Yay, chapter 3 akhirnya kelar juga :"D

Mungkin ada di antara kalian yang bingung (atau bahkan enggak) kenapa nama Rin dan Nico enggak diganti padahal mereka cowok?

Yap, nama Rin dan Nico bisa digunakan baik oleh cowok maupun cewek jadi gue memutuskan untuk enggak mengganti nama mereka layaknya Takumi dan Kazuya.

Tunggu apa lagi? Check it out and don't forget to give me reviews! ^^

Member Atsume!

Hanayo, si siswi kelas satu yang sangat antusias menonton live pertama µ's waktu itu kini galau. Dirinya yang semakin tertarik untuk bergabung dengan Kazuya dan kawan-kawan merasa bimbang. Dia tidak percaya diri dengan tubuhnya yang pendek dan suaranya yang pelan. Di sisi lain, batas waktu pengumpulan formulir untuk mendaftar kegiatan klub tinggal sebentar lagi.

"Kayo? Oiii…" Rin berusaha membuyarkan lamunan Hanayo.

"Eh? Ada apa, Rin-kun?" Hanayo agak kaget. Untunglah, pikirannya sudah balik ke dunia.

"Tentang kegiatan klub," jawab Rin. "Kamu masih belum memutuskan? Bagaimana kalau kamu ikut denganku gabung di klub atletik? Bagus, lho,"

"Ma, maaf, Rin-kun…"

"Heh? Kenapa? Bukannya waktu itu kamu bilang mau ngurusin badan makanya mau ikut klub atletik?"

"Huwaaaa! Jangan keras-keras! Aku malu!" seru Hanayo sambil membekap mulut Rin.

"Iya, iya! Jadi, kamu mau ikut klub apa, sih?" tanya Rin. "Kegiatan klub itu wajib untuk seluruh siswa, lho,"

"Klub school idol," jawab Hanayo sambil menunduk untuk memelankan suaranya. "Tapi aku ingin kamu ikut menemaniku menjadi idol di sana,"

Rin tampak berpikir sebentar. "Enggak mungkin, ah! Kelakuanku saja petakilan begini! Yang ada para penonton malah ill feel nanti!"

"E, enggak, kok!" bantah Hanayo. "Kamu 'kan atletis, penuh semangat, ju, juga… ganteng,"

"Bentar? Itu 'ganteng' beneran atau nyindir?"

"Iiish, Rin-kun mah, gitu!"

"Hahaha… ya ampun, aku hanya bercanda, Kayo-ku sayang!" kata Rin sambil menekan-nekan pipi kanan Hanayo seperti kue mochi. "Nanti, deh, kupikirkan dulu, ya!"

Teman-teman di kelas langsung menyoraki pasangan itu. "Ciyeee, yang pagi-pagi udah bermesraan!"

"Hahaha… bawel, deh!" Rin hanya cekikikan.

Hanayo hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya yang chubby.


"Kyaaaa! Rin-kun kakkoi!" sorak para siswi yang menonton uji coba kegiatan klub atletik.

Rin terus berlari membalap para calon anggota yang lain, namun pikirannya ke mana-mana karena terus memikirkan permintaan Hanayo.

"Rin-kun! Awas!" teriak para siswi itu.

Terlambat dirinya yang tidak memerhatikan langkahnya pun menabrak pohon hingga hidungnya berdarah. Maki yang saat itu juga mengikuti uji coba kegiatan klub PMR pun segera ditugaskan untuk mengobati Rin.

"Aduh!" ringis Rin sambil menahan aliran darah di hidungnya dengan kedua tangannya.

"Ayo, ikut aku! Aku akan mengobatimu!" kata Maki sambil membantu Rin berdiri.


Di UKS...

"Dasar, sedang berlari sekencang itu, tapi pikiranmu ke mana-mana!" dengus Maki. "Seperti orang bodoh saja!"

Tidak biasanya Rin yang mudah naik darah malah diam saja mendengar ocehan Maki. Mungkin karena masih memikirkan tentang Hanayo dia sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Maki.

Sebentar, dia ini bukannya cowok meong yang suka heboh enggak jelas di kelasku, ya? pikir Maki sambil memperhatikan Rin.

Maki pun menyentil dahi Rin. "Sadar, woi!"

"Ittai, nya! Apa sih maumu, Nishikino-san?!" Rin akhirnya balik juga ke dunia.

"HALO? Asal kamu tahu, yang membawa dan mengobati hidung meongmu itu aku, lho? Bisa-bisanya kamu kurang ajar begitu?" sikap sombong Maki pun keluar karena kesal.

"Ya, ya, ya... terima kasih!" ucap Rin setengah hati.

"Sebetulnya aku enggak peduli, sih, tapi kalau kamu mau curhat hal yang mengganggu pikiranmu padaku juga enggak masalah," kata Maki.

Awalnya, Rin ragu dan malah menatap Maki, si Miss Perfect yang sombong di kelasnya itu dengan curiga. Bagaimana tidak curiga jika orang yang biasanya menyendiri dan agak sombong menawarkan dirinya sebagai tempat curhat?

"Awas saja kalau mulutmu ember," kata Rin.

"Ngapain juga aku cerita ke orang-orang?" balas Maki.

"Oh ya, aku lupa kalau kamu enggak punya teman," sindir Rin.

Wajah Maki langsung memanas. "Be, berisik! Cepat katakan padaku apa yang mengganggumu! Aku juga harus segera balik ke klub PMR untuk membuat laporan, tahu!"

Akhirnya, Rin pun menceritakan apa yang tengah dipikirkannya saat lari tadi. Maki hanya manggut-manggut sambil mendengarkan. Mungkin Maki tidak memberinya saran maupun solusi, tapi ajaibnya Rin merasa agak lega setelah curhat padanya.


"Koizumi-san?" panggil Maki keesokan harinya saat melihat Hanayo duduk sendirian di taman sekolah pada jam istirahat.

Hanayo yang tengah memperhatikan selembaran yang dibagikan Kazuya pun menoleh. "Ni, Nishikino-san? Ada apa?"

Maki pun duduk di sebelah Hanayo. "Aku sudah dengar semuanya dari Hoshizora-kun kemarin. Katanya, kamu tertarik untuk bergabung dengan klub school idol, ya?"

"I, iya…" jawab Hanayo sambil mengangguk.

Maki pun berdiri di depan Hanayo. "Kalau begitu, coba kamu ikuti aku,"

Maki mempraktekkan cara mengeluarkan suara yang baik untuk bernyanyi dan Hanayo mengikutinya. Di luar dugaan, Hanayo yang biasanya bersuara sangat pelan dapat mengeluarkan suara yang indah sehingga Maki menyanjungnya. Dalam waktu singkat, keduanya pun menjadi akrab.

"Kayo… eh? Apa-apaan dia? Sok akrab begitu dengan Kayo?!" Rin agak cemburu begitu melihat Hanayo yang akrab dengan Maki di taman sekolah.

Rin pun menghampiri Hanayo dan menarik lengannya. "Ayo, Kayo, kita temui para senpai di klub school idol! Kamu mau bergabung dengan klub itu, 'kan?"

"Tu, tunggu, Rin-kun!" Hanayo masih gugup.

"Kamu egois banget, sih? Kalau memang dia belum yakin ya enggak usah dipaksa gitu, dong!" seru Maki sambil menarik lengan Hanayo yang satunya.

"Apa?! Memangnya kamu punya hak apa sampai sok ngasih saran begitu?" Rin tampak tidak suka dengan Maki yang ikut campur.

"Aku baru saja mengajarinya bernyanyi! Koizumi-san memang punya potensi yang bagus, tapi dia masih harus dipoles lagi. Oleh karena itu, enggak masalah kalau sekarang dia belum ingin bergabung!" jawab Maki.

"Berisik! Kayo itu memang kurang percaya diri! Dia harus kupaksa terlebih dahulu agar dia yakin dengan pilihannya!"

Pada akhirnya, Hanayo malah diseret-seret oleh Maki dan Rin untuk menemui Kazuya.

"Dareka tasukete!" seru Hanayo.


Mereka bertiga pun sampai ke tempat Kazuya, Takumi, dan Kotori berlatih, yaitu di atap sekolah.

"Hah… kalau begitu, aku enggak akan memaksamu, Kayo," kata Rin setelah kepalanya dingin. "Terserah kamu maunya gimana, tapi aku akan mendengarkan keputusanmu di sini sampai selesai,"

"Kalau begitu, aku balik, ya…" Maki mencoba kabur, tapi Rin menarik bagian belakang leher blazer-nya.

"Tunggu, kamu juga harus jadi saksi!" kata Rin.

"Memangnya ini ijab kabul?!" protes Maki.

"Oi, oi, kalian berdua tenang dulu, dong!" tegur Kazuya sambil nyengir. "Nanti kita enggak bisa dengar apa yang ingin dikatakan Koizumi-san, nih!"

Hanayo menarik nafas dan berusaha untuk tenang. "Namaku Koizumi Hanayo! Aku pendek, tidak percaya diri, dan punya banyak kekurangan, tapi aku yakin passion-ku untuk menjadi idol tidak kalah dengan siapa pun. Oleh karena itu, izinkanlah aku bergabung, senpai!"

Kazuya berdiri dan menepuk-nepuk kepala Hanayo. "Yak, kamu diterima!"

"Baik!" kata Hanayo.

"Syukurlah, Kayo…" Rin tampak terharu. "Kamu sudah lebih dewasa sekarang, nak,"

"Apaan, sih? Reaksimu sudah seperti bapak-bapak yang anak perempuannya telah menikah saja!" kata Maki.

"Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Takumi kemudian.

"Eh?" Maki dan Rin saling pandang.

"Tidak usah malu-malu, ah!" kata Kotori.

Takumi mengulurkan tangannya. "Kami masih butuh banyak sekali anggota! Bergabunglah bersama kami!"

Maki dan Rin pun tersenyum kemudian merobek formulir yang mereka gunakan untuk mendaftar di klub yang mereka ikuti uji cobanya kemarin. "Baik, senpai!"


Keesokan harinya, mereka berenam menghadap OSIS agar klub mereka dapat diresmikan.

"Aku menolak," kata Eri.

"Tunggu! Jumlah anggota kami 'kan sudah lebih dari cukup untuk membuat klub resmi!" protes Takumi.

"Memang, sih, tapi aku tidak bisa meresmikan klub kalian selama klub peneliti idol masih ada," jelas Eri. "Kami tidak butuh dua klub yang sama di sekolah ini,"

"Bagaimana jika kalian berunding dengan klub peneliti idol supaya klub kalian bisa digabung dengannya?" saran Nozomi.

Mereka berenam pun berterima kasih dan berlalu menuju ruang klub peneliti idol.


Saat tiba di depan ruang klub itu, mereka bertemu dengan seorang senpai kelas tiga dengan cardigan pink dalam blazer-nya, Yazawa Nico.

"Tu, tunggu, bukannya kamu cowok yang membentakku dan Kotori-chan tadi pagi?" kata Kazuya.

"Iya, yang bilang kalau keberadaan kami adalah aib untuk school idol yang sesungguhnya!" timpal Kotori.

"Sheeeeh!" Nico berusaha mencakar-cakar mereka agar mereka menjauh dan segera masuk ke ruangannya. Dia mengunci pintu dan kabur lewat jendela.

"Rin-kun! Kejar target!" perintah Kazuya.

"Makaseru, nya!" jawab Rin sambil memberi hormat pada Kazuya. Ia pun langsung berlari dengan cepat untuk mengejar Nico.

Sayangnya, stamina Nico kalah jauh dengan Rin sehingga ia dengan mudah tersusul. Saat hendak mencari tempat untuk bersembunyi di sekitar taman sekolah, dirinya malah tersandung dan jatuh ke kandang alpaca. Nico pun berhasil diamankan dan dibawa oleh Rin untuk diajak berunding di ruang klub peneliti idol.


"Jadi, kalian mau apa?" tanya Nico sinis begitu semuanya telah duduk mengelilinginya di ruangannya.

"Kami mohon, gabungkan lah klub peneliti idol dengan klub kami, Yazawa-senpai!" pinta Kazuya.

"Eng-gak ma-u, paham?" tolak Nico mentah-mentah.

"Eh?! Kenapa?!"

"Keberadaan kalian saja sudah aib untuk school idol yang sesungguhnya dan satu lagi! Kalian membuatku kesal! Jadi, pergilah!" seru Nico sambil mendorong mereka berenam keluar dari ruangannya.

"Hah… padahal Rin-kun sudah capek-capek mengejarnya!" keluh Kazuya.

"Sudahlah, Kazu-senpai! Don't mind!" Rin berusaha menyemangati Kazuya. "Toh, Yazawa-senpai itu gampang banget dikejarnya! Hahahaha!"

"WOI! Ngomong apa lo barusan?!" seru Nico dari dalam.

"Woah, ayo kita kabur~!" kata Rin sambil menarik teman-temannya.

Setelah berdiskusi malamnya, mereka berenam setuju untuk meluluhkan hati Nico dengan bersikap layaknya anggota klub peneliti idol dan menghormatinya yang merupakan ketua klub tersebut.


"Selamat datang, buchou!" seru mereka berenam kompak begitu Nico masuk ke ruang klub keesokan harinya sepulang sekolah.

"Eh? EEEEH?!" Nico bingung dengan apa yang mereka lakukan.

"Terima kasih atas kehadirannya, buchou!" kata Maki monoton sambil membaca catatan kecil berisikan skenario 'meluluhkan hati Yazawa-senpai' yang ia sembunyikan di kolong meja.

"Silakan tehnya, buchou!" kata Kazuya sambil menyodorkan teh hijau hangat. "Sudah kuberi gula yang banyak karena aku tahu buchou suka yang manis-manis!"

"Buchou! Kardus-kardus ini sebaiknya kutaruh di mana?" tanya Rin sambil mengangkat kardus berisikan merchandise school idol.

"O, oi! Jangan asal memegang barang-barangku!" seru Nico yang mulai kewalahan.

"Wuaaaah!" seru Hanayo tiba-tiba dengan heboh.

"A, ada apa, Hanayo?" tanya Takumi.

"Yazawa-senpai… Yazawa-senpai punya Blu-Ray kompetisi Love Live tahun lalu sebanyak dua buah! Ini 'kan dijual terbatas! Aku saja sudah kehabisan bahkan sebelum pre order! Wuaaaah!" Hanayo heboh sendiri sambil memegang kedua box Blu-Ray yang dimaksud.

"A, aku baru tahu kalau Hanayo-chan bisa begini juga," komentar Kazuya yang agak pangling.

"Aku juga suka Kayo yang ini, nya!" kata Rin.

"Nee, Yazawa-senpai-sama! Ayo, kita tonton Blu-Ray ini!" pinta Hanayo sambil mendekati Nico.

"Ya, Yazawa-senpai-sama…?" Nico kewalahan menghadapi Hanayo mode ngidol ini.

"Buchou, aku sudah mendesain kostum untuk live yang akan datang, nih! Bagaimana menurutmu?" Kotori tidak mau kalah.

"Buchou, aku sudah merancang anggaran pengeluaran dan pemasukan klub kita! Maukah buchou memeriksanya?" Takumi juga ikutan.

Nico pun menghela nafas karena capek dikelilingi para kouhai-nya yang berkelakuan seperti kucing-kucing yang ingin meminta makanan darinya. "Cukup, kalian semua duduk dulu, deh. Aku akan mendengarkan apa yang ingin kalian katakan satu per satu!"

"Sebelum kalian mulai mengoceh enggak karuan aku ingin mengingatkan satu hal lagi pada kalian," kata Nico. "Aku tetap tidak mau klubku digabung dengan klub kalian,"

"Kata siapa? Kami bertujuh justru ingin membentuk grup school idol terbaik keluaran SMA Otonokizaka," ujar Kazuya. "Ya, 'kan, teman-teman?"

Kelima orang lainnya pun mengangguk.

"Tunggu? Bertujuh itu maksudnya?" Nico bingung dengan ucapan Kazuya.

"Hehe, bertujuh bersama Nico-senpai, dong!" jelas Kazuya sambil nyengir. "Kami yakin dengan bergabungnya dirimu kita dapat membentuk grup school idol yang paling hebat!"

Nico menundukkan kepalanya, sepertinya hatinya telah luluh. Wajar saja, sebenarnya dulu Nico juga pernah membentuk klub school idol saat kelas satu, tetapi satu per satu temannya meninggalkannya karena tidak sanggup mengikuti standar yang ditetapkannya. Namun hari ini berbeda! Para kouhai-nya tersenyum seolah mengulurkan tangan mereka padanya agar ia mau bergabung dan membimbing mereka menjadi school idol terhebat.

"Huh! Baiklah, aku akan bergabung dengan kalian," kata Nico kemudian.

"Benarkah?!"

"Ya, tentu saja," jawab Nico. "Tapi asal kalian tahu, aku ini serius untuk menjadi school idol! Jadi, latihan versiku pastinya akan lebih berat dan ketat dari kalian, lho,"

Mereka berenam tersenyum kemudian berdiri dan membungkukkan tubuh mereka. "Kami mohon bimbingan dan kerjasamanya, Nico-senpai!"


Klub mereka pun sukses menyandang status resmi. Nozomi tersenyum sendiri melihat dokumen klub peneliti idol yang kini anggotanya telah berjumlah tujuh orang.

"Nozomi! Sedang apa kamu? Rapat persiapan untuk acara open campus akan segera dimulai!" kata Eri.

"Baik, kaichou!" jawab Nozomi sambil tersenyum dan berjalan mengekori Eri menuju ruang OSIS.