POSSESSIVE

"Yah, benar-benar memuaskan untuk melihat wajah sang Emperor yang seperti itu." Hanamiya berkata sambil tersenyum lebar. "Kamu melakukan kerja yang bagus, [Name]—Agh! Untuk apa itu, hah!?" teriaknya kesal setelah [Name] menendang kakinya dari bawah meja.

Saat ini, mereka berdua sedang berada di sebuah restoran fast food yang ada di dekat Rakuzan. Setelah kejadian barusan, Hanamiya memutuskan untuk membawa [Name] kesana, wajah perempuan berambut [hair color] itu benar-benar pucat dan bahkan dia terlonjak kaget saat Hanamiya memegangnya.

Tapi tentu saja, itu membuat ini semakin menarik... Hanamiya berpikir sambil menyeringai. Mood-nya benar-benar membaik saat dia mendengar kalau [Name] lebih memilih dirinya daripada Akashi. Berbeda dengan laki-laki berambut merah yang selalu menyerang dan memojokkan [Name] itu, Hanamiya memutuskan untuk menunggu perlahan demi perlahan, sampai [Name] akan memilih dirinya. Dan setelah mendengar pilihan perempuan itu tadi, dia mungkin bisa melakukan sesuatu yang memuaskan sebelum kembali ke Tokyo.

"Berhenti mengeluarkan wajah seperti itu, Makoto." [Name] berkata, menatap tajam Hanamiya yang senyumannya semakin lebar sampai [Name] berpikir kalau bibir laki-laki berambut hitam itu akan robek karena terlalu lebar tersenyum.

"Wajah apa yang kamu bicarakan, kira-kira? Bisa kamu jelaskan padaku, [Name]?"

[Name] menghela nafas dan menaruh kepalanya di meja. "Lupakan saja..." gumamnya sambil kembali menghela nafas. Dia tahu, dia tidak akan menang kalau berbicara melawan Hanamiya, dan lebih baik dia menyimpan energi itu untuk di sekolah kalau-kalau dia bertemu dengan Akashi... yang pastinya akan terjadi suatu saat nanti.

"Jadi, bagaimana kamu akan menghadapi si kepala merah itu di sekolah?" Dan Hanamiya selalu tahu apa yang dia pikirkan, apalagi sesuatu yang membuatnya tidak senang.

"Bagaimana aku bisa tahu tentang itu..." gumam [Name] dengan penuh depresi. [Name] semakin memucat saat memikirkan kalau dia pasti akan bertemu Akashi pada hari senin nanti di sekolah, dan walaupun tidak bertemu, Akashi akan mencarinya untuk "menghukumnya". "Ah... kenapa aku mengatakan nama laki-laki sialan yang ada di hadapanku sekarang, tadi...?"

"Kamu sadar kalau aku bisa mendengarmu, [Name]~?" Suara Hanamiya menyadarkan [Name] dari pikirannya, membuatnya melihat wajah Hanamiya yang terlihat terhibur. "Apa seperti Akachibi itu, aku harus menghukummu, hm~?"

[Name] menahan tawanya. "A-Akachibi?"

"Akashi-Chibi." jelas Hanamiya dengan senyuman lebar di wajahnya.

"Pff—ahaha! A-Akashi—ahaha!" [Name] tertawa terbahak-bahak di tengah senyuman lebar Hanamiya, menghiraukan tatapan dari para pelanggan di dalam restoran. "M-Makoto, kamu—ahaha!"

Hanamiya tersenyum untuk sesaat saat dia melihat [Name] yang tertawa. Senyuman senang tanpa motif tersendiri, membuat [Name] berhenti tertawa dan melihatnya dengan mulut melongo. Hanamiya menatap [Name] dengan tatapan bingung, membuat [Name] tersenyum lebar dan berkata,

"Ternyata kamu bisa tersenyum seperti itu, Makoto."

Dan itu membuat Hanamiya berubah merah—tidak. [Name] mengerutkan wajahnya saat Hanamiya kembali menyeringai dengan wajah yang mengatakan aku-tidak-akan-tersipu-semudah-itu, rencanannya gagal total.

"Haha, kamu pikir kamu bisa membuatku tersipu, [Name]?"

"Tch... padahal aku sudah menyiapkan kamera ponselku..." [Name] bergumam kecewa dan kembali menaruh ponselnya ke kantong.


"Hah... sudah lama kita tidak bersantai seperti itu." [Name] berkata sambil melihat Hanamiya dengan senang. "Terima kasih untuk hari ini, Makoto. Terutama saat Akashi-kun... ah, kalau kamu tidak segera pulang, kamu bisa ketinggalan kereta kan? Aku akan mengantarmu—"

"Hm? Apa yang kamu katakan, [Name]? Hari kita masih panjang~"

[Name] terbelak. "Eh?"

Tanpa peringatan apapun, Hanamiya menyeret [Name] ke gang terdekat, membuat mereka berdua tidak terlihat oleh siapapun. Mendekapkan tangannya ke mulut [Name] yang meronta-ronta, Hanamiya menyeringai dengan lebar saat merasakan sesuatu mengigit telapak tangannya.

"Oh, kamu nakal juga, [Name]. Tapi sayangnya itu julukanku—Bad Boy, benar?"

Hanamiya melepaskan tangannya yang menutupi mulut [Name], dan sebelum perempuan itu sempat berkata apa-apa, Hanamiya menciumnya dengan keras. [Name] masih berusaha untuk memberontak, tapi tidak berguna lagi saat Hanamiya mulai menyelipkan tangannya ke dalam seragam sekolahnya, membuatnya merintih dan menutup matanya. Hanamiya yang melihat ini langsung memanfaatkan kesempatannya dan membuat lidahnya masuk ke dalam, menggoda lidah [Name] yang kembali merintih.

[Name] membuat Hanamiya terkejut saat dia akhirnya mengikuti kemauannya, lidah kedua orang itu saling berdansa satu sama lain sampai nafas keduanya hampir habis. [Name] sendiri tidak mengerti kenapa dia melakukannya, tapi pikirannya kembali saat tiba-tiba Hanamiya melepaskan lidahnya dari lidah perempuan berambut [hair color] itu dan mulai menggapai langit-langit mulut [Name]. Hanamiya tahu kalau dia sudah menemukan tempat yang tepat saat tangannya sampai tepat di bawah dada [Name] yang merintih dengan keras.

Oho, jadi disini~? Hanamiya mulai menggerakkan tangannya dengan perlahan di garis dada [Name] yang kembali merintih dan melepaskan ciumannya, menghela nafas terengah-engah dengan air liur menetes dari mulutnya. Hanamiya sendiri mengusap air liur di mulutnya dengan tangannya yang bebas, sebelum menjilati jarinya satu per satu dengan seringai lebar di wajahnya. Sekarang

Hanamiya memegang pipi [Name] dengan lembut, tangannya yang satunya mulai turun dari bawah dada [Name] ke bagian tulang rusuknya, menurunkannya dengan perlahan dan menunggu reaksi dari perempuan itu. [Name] membuka matanya yang berair dan bergumam, "M-Makoto... a-aku tidak bisa melanjutkan—Ugmph!?"

[Name] terbelak saat jari-jari tangan Hanamiya memasuki mulutnya dan memegang lidahnya dengan lembut, sesuatu yang sama sekali bukan seperti laki-laki berambut hitam itu. [Name] merasakan pijatan dari jari Hanamiya yang membuatnya kembali merintih dengan lega, ada sensasi aneh yang dia rasakan saat Hanamiya memijat lidahnya.

"Tidurlah, [Name]."

Semuanya mulai berubah gelap bagi [Name], dan hal terakhir yang dia lihat adalah tangan besar yang diselimuti air liur—


"Akh—!?"

[Name] terlonjak dari kasurnya, dan melihat sekeliling dengan panik. Dia ada di kamarnya sendiri, di apartemennya, dan saat dia melihat ke samping, dia terlonjak saat melihat Hanamiya yang sedang memegang salah satu komiknya. Hanamiya yang sadar kalau perempuan berambut [hair color] itu sudah terbangun, melihatnya dengan seringainya yang khas.

"Sudah bangun, putri tidur?" tanya Hanamiya sambil menutup komiknya dan menaruhnya di meja.

"H-Hanamiya—!?" teriak [Name] panik. "A-Apa yang kamu—uhuk, uhuk!?"

"Kamu pingsan saat kita sedang bicara di restoran, jadi aku membawamu pulang ke apartemenmu." Saat Hanamiya mengatakan inilah [Name] sadar kalau ada handuk basah di pahanya, sepertinya terjatuh saat dia bangun tadi. "Benar-benar, kalau kamu demam seharusnya kamu mengatakannya. Kamu benar-benar berat, kamu tahu itu?"

"Itu bukan—uhuk, uhuk—kalimat yang bisa kamu katakan ke perempuan, bodoh!" [Name] berkata dengan kesal sebelum kembali terbatuk. Dia mulai merasa pusing, dan adalah hal yang baik Hanamiya mendorong kedua bahunya dan membuatnya berbaring di kasurnya kembali.

"Ah... apa demam ini berasal dari si kepala merah itu? Aku akan berbicara dengannya saat kami bertemu lagi lain kali." Hanamiya berkata sambil menyeringai lebar. "Dan untuk membalasnya karena mengambil ciuman pertamamu, tentu saja."

[Name] berubah merah saat mendengar perkataan Hanamiya, dan dia mengingat tentang apa yang dia lakukan dengan Hanamiya—atau itu mimpi? Tapi Hanamiya berkata kalau dia pingsan saat di restoran, jadi tidak mungkin hal itu benar-benar terjadi. Lalu bagaimana dengan inisiatifnya untuk ikut pada saat itu? Itu akan masuk akal kalau dia demam—

"Oi, apa yang kamu pikirkan?" Hanamiya yang mendekatkan wajahnya membuat [Name] terkejut dan langsung menutupi dirinya dengan selimut. Dia bisa mendengar tawa Hanamiya yang keras, dan itu membuatnya berubah semakin merah.

"M-Makoto..."

"Apa?"

"A-Aku... Aku benar-benar pingsan saat kita di restoran kan?" [Name] bertanya dengan suara pelan, mengintip dari balik selimutnya untuk melihat Hanamiya yang tersenyum lebar. "K-Kita tidak melakukan apa-apa kan...?"

"Oh~? Apa mungkin kamu memimpikan melakukan sesuatu denganku, [Name]~"

"T-Tentu saja tidak!" teriak [Name]. Hanamiya yang melihat ini kembali tertawa, membuat [Name] melihatnya dengan kesal. Setelah beberapa saat, akhirnya Hanamiya berhenti tertawa dan mengusap air mata yang menggenang di matanya.

"Kamu akan baik-baik saja sendiri kan?" [Name] mengangguk dengan kencang, sebelum kembali terbatuk. "Kalau begitu, aku akan pulang. Aku sudah membeli bento dari supermarket, jadi sebaiknya kamu makan itu, mengerti?"

[Name] kembali mengangguk dan berkata, "Baik—uhuk, uhuk!"

"Sampai jumpa lain—"

"M-Makoto!"

Hanamiya berhenti berjalan saat [Name] memanggil namanya, dan dia berbalik untuk melihat [Name] yang wajahnya memerah dengan penuh keringat, membuat sebagian rambutnya menempel di wajahnya. Jujur saja, itu membuat Hanamiya ingin melakukan sesuatu padanya.

"Ada apa lagi?"

"...terima kasih." [Name] bergumam sambil melihat Hanamiya yang mengangkat alisnya. "Terima kasih karena mengantarku sampai kesini, bodoh! Aku tidak akan bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Akashi-kun menemukanku..."

"...ingatnya."

"Eh? Kamu mengatakan sesuatu?" tanya [Name] bingung.

Hanamiya menyeringai lebar. "Bukan apa-apa. Kalau begitu, aku menunggu saat dimana kita bisa melakukan hal itu lagi."

"Ah, berbicara bersama lagi? Tentu saja." [Name] tersenyum kecil ke arah Hanamiya. "Aku juga ingin berbicara seperti itu lagi lain kali. Jangan lupa berkunjung kesini lagi, oke?"

"Tentu saja~"

[Name] yang menikmati pembicaraannya dengan Hanamiya sama sekali tidak sadar kalau apa yang dibicarakan oleh laki-laki itu sama sekali berbeda dengan apa yang dipikirkannya. Dan saat melihat Hanamiya untuk terakhir kalinya, entah kenapa [Name] merasa kalau Hanamiya menatapnya dengan tatapan predator dan senyuman sadis yang berbeda dari biasanya—

Yah, mungkin itu hanya imajinasinya saja. Sekarang sebaiknya dia tidur dan berdoa agar demamnya hilang...