Hongbin sedang berjalan pulang dari lari paginya. Saat itu masih sepi di pagi yang dingin itu. Perasaannya terasa tidak enak, ia merasa seseorang sedang mengintainya. Ia melihat ke sekelilingnya, dan berjalan secepat mungkin. Seseorang dengan tubuh yang tinggi dan bahu yang lebar berdiri di depan Hongbin. mata tajamnya menatap Hongbin dengan wajah datarnya. Hongbin berhenti, ia memberi jarak antara mereka, lelaki di depannya itu terlihat misterius. Tapi entah dari mana perasaan itu muncul, kalau ia merasa sangat familiar dengan wajah lelaki itu. Ia tidak merasa takut.

Hongbin memutuskan untuk mendekati pria itu sambil terus menatap wajahnya.

"Hongbin?" suara pria itu terdengar lembut dan pelan, tatapannya pada Hongbin melembut.

Hongbin memiringkan kepalanya, mencoba mengingat jika ia pernah bertemu atau berkenalan dengan pria ini sebelumnya. Tapi ia tidak bisa mengingat apapun tentang lelaki ini. Herannya, bagaimana ia bisa mengetahui namaku, pikir Hongbin.

"Um, yes?" jawab Hongbin yang masih terlihat bingung.

Pria misterius itu tersenyum pada Hongbin. Ia meraih wajah Hongbin dan mengelus pelan pipi Hongbin. Hongbin sedikit takut saat pria itu mengelus wajahnya, tapi setelah itu ia merasa nyaman. Ia memejam matanya sambil menikmati elusan lembut Leo.

"Jaga dirimu Bin-ah"

"Bagaimana kau tau namaku?" Hongbin membuka matanya dan lelaki dan elusan itu pergi. Hongbin berputar untuk mencari kemana lelaki misterius itu pergi. Ia merasa aneh, ia tidak mendengar suara langkah lelaki itu. Hongbin merinding, ia berpikir mungkin lelaki tadi itu adalah jelmaan. Hongbin segera berlari ke rumahnya dengan terbirit-birit.


Leo berjalan ke ruang rapat yang telah dipenuhi oleh vampir. Semua berdiri dan menunduk padanya, lalu duduk kembali. Siwon duduk di paling depan bersama dengan Changmin dan tetua lainnya, mereka memperhatikan Leo dengan senyum.

"Rakyatku sekalian, teman kita, Changmin, memiliki kabar baik untuk kita" semua wajah vampir terlihat antusias mendengar berita bagus itu. Leo menatap Changmin, "Changmin telah menemukan si batu merah itu"

Semua bersorak gembira sambil bertepuk tangan dengan meriah. Leo mengangkat tangannya memberi sinyal untuk diam.

"Kita harus melenyapkan batu merah itu" wajah Siwon tersenyum dengan lebar saat mendengar pernyataan Leo itu. "Tanpa membunuh atau pun menyakiti si manusia itu" dan senyum lebar itu menghilang dari wajah Siwon. Wajah semua vampir bercampur aduk, antara terlihat marah, kesal, dan bingung.

"Bagaimana caranya? Batu itu tidak bisa berpisah dari tubuh manusia itu!" teriak salah seorang tetua yang duduk di samping Siwon. Siwon menatapnya dengan kesal.

Leo memejam matanya sebentar sambil menarik nafas, "Pasti ada caranya"

Siwon menggeleng kepalanya.

Leo membubarkan rapat, dengan hasil akhir untuk mencari cara memisahkan batu merah itu dari tubuh Hongbin. Tidak ada yang curiga mengapa ia menolak untuk menyakiti atau membunuh "si batu merah" itu, kecuali Siwon dan Changmin, dan juga teman-temannya. Malam itu, Jaehwan menghampirinya. Ia menepuk bahu Leo dari belakang dan menyodorkannya segelas darah hewan. Leo menerimanya sambil menggumam terimakasih.

"Si batu merah itu Hongbin kan?"

Leo meneguk darah itu hingga habis dan ia menggenggam gelas itu dengan kuat. Ia mengangguk pelan.

"Kakek kami adalah penyihir" gumam Jaehwan sambil menatap bulan yang terlihat terang dan besar saat itu.

"sudah kuduga" bisik Leo.

"Kakek pasti yang menanam batu merah itu. ia hanya takut jika sesuatu terjadi pada Hongbin. Dan aku yakin, dia pasti tau tentang hubungan kalian."

Leo terdiam, "bagaimana denganmu? Apa kakekmu tau tentang apa yang terjadi padamu?"

Jaehwan membuang nafas secara dramatis, "Yep! Aku yakin dia pasti tau. Itu sebabnya dia tidak pernah mencari ku"

Keduanya kembali diam, memikirkan masalah masing-masing. Hingga akhirnya Jaehwan yang membuka mulut lagi.

"Apa kau yakin ada cara untuk memisahkan batu itu?"

Leo terdiam, "Pasti ada"

"Well, aku berharap kau benar Leo. Karena aku tidak ingin kalian membunuh adikku"

Leo mengangguk, ia berjanji pada dirinya untuk tidak menyakiti Hongbin.


Siwon dan Changmin sedang memperhatikan rumah Hongbin dari tempat persembunyian mereka. Mereka melihat kamar Hongbin yang diterangi oleh lampu tidurnya. Mereka menunggu hingga lampu itu mati. Hongbin membiarkan jendela kamarnya terbuka seperti biasa. Dan itu memudahkan Siwon dan Changmin untuk masuk.

"Kau yakin ini akan berhasil? Bukannya batu itu akan melindunginya?" bisik Changmin

Siwon tersenyum, "Kita coba saja"

Hongbin yang belum lama tidur, terbangun akibat angin yang tiba-tiba bertiup kencang di kamarnya. Ia membuka matanya dan duduk untuk menutup jendela. Pandangannya tertuju pada dua orang lelaki yang berdiri di kaki tempat tidurnya. Hongbin mengenal wajah salah satu dari mereka, dan ia syok. Hongbin hendak berteriak tapi Changmin dengan cepat berada di samping Hongbin dan menutup mulutnya. Changmin tersenyum jahat pada Hongbin.

"Kau tidak bisa apa-apa sekarang!" changmin menunjukkan taringnya pada Hongbin. Siwon mengeluarkan pisau dari kantong celananya dan mengelusnya dengan jarinya.

"Kau punya kata-kata terakhir?" Tanya Siwon yang mendekati Hongbin. Ia mengarahkan pisau itu pada Hongbin. Changmin menahannya dengan kuat hingga Hongbin merasa tulangnya remuk di genggaman Changmin.

Siwon mengayunkan pisau itu dan tiba-tiba ia terpelanting ke belakang dengan pisaunya yang terjatuh di lantai. Darah hitam mengalir keluar dari mulut dan hidung Siwon. Hongbin duduk lebih tegak dan bersandar di kepala tempat tidurnya sambil memeluk kedua kakinya. Changmin segera berada di samping Siwon dan mereka segera keluar ketika pintu kamar Hongbin terbuka.

"Hongbin-ah!" Kakek Hongbin berlari ke samping Hongbin dan memeluknya. Ia mengelus kepala Hongbin sambil menenangkannya.

"Kakek disini Binnie. Mereka sudah pergi"

"Aku takut Kek" Hongbin masih gemetaran hebat dan air matanya bercucuran deras di pipinya.


Leo menunggu Siwon dan Changmin di gerbang istana dengan wajah marah. Ia melihat Changmin yang membantu Siwon berjalan. Leo segera di depan mereka. Ia mencekik Siwon sambil menatapnya geram.

"Aku bilang jangan sentuh "dia"!"

Siwon tersenyum mengejek, "Kenapa? Dia pantas untuk dibunuh! Dia dan batu itu pantas dilenyapkan!" ia meludah di wajah Leo, Leo segera mencampakkannya ke lantai.

"Aku ketua kalian sekarang! Aku yang berhak menentukan apa rencana kita terhadapnya!" bentak Leo lalu ia berbalik pergi sambil menatap marah pada mereka.

Changmin membantu Siwon berdiri, "Kau baik-baik saja? Apa rencana kita selanjutnya"

"Tenanglah, aku baik-baik saja. Aku punya rencana yang lain. Aku yakin ini pasti berhasil"


one more chapter left :)) xD