YAY! Akhirnya, sampai juga ke chapter yang ditunggu-tunggu!
Bersiaplah untuk melihat sisi lain dari Takumi, check it out!
Fall Again
Aku enggak bisa terus begini… aku 'kan ketua OSIS! Aku harus jadi contoh yang baik untuk semuanya! gumam Eri sambil tetap fokus belajar di perpustakaan sekolah.
Demi bisa fokus menjadi school idol dan ketua OSIS yang baik Eri bermaksud melupakan perasaannya terhadap Takumi. Meski sakit rasanya karena Takumi adalah cinta pertamanya, tapi mau tak mau dia harus melakukannya. Dia sudah tidak tahan terus tersipu malu setiap bertemu mata dengan pemilik manik berwarna amber itu.
"Hayooo? Mikirin cowok, ya?" Nozomi menggodanya agar dia berhenti melamun.
Eri tersentak. "A, apaan, sih? Sok tahu banget!"
"Iiiih… aku 'kan Cuma bercanda, keleus…" jawab Nozomi sambil nyengir. "Jadi, aku benar, 'kan? Kamu lagi mikirin cowok? Si Tacchan, bukan?"
"Tacchan?"
"Plis, deh, jadi orang peka dikit, gitu," Nozomi menepuk jidatnya. "So-no-da Ta-ku-mi,"
Wajah Eri langsung bersemu merah mendengar nama itu dibisikkan ke telinganya.
"U, udah, ah! Ayo, kita belajar! Belajar!" Eri berusaha menghindar. "Duh, ini AC perpus kenapa, sih? Wajahku sampai merah begini! Ahahahahaha!"
"Mbak, lu sarap atau apa, sih? AC segini dingin lu bilang panas?" komentar Nozomi.
Eri menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu. "Udah, ah! Jangan menggodaku terus, Nozomi!"
"Geer banget, deh…" balas Nozomi. "Kalau enggak merasa, kenapa kamu panik?"
Duh, ni orang… Eri langsung berkeringat dingin.
"Wajah sama ucapan kamu beda banget, lho…" kata Nozomi. "Mau kamu bohong kayak apaan juga wajah kamu enggak bakalan bisa,"
"Ugh, entah kenapa aku sebal karena punya kulit putih pucat begini…" keluh Eri.
"Bagus, dong? Banyak anak perempuan yang ingin sepertimu, lho," kata Nozomi. "Aku yakin, bahkan Takumi enggak akan bisa menahan diri kalau kamu pakai bikini di depannya,"
"Diam, ah! Jangan buat aku tambah malu!" kata Eri sambil menutupi kedua telinganya.
"Aku punya tips yang bagus supaya doi berpaling padamu, lhooo," ujar Nozomi. "Kamu serius enggak mau dengar?"
"Dasar, enggak di klub, enggak di perpus kalian tetap saja suka heboh enggak jelas," komentar seorang pemuda kelas dua yang tahu-tahu sudah berdiri di belakang mereka.
"Wah, maaf! Maaf! Aku akan mengecilkan suaraku kalau begi—" Nozomi kaget karena orang itu adalah Takumi. "EH? Tacchan?!"
"Berhentilah memanggilku begitu, Nozomi…" kata Takumi sambil menghela nafas. "Oh ya, ini perpustakaan jadi jangan berisik gitu, dong,"
"Hahaha… maaf, deh!" kata Nozomi sambil nyengir.
Mata Eri dan Takumi pun bertemu, namun Eri berusaha mengabaikannya dengan sok sibuk mengerjakan soal.
"Seperti biasa kau memang rajin, Eri," puji Takumi. "Mudah-mudahan kamu bisa lulus dengan nilai terbaik, ya," lanjutnya sambil menepuk bahu kanan gadis itu.
"Kalau begitu, aku duluan, ya," kata Takumi sambil meninggalkan mereka berdua.
"Cieee!" Nozomi lagi-lagi menggodanya. "Nih, udah aku rekam yang barusan dikatakan Tacchan,"
Nozomi meletakkan iPod-nya di depan Eri. "Lumayan biar tambah semangat belajarnya, hehehe!"
Eri tidak mendengarkan ocehan Nozomi karena dirinya sendiri masih 'konslet' setelah ditepuk oleh laki-laki yang disukainya itu.
"Payah, hari ini aku harus pulang telat karena banyak tugas di OSIS," keluh Eri sambil mengunci pintu ruang OSIS. "Mana di luar udah gelap banget pula,"
Eri berjalan menyusuri koridor hingga akhirnya sampai di gerbang sekolah. Ia menghela nafas lega karena setidaknya bisa melihat cahaya dari bulan dan bintang-bintang. Namun sayang Eri terlalu cepat merasa lega. Dirinya tidak tahu kalau tengah diincar sekelompok orang yang berniat jahat padanya. Begitu Eri lengah mereka segera membekap mulut Eri dari belakang dengan sapu tangan yang sudah diberi kloroform. Setelah gadis seperempat Russia itu pingsan, mereka membawanya ke markas mereka.
Sementara itu di kediaman Kousaka…
"EH?! Eri-san belum pulang?" kata Yukio yang kaget ketika menerima telepon dari Arisa, sahabatnya.
"Iya, tadi aku sempat coba menelepon ke hp-nya,"
"Lalu? Diangkat?"
"Diangkat, sih… tapi yang kudengar adalah suara kakakku yang meminta tolong dengan suara seperti tengah dibekap lakban!" ujar Arisa. "Yukio-kun, aku harus gimana?"
Takumi yang kebetulan sedang berada di kediaman Kousaka untuk membantu Kazuya belajar mendapati Yukio yang tengah menerima telepon dari Arisa. Meski sedikit Takumi berhasil menangkap inti dari pembicaraan itu sehingga ia langsung merebut hp-nya Yukio.
"Apa ada lagi yang kau dengar?"
"Suara ini… Takumi-san!" Arisa agak sedikit lega berbicara dengan orang yang lebih tepat. "Kumohon, Takumi-san! Tolong, selamatkan kakakku! Aku mendengar suara tawa dari sekelompok pria yang menakutkan!"
"Apa mereka meminta uang tebusan?"
"Enggak, tapi… sepertinya mereka berniat memperkosa onee-chan!"
Takumi langsung menggeritkan gigi-giginya. "Baiklah, aku mengerti situasinya,"
"Tolong, jangan panik dulu! Aku akan melacak dan menyusul Eri," kata Takumi. "Setelah aku tahu di mana dia aku akan mengabari keluargamu dan keluarga Kousaka,"
Takumi pun memutuskan pembicaraan. "Yukio! Minta tolong lah pada orangtuamu untuk memanggil polisi!"
"Ba, baik!" jawab Yukio sambil berlari menghampiri ibunya.
Kazuya melempar kunci motor milik ayahnya. "Cepat kau susul Eri-chan, Takumi-kun! Boleh 'kan, yah?"
Ayahnya Kazuya mengangguk sambil mengacungkan jempol seolah berkata, "Kami akan segera menyusulmu dengan membawa bala bantuan, cepat selamatkan gadis itu!"
Takumi segera berlari keluar dari rumah Kousaka dan menggunakan sepeda motor yang dipinjamkan oleh ayahnya Kazuya untuk menyelamatkan Eri.
Takumi akhirnya berhasil menemukan markas para penculik itu.
"Walah, walah, kita kedatangan tamu rupanya?" mereka menyeringai.
Takumi tidak takut meski dikepung oleh kurang lebih sepuluh orang pria berbadan jauh lebih besar darinya. Matanya terbelalak ketika mendapati salah satu dari mereka tengah asyik membuka pakaian Eri. Ia bisa melihat Eri menitikkan air matanya seolah berkata, "Takumi, kumohon, selamatkan aku!"
Takumi mengamuk dan melompati orang-orang yang mengepungnya itu. Ia menendang wajah orang yang tengah menelanjangi Eri dari belakang hingga orang itu terpelanting jauh. Bisa dipastikan tulang rahangnya patah akibat tendangan itu.
"Bunuh bocah itu!" si bos memberikan komando pada pria-pria itu.
Meski bertubuh jauh lebih kecil dari mereka, kemampuan bela diri Takumi berbeda jauh levelnya dengan mereka. Eri tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Takumi menghajar orang-orang itu dengan sadis sambil tersenyum dengan begitu mengerikan seolah menikmati penyiksaan yang dilakukannya.
Semua anak buahnya telah babak belur sehingga yang tersisa hanya si bos yang tengah menggenggam pisau sambil gemetaran.
"Ma, mati kau!" seru si bos sambil berusaha menusuk jantung Takumi.
Tapi Takumi dengan mudahnya menepis tangan si bos dan merebut pisau itu darinya. Keadaan berbalik karena sekarang Takumi lah yang menodong si bos dengan pisau.
"Penjahat harus mati!" seru Takumi sambil mengayunkan pisau itu.
"Hentikan!" jerit Eri sambil memeluk Takumi dari belakang.
Takumi menurunkan pisaunya dan terdiam.
"Kumohon, hentikan, Takumi! Jangan bunuh dia! Aku sudah tidak apa-apa jadi jangan buat aku melihat pertumpahan darah lebih parah dari yang tadi!" air mata Eri mulai menetes. "Kumohon padamu…!"
Takumi menjatuhkan pisaunya dan menyerah, sedangkan si bos jatuh pingsan dengan mulut berbusa karena takut mati. Tanpa banyak bicara, Takumi segera menutupi tubuh Eri dengan jaketnya. Untunglah, si penculik hanya sempat membuka rok dan kancing atas kemejanya belum sampai pakaian dalamnya sehingga Takumi bisa bernafas lega karena Eri belum diapa-apakan oleh mereka.
Tak lama kemudian, pasukan penolong pun tiba dan segera meringkus para penculik itu.
"Ayase Eri-san, bisakah Anda ikut untuk diinterogasi sebentar?" tanya Pak inspektur.
Takumi berdiri menghalangi pria itu. "Kurasa kita bisa melakukannya besok, bukan? Keluarga gadis ini sangat khawatir jadi aku ingin mengantarnya pulang,"
"Kalau begitu, biar anak buahku yang—"
Eri bersembunyi di belakang Takumi sambil menggenggam bagian belakang bajunya erat-erat. Ia ingin segera pulang ke rumah dengan diantar oleh Takumi.
"Baiklah, hati-hati di jalan," Pak inspektur pun menyerah dan membiarkan mereka pulang.
Begitu sampai di depan apartemen, Takumi memencet bel dan kurang dari semenit ayahnya Eri membukakan pintu lalu memeluk putri sulungnya itu erat-erat.
"Terima kasih, nak! Terima kasih sudah menyelamatkan putriku!" kata ayahnya Eri sambil menjabat tangan Takumi dengan kedua tangannya.
"Sama-sama," jawab Takumi sambil tersenyum. "Bolehkah aku ke kamarnya untuk mengobati lukanya?"
"Ti, tidak usah repot-repot!" sang ayah merasa tidak enak. "Biar istriku dan Arisa yang mengobatinya,"
"Tidak, tuan," tolak Takumi. "Aku sudah terlanjur jauh-jauh kemari. Jadi, biarkan aku menuntaskannya,"
Pria itu hanya bisa tersenyum. "Baiklah, kuserahkan putriku padamu, emm… siapa namamu, nak?"
"Sonoda Takumi, senang bertemu dengan Anda, tuan Ayase," ujar Takumi.
Begitu masuk ke kamar Eri, Takumi membiarkan Eri duduk sedangkan dirinya sibuk ke sana kemari mengambil peralatan P3K. Tangannya yang terampil mulai mengobati luka yang terlihat jelas pada tubuh gadis itu terlebih dahulu.
"Ittai!" ringis Eri begitu Takumi mengangkat kaki kanannya.
"Sudah kuduga, kakimu terkilir," kata Takumi sambil memperhatikan pergelangan kaki Eri yang mulai membiru. "Sementara kuperban dulu, tapi besok tolong kamu cek ke rumah sakit, ya,"
Akhirnya, luka-luka yang terlihat telah diobati semua. "Bisa tolong lepaskan pakaianmu?"
Awalnya, Eri tentu saja bengong. "Hah?"
"Lepaskan pakaianmu," ulang Takumi. "Aku yakin, punggungmu memar karena sempat dibanting para penculik itu, 'kan? Jadi, biarkan aku sekalian mengobatinya,"
"Ti, tidak! Aku tidak mau!" tolak Eri mentah-mentah sambil membelakangi Takumi.
Takumi yang rasanya ingin mengomel berusaha mengendalikan emosinya. "Ayase Eri! Jangan kekanakan begitu! Kalau memarnya parah, gimana?!"
Eri akhirnya menurut dan mulai membuka kemeja dan branya kemudian ia segera menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut.
"Tuh, 'kan? Benar kataku!" kata Takumi sambil memperhatikan punggung yang putih pucat itu. "Diam sebentar, aku akan mengambil es batu dan koyo,"
Setelah mendapatkan barang-barang yang diperlukannya, Takumi segera mengompres bagian yang memar itu. Namun tiba-tiba Eri menangis.
"Tu, tunggu! Apakah aku terlalu kasar?" tanya Takumi khawatir.
"Terima kasih, Takumi…" kata Eri sambil terisak. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika saja kamu tidak berhasil menemukanku. Aku sangat takut… tempat itu gelap dan aku dikelilingi oleh para pria menakutkan yang ingin mempermainkan tubuhku, aku takut…"
Begitu selesai mengobati punggungnya, Takumi memeluk gadis yang gemetaran itu sambil mengelus-elus kepalanya.
"Tidak apa-apa, yang penting sekarang kamu sudah selamat sampai di rumah, 'kan?" kata Takumi berusaha menenangkannya. "Istirahatlah, aku mau pulang dulu,"
Setelah selesai membantu Eri berbaring di tempat tidurnya, Takumi keluar dari kamar itu dan mendapati ayahnya Eri menatapnya dengan cemas.
"Tenang saja, tuan," kata Takumi. "Besok tinggal membawanya ke rumah sakit untuk memeriksa kakinya yang terkilir,"
Sang ayah menghela nafas lega. "Aku tidak tahu harus bagaimana untuk membalas kebaikanmu,"
"Sudahlah, sebagai teman wajar jika saling membantu, bukan?" jawab Takumi.
"Sonoda-kun, bagaimana kalau kamu menginap saja?" tawar ibunya Eri. "Kamu bisa tidur sekamar dengan Eri kalau mau,"
"Sa, sayang! Kamu ini bicara apa?" kata ayahnya Eri.
"Apa, sih? Aku 'kan hanya bercanda, hahaha!" ibunya Eri hanya cekikikan mungkin dia hanya ingin mencoba mencairkan suasana.
"Terima kasih, tapi aku harus pulang," kata Takumi. "Ayah dan ibuku juga pasti mengkhawatirkanku,"
"Oh, kalau begitu tolong tunggu sebentar!" kata ayahnya Eri sambil menelepon supir pribadinya.
"Orangnya sudah di depan, beri tahu saja alamatmu padanya," kata ayahnya Eri setelah mereka menunggu kurang lebih 15 menit.
"Terima kasih banyak, tuan," kata Takumi sambil membungkukkan tubuhnya sopan. "Kalau begitu, saya pamit pulang,"
"Ya, hati-hati di jalan!" kata ayah dan ibunya Eri.
"Benar-benar pemuda yang baik, ya, yah?" komentar ibunya Eri begitu Takumi pergi.
"Ya, entah kenapa aku ingin dia menjadi menantuku," jawab ayahnya Eri.
"Tuh, 'kan! Enggak Cuma ibu yang mikir, gitu!" seru ibunya Eri heboh.
Sejak saat itu, Eri memutuskan untuk tidak melupakan perasaannya terhadap Takumi. Daripada melupakannya dia menjadi semakin jatuh cinta pada penulis lirik bermanik amber itu. Eri belajar dari pengalaman Kotori yang hampir pergi jauh sehingga ia memutuskan akan segera menyatakan perasaannya sebelum terlambat.
Semoga perasaan ini berbalas… Eri berdoa sambil mengecup foto Takumi yang ia simpan di liontinnya.
