Hongbin membongkar seluruh lemarinya dan kamarnya terlihat sangat berantakan. Ia ingat kalau cincin yang diberikan Leo itu masih ada di jemarinya semalam. Dan kenapa cincin itu hilang sekarang. Hongbin berlari turun menuju dapur dan membongkar tong sampah mereka, tapi ia juga tidak menemukan cincin itu.
"Hongbin? kau sedang apa?" Kakeknya yang muncul dari kamarnya dengan pakaian yang rapi.
"Uh, aku mencari sesuatu Kek. Aku kehilangan cin- um, maksudku.. itu.. cincin Hyuk" ia menghindari tatapan Kakeknya itu.
"Aku tidak melihat kau memakai cincin semalam"
Hongbin terlihat panik.
"Mungkin kau menjatuhkannya di suatu tempat? Di tempat kerjamu mungkin?"
"M-mungkin"
Kakeknya menatap Hongbin dengan curiga. "Bin? Sudahlah, itu hanya cincin"
Hongbin mengangguk lemas, lalu ia menatap Kakeknya, "Kakek mau kemana?"
"Aku harus pergi sebentar untuk beberapa hari Hongbin."
Hongbin cemberut dan menghela nafas dengan panjang.
Kakeknya mengacak rambut Hongbin sambil tertawa, "tenanglah, kakek pasti pulang. Jaga dirimu ya!"
Hongbin tersenyum pada kakeknya itu. "Aku akan merindukanmu Kek"
"Kakek juga. Kau harus makan! Mengerti? Dan.. jangan sering makan ramen Binnie!"
Hongbin mengangguk dan kakeknya memeluknya lalu pamit pergi.
(Malamnya, di istana)
Malam itu, istana terlihat sangat megah, dan ramai. Beberapa kelompok vampir dari beberapa wilayah datang menghadiri rapat dengan para tetua. Ravi bahkan menyediakan stok winenya yang mahal dan lezat. Mereka juga menghidangkan makanan yang sangat banyak… dan juga darah.
Dan para tetua pun masuk ke ruangan. Suasana menjadi sangat tegang. Semua vampir menunduk pada para tetua lalu duduk saat para tetua itu duduk di depan mereka. Hakyeon memberi hormat dan ia membuka acara lalu memanggil nama-nama vampir yang masih newborn,termasuk Jaehwan dan Hyuk. Setelah Hakyeon selesai memperkenalkan vampir-vampir baru itu pada para tetua dan para vampir lainnya, ia memberi hormat pada para tetua mempersilahkan para tetua untuk berbicara.
"Baiklah, aku rasa aku tidak akan lama" vampir dengan jubah hitamnya dengan tubuh yang tegap berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan, dan semua orang bisa merasakan aura yang kuat dan mengerikan darinya, ia adalah Siwon, ketua dari para vampir itu. mata merahnya menyapu seluruh ruangan dan ia tersenyum pada Leo.
"Mungkin beberapa dari kalian telah mengenalku, aku adalah Siwon dan aku adalah ketua dari kalian untuk saat ini. Aku datang kemari bersama dengan teman-temanku karena ada sesuatu yang menarik perhatianku di kota kecil ini." Ia menarik nafas dengan panjang sambil memejam matanya. Lalu ia membuka matanya dan semua vampir bisa merasakan amarah dari dirinya.
"Keberadaan kita telah tercium oleh para penyihir sialan itu! dan aku tidak ingin memanggil nama si pembuat masalah ini! Tapi aku ingin, dia bertanggung jawab!" katanya dengan tegas. Seketika ruangan menjadi sangat sunyi dan tiba-tiba seorang vampir dengan wajah yang menunduk. Tubuhnya bergetar hebat.
Siwon berbalik menatap vampir yang gemetaran itu dan ia berjalan ke arahnya dengan tatapan yang mengerikan. Ia berdiri di depan vampir itu dan dengan lembut ia mengangkat dagu vampir itu. ia mencari-cari tatapan vampir itu. siwon tersenyum tipis dan mendengus pelan.
"Kau orangnya? Kau yang membunuh manusia-manusia disini? Kau yang menarik perhatian penyihir-penyihir itu?"
Vampir itu mengangguk dengan pelan dan memejam matanya.
"Kau tau? Karena kau! Mereka kini lebih kuat! Mereka akan segera melacak kita dan menghabisi kita! Sekarang, apa rencanamu?!"
Vampir itu masih gemetaran dan tidak bisa membuka mulutnya, bahkan membuka matanya saja ia tidak berani.
"JAWAB!" bentak Siwon dan seketika itu juga vampir itu berlutut memohon ampun pada Siwon.
"M-maafkan a-aku"
Siwon memasang wajah tidak sabar dan ia menarik kerah vampir itu. Ia menatap vampir itu dengan geram dan dengan kuat ia mencekik vampir itu hingga terdengar suara tulang yang patah. Vampir itu mengerang kesakitan dan Siwon melepaskannya hingga ia terjatuh ke lantai dengan suara thud yang kuat.
Siwon kembali berjalan ke depan dengan senyum sombong.
"Perhatian!" teriaknya dan semua vampir memperhatikannya dengan serius.
"Aku mendengar kalau para penyihir berhasil menemukan batu merah itu!" suasana kembali ribut dan Siwon mengangkat satu tangannya, suasana pun kembali tenang.
"Kita harus berhasil mencuri batu merah itu dari tangan mereka. Kalau tidak, mereka menang dan kita… habis!"
"Aku dengar ada salah seorang penyihir di kota ini yang terhebat. Dialah yang memegang batu merah itu sekarang. Dan kita harus mencuri batu merah itu darinya. Sayangnya, aku tidak tau namanya dan tempat tinggalnya."
"Kalian akan langsung mengenal batu merah itu. batu itu akan terlihat bersinar dan menyilaukan jika kita melihatnya. Aku mohon kerja sama kalian untuk mencari batu itu. dan jika salah seorang dari kalian menemukannya, beri tahu aku secepatnya dan kita akan memusnahkan batu itu"
Salah seorang tetua membisikkan sesuatu pada Siwon dan mata Siwon tertuju pada Leo. Siwon mengangguk.
"Satu lagi… Aku akan pensiun hari ini juga dan aku telah menemukan penggantiku."
Suasana menjadi ramai dan semua vampir saling pandang.
"Jung Taekwoon"
Leo terkejut ketika nama aslinya dipanggil dan ia segera berdiri dan memberi hormat pada Siwon. Siwon tersenyum dan berjalan ke arah Leo. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantung jubahnya dan sesuatu berkedip menarik perhatian Leo. Sebuah bros emas di telapak tangan Siwon dan mereka berdua melihat bros itu bergetar dan berusaha bergerak ke arah Leo. Bros kerajaan. Bros yang pernah dikenakan oleh ayah Leo dulu.
"Ia memilihmu"
Siwon mendekatkan bros itu ke Leo dan bros itu melompat ke jubah Leo dan berhenti berkedip. Siwon menarik Leo untuk berdiri ke depan semua vampir.
"Hadirin sekalian, sambutlah pemimpin baru kalian! Jung Taekwoon!" Tepuk tangan terdengar riuh di ruangan itu. Leo melihat teman-temannya yang berseru gembira dan ia melihat Hakyeon sedang mengusap air matanya dengan senyum lebar di wajahnya.
Leo kembali ke kamarnya dan mengunci pintunya. Ia duduk di lantai sambil bersandar di pintu. Ia menghela nafas. Malam ini terasa panjang baginya. Semua vampir menyalaminya dan mengucapkan selamat padanya, ia juga harus banyak belajar dari Siwon dan para tetua lainnya. Agendanya akan semakin sibuk. Bahkan ia harus ikut pergi bersama Siwon dalam beberapa hari nanti.
Itu berarti ia akan jarang bertemu dengan Hongbin nanti. Hal itu membuat Leo sedih. Ia memejam matanya. Ia merindukan Hongbin, sangat merindukannya. Ia menahan dirinya untuk tidak pergi menemui Hongbin malam itu juga. Ia tiba-tiba teringat kalau ia telah berjanji akan menemui Hongbin lewat mimpinya. Ia memejam matanya dan mencoba fokus untuk masuk ke mimpi Hongbin. Ia bisa merasakan kalau jiwanya sedang terbang menuju rumah Hongbin dan berjalan ke arah tempat tidur Hongbin. ia bisa melihat Hongbin yang sedang tertidur pulas. Ia tersenyum dan terus menatap wajah hongbin. ia mencoba masuk ke mimpi Hongbin dengan fokus ke pikiran Hongbin. ia menunggu jiwanya untuk masuk ke mimpi Hongbin, tapi tidak ada yang terjadi. Ia mencoba lagi dan lagi, tapi tidak ada yang terjadi. Leo bingung dan ia membuka matanya. Ia kembali di kamarnya dan ia mendengar seseorang mengetuk kamarnya. Ia berdiri dan mengintip.
"Hakyeon?" ia membuka pintu lebih lebar untuk Hakyeon.
"Kau sedang apa?"
"Aku lelah. Apa yang lain masih berpesta?"
"Hmm." Hakyeon menatap Leo dengan curiga. "Kau mau mencoba untuk bertemu dengan hongbin ya?"
Leo tidak menjawab, ia hanya menghela nafas.
"Jangan sekarang Leo! Siwon atau yang lain bisa merasakannya."
Leo menggeleng, "Hakyeon-ah.. ada yang aneh. Aku tidak bisa masuk ke mimpi Hongbin"
"whatever Leo. Jangan berani kau memikirkan hongbin ketika Siwon ada di sekitarmu. Kau tau dia sangat kuat kan? Kau tidak mau terjadi sesuatu pada Hongbin kan?"
Leo menggeleng, "tapi… aku hanya penasaran, kenapa aku tidak bisa masuk ke mimpinya!"
"Hmm.. mungkin kau kurang fokus? Atau… dia punya sihir?"
"Sihir?" Leo teringat tentang barang-barang kakeknya yang diletakkan di kamar Hongbin waktu itu.
"Yep! Kau tau kan? Penyihir-penyihir itu mulai membagikan beberapa jimat pada tiap rumah."
Leo mengangguk pelan, "yeah.. mungkin"
Leo menunggu di depan swalayan tempat Hongbin bekerja. Ia berdiri di balik semak sambil mengawasi Hongbin. ia tersenyum lembut melihat Hongbin yang ceria melayani pelanggannya. Hingga akhirnya Hongbin menutup swalayannya. Ia segera keluar dari persembunyiannya dan berdiri di depan Hongbin.
Hongbin menuruni anak tangga dan langkahnya terhenti ketika seseorang menghalangi jalannya. Ia menatap ke depan dan shock.
"Leo? Leo!" Hongbin segera memeluk Leo dengan kuat. Leo memejam matanya, menghirup bau Hongbin yang membuatnya merasa nyaman, kedua lengannya melingkar di pinggang Hongbin yang tak asing baginya. Ia menyandarkan kepalanya ke Hongbin dan menariknya lebih dekat.
"I miss you Binnie.."
Hongbin melepaskan pelukannya dan cemberut menatap Leo, "Kenapa kau tidak mengunjungi mimpiku semalam!"
Leo menangkup wajah Hongbin sambil mengecup bibirnya, "Aku… sibuk semalam."
"Dan kau melupakanku?"
"Maafkan aku Binnie.."
"Kau mau ke rumah? Apa para tetua sudah pulang? Kita sudah bebas kan?" Hongbin menyerangnya dengan pertanyaannya dengan wajah ceria sambil melompat kegirangan.
"Binnie… ada yang ingin aku sampaikan tapi.. aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Aku harus pergi"
"L-leo-yah!" Wajah Hongbin cemberut kembali sambil menghentakkan kakinya seperti anak kecil.
"Aku… harus mengurus sesuatu Binnie. Me-mereka sudah menungguku."
Hongbin mendengus marah dan melipat kedua tangannya, "kau menghiraukan aku lagi!"
"Binnie.. maafkan aku. tapi aku janji, aku akan menceritakannya nanti setelah aku kembali. Aku tidak akan lama Binnie" Leo mencoba menarik perhatian Hongbin dengan memeluknya dan menciumi leher Hongbin. Hongbin yang masih cemberut berusaha sekuat tenaga mendorong tubuh Leo darinya.
"Yeah! Whatever! Pergilah sekarang! Aku lelah!"
"Binnie.."
"Leo?" Hakyeon yang tiba-tiba berdiri di seberang mereka menatap mereka dengan serius.
"Hakyeon hyung?" Hongbin terkejut melihat Hakyeon.
Hakyeon tersenyum pada Hongbin lalu ia beralih pada Leo, "Ayo?"
Hongbin menatap Leo dan Hakyeon bergantian, "Umm, kalian umm… sibuk ya?"
"Maaf Binnie.. tapi Leo akan kembali nanti. Tenanglah, ini hanya untuk sementara"
Leo menatap Hongbin dengan lemas, "I'm sorry hongbin, aku.. aku janji akan segera kembali".
Hongbin menatap Leo dengan bingung. Ia berharap kalau Leo dan Hakyeon hanya bercanda. Tapi ia melihat wajah serius Leo yang perlahan mendekat dan ia merasakan bibir lembut Leo yang menciumnya.
"Aku akan segera kembali Binnie.." bisik Leo.
Leo melangkah mundur, menjauhi Hongbin. Hongbin berdiri mematung dengan mulut yang sedikit terbuka, ia melihat Leo dan Hakyeon pergi meninggalkannya dalam sekejap. Ia terus memandang tempat Leo berdiri tadi dengan wajah murung.
