Hari-hari berlalu, Hakyeon dengan diam-diam mengajari Hyuk untuk berburu dan meminum darah manusia dengan tidak membunuh manusia itu. Ia juga mengajari Hyuk untuk menghapus memori dari manusia tersebut sehingga manusia itu tidak mengetahui kalau darahnya baru saja dihisap. Hakyeon selalu ada di samping Hyuk, ia akan tetap mengawasi Hyuk tidak keberatan dengan hal itu. itu malah membuatnya lebih nyaman dan tenang.

Ravi juga melakukan hal yang sama pada Jaehwan. Hanya saja tidak ada yang tau kalau Jaehwan tinggal di istana bersama Ravi dan Leo. Ravi juga menyembunyikan hal ini dari Hakyeon.

Hingga suatu pagi, Hakyeon baru saja tiba di istana. Ia menghabiskan banyak waktu dengan Hyuk hingga ia sangat jarang pulang ke istana. Ia meninggalkan Hyuk yang sedang tidur di apartmentnya. Ia berjalan ke dapur dan mengambil sebuah apel dan menggigitnya dengan lahap. Ia mendengar suara cekikikan Hongbin dari arah kamar Leo. Ia memutar bola matanya sambil menggeleng kepalanya.

"Dasar kalian berdua!" gumamnya pelan dan ia berjalan ke arah kamarnya.

Langkah Hakyeon berhenti saat ia mendengar suara langkah kaki yang pelan ke arahnya. Hakyeon memfokuskan pikirannya dan menatap ke depan.

"Jaehwan?" geram Hakyeon dengan suara tegasnya. Matanya penuh dengan kemarahan dan ia siap menerjang ke depan. Dan itulah yang ia lakukan. Ia menyerang Jaehwan dengan cepat hingga Jaehwan terpelanting ke belakang. Hakyeon mencekik Jaehwan dengan kuat sambil menggeram.

"Hakyeon hyung! hentikan! Dia teman kita sekarang! Hentikan!"

Hakyeon melepaskan Jaehwan dan tatapan marahnya beralih ke Ravi. "Apa yang kau lakukan! Terakhir aku melihatnya, dia hampir membunuh Hyuk!"

Ravi menenangkan Hakyeon sambil mengelus bahu Hakyeon. Hakyeon terengah-engah sambil memperhatikan gerak-gerik Jaehwan yang mencoba untuk berdiri.

"Itu karena tidak ada yang mengawasinya dan semuanya ini salahku, okay Hyung? aku yang umm.. aku tidak sengaja.. umm, c-ceritanya panjang hyung-"

"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI!" Bentak Hakyeon pada Jaehwan yang mematung di samping mereka.

"Hey! Ada apa ini!" seru Leo yang dalam sekejap sudah berada di antara Hakyeon dan Jaehwan. Dan ia terlihat shock saat ia sadar kalau itu adalah Jaehwan, hyungnya Hongbin. Ia rasanya ingin mengunci pintu kamarnya tadi dan berharap kalau Hongbin tidak keluar dari kamarnya. Hanya saja semua itu sudah terlambat baginya. Ia memejam matanya sambil menyumpah pelan.

"J-jaeh-jaehwan hyung?" Hongbin berdiri di depan mereka dengan wajah yang pucat.

Jaehwan tersenyum pada Hongbin, menunjukkan taringnya pada Hongbin. Nafas Hongbin tercekat di tenggorokannya dan ia tiba-tiba merasa pusing dan sesak nafas.

"Hai Binnie"

Hongbin menggeleng kepalanya. "Tidak mungkin" ia terus menggumam pelan dan mundur ke belakang. Hongbin segera berlari menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa dan ia membuka pintu depan dengan cepat dan berlari keluar.

Leo menyumpah dan ia memelototi dua temannya itu sebelum ia berlari mengejar Hongbin.

"Lihat apa yang kau lakukan!" bentak Ravi pada Hakyeon.

Hakyeon mengejeknya dan ia beralih pada Jaehwan. Jaehwan terlihat… muram sambil menatap ke arah pintu yang baru saja dibanting oleh Leo. Seketika itu Hakyeon merasa iba pada Jaehwan. Yeah, aneh memang. Baru saja merasa kesal dan marah pada Jaehwan dan sekarang… ia malah merasa iba.

"Ia akan baik-baik saja." Jaehwan mengangguk pelan.


Leo memeluk tubuh hongbin dan membawanya ke tempat yang sepi. Untungnya tidak ada yang melihat kecepatan Leo saat itu. Hongbin menangis di pelukan Leo, dan Leo menepuk pelan punggungnya menenangkannya.

"Bagaimana… h-hyungku"

"Sssh.. tenanglah… Ravi pasti telah mengawasinya"

"T-tapi.."

"Sssh.. hyungmu akan baik-baik saja. Dia adalah bagian dari kami sekarang. Jangan khawatir."

"Binnie?" Jaehwan berdiri di samping mereka sambil menunduk memainkan jarinya. Hongbin menatapnya dengan perasaan sedikit takut.

"A-aku tidak akan menyakitimu. Ravi telah mengajariku untuk mengontrol insting vampirku" Jaehwan berlutut di depannya sambil mengambil tangan Hongbin. Hongbin kaget saat ia merasakan dinginnya tangan Jaehwan. Ia tidak percaya kalau hyungnya adalah vampir sekarang.

"M-maafkan aku hyung.. aku hanya terkejut tadi" Jaehwan tersenyum sambil menghapus air mata Hongbin dengan lembut. Jaehwan menceritakan semuanya pada Hongbin dan Leo, dan ia juga menceritakan tentang kejadian mengenai Hyuk malam itu.

"J-jadi apa …. Hyuk?" wajah hongbin terlihat sangat pucat. Kenapa ia dikelilingi oleh vampir sekarang.

"Aku rasa begitu. Hakyeon hyung selalu menghabiskan waktunya bersama Hyuk. Umm, ntahlah, kenapa kita tidak kembali saja ke istana dan bertanya padanya?" ajak Leo tiba-tiba. Jaehwan dan Hongbin setuju.


Hakyeon, Ravi dan Hyuk sudah menunggu di ruang makan istana yang luas. Hyuk yang mendengar jeritan Hakyeon di kepalanya, langsung pergi menuju istana Hakyeon. Dan Hakyeon merasa kalau ini sudah saatnya ia membuka rahasianya itu.

Jaehwan, Hongbin dan Leo juga telah kembali ke istana dan Hakyeon memanggil mereka untuk berkumpul di ruang makan. Hongbin memalingkan wajahnya saat ia melihat Hyuk dan segera duduk di samping Leo.

Hakyeon berdehem dan semua mata tertuju padanya.

"Okay, aku hanya ingin mendiskusikan beberapa hal. Jaehwan dan Hyuk akan segera menjadi penghuni baru di istana kita."

Semua mengangguk, terkecuali Hongbin yang wajahnya murung. Ia mungkin akan jarang melihat hyungnya itu di rumah mereka lagi.

"Dan, kalian berdua harus ikut dalam rapat nanti. Aku mendapat kabar, kalau para tetua akan tiba besok malam. Dan! Kalian juga harus jaga etika kalian! Paham!" Hakyeon menatap Jaehwan dan Hyuk secara serius. Keduanya mengangguk paham. Lalu Hakyeon menatap Hongbin sambil menghela nafas.

"Dan untukmu Hongbin, Leo. Kalian sebaiknya berpisah dulu untuk sementara ini. Aku tidak ingin para tetua atau vampir lain yang bukan dari kelompok kita mengetahui hubungan kalian. Itu akan membahayakan Hongbin, kau mengerti kan Leo?" keduanya mengangguk dan Hongbin mencoba untuk tersenyum kecil.

"Ravi? kau berjanji untuk terus mengawasi Jaehwan? Aku akan menangani Hyukkie, kita tau kan kalau mereka ini masih newborn"

"Yeah hyung, jangan khawatir. Aku akan terus melatih Jaehwan dan mengawasinya"

Hakyeon tersenyum puas dan ia menutup rapat kecil mereka. Hakyeon mengajak Jaehwan dan Hyuk untuk ikut bersamanya dan Ravi ikut mengekor di belakang Hakyeon. Hongbin dan Leo masih duduk diam di ruang makan.

Leo menoleh ke Hongbin dan melihat bibir cemberut Hongbin yang terlihat imut. Leo terkikik sambil mencubit pelan pipi hongbin.

"Aku akan sangat merindukanmu"

"Aku akan datang ke mimpimu Hongbin-ah"

Hongbin menghela nafas dan menyandarkan kepalanya ke bahu Leo. "I will miss you so much" gumamnya pelan dan Leo mengecup kening Hongbin dengan lembut.


Hongbin berjalan pulang ke rumahnya dengan wajah murung. Leo tidak akan datang ke kamarnya malam ini. Hakyeon mengusulkan kalau mereka harus belajar untuk berpisah, dan hakyeon juga mengatakan kalau itu hanya untuk sementara saja.

"Hongbin-ah? Kau sudah pulang?" kakeknya membawakan sepanci sop yang terlihat lezat, dan itu membuat Hongbin merasa lapar.

"Hey Kek! Hmm.. kelihatannya lezat"

Kakeknya tertawa dan menepuk bahu Hongbin dengan pelan.

"Makanlah kalau begitu." Ia duduk di seberang Hongbin sambil memperhatikan Hongbin makan.

"Kakek kau tidak makan?" Tanya Hongbin dengan mulut yang penuh. Kakeknya menggeleng.

"Aku belum lapar. Hongbin? Oh ya, bagaimana kabar hyungmu? Kenapa dia tidak memberi kabar kepadaku. Huh! Anak itu! kalau bersama teman-temannya, dia pasti melupakanku"

Hongbin hampir tersedak, "Uhm, dia baik Kek. Aku lupa memberi tahumu, dia sibuk. Dia baik-baik saja, ia juga menitip salam untukmu Kek. Dia menyayangimu"

Kakeknya tersenyum puas. "beritahu padanya untuk segera menghubungiku"

Hongbin mengangguk dan berusaha untuk tetap terlihat tenang.

Setelah Hongbin menyelesaikan makan malamnya, ia mencuci semua piring kotor dan pergi ke kamarnya. Ia sendirian malam ini di rumahnya, kakeknya mendapat telepon penting dan harus pergi meninggalkan Hongbin sendirian. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya para penyihir bicarakan kalau mereka sedang berkumpul. Dan ia tidak tertarik untuk bertanya pada kakeknya.


Malamnya, Kakek Hongbin menyelinap masuk ke kamar Hongbin dengan pelan. Ia perlahan berjalan ke arah tempat tidur Hongbin dan menatap cucunya dengan senyum lembut. Ia mengelus wajah Hongbin dan dari sudut matanya ia menangkap sekilas cahaya biru dari jemari Hongbin.

Dahi kakek Hongbin berkerut dan ia menahan amarahnya. Ia mengenali permata biru itu.

'berani-beraninya dia menyuruh Hongbin memakai itu!' pikir kakeknya dan ia mengambil cincin itu dengan pelan. Ia menukarnya dengan sebuah batu permata kecil merah dan ia menanamnya ke dada Hongbin dengan menggunakan sihirnya. Ia mengantongi cincin permata biru itu dengan wajah kesal. Dan kali ini, Hongbin akan aman dari serangan vampir manapun. Tidak akan ada vampir yang dapat menyakitinya. Batu merah itu menyimpan sebuah kekuatan yang hebat, yang telah ia temukan setelah bertahun-tahun. Bahkan batu itu dapat melenyapkan vampir jika batu itu disatukan dengan sebuah pisau khusus. Dan saat ini, pisau khusus itu masih dalam proses pembuatan oleh teman-teman penyihirnya yang lain dan akan segera selesai dalam beberapa hari ke depan. Batu itu sengaja ia tanam di dada Hongbin agar tidak ada yang melihat batu itu secara langsung. Karena, para vampir sedang mencari batu merah itu untuk dilenyapkan. Mereka tidak akan bisa menemukan batu merah itu.


Hello guys. thank you uda baca yaaa^^

Umm, mianhe kalo lama.. karena kemarin laptopnya agak.. err hang.. lol

OKay ummmmmm... mungkin aku bakal ngurangi adegan panasnya ya lol mianheee, lama-lama agak gimanaaaa gituu dan janji deeehh.. bakal update lebih cepat nanti

makasih makasih makasihhh uda bacaa :D byebye