Hongbin menghabiskan hariharinya seperti biasa, membersihkan rumah, bekerja di supermarket, membeli makanan siap saji, pulang ke rumah dan tidur. Ia sendirian di rumah, kakeknya juga belum kembali. Ia merindukan hyungnya, ia merindukan kakeknya, ia merindukan Leo. Leo tidak pernah datang ke mimpinya. Itu membuatnya sangat sedih.

Hingga suatu malam, Hongbin sedang berjalan santai menuju rumah saat seseorang berdiri memblokir jalannya. Hongbin menatap ke wajah orang itu dan tersenyum.

"Hyung?"

"Hai Binnie" Jaehwan tersenyum lebar menunjukkan taringnya, dan senyum Hongbin memudar. Ia tersadar kalau hyungnya itu sudah seorang vampir sekarang. Hongbin mengambil langkah mundur dengan ekspresi takut di wajahnya.

"Hongbin? aku tidak akan menyakitimu" Jaehwan berbisik dan mendekati Hongbin. Hongbin berhenti, air matanya mulai membendung di matanya.

"Hyung? I miss you"

Jaehwan tersenyum, "I miss you too Hongbin-ah" Jaehwan hendak memeluk adiknya itu tapi Hongbin mundur dan menghindari Jaehwan.

"J-jangan hyung.."

"Binnie?"

"A-aku takut.."

Jaehwan cemberut, "Tapi aku hyungmu"

Hongbin menggeleng, "P-please.."

Jaehwan mengerti, ia mengangguk dan memberi mereka jarak. "Well, okay. Tapi aku ingin bersamamu sekarang". Hongbin mengangguk dan Jaehwan menemaninya berjalan pulang ke rumah.

"Umm, bagaimana kabarmu hyung?" Tanya Hongbin yang memecah kesunyian.

"Kau lihat? Aku baik-baik saja. Oh! Hakyeon hyung dan Ravi mengajariku dengan sangat baik! Ah! Mereka kirim salam untukmu."

Hongbin tersenyum dan mengangguk.

"Umm, dan Hyukkie… maksudku, Hyuk.. dia juga baik"

Hongbin merapatkan bibirnya dengan kuat, kedua tangannya mengepal di sisinya. "Baguslah"

"umm… aku tau apa yang terjadi Binnie. Sepertinya dia merasa sangat bersalah, hanya saja.. ia masih tidak berani untuk bertemu langsung padamu"

Hongbin tidak menjawab, Jaehwan melirik sekilas ke adiknya itu.

"Okayy… sorry sorry.. kita ganti topik okay? Ummm.. Oh! Aku dengar Leo akan pulang malam ini!"

Hongbin tiba-tiba berhenti dan menatap hyungnya dengan wajah gembira.

"S-serius hyung!"

"Yup!" jawab Jaehwan dengan senyum terbaiknya. Mereka berhenti di depan rumah Hongbin dan saling bertatapan. Jaehwan berdehem sambil menunduk, "Aku rasa…. Kita akan berpisah?" Jaehwan mengintip dari balik bulu matanya yang panjang.

"Aku akan merindukanmu hyung."

Jaehwan tersenyum pada adik tersayangnya itu, "Aku juga Binnie. Hyung loves you"

Jaehwan melambaikan tangannya pada Hongbin, dan Hongbin menatapnya pergi. Hongbin tersenyum kecil lalu berbalik menuju pintu rumahnya.

"Oh hello Bin!"

Senyum Hongbin melebar saat ia melihat sosok Kakeknya yang sedang duduk santai di sofa mereka. Ia langsung berlari memeluk Kakeknya dan mencium kedua pipinya.

"Kakek! Kau kembali!"

Sang Kakek tertawa melihat reaksi Hongbin yang riang itu, ia mengacak rambut Hongbin dengan pelan dan menyuruhnya duduk di sampingnya. Hongbin mulai berceloteh mengenai hari-hairnya yang terdengar menyedihkan, bahkan ia tidak sengaja mengatakan kalau ia baru saja bertemu dengan Jaehwan.

"Jaehwan?" Kakeknya menatapnya dengan tatapan serius, dahinya berkerut dan bibirnya tertutup dengan rapat.

Hongbin menggaruk tengkuknya dan menghindari tatapan Kakeknya itu, "Umm, i-iya.. tapi dia buru-burur tadi dan tidak sempat mengunjungi kita. Dan… oh! Dia bilang dia merindukanmu Kek!" Hongbin memasang senyum palsu, berharap kalau Kakeknya percaya padanya. Hongbin merasa tidak nyaman oleh tatapan Kakeknya itu dan ia menggigit bibirnya mencari alasan untuk pergi ke kamarnya.

"Umm, Kek.. Aku.. uh.. lelah. Kita akan bertemu besok, Kek. Aku senang kau pulang Kek, good night" Hongbin segera menuju kamarnya dan mengunci kamarnya. Ia menghela nafas lega sambil mengusap dadanya. Ia segera membersihkan diri, dan bersiap untuk tidur.

Hongbin berjalan ke arah jendelanya, ia menutup jendelanya yang terbuka dan tatapannya tertarik pada sesuatu yang berkilau dari sudut matanya. Ia menoleh ke arah yang berkilauan itu, dan ia melihat… cincin pemberian Leo. Hongbin memiringkan kepalanya sambil mengingat jika ia pernah meletakkan cincin itu di meja belajarnya. Dengan pikiran yang masih kacau, ia mengambil cincin itu dan memperhatikannya dengan serius.

Hongbin merasa pandangannya mulai berputar, atau mungkin di sekitarnya yang berputar? Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Hingga ketika ia melihat ke sekelilingnya, semuanya berubah. Ia tidak berada di kamarnya. Ia sedang berada di.. istana. Istana yang megah, dengan langit-langit yang tinggi dan lampu hias yang besar dan megah di tengahnya. Hiasan dinding yang penuh dan terlihat kuno. Beberapa tiang yang besar di pinggiran ruangan itu dan patung yang kuno. Semuanya terlihat… kuno. Hongbin menatap tangan kanannya yang masih memegang cincin dengan permata biru itu dan ia melihat ke bawah, ia masih dengan baju tidurnya. Hongbin hampir berteriak dan ia menutup mulutnya, menahan kembali teriakannya.

"Hongbin-ah?"

Hongbin terkejut saat mendengar namanya itu dipanggil. Ia tidak asing dengan suara lembut itu, itu suara Leo. Ia berbalik dan melihat Leo dengan baju bak pangeran, hanya saja.. rambut Leo ditata lebih rapi dan berwarna merah. Sangat kontras dengan mata merahnya yang tajam. Leo menyunggingkan senyum pada Hongbin dan berjalan ke arahnya dengan satu tangan di belakangnya. Bahkan suara langkahnya bergema di ruangan itu. Hongbin menatap ke bawah dan melihat sepatu Leo yang mengkilap dan terlihat mahal.

Hongbin menahan nafasnya saat Leo mulai mendekatinya. Senyum Leo tidak pernah gagal untuk membuat kaki Hongbin bergetar. Hingga ia melihat Leo sepertinya tidak berhenti berjalan saat jarak mereka semakin dekat, dan dekat, dan Leo melewati dirinya. Hongbin shock, Leo baru saja melewati dirinya! Leo baru saja berjalan menembus tubuhnya! Tidak mungkin!, pikirnya.

Hongbin segera berbalik saat mendengar cekikikan yang pelan itu, tapi ia tidak salah dengar lagi, itu adalah suaranya!? Hongbin lebih shock. Ia melihat dirinya! Dirinya! Ia melihat Leo membungkuk di depan Hongbin yang lain itu dan mengajaknya berdansa. Hongbin yang lain itu terlihat lebih rapi dengan pakaian yang hampir sama mewahnya dengan Leo. Hongbin yang lain itu membalas salam hormatnya dan meletakkan tangannya di atas tangan Leo. Dan mereka berdansa di ruangan yang lebar dan kosong itu.

Hongbin mengikuti arah langkah mereka dengan wajah shock dan memperhatikan wajah keduanya secara bergantian. Kedua orang itu hanyut pada tatapan masing-masing, hingga Leo memulai pembicaraan.

"Sungguh kehormatan untuk bisa berdansa denganmu, Pangeran Hongbin"

Hongbin yang disebut itu tersenyum manis pada Leo sambil memiringkan kepalanya sedikit, "Aku juga, yang Mulia"

Leo menggigit bibirnya menahan tawanya, "Hentikan formalitas ini, Binnie"

"Well, kau yang memulai nya Leo!"

Leo tertawa pelan, dan sungguh Hongbin merindukan suara tawa Leo.

"Hmm, mereka benar. Kau lebih tampan dari Gongchan!"

Leo kembali tertawa, kini ia menjatuhkan kepalanya ke belakang. "Apa dia… pasanganmu?"

Hongbin segera menggeleng, "Oh tidak! Tapi aku dengar dia sangat ingin menikahiku"

Leo menggeram marah dan menatap Hongbin dengan mata merahnya, "Never! Kau akan menjadi milikku untuk selamanya! Ayahmu telah berjanji dengan mendiang ayahku! Dan aku akan segera menjadikanmu pasanganku nanti! Setelah penobatanku menjadi Raja!"

"Kau yakin, kau akan menikahiku?"

"Aku sangat yakin. Aku sudah jatuh hati saat pertama kali aku melihatmu. Aku sungguh beruntung kalau orang tua kita berteman!"

Hongbin yang lain itu tersenyum sambil mengangguk, dan mereka kembali berdansa.

Hingga tiba-tiba, keadaan sekitar terasa berputar dan berubah. Dan kini Hongbin berada di suatu hutan yang gelap dan mengerikan. Tapi Hongbin memberanikan diri saat ia mendengar suara erangan dirinya dan Leo. Ia mengikuti suara-suara itu dan sembunyi di balik pohon besar. Ia sadar kalau ia sedang berada di dimensi lain, dan ia tidak tau apakah Leo dan seseorang yang mirip dengannya itu bisa melihatnya atau tidak, jadi ia lebih baik bersembunyi. Ia tidak menyangka kalau ia sedang melihat dirinya atau mungkin bukan dirinya, dengan Leo sedang bercinta di tengah hutan yang gelap di malam hari. Tapi ia mendengarkan suara nafas mereka yang memburu, dan diikuti keheningan. Hongbin mengintip dengan hati-hati.

"Cantik!" ujar Hongbin yang sedang bersandar di bahu Leo sambil memainkan jemari Leo yang memakai sebuah cincin.

"Ini akan menjadi milikmu nanti, setelah kita menikah."

"Aww, tidak bisakah aku memilikinya sekarang?"

"Hongbin? tidak sayang, ini adalah cincin kerajaan. Aku akan segera memberikanmu nanti setelah kita menikah"

"Well, kapan kau akan menikahiku?"

"Soon baby"

Hongbin yang bersama Leo itu segera cemberut dan melipat tangannya. "Kau selalu menundanya. Bagaimana kalau suatu saat nanti aku ….. aku pergi… untuk selamanya?"

"Apa maksudmu? Kenapa kau mengatakan-"

"Para penyihir itu belum berhenti menyerang kita! Apa kau akan melindungiku? Mereka akan terus menyerang kita hari demi hari. Dan aku mendapat firasat buruk setiap hari. Aku tidak tenang Leo! Kau adalah Raja kan? Bisakah kau melindungi kami? Melindungi ku?" bentak Hongbin sambil berdiri menolak tubuh Leo, taringnya muncul dari mulutnya dan ia menantang Leo dengan geramannya.

"Hongbin? tentu saja aku akan melindungimu! Aku dan yang lainnya akan melindungimu, dan juga penduduk lainnya. Kita akan baik-baik saja" ia menarik Hongbin kembali sambil memeluknya.

Leo menenangkan Hongbin yang sedang marah, "Aku janji, kau akan baik-baik saja. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu sedikit pun."

Hongbin yang dibalik pohon besar itu fokus ke cincin yang dikenakan Leo. Dan ia shock, cincin itu adalah cincin yang dipegangnya saat itu.

Dan tiba-tiba semuanya kembali berputar dan Hongbin sudah berada di kamarnya lagi. Ia melihat ke sekeliling, memastikan kalau ia sudah di kamarnya dan ia melihat jam di dindingnya yang sudah menunjukkan pukul 12 am. Hongbin segera melempar cincin yang terasa terbakar di tangannya itu di meja belajarnya.

'Apa yang terjadi? Apa maksud semua itu tadi?' Pikiran Hongbin kacau.

Dan ia tidak bisa tidur semalaman. Esok harinya, Hongbin pergi bekerja dengan cincin Leo dikantongnya. Ia menunggu Leo untuk menemuinya. Hingga malamnya, di depan rumahnya, ia melihat Leo berdiri di samping pohon besar mereka.

Hongbin berhenti di depan Leo dengan wajah datar.

"Hongbin-ah?"

Hongbin merogoh kantongnya dan menemukan cincin Leo itu. ia menggenggam barang kecil itu dengan erat, lalu ia menyodorkannya ke Leo. Leo menatap genggaman tangan Hongbin yang gemetaran di depannya dengan bingung.

"Aku tidak butuh ini. Ini bukan milikku!" bisik hongbin dengan suara serak. Ia menahan air matanya yang hendak jatuh itu. Hongbin membuka genggamannya dan menyuruh Leo untuk mengambil cincin itu.

"Hongbin?"

Hongbin menghitung didalam hatinya dan dalam hitungan ke lima, ia menyampakkan cincin itu ke Leo. Leo dengan reflex menangkap cincin permata biru itu dan kembali menatap Hongbin dengan bingung.

"Aku tau semuanya! Kau mendekati aku, hanya karena aku mirip dengan … dengan kekasihmu yang dulu kan! Aku tidak pernah ingat kalau aku pernah bersamamu sebelumnya! Kenapa lelaki itu… memiliki wajah dan nama yang sama denganku!" teriaknya dan air matanya jatuh dengan deras di pipinya.

"Hongbin-ah? Apa yang… Bin?"

"Stop! Stop Leo! Aku tau semuanya! Aku telah melihatnya! Kau tidak mencintaiku dengan tulus! Kau hanya mencintaiku karena aku mirip dengan kekasihmu yang dulu itu! yang bernama Hongbin! Aku tau ini gila! Ini memang gila! Aku tidak mengerti bagaimana bisa… aku.. dan…. Dia…. Memiliki wajah dan ugh! Aku membencimu Leo! Aku membencimu!"

Hati Leo sakit mendengar kata-kata itu. Ia tau ia salah, seharusnya ia ceritakan semuanya pada Hongbin tentang masa lalu nya. Dan ia bahkan tidak mengerti juga bagaimana mereka bisa mirip dan memiliki nama yang sama.

"Binnie…"

"Aku bilang berhenti! Aku! membencimu Leo! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Aku benci karena kau telah membohongiku! Dan cincin itu? kau masih belum bisa move on dari Hongbin masa lalu mu kan? Dan kau ingin aku berubah menjadi seperti dia dengan memakai cincin ini? Aku dan dia tidak sama Leo! Dia seorang vampir! Dan aku manusia! Kenapa kau tidak mencarinya saja! Kau dan di-"

"DIA SUDAH MATI! HONGBINKU SUDAH MATI!"

Hongbin terdiam dengan mulut terbuka. Ia melihat taring Leo yang muncul dan geraman Leo yang terdengar menakutkan.

"Dia sudah mati! Aku gagal melindunginya! Para penyihir yang membunuhnya, di hari aku melamarnya! Kalau saja para penyihir itu tidak menyerang kami, mungkin aku sudah bersama dengan Hongbinku. Dan kau! Kau mungkin akan hidup bahagia dengan Hyuk!"

Hongbin mengangkat dagunya lebih tinggi dan menatap leo dengan angkuh, "Yeah! Kau mengacaukan segalanya!"

Leo menatapnya marah dan Hongbin hampir tidak mengenali Leo di depannya.

"Aku akan membalas dendam pada penyihir-penyihir itu Hongbin!"

Hongbin merinding mendengarnya.

"Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu lagi Bin. Aku akan pergi dari hidupmu! Jaga dirimu Bin"

Dan Leo telah berada di depan Hongbin dan mengecup bibirnya pelan. Hongbin menutup matanya yang terasa berat itu.