Yuuri Katsuki, 23 tahun, mendeklarasikan diri sebagai seorang fans Viktor Nikiforov tanpa rasa malu.

Dia tidak akan menyangkal telah mendedikasikan hidupnya untuk mengejar sosok yang begitu dikaguminya tersebut—sosok yang telah berhasil menggeser dunia Yuuri sejak pandangan pertama. Membuatnya mengambil jalan yang kini ditempuhnya.

Dan Yuuri sama sekali tidak malu untuk mengakuinya. Dengan tegas dia akan mengatakan jika segala yang dilakukannya saat ini adalah untuk memperpendek jarak yang membentang di antara dia dan Viktor Nikiforov.

Pertanyaan Yuuri saat ini adalah; Seberapa jauh kah jaraknya dengan Viktor?

Oh, tentu sangat jauh. Karena dia hanyalah salah satu wajah baru yang belum memiliki nama, sementara Viktor adalah seorang idola yang memiliki berjuta-juta penggemar di seluruh dunia, ratusan penghargaan telah diperolehnya, dan mungkin, dia bahkan tak pernah menganggap Yuuri ada (baik sebagai saingan ataupun fans). Lihat, sangat jauh bukan? Begitu tak teraih—

—salah. Salah besar.

Setengah meter. Itulah jarak mereka—realita, bukan sekedar kiasan. Akan tertutup dengan satu uluran tangan. Cukup dekat untuk disebut jarak intim dalam hubungan sosial.

Yuuri merasa kepalanya sakit hingga berpikir pun terasa berat. Benar-benar tak habis pikir mengapa sekarang dia bisa memandang wajah Viktor Nikiforov tanpa terhalang layar televisi, lembar kertas ataupun orang-orang yang biasa rapat mengerumuninya. Mimpi paling liarnya sejak anak-anak menyata—dia masih belum bisa percaya. Seluruh tubuh Yuuri terasa membeku, masih belum terbiasa dengan keberadaan sang idola di sekitarnya (menarik napas dari udara yang sama dengannya).

Dan saat Viktor meraih pinggangnya, menariknya mendekat, membuat dua dada bidang menempel—jarak yang tersisa menghilang.

Yuuri merasa ngeri saat suara lembut seorang pria menyapa telinganya. Membuatnya menggigit bibir bawahnya. "Yuuri, bersiaplah. Karena akan kubuat kau merayuku seperti seorang gigolo."

"A… pa?"

.

…*…

.

Yuri! on Ice belongs to MAPPA Studio, Sayo Yamamoto and Mitsuro Kubo.

Saya tidak mendapat keuntungan material apapun dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: AU, miss typo(s), slash, OOC etc

Happy reading ^^

.

…*…

.

DANCE

Like no one is watching

LOVE

Like you've never been hurt

SING

Like no one is listening

LIVE

Like heaven is on earth

.

…*…

.

23 tahun Mila Babicheva

.

…*…

.

Ada baiknya kita mengambil beberapa langkah mundur sebelum kejadian aneh itu terjadi.

Semua itu dimulai dari hari-hari di mana Yuuri mulai menggunakan Studio Tari Nishigori sebagai markasnya yang baru. Yuuko mempersilakannya menggunakan tempat itu selama tak ada yang memesannya—setengah harga, Yuuko memberikan potongan khusus padanya. Lupa jika dia juga menggunakannya bersama Yuuri.

"Bisnis keluarga dan profesi adalah dua hal yang berbeda," Yuuko menjelaskan sambil tersenyum lebar, mengedipkan sebelah mata pada Yuuri yang sedang membayar sewa.

Kadang, saat malam sudah terlalu larut dan Yuuko sudah terlalu lelah untuk melatih langkah, Yuuri akan mengambil jam lembur untuk berlatih sendiri. Mematikan speaker dan menggantinya dengan headset, memejamkan mata dan membentangkan lengannya, membayangkan sosok wanita dalam kungkungan lengannya, dan dia mulai melangkahkan kakinya.

Musik menghanyutkannya seperti ombak menghanyutkan butiran pasir pantai. Merasakan ketenangan yang ganjil—ketenangan yang disukainya namun sekaligus ditakutinnya—dihormatinya. Membuat langkah kakinya menguat dan senyuman di wajahnya melembut.

Tempo musik berubah cepat. Yuuri melangkahkan kakinya mengikuti irama, melupakan pakem yang selama ini didewakannya. Gerakannya berubah liar, kacau, tak beraturan. Dan Yuuri tersenyum semakin lebar membayangkan ekspresi wajah seperti apa yang akan ditampilkan orang-orang jika dia sampai menari seperti itu di kompetisi.

Tentu mereka tidak akan senang.

Yuuri merasa abai yang kuat menyelimutinya bagaikan pelukan seorang ibu. Hangat menyentuhnya hingga dia mampu mendongakkan kepalanya lebih tinggi lagi, berputar lebih cepat lagi, menari lebih gila lagi. Dia kehilangan ketukan dalam irama tango yang merajai telinganya. Yuuko pasti akan memekik ngeri jika harus berdansa dengan Yuuri yang menari seperti orang gila seperti ini.

Berputar-putar dalam ruangan yang hanya terasa dalam imajinasinya, karena dia enggan membuka mata dan menyudahi sihir ganjil yang saat ini menguasainya. Suatu keberuntungan hebat jika Yuuri tak sampai menabrak dinding cermin.

Dua setengah menit dia menari seperti orang gila. Kakinya terasa terbakar, memaksakan kecepatan setinggi itu setelah sehari penuh berlatih. Tubuhnya terasa berlapis peluh, lengket dengan aroma yang tak enak. Saat musik berangsur-angsur berhenti, Yuuri merasakan kelegaan dan kepuasan besar dalam dirinya. Seolah-olah dia baru saja mengkonsumsi ekstaksi dan delusi yang indah menyerangnya, membuatnya lupa akan dunia.

Tapi, baginya, menari memang ekstasinya.

Yuuri ambruk ke lantai tepat setelah dia membungkuk hormat pada penonton khayalan yang bertepuk tangan meriah. Terengah, menarik napas seperti ikan yang baru saja dijaring nelayan. Mulut membuka dan menutup, membantu kinerja hidung menarik udara ke paru-paru. Musik tango yang berbeda sudah mulai bermain di headset-nya, namun Yuuri sudah kehabisan tenaga.

Membuka mata, berniat untuk mengambil minum, dia menemukan tiga gadis kecil memandangnya dengan mata berkilau dari sudut ruangan. Yuuri sama sekali tak merasakan keberadaan mereka—dia bahkan tak mendengar suara pintu dibuka.

Axel sedang memasukkan sesuatu ke balik pakaian tidurnya, sementara Loop dan Lutz masing-masing membawa setimpuk handuk dan satu botol air minum yang masih penuh.

"Mama meminta kami membawakannya untukmu, Yuuri," Axel menjelaskan sebelum Yuuri sempat bertanya, kedua saudarinya mengangguk membenarkan.

Yuuri tersenyum pada mereka. Gadis-gadis kecil yang luar biasa manis. Dia tak mengerti mengapa Yuuko memberlakukan larangan bagi putri-putrinya untuk masuk ke dalam studio saat mereka berlatih.

"Letakkan saja di atas tasku," Yuuri menunjuk tasnya yang di atasnya terlampir dua handuk yang sudah basah kuyup dan beberapa botol air yang sudah kosong. Dua gadis kecil mengangguk patuh dan berebut berlari menghampiri tas Yuuri di sudut lain ruangan. "Kalian belum tidur? Bukankah ini sudah terlalu larut? Apa kalian tidak akan kena marah?"

"Besok hari Sabtu," Loop menjawab. Menepuk-nepuk handuk yang dibawanya dengan puas saat dia meletakkannya di atas tas. "Papa membiarkan kami tidur lebih malam jika besok tidak sekolah. Mama marah karena itu, tapi dia mengalah."

Yuuri hanya mengangguk saja. Lutz yang hendak meletakkan botol minuman di atas handuk yang dibawa Loop mengurungkan niatnya. Berlari-lari kecil menuju Yuuri yang masih tidak sanggup berdiri di tengah ruangan, menyodorkan air minum itu pada sang penari laki-laki. "Yuuri, sebaiknya kau minum dulu. Kau terlihat benar-benar kelelahan."

Yuuri menerimanya, menggumamkan, "Terima kasih."

"Yuuri," Axel memanggil riang. "Tarianmu tadi liar sekali! Kau bergerak seperti ini, lalu begini dan…" Yuuri meringis melihat langkah-langkah kaki pendek gempal Axel yang berantakan. Bertanya-tanya apakah tadi dia memang menari seperti itu ataukah itu hanya ketidakmampuan si gadis kecil untuk menyarunya, "… itu hebat sekali! Aku tidak pernah melihatmu menari seperti itu sebelumnya!"

Yuuri tertawa pelan. "Benarkah?" Gadis kecil itu mengangguk penuh semangat. "Sayang sekali aku tidak bisa menampilkannya saat kompetisi, bukan?"

"Kenapa?" ketiga gadis itu bertanya nyaris bersamaan. Membuat Yuuri tak yakin harus memandang siapa saat memberikan jawabannya.

"Karena tarian seperti itu tidak akan diterima di kompetisi," singkat dia menjelaskan. Matanya memandang langit-langit ruangan saat dia kembali berbicara. "Menari untuk dirimu sendiri dan menari untuk memenangkan suatu kompetisi adalah dua hal yang sangat berbeda. Kau tak bisa menyatukannya."

"Apa kau tak menyukai tarianmu saat kompetisi, Yuuri?" Lutz bertanya. Mimik wajahnya terlihat sedikit sedih. "Mama bilang pada Papa, tarianmu terasa berbeda sejak kau masuk kategori dewasa. Mama tak pernah mengatakan tarianmu buruk, dan kami juga menganggapnya sangat indah saat kami menontonnya lewat video. Kami sepakat jika kau terlihat seperti seorang pangeran idaman. Tapi, Yuuri, apa kau tidak menikmati tarianmu saat berkompetisi seperti kau menikmati tarianmu sekarang?"

"Yuuri, apa kau dan Mama akan benar-benar berhenti?" Loop menimpali. Alisnya berkerut-kerut dan gadis kecil itu menggigit bibir bawahnya, menahan tangis. "Aku tidak mau kalian berhenti. Aku suka melihat kalian menari. Kalian adalah idolaku…"

Yuuri menepuk kepala gadis yang paling dekat dengannya. Dengan tangan yang lain dia memanggil dua gadis lainnya untuk mendekat. Tersenyum kecil pada mereka, menenangkan. Memandang mereka satu per satu. "Aku suka menari. Dan kurasa, aku tak akan pernah bisa berhenti menari."

Ketiga gadis itu memeluknya bersamaan, menangis dan meneriakkan namanya berkali-kali. Yuuri tertawa, menepuk-nepuk kepala dan punggung kecil manapun yang bisa diraihnya.

Di balik pintu yang setengah terbuka, Yuuko berdiri mematung. Niat hati datang untuk mendobrak pintu dan meneriaki ketiga putrinya yang menghilang dari ranjang bersama dengan handuk dan botol air minum yang akan dibawakannya sendiri pada rekan menarinya. Tersenyum melihat keakraban yang ditunjukkan Yuuri pada putri-putrinya.

Kali ini saja tak masalah, wanita itu berpikir. Memilih untuk melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu.

Sampai-sampai dia lupa jika dia hendak menanyakan lenyap ke mana handphone-nya yang tadi dia letakkan di atas meja.

.

…*…

.

Mila Babicheva baru menyelesaikan pemanasannya saat melihat Viktor Nikiforov hanya duduk sambil menyilangkan kaki di bangku-bangku yang ada di sudut ruangan.

"Hei, Viktor!" Panggilnya sambil mengelap keringat yang menetes di leher jenjangnya dengan handuk. "Yakov akan benar-benar marah denganmu jika kau tidak segera melakukan pemanasan."

Untuk waktu yang sangat langka, Viktor mengabaikannya. Terlalu fokus pada sesuatu yang ada di layar handphone-nya. Mila mengamati bagaimana alis pria muda itu berkerut dan matanya menatap tajam tanpa mengedip. Bibirnya terkunci rapat, sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan ataupun kemarahan. Bahkan untuk Mila, yang hampir menghabiskan enam hari dalam seminggunya bersama dengan pria itu, baru sekali dua kali dia melihat Viktor menampilkan ekspresi seperti itu.

"Kau serius sekali, apa yang sebenarnya sedang kau lihat?" Mendekat dan melingkarkan tangan di punggung rekannya itu, Milla mencoba mengintip. Hanya menemukan seorang pemuda Asia yang sedang menari tanpa diiringi musik. Berdansa tanpa pasangan. Bergerak berputar-putar mengelilingi ruangan seorang diri, bagaikan tengah dilanda ilusi. Mila harus menyipitkan mata dua kali untuk mengenali pola tariannya. "Huh? Posisi dan langkah kakinya itu… standar?" tanyanya pada pria muda.

"Tango. Atau seharusnya, itu tango."

Mila mengernyitkan alis mendengar jawaban itu. Dia memang menguasai lima tari standar—ucapkan terma kasih pada Viktor yang memaksanya berlatih sejak delapan tahun lalu—namun dia sama sekali tidak pernah melihat tango yang begitu… liar (Mila tak yakin harus menyebutnya apa). "Siapa dia?"

"Yuuri Katsuki."

"Siapa?"

"Kau tidak pernah mendengar namanya?"

"Haruskah aku pernah mendengar namanya?"

"Harusnya begitu."

"Baiklah, jadi siapa sebenarnya Yuuri Katsuki ini?"

Viktor tak lagi menjawab gadis itu. Matanya terus menatap layar handphone-nya. Mengamati bagaimana seorang Yuuri Katsuki menari dengan gerak tubuh yang begitu bebas dan tak terikat. Viktor mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk, tampak berpikir keras. Milla sama sekali tak bisa menebak apa yang sebenarnya ada dalam pikiran pria muda itu.

Video itu selesai dalam waktu kurang dari tiga menit. Berakhir dengan sang penari yang jatuh dengan napas terengah-engah.

Viktor mematikan handphone-nya, membuat layarnya menjadi gelap. Memandang Mila yang masih dalam posisi setengah membungkuk di belakangnya. "Mila."

"Hm?" gadis itu menimpali. Tahu jika Viktor akan memberikannya sebuah pertanyaan gila. Sama seperti saat pria itu menyuruhnya berlatih standar atau saat tiba-tiba menyeretnya ke ajang kompetisi ten dance tingkat dunia (sesuatu yang dipikirnya tidak akan pernah dia lakukan). "Jangan lakukan hal gila, Viktor. Aku memperingatkanmu. Yakov akan marah kalau kau berbuat seenaknya lagi." Tapi seringai di wajah gadis itu jelas mengatakan hal yang sebaliknya, dia menunggu ide gila pasangan menarinya itu.

Viktor tersenyum, tahu dia sudah memilih pasangan menari yang paling tepat. Gadis yang akan selalu berada di jalan yang sama dengannya. "Menurutmu, Yakov akan marah tidak jika kita pergi ke Jepang."

"Liburan?" Mila bertanya penuh harap. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali dia berpergian bukan untuk mengikuti perlombaan. Sayangnya kenihilan reaksi dari Viktor sukses membuat impiannya runtuh. "Jadi apa?"

Viktor semakin memperlebar senyumannya. "Menciptakan saingan."

Bahkan jawaban itu ada di batas terluar logika Mila. Gadis itu hanya bisa membuka mulutnya—entah tak percaya atau tak mengerti, "Hah?"

.

…*…

.

Jika besok paginya Yuuri Katsuki terbangun dengan suara handphone yang berkali-kali berdering keras (tanpa mau menoleransi jam tidurnya yang kurang akibat latihan) atau debuman keras dari tangga seolah jalur maraton dipindah ke dalam rumahnya, Yuuri tahu ada sesuatu yang tak beres terjadi.

Sesuatu yang sangat tidak beres.

Apalagi saat pintu kamarnya didobrak dengan paksa sebelum dia bisa menemukan di mana dia meletakkan kacamatanya semalam. Dalam kabur, samar-samar dia melihat Yuuko, Takeshi, dan Minako berjejalan di sana, berusaha saling mendahului untuk masuk.

Ralat, sesuatu yang amat sangat tidak beres—dan sepertinya bukan hal yang baik.

"Maaf!"

"Yuuri-kun, kita dalam masalah!"

"Apa yang sebenarnya kau lakukan, Yuuri?!"

Yuuri nyaris merasa yakin jika minus pada matanya bertambah. Mungkin sosok-sosok setengah kabur yang dilihatnya di pintu sebenarnya adalah kembar tiga keluarga Nishigori yang berisik dan senang bicara dalam waktu yang sama—tidak, ketiga sosok itu terlalu tinggi, terlalu besar dan terlalu familier sebagai orang lain untuk menjadi Axel, Lutz, dan Loop.

Yuuri hanya dapat menimpalinya dengan satu pertanyaan sederhana, "Apa?" Meraba mejanya dan menemukan sesuatu yang terasa persis seperti kacamatanya. "Bukankah ini masih terlalu pagi untuk berteriak-teriak?" di rumah yang bukan rumahmu sendiri, terutama, Yuuri menambahkan dalam hati.

"Ini sudah tengah hari, Yuuri-kun!" Yuuko berdecak kesal. "Sebaiknya kau hentikan kebiasaan tidur malam dan bangun siangmu. Kau tidak akan sampai level senior IV jika terus hidup dengan cara yang begitu serampangan seperti ini."

Yuuri mengenakan kacamatanya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas—sial, sepertinya dia benar-benar kelelahan semalam hingga tidur seperti orang mati. Menoleh pada ketiga tamunya yang sepertinya sudah hendak meluapkan sesuatu, Yuuri mengernyitkan alis. "Apa terjadi sesuatu yang buruk?"

"Bukan sesuatu yang buruk," Yuuko meringis saat mengatakannya, membuat seolah wanita muda itu tak percaya pada kata-katanya sendiri. Sang balerina mencoba untuk mengambil jalan aman saat mengatakan kabar—dengan bertanya. "Apa kau sudah melihat berita-berita di dunia maya pagi ini?"

"Kalian menjebol kamarku bahkan sebelum nyawaku terkumpul untuk menerka situasi. Berita apa yang kalian maksud?"

Ketiga orang itu saling pandang. Mungkin mencoba untuk melemparkan tanggung jawab menjelaskan pada satu sama lain. Minako mengalah, sebagai pihak yang paling tua, mengulurkan handphone yang dari tadi digenggamnya pada Yuuri. Sebuah portal berita sederhana—bukan buatan wartawan profesional, tentu saja—terpampang, lengkap dengan sebuah video yang masih berjalan di bawahnya. Dan Yuuri melihat…

… seseorang…

… sedang menari sendirian…

… dengan cara yang begitu gila dan tak beraturan…

… dirinya sendiri.

Yuuri merasa darah pergi meninggalkan wajahnya. "Apa… yang sudah terjadi?"

Ekspresi di wajah Yuuko berubah menggelap hanya dengan pertanyaan yang terdiri dari empat kata, menggerutu dan menyumpah sambil berkali-kali mengulangi frasa 'anak-anak nakal', 'bocah-bocah bandel', atau semacamnya.

Takeshi meringis pelan, merasa sudah saatnya untuk bicara. Menggaruk kepala dengan ekspresi lucu yang akan dengan senang hati Yuuri lihat lebih lama jika mereka tidak sedang dalam situasi ini. "Anakku merekam dan mengunggah video latihanmu semalam. Yuuko sudah menghapusnya. Tapi sudah terlalu banyak yang melihat dan mengunggahnya ulang sehingga video itu menyebar dengan cepat di kalangan elit tari."

Mendengar kabar itu, Yuuri tahu, sebaiknya dia memang tidur saja seharian itu tanpa perlu terbangun.

.

…*…

.

"Dari yang kudengar Harriet Forsyth, salah satu penari yang berlaga di Senior III, sedang menulis review mengenai cara berlatihmu. Morooka-san juga tidak berhenti menghubungiku sejak semalam untuk meminta keterangan," Takeshi membuka-buka handphone-nya. Mengawasi e-mail, telepon, berita, dan kabar yang masuk dengan seksama. Mungkin memilah mana yang lebih tepat untuk digunakan sebagai artikelnya esok hari. "Video itu berkembang ke arah yang sama sekali tidak bisa aku perkirakan. Dan ini baru 19 jam sejak mereka mempublikasikannya."

Yuuko terlihat masih belum pulih dari perasaan buruknya hari ini. Senyum manis yang biasanya menghiasi wajah kini absen. Hanya ada alis yang berkerut dan bibir yang menipis karena dikatupkan erat-erat yang terlihat. "Lebih parah lagi, karena anak-anak itu mengunggahnya dengan akunku, dunia menganggap kita seolah memang ingin memperlihatkan video itu. Mereka menghubung-hubungkannya dengan kekalahan kita sebelumnya dan menarik kesimpulan yang benar-benar mengesalkan."

"Aku mendengar kabar yang lebih hebat lagi," Minako menyahut. Merapikan rambutnya dengan jari sementara gairah liar terlihat jelas di matanya. "Memang benar jika video itu membawa banyak spekulasi karena situasi publikasinya yang tidak disertai keterangan apapun. Tapi banyak juga yang memuji tarian itu. Beberapa penari senior jelas-jelas mengatakan jika meski tarian tersebut tidak dapat ditampilkan dalam kompetisi, Yuuri jelas memiliki potensi yang lebih dalam dunia tari."

"Tidak bisa kah kita makan malam dengan tenang dan berhenti membicarakan tari?" Mari bertanya. Sedikit sinis. Matanya melirik pada adik laki-lakinya yang duduk meringkuk di sudut ruangan, tidak menyentuh makanannya sama sekali. "Aku muak mendengar pembicaraan berulang ini."

Ketiga tamu itu mencuri pandang pada Yuuri yang terlihat menyerupai mayat hidup. Meringis pelan.

Yuuko mencoba mengubah topik pembicaraan, mencoba mengambil topik yang cukup ringan untuk dilakukan sembari menyantap daging asam manis. "Aku menghukum anak-anak nakal itu untuk mencabuti rumput di halaman belakang rumah karena kenakalannya kali ini." Menoleh dengan wajah mengancam pada Takeshi. "Sudah berapa tahun kau menelantarkan begitu saja kebun bungaku hingga tanaman anyelirku busuk semua?"

Takeshi hanya terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya. Setengah tidak menyangka jika dia yang akan ditumbalkan. "Kau tahu jika pekerjaanku cukup sibuk, bukan?"

"Ah, kau masih sempat mampir ke barku juga. Kau tidak sesibuk itu, Takeshi." Minako menyahut sambil menyuapkan potongan terakhir daging ke mulutnya.

Sekali lagi ketiga tamu itu memandang putra bungsu pemilik rumah. Yuuri terlihat seperti masih terbang di angkasa sana. Tak memedulikan apapun yang ada di sekitarnya. Bahkan makan malamnya pun tak tersentuh sama sekali.

Yuuko terlihat seperti hendak bangkit dari bangkunya dan membentak pemuda itu sambil mengguncang tubuhnya. Takeshi menahan tangan istrinya, menggeleng pelan. Minako mengadu pandangan dengan Mari, tersirat bertanya apa yang harus dilakukan. Sulung keluarga Katsuki mengangkat bahu tak peduli.

"Yuuri," Minako mencoba memanggil.

Pemuda berusia dua puluh tiga itu menoleh singkat. Tersenyum hambar dan bergumam, "Aku tidak apa-apa."

"Kau tidak terlihat seperti 'tidak apa-apa' bagiku."

Yuuri menghela napas panjang, tertawa dengan suara yang begitu menyedihkan. "Hanya sedikit berpikir jika segala sesuatu tidak berjalan baik untukku akhir-akhir ini saja, oke?" Dia mengacak rambutnya pelan. Membuang muka. "Saat segala sesuatu mulai berjalan baik, tiba-tiba semuanya kacau karena sebuah kejadian yang sama sekali tidak terprediksi. Selalu berulang dengan pola yang semakin buruk saja tiap kalinya."

Yuuko berpandangan dengan Takeshi, saling melemparkan tanggung jawab untuk memintakan maaf bagi putri-putri mereka. Yuuko mengalah, menghela napas panjang dan memandang Yuuri tajam. "Yuuri-kun, aku benar-benar menyesal akan apa yang telah dilakukan oleh Axel, Lutz dan Loop. Aku…"

"Tidak, Yuuko-san. Aku tidak menyalahkanmu atau anak-anak—mereka tidak melakukannya dengan niat buruk, aku tahu itu. Aku hanya…" Yuuri mengangkat bahu, tanda jika dia juga tak tahu harus mengatakan apa lagi. "Kau tahu? Mungkin aku hanya sedikit… lelah?"

"Yuuri, mungkin segala sesuatu memang tak berjalan sesuai rencana, tapi itu semua tak selalu berakhir buruk!" Takeshi menyahut. Wajahnya lebih terlihat berang dibandingkan simpati. "Kau juga harus membuka handphone-mu, Gemuk. Lihat apa yang dikatakan orang-orang tentangmu. Tak hanya celaan yang kau dapat, ribuan orang menganggap tarianmu hebat."

Yuuri tersenyum lemah. "Terima kasih, Takeshi-san."

Mari yang sejak tadi sibuk dengan handphone-nya tanpa terlibat dengan pembicaraan mendengus mendengar kata-kata itu. "Kalian terlalu memanjakan bocah itu. Itulah alasan mengapa dia merajuk seperti bayi begini," katanya kasar.

"Mari!" Minako memperingatkan.

Gadis yang rambutnya dicat pirang itu mengangkat alisnya tidak peduli. Menggeser handphone-nya dengan kasar ke arah Yuuri. Berlagak abai. "Baca itu dan renungkan kenapa nasib baik selalu datang padamu."

Yuuri meraih handphone yang dilemparkan sang kakak padanya. Menatap salah satu bagian dari tarinya yang dipajang sebagai foto utama. Orang pasti menyangka Mari sama sekali tidak peduli dengan apa yang menimpa adiknya jika melihat bagaimana ketidakpedulian sikapnya. Yuuri mengernyitkan alis, mengembangkan senyum pelan. Tidak, orang-orang itu salah. Mari masih selalu peduli dengannya, sangat peduli hingga kadang membuat Yuuri merasa sesak. Kepedulian yang ditunjukkannya dengan cara yang sama sekali berbeda dengan orang lain.

Dibacanya judul berita yang tercantum dalam Bahasa Inggris itu. (Dalam hati bertanya-tanya sejak kapan kakaknya menguasainya.)

'Sang Legenda Tari Menemukan Muse-nya'

Yuuri benar-benar tak yakin pada berita yang dibacanya. Menggeser turun halaman tersebut. Di sana, di bawah fotonya yang blur, sepasang penari sedang berpose dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Viktor Nikiforov memeluk pinggang Mila Babicheva lembut dan menggenggam tangannya, gaun sang gadis mengembang dengan keanggunan yang sukses diabadikan dalam kebisuan oleh seorang fotografer jenius.

Yuuri merasa ada jenjang yang begitu lebar di antara dua foto tersebut.

Mari memandangnya, menyuruhnya melanjutkan membaca sebelum pikiran yang aneh-aneh menguasai. Yuuri mengangguk mengerti, matanya melanjutkan membaca baris-baris pertama dalam berita yang ditulis singkat itu.

'Viktor Nikiforov (28) dan Mila Babicheva (23) dikonfirmasi baru saja lepas landas dari bandara Pulkovo, Russia dengan rute penerbangan St Petersburg-Tokyo. Beredar kabar jika kepergian pasangan emas yang berlaga dalam ten dance ini tidak murni liburan dan perayaan setelah kemenangan telak mereka di Moskow bulan sebelumnya. Berdasarkan keterangan di salah satu foto yang diunggah Viktor Nikiforov sebelumnya, 'Siap pergi ke Jepang untuk menemui muse baru—dan oh, sepertinya ada yang perlu diet! Kita lihat seberapa marahnya Yakov nantinya!', beberapa netizen beranggapan jika orang yang hendak ditemui Viktor adalah Yuuri Katsuki (23) yang baru-baru ini mengunggah video yang begitu kontroversial mengenai latihannya.

Hingga saat ini kami belum mendapatkan keterangan resmi dari Yakov Feltsman (70) selaku pelatih sekaligus pemilik klub tempat Viktor dan Mila bergabung. Saat ditanyai perihal kepergian Viktor dan kemungkinan Yuuri Katsuki terlibat di dalamnya, dia hanya berteriak marah dan berkata, "Aku tidak peduli pada apa yang dilakukan oleh orang itu! Dia selalu bersikap seenaknya sendiri!" dan kemudian berlalu tanpa memberikan penjelasan apapun.

Perkembangan lebih lanjut mengenai situasi terkini mengenai Viktor Nikiforov maupun Yuuri Katsuki masih terus dipantau melalui akun-akun media sosial mereka. Apakah sang legenda hidup dunia tari menemukan bakat terpendam dalam diri Yuuri Katsuki seperti yang diperkirakan netizen ataukah ini hanya berita palsu yang tersebar di internet akan segera dikonfirmasi.

Ditulis oleh: Jenya Gomez

Yuuri membulatkan matanya membaca berita itu. Waktu penulisannya belum sampai satu jam lalu. Memandang kakaknya dengan tatapan bertanya. Bergumam, "Itu belum tentu. Dia mungkin hanya akan pergi liburan atau… entahlah, aku tak tahu. Hanya saja, kemungkinan dia datang untuk menemuiku hanya karena sebuah video tidak jelas itu terlalu mustahil."

"Kemungkinannya tidak sampai 0% kan?" Mari mengangkat bahu sementara tiga tamu mereka sibuk berebut kesempatan untuk membaca berita yang sama. Mendecih pelan. "Tapi jangan terlalu berharap. Kau mengesalkan jika sudah masuk mode merajuk menjijikkan itu."

Yuuko menoleh dengannya dengan ekspresi bersemangat sementara Takeshi menghubungi beberapa rekannya, mencoba mendapatkan informasi yang akurat. "Jika memang ini bukan sekedar berita palsu atau cocoklogi asal dunia maya, bukankah itu sangat baik, Yuuri-kun? Bisakah kau bayangkan Viktor Nikiforov datang ke tempat ini? Tempat ini! Dan mungkin dia akan berlatih di studio tariku! Oh Tuhan, jika hari itu benar tiba, aku yakin aku sudah dapat mati bahagia."

"Jangan terlalu berharap." Yuuri menggumam pelan. Mau tidak mau membayangkan Viktor Nikiforov berada di ruangan itu, duduk dan makan daging asam manis menggunakan sumpit—terlalu surealis, mendekati abstrak. "Karena saat harapan tidak jadi nyata, sakitlah yang akan kita peroleh sebagai gantinya."

"Tapi Yuuri-kun," Yuuko menyangkal. "Bermimpi juga bagian dari hidup seseorang."

"Aku sudah berhenti bermimpi saat menyadari jika tidak akan ada satu mimpiku pun yang jadi nyata."

.

…*…

.

"Ngomong-ngomong, Viktor, apa kau tahu di mana tempat kita bisa menemui Yuuri Katsuki yang kau sebut itu?"

"Tidak."

Mila merasa dia sanggup menghancurkan lambung pesawat yang sedang ditumpanginya begitu saja. Menarik napas panjang dan mengendurkan kepalan tangan, menyadari jika dia juga bersalah kali ini. Mengharapkan Viktor Nikiforov yang hidup dengan insting menggunakan logika sama mustahilnya dengan mengharapkan dadanya menciut dalam satu malam. "Kau gila," desahnya lelah. "Kita pergi tanpa persiapan sama sekali. Aku nyaris tidak punya waktu untuk memilah pakaian sementara kau bahkan tak tahu ke mana tepatnya kita harus pergi? Belum lagi resiko kemarahan Yakov."

Viktor tertawa mendengar keluhan partnernya. "Kau tidak perlu cemas akan apapun, Mila. Aku yakin segalanya akan baik-baik saja." Mengerling singkat. "Dan aku juga tahu jika membuat Yakov marah adalah hobimu selain mencari gadis atau pemuda cantik."

"Optimismemu itu nyaris terasa mengerikan, Viktor. Dan percayalah, aku tak akan tertular olehnya." Mila mendecakkan lidah tanda tak suka. Sama sekali tak menyangkal tentang hobi-hobinya—seolah dunia belum tahu saja. "Tapi aku yakin kau selalu punya cara untuk membuat segalanya ada dalam kendalimu, bukan?"

Viktor melambaikan sebuah kertas di hadapan Mila. Gadis itu tak dapat melihat apapun selain beberapa deret angka yang ditulis dengan tinta biru, menyadarinya sebagai nomor telepon internasional. Alisnya yang digambar dengan sempurna mengerut tak mengerti. "Nomor siapa?" tanyanya curiga. "Tidak mungkin Yuuri Katsuki, kan?"

"Bukan, tapi hampir sama baiknya. Ini jemputan kita di Jepang," Viktor menjawab bahagia. Senyum merekah di wajahnya saat dia menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Matanya berkilau dengan rasa ingin tahu yang dalam. "Orang yang akan membawa kita pada sang muse tercinta."

Dan Mila masih tidak bisa mengkategorikan ekspresi dan gestur itu sebagai memesona atau mengerikan.

Sang gadis berambut merah mengendikkan bahunya tak peduli. Menyamankan posisi duduknya dan menjulurkan kaki jenjangnya. Tangan diletakkan di atas kepala sebagai penyangga. "Yah, pastikan saja kita punya tempat menginap tetap. Tidur di jalanan bukan seleraku."

Viktor hanya tertawa menimpalinya. "Aku punya nasib baik. Dan bersamaku, kau pun memilikinya."

.

…*…

.

Yuuri Katsuki bisa saja mati berdiri saat dua hari setelah membaca berita (yang menurutnya hoax dan hanya berupa cocoklogi para pengguna internet yang kadang tak masuk akal) yang ditunjukkan Mari.

Sungguh, jika hanya Morooka yang berdiri di pintu rumahnya, Yuuri bisa dibilang sudah nyaris bosan. Di Amerika pun, wartawan itu cukup sering memencet bel rumahnya—biasanya setelah telepon panjang penuh basa-basi—untuk mewawancarai atau sekedar minum kopi bersama.

Tapi, hari ini sedikit berbeda. Saat pria itu muncul di depan pintu rumahnya di Jepang, tersenyum lebar seperti baru saja mendapat kesempatan untuk bicara dengan Tuhan, sambil membawa dua orang tamu (dan seekor anjing yang nyaris dikenalinya sebagai Vicchan)…

… Yuuri merasa dia akan mati karena serangan jantung yang riwayat penyakitnya tak pernah dia miliki.

Demi apa, dengan wajah pucat kelelahan dan kantung mata hitam menggelanyut di bawah matanya sekalipun, Yuuri jelas masih dapat mengenali pria yang berdiri di belakang Morooka-san. Ya, di manapun dalam situasi apapun dia pasti akan dapat mengenalinya dengan mudah."

Rambut perak itu.

Mata biru pucat itu.

Postur ramping berotot yang menjulang itu.

Yuuri menghapal lekuk tubuh yang terbalut mantel tebal berwarna gelap itu seperti anak-anak menghapal satu tambah satu sama dengan dua. Dengan sekali lihat saja, Yuuri merasa dia perlu mencubit lengannya sendiri hanya untuk memastikan jika ini bukan sekedar khayalan atau mimpi—mimpi yang terlalu indah untuk jadi nyata.

Tapi bahkan saat rasa sakit bersarang di lengannya sekalipun, Yuuri masih tak bisa mengenyahkan wajah tersenyum yang sekarang sedang mengatakan sesuatu pada gadis di sampingnya—gadis modis dengan rambut merah yang ditata sederhana. Anjing berbulu lebat menerjangnya, memanjati celananya dan menjilati lengannya, membuat Yuuri terhuyung nyaris jatuh.

Morooka tertawa melihat reaksinya. "Berhentilah mencubiti lenganmu sendiri, Katsuki-kun. Atau kau bisa saja tidak jadi cukup kuat untuk menopang beban tubuh Yuuko-san lagi saat menari."

Yuuri mengedipkan matanya. Bergumam pada Morooka dengan tatapan yang menandakan jika dia masih belum kembali ke bumi. "Viktor Nikiforov, Mila Babicheva—dan apa anjing ini Makacchin, anjing Viktor saat ini?"

"Terkejut?" Pria itu tertawa keras. Tampak puas melihat ekspresi aneh yang tergambar di wajah Yuuri. "Kupikir kau sudah membaca berita yang beredar di internet."

"Tentu saja sudah, tapi—" Yuuri memandang Viktor yang saat ini balas memandangnya. Tersenyum dan melambaikan tangan seolah mereka adalah teman lama yang saling merindukan, bukan dua orang asing yang belum pernah berinteraksi sebelumnya. "—aku sama sekali tak menyangka jika itu nyata."

"Agak sulit menerimanya, bukan?" Morooka tertawa sekali lagi. Menggaruk kepalanya kelewat bersemangat. "Saat seseorang yang mengaku Viktor Nikiforov meneleponku dan menanyakan mengenai alamat rumahmu di Jepang, aku nyaris saja memakinya dan meneriakinya jika aku tidak akan semudah itu tertipu dengan seorang maniak."

Yuuri hanya bisa bersyukur jika itu tidak benar-benar terjadi.

"Makacchin, berhenti menjilati Yuuri!"

Pemuda itu tersentak merasakan namanya dipanggil dengan logat yang begitu… unik. Anjing yang tadi memanjatinya berlari kembali ke pemiliknya, Viktor Nikiforov menepuk kepala hewan itu, mengatakan sesuatu dalam Bahasa Russia.

"Yuuri," Viktor kembali memanggil namanya. "Yuuri Katsuki."

Pipi Yuuri terasa mendidih saat mengingat jika yang memanggilnya adalah Viktor Nikiforov—hanya dalam mimpi terliarnya Yuuri berani memimpikan Viktor memanggil nama kecilnya seperti itu. Dia tidak berani memandang balik wajah Viktor. Pikiran aneh muncul dalam otaknya. Berpikir jika Viktor bisa saja menguap dan menghilang jika dia memandangnya dengan terlalu frontal.

"Aku ingin bertemu denganmu," kalimat itu diucapkan dengan Bahasa Inggris yang begitu kental dengan logat Rusia. Viktor meraih kedua tangan Yuuri, membawa jari-jemarinya menuju bibir. Mengecupnya pelan tepat di jari manis tangan kanan. Yuuri merinding dibuatnya. "Kau adalah muse-ku. Dan dalam dirimu, aku menemukan sosok yang kuinginkan."

Otaknya berasap. Yuuri merasa dia seperti seekor kuda yang baru saja dicap—panik namun tidak dapat melakukan apapun. Matanya mengerjab tak mengerti, bibir sekali lagi menggumamkan nama, "Vi-Viktor…?"

Mila yang sejak tadi hanya berdiri di belakang dan mengamati, menaikkan alisnya, memutar matanya bosan. "Ayolah, Viktor. Berhenti melakukan basa-basi yang bisa membuat seorang laki-laki hamil karena sikapmu yang kelewat ambigu itu. Kau pikir sudah berapa banyak orang yang salah paham karena itu?" Gadis itu menyilangkan tangannya di depan dada dengan ketangguhan yang jarang dimiliki oleh seorang wanita. "Lagipula, apa susahnya sih, mengatakan 'aku melihat sosok rival ideal dalam dirimu'?"

Yuuri benar-benar kena serangan jantung rasanya.

.

…*…

.

Yuuko adalah orang yang terkena serangan jantung berikutnya.

Kakinya lemas bukan main saat membuka pintu geser ruang utama keluarga Katsuki dan mendapati sepasang mata biru besar berhiaskan maskara entah berapa lapis balas memandangnya. Refleks wanita muda itu berteriak—nyaris serupa dengan teriakan Mari setiap melihat secara langsung pertunjukan idolanya—punggung bersandar pada dinding sementara kakinya merosot tanpa tenaga. Seekor anjing menyambutnya, menjilati pipinya antusias. Yuuko bergumam tak sadar, "Yuuri-kun, maafkan aku. Kurasa aku benar-benar akan mati bahagia saat ini juga."

Mila yang sedang berusaha keras menyantap nasi dengan menggunakan sumpit mengernyitkan alisnya. "Ada apa dengannya? Dia tak apa-apa kan?" tanyanya pada Yuuri dengan logat yang bahkan lebih kental dari seorang Viktor.

"Dia hanya terlalu senang melihatmu," Yuuri tak yakin jika dia bisa memberikan penjelasan yang tepat.

"Penggemarku?" gadis itu bertanya percaya diri. Tampak menyerah berusaha mengambil potongan ikan dengan sumpit dan memutuskan untuk menggunakan tangannya saja. Menjilat jari-jemarinya yang panjang lentik. "Apakah dia juga seorang penari? Aku tak pernah melihatnya di pertandingan standar untuk youth atau under 21—ah, tapi aku juga tak pernah melihat pertandingan standar kecuali Viktor memaksa."

Yuuri ingin menjelaskan jika sebenarnya Yuuko adalah pasangan menarinya, dan wanita itu lebih tua dari Yuuri ataupun Mila. Namun dia mengurungkan niat, toh Yuuko juga sama sekali tidak membantah mendengar kata-kata Mila. Mungkin wanita itu berpikir jika usia dan statusnya tidak terasa sebegitu pentingnya hingga harus dipermasalahkan—Yuuri tak terlalu yakin.

Yuuko sedang sibuk menenangkan dirinya sendiri. Merasa bahagia luar biasa mendapati kabar dari internet kadang benar adanya. Menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dengan suara yang bergetar akibat terlalu senang, dia bertanya pada Yuuri. "Dan bagaimana dengan Viktor Nikiforov. Apa dia juga datang? Apa dia juga berada di tempat ini?" tanya wanita itu bersemangat.

"Dia sedang di onsen," Yuuri bergumam. Entah mengapa dia yakin dia baru saja mengatakan fakta yang salah—walau memang itulah kenyataannya. Viktor dan onsen tidak terasa seperti dua kata yang cocok untuk disandingkan bersama dalam satu kalimat.

Dan dia juga merasa sangat aneh menjadi pihak yang mengantar Viktor masuk ke pemandian terbuka tempat pria Rusia itu bisa menikmati indahnya bulan dengan lebih jelas. Otot-otot liat tepat di depan mata, jari Yuuri gatal ingin merabanya.

Bisakah kau bayangkan bagaimana perasaan Yuuri saat Viktor menarik tangannya dan bertanya dengan wajah polos tanpa dosa, 'Kau tidak ikut mandi bersamaku, Yuuri?'—walau Yuuri juga tahu jika itu hanyalah bagian dari sisi turis Viktor yang ingin membuktikan jika orang Jepang biasa mandi bersama-sama (Yuuri pernah melihat hal-hal seperti ini dari turis mancanegara yang menginap di penginapan kecil yang dikelola keluarganya), tetap saja dia tidak bisa menahan rona muncul di wajah sebelum dia meminta maaf dan kabur.

"Mengapa kau tidak mandi dengannya?" Mila bertanya (Yuuri nyaris tersedak nasi makan malamnya, yakin gadis itu sanggup membaca pikiran). Kepala bermahkota merah miring ke satu arah. Senyum di wajahnya mengumbar teka-teki. "Kurasa dia akan senang sekali jika kau melakukannya."

Yuuri mengembangkan senyum kaku, "Aku biasa mandi setelah makan malam, bukan sebelumnya." Mencoba mencari alasan.

"Aaaah, padahal Viktor sangat bersemangat dengan kemungkinan dia bisa melihatmu telanjang—" Yuuri tersedak nasi yang sedang dimakannya. Yuuko menutup hidungnya dengan tangan—khawatir sisa-sisa hobi lamanya dapat kambuh seketika dan memengaruhi pecahnya pembuluh hidung. "—dia terus-terusan menyebutmu 'babi kecil'. Aku yakin dia ingin segera membuatkan menu diet dan jadwal latihan untukmu."

Yuuko ganti menutup mulutnya, menahan agar tidak tawanya tidak lepas begitu saja. Yuuri menahan napas, berusaha sedikit mengempiskan perutnya yang agak membuncit—menyedihkan memang. "Aku juga sedang diet saat ini."

"Sepertinya tidak terlalu berhasil, bukan?" tajam Mila berkomentar. Senyum lebar masih tak meninggalkan wajahnya. "Yah, tapi kau bisa menari seperti itu dengan tubuh seperti itu juga sebenarnya adalah hal yang cukup mengagumkan."

Yuuri tak yakin dia bisa mengucapkan 'terima kasih' saat ini. Bahkan jika itu memang murni pujian.

"Yah, aku sendiri tak tahu apa yang ada dalam pikiran Viktor sampai rela membuat Yakov mengamuk—ah, dia memang suka membuat Yakov mengamuk sebenarnya—dan pergi melintasi setengah dunia hanya untuk bertemu denganmu." Mila terdiam sejenak, tampak merenungi sesuatu. "Ah, sial. Aku bahkan lupa menanyakan padanya apa yang akan dilakukannya setelah bertemu denganmu!"

Yuuko yang masih duduk di muka pintu memandang Mila dengan tatapan tak mengerti. Bahasa Inggrisnya yang berlogat aneh digunakan. "Jadi, kau sama sekali tidak tahu apa yang akan kalian lakukan di sini?"

"Aku datang hanya untuk liburan—makan, tempat rekreasi, beberapa pria tampan dan jika bisa seorang geisha. Itu dan fakta jika aku mendukung apapun yang dilakukan Viktor untuk membuat Yakov marah." Mila mengangkat bahu tak peduli. "Viktor hanya mengatakan jika dia ingin membuat Yuuri menjadi saingannya, tapi dia tak mengatakan apa yang akan dilakukannya untuk merealisasikan idenya itu."

Pasangan dari Jepang tidak yakin harus berkata apa. Hanya saling pandang dengan tatapan lelah. Sama sekali tak tahu harus menyiagakan diri untuk apa di kemudian hari. Yuuko masih mencoba mengejar informasi dari sang gadis Rusia, "Kau sama sekali tak tahu, Mila? Sedikitpun?"

"Tidak." Gadis itu meletakkan sumpitnya di samping ikan panggang yang dimakannya. Menyerah dengan tata cara makan yang tak biasa dan menggunakan ujung-ujung jarinya untuk mengambil nasi dan ikan. Bergumam menanyakan sendok.

"Dan kau pergi mengikutinya begitu saja?"

"Kenapa tidak? Dia pasanganku. Tetap tinggal di Rusia pun tak ada gunanya. Aku tidak bisa berlatih tanpa pasanganku." Mila mengangkat bahu. "Tapi apapun itu, aku yakin ada hubungannya dengan kebosanan Viktor selama beberapa bulan ini."

"Bosan?" kali ini Yuuri yang melemparkan pertanyaan. Alis tebalnya mengerut ingin tahu. "Bukankah kalian cukup sibuk?" cukup sibuk untuk menang hingga tak sempat merasa bosan.

"Ah ya, tentu kami cukup sibuk. Berlatih, berkompetisi, menang, beberapa pemotretan, mengajar kelas tari, wawancara, kembali berlatih untuk kompetisi yang lain—sibuk yang terlalu menjemukan, bukan?" Mila memutar matanya malas. "Saat kemenangan terlalu biasa didapatkan, sudah sewajarnya jika seseorang ingin mencari rangsangan yang bisa membuat hari-harinya berubah, bukan?"

Yuuri mendapati Mila menatapnya dengan tatapan menilai. Jari telunjuk yang pada kukunya terdapat sebutir nasi terangkat, menunjuk tepat pada wajah. Yuuri menahan napas lagi tanpa sengaja.

"Dan kau adalah rangsangan yang didapatkannya, Yuuri Katsuki."

Yuuri hanya bisa berpikir jika tata bahasa Mila pun tak kalah bermakna gandanya dari Viktor.

.

…*…

.

"Eh? Di mana Yuuri?"

Yuuko yang sedang duduk di atas tatami langsung menutup hidungnya saat merasakan darah berkumpul di sana. Tidak! Tidak! Ini terlalu indah! Terlalu indah sampai dia yakin pembuluh darahnya tidak sanggup berkompromi. Viktor Nikiforov dalam balutan kimono sederhana, rambut yang setengah basah, handuk mengalung di leher untuk menghapus air yang masih menetes. Yuuko merasa dia bisa meraba otot-otot keras yang indah di balik kain tipis itu!

Mila yang dua menit lalu hampir mencomot ikan panggang jatah makan malam Viktor mengangangkat bahunya. "Tidak tahu. Dia pergi sepuluh menit yang lalu tanpa mengatakan apapun."

"Kau tidak mengatakan sesuatu yang aneh-aneh padanya kan?"

"Coba jabarkan padaku apa saja yang dikategorikan sebagai 'sesuatu yang aneh-aneh' itu."

Viktor menghela napas panjang. Duduk di tatami sambil mengeringkan rambutnya. "Ah, sayang sekali. Padahal jika dia pergi mandi bersamaku, aku ingin mengatakan niat kita untuk datang sambil menggunakan pose yang telah kulatih dalam otakku."

"Aku tak tahu pose apa yang kau maksud Viktor, tapi aku sarankan jangan melakukannya." Mila mengangkat bahu sekali lagi. "Yuuri Katsuki terlalu pemalu dan canggung dengan orang baru. Dan jika aku cukup frontal untuk mengatakannya, aku juga akan bilang jika dia pesimistis, rendah diri dan juga peragu—tapi dia punya tekad yang cukup kuat. Aku nyaris tak percaya jika dia adalah orang yang sama dengan penari liar dalam video."

Viktor mengangguk menyetujui mendengar pendapat patnernya. "Yah, sepertinya akan sedikit lebih sulit dibanding yang aku pikirkan. Tapi, ini juga akan menjadi sedikit lebih daripada seharusnya, bukan?"

"Katakan saja begitu. Tapi kau juga belum mengatakan apapun padaku tentang rencana kegiatan kita datang ke Jepang bukan?"

"Oh, belum ya?"

"Belum!" Mila mengurut sisi kiri kepalanya yang berdenyut. Mulai mengerti mengapa salah satu junior mereka di klub sering sekali menjerit dan berteriak emosi tiap kali Viktor melupakan sesuatu. "Kau ini masih 28 tahun. Tapi daya ingatmu bahkan lebih parah dibandingkan dengan Yakov, kau tahu! Kau membuatku mengepak pakaianku dalam tiga jam dan menyeretku ke tempat yang tidak aku tahu tanpa memiliki persiapan apapun. Dan sekarang kau mau bilang kalau kau lupa mengatakan alasannya?!"

"Ah, tapi kau juga pasti lupa untuk bertanya kan?"

"Memang."

Yuuko yang mulai yakin jika keberadaannya diabaikan atau tidak disadari memutuskan untuk menelan kembali segala pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya ada dalam pikiran dua penari ternama itu. Mulai bisa mengamini kata orang di sekitarnya; jenius selalu aneh. Selalu.

Viktor Nikiforov mengembangkan senyum kelewat lebar. Senyum yang tak pernah ditangkap oleh kamera manapun. Mata-matanya setengah terpejam dan memperjelas garis-garis usia yang mendalam di ujungnya. Yuuko mengamati jika Viktor memiliki bentuk bibir yang cukup unik. Tipis dengan lekukan yang dalam. Saat tengah mengembangkan senyum seperti ini, Yuuko nyaris bisa melihat bentuk hati di sana.

"Kita akan melatihnya untuk masuk ke ten dance."

"APA?!" diteriakkan oleh dua suara sopran. Yuuko dan Mila sudah berada dalam posisi setengah berdiri saking terkejutnya.

"Kau pikir bagaimana cara kita menjadikan mereka pasangan kita kalau tidak membuat mereka masuk ke kompetisi yang sama dengan kita?"

Dan Viktor Nikiforov sama sekali tak menduga. Satu kalimat yang diucapkannya itu akan dapat mengubah hidup banyak orang.

.

.

.

"Ngomong-ngomong, gadis kecil ini siapa ya?" Viktor menunjuk Yuuko, matanya masih memandang Mila.

"Penggemarku." Jelas bukan jawaban yang diharapkan.

"Apa dia adik Yuuri Katsuki? Tapi aku tak melihatnya di foto keluarga."

Yuuko mengangkat tangannya. "Maaf, tapi aku pasangan menari Yuuri-kun, namaku Yuuko Nishigori."

Mila langsung membuka handphone-nya. Seingatnya dia menyimpan salah satu video pertandingan Yuuri yang dipaksa Viktor untuk ditontonnya. Memelototi penari wanita yang ada dalam pelukan Yuuri—rambut disanggul tinggi dengan hiasan bunga yang mewah, lipstik merah menyala, dan make up tebal khusus disesuaikan dengan tata pencahayaan landai dansa. Membandingkannya dengan perempuan di hadapannya yang terlihat seperti gadis berusia tidak lebih dari 18 tahun.

"Tunggu, jadi usiamu 25?" Viktor bertanya sedikit ragu.

Yuuko mengembangkan senyumnya. "Dua tahun lebih tua dari Yuuri-kun." Senyum itu berubah menjadi lebih gelap. "Dan aku sudah menikah dan memiliki tiga orang anak."

"APA?!"

Kali ini yang menjerit adalah sopran dan tenor.

.

…TBC…

.

Sudut Tari

(Dipandu oleh Yuuko Nishigori.)

Salam kenal semuanya, aku Yuuko Nishigori. Dan meski peranku terasa tidak terlalu penting dalam kisah ini, sesungguhnya aku masih termasuk dalam empat pemeran utama fanfiksi ini—sekedar info saja, jaga-jaga kalau kalian lupa.

Kali ini aku akan membahas mengenai pengelompokan usia untuk kategori menari. Dalam kompetisi, ada beberapa kategori menari berdasarkan usianya.

Juvenile I: penari berusia 9 tahun atau kurang pada tahun tersebut.

Juvenile II: penari berusia 10 atau 11 tahun pada tahun tersebut. (Video yang diperlihatkan Minako-senpai pada Yuuri-kun di chapter sebelumnya adalah Viktor yang bertanding di kategori ini.)

Junior I: penari berusia 12 atau 13 tahun pada tahun tersebut.

Junior II: penari berusia 14 atau 15 tahun pada tahun tersebut.

Youth: penari berusia 16 atau 17 tahun pada tahun tersebut.

Under 21: penari berusia 16 sampai 20 tahun pada tahun tersebut. (Salah satu junior Mila-chan di Rusia adalah penari latin yang terkenal pada kategori ini dan mendapat predikat jenius!)

Adult: penari berusia 19 tahun atau lebih pada tahun tersebut. (Baik aku dan Yuuri-kun ataupun Viktor-san dan Mila-chan ada di kategori ini.)

Senior I: salah satu partner harus telah berusia 35 tahun dan pasangannya minimal berusia 30 tahun pada tahun tersebut.

Senior II: salah satu partner harus telah berusia 45 tahun dan pasangannya minimal berusia 40 tahun pada tahun tersebut.

Senior III: salah satu partner harus telah berusia 55 tahun dan pasangannya minimal berusia 50 tahun pada tahun tersebut.

Senior IV: salah satu partner harus telah berusia 65 tahun dan pasangannya minimal berusia 60 tahun pada tahun tersebut. Kecuali pada Open Competition. (Yakov Feltsman yang menjadi pelatih Viktor-san dan Mila-chan juga masih bertanding di kategori ini bersama mantan istrinya, lho!)

Mungkin itu saja pelajaran menari kita kali ini. Jadi, jika kalian berkompetisi, ada di kelompok usia mana kalian? (Pst, author kisah ini sudah berada di kategori adult/dewasa lho)

.

…*…

.

A/N:

Halo, terima kasih sudah membaca chapter 2 ini.

Yuuri terasa sangat OOC ya? Terlalu pesimistik? Dan Mila jadi sedikit jahat ya? Tapi entah mengapa aku suka dengan mereka yang seperti itu. Dan malang sekali Viktor ya, gagal ambigu (ups!). Kalau kalian tanya pergi ke mana Yuuri saat Viktor selesai mandi, sebenarnya Yuuri sedang lari karena syok disindir Mila.

Musik tango yang digunakan Yuuri untuk latihan menarinya adalah Dj Maksy - Dance dance - Fall out boy kalian bisa mencarinya di youtube. Dan jika tertarik lagu aslinya yang dinyanyikan oleh Fall Out Boy juga bagus kok.

Pst, bocoran untuk chapter berikutnya. Yurio akan muncul lho.

Mungkin itu saja, mohon kritik dan sarannya ya ^^

Jogjakarta, 1 Maret 2017.

.

Special Story

Viktor dan Kamar Yuuri Katsuki

.

Viktor Nikiforov tahu dia punya daya ingat yang kelewat buruk. Dia sering melupakan janji dan tidak bisa mengingat wajah seseorang dengan cepat—terutama jika dia tak tertarik pada orang itu.

Tapi, dia juga baru tahu jika dia kesulitan mengingat arah juga. Mengira Yuuri akan menjemputnya saat dia selesai mandi, Viktor tidak mengamati rute yang dilalui saat menuju onsen. Dan jika dia kini berada di depan ruangan sebuah pintu kayu—bukan kertas—dia tahu pasti jika dia tidak menemukan ruang utama.

Diketuknya pintu kayu, lupa bagaimana cara berkata 'halo' dalam Bahasa Jepang. Tak ada jawaban. Dia membuka pintu itu, mengintip, mencari seseorang yang bisa ditanyainya jalan. Tapi yang dia temui terlalu mengejutkan.

Wajahnya ada di mana-mana. Di dinding, di langit-langit ruangan, di majalah yang tergeltak di atas meja dan kasur. Dan oh, apa kostum yang terpajang di dinding itu adalah replika salah satu kostumnya di masa lalu? Tunggu, buku bersampul yang ada di rak itu jika tidak salah adalah salah satu biografinya bukan?

"Wow," Viktor tak tahu harus berkomentar apa lagi. Tanpa sadar kakinya melangkah masuk ke ruangan tersebut, memandang isinya yang penuh dengan—dirinya sendiri. Viktor mengamati poster-poster lamanya di sana. Tersenyum.

Matanya menangkap beberapa foto yang dipajang di meja—di samping foto dirinya yang diambil dari internet dan dicetak. Foto anak laki-laki berpipi tembam dan seorang gadis yang lebih tinggi dengan senyum ramah ada di sana, memegang piala murah. Di sampingnya foto pemuda berambut gelap yang sepertinya diambil secara diam-diam dipajang, ada tulisan 'Good luck, Yuuri Katsuki!' dengan gambar hati besar di sudut yang ditulis dengan tinta merah—hadiah dari penggemar. Dan sebuah foto dengan bingkai yang lebih besar berisi seorang wanita gempal dan pria berkacamata berwajah ramah—orangtua Yuuri yang ditemuinya siang tadi. Di sisi-sisi mereka ada seorang gadis berambut pirang dan pemuda berkacamata yang tersenyum tipis.

Foto keluarga yang bahagia, Viktor berpikir sambil mengangkat bingkai foto itu.

"Yuuri." Suara seorang wanita terdengar di luar, Viktor tidak bisa menangkap sisa kalimatnya yang diucapkan dalam Bahasa Jepang. Wanita muda berambut pirang masuk dari pintu, tersentak melihat bukan adiknya yang ada di sana. "Oh, Viktor…"

Viktor tersenyum padanya. "Aku tersesat." Berdoa semoga kakak Yuuri juga dapat berbahasa Inggris.

"Kau berada di lantai yang salah. Ruang utama ada di bawah." Bahasa Inggris yang sedikit tersendat, tapi cukup lancar.

"Apa ini kamar Yuuri?"

Marry, Merry, Mari—Viktor tak yakin bagaimana sebenarnya penulisan nama wanita itu—memandang poster-poster yang menempel di seluruh kamar. "Ini membuatmu terganggu?"

"Tidak juga. Aku senang. Yuuri bersikap dingin padaku. Kupikir dia membenciku."

"Dia hanya malu."

"Setelah melihat ini aku tahu…" Viktor menoleh pada sulung keluarga Katsuki, matanya berkilau penuh semangat. "… ini adalah sesuatu yang orang Jepang sebut sebagai 'otaku' bukan? Yuuri adalah 'otaku'-ku, bukan?"

Mari tak yakin harus bereaksi seperti apa. Menghela napas dan bergumam. "Tangga ada di sebelah kanan, turun dan ikuti lorong, cari pintu kertas yang paling lebar, itu ruang utama."

Viktor meletakkan kembali foto yang dilihatnya. Berkata 'Arigatou' dengan logat yang sangat Rusia.

Saat melewati Mari, dia mendengar gadis itu berbisik padanya. "Berpura-pura lah kau tak pernah masuk ke ruangan ini. Terutama pada Yuuri."

Viktor tersenyum. "Tentu saja. Aku tak mau dia lebih malu lagi padaku lebih dari ini."

.

Viktor dan Kamar Yuuri Katsuki End

.