Hello guys.. double update yeay! please check previous chapter :))


Pintu kamar itu tertutup. Leo melihat orang tua yang sedang duduk di sofa merahnya dengan tatapan tajam ke Leo.

"Apa maumu?" Tanya Kakek itu dengan dingin.

"Aku yakin kau bisa membaca pikiranku" jawab Leo dengan santai. Ia mengangkat kedua tangannya, "Aku janji tidak akan berbuat macam-macam. Dan aku memegang janjiku"

Kakek Hongbin masih menatapnya dengan tatapan dinginnya, lalu ia berdiri dan berjalan mendekati Leo.

"Kau pikir aku akan setuju begitu saja untuk menarik kembali batu itu? Lalu apa? Kau akan mencuri kembali batu itu dan memusnahkannya? Lalu membawa cucu ku pergi?!"

Leo menatapnya dengan wajah datar, "Tidak. Aku hanya ingin kita berdamai. Aku tidak akan mendekati cucumu lagi. Ia akan aman, aku jamin itu."

"Damai?"

Leo mengangguk, "Aku akan mengajak rakyatku untuk tidak menyerang manusia lagi. Kami akan mencari cara lain untuk menahan rasa lapar kami terhadap darah manusia. Mungkin kau bisa membantu kami?"

Kakek Hongbin mendengus mengejek Leo. "Aku tidak percaya padamu"

Leo diam sesaat, " Aku janji, aku tidak akan mendekati Hongbin lagi. Dan aku akan memastikan rakyatku."

"Kau mencintainya?" alis Kakek itu terangkat "Aku tau apa yang terjadi di masa lalumu. Dan ini adalah sebuah kebetulan"

"Kebetulan" Leo mengangguk setuju, wajahnya menjadi murung mengingat Hongbin. tapi kali ini bukan Hongbin di masa lalunya yang membuatnya sedih, tapi Hongbin yang sekarang. Ia sangat merindukan Hongbin. ia ingin bertemu lagi dengannya, menghabiskan waktu bersamanya seperti biasa. Tapi itu tidak mungkin.

"Hmm, baiklah. Begini saja, aku akan membiarkan batu itu ditubuh cucuku. Dan aku akan memberi tau perjanjian kita ini pada teman-temanku. Tidak akan ada perang lagi di antara kita. Selama kalian tidak menyerang kaum manusia lagi. Kami akan berunding besok untuk mencari cara agar kalian tidak akan haus darah manusia lagi. Dan kau! Kau harus tetap menjauhi Hongbin."

Leo mengangguk dan menunduk memberi hormat, "Aku sangat berhutang budi padamu"

"Aku tau niat baikmu itu. Aku hanya minta kau untuk menjauhi Hongbin. biarkan dia menjalani hidupnya secara normal."

Leo mengangguk, ia memasang wajah sedatar mungkin dan menahan rasa sakit di hatinya itu.


Leo berdiri di ranting pohon yang besar di sebelah jendela kamar Hongbin. Hongbin yang seperti biasa meninggalkan jendelanya terbuka lebar, memberi akses yang mudah bagi Leo untuk melihat Hongbin tidur. Ia akan selalu datang di malam hari hanya untuk melihat Hongbin tidur. Perjanjiannya dengan para penyihir berlangsung lancer dan aman selama beberapa bulan ini. Para penyihir juga telah membuat sebuah ramuan untuk para vampir agar dapat menahan rasa haus akan darah manusia. Bahkan para vampir tidak ada yang protes. Mereka setuju dengan pendapat Leo tentang berdamai dengan penyihir. Hanya saja, Siwon dan Changmin yang sedang menrencanakan sesuatu. Mereka tidak pernah meminum ramuan itu. Mereka menunggu waktu yang tepat untuk melakukan rencana mereka itu.

Hingga malam itu, Leo sedang pergi ke Negara lain untuk menghadiri rapat bersama para tetua lainnya. Siwon dan Changmin sedang mengintai swalayan tempat Hongbin bekerja. Mereka menunggu sampai Hongbin mengunci toko itu. Lalu mereka berdiri tepat di belakang Hongbin.

Hongbin yang sedang bersiul itu pun berbalik dan kaget. Ia mengusap dadanya dan menghela nafas.

"Kalian membuatku kaget! Umm, maaf tuan-tuan, tapi tokonya sudah tutup. Dan aku ingin segera pulang, aku sungguh lelah dan-"

"Hongbin" Siwon menatap mata Hongbin.

Hongbin terdiam dan menatap mata Siwon. Ia fokus ke mata Siwon saat itu berubah menjadi merah. Lalu ia merasa aneh. Ia merasa pusing. Hongbin mendesis kesakitan dan memejam matanya. Ia memegang kepalanya, berharap rasa pusing itu berkurang. Ia melihat sesuatu di pikirannya, ia melihat dirinya bersama dengan seorang lelaki yang tinggi dengan bahu lebar. Lelaki itu terlihat familiar, ia yakin pernah bertemu dengannya. Rambut hitam yang panjang sebahu, bibir kecil dan pucat, kulit yang sangat putih, dan sepasang mata yang tajam. Kini Hongbin ingat, ia pernah bertemu dengan lelaki itu beberapa bulan yang lalu, saat ia selesai jogging pagi waktu itu. Tapi… kenapa di penglihatannya itu mereka terlihat sangat dekat? Kepala Hongbin semakin sakit, kini ia jatuh berlutut di tanah sambil meringis kesakitan. Yang dilihatnya itu seperti sebuah memori. Memori pikirannya yang terpendam. Semua memori tentang mereka berputar di pikirannya.

"Le-leo?" bisik Hongbin saat ia mulai mengingat memori itu satu per satu.

"Bagaimana kau bisa melakukannya?" bisik Changmin sambil menatap bengong ke Siwon. Siwon hanya tersenyum sombong.

"Leo! Leo!" Hongbin meneriakkan nama Leo berulang kali. Ia membuka matanya dengan tiba-tiba dan mencari-cari sosok Leo, tapi tidak menemukannya. Hanya ada dua orang asing di depannya. Tidak, bukan orang asing. Ia mengenal mereka. Ia mengenal Changmin dan Siwon. Ia mengingat kalau mereka pernah hampir membunuhnya. Hongbin menahan teriakannya dan berusaha keluar dari perangkap mereka. Tapi Changmin menahannya.

"Tidak! Lepaskan aku! Leo! Leo!"

Siwon tertawa, "kau ingat sekarang? Kau ingat tentang kekasihmu itu? " ejek Siwon.

Hongbin ingin meludahi wajahnya saat itu juga. "Leo akan menghabisimu!"

"Oh? Benarkah? Apa dia akan datang sekarang?"

Hongbin membuang muka. Ia mencoba untuk tidak takut, tapi seluruh tubuhnya gemetaran hebat. Air matanya bahkan hampir keluar.

"Dengar anak muda, aku tidak akan menyakitimu karena aku tidak ingin tersakiti seperti yang lalu."

"Apa maumu!" desis Hongbin yang masih menolak untuk menatap mereka.

"Leo dalam masalah."

Hongbin segera menatap Siwon tidak percaya, "apa?"

"Dia banyak terlibat masalah, mereka akan segera membunuh Leo. Kau pasti tidak tau ya kalau sekarang dia adalah ketua dari kelompok kami. Hanya saja, ia tidak bisa menyelesaikan misinya dan membuat para tetua lainnya marah. Dan ia akan segera dihukum mati, tengah malam nanti. "

"A-aku kira kalian tidak bisa mati" ujar Hongbin dengan nada lemas.

"Immortal juga bisa mati, ada pisau khusus untuk melakukan itu. sudahlah lupakan! Sekarang, apa kau mencintai Leo?"

Hongbin mengangguk dengan semangat, "ya! Ya! Aku sangat mencintainya. Dan… dan… apa yang harus aku lakukan? Tidak bisakah aku membantunya?"

Siwon tersenyum licik.

"Tentu saja bisa"

Hongbin bengong menatapnya.

"Leo membutuhkan batu merah ditubuhmu. Jika batu itu musnah, maka hukuman Leo itu akan batal, dan Leo akan bebas. "

"B-batu me-merah?"

"Yep! Leo dihukum karena gagal memusnahkan batu itu. dan batu itu ada pada dirimu."

Hongbin mengingat dirinya kalau ia tidak memakai perhiasan batu apapun ditubuhnya. Siwon menyunggingkan bibirnya lagi.

"Batu itu ada di dalam dirimu."

Hongbin syok. Ia tidak mengerti kenapa Leo tidak pernah menemuinya dan memintanya mengenai batu merah itu.

"Itu karena batu itu tidak bisa berpisah darimu."

Dan Hongbin semakin mengerti, tentu saja. Leo tidak akan menyakitinya hanya karena ingin mengambil batu itu darinya. Ia tidak suka jika Leo berbohong pada para tetua, ia tidak ingin Leo dihukum.

"D-dan..?"

"Dan batu itu harus .kan!"

Hongbin mencerna kata-kata Siwon itu. itu berarti.. "Itu berarti, aku juga harus … dimusnahkan?" suara Hongbin mulai serak dan bergetar.

Siwon memasang wajah murung dan mengangguk.

Hongbin merasa pusing. Ia ingin menyelamatkan kekasihnya itu, tapi… apa dia rela ? tapi itu demi Leo. Leo bahkan rela mati demi melindunginya. Jadi Hongbin dengan mantap mengangguk.

"Baik. Aku akan memberikan seluruh jiwaku. Kau boleh membunuhku, asal itu bisa membuat hukuman Leo batal. Ayo! Bunuh aku!" Hongbin menarik nafas berkali-kali dan memejam matanya.

Siwon mendecakkan lidahnya, "Bukan seperti itu anak muda. Kau harus membunuh dirimu sendiri. Kami tidak bisa melakukannya. Harus dirimu sendiri."

Itu membuat jantung Hongbin semakin berdegup kencang. Siwon menarik pisau kecil dari kantong celananya dan meletakkannya di telapak tangan hongbin.

"Tepat di jantungmu." Siwon bisa melihat sesuatu yang berkilauan dibalik dada Hongbin dan membuatnya dan Changmin silau.

Tangan Hongbin gemetar hebat, ia bahkan berusaha agar pisau itu tidak jatuh dari tangannya.

"Kau pasti bisa. Demi kekasihmu, Leo"

Hongbin menatap pisau itu dengan mata yang kabur. Air mata yang sejak tadi dibendungnya kini tumpah dengan deras. Ia mencintai Leo, ini dilakukannya demi Leo. Mungkin memang kisah cinta mereka harus berakhir tragis seperti ini.

"Harusnya kau tau dari awal, kalau cinta kalian itu terlarang" gumam Changmin.

Hongbin tidak suka dengan pernyataan Changmin itu, tapi Changmin memang benar. Cinta mereka terlarang.

Hongbin menggenggam dengan kuat gagang pisau itu dan menaikkan tangannya.

'Demi Leo… demi Leo… demi Leo… aku… Leo aku mencintaimu'

Hongbin dengan cepat mengayunkan tangannya tepat ke jantungnya.

"HONGBIN! TIDAK!

Semua terasa begitu cepat. Hongbin terjatuh di tanah. Rasa sakit di dadanya terasa cepat dan sensasi terbakar itu merayap di tubuhnya. Pandangannya ke atas, ia tidak melihat Siwon dan Changmin lagi. Malam yang hitam pekat itu kini terlihat kilatan-kilatan dari berbagai arah. Angin yang tadinya sepoi-sepoi, kini berubah menjadi kuat. bahkan suara petir juga meramaikan suasana. Ia mendengar suara, suara yang amat dirindukannya. Leo.

Tidak, Leo tidak mungkin terdengar sedih. Ini demi Leo.

Hongbin mulai merasa sesak hingga denyut jantungnya melemah dan berhenti. Matanya yang kosong tetap memandang ke atas langit yang kini mencurahkan rintik-rintik hujan.

Leo memukul wajah Siwon berulang kali. Ravi menarik dan menahan tubuhnya dari belakang.

"Hyung! tenang!"

"KAU KEPARAT! APA YANG TELAH KAU LAKUKAN!" teriak Leo pada Siwon. Ia tidak melihat Changmin saat itu, Changmin yang sudah pergi melarikan diri.

"Hyung cukup! Kita harus pergi dari sini! Hakyeon hyung! beritau pada yang lain untuk segera pergi dari kota ini! Cepat!"

Hakyeon yang masih berdiri dengan wajah syok yang menatap Hongbin segera tersadar dan mengangguk, ia segera memberi tau para vampir lainnya melalui pikirannya.

"KAU SIALAN! KAU HARUS MEMBAYAR SEMUA INI!" Leo dengan sekuat tenaga melepaskan diri dari Ravi dan kembali memukuli Siwon. Ravi menariknya kembali dan mencoba menenangkannya.

"Hyung! hentikan! Kau hanya membuang tenagamu saja! Kita harus segera pergi! Penyihir itu pasti sudah tau tentang ini!1 ayo cepat!" ia menarik Leo tapi leo dengan kuat melepaskan dirinya lagi. Ia melihat Hongbin. ia berlari ke arah tubuh hongbin yang sudah tak bernyawa itu. matanya tidak fokus, terlalu banyak air mata yang dibendungnya. Ia berlutut di samping tubuh hongbin dan membenamkan wajahnya ke dada Hongbin. ia menangis terisak dan memanggil nama Hongbin dengan lembut.

Tapi tidak ada jawaban, bahkan suara denyutan jantung Hongbin juga tidak terdengar lagi. Semua sudah terlambat. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat Hongbin. ia melihat pisau yang masih tertancap di dada Hongbin. ia menggenggam tangan dingin Hongbin. ia menggenggamnya dengan erat. Ia menggigit bibirnya untuk menahan isakannya.

"Kenapa kau melakukan ini Binnie? Kenapa kau percaya padanya?" bisiknya sambil sekali lagi membenamkan wajahnya di leher Hongbin. tubuh Hongbin sudah terlanjur dingin. Aliran darah hongbin sudah berhenti. Tidak ada cara lain lagi untuk membawanya kembali. Semua sudah terlambat.

Kini rintikan hujan itu semakin deras. Tubuh dan pakaian mereka basah kuyup. Ia menarik tubuh Hongbin ke pelukannya, mencoba menghangatkan tubuh Hongbin. tapi itu semua tidak ada artinya lagi. Semua sudah terlambat. Leo tidak ingin meninggalkan Hongbin di bawah hujan yang deras ini.

"Aku akan membawamu Binnie. Aku akan membuatmu hangat" bisiknya sambil mengelus wajah Hongbin. ia menutup mata Hongbin dengan lembut dan menggendong tubuh Hongbin.

"Lepaskan dia!" sahut seseorang dari kejauhan. Leo mengenal suara itu, itu Kakek Hongbin. Leo berhenti di tempat dan menunggu sosok itu mendekat.

"Leo hyung?" bisik Ravi dengan nada sedikit takut. Ia berdiri di samping Leo sekarang.

"Pergilah Ravi. pergi bersama yang lain. Aku akan menyusul"

"Tidak!"

"Pergi Ravi!" bentak Leo dan Ravi terpaksa pergi.

"Letakkan Hongbin di tanah!"

Leo tidak mendengarkannya.

"Aku bilang letakkan!"

Leo dengan lembut meletakkan Hongbin kembali ke tanah. Dan tiba-tiba tubuh Hongbin menjauh darinya dan kini Kakek Hongbin mendekatinya. Hanya saja ia tidak sendiri.

"Kau melanggar janjimu!"

Leo hanya diam.

"HYUNG!" Ravi kembali dan menyerang Kakek Hongbin dengan taringnya, tapi kakek Hongbin dengan cepat menangkisnya.

Jaehwan menggantikan Ravi dan ia menyerang kakeknya sendiri, "Hai Kek, maafkan aku Kek!" tapi kakeknya bisa menangkisnya juga. Kini penyihir lainnya ikut menyerang Jaehwan dan Ravi.

Hyuk, Hakyeon dan vampir lainnya ikut berperang. Leo hanya berdiri di depan Kakek Hongbin dengan wajah murung. Leo tidak berniat berperang bersama mereka. Ia membenci perang.

"Kau melanggar janji kita! Kau berbohong!" Kakek Hongbin membaca mantra nya untuk menyerang Leo dan Leo terpelanting ke belakang. Leo terbatuk darah. Ia menatap ke kakek hongbin dengan wajah murung.

"Bunuhlah aku! aku tidak ingin hidup sendiri lagi!"

"Yeah! Keinginanmu akan segera terwujud!" Dan Kakek Hongbin menancapkan pisau khusus yang sudah dibuatnya untuk membunuh vampir.

Leo tidak mendengar jeritan teman-temannya yang lain. Ia tersenyum pada kakek Hongbin, dan memejam matanya ketika ia merasa pisau itu membakar dirinya. Dengan ini, ia tidak akan perlu menunggu Hongbin lagi.


Umm, okay mianhe... ini bukan ending

nextnya nanti yaaa..

gomawoo for reading :))