Time Machine (Centric soo)

Inspired by Katy Perry's song.. 'The One That got away'

Rating : T

Genre : Romance / Drama

Pairing : Chansoo (As Request from my beloved), Hunkai, Krisbaek (katanya biar adil*lol), Xiuhan,

Warning : BL, Mpreg, AU, Crack Pair, Ooc, Bla.. Bla.. Bla.. Bla..

All Chara are not belong to me but story is mine.

Summary :

Kyungsoo seorang pemuda yang Baru saja berduka atas kematian ibunya. Dengan perasaan kalut ia memutuskan untuk pergi ke masa lampau dengan alasan mengubah sesuatu yang sangat penting di sana.

No edit, sorry for typos

.

.

.

"Kami turut berduka"

Kyungsoo hanya terdiam. Menatap sang ibu yang terbujur kaku di dalam peti kematiannya. Dia sudah tidak bisa menangis lagi, walau ia ingin. Air matanya seolah memang kering seiring kenyataan pahit yang menimpa keluarga kecilnya ini.

Beberapa orang dewasa menyalaminya. Dia tidak tahu siapa-siapa saja. Karena fokusnya hanya tubuh ramping mendiang ibunya yang kaku.

Ibunya yang cantik dan humoris hanya tinggal kenangan saja. Ibunya telah pergi, ke tempat yang jauh untuk selamanya.

Ia menoleh ketika merasakan seseorang menepuk bahunya. Melihat senyum ayahnya yang mencoba tegar hanya akan membuatnya muak.

"Apa Ayah senang?" tanyanya.

Ayahnya terlihat terkejut. "Soo" lelaki paruh baya Itu mencoba untuk berkata.

"Ayah bebas sekarang"

"Kyungsoo, i'm sorry"

Pemuda 15 tahun itu berdecih. Berlalu begitu saja mengabaikan Sang ayah.

Pria itu menatap sendu ke arah jasad sang istri. Ia mendekat ke arah Peti mati itu dan menyentuh wajah dingin Sosok yang sangat ia cintai seumur hidupnya.

"Maafkan aku, Jongin" ucapnya, lirih.

.

.

.

Berita duka atas kematian istri seorang ilmuwan ternama masih saja diberitakan siang dan malam dengan kalimat-kalimat dramatis yang memuakan.

Apalagi penyebab kematian namja berparas cantik itu sangat tragis dan disayangkan oleh banyak orang.

Bagaimana tidak? Selama 1 tahun ini ia selalu menampik berita miring perselingkuhan suaminya dengan seorang artis papan atas. Apapun beritanya, namja bernama Oh Jongin itu selalu percaya jika pemberitaan itu hanya hoax. Ulah para haters yang berusaha menjatuhkan nama baik suaminya maupun yeoja itu.

Tapi malam itu dia ditemukan tewas bunuh diri di dalam bath up dengan nadi di pergelangan tangannya yang terputus dan berlumuran darah.

Sosok cantik dan baik hati itu pergi meninggalkan tiga orang anak dari pernikahannya dengan seorang ilmuwan muda, 16 tahun yang lalu.

Mungkin dia sudah tidak kuat lagi dengan fakta lain tentang suaminya yang bermain hati dengan wanita lain. Sehingga ia gelap mata dan memutuskan mengakhiri hidupnya tanpa memikirkan bagaimana nasib ketiga putranya itu.

...

Suasana hening di meja makan sudah berlangsung beberapa hari sejak kematian sosok ibu di keluarga itu. Seolah kepergiaannya membuat keluarga kecil itu terkena imbasnya.

Tak ada lagi senyum hangat di wajah cantik itu di sana. Tak ada lagi canda tawanya yang selalu membuat anak-anaknya merasa bahagia untuk terlahir ke dunia.

"Ayah.. Ayah"

Suara cempreng si Bungsu membuat sang ayah menoleh, dan memberikan seulas senyum tipis ke arahnya. Bocah 5 tahun itu nampak ingin bertanya sesuatu pada ayahnya yang tampan itu.

"Ada apa, Taeoh?"

Taeoh kecil kemudian bertanya dengan wajah polosnya. "Ibu pergi kemana sih? Kok lama sekali"

Suatu pertanyaan yang mampu membuat siapapun teriris mendengarnya.

"Ibu tidur lama sekali. Taeoh kan rindu ibu"

Lagi ia berkata. Tanpa tahu bagaimana perasaan kedua saudaranya yang lebih tua. Haowen si anak kedua, yang kini sudah berusia 8 tahun hanya mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Mencoba untuk tabah, karena ia memang telah mengerti. Jika orang yang sudah meninggal, tidak akan pernah hidup lagi.

Sang ayah mencoba untuk menjelaskan. Namun si sulung lebih dulu bertindak.

"Taeoh" sebutnya. "Ibu sudah meninggal. Ibu tidak akan kembali. Jadi jangan bertanya kapan ibu pulang lagi!"

Nadanya terdengar tidak ramah dan membuat Taeoh kecil menunduk takut.

"Apa itu artinya ibu tidak akan kembali lagi?"

"Iya, tidak akan pernah"

"Aniya" Taeoh kecil mulai merengek.

"Kyungsoo" ayahnya menyebut namanya dengan nada khawatir. "Bisakah kau sedikit lebih lembut? Adikmu masih terlalu kecil untuk memahami semuanya"

Kyungsoo menatap sang ayah penuh kebencian. "Apa ayah juga pernah memikirkan aku? Yang saat itu masih berusia 10 tahun harus melihat ayahnya mencium wanita lain?"

Oh Sehun tidak bisa berkata-kata. Semuanya murni kesalahan dirinya yang tak termaafkan. Andai semuanya terulang kembali, tidak akan pernah ia melakukan hal memalukan ini. Dan berakhir dengan kehilangan Jongin dalam hidupnya.

Sementar si anak tengah lebih memilih untuk pergi meninggalkan meja makan. Dia merasa muak dengan semuanya. Tak terasa air mata mulai membasahi wajah mungilnya.

"ibu" terisak kecil dalam keheningan.

.

.

.

"Kyungsoo"

Suara Chanyeol yang berat itu seperti menggelegar ketika memanggil namanya.

"Kenapa kau berangkat lebih dulu?" tanyanya.

Kyungsoo hanya menatap sosok jangkung itu tanpa ada niat untuk menjawab. Sahabatnya ini memang orang yang cerewet dan selalu tersenyum dengan pikiran-pikiran optimisnya dalam menatap segala hal.

Diam-diam ada rasa iri dalam diri Kyungsoo pada sosok satu ini. Chanyeol adalah anak tunggal yang terlahir dari keluarga yang saling mencintai. Ibu dan ayahnya begitu menyayangi dirinya sehingga Chanyeol tumbuh menjadi anak periang dan humoris.

Chanyeol bukan Kyungsoo yang lahir karena ketidak sengajaan ayah dan ibunya di saat muda. Itulah sebabnya ia tumbuh menjadi anak yang pesimis dan selalu berkecil hati dengan segala sesuatu yang ia miliki.

"Soo"

"Aku ingin" jawabnya.

Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mengerti dengan apa yang baru saja menimpa sosok mungil di depannya ini. Kehilangan seorang ibu memang tidak mudah. Apalagi dibandingkan dengan ayahnya, Kyungsoo lebih dekat dengan ibunya.

"Mari kita berangkat bersama" ujar Chanyeol, dengan nada riang.

Ia menggandeng tangan Kyungsoo dengan senyum di wajahnya. Senyum idiot atau apapun sebutannya. Itu adalah senyuman terbaik yang dianugerahkan Tuhan padanya.

"Mengapa kau menggandeng tanganku?" suara Kyungsoo terdengar dingin dengan wajah kalemnya.

Chanyeol menoleh tanpa menghentikan langkahnya. "Kita selalu bergandengan saat pergi ke sekolah. Apa kau ingat, hehehe"

"Itu dulu"

"Iya.. Dan aku ingin menggandeng tanganmu lagi sekarang"

Mereka kembali berjalan. Kyungsoo hanya mendengarkan cerita Chanyeol tanpa menimpalinya. Meski begitu, Chanyeol tahu jika Kyungsoo selalu antusias dengan cerita-ceritanya. Hanya Kyungsoo yang mau mendengar semua ceritanya dan mengerti dirinya tanpa kata-kata.

.

.

.

Shim Changmin menegur rekan kerjanya supaya beristirahat daripada harus bekerja dalam keadaan yang tidak memungkinkan.

"Aku bisa melakukannya sendiri. Bahkan tanpa dirimu" kata Sehun, dengan wajah angkuh.

Changmin sebagai seseorang yang lebih tua 2 tahun dari namja itu hanya mendengus pelan. Namun ia memilih untuk mengalah mengingat tidak akan ada untungnya jika ia mengajak Oh Sehun adu jotos. Itu terlalu kekanakan, pikirnya.

"Aku tahu kau sangat kehilangan dirinya"

Oh Sehun tampak tidak peduli. Betapa sangat ia membenci sosok rekannya itu.

"Itu bukan urusanmu, hyung" katanya. Mencoba untuk tidak emosional.

"Apa kau pernah memikirkan perasaannya selama ini? Atau saat dirimu meminta Jongin menandatangani surat perceraian itu?"

Sungguh keterlaluan bodohnya dia saat itu. Sehun masih sangat ingat ketika ia meminta Jongin untuk segera menandatangani surat perceraian itu tanpa pernah memikirkan perasaan namja itu. Atau paling tidak melihat Jongin yang mungkin pada saat itu tengah mencoba untuk tidak menangis.

"Aku bilang itu bukan urusanmu!" Sehun berseru lagi.

Kali ini menatap nyalang ke arah Changmin.

"Akan jadi urusanku jika itu menyangkut Jongin" balasnya, tak kalah menantang.

Sebulan sebelum kepergian Jongin. Biduk rumah tangganya memang selalu diwarnai dengan pertengkaran kecil. Dimana Sehun tidak terlalu suka dengan kedekatan ibu dari anak-anaknya itu dengan Shim Changmin. Rival sekaligus rekan kerjanya.

"Pernahkah kau tanyakan apa yang dia rasakan selama bersamamu? Apa pernah?"

'maafkan aku, Jongin'

"Selama ini dia selalu tersenyum meski ia terluka karena ulahmu. Kau yang tidak mengerti dirinya meski kau suaminya"

Sehun menutup kedua matanya. Dia mulai menyesali semua yang pernah ia lakukan pada namja itu. Teringat senyuman dan Kata-katanya yang selalu memotivasi dirinya untuk selalu menjadi sosok yang optimis. Jongin adalah yang terhebat, dan dia begitu bodoh telah membuat sosok itu hancur dalam kesedihan.

Changmin meletakan secarik kertas kumal di atas meja kerja Sehun. Kemudian berlalu begitu saja meninggalkan namja itu merenungi kesalahannya seorang diri.

.

.

.

"Aku tidak tahu kalau kau jadi suka membolos seperti ini" kata Chanyeol, seraya meneguk jus jeruknya yang baru ia beli di minimarket saat perjalanan ke bukit ini.

Kyungsoo menoleh dan meminta maaf karena telah membuat namja itu ikutan membolos. Meski kenyataannya Chanyeol sudah punya hobi membolos sejak duduk di kelas dua SMP.

"Tidak apa-apa"Chanyeol berkata perlahan. "Kau sudah jadi siswa teladan selama ini. Sekali membolos tidak akan mengurangi nilaimu, soo"

Keheningan tercipta bebera saat. Ketika mereka memilih untuk fokus dengan pikiran masing-masing. Chanyeol yang lebih memilih jus jeruknya, sementara Kyungsoo yang lebih memilih menatap langit biru yang begitu cerah. Mengingatkan dirinya akan senyum sang ibu yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

"Chanyeol" bibir heartshape itu menyebut nama sang namja.

"Iya?"

Kyungsoo menutup kedua matanya menikmati belaian lembut angin yang menerpa wajah gembilnya. "Apa kau percaya mesin waktu?"

Rasanya Chanyeol ingin tertawa. Meski ia tahu Kyungsoo seorang anak ilmuwan ternama. Dan ada kemungkinan anak itu akan menjadi ilmuwan hebat di masa depan. Rasanya sangat lucu kalau mendengar Kyungsoo mengatakan mesin waktu atau malah mempercayai keberadaan benda itu.

"Yang menjadi pertanyaanku saat ini. Apa gunanya mesin waktu? Jika hanya untuk mengubah cerita di masalalu rasanya itu hanya akan mengubah sejarah"

"Langsung pada intinya, Chanyeol"

"Intinya aku tidak percaya mesin waktu"

Kyungsoo terdiam. Meski mata bulatnya masih menatap mata Chanyeol yang juga bulat meski tidak sebulat dirinya.

"Kenapa?"

"Jika mesin waktu hanya akan merubah takdirku untuk tidak bertemu denganmu. Aku tidak akan membiarkan mesin itu ada. Kalau pun ada, aku orang pertama yang akan merusaknya" jawabnya dengan nada jenaka.

Kyungsoo terkekeh mendengarnya. "Bagaimana jika mesin itu benar-benar ada? Dan aku punya kunci untuk menuju ke sana"

Chanyeol terperangah mendengarnya. Ia menatap wajah manis itu dengan tatapan antara aneh, tidak mengerti, dan rasa keingintahuan yang lebih dari sekedar tahu.

Kyungsoo putra seorang ilmuwan. Ada kemungkinan dia memiliki mesin itu. Mengingat sudah ada banyak penemuan-penemuan aneh yang pernah diciptakan Profesor Oh Sehun yang berguna untuk kebanyakan orang.

Dan Time Machine mungkin adalah satu produk ilegal tak berlisensi yang hanya dimiliki keluarga itu agar semua orang tidak tahu dan tidak pernah memilikinya.

"Boleh aku bertanya?"

"Kau sudah bertanya sekarang"

Chanyeol tersenyum simpul. Senyumnya sangat tampan seperti ayahnya yang pengusaha kaya raya itu.

"Jika kau memiliki mesin waktu. Apa yang akan kau lakukan?"

"Kembali ke masa lalu dan memperbaiki apa yang seharusnya ku perbaiki"

"Apa kau tidak tertarik dengan masa depan?" Chanyeol kembali bertanya.

Kyungsoo menggeleng pelan. Diam-diam Chanyeol merasa kecewa melihatnya. Memangnya apa yang akan Kyungsoo lakukan jika ia bisa kembali ke masa lalu?

"Aku ingin menemui ibuku di masa mudanya dan meminta dirinya untuk tidak menikah dengan ayahku"

"Kau tidak akan pernah lahir kalau begitu"

"Tidak apa-apa" Kyungsoo menyahut. "Aku memilih untuk tidak pernah dilahirkan daripada harus melihat ibuku tersakiti seperti itu"

"Lalu bagaimana denganku?"

Chanyeol sangat kecewa mendengarnya. "Kita tidak akan pernah bertemu dan aku tidak akan memiliki sahabat seperti dirimu"

"Akan ada yang lebih baik" sahut Kyungsoo.

.

.

.

Tbc.

.

.

.

Surat dari Oh Jongin To Oh Sehun

Dear, Sehun...

Terimakasih untuk 16 tahunnya. Kau ingat saat kita kelas 2 SMP? Waktu itu Irene Sunbae Mencoba menjadi seorang madame fortune untuk menyambut festival tahunan di sekolah kita. Dia mulai menjadi seorang peramal meski kita tahu dia bukan seseorang yang bisa dikatakan handal dalam meramal.

Dia bilang, Oh Sehun akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk ke depannya nanti. Ku rasa dia tepat. Kau bukan hanya menjadi ayah dan suami yang baik. Tapi kau adalah sosok sempurna yang pernah kami miliki.

Meski ada sedikit rasa kecewa dalam hatiku. Saat kau tak lagi percaya padaku sebesar aku mempercayai dirimu. Tapi aku pikir tak mengapa. Kau tak harus menjadi suami yang baik jika kau sudah menjadi ayah yang baik untuk anak-anakmu. Bukankah ada kelebihan juga ada kekurangannya?

Aku mengerti jika pada akhirnya tak ada lagi yang harus ku pertahankan. Ibuku pernah gagal dalam pernikahannya. Dan sejak saat itu aku bersumpah untuk tidak akan pernah menjadi seperti itu. Seberat apapun ujian yang Tuhan berikan dalam ikatan pernikahan ini aku akan mencoba bertahan. Tapi nyatanya aku tak berhasil. Aku tidak sekuat Beton-beton di luar sana. Aku hanyalah sosok yang bisa remuk dan hancur kapanpun aku terluka.

Aku tidak ingin anak-anak kita malu pada kenyataan pahit ini. Aku pun juga tak ingin membuat ibuku bersedih hati atas apa yang menimpa diriku. Maka jika kau menemukan surat ini, mungkin aku sudah tidak ada.

Kau mungkin berpikir aku bukan ibu yang bertanggung jawab. Dengan memilih pergi daripada harus menghadapi semuanya dengan keberanian. Tapi aku bukan dirimu yang bisa mengacuhkan perasaan dan orang-orang di sekitarmu.

Aku minta maaf karena aku masih sangat mencintai dirimu. Aku tidak bisa menandatangani surat itu. Aku masih ingin bersama dirimu. Meski nyatanya kau sudah muak untuk bersamaku.

Sehun.. Aku mencintaimu dan anak-anak kita. Kyungsoo, Haowen, dan si kecil Taeoh. Maaf, aku tidak bisa menjemput Taeoh untuk terakhir kalinya. Aku memang egois, dan kau benar... Diantara kita akulah yang paling egois.

Kau tenang saja.. Aku sudah menyediakan pakaian bersih di lemari. Pakaian anak-anak pun juga bersih semua. Aku sudah menyediakan bahan makanan di kulkas. Jika kau lapar kau bisa makan ramen. Kau suka ramen kan? Aku tidak akan melarang kalian makan ramen instant lagi karena aku mengerti bagaimana keadaan kalian.

Katakan pada Kyungsoo jika aku sangat menyayanginya. Dan jangan pernah biarkan Kyungsoo mendekati Sekai Machine yang pernah kita buat itu. Dia anak yang nekad, dan sering kali bertindak gila. Kau pasti ingat jika mesin itu belum benar-benar bisa dipakai. Mesin waktu? Itu adalah lelucon bodoh yang pernah kita impikan saat kita remaja.

Katakan pada Haowen jika prakarya yang ia minta ada di atas lemari pakaiannya. Semua sudah beres dan tinggal dibawa ke sekolah saja. Aku sangat berharap Haowen dapat penilaian paling tinggi di kelasnya. Hehehe.. Aku bisa membuat bunga dari kertas lho sekarang:))

Katakan pada Taeoh. Permintaan maafku karena aku tak bisa menemaninya pergi ke kebun binatang bersama orang tua murid lainnya. Soal stok susu Taeoh.. Aku sudah menyediakannya. Bisa sampai 3 bulan mungkin. Aku benar-benar menyiapkan segala hal yang mungkin saja kalian butuhkan.

Sampaikan maafku pada Changmin Hyung. Karena aku terlalu terbawa suasana saat tak sengaja memeluk dirinya. Gara-gara kebodohanku dia jadi putus dengan pacarnya. Dan kau pun memukul wajahnya dengan emosi. Jangan seperti itu lagi, Hun! Kau menyeramkan.

Dan untuk dirimu Sehun.. Aku sangat mencintaimu. Terimakasih untuk segala hal yang telah kau berikan selama ini. Tanpa kejadian konyol itu mungkin kita tidak akan bisa seperti ini. Meski aku pernah memeluk Changmin hyung, kau tetaplah satu yang paling ku cintai dalam hidupku. Jagalah kesehatan, jangan sampai sakit! Aku titip anak-anak.

Dengan cinta..

Kim Jongin..

.

.

.

A/n :

NEW FF untuk menggantikan Ff yg akan tamat. Sebenarnya pengen lanjut yang lama sih. Tapi entah kenapa jadi males sendiri karena sempat salah ambil alur untuk ff lamanya. Well, gimana sama Ff ini? Lanjut gak? Psstt anggap aja ini prolog yang kepanjangan.. Karena yahh..biasalah ya, author kacangan*lol

Q : Main pairnya itu seriusan Chansoo?

Me: Main pairnya? Hunkai sih.. Tapi untuk prolog Dan chapter Depan mungkin full Chansoo. Niatnya sih mau dibikin dua pair. Tapi aku lebih suka Hunkai masa.. Kurang dpt Feelnya kalo yg lain.

Q : why chansoo?

Me : as requested ya.. Lebih-lebih kurang suka sama Official. Sorry buat yang shipping official ya.. Gak ada maksud apa-apa kok.

Q : Kak ini alurnya gimana?

Me : dibaca aja ya say.. Kalo dikasih tau nanti kurang drama.. *lol

Q : Kak.. Kenapa Jonginnya meninggal?

Me: hiksu.. Hiksu.. Hehehe.. Biar lebih greget*lol