ABOUT LAST NIGHT

"Ah... Reo, apa yang harus kulakukan..." [Name] bergumam sambil menyenderkan kepalanya di meja. Di depannya, Mibuchi Reo duduk dengan tenang, mengamati kukunya sebelum melihat ke belakang.

"Tidak seburuk itu kan, [Nickname]-chan?" tanya Mibuchi khawatir, walaupun sweatdrop bisa dilihat di belakang kepalanya.

"Aku pernah merasa lebih baik dari sekarang, Reo!" [Name] melihat Mibuchi dan berteriak dengan keras, menghiraukan pertanyaan yang diberikan oleh temannya tadi. Dia benar-benar kacau saat ini, bahkan dia tidak memperhatikan tatapan yang diberikan orang-orang di sekitarnya (karena biasanya [Name] langsung balik menatap mereka dengan tajam). Bagaimana tidak? Setelah pembicaraan dengan Makoto yang membuatnya kesal kemarin, dia akhirnya menelpon orang tuanya yang sekarang sedang ada di luar kota untuk pekerjaan.

Tidak seperti itu penting karena sejak awal [Name] tinggal sendiri di apartemennya, tapi yang menjadi masalah adalah berita yang diberikan oleh kedua orang tua yang selalu santai itu.


"Hah... tapi itu benar-benar seperti mereka, melakukan sesuatu tanpa memberitahuku..." [Name] bergumam sebelum memencet nomor milik orang tuanyalebih tepatnya ibunya. Menunggu beberapa saat, dia kembali melihat komik shojo-nya sampai terdengar suara dari ponsel.

"Ah, [Name]! Senang kamu menelpon!" Terdengar suara senang milik ibunya.

"Oka-san, berita apa yang belum Oka-san beritahukan ke aku?" [Name] bertanya dengan sedikit khawatir. Sampai Makoto menelponnya seperti itu dengan senang, dia tidak bisa membayangkan berita macam apa yang akan diberitahukan oleh ibunya. Dan [Name] bahkan tidak ingin mengingat tentang berita terakhir saat ibunya memutuskan kalau [Name] harus belajar untuk mandiri dan membelikannya apartemen di Kyoto, dan membuatnya bersekolah di SMA Rakuzan.

Ah, tunggu. Dia baru saja mengingatnya.

"Gghh..." [Name] bergumam dengan kesal sambil memegang kepalanya.

"[Name]?" Suara ibunya kembali membuat [Name] sadar, dan akhirnya dia kembali melupakan masalah tadi, lebih fokus pada masalah yang akan disampaikan oleh orang tuanya yang santai itu. "Kamu masih ada disana?"

"Maaf, aku masih ada disini." jawab [Name] sambil memijat dahinya. "Jadi?"

"Ah, itu benar!" Sudah dia katakan, orang tua yang santai. "Kamu pastinya masih ingat dengan Makoto-kun benar?" Ibunya bertanya dengan nada senang, sama sekali tidak tahu tentang pengalaman yang dialami [Name] beberapa menit yang lalu. Tapi [Name] memutuskan untuk melupakan itu, dan kembali bertanya.

"Memangnya ada apa dengan Makoto?"

"Setelah memikirkannya dengan keras—"Tidak mungkin. "—aku dan ayahmu memutuskan untuk membuat kalian bertunangan! Bukankah itu hal yang bagus? Kalian sudah berteman sejak kecil dan ini akan memperlancar bisnis, jadi kami pikir hubungan kalian akan baik-baik saja..."

Sisa perkataan ibunya tidak bisa didengar, karena [Name] sudah menjatuhkan ponselnya ke lantai, mulutnya terbuka dengan lebar dan matanya terbelak saat dia berusaha memproses berita mengejutkan itu. Hanya dua kata yang bisa dia pahami saat ini; Makoto... dan bertunangan. Dia menggumamkan kata-kata yang tidak jelas, masih belum memproses berita tadi sampai beberapa menit berikutnya, dimana dia berteriak,

"HAH!?"


"Hanamiya Makoto, kamu tahu? Hanamiya Makoto!" [Name] kembali menundukkan kepalanya ke meja. "Bahkan kamu lebih baik daripada dia, Reo! Mengesampingkan sifatmu yang seperti itu... Ya, kamu benar-benar lebih baik daripada laki-laki sialan yang tidak sopan dan kasar itu!"

"Aku bahkan tidak tahu apa aku harus mengambil itu sebagai pujian atau ejekan."

"Itu pujian, kuberitahu!" [Name] berkata dengan percaya diri, sebelum kembali menundukkan kepalanya untuk kesekian kalinya. "Tapi serius, bagaimana menurutmu tentang ini, Reo?"

"Walaupun kamu bilang begitu, [Nickname]-chan..." Mibuchi tidak menyelesaikan perkataannya dan akhirnya hanya menghela nafas, menopang dagu dengan tangan kanannya sebelum tersenyum kecil. "Daripada kamu depresi seperti sekarang ini, bagaimana kalau kamu pergi keluar? Aku mengingat kalau kamu akan membeli komik shojo baru, benar?"

"Ah, itu benar..." [Name] terlonjak kaget dan langsung berdiri—atau itulah yang seharusnya dia lakukan, tapi dia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, membuat Mibuchi melihatnya dengan bingung.

"[Nickname]-chan?" tanyanya sambil melihat perempuan berambut [hair color] yang terlihat gugup itu.

"...Mungkin... mungkin saja aku sudah menghabiskan uangku untuk bulan ini setelah memborong snack di supermarket dekat apartemenku karena aku mendengar berita yang benar-benar mengejutkan itu?" Mibuchi menatapnya dengan tatapan tidak percaya. "Ahaha..."

"Hah... baiklah kalau begitu. Ayo pergi sekarang, akan kubelikan untukmu." Mibuchi berkata sambil menghela nafas, tahu kalau hanya komik shojo terbaru dan makanan manis saja yang bisa membuat temannya itu senang di saat seperti ini. Kenapa dia tahu? Katakan saja kalau itu adalah bagaimana mereka berdua bertemu dan memutuskan berteman.

"Serius!? Kalau begitu aku mau—"

"Tidak boleh lebih dari 5000 yen."

"..."

"..."

"Re—"

"Tidak boleh lebih dari 5000 yen."

"..."

"..."

"..."

"Tidak. Boleh. Lebih. Dari. 5000. Yen."

"Uh, baik..."