RAKUZAN EMPEROR
"Aku memang berterima kasih, tapi aku tidak pernah mendaftar untuk menemani latihanmu, Reo!" [Name] protes kepada Mibuchi, mereka berdua berjalan ke arah gym yang ada di sekolah.
Setelah membeli beberapa komik dengan harga akhir 4999 yen—[Name] memutuskan untuk menghabiskan uang Mibuchi sampai habis—dan makan di kafe terdekat, Mibuchi menyeret [Name] kembali ke sekolah dan menyuruhnya untuk tetap tinggal sampai latihan basket selesai, walaupun [Name] yakin kalau temannya itu hanya ingin balas dendam.
"Aku sudah menghabiskan uangku untukmu, jadi kamu harus menemaniku latihan, [Nickname]-chan! Lagipula, tidak baik kalau perempuan pulang sendirian!" Mibuchi berkata sambil tersenyum.
"Uh... paling tidak biarkan aku membaca komik yang kubeli..." [Name] bergumam sambil melirik plastik yang dipegang Mibuchi.
"Kamu harus refreshing, [Nickname]-chan! Kamu tidak ingin memikirkan tentang masalahmu lagi kan—ah." Mibuchi menutup mulutnya dengan tangan kanannya setelah sadar kalau dia sudah mengingatkan [Name] yang sekarang punya aura hitam di belakangnya, kepalanya menunduk dengan tidak senang.
"Apa kamu sedang balas dendam? Reo, kamu balas dendam kan?" [Name] bertanya dengan air mata mengalir di wajahnya sambil tersenyum manis. Yah, bukan air mata asli sampai Mibuchi harus panik dan meminta maaf.
Mibuchi tersenyum gugup saat mengingat apa yang bisa dilakukan [Name]. "Ayolah! Aku yakin kamu akan senang saat melihatku main basket!"
"Aku tidak yakin aku akan terhibur dengan beberapa laki-laki berkeringat yang mengejar bola dan memasukkannya ke ring." [Name] bergumam, walaupun akhirnya dia tetap mengikuti Mibuchi masuk ke dalam gym, dimana beberapa laki-laki sudah berganti pakaian dan sedang melakukan pemanasan.
"Kamu telat, Reo."
Mibuchi dan [Name] sama-sama berhenti saat mendengar suara laki-laki yang terdengar memerintah. Akashi Seijuro berdiri di depan mereka dengan tatapan tajam yang diarahkan ke Mibuchi, tapi [Name] yang ada di sebelahnya bisa merasakan tatapan itu dan bahkan berpikir kalau Akashi menatapnya sebentar.
"M-Maaf, Sei-chan! Aku akan segera ganti baju—ah, tunggu saja di atas, [Nickname]-chan!" Mibuchi berkata dengan gugup sebelum berlari menuju ruang loker, meninggalkan [Name] yang gugup dan Akashi yang menatap perempuan berambut [hair color] itu. Saat melihat Akashi untuk sesaat, [Name] bisa mengingat kembali kenapa dia selalu berusaha untuk menghindari laki-laki berambut merah itu—dan dia lupa kalau Akashi ada di tim basket... kesalahan besar yang dibuatnya.
"Orang yang baru saja menentangku dengan keras, sekarang ketakutan dihadapanku saat disentuh. Walaupun aku berpikir akan menarik kalau ada yang berani menentangku, mengejutkannya ini juga menarik." Akashi berkata dengan tenang sambil memojokkan perempuan di hadapannya di dinding, memegang pipi [Name] dan membuat perempuan itu terdiam dengan gugup. Mereka berdua ada di perpustakaan sekolah, dimana hampir tidak ada orang disana dan orang yang masih tinggal disana sebelum hal ini terjadi sudah pergi ketakutan karena Akashi. "Ekspresimu benar-benar memuaskan."
"A-Apa yang kamu mau, Akashi-kun?" [Name] berusaha terlihat kuat, tapi dia gagal saat berbicara dengan nada yang gugup, dan dia juga mengatakannya sambil menunduk, sama sekali tidak melihat Akashi.
"Aku selalu menang, maka dari itu aku selalu benar. Aku selalu ingin memenangkan sesuatu yang menarik, dan tebak apa?" Akashi menyeringai dan menatap [Name] dengan tajam secara bersamaan. "Selamat, [Surname] [Name]. Kamu berhasil mendapatkan perhatianku."
[Name] terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Walaupun begitu, saat melihat ekspresi Akashi, dia yakin kalau dia harus lari sekarang juga dari sana. Tapi dia tidak bisa bergerak karena dia tahu—tidak ada yang bisa lari dari Akashi Seijuro. Dan dia tidak ingin memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Akashi saat itu.
"Kamu tahu, [Name]?" Akashi memegang dagu [Name] dan membuatnya melihat matanya, tersenyum lebar. "Semua properti yang kumiliki harus diberi tanda—agar semua orang tahu kalau hal itu adalah milikku."
[Name] terbelak kaget, tapi sebelum dia bisa mengatakan apapun, Akashi menekan bibirnya dengan paksa ke bibir [Name] dan membuatnya menutup mata. Ciuman yang kasar dan memerintah, sangat khas dengan laki-laki berambut merah itu. Akashi menurunkan tangannya kanannya dan melingkarkannya di pinggang [Name], menariknya lebih dekat dan menekan bibirnya semakin kuat.
Akashi menurunkan tangan kirinya, dan mengeratkan pegangan tangan kanannya yang ada di pinggang [Name]. Dia bisa mendengar rintihan dari [Name] saat dia memegang pahanya dan langsung mengambil kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulut [Name] yang kembali merintih. Bermain dengan lidah perempuan berambut [hair color] itu, Akashi meluncurkan tangan kirinya ke bawah dengan perlahan, membuat [Name] terlonjak dan mengeluarkan air mata.
Reaksi yang memuaskan. Akashi berpikir dalam kepalanya. Tanpa kata-kata, dia kembali menekankan bibirnya untuk terakhir kalinya, dan melepaskan [Name] yang langsung terjatuh ke lantai, wajahnya merah dan nafasnya terengah engah. Air liur dari mulut Akashi memanjang ke perempuan itu sebelum terputus dan jatuh menetes di dekat [Name], dan dia langsung mengusapnya dengan cepat. Akashi menjilat air liur di bibirnya kembali masuk ke mulutnya, sebelum menelannya dan tersenyum kecil.
"Tapi lagi... lebih penting untuk mengingatkan hal itu kalau dia adalah milikku—kamu adalah milikku, [Name]. Dan jangan berani-beraninya mengkhianatiku, atau akan ada hukuman bagimu."
[Name] bisa merasakan dirinya bergetar saat mengingat apa yang dilakukan Akashi kepadanya, dan pikirannya terhenti saat dia kembali mendengar suara Akashi yang terdengar tepat di telinganya.
"Kamu jarang berkunjung kesini, [Name]. Bisa jawab kenapa?" Akashi bertanya, atau lebih tepatnya memerintahkan untuk menjawab.
"A-Ah, itu... Lama tidak b-bertemu, Akashi-kun." [Name] tidak menjawab pertanyaan Akashi dan hanya melihat ke lantai dengan wajah merah, tidak berani untuk melihat laki-laki berambut merah itu tepat di mata. Akashi hanya memberi anggukan sebagai jawaban sebelum dia berjalan menjauh—atau itulah yang diharapkan [Name]. Tapi sayangnya, adik kelasnya itu tidak bergerak dari tempatnya dan [Name] merasa kalau tatapan bisa membunuh, dia pasti sudah menjadi abu.
"Kamu berbeda dari biasanya. Apa ada yang salah?" Akashi bertanya sambil tetap menatap [Name] dengan tajam, membuat perempuan itu terbeku karena gugup.
Aku biasa menatap tajam orang lain dengan tajam saat ditatap orang lain, tapi kalau aku menatap Akashi-kun, sama saja dengan minta mati! [Name] berpikir sebelum menggeleng dan mengangkat wajahnya. "T-Tentu saja tidak ada! A-Apa yang kamu bicarakan, Akashi-kun!?"
Siapa saja... tolong hentikan ini! [Name] berteriak dalam kepalanya dengan hati-hati. Dia berpikir saking tajamnya tatapan Akashi, laki-laki itu bisa melihat pikirannya. Serius, tolong siapa saja! Ini benar-benar canggung—
"Ah, [Name]-chan! Kamu datang melihat kami latihan?" Suara laki-laki yang familiar membuat [Name] mengangkat wajahnya untuk melihat Hayama Kotaro tersenyum senang ke arahnya.
Selamat... [Name] menghela nafas lega saat Akashi berhenti menatapnya dan berjalan pergi.
"[Name]-chan?"
"Terima kasih, Kotaro..." [Name] berkata sambil memegang pundak laki-laki itu. "Aku berhutang nyawa padamu."
"Sama-sama?" jawab Hayama dengan bingung, sebelum tersenyum senang. "Tapi [Name]-chan! Kudengar kamu akan bertunangan dengan seseorang!? Selamat ya!"
Semua orang yang ada di gym terdiam, apalagi saat Akashi mengeluarkan aura hitam yang tidak terlihat. Hayama membeku gugup dan berbalik untuk melihat Akashi yang mulai berjalan kembali ke [Name].
"Apa yang kamu bicarakan, K-Kotaro?" tanya [Name] dengan gugup. Perempuan itu menatap Hayama dengan tajam dan berusaha untuk menyampaikan pesan yang intinya mengatakan "Diamlah!", tapi sepertinya Hayama sama sekali tidak melihatnya dan fokus pada Akashi.
"Apa yang kamu maksud dengan itu, Kotaro?" Akashi bertanya dengan nada dingin.
"Aku mendengarnya di kelas tadi! [Name]-chan meneriakkannya dengan keras!" jelas Hayama dengan sedikit gugup, walaupun dia tetap tersenyum. "Dia bilang, "Aku tidak percaya kalau mereka memutuskan untuk membuatku bertunangan!"" Hayama berusaha menirukan suara [Name]—yang gagal total.
"[Surname] [Name]." Akashi memanggil [Name] dengan nama lengkapnya, dan perempuan itu tahu kalau dia akan menerima sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Ya...?"
"Tunggu aku sampai selesai latihan, aku punya banyak hal yang akan kubicarakan padamu." Akashi berkata dengan singkat sebelum berjalan pergi, membuat [Name] gemetar dengan gugup dan hanya mengangguk sebelum berjalan menuju podium di atas, berusaha menyiapkan diri saat dia kembali mengingat kata-kata Akashi dulu.
"...Dan jangan berani-beraninya mengkhianatiku, atau akan ada hukuman bagimu."
