Hai, hai, udah sampai chapter 2, nih ^^ masih belum jauh dari urutan plot di anime-nya, tapi dengan sedikit racikan khas gue.

Check it out!

First Live = First Step

"Kenapa sih kamu mesti memihak anak-anak itu?" tanya Eri pada Nozomi begitu Kazuya dan kedua temannya berlalu.

"Bukan aku, kok," jawab Nozomi.

"Eh?"

"Kartunya yang membimbingku apa yang harusnya kulakukan," ujar Nozomi.

Tepat saat Nozomi berkata demikian kartu tarot dengan gambar "The Star" terbang tertiup angin dan menempel di dinding ruang OSIS.


Keesokan harinya, Kazuya dan kedua sahabatnya berdiskusi tentang apa-apa saja yang harus mereka persiapkan untuk menjadi school idol.

"Hmm… kira-kira apa yang harus kita persiapkan sebagai idol, ya?" kata Kazuya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan kukunya.

"Oh ya! Seperti menyiapkan tanda tangan, lalu cara menyamar di tempat umum!" lanjut Kazuya.

"Itu mah kita belum perlu!" kata Takumi.

"Daripada itu… bukannya kita belum menentukan nama grup kita?" tanya Kotori.

"Ah! Benar juga!" seru Kazuya dan Takumi bersamaan.

Mereka mulai mencari referensi dan mencoba mengemukakan ide masing-masing, tapi belum mencapai kesepakatan karena mereka merasa belum sreg dengan calon nama yang ada. Akhirnya, Kazuya meletakkan kotak saran di depan madding supaya para siswa maupun siswi ikut membantu mereka menemukan nama yang tepat.


Setelah menunggu selama beberapa hari akhirnya ada yang memberikan suara.

"Oiii! Ada yang memberikan suara, lho!" seru Kazuya heboh.

Mereka bertiga pun membuka kertas tersebut dan mendapati nama µ's.

"Mungkin maksudnya Muse?" kata Takumi.

"Oh! Merek sabun, 'kan?" tebak Kazuya.

"Bukan, dodol!" jawab Takumi. "Muse itu nama dewi musik dalam mitologi Yunani,"

"Owalah," Kazuya hanya menanggapi sekenanya karena terkagum-kagum dengan wawasan Takumi yang luas.

"Menurutku, itu nama yang bagus, kok," komentar Kotori. "Aku suka! Rasanya, orang yang memberi nama ini ingin kita selalu dalam kesuksesan dan lindungan sang dewi musik,"

Mereka bertiga pun setuju.


Mereka bertiga menghadap OSIS lagi untuk mendapatkan izin menggunakan ruang auditorium saat acara penyambutan siswa-siswi baru.

"Mau kamu gunakan untuk apa sih ruang auditorium itu?" tanya Eri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Live!" jawab Kazuya mantap.

"Acara penyambutan siswa-siswi baru itu bukan main-main! Memangnya kalian benar-benar yakin akan melakukannya?" Eri bertanya sekali lagi.

"Ya, kami yakin," jawab Kazuya mantap meski agak gemetar menghadapi gadis berdarah seperempat Russia itu.


Mereka bertiga menuju atap sekolah untuk mempersiapkan live yang akan berlangsung kurang dari sebulan lagi. Saat mengambil nafas untuk bernyanyi dodolnya mereka baru ingat kalau mereka belum punya lagu untuk dimainkan. Akhirnya, sepulang sekolah mereka berkumpul di rumah Kazuya untuk mendiskusikan bagaimana baiknya.

"Aku tahu anak baru yang pintar bernyanyi dan memainkan piano, lho," celetuk Kazuya.

"Heh? Kok, kamu bisa cepat banget akrab dengan anak baru?" Kotori mulai tertarik.

"Aku enggak sengaja mendengarnya bernyanyi di ruang musik," jelas Kazuya. "Kurasa dia juga pandai membuat lagu,"

"Bagaimana kalau besok kita coba membujuknya?" usul Kotori. "Kalau lirik lagu 'kan tinggal diusahakan!"

"Sebentar? Diusahakan itu maksudnya apa, ya?" sela Takumi.

Kazuya dan Kotori menatap Takumi penuh harap dengan puppy eyes khas mereka.

"Umm… ada apa, ya?" Takumi masih pura-pura bego.

"Takumi-kun itu bukannya dulu saat SMP suka membuat puisi, ya?" kata Kazuya sambil tersenyum jahil.

"EH?"

"Aku ingat pernah membacanya dan itu membuatku tersentuh, lho," tambah Kotori. "Apa jangan-jangan itu surat cinta untukku?"

Takumi langsung loncat dan berusaha kabur dari kediaman Kousaka.

"Lepasin gue! Gue enggak mau melakukannya! Memalukan!" Takumi keceplosan ngomong kasar.

Tapi Kazuya dan Kotori berhasil menahannya.

"Aku menolak!" jawab Takumi tegas.

"Eh? Kenapa?" kedua temannya terang saja kecewa.

"Apa yang kutulis saat SMP itu adalah masa-masa alay yang ingin kulupakan saking memalukannya!" ujar Takumi. "Kenapa sih enggak Kazuya saja yang menulisnya?"

"Kazuya-kun, ya…?" nada bicara Kotori terdengar sarkastik.

"Kau tahu aku jadi bulan-bulanan guru bahasa gara-gara membuat puisi 'Aku Muak dengan Manju', 'kan?" Kazuya mengingatkan.

"Aduh, aku lupa…" Takumi hanya bisa facepalm.

Kotori pun duduk di sebelah Takumi. Ia memeluk lengan kiri Takumi sambil berbisik, "Takumi-kun, onegai!"

Wajah Takumi langsung merah padam dan darah mengalir dari hidungnya. Dia pingsan karena tidak kuat mendengar bisikan imut dari gadis yang disukainya.

"Tu, tunggu, Takumi-kun! Jangan mati! Nanti live kita gimana?" tanya Kazuya ngaco.

"Urgh… Kotori, kau ini curang, ya?" kata Takumi begitu sadar dari pingsannya.

"Hihihi…" Kotori hanya tersenyum jahil.

"Baiklah, aku akan menulis liriknya," kata Takumi sambil berdiri. "Tapi menu latihan sampai hari H aku yang atur, setuju?"

"Sip, lah!" keduanya setuju.

"Oh ya, Kazuya, bisa push up sebentar?" perintah Takumi.

"Begini?" tanya Kazuya sambil mengambil posisi push up.

"Bisa kau lakukan itu sambil tersenyum?" lanjut Takumi.

Kazuya pun mencoba, tapi belum juga sampai 15 kali dia sudah jatuh karena tidak kuat.

"Lihat? Stamina kalian harus lebih bagus lagi untuk jadi idol!" ujar Takumi. "Karena aku setiap hari berlatih Kyuudo dan bela diri lainnya di rumah aku cukup percaya diri dengan staminaku. Nah, sekarang tinggal bagaimana agar kalian berdua bisa setidaknya mengejarku,"

"Menjadi idol itu bukan perkara yang mudah, ya?" komentar Kotori.

Sesuai intruksi dari Takumi, mereka bertiga berlari menaiki tangga di Kanda Myojin setiap pagi dan sore ditambah latihan dance yang sudah dipersiapkan step-step-nya oleh Takumi.


"Permisi!" kata Kazuya sambil membuka pintu ruang kelas satu.

"Aku adalah Kousaka Kazuya, anggota dari klub school idol di sekolah ini!" Kazuya mencoba memperkenalkan diri.

Para anak kelas satu hanya bisa cengo dan saling pandang.

"Lho? Mereka enggak kenal aku?" gumam Kazuya.

"Ya, iyalah! Emang kamu siapa?" balas Takumi.

"Jadi, anak mana yang kata kamu jago main piano itu?" tanya Kotori.

Panjang umur. Tepat saat Kotori selesai bertanya, Nishikino Maki masuk ke kelas.

"Ah! Akhirnya, kamu datang juga!" kata Kazuya sambil menepuk bahu Maki. "Kami ingin bicara denganmu, boleh?"


"Aku menolak!" kata Maki setelah mendengar permintaan mereka.

"EH? Tapi ini demi sekolahmu, lho!" Kazuya mencoba membujuk.

"Kalau aku enggak mau kenapa maksa, sih?" balas Maki.

"Apa kamu hanya bisa nyanyi dan main piano, tapi enggak bisa buat lagu?" kata Kazuya.

"Tentu saja aku bisa!" jawab Maki tersinggung.

"Lalu, kenapa kamu enggak mau?" tanya Kazuya.

"Aku hanya enggak mau membuatnya," jawab Maki sambil memalingkan muka.

Maki pun berlalu meninggalkan mereka bertiga.

"Duh, aku mesti minta tolong siapa lagi, coba?" Kazuya mulai frustasi. "Lirik yang dibuat Takumi jadi mubazir begini, deh,"

"Oi! Kenapa kertasnya ada di kamu?! Kembalikan! Itu belum selesai! Itu memalukan!" seru Takumi.

"Belum selesai apanya? Aku udah baca sampai habis, kok!"

Tiba-tiba ketua OSIS muncul. "Bisakah kita bicara sebentar?"


"Sebelumnya belum pernah ada school idol keluaran sekolah ini makanya kalau kita gagal yang ada malah jadi bumerang, ya?" kata Kazuya setelah merenungi ceramah dari Eri.

"Akhirnya, kau sadar juga," komentar Takumi.

"Tapi aku enggak main-main, kok," jawab Kazuya. "Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik saat latihan meskipun badanku jadi sakit semua karena itu,"

"Apakah kita benar-benar akan melanjutkannya?" Kotori mulai ragu.

Kazuya pun berdiri. "Tentu saja, serahkan padaku! Aku akan membujuk lagi Nishikino Maki!"

Kazuya berlari menuju ruang musik dengan penuh semangat.

"Dia memang enggak tahu kapan harus menyerah, ya?" komentar Takumi.

"Hihihi… itu lah Kazuya-kun yang kita kenal," kata Kotori.


"Kali ini apa lagi?" tanya Maki ketus.

"Aku tahu aku keras kepala," kata Kazuya.

"Nah, itu tahu?"

"Tapi aku memang enggak bisa menyerah begitu saja hanya karena ditolak sekali-dua kali olehmu,"

Maki dapat merasakan keseriusan dari manik biru milik senpai-nya itu.

"Kamu bisa push up?" tanya Kazuya kemudian.

"HAH?!"

"Owalah, enggak bisa, toh?" Kazuya memanas-manasi gadis berambut merah itu.

"Berisik! Tentu saja aku bisa!"

Setelah membuka blazer-nya, Maki segera mempraktekkan push up di depan Kazuya.

"Lihat?" kata Maki sambil tetap fokus push up.

"Wah, keren! Kau bahkan bisa push up lebih banyak dariku!"

"Huh, jangan kira aku ini payah dalam olahraga, ya!"

"Kalau begitu, gimana kalau push up sambil tersenyum?" Kazuya mencoba cara milik Takumi.

Alhasil, dia kesulitan.

"Lihat? Jadi idol itu enggak mudah, bukan?" kata Kazuya.

"Baiklah, aku akan dengar apa maumu," Maki pun berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Tolong buatkan lagu untuk lirik di kertas ini," kata Kazuya sambil menyerahkan kertas berisi lirik yang dibuat oleh Takumi.

"Tolong kamu baca dulu meski hanya sekali," lanjut Kazuya. "Itu terserah kamu mau membuatkannya atau tidak. Jika kamu memang enggak mau aku akan berhenti mengganggumu,"


"Onii-chan! Ada kiriman untukmu!" kata Yukio saat Kazuya bersiap-siap berangkat ke sekolah keesokan paginya.

"Dari?"

"Enggak ada namanya, tapi di sini ada tulisan µ's," ujar Yukio sambil menunjukkan isi paket itu.

Tidak salah lagi itu CD berisi lagu yang dikirim oleh Maki.

Sesampainya di sekolah mereka bertiga segera membuka isi CD itu di laptop Kazuya.

"Ini benar-benar suaranya," kata Kazuya saat mendengarkan lagu tersebut.

"Kita harus lakukan yang terbaik demi berterima kasih padanya," kata Takumi.


Hari H pun tiba, tapi sayang Takumi malah gugup setengah mati. Apalagi setelah melihat kostum yang didesain oleh Kotori.

Aku akan memakai kostum ala-ala Ut*pri, gitu? Di atas panggung, gitu? Di depan berapa banyak pasang mata anak-anak kelas satu?! pikir Takumi.

Jadinya sekarang Kazuya dan Kotori harus memutar otak untuk meyakinkan Takumi.

"Anggap saja para penonton itu sayuran kalau kata ibuku!" usul Kazuya.

Takumi tambah parno karena benar-benar membayangkan para penontonnya adalah manusia berkepala sayuran.

"Kau saja bisa menggerakkan kami untuk latihan," kata Kotori. "Sekarang bangkitlah dan perlihatkan hasil kerja keras kita selama ini, Takumi-kun,"

"Kotori…" Takumi masih gemetaran.

"Payah, deh," Kotori malah memeluk Takumi erat sambil mengusap-usap punggungnya.

"Ano, Kotori-chan?" panggil Kazuya.

"Iya?" jawab Kotori.

"Mendingan kamu cepat lepaskan Takumi-kun, deh,"

"Heh? Kenapa?"

"Dia semaput saking malunya dipeluk olehmu, tuh,"

"EH?! Tunggu! Takumi-kun!" jerit Kotori.

Karena takut dipeluk oleh Kotori lagi akhirnya Takumi mulai percaya diri.


"Aku sudah selesai," kata Kotori sambil masuk ke ruang ganti Kazuya dan Takumi.

"Wah, kau benar-benar terlihat cantik, Kotori-chan! Kostum itu cocok untukmu!" puji Kazuya.

"Bagaimana dengan Takumi-kun?" tanya Kotori.

"Enggak tahu, dia belum keluar juga dari tadi,"

Kazuya menyibak gorden yang menutupi ruang pas tempat Takumi mengganti baju.

"Lihat? Aku sudah selesai, nih! Bagaimana?" tanya Takumi over pede.

"Ngapain lu pakai manset?! Emang lu cheerleader?!" protes Kazuya. "Buruan buka!"

"Enggak! Malu-maluin, tahu!"

"Takumi-kun, aku sengaja membuatnya sleeveless karena kamu, lho," Kotori pura-pura nangis. "Mungkin aja kalau melihat ototmu itu para kouhai tertarik untuk bergabung,"

"Anak perempuan dibikin nangis, dasar cowok rendahan!" timpal Kazuya sambil puk-puk Kotori.

"Kenapa aku kesannya kayak yang paling jahat di sini?!" protes Takumi.

"Ayolah, Takumi-kun? Kamu enggak tiap hari pamer badan kamu yang atletis itu kayak cowok-cowok di Fr*e, 'kan?" bujuk Kazuya. "Kamu 'kan Cuma pamer lenganmu, bukan roti sobekmu!"

"Baiklah…" Takumi akhirnya menurut.


Saat tirai panggung dibuka, ketiganya hanya bisa diam terpaku karena tidak ada seorang pun yang menonton. Takumi rasanya ingin memaki dan Kotori ingin menangis.

"Hahaha… sudah kuduga bakal gini, sih! Hahahaha!" Kazuya mencoba mencairkan suasana.

"Kazuya-kun…"

Tiba-tiba seorang siswi kelas satu yang berkacamata tebal memasuki auditorium dengan terengah-engah. "Are? Live-nya sudah selesai?!"

"Takumi-kun, Kotori-chan, ayo kita lakukan!" seru Kazuya.

Musik mulai mengalun dan ketiganya mengambil posisi.

I say… hey, hey, hey START:DASH!

Hey, hey, hey START:DASH!

"Kucari-cari ternyata kamu di sini, Kayo," kata Rin, sahabat laki-laki Hanayo sambil duduk di bangku sebelahnya.

Hehe, kamu mulai tertarik dengan mereka, ya, nya? gumam Rin sambil tersenyum melihat gadis di sebelahnya menonton penampilan µ's dengan penuh kekaguman.

Satu per satu orang mulai memasuki auditorium, seperti Maki yang hanya menonton dari pintu, Nozomi yang mendengarkan dari luar auditorium, Yazawa Nico yang duduk sambil bersembunyi, dan juga ketua OSIS yang menatap mereka dengan sinis.

"Apa yang akan kalian lakukan? Jika bukan karena kami, aku yakin kau sudah putus asa sekarang, Kousaka Kazuya," tanya Eri begitu live selesai.

Kazuya memandang kedua sahabatnya dan mereka mengangguk. "Kami akan melanjutkannya!"

Sejak saat itu, perseteruan antara Kazuya dan Eri pun dimulai.