Huwee... akhirnya nyampe ke plot ini juga :'D ada hasilnya juga bangun siang /enggapengaruhmbak
Chapter kali ini lumayan panjang karena gue skip episode pas live Korekara no Someday, tapi kolaborasi bagian pas Trio Bakka belajar mati-matian demi lolos UTS dengan open campus saat Eri gabung ke klub peneliti idol.
What are you waitin' for? Check it out and don't forget to review!
Break The Ice
Hari ini Kazuya, Takumi, dan Kotori bermaksud menemui Ibu kepala sekolah sebelum latihan untuk meminta izin supaya klub mereka diperbolehkan untuk mengikuti kompetisi Love Live yang akan diadakan sebentar lagi.
"Hehehe, aku jadi deg-degan saking senangnya!" kata Kazuya yang sudah bersiap mengetuk pintu ruang kepala sekolah.
"Sudah, jangan banyak omong! Cepat ketuk pintunya!" seru Takumi gregetan.
"Tidak mungkin! Tolong Anda pertimbangkan lagi, Bu!" terdengar suara Ayase Eri dari dalam ruangan.
Mereka yang agak kaget memutuskan untuk tidak membuka lebar pintu tersebut untuk mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Eri dan kepala sekolah.
"Maaf, Ayase-san," kata Ibu kepala sekolah. "Ini juga sudah kurundingkan dengan pihak yayasan dan ini lah keputusannya, sekolah ini akan tetap ditutup,"
"Tapi-" Eri berusaha menyela, tapi Kazuya keburu menerobos ke dalam.
"Apakah itu benar, Bu?!" tanya Kazuya kaget.
"Ibu, aku tidak pernah dengar kabar seperti ini!" kata Kotori. "Kenapa tiba-tiba begini?"
"Tolong beri kami seminggu, tidak… dua hari! Kami akan memberikan penampilan terbaik kami!" pinta Kazuya.
Bu kepala sekolah mengehela nafas kemudian tersenyum. "Begini, lho, nak… sekolah ini baru akan ditutup jika hasil angket yang diberikan pada para pengunjung di open campus yang akan diadakan akhir pekan ini negatif maka kami baru akan memutuskan akan menutup sekolah tahun depan,"
"Open campus?" Kazuya agak bingung.
"Maksudnya, saat anak-anak SMP dan orangtuanya datang ke sekolah ini untuk melihat-lihat?" tanya Takumi.
"Iya, benar sekali, Sonoda-kun," jawab Ibu kepala sekolah.
"Haaaah… ternyata enggak langsung ditutup, toh? Nyaris saja jantungku copot!" Kazuya menghela nafas lega.
"Jangan merasa tenang dulu!" kata Eri. "Ibu kepala sekolah, untuk acara ini biarkanlah OSIS yang bertanggung jawab untuk mengisi acara!"
"Hmm… kalau itu aku tidak bisa mengizinkannya," jawab Ibu kepala sekolah.
"Kalau begitu, perbolehkan kami untuk mengadakan live! Kami mohon!" kata Kazuya.
"Tentu," jawab Ibu kepala sekolah sambil mencatat permintaan Kazuya di agendanya.
"Aku sama sekali tidak mengerti," kata Eri kesal. "Kenapa Anda lebih memihak mereka, yang baru terbentuk kurang dari sebulan dibandingkan dengan kami, para anggota OSIS?"
"Saya tidak memihak siapa pun, kok," jawab Ibu kepala sekolah. "Dan ini juga mudah dimengerti, Ayase-san. Popularitas mereka berkat kompetisi Love Live sangat berpengaruh dalam menarik perhatian para calon siswa maupun siswi makanya saya mengizinkan mereka untuk mengadakan live, bukankah itu masuk akal?"
"Kalau begitu, izinkanlah OSIS juga ambil bagian dalam acara!" Eri masih saja ngotot.
"Huh, kamu ini memang keras kepala, ya, Ayase-san?" komentar beliau sambil merengangkan jari-jarinya.
"Aku permisi," Eri pun berlalu meninggalkan ruangan kepala sekolah.
"Jadi, kalian meminta izin untuk mengadakan live saat acara open campus?" tanya Nico begitu mereka bertiga kembali ke atap sekolah.
"Yap!" jawab Kazuya sambil mengacungkan jempol.
"Love Live-nya, gimana?" tanya Maki.
"Ada syaratnya, sih…" Kotori tampak ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Sudah, biar aku saja," kata Takumi sambil memegang bahu kanan Kotori. "Untuk ikut kompetisi itu Ibu kepala sekolah mengatakan kalau nilai kita semua harus bagus saat ujian tengah semester nanti, semua pelajaran di atas KKM!"
Kazuya, Nico, dan Rin pun langsung mojok tidak berdaya.
"Dan sepertinya itu syarat yang cukup gawat untuk tiga anak tolol ini," komentar Maki.
Mereka bertujuh pun kembali ke ruang klub.
"Mohon, bantu kami agar bisa lolos UTS kali ini!" pinta Kazuya dan Rin sopan sambil membungkukkan tubuh mereka pada Takumi, Kotori, Maki, dan Hanayo.
"Haaaah… aku juga tahu dari dulu nilai-nilaimu enggak pernah bagus, sih," kata Takumi. "Gimana caranya aku mengajarimu, ya?"
"Ha, hanya pelajaran matematika aja, kok!" Kazuya berusaha membela diri. "Kau tahu betapa payahnya aku saat belajar aritmatika saat SD dulu, 'kan?"
"Tujuh dikali empat berapa?" tanya Hanayo.
"Dua… enam?" Kazuya menghitung dengan jarinya.
"Kau memang harus belajar lebih serius lagi," kata Takumi yang mulai frustasi.
"Umm… kalau Rin-kun, gimana?" tanya Kotori.
"Bahasa Inggris! Entah kenapa hanya itu yang enggak bisa dicerna otakku!" jawab Rin.
"Pe, pelajaran itu memang agak sulit, ya?" kata Hanayo.
"Iya, 'kan? Iya. 'kan?" Rin senang karena sepertinya Hanayo membelanya. "Lagian, kita 'kan orang Jepang! Ngapain repot-repot belajar bahasa asing seperti i—"
Braaak! Maki menggebrak meja saking kesalnya.
"Enggak usah banyak omong!" seru Maki sambil mendekatkan wajahnya pada Rin dan menatapnya tajam. "Memangnya, nanti jadi salah siapa kalau grup kita enggak bisa ikut Love Live?!"
"Maki-chan, kamu galak banget…" keluh Rin.
"Berhentilah mengeluh dan belajarlah yang rajin!" seru Maki sampai hidungnya dan Rin beradu.
"Maki-chan, kau terlalu dekat! Terlalu dekat!" Rin berusaha memperingatkan karena takut Hanayo cemburu.
"Payah! Padahal aku sudah lega karena masalah kita sudah lepas dari OSIS!" lanjut Maki sambil berdiri menjauh dari Rin dan bertolak pinggang. "Sekarang kita mesti gimana, coba?"
"Tidak ada pilihan lain selain belajar yang rajin, 'kan?" jawab Nico sambil sok sibuk belajar matematika. "Nilai kalian jangan ada yang jelek, lho, ya!"
"Nico-senpai, nilaimu?" tanya mereka berenam.
"A, a, aku? Tentu saja, aku ini enggak pernah remed!" jawab Nico sambil berusaha nyengir.
"Bohongmu kelihatan banget," komentar Takumi.
"Uuugh…" wajah Nico pun menjadi pucat.
Nozomi masuk ke ruangan dan meletakkan kertas berisikan nilai-nilai harian Nico di atas meja.
"Kalau dia serahkan saja padaku!" kata Nozomi.
"Nozomi?!" Nico agak kaget melihat kehadirannya. "Ngapain lo bawa-bawa nilai gue?! Enggak, daripada itu lo dapat dari mana?"
"Uwaaah… parah, parah, parah…" komentar Maki sambil tertawa mengejek begitu melihat nilai-nilai Nico.
"Be, berisik!" seru Nico kesal.
"Hu, huh! Aku bisa belajar sendiri, kok! Kau enggak usah repot-repot mengurusku!" Nico malah sok tsundere. "Bantu saja mbak Russia yang jutek itu mengurus persiapan open campus!"
Nozomi pun segera menggelitik pinggang Nico. "Wah, itu artinya aku bisa nge-bully kamu sepuasnya, dong?"
"O, oke, tolong bantu aku…" Nico menyerah.
"Dengan senang hati!" kata Nozomi.
"Yosh, ayo, kita belajar dengan semangat mulai besok!" seru Kazuya.
"Enggak! Mulai hari ini!" tegas Takumi.
"Baik…" Kazuya dan Rin terpaksa menurut.
"Uuukh… apa aku harus banget belajar seperti ini sampai UTS, nya?" keluh Rin.
"Ya, iyalah! Sadar diri kek nilaimu sejelek apa!" kata Maki.
"Huweee…" rengek Rin.
"Kotori-chan!" panggil Kazuya.
"Ada apa, Kazuya-kun?" tanya Kotori. "Tinggal sedikit lagi, berjuanglah!"
"Oyasumi!" Kazuya membenamkan wajahnya ke atas meja dan mulai mendengkur.
"Tu, tunggu! Bangun, Kazuya-kun! Kazuya-kun!" seru Kotori sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kazuya.
"Ampun, deh…" kata Takumi. "Kalau begitu, sisanya kuserahkan padamu, ya, Kotori? Aku sudah harus pergi ke klub Kyuudo,"
"Baiklah, Takumi-kun," jawab Kotori sambil tersenyum. "Semangat, ya!"
UTS pun berakhir. Untunglah, nilai si trio oneng pun selamat meski ngepas sedikit di atas KKM. Setelah menunjukkannya pada kepala sekolah mereka pun pulang, kecuali Takumi yang harus latihan di klub Kyuudo untuk persiapan demonstrasi klub saat open campus.
Begitu selesai latihan, Takumi pun berjalan menuju pintu gerbang sekolah. Dia mendapati seorang siswi SMP berambut pirang pucat sedang menyenandungkan lagu START:DASH sambil melihat video di iPod-nya.
"Kok, aku belum pernah lihat bagian ini di video yang di-upload ke Love Live, ya?" komentar Takumi sambil mengintip apa yang ditonton gadis itu.
Kedua mata mereka pun bertemu dan mereka saling menjerit karena kaget.
"Sonoda Takumi-san dari µ's, ya?" tanya gadis itu dengan mata berbinar-binar.
"Eh? Ah, enggak, bukan! Kamu salah orang, dek!" Takumi berusaha bohong.
Gadis itu langsung kelihatan kecewa.
"Iya, aku orangnya," Takumi akhirnya mengaku karena tidak tega.
"Sudah kuduga!" kata gadis itu senang.
"Oh ya, video ini kamu dapat dari mana?" tanya Takumi. "Rasanya, aku belum pernah lihat bagian yang ini,"
"Kakakku yang merekamnya soalnya aku enggak bisa nonton live kalian waktu itu," jelas gadis itu.
"Kakakmu?"
"Arisa!" panggil seseorang sambil berjalan mendekati mereka berdua.
"Tunggu, kakakmu itu… ketua OSIS, Ayase Eri?!" Takumi tentu saja kaget begitu Ayase Eri sudah berdiri di depan mereka berdua.
Eri pun terpaksa mengajak Takumi bicara di taman kota karena dia terlanjur mengetahui rahasianya.
"Dari awal kami sudah curiga, siapa gerangan yang telah meng-upload video-video itu dan aku sama sekali tidak menyangka kalau kau orangnya, ketua OSIS," kata Takumi. "Tanpa semua yang kau lakukan itu mungkin kami tidak akan bisa jadi seperti sekarang makanya biarkan aku berterima—"
"Hentikan," sela Eri.
"Eh?"
"Niat awalku ketika merekam dan meng-upload video-video itu justru sebaliknya," ujar Eri. "Aku ingin kalian mempermalukan diri kalian sendiri dan sadar akan posisi kalian, tapi yang terjadi justru di luar harapanku,"
"Kalian menjadi semakin terkenal, anggota kalian semakin bertambah, juga kepala sekolah sepertinya berharap banyak pada kalian," lanjut Eri. "Tapi meski begitu, aku tidak akan pernah mengakui kalian,"
"Tunggu, kenapa begitu?!"
"Bagiku, kalian, semua school idol bahkan juga A-RISE yang disebut-sebut sebagai si nomor satu hanyalah sekelompok amatiran," jelas Eri. "Kalian tidak pantas untuk diakui,"
"Maksudmu, kalau kami berhasil saat live di open campus nanti kau akan mengakui kami?"
"Itu mustahil," jawab Eri sambil mengambil tasnya dan tas adiknya. "Arisa, ayo, kita pulang!"
Takumi berdiri dan berseru, "Kau tidak berhak menilai kami seperti itu!"
Eri menghentikan langkahnya. "Terserah kau saja,"
"Onee-chan? Apakah onee-chan dan µ's bermusuhan?" tanya Arisa.
"Begitulah," jawab Eri singkat.
"Aku juga mengerti kalau berbakat sepertimu," kata Arisa. "Oh ya, kenapa wajahmu kelihatannya merah sekali, onee-chan?"
"Ma, masa'?"
"Jepang sudah memasuki musim panas, sih, ya… tapi bukannya sore ini tidak begitu panas?" tanya Arisa.
"Ah, mungkin aku agak demam?" jawab Eri. "Kau tahu belakangan ini aku tidur larut malam karena banyak urusan, 'kan?"
"Kalau begitu, istirahatlah begitu kita sampai," kata Arisa.
"Tentu, terima kasih," jawab Eri.
Meski sedikit, tapi Eri dapat merasakan jantungnya berdegup kencang begitu selesai berbicara dengan Takumi.
Apa-apaan ini? Aku 'kan hanya bicara dengan anak kelas dua, tapi kenapa wajahku terasa semakin panas? Sepertinya ini bukan karena gugup maupun kecapekan, gumam Eri.
Saat itu, mungkin Eri masih belum tahu maksud dari debaran di hatinya itu.
"Nozomi-senpai," panggil Takumi pada Nozomi yang tengah bekerja sebagai miko di Kanda Myojin.
"Hmm? Ada apa?" tanya Nozomi sambil menghampiri.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan… tentang Ayase Eri," Takumi langsung bicara to the point.
Setelah mendengar penjelasan singkat tentang rahasia Eri, Nozomi akhirnya membuka mulut alasan sebenarnya kenapa Eri tidak mau mengakui para school idol. Dulu Eri adalah mantan balerina yang berbakat, tapi sayang dirinya tidak lolos di kompetisi bahkan hal itu terus berlanjut hingga SMP. Eri pun menyerah dan meninggalkan dunia balet. Di akhir pembicaraan, Nozomi meminjamkan iPod-nya yang berisikan video rekaman Eri kecil yang tengah mempertunjukkan penampilan baletnya.
"One, two, three, four! One, two, three, four!" Takumi memberi aba-aba agar teman-temannya dapat berlatih dance sesuai dengan tempo.
Namun, pikirannya tidak fokus. Ia terus teringat dengan apa yang dibicarakannya dengan Nozomi juga Eri.
"Sempurna!" seru Kazuya kegirangan begitu latihan dance selesai. "Formasi kita betul-betul sempurna! Iya, 'kan, Takumi-kun?"
"Maaf, bisa kita ulang sekali lagi?" pinta Takumi.
Semuanya pun menurut. Lagi-lagi Takumi memberi aba-aba dengan raut wajah yang sedih dan kelihatan kurang puas.
"Bagaimana?" tanya Kazuya begitu dance selesai.
"Masih belum," jawab Takumi sambil menunduk dan mengepalkan tangannya.
Maki yang emosi pun berjalan mendekati Takumi dan mencengkeram leher bajunya. "Cukup! Apa maksudmu dengan 'masih belum'?! Step-step ini 'kan kau yang buat! Kenapa sekarang kau tidak puas? Apa yang kurang?!"
"Kita kekurangan impact," jawab Takumi.
"Jadi, kita harus bagaimana, Takumi-senpai?" tanya Hanayo.
"Lebih baik kalian lihat dulu video ini," perintah Takumi sambil menyerahkan iPod-nya Nozomi pada teman-temannya.
"Ini… si ketua OSIS?" Nico tampak tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita minta tolong diajari dance olehnya?" usul Kazuya.
"EEEH?!"
"Kok, kalian kaget, gitu?" tanya Kazuya bingung. "Dari video ini pun kita juga tahu kenapa ketua OSIS enggak pernah mau mengakui kita, 'kan? Itu karena dia sendiri berbakat makanya dia menganggap kita semua ini amatiran!"
"Tunggu, Kazuya! Kau serius mau minta tolong dia?!" Nico tampak tidak setuju. "Kau enggak ingat gimana susahnya kita dapat izin untuk dapat status resmi dulu?"
"Se, selain itu… bukankah ketua OSIS galak banget, ya?" tambah Hanayo.
"Tapi! Kalau bukan sama dia, kapan kita akan maju? Kapan kita akan lebih diakui?" kata Kazuya. "Kita 'kan hanya minta diajari dance, apa salahnya?"
Semuanya tampak berpikir keras.
"Aku setuju," kata Kotori kemudian.
"Tunggu! Kau tidak perlu memaksakannya, Kotori!" Takumi tampak khawatir.
"Benar kata Kazuya-kun, apa salahnya kita coba? Siapa tahu fans kita jadi tambah banyak berkat ajaran ketua OSIS?" kata Kotori.
"Kalau begitu, aku juga setuju!" kata Rin.
"Ri, Rin-kun?!" Hanayo agak kaget mendengarnya.
"Demi jadi idol nomor satu apa sih yang enggak? Ya, 'kan, Kayo? Nico-senpai?" kata Rin sambil nyengir.
Nico menghela nafas panjang. "Tapi kalau sampai ada apa-apa aku enggak tanggung jawab, ya?"
"Kalian ingin aku mengajari kalian dance?" tanya Eri begitu mereka selesai mengatakan permintaan mereka.
"Iya, kami mohon bantuanmu!" kata Kazuya sambil membungkukkan tubuhnya.
Eri mendesis. "Ck! Jangankan latihan dance! Latihan gerakan dasar saja kalian sudah banyak salahnya!"
"Dengar? Kalau kalian ingin aku mengajari kalian dance maka kalian harus ikuti semua menu latihan yang kubuat untuk kalian, mengerti?" kata Eri.
Latihan yang dibuat oleh Eri sangat jauh levelnya dibandingkan latihan sehari-hari yang mereka lakukan. Bahkan latihan peregangan dan gerakan dasar saja sudah berat. Satu per satu dari mereka bahkan mulai jatuh saat latihan keseimbangan.
"Cukup! Sampai di sini saja!" kata Eri sambil berbalik.
"Tunggu!" seru Kazuya.
Eri menoleh.
"Terima kasih atas kerja kerasnya! Besok kami mohon lagi bimbingannya!" kata Kazuya yang diikuti teman-temannya.
Apa-apaan Kousaka Kazuya itu? Memaksaku mengajari mereka dance begitu! Bukannya aku enggak mau, tapi… jantungku tidak bisa berhenti berdegup kencang setiap bertemu mata dengan anak itu, Sonoda Takumi… kata Eri dalam hati sambil mempercepat langkahnya.
Tok! Tok! Arisa mengetuk pintu kamar Eri.
"Onee-chan? Boleh Arisa masuk?" tanyanya dari luar.
"Ya, masuk saja!" jawab Eri.
"Wah, onee-chan rajin sekali!" komentar Arisa. "Padahal tadinya aku ingin minta tolong diajari soal yang ini,"
"Kalau begitu, simpan dulu iPod-mu supaya bisa cepat paham, oke?" kata Eri.
"Tentu," jawab Arisa sambil meletakkan iPod tersebut di meja rias kakaknya.
Setelah mengajari Arisa sampai mengerti, Eri meninggalkannya sebentar agar dia mencoba mengerjakan soalnya sendiri. Dia mulai menyetel lagu yang terdapat di iPod adiknya itu, Korekara no Someday.
"Nee, Onee-chan?" panggil Arisa tiba-tiba.
"Ya?"
"Aku sudah lihat apa yang akan kau lakukan di acara open campus nanti," kata Arisa sambil mengangkat kertas-kertas yang berserakan di meja belajar Eri. "Sepertinya kau terlalu memaksakan dirimu,"
"Itu sudah sewajarnya sebagai ketua OSIS,"
"Kalau boleh jujur, aku enggak menemukan satu hal yang menarik dari uraian yang kau tulis tentang SMA Otonokizaka ini,"
"I, itu masih konsep, kok,"
Arisa menghela nafas. "Kau tidak perlu berbohong padaku, onee-chan. Sebenarnya, apa yang ingin kamu lakukan?"
Eri hanya terdiam mendengar pertanyaan sang adik.
Keesokan harinya saat berjalan menuju ruang OSIS Eri terus terngiang-ngiang akan pertanyaan Arisa. Apakah ini benar-benar hal yang ingin dilakukannya?
"Kau tahu, Ericchi?" kata Nozomi yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya. "Semenjak aku berteman dan bekerja bersamamu di OSIS ada satu hal yang terus mengganjal pikiranku, apa sih yang sebetulnya benar-benar ingin kamu lakukan?"
"Kita 'kan udah sering sama-sama, aku juga ngerti, kok," lanjutnya. "Kamu selalu berjuang keras demi orang lain, tapi tidak pernah sekali pun memikirkan dirimu sendiri,"
Eri berusaha tidak mendengarnya dan ingin meninggalkan Nozomi, tapi Nozomi terus berbicara.
"Kamu ingin menghentikan penutupan sekolah karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua OSIS, 'kan?" kata Nozomi. "Makanya kepala sekolah tidak mendukung tindakanmu, apa aku salah?!"
"Ericchi, apa sih yang benar-benar ingin kamu lakukan?" Nozomi bertanya sekali lagi.
"Apa, sih?" kata Eri. "Menurutku aku harus melakukan sesuatu demi sekolah ini, apa salahnya aku memaksakan diri?!"
"Kalau aku bisa sejujur itu, aku juga pasti sudah melakukan apa yang kusukai dan kuinginkan, kau tahu?!" air mata Eri mulai menetes.
"Aku tahu aku ini kikuk, tapi… apa kau pikir sekarang aku masih bisa bergabung dengan mereka?" tanya Eri kemudian sambil berlari meninggalkan Nozomi.
Eri duduk di bangku paling belakang di kelasnya dan melamun.
"Yang benar-benar ingin kulakukan, ya?" gumam Eri sambil menopang dagu dengan tangan kanannya.
Tepat saat ia bergumam begitu seseorang mengulurkan tangan kepadanya, Kousaka Kazuya.
"Eri-senpai, aku punya permintaan," kata Kazuya.
"Latihan? Kalau begitu, kalian harus bisa menguasai apa yang kubilang kema—" jawab Eri.
"Eri-senpai," sela Kazuya. "Bergabunglah dengan µ's!"
"Aku ingin kau bernyanyi bersama kami sebagai school idol!" lanjut Kazuya.
"Apa yang kau bilang ini? Mana mungkin aku bisa mengikuti kegiatan seperti itu," sangkal Eri.
"Barusan Nozomi-senpai memberikan rekaman ini," kata Takumi sambil menyetel rekaman pembicaraannya tadi dengan Eri.
"Aku tahu aku ini kikuk, tapi… apa kau pikir sekarang aku masih bisa bergabung dengan mereka?"
"Halah, padahal tinggal bergabung saja susah amat!" komentar Nico sambil berkacak pinggang.
"Senpai, mending kau ngaca dulu, deh," balas Maki.
"Tunggu dulu! Aku sama sekali enggak serius mengatakannya!" Eri berusaha mengelak. "Lagian, bukannya aneh kalau aku ikut menjadi school idol setelah semua yang kulakukan pada klub kalian?"
"Kurasa, enggak ada salahnya dicoba?" kata Nozomi. "Bukankah begitu caranya kita mulai melakukan sesuatu yang benar-benar kita inginkan?"
Takumi memegang kedua bahu Eri sambil tersenyum. Eri pun menerima uluran tangan Kazuya.
"Syukurlah," kata Kazuya.
"Dengan begini, kita punya delapan anggota!" timpal Kotori.
"Bukan," sela Nozomi. "Tapi Sembilan,"
"EEEH?" mereka berdelapan pun kaget.
"Nozomi-senpai juga…?" tanya Kazuya.
"Aku hanya mengikuti apa kata ramalanku, kok," ujar Nozomi. "Masa depan yang cerah akan terbuka untuk grup ini saat anggotanya berjumlah sembilan orang, dari sanalah nama grup kalian berasal, Muse,"
"Jadi, Nozomi-senpai yang menyarankan nama itu?" kata Kazuya dengan agak kaget.
"Hehehe…" Nozomi hanya nyengir.
Takumi tiba-tiba melakukan kabedon pada Eri. "Intinya, kalau kau sampai melakukan yang aneh-aneh lagi aku akan menyebarkan rekaman ini mulai dari klub Kyuudo. Kau tahu berapa banyak anak eksis yang bergabung di klubku, 'kan?"
Eri hanya bisa berkeringat dingin sambil mengangguk-angguk.
Dia diancam…! Tapi entah kenapa kami bersyukur! Sasuga, Takumi! gumam ketujuh anggota lainnya.
Perseteruan antara Ayase Eri dan µ's pun berakhir. Kini saatnya membuka lembaran baru, kisah cinta yang mendebarkan di antara sesama anggota juga perjuangan untuk memenangkan Love Live!
