DECLARATION OF WAR
"Sampai jumpa nanti, Reo." [Name] berkata sambil tersenyum gugup dan melambaikan tangannya ke arah Mibuchi yang terlihat khawatir. Dia berbalik untuk melihat Akashi yang menyilangkan kedua tangannya sambil melihatnya dengan tidak sabar, membuat perempuan berambut [hair color] itu mengeluarkan keringat dingin. "Akashi-kun... lebih baik kita membahas ini besok—"
"Kamu ingin menentangku, [Name]?" Akashi bertanya sambil mengangkat alisnya, dan secara refleks [Name] menggeleng. Akashi menyeringai saat melihat ini, sebelum kembali berwajah serius. "Jadi, apa yang dikatakan oleh Kotaro tadi? Pertunangan? Aku tidak mengingat kalau aku akan bertunangan dengannmu, ataupun memperbolehkanmu bersama dengan orang lain."
"Ah, orang tuaku memutuskan itu..." [Name] berkata dengan gugup.
"Untuk bisnis?" Akashi kembali bertanya, dan [Name] mengangguk pelan. Laki-laki berambut merah itu terus menatap [Name] untuk mencari tahu apakah dia berbohong atau tidak, dan setelah yakin, dia mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.
[Name] terlihat bingung. "Akashi-kun...?"
"Ayah? Aku ingin menanyakan tentang pertunangan. Ya, keluarga [Surname]. Tentu saja. Sampai di rumah nanti." Akashi berkata dengan cepat sebelum menutup ponselnya dan melihat [Name] yang terlihat gugup. "Aku meminta ayah agar mengajukan pertunangan kita berdua kepada orang tuamu. Tidak ada masalah dengan ini?" Akashi bertanya kepada [Name].
"E-Eh?"
"Atau jangan katakan..." Akashi memulai dengan pandangan yang menusuk, membuat perempuan berambut [hair color] itu terlonjak. "Kamu menyukai orang yang akan bertunangan denganmu—Hanamiya Makoto?"
"A-Apa maksudnya itu!?" [Name] bertanya dengan tidak percaya. "A-Aku... dengan Makoto..." [Name] tidak menyelesaikan kalimatnya, dan hal itu membuat Akashi menatapnya dengan tajam.
"Dan bahkan kamu berani memanggilnya dengan nama depan di hadapanku... Sepertinya kamu perlu hukuman, [Name]." Akashi berkata sambil tersenyum lebar, matanya bersinar di tengah gelapnya malam, membuat [Name] berubah pucat.
Tanpa mengatakan apa-apa, Akashi menarik [Name] dan menekankan kedua bibir mereka, dan [Name] merintih saat mengingat tentang apa yang dilakukan laki-laki berambut merah di depannya itu sebelumnya. Berusaha membuat Akashi menjauh, [Name] mendorong kedua bahu laki-laki itu, tapi sayangnya tidak berhasil.
Akashi yang melihat usaha [Name] menyeringai dan mengeraskan tekanan ke bibir perempuan itu, melingkarkan tangan kanannya tepat di bawah dada [Name] dan memegang kedua tangan perempuan itu. Mencari jalan masuk, lidahnya menjilati bibir [Name] yang sekarang mulai kembali merintih. Akashi mengeratkan lingkaran tangannya dan menarik [Name] semakin dekat dengannya, mulai akan memasukkan lidahnya dengan paksa—
"Oh? Apa yang kulihat ini, hm?" Mendengar suara seseorang, Akashi menurunkan penjagaannya dan [Name] langsung melompat menjauh dengan nafas yang terengah-engah, memalingkan wajahnya ke arah asal suara tadi untuk melihat Hanamiya dengan wajah kesal yang sekarang menatap Akashi, kedua laki-laki itu saling bertatapan dengan wajah yang terlihat seperti akan membunuh seseorang.
Tidak peduli akan hal itu, [Name] langsung pergi ke belakang Hanamiya untuk menjauh dari Akashi, membuat laki-laki berambut hitam itu tersenyum seakan menang kepada Akashi yang sekarang menatap [Name] dengan tajam.
"[Name], kembali ke sisiku sekarang ju—"
"Ah? Apa yang kamu katakan?" Hanamiya bertanya kepada Akashi, mengulurkan tangannya di depan [Name]. "Dia tunanganku, kamu tahu? Tunanganku. Dan tampaknya dia tidak ingin bersamamu, "Akashi-sama"." Hanamiya berkata sambil menyeringai.
Akashi menatap Hanamiya dengan tajam. "Dan apa yang membuatmu berpikir kalau dia ingin bersamamu?"
"Seperti yang kamu lihat, dia ada di belakangku sekarang—karena dia sendiri menginginkannya. Berbeda dengan seseorang yang memaksanya untuk melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan." Hanamiya berkata, senyumannya semakin lebar saat melihat Akashi yang terlihat kesal. Dia memegang kedua bahu [Name] yang terlonjak, dan berpindah ke belakang, membuat [Name] ada di antara dirinya dan Akashi. "[Name], kamu lebih memilih untuk bersamaku? Atau dengan laki-laki di depanmu itu?"
[Name] melihat Hanamiya dengan tidak percaya saat mendengar hal itu. Apa dia sudah gila? Kalau dia memilih salah satu dari mereka, yang tidak terpilih pasti akan melakukan sesuatu kepadanya. Dan tidak mungkin dia memilih keduanya—itu sama saja dengan berjalan ke gerbang neraka dengan sendirinya.
"M-Makoto..." [Name] bergumam sebelum langsung bersembunyi di belakang Hanamiya yang sekarang tersenyum lebar ke arah Akashi yang terlihat tidak senang—benar-benar tidak senang. Bahkan kemarahan dewa tidak akan bisa dibandingkan dengan wajah laki-laki berambut merah itu sekarang.
"Dengan begitu, kami pergi sekarang, Akashi-sama." Hanamiya berkata sambil menjulurkan lidahnya, memegang tangan [Name] dan menariknya pergi melewati Akashi yang menatap [Name] dengan tajam—dan [Name] sendiri baru ingat kalau dia bisa bertemu Akashi kapan saja di sekolah.
Aku benar-benar akan habis kali ini... adalah apa yang dipikirkan [Name] sepanjang jalan saat dia ditarik pergi, melupakan fakta kalau sekarang dia bersama dengan Hanamiya yang berwajah seperti sedang merencanakan sesuatu.
