan tubuhnya ke Hongbin. Ia menarik pinggul hongbin ke arahnya dan ia menggesek sedikit pinggulnya ke Hongbin. Hongbin terkejut dan nafasnya tercekat. Tangan Leo menyusup ke belakang Hongbin dan meremas pelan bokong Hongbin. nafas Hongbin sudah terengah-engah akibat aksi Leo itu.
"Kau sangat nakal Binnie"
"N-n-no"
"Yes! Kau terus menggangguku tadi!"
"Aah aah ng-nggak!"
Leo tersenyum nakal dan menantang Hongbin dengan tatapan laparnya. Mata Hongbin terlihat berat dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Hongbin terlihat sangat menggoda seperti itu. Perlahan taring Leo keluar dan ia mencium leher Hongbin sambil mengendusnya pelan, menikmati hangatnya darah Hongbin yang menggoda itu.
"Le-leo.." Hongbin meremas pelan rambut Leo dan semakin memeluk Leo dengan erat.
"Bisakah aku menggigitmu?" bisik Leo pelan sambil menggores bekas luka Hongbin di leher dan itu membuat Hongbin merintih. Hongbin menggumam pelan dan Leo perlahan menancapkan taringnya ke leher Hongbin. Hongbin terkejut dan menahan nafasnya, ia menggenggam bahu Leo dengan kuat dan perlahan ia merasakan darahnya dihisap oleh Leo. Itu membuat Hongbin merasa lemas, dan seperti melayang. Ia memejam matanya perlahan dan memberikan Leo akses yang lebih mudah dengan menengadahkan kepalanya ke atas. Hongbin mengerang pelan. Leo segera melepaskan gigitannya dan ia mengusap bibirnya. Ia menutup bekas luka Hongbin dengan menekan dua jarinya di atas luka itu.
"Thank you Binnie"
Hongbin hanya menggumam pelan dan tersenyum padanya. Leo segera membalikkan badannya dan mencuci mulutnya. Ia sedang memikirkan kejadian barusan. Biasanya ia tidak selapar tadi, ia tau kalau itu adalah efek jika ia mengonsumsi darah manusia. Ia akan terus merasa haus akan darah manusia. Ia memikirkan kalau ia harus lebih mengontrol dirinya nanti.
"Leo? Kau baik-baik saja?" Tanya Hongbin dari belakangnya yang melihat postur tubuh Leo terlihat lebih tegang.
"Hmm? Yeah" jawab Leo singkat sambil mengadap Hongbin. ia mengecup pelan bibir Hongbin.
"Pancake mu sudah selesai"
"Hmm.. yeaaahh aku sangat lapar!" jawab Hongbin sambil mengambil piring untuk pancakenya.
Hakyeon segera kembali ke apartment Hyuk. Itu karena ia mendengar jeritan dari Hyuk. Dan ia menemukan Hyuk yang sedang melempar semua lukisan di dinding apartmentnya yang mewah itu.
"Aaarghh!"
"Hyukkie!"
Hakyeon segera berlari memeluk Hyuk sambil menenangkannya.
"Hey baby? Kau kenapa? Sssh.." bisik Hakyeon lalu Hyuk terisak kuat dan jatuh ke lantai. Hakyeon masih memeluknya.
"Hakyeon hyung…. Aku… Hong- aarghh!"
Hakyeon terdiam, dan ia tetap diam hingga tangis Hyuk berhenti. Ia membawa Hyuk kembali ke tempat tidur. Hyuk berbaring di pangkuan Hakyeon dan Hakyeon mengelus rambutnya dengan lembut.
"Kau masih mencintai Hongbin?"
Hyuk terdiam, ia menggigit bibirnya dengan kuat sambil menahan air matanya yang sudah membendung di matanya. Hakyeon menghela nafas dan untuk pertama kalinya ia merasa sakit di dadanya.
"Aku mengerti."
"I'm sorry hyung"
Hakyeon bisa mendengar isi pikiran Hyuk dengan jelas.
'Aku masih mencintai Hongbin hyung, aku masih belum bisa ugh!'
Hakyeon menatap ke atas sambil mengedipkan matanya berkali-kali dan ia menghela nafas dengan panjang. Ia terus mengelus rambut Hyuk hingga Hyuk tertidur. ia dengan pelan meletakkan kepala Hyuk ke atas bantal dan perlahan ia turun dari tempat tidur Hyuk.
Hyuk menahan tangan Hakyeon dan Hakyeon berbalik menatapnya.
"Please jangan tinggalkan aku hyung"
Hakyeon kembali duduk di samping Hyuk dan tersenyum kecil padanya. "Aku tidak akan pergi Hyukkie"
Hyuk menggenggam jemari Hakyeon dan menatapnya dengan lembut.
"Do you love me hyung?" Tanya Hyuk tiba-tiba dan membuat mata Hakyeon membesar. Hakyeon menatap ke bawah dan mencoba menarik jemarinya.
"Uh.."
Hyuk menatapnya dengan serius sambil menahan jemari Hakyeon. Ia tersenyum pada Hakyeon, "Buat aku mencintaimu hyung.." Hakyeon menatapnya tak percaya. Mulutnya sedikit terbuka mendengar kata-kata Hyuk tadi. Hyuk tersenyum nakal dan ia segera mencium Hakyeon dengan ganas. Ia menarik tubuh Hakyeon dengannya berbaring di kasur sambil bergulat dengan lidah mereka.
Semenit kemudian, pakaian mereka sudah berserakan di lantai Hyuk dan suara rintihan Hakyeon terdengar kuat.
"Hyung.. bite me" dan Hakyeon pun menuruti permintaan Hyuk itu.
Mereka sedang berbaring di kasur Hyuk sambil bertukar pandang. Hakyeon mengelus wajah Hyuk dengan lembut.
"Hyung? bolehkah aku meminta sesuatu dari mu?"
Hakyeon mengerutkan dahinya, dan ia mengecup bibir Hyuk pelan. "Yeah Hyukkie?"
Hyuk diam sesaat sambil menggigit bibirnya, "Aku ingin menjadi sepertimu"
"HYUK!" Hakyeon langsung duduk dengan shock.
Hyuk menarik tangan Hakyeon dan memeluknya. "Please… aku merasa… sendirian.."
Hakyeon memejam matanya, ia tidak akan mengubah Hyuk menjadi vampir sepertinya. Tidak akan pernah.
"Hyung.. Orang tuaku selalu sibuk dan… Hongbin hyung… aku… aku muak dengan … dengan hidupku! Aku ingin selamanya bersamamu hyung. pleaseee…"
Hakyeon tidak ingin mendengar kata-kata Hyuk. Ia tidak mengerti kenapa Hyuk menginginkan itu.
"Hyung please… kita akan selalu bersama selamanya jika aku juga vampir hyungg"
Hakyeon membuka matanya dan menatap Hyuk dengan serius, "Kau yakin?"
Hakyeon membenci dirinya saat itu juga. Hyuk mengangguk kepalanya dengan penuh semangat. Hakyeon diam sejenak, ia tidak ingin membuat kesalahan.
"Hyukkie.."
"Aku ingin menjadi sepertimu hyung! aku tidak ingin sendiri!"
Hakyeon menarik nafas dan berharap kalau ia tidak membuat kesalahan kali ini. "Baiklah. Jika itu keinginanmu!"
Hyuk menelan ludah saat ia melihat taring Hakyeon yang tajam.
"Prosesnya akan sedikit sakit Hyukkie.." Hyuk menggangguk dengan semangat lagi.
Hakyeon membuat luka kecil di pergelangan tangannya dan darahnya mulai keluar. Ia menyuruh Hyuk untuk menghisap darahnya. Dan Hyuk segera menempelkan bibirnya ke luka Hakyeon dan mulai menghisap darah Hakyeon. Dahi Hyuk berkerut saat ia menghisap darah Hakyeon hingga Hakyeon menolak tubuhnya dan Hyuk hampir ingin muntah. Ia merasa sangat pusing, bahkan suara Hakyeon yang memanggilnya terasa sangat jauh baginya. Lalu ia pun tertidur.
Beberapa jam kemudian,
Hyuk perlahan membuka matanya dan menatap ke sekelilingnya.
"Kau sudah bangun?"
Hyuk menoleh ke asal suara itu dan melihat Hakyeon sedang bersandar di dinding dengan melipat kedua tangannya.
"Umm, ini jam berapa?"
"Jam 6 sore. Apa yang kau rasakan?"
Hyuk diam sesaat, ia tidak tau. Sepertinya tidak ada perubahan. Hakyeon berjalan menghampirinya dan ia memberi Hyuk sebuah kantung … darah. Hyuk menatapnya dengan bingung.
"Itu darah hewan, itu agar kau bisa mengontrol nafsumu. Kau masih baru, akan sulit bagimu untuk mengontrol dirimu. Jangan khawatir, aku akan selalu di sampingmu, mengawasimu."
Hyuk menatap kantung itu dengan wajah bingung. "Minumlah, kau pasti lapar"
Ya, Hakyeon benar. Hyuk mengendus kantung itu dengan perlahan dan ia merasa sesuatu dalam dirinya menggeram. Ia membuka matanya dan Hakyeon melihat perubahan pada mata Hyuk yang menjadi berwarna merah. Hyuk sedang lapar.
Hyuk membuka mulutnya dan kedua taring panjang dari mulutnya keluar. Ia melihat kantung darah itu dengan mata yang berbinar-binar, dan ia langsung menancapkan taringnya di kantung itu. ia dengan cepat menghabiskan kantung darah itu dan mencampakkannya ke lantai kamarnya.
Ia menatap Hakyeon dengan senyum nakal, dan ia masih haus akan darah lagi. Hakyeon melemparnya sebuah kantung darah lagi dan Hyuk dengan cepat menangkapnya dan menghabisi kantung itu.
"Okay Hyukkie.. itu saja untuk hari ini. Kita akan berburu besok" Hakyeon meninggalkannya sambil mengambil sampah kantung itu.
Hongbin berjalan ke rumahnya dengan senyum lebar di wajahnya. Ia benar-benar menghabiskan waktu bersama Leo di kamar Leo. Hongbin menemukan kakeknya yang sedang menyirami taman mereka.
"Hai kek!"
"Hongbin! Kau kemana saja? Kalian berdua meninggalkan kakek?" kakeknya tersenyum pada Hongbin sambil mengecup kedua pipi Hongbin.
"Ah.. Jaehwan hyung, dia bersama teman-temannya, ia ikut band. Dan aku, aku umm bersama Hyuk." Ia terpaksa berbohong dan mengucapkan nama Hyuk terasa pahit di lidahnya.
"Ooh. Kau masih bersama anak sombong itu?"
"Kakek? Dia kan baik"
Kakek Hongbin mendengus, "Yeah yeah, tapi bagiku dia anak yang manja! Orang tuanya terlalu memanjakannya."
Hongbin hanya diam, "Umm, aku masuk dulu ya Kek"
"Yeah Bin, aku sudah membuatkanmu makan malam kita"
Hongbin mengangguk dan pergi ke kamarnya.
Malamnya, Hongbin membuka jendela kamarnya dan duduk menghadap jendela. Ia melihat bayangan Leo dan ia tersenyum sambil berdiri. Leo segera mencium kekasihnya itu dengan kuat dan mendorong tubuh Hongbin ke tempat tidur.
"Ssh.. kakekku di bawah"
Leo mengangguk, ia mencium wajah Hongbin dengan lembut sambil melilitkan jarinya pada Hongbin.
"Binnie?"
"Hmm?"
"Aku akan pergi besok" Hongbin menaikkan kepalanya sedikit untuk melihat Leo.
"Aku janji, aku akan kembali" kata Leo dengan cepat sambil mengecup tangan Hongbin.
Hongbin menghela nafas sambil mengerutkan bibirnya. Leo tersenyum geli dan mengecup bibir Hongbin yang cemberut itu.
"Kau janji kau akan kembali?"
Leo mengangguk. Hongbin duduk dan ia menunggangi pinggul Leo sambil menggoyangkan pinggulnya.
"Binnie!"
"Ssh.. aku sudah mengunci pintu kamarku"
"Lee Hongbin!"
Hongbin mencium mulut Leo dengan ganas, "Ssh.. jangan berisik Leo!" Leo melihat senyum nakal Hongbin sebelum Hongbin menciumnya dengan ganas.
