Sedikit bumbu sebelum chapter yang cukup menegangkan ^^ enjoy~
Never Let Me Go
Semenjak Eri bergabung dengan mereka, grup mereka menjadi semakin populer. Mereka mengalami banyak sekali kemajuan saat latihan dan menerima banyak sekali undangan untuk tampil di beberapa acara yang diselenggarakan pihak luar sekolah.
Tapi hari ini mungkin bukan hari yang menyenangkan untuk Minami Kotori. Sambil mengenggam amplop dengan perangko yang berasal dari Eropa dia terus menunduk untuk menyembunyikan raut wajahnya yang sedih. Tidak ada yang menyadari hal ini, kecuali sahabatnya yang telah lama jatuh cinta padanya, Sonoda Takumi.
Akhirnya, tibalah saat yang tepat bagi Takumi untuk mencoba meringankan beban gadis itu karena hari ini keduanya pulang bersama karena harus melaksanakan piket. Dalam perjalanan mengantar Kotori sampai ke rumahnya, Takumi mentraktirnya crepes kesukaan gadis itu. Begitu sampai, Takumi segera meminta izin padanya untuk bertamu sebentar. Mereka berdua pun bicara di kamar Kotori.
"Takumi-kun, terima kasih," kata Kotori. "Aku tidak menyangka kalau kamu bisa tahu ada hal yang sedang menggangguku,"
"Itu wajar, bukan?" jawab Takumi. "Kita 'kan sudah lama sekali berteman,"
Kotori mencoba tersenyum kemudian dia menyerahkan amplop yang menjadi sumber kegalauannya itu pada Takumi.
"Tunggu, Kotori, jangan bilang kamu…?"
"Iya, teman ibuku mengundangku untuk sekolah fashion design di luar negeri," ujar Kotori. "Ini sudah menjadi impianku sejak lama, tapi aku enggak tahu harus bagaimana,"
"Saat berdua dengan Kazuya-kun aku sudah mencoba berkali-kali untuk mengatakannya, tapi aku enggak tega membuatnya kecewa tepat sebelum audisi Love Live! Aku enggak mau membuatnya sedih!" air mata Kotori mulai menetes.
"Memangnya sampai kapan kamu akan ada di sana?" tanya Takumi.
"Kurang lebih dua tahun," jawab Kotori sambil terisak. "Aku baru akan balik ke Jepang saat persiapan kuliah atau bahkan mungkin tidak dan malah melanjutkan kuliah di sana,"
Takumi tak bisa berkata apa-apa. Dirinya tak tega melihat gadis itu bingung sendirian, tapi dia sendiri juga tidak bisa memberikannya solusi. Takumi pun memeluk Kotori dengan erat.
"Aku… enggak bisa memutuskan atau menyarankanmu harus bagaimana, Kotori," kata Takumi. "Tapi kalau kau butuh seseorang untuk mencurahkan apa yang kamu rasakan sejak menerima amplop ini, aku akan selalu di sini untukmu,"
"Menangislah selama yang kau mau," lanjut Takumi.
Kotori pun menangis dalam pelukan Takumi. Takumi berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat bila ia ingin menyatakan perasaannya pada gadis itu.
"Ko, Kotori, ada yang ingin kukatakan padamu sebelum kamu benar-benar pergi," kata Takumi yang luar biasa gugup. "Sebenarnya, aku… aku—"
"Non! Mbok taruh teh dan kuenya di sini, ya!" tiba-tiba kepala pelayan masuk tanpa ba-bi-bu sehingga Takumi tak bisa menyelesaikan perkataannya.
Takumi langsung menoleh ke si mbok dengan tajam atau mungkin dia baper parah.
Pembokat kampret! rutuk Takumi.
"Oh, owalah? Non sama mas Takumi lagi sibuk, ya?" bacot banget ni orang.
IYA! Sekali lihat juga ngerti, kali?! kata Takumi dalam hati.
"Aduh, mbok jadi keinget masa muda, nih!"
Udah, buruan deh lu angkat kaki dari sini! kata Takumi dalam hati.
"Mbok, tinggal dulu, yak!" si mbok menutup pintu sambil sok manis.
Nenek peyot sialan! Padahal tadi kesempatan yang bagus buat ngomong ke Kotori, tapi arrrrgh! gerutu Takumi.
"Takumi-kun? Tadi kamu mau ngomong apa? Maaf, aku enggak dengar gara-gara si mbok," tanya Kotori.
"Bu, bu, bukan apa-apa! Hahahaha!" Takumi terpaksa menutupinya.
Lebih baik jangan kukatakan, deh… pikir Takumi.
"Ehem! Ah, lupakan saja soal itu!" Takumi berusaha mengubah topik pembicaraan. "Menurutku, kamu harus secepatnya mengatakan masalah ini pada anak-anak di klub,"
"Ta, tapi…"
"Aku akan jadi juru bicaramu," kata Takumi sambil tersenyum.
Keesokan harinya di ruang klub…
"Ah, sayang banget hari ini hujan deras, ya?" kata Rin. "Kita jadi enggak bisa latihan untuk live yang akan kita rekam untuk audisi Love Live, deh!"
"Sudahlah, istirahat 'kan juga termasuk latihan!" kata Nozomi.
"Semuanya, bisa aku minta perhatian kalian sebentar?" kata Takumi sambil bangkit dari tempat duduknya.
Semua mata terfokus ke arahnya.
"Tiga hari lagi Kotori akan berangkat ke Prancis untuk belajar di sekolah fashion di sana," ujar Takumi sambil menunjukkan amplop undangan itu. "Dan dia baru bisa kembali dua tahun lagi tepatnya saat persiapan kuliah, itu pun kalau dia tidak melanjutkan kuliah di sana,"
"EEEH?"
"Tunggu, kenapa tiba-tiba?" tanya Eri.
"Oi, Kotori! Apa maksudnya ini? Kamu enggak lagi bercanda, 'kan?!" tambah Nico.
Kotori tidak menjawab dan semakin menundukkan kepalanya.
"Apa menurut kalian aku sedang membual?" kata Takumi sambil memasukkan tangan kirinya ke saku celananya.
"Ko, Kotori-chan…" Hanayo tampak sedih.
"Lalu, bagaimana nasib µ's nanti, nya?" tanya Rin.
"Bagaimana pun juga ini terlalu mendadak!" tambah Maki.
"Sudah, sudah, semuanya tenang dulu!" Nozomi berusaha mencairkan suasana. "Kotori-chan sendiri apa sudah benar-benar memutuskan untuk menerima undangan itu?"
Kotori mengangguk. "Ini sudah jadi impianku sejak lama, bersekolah di luar negeri lalu belajar banyak tentang mendesain pakaian di sana,"
Kazuya tiba-tiba berdiri dan berjalan menghampiri Kotori. "Kenapa kau baru bilang sekarang?"
"Apa yang membuatmu tak bisa mengatakannya? Aku ini temanmu, 'kan?" lanjut Kazuya sambil mencengkeram kedua bahu Kotori. "Aku tidak percaya kau sampai membohongiku seperti ini dan hanya bermain rahasia-rahasiaan dengan Takumi-kun!"
"Bu, bukan begitu…" Kotori seperti ingin menangis.
"Terserah kau mau nangis kayak gimana! Kau memang lebih menyukai Takumi-kun, 'kan?!" tepat setelah Kazuya berkata demikian langit bergemuruh, tanda petir yang besar akan segera menyambar.
Takumi tidak bisa menahan kekesalannya karena ucapan Kazuya terhadap Kotori yang kini semakin membuatnya bersedih. Takumi menjauhkan Kazuya dari Kotori dan meninjunya tepat di perutnya hingga ia terpelanting.
"Aaaakh!" Kazuya memegangi perutnya dan nyaris memuntahkan isinya.
Takumi menatapnya dingin. "Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja kau katakan, Kuzuya (Kazuya sampah)!"
Kazuya marah dan mencengkeram kerah baju Takumi. "Tunggu, apa maksudmu?! Kau sendiri juga tidak mengatakan apa pun padaku!"
Takumi memegang lengan yang tengah mencengkeram kerahnya dan membanting sahabatnya itu ke lantai. Kemudian ia menguncinya dengan teknik bela dirinya yang telah ia pelajari selama bertahun-tahun.
"Jangan asal bicara, rese!" bentak Takumi. "Kau tidak tahu bagaimana bingungnya Kotori memikirkanmu kalau dia sudah mengatakannya dari kemarin-kemarin!"
"Aku memang sudah tahu, tapi lantas apa? Aku saja tidak bisa memberikannya solusi ataupun menghiburnya!" lanjut Takumi. "Tapi kau asal bicara tanpa menyadari apa yang dia rasakan!"
Eri berusaha menarik Takumi menjauh dan melepaskan Kazuya. "Cukup, Takumi! Kita selesaikan masalah ini tanpa kekerasan, oke?"
"Kazu-chan, kamu enggak apa-apa?" tanya Nozomi sambil membantu Kazuya berdiri.
"I, iya," jawab Kazuya sambil memegangi bagian belakang kepalanya yang sakit karena terbentur cukup keras.
"Aku… sudah lama ingin mengatakannya padamu, Kazuya-kun," ujar Kotori. "Tapi aku enggak tega membuatmu sedih di saat kamu kegirangan menantikan audisi Love Live, Love Live, dan Love Live!"
"Aku sudah berusaha, tapi kamu sama sekali tidak menyadarinya!" kata Kotori. "Aku membencimu!"
Kotori berlari meninggalkan ruang klub sambil menangis.
"Sonoda-kun dan Kousaka-kun masih bertengkar, ya?" itulah yang dibicarakan teman-teman di kelas begitu melihat keduanya.
Sudah dua hari mereka tidak bertegur sapa sejak saat itu padahal besok Kotori berangkat ke Prancis dan besok juga adalah hari mereka akan mengadakan live untuk audisi. Keenam anggota yang lain pun mencoba turun tangan agar mereka bisa berbaikan dan menghentikan niat Kotori.
"Kamu yakin ingin tetap begini?" Eri dan Nozomi menanyakan hal yang sama pada mereka berdua.
Akhirnya, Takumi menemui Kazuya di auditorium untuk meminta maaf keesokan harinya tepatnya dua jam sebelum Kotori lepas landas.
"Maafkan aku!" mereka mengatakannya hampir bersamaan.
"Aku tahu aku sudah seenaknya bicara tanpa menyadari perasaan Kotori-chan makanya maafkan aku!" lanjut Kazuya.
"Aku juga minta maaf karena sudah menghajar dan membentakmu," lanjut Takumi. "Aku lepas kendali… oleh karena itu, maafkan aku!"
Keduanya pun saling diam sesaat.
"Masih ada satu setengah jam sebelum dia pergi, Kazuya," kata Takumi kemudian. "Apa kau ingin menghentikannya?"
Kazuya terkekeh. "Kau lupa siapa aku, ya?"
"Sudah kuduga," kata Takumi. "Larilah!"
Kazuya pun berlari menyusul Kotori ke bandara.
"Kotori-chan!" teriak Kazuya pada gadis itu sambil menarik lengannya.
Kotori menoleh pada laki-laki yang tengah bernafas tersenggal-senggal demi menghentikannya. "Kazuya-kun…? Kenapa?"
Kazuya segera memeluk tubuh gadis itu dengan erat. "Maafkan aku! Kau boleh membenciku sesukamu, tapi… jangan tinggalkan aku, bukan… jangan tinggalkan µ's!"
Kotori mulai menangis. "Hampir saja aku putus asa karena kupikir kamu akan tetap membiarkanku pergi, huwaaa…"
Kotori menangis sekencang-kencangnya dalam pelukan Kazuya.
Kazuya melihat jam di hp-nya. "Kita harus segera kembali ke Otonokizaka!"
"EH?!"
"Live-nya hari ini! Kamu enggak lupa dance yang kita pelajari itu, 'kan?" kata Kazuya sambil menarik lengan Kotori.
Kotori tersenyum sambil mengikuti langkah Kazuya. "Tentu!"
Tin! Tin! Sebuah mobil sedan menyapa mereka.
"Butuh tumpangan?" tawar orang yang mengklakson, Bu kepala sekolah.
"I, ibu? Kenapa ibu masih di sini?" tanya Kotori.
"Ibu melihat Kazuya-kun berlari sampai setengah mati demi kamu tadi makanya ibu memutuskan untuk menunggu sebentar," ujar beliau. "Ayo, nanti kita terlambat!"
Nico merasa was-was karena mereka berdua belum tiba. "Oi, si Kazuya berhasil enggak, nih?"
"Enggak ada yang mustahil kalau buat dia, sih," jawab Takumi dengan tenang.
"Iya, deh, yang sahabatnya sejak kecil!" goda Nozomi.
"Maaf kami terlambat!" seru Kazuya sambil membuka pintu belakang panggung. "Tadi aku habis membantu Kotori-chan ganti baju dulu soalnya!"
"Ka, Ka, Kazuya-kun! Yang itu enggak usah dikasih tahu, dong!" wajah Kotori langsung memerah seperti kepiting rebus.
"Wah, wah, wah, harusnya aku menghajarmu sampai semaput, ya, Ka-zu-ya?" Takumi kelihatannya benar-benar ingin menghabisinya. "Kau pikir teman sejak kecil boleh membantunya ganti baju meskipun cowok sekalipun?"
"Oi, Takumi! Simpan dulu hukumanmu!" kata Nico. "Ayo, sudah saatnya!"
"Kazuya, tolong aba-abanya!" perintah Eri sambil mengedipkan sebelah matanya.
"µ's… music start!" seru Kazuya.
I say… hey, hey, hey START DASH!
Hey, hey, hey START:DASH!
