Leo kembali ke istananya. Ia berdiam diri di kamarnya, sambil meratapi kesedihannya. Ia tidak menyangka kalau hubungannya dengan hongbin akan berakhir seperti itu. Tapi, ini dilakukannya demi keselamatan Hongbin. ia tidak akan gagal melindungi Hongbin kali ini. Hongbin akan selamat, Hongbin akan baik-baik saja. Ini yang terbaik. Tapi ia tidak mengerti bagaimana bisa Hongbin mengetahui tentang masa lalu mereka. Ia menggeleng kepalanya, mencoba membuang pikiran tentang Hongbin. atau Siwon bisa merasakannya.
Kini ia adalah ketua tertinggi dari bangsa vampir mereka. Ia tidak mungkin memiliki hubungan dengan seorang manusia. Atau jika ada yang tau dan melihatnya sedang bersama Hongbin, ia tidak bisa menjamin keselamatan Hongbin setelah itu. Dan ia juga mengetahui kalau Kakek Hongbin adalah seorang penyihir. Tapi ia tidak akan menyerang penyihir itu, karena Hongbin. ia tahu kalau Hongbin betapa menyayangi kakeknya itu. ia sedang merencanakan untuk pergi dari kota kecil itu, dan mencari tempat tinggal yang baru. Hanya saja, ia belum mengutarakan pikirannya itu pada kelompok vampir yang lain, bahkan tidak dengan sahabatnya. Tapi ia tidak sanggup meninggalkan Hongbin. ia masih ingin melihat wajah Hongbin. Ia ingin bersama Hongbin. tapi itu tidak mungkin. Hongbin adalah manusia, bukan vampir, bukan Hongbinnya yang dulu. Leo mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia terus berdiam diri, dengan pandangan kosong ke depan, dan tanpa disadarinya, malam berganti pagi.
Leo mengumpulkan para vampir di rapat berikutnya. Ia memberitahu mereka kalau mereka akan segera meninggalkan kota itu secepatnya. Ia mendengar beberapa protes dari kelompok lain dengan banyak alasan. Kepalanya sakit mendengarnya dan ia membubarkan rapat. Ia memberitahu mereka kalau ia akan memikirkan rencana selanjutnya.
"Hyung? kau… terlihat stress" ujar Ravi sambil menyodorkannya segelas wine. Leo mengambil gelas slim itu dan meneguknya dengan cepat.
"Hmm"
"Kau yakin? Dengan keputusanmu itu?" Tanya Hakyeon yang tiba-tiba sudah ada di samping mereka, dengan Hyuk dan Jaehwan mengikutinya di belakang.
Leo mengangguk.
"Uh, bagaimana dengan… Binnie?" Tanya Jaehwan dengan pelan sambil menggigit bibirnya.
Mendengar itu, sudut mulut Leo berkedut. Ia menunduk, mengambil nafas panjang, lalu pergi meninggalkan teman-temannya itu. ia berdiri di depan jendela besarnya, menatap indahnya bulan malam itu.
"Kau akan meninggalkan Binnie hyung?" Tanya Hyuk dengan nada pelan.
"Dia tidak bisa bersama kita" jawabnya singkat.
Teman-temannya saling berpandangan, dan mendorong Hakyeon untuk bertanya lebih jelas pada Leo.
"Dia akan hidup bahagia, dan aman"
Semuanya terdiam. Hakyeon menatap Ravi dengan penuh simpati, "Kau sangat mencintainya Leo, kami tau itu. kenapa kau tidak mengubahnya saja?"
"Aku…. aku bermaksud untuk menanyakannya tentang hal itu. tapi nampaknya, ia tidak akan mau."
Leo menceritakan pada mereka tentang yang terjadi semalam.
"Oh no! dia mengira kalau kau menganggapnya Hongbinmu yang dulu. Ia mengira kalau kau hanya tertarik dengannya karena wajah mereka yang mirip."
Leo tidak menjawab, tidak pula mengangguk.
"apa kau tidak mengatakan yang sebenarnya Leo?"
Terdengar suara helaan nafas yang berat dari Leo, "Aku membentaknya. Aku mengatakan kalau Hongbin yang lama sudah .. mati" nafasnya tercekat saat ia mengatakan kata terakhir.
"Dan reaksinya?"
Leo menggeleng, "Aku tidak mengerti. Sudahlah, aku sudah menghapus semua memori tentangku. Dia tidak akan pernah mengingatku, atau momen kami. Ia kembali menjadi Hongbin yang dulu, sebelum kami bertemu. "
Leo berjalan ke tempat tidurnya dan berbaring membelakangi teman-temannya itu. Hakyeon mengajak yang lain untuk meninggalkan Leo, tapi Jaehwan masih berdiri diam di tempat.
"Dia tidak membencimu, dia mencintaimu hyung. Aku yakin itu. Dia hanya…. Shock."bisik Jaehwan pada punggung Leo. Tapi Leo mendengarnya dengan jelas.
Hongbin menjalani aktivitasnya seperti biasa, bekerja di swalayan, bercanda dengan kakeknya, bahkan ia berencana untuk melanjutkan sekolahnya di universitas, walau sedikit terlambat. Ia tau kalau hyungnya sedang bekerja di luar kota, Hyuk juga sudah pindah dan tidak ada apa-apa lagi diantara mereka. Semuanya terlihat normal.
Hanya saja terkadang, ia merasa seseorang sedang mengawasinya. Jadi ia menghindari jalanan yang sepi dan gelap. Ia lebih memilih menutup tokonya lebih cepat.
Sayangnya ia malah berjalan di jalanan yang sudah sepi malam itu dan dingin, sangat dingin. Hingga ia menggigil dan suara giginya yang gemertak kuat. langkahnya terhenti ketika ia menabrak seseorang yang tinggi darinya dan ia kaget saat melihat mata orang itu. matanya terlihat sangat hitam.
"Lee Hongbin?"
Hongbin menatap lelaki itu dengan curiga, "Y-yes?"
Lelaki itu tersenyum jahat, dan Hongbin menangkap sebuah kilapan dari gigi orang asing itu. hongbin tersadar kalau itu adalah taring. Hongbin mengejapkan matanya berulang kali, dan taring orang itu hilang.
"K-kau siapa?"
"Changmin. Kau si batu merah itu kan?" tanyanya dengan senyum jahat yang masih di wajahnya.
"B-batu merah? Apa-?" Changmin menatapnya dengan wajah sangar dan mata merahnya dan membuat Hongbin segera berlari menjauhinya. Hongbin tidak menoleh ke belakangnya, ia tidak tau apa Changmin mengikutinya atau tidak. Hingga ia berusaha membuka pintu rumahnya dan menguncinya dan ia terjatuh di lantai dengan nafas yang terengah-engah.
"Hongbin? itu kau? Kau baik-baik saja?" Kakeknya yang mengenakan apron pink menatapnya dengan curiga.
"Y-yeah.. t-tadi, a-ada.. ah ah di-dia mengerikan" Hongbin memejam matanya sambil menggeleng kepalanya. Kakeknya mengerti maksud Hongbin dan ia menarik hongbin ke sofa sambil menenangkannya.
"sudahlah, tidak akan ada yang menyakitimu binnie."
Hongbin berharap ia bisa mempercayai perkataan kakeknya itu.
Siwon berdiri di depan pintu depan istana dengan senyum nakal di wajahnya. Malam itu angin bertiup dengan sangat kencang di sekitarnya. Leo yang mengetahui kedatangan Siwon yang secara tiba-tiba itu segera berlari keluar dan menghadap Siwon.
Leo membungkuk memberi salam pada mantan ketua nya itu.
"Tuan Siwon, apa yang membawamu kemari di malam yang dingin ini?" Tanya Leo dengan nada sopan.
Siwon tersenyum, menampilkan gigi-gigi taringnya yang berkilauan di gelapnya malam.
"Kita akan menang."
Lalu Changmin segera berdiri di samping Siwon sambil memberi hormat pada keduanya.
"Ya, kami menemukannya"
Wajah Leo terlihat bingung untuk sesaat, lalu ia teringat mengenai batu merah yang mereka diskusikan waktu itu. Alis Leo terangkat dan ia ikut tersenyum.
"Itu berarti, kami tidak akan pergi meninggalkan kota ini? Kau bekerja dengan sangat baik Changmin"
Siwon dan Changmin mengangguk pelan. "Kita hanya tinggal membunuh orang ini dan kita akan aman. "
Leo mengangguk, "jadi batu itu ada pada tubuh seseorang? Penyihir?"
Changmin menggeleng, "Aku rasa tidak. Dia hanya manusia biasa, dia lemah. Kita akan dengan mudah membunuhnya."
Siwon mengusap dagu mulusnya dengan dahi berkerut, "Aku rasa tidak semudah itu. Batu itu memiliki efek pada kita. Batu itu melindunginya dari serangan kita. Kita tidak dapat menyakitinya."
"Pasti ada cara untuk memusnahkan batu itu" gumam Changmin lalu mereka bertiga hening memikirkan rencana selanjutnya.
Siwon mengibaskan tangannya, "sudahlah, kita akan membicarakan ini besok pagi. Sekarang, Changmin! Bisakah kau tunjukkan dimana si batu merah itu?"
Changmin tersenyum dengan bangga dan ia memimpin jalan menuju rumah Hongbin.
Leo memiliki firasat buruk tentang ini. Ia terus menggigit bibirnya saat mereka melalui jalan yang sering ia lalui dulu. Jalan ke rumah Hongbin. Ia terus berdoa kalau yang dimaksud Changmin "si batu merah" itu adalah Hongbin. sayangnya, Changmin menunjuk rumah Hongbin.
Leo shock. Ia mengepal kedua tangannya dengan sangat kuat dan menggeram sambil memandang Changmin.
"Leo?" Siwon memanggil Leo dengan suara dalamnya dan Leo tersadar kalau ia baru saja memandang geram pada Changmin.
Siwon mencium sesuatu yang janggal dari sikap Leo itu, ia menatap Leo dengan curiga, "Kau kenal dengan pemilik rumah ini?"
Leo membuang muka, ia mendengus marah dan berbalik hendak pergi.
"Kau mengenalnya, ya kan?" Siwon memancing amarah Leo, dan ia bisa membaca pikiran Leo dengan baik. Ia tau kalau Leo mengenal "si batu merah" itu dengan baik. Ia melihat kedua tangan Leo yang gemetaran penuh amarah di kedua sisinya.
"Apa dia temanmu? Atau…. Kekasihmu?"
Cukup sudah kesabaran Leo, ia berbalik dan menatap mereka dengan wajah marahnya. Taringnya keluar dan ia menggeram.
"Jangan sentuh dia!"
Siwon dan Changmin tersentak dan menatap Leo dengan curiga. "Kenapa Leo? Dia harus dimusnahkan! Batu merah itu ada pada-"
"AKU BILANG JANGAN SENTUH DIA! JANGAN MACAM-MACAM PADANYA! AKU KETUA KALIAN! AKU YANG BERHAK MENGAMBIL KEPUTUSAN!" Bentak Leo dan dengan sekejap ia menghilang.
"Tuan?" bisik Changmin yang menatap Leo pergi.
Siwon menahannya, "Beri dia waktu, kita akan memastikannya untuk membunuh "si batu merah" itu. bagaimanapun, anak manusia itu harus dilenyapkan bersama dengan batu itu. batu itu tidak akan pernah bisa dipisah dengan tubuh manusia itu."
"Apa kau sudah punya ide untuk membunuhnya tuan?"
Siwon mengangguk
Siwon tersenyum jahat, "Lihat saja nanti Changmin, jangan lewatkan pertunjukan yang hebat itu nanti"
