CONFRONTATION
[Name] menghela nafas, sebelum mengusap dahinya dengan tangan kanannya. Baru saja pagi hari ini, dia mendapatkan pesan dari orang tuanya tercinta yang usia mentalnya di bawah anak berumur lima tahun. Tebak apa yang mereka katakan?
[Halo [Name] anakku tercinta, ternyata kami juga mendapatkan tawaran untuk menunangkanmu dengan anak dari Perusahaan Akashi! Walau itu akan lebih baik bagi keadaan ekononi kita, kami memutuskan untuk membuat kamu memilih sendiri karena kamu sudah besar. Semangat ya!
Okaa-san Otou-san]
(Memangnya ini apa!? Kalian pikir ini semudah memilih menu apa yang harus kumakan untuk sarapan pagi ini hah!?)
Hanya memberitahu, tapi dia makan roti dengan selai stroberi pagi ini.
Mengesampingkan itu semua, [Name] tidak pernah bisa kagum kepada kedua orang tuanya yang plin-plan dalam rencana mereka. Dia tahu kalau mereka punya usia mental yang jauh lebih muda dari bahkan umurnya sekarang yang masih 17 tahun, tapi paling tidak jangan membuat anakmu memilih antara seorang Hanamiya Makoto dan Akashi Seijuurou!
(A/N: kalau Author sendiri yang memilih, pastinya dia akan memilih dua-duanya. Muahahaha…)
[Name] mengambil tote bag yang dia taruh di lantai, memasang sepatu outdoor yang telah ditentukan sekolah sebelum menggumamkan "Ittekimasu" dan berjalan ke luar apartemennya.
"Ah! [Nickname]-chan, pagi!"
"Oh, Reo ya. Ada apa kamu kesini—R-Reo!?" teriak [Name] kaget. Apa yang dilakukan laki-laki ini di depan apartemennya!? Lebih penting lagi, bagaimana dia bisa tahu alamat rumahnya yang dia rahasiakan dari semua temannya!? Yah, kecuali Makoto, tapi orang tua [Name] sangat percaya dengan laki-laki itu—hah, itu lucu—sampai mereka memberitahu alamat apartemen miliknya ke laki-laki berambut hitam itu.
Sementara [Name] masih dalam pikirannya, Mibuchi menghela nafas sambil menaruh tangan kanannya di pipinya dengan khawatir. Mengetahui sifatnya yang pura-pura berani di luar tapi sebenarnya penakut di dalam, dia tidak bisa membayangkan apa yang akan perempuan berambut [hair color] itu lakukan saat dia tahu maksud kedatangannya kesini…
"Jadi, apa yang kamu perlukan dariku? Dan yang lebih penting lagi, darimana kamu tahu alamatku?" [Name] bertanya dengan penasaran, walau dalam kepalanya dia bisa mendengar suara yang mentertawakannya karena pura-pura tidak tahu. Diamlah kepalaku.
"Ah…ya… Kamu tahu…" Mibuchi tertawa kecil.
"A-Apa?" tanya [Name, dalam hati memohon agar apa yang dia pikirkan bukanlah kenyataan. Tolong aku, siapa saja yang berkuasa di atas sana…
"Yah, Sei-chan bilang—"
BRAK!
"A-Apa yang—[Nickname]-chan! Apa yang kamu lakukan!?" Reo berteriak sambil menggedor-gedor pintu yang ditutup oleh [Name]. Dia mengharapkan perempuan berambut [hair color] itu langsung berlari atau sesuatu, tapi bukan ini! "[Nickname]-chan!"
"Bilang ke Sensei kalau aku sakit! Dan jangan kembali kesini, Reo!" teriak perempuan berambut [hair color] itu dari balik pintu. "Cepat pergi, atau kamu akan terlambat!"
"[Nickname]-chan! Jangan bercanda!"
"Siapa yang bercanda hah!? Aku serius!"
Mibuchi menghela nafas, memijat keningnya yang mulai berdenyut. Tidak ada cara lain, dia harus melakukan ini atau Sei-chan akan membunuhnya.
"[Nickname]-chan… kamu lebih memilih berangkat dan menghadapi Sei-chan bersama-sama…
"Atau membuat Sei-chan datang kesini dan masuk ke dalam apartemenmu?"
"[Nickname]-chan?"
Click!
[Name] keluar dari apartemennya dengan wajah yang tercampur aduk antara takut dan murung, membuat Mibuchi hampir merasa bersalah.
Kata kuncinya—hampir.
"Ayo [Nickname]-chan! Sebentar lagi dan kamu akan membuat kita terlambat!" kata Mibuchi, tersenyum.
"…Reo, serius. Aku tidak ingin berangkat…" gumam [Name] sambil menutupi wajahnya. "Aku tidak mau bertemu lagi dengan Akashi-kun—apa sebaiknya aku pindah ke sekolah lain ya…"
"[Nickname]-chan! Jangan berlebihan," jawab Mibuchi sambil menghela nafas. "Sei-chan tidak melakukan sesuatu yang ekstrem kepadamu kan?"
Oh, kamu tidak tahu sama sekali, Reo. [Name] menatap sahabatnya itu dengan tatapan sedih. Kamu tidak tahu apa-apa.
[Hei, bodoh. Akachibi itu tidak melakukan apa-apa kepadamu kan? Ingat [Name, kamu tunanganku, bukan tunangan udang itu.]
[Name] menahan tawanya saat melihat e-mail dari Hanamiya—jangan tertawa [Name, atau kamu akan dibunuh, atau lebih buruk lagi, ugh. Dia penasaran bagaimana laki-laki itu tidak terintimidasi oleh Akashi—setelah dipikir lagi, itu bukan hal yang mustahil, pikir [Name] dengan senyuman ragu. Makoto memang gila.
Tidak, tidak, [Name]. Perempuan berambut [hair color] itu menampar pipinya dengan pelan. Jangan bilang kamu mulai tertarik dengan laki-laki egois itu. Itu adalah hal terburuk yang bisa terjadi saat ini.
"[Nickname]-chan?" Mibuchi yang tiba-tiba menyapanya membuat [Name] terlonjak, sebelum dia menggigit bibirnya dan berusaha tenang.
"Hm? A-Ada apa Reo?"
"Kamu tersenyum aneh dari tadi…"
"S-Siapa yang tersenyum aneh!? Senyumku itu b-biasa saja! Ya, biasa saja!" [Name] langsung panik dan menutup ponselnya, melihat kanan dan kiri dengan waspada seakan Akashi bisa muncul tiba-tiba di depannya. "Biasa saja…"
Mibuchi melihatnya dengan tatapan kosong. "Aku mengenalmu cukup lama untuk tahu itu bohong," jelas Mibuchi, sebelum dia mencubit kedua pipi [Name] yang memprotes keras sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Mibuchi di pipinya. "Dan kamu perlu belajar berbohong lebih baik, [Nickname]-chan. Poker face-mu buruk sekali…"
"Wehishik, Weo… Hiamhah."
"Anoo… apa [Surname]-senpai ada disini…?"
[Name] melihat ke asal suara, di ambang pintu kelas, terlihat seorang murid laki-laki yang sepertinya anak kelas satu dengan armband yang bertuliskan "OSIS", mulai berjalan ke dalam kelas denhan wajah gugup.
Tunggu dulu, OSIS? Jangan bilang—
"[S-Surname]-senpai… Kaichou ingin m-menemuimu…" gumamnya dengan wajah gugup yang sebanding dengan wajah [Name] sendiri. "K-Katanya, kamu harus segera datang ke r-ruang OSIS sendiri…"
Sendiri.
Ke.
Ruang.
OSIS.
"K-Kalau begitu aku permisi!" anak itu langsung berlari keluar dari kelas.
Selesai sudah hidupku. Okaa-san, Otou-san, tolong maafkan semua dosa-dosaku selama ini. Maaf kalau aku tidak berhasil menjadi anak yang kalian inginkan. Sampai jumpa di alam sana.
"Reo… kamu teman yang baik, terima kasih banyak untuk selama ini," [Name] berkata sambil memegang bahu kanan Mibuchi. "Sampai jumpa."
Mibuchi berwajah khawatir saat melihat wajah pucat [Name]. "[Nickname]-chan..? Kamu baik-baik—"
BRAK!
"[Nickname]-chan!? Hei, jangan pingsan!"
Di dalam ruang kesehatan, Mibuchi Reo duduk di tepi ranjang putih yang ditempati oleh perempuan berambut [hair color] yang masih berbaring disana, terlentang ke arah lain agar tidak melihat Mibuchi.
"[Nickname]-chan, sebaiknya kamu segera ke ruang OSIS atau Sei-chan akan mengamuk…" Mibuchi berkata dengan khawatir. "Lagipula, apa kamu setakut itu dengan Sei-chan…?"
"Reo, Reo," [Name] menggeleng. "Kaptenmu itu adalah personifikasi dari iblis itu sendiri. Kamu pikir hanya aku yang takut dengan Akashi-kun?" [Name] bertanya, berbalik dan menatap Mibuchi dengan tatapan kosong di wajahnya. "Itu bodoh."
"Yah, kamu punya poin disana…"
"Dan juga, aku tidak tertarik dengan anak laki-laki yang tingginya hampir sama denganku," gumamnya sambil menggigit kuku ibu jari kanannya. "Akashi-kun mungkin ketua OSIS, kapten klub, dan semua itu tapi bukan berarti aku harus menyukainya kan…"
"Tapi [Name]-chan, aku merasa kasihan dengan anak yang disuruh Sei-chan tadi…" ucap Reo dengan ekspresi iba. "Pasti Sei-chan marah…"
Geh. "Jangan bicarakan itu, Reo…"
(Kalau yang memanggilnya tadi itu perempuan, apa Akashi-kun juga akan melakukan hal seperti itu kepadanya...?)
[Name] menghela nafas dan menutupi matanya. Dia merasa benar-benar bersalah sekarang. Paling tidak seharusnya dia menolak langsung di hadapan Akashi—
Tidak, tidak. Itu tidak mungkin—mustahil, tidak akan bisa terlaksana. Anak itu harus menerima nasibnya, pasti hari ini dia sedang tidak beruntung. Ya, nasibnya buruk hari ini.
Perempuan berambut [hair color] itu kembali menghela nafas dan bangun dari ranjang ruang kesehatan yang dia tempati. Paling tidak dia harus meminta maaf kepada anak itu—dia bilang dia diutus oleh "Kaichou", jadi ada kemungkinan besar kalau dia adalah anggota OSIS—
"[Name]."
Oh Kami-sama dan segala dewa di luar sana—
Glek. "O-Oh, Sei-chan… Kami baru saja akan pergi menemuimu di ruang—"
"Keluar sekarang, Reo. Aku ingin bicara dengan [Name] sendiri."
Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Mibuchi keluar dari ruangan dengan tatapan khawatir yang diarahkan ke [Name] yang berwajah pucat dan mulai mengeluarkan keringat dingin.
(Semangatlah, [Nickname]-chan…)
"Apa kamu sakit?"
"E-Eh?" [Name] terbelak, memasang wajah bingung saat mendengar pertanyaan dari laki-laki berambut merah di depannya. Akashi terlihat tidak senang karena harus mengulang kata-katanya, tapi sebelum dia bisa mengatakannya lagi, [Name] berkata, "Kamu bertanya apa aku sakit, Akashi-kun?"
"Apa aku harus mengulangnya lagi?" tanya Akashi sambil menajamkan tatapan matanya.
"A-Ah, tidak!" [Name] menggeleng. "Aku hanya terkejut kamu menanyakan sesuatu seperti itu… Dan tidak, aku tidak sakit…"
"Kamu yakin?" Untuk sesaat [Name] pikir dia melihat mata Akashi berubah menjadi merah sepenuhnya, tapi saat dia berkedip, matanya masih warna emas yang membuatnya tidak enak setiap menatapnya. "Tidak ada yang menatapku di mata, [Name]." Dan hilanglah sikap baiknya.
[Name] menunduk dan diam, berusaha menahan hasratnya untuk berteriak, memberi Akashi jari tengahnya, dan berlari keluar dari sini.
"Kalau kamu sakit, seharusnya kamu memberiku pesan. Aku bisa mengantarmu pulang," ucap Akashi dengan senyum yang bisa membuat seluruh siswi perempuan di Rakuzan meleleh, tapi bagi [Name] itu hanyalah topeng yang menyembunyikan sifat asli yang kejam. "Orang tuamu sedang berlibur kan? Jadi paling tidak aku harus bertanggung jawab atasmu—tentu saja, aku sudah mendengar tentang keputusan orang tuamu untuk meninggalkan semuanya kepadamu, [Name]."
Glek. "A-Ah, ya… Aku masih belum memikirkan tentang itu."
[Name] mulai merasa mual, apalagi mengingat kalau dia harus memilih antara Hanamiya dan Akashi. Apa dia terlalu jahat dan usil saat SMP dan semua hal ini adalah karma dari Kami? [Name] tidak tahu, dan dia juga tidak ingin tahu. Yang jelas, dia ingin segera keluar dari sini, jauh dari Akashi yang melihatnya dengan tatapan lembut—tunggu dulu, apa?
"Aku paham bagaimana kamu tidak bisa memilih antara aku dan… Hanamiya Makoto itu," Akashi mulai berwajah tidak senang. "Tapi aku yakin kalau aku adalah pilihan yang lebih baik dibanding anak itu."
(Anak, kamu bilang… Akashi-kun, Makoto lebih tua daripada kamu…)
"…aku akan memikirkannya," jawab [Name, senyum kecil muncul di wajahnya. "Terima kasih atas pengertianmu, Akashi-kun"
"Tentu saja. Kalau begitu aku permisi," Akashi mulai berjalan keluar, dan [Name] tanpa sadar membuat dirinya rileks. "Jaga kesehatanmu, [Name]."
[Name] mengangguk, dan dia menghela nafas lega saat dia tidak melihat Akashi lagi di pandangannya. Satu masalah selesai. Mungkin Akashi tidak seburuk yang dia kira—dan juga Hanamiya juga sama seperti Akashi, mengingat bagaimana mereka berdua melakukan hal-hal seperti itu kepadanya.
(Apa semua laki-laki SMA terdorong hormon seperti itu… Kuharap tidak. Paling tidak, aku yakin Imayoshi-senpai tidak seperti itu—atau tidak.)
"[Nickname]-chan? Kamu baik-baik saja?" Mibuchi muncul dari ambang pintu. "Sei-chan sudah pergi…"
"Reo… aku merasa seperti sudah melewati badai angin dan tsunami yang menerjang."
"Haa…" Mibuchi berkata dengan bingung, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi.
Akashi berjalan di lorong dengan aura yang membuat murid lain menjauh darinya. Benar-benar layaknya seorang Akashi sejati. Membuka ruang OSIS yang kosong, dia duduk di kursinya sebelum tersenyum lebar seperti bos akhir dari game RPG.
(Bukan cuma kamu saja yang bisa bermain dengan pura-pura baik seperti itu, Hanamiya Makoto. Lihat saja, [Name] akan menjadi milikku seorang.)
A/N: Sungguh benar-benar mohon ampunan dari readers sekalian! *sujud
Author tidak mempunyai alasan lain untuk update selama ini selain malas dan tidak ada inspirasi (cringe melihat sisa-sisa cerita yang masih bersambung dan tidak jelas) jadi mohon ampun! Semoga inspirasi sang Author pemalas ini akan bertambah dan update semakin sering www. Bye bye!
-Ayame
