Huwaaa... sampai juga ke confession plot :'D bagaimana kah jawaban Takumi?

Eri to Takumi

"Wah, Tacchan memang hebat!" komentar Nozomi begitu Eri selesai menceritakan tentang pengalaman buruknya malam itu.

"Berarti sekarang lo makin suka sama dia, dong, Eri?" kata Nico.

Wajah Eri memanas. "I, iya, sih…"

Saat ini, ketiga member kelas tiga µ's itu tengah mengobrol sambil makan siang di kelas mereka.

"Lalu, kapan kamu mau nembak dia?" tanya Nico dan Nozomi hampir berbarengan.

"Entahlah, aku masih bingung," jawab Eri.

"Kamu enggak boleh ngarepin dia yang nembak kamu, lho, Eri," kata Nico. "Kita 'kan belum tahu pasti si Takumi sukanya sama siapa,"

"Tapi tetap saja aku masih kurang percaya diri untuk menyatakan perasaanku, Nico!" kata Eri.

"Halah, giliran menghalang-halangi klubku kamu pede banget dulu!" sindir Nico sambil menaikkan sebelah alisnya.

Jduk! Nozomi menjitak kepala Nico.

"Ebuset! Sakit, woi!" omel Nico.

"Ups, sori?" kata Nozomi cuek. "Tanganku pegel banget jadinya aku mau kibas-kibaskan, eh, sialnya malah kepala kamu yang kena,"

"Lu sengaja, 'kan? Sumpah, lu sengaja, 'kan?" tanya Nico kesal.

"Makanya, jangan bikin masalah makin runyam, dong!" tegur Nozomi.

"Yaelah, orang bercanda doang, kok," jawab Nico.

"Sudahlah, jangan berantem gitu, oke?" Eri berusaha menengahi.

"Ya, terus… kamu sendiri maunya gimana, Ericchi?" tanya Nozomi. "Mau sampai kapan kamu memendam perasaanmu? Sampai kamu lulus dan enggak bisa ketemu dia lagi?"

"Tapi aku takut, Nozomi," kata Eri sambil membenamkan wajahnya di bahu kiri Nozomi. "Masih banyak fansnya yang lebih cantik dan lebih baik dariku, aku takut,"

"Enggak usah sok ngerendah, deh, mbak," kata Nozomi. "Eneg 'kan gue jadinya,"

"Ya, tapi, 'kan…!"

"Berisik!" omel Nico. "Tapi, tapi, tapi! Kamu mau rasa takut yang enggak jelas terus menghalangimu?! Kamu beneran suka sama Takumi, enggak, sih?!"

"Ni, Nicocchi?" Nozomi bingung karena Nico mendadak ngomel.

"Aku memang enggak punya pengalaman soal hubungan percintaan, tapi sikapmu yang seperti pengecut itu membuatku risih, tahu?!" lanjut Nico sambil menunjuk-nunjuk Eri. "Sudahlah! Aku enggak mau tahu! Pokoknya, begitu selesai latihan hari ini kamu harus menyatakannya atau rekaman saat kamu nangis ingin gabung dengan µ's kusebarkan, ngerti?!"

"Ni, Nicocchi… kurasa, itu agak berlebihan, deh?" Nozomi berusaha menenangkan Nico yang uratnya sudah seperti akan mencuat keluar itu. "Dalam menyatakan perasaan bukannya kita harus tunggu sampai dapat waktu yang tepat?"

"Mau tunggu sampai kapan? Sampai Takumi jadi suami orang?" balas Nico jengkel.

"Baiklah, aku akan melakukannya," kata Eri kemudian.

"Tu, tunggu, Ericchi! Kamu enggak perlu maksain kalau belum—"

"Enggak, benar kata Nico," kata Eri cepat. "Aku harus segera menyatakannya sebelum aku enggak punya kesempatan lagi,"

"Nah, itu baru Ayase Eri yang kukenal!" kata Nico puas.

"Terima kasih sudah mendengarkanku, Nico, Nozomi," kata Eri sambil tersenyum lega.

"Kaichou! Kaichou dipanggil Yamada-sensei ke ruang guru!" seru salah satu anak OSIS kelas dua dari luar kelas. "Beliau mau minta tolong sesuatu,"

"Iya, aku akan segera ke sana!" jawab Eri. "Terima kasih, ya!"

"Nozomi, kamu mau ikut, enggak?" tanya Eri.

"Enggak, deh," tolak Nozomi. "Aku mau ke toilet soalnya datang bulan kali ini lagi repot-repotnya,"

"Oh, oke…" kata Eri sambil menaikkan bahu.


"Terima kasih, ya, Ayase-san!" kata Bu Yamada sambil membukakan pintu ruang guru karena Eri tengah repot membawa buku-buku jurnal yang begitu banyak.

Hah… tahu gitu sebelum pergi aku narik salah satu anak OSIS untuk membantuku… sesal Eri.

Karena tidak bisa memperhatikan langkahnya, tubuh Eri tiba-tiba kehilangan keseimbangan sehingga limbung ke belakang karena beratnya buku-buku itu.

Aduh, bisa-bisa aku jatuh tertimpa! kata Eri panik dalam hati.

Namun, ajaibnya buku-buku itu maupun dirinya tidak jatuh karena ada seseorang yang menahan tubuhnya dan tangannya yang satu lagi menahan buku-buku itu tetap tertumpuk dengan seimbang.

"Kamu enggak apa-apa?!" tanya orang itu khawatir, Sonoda Takumi.

Lagi-lagi manik biru milik Eri berjodoh dengannya sehingga wajahnya pun memanas. "Iya, terima kasih…"

"Berikan padaku sebagian," kata Takumi. "Biar kubantu,"

"Tapi kamu 'kan bukan anak O—"

"Sudahlah, enggak apa-apa!" jawab Takumi cepat sambil mengambil sebagian buku. "Jadi, ini dibawa ke ruang OSIS, 'kan?"

Eri mengangguk. "I, iya…"

Keduanya berjalan dalam diam, namun tak lama kemudian Takumi mencoba memecah keheningan.

"Guru mana yang menyuruhmu?" tanya Takumi.

"Yamada-sensei," jawab Eri.

"Huh, dasar si ibu tiri ber-jersey itu!" dengus Takumi. "Dia enggak tahu apa kalau kamu baru sembuh? Tega banget!"

"Hahaha… enggak apa-apa, kok," jawab Eri. "Lagian aku bersyukur karena kamu mau membantuku, terima kasih, ya,"

"Sama-sama," jawab Takumi sambil tersenyum manis padanya.

Tuh, 'kan? Lagi-lagi kamu tersenyum seperti itu padaku! Bagaimana mungkin aku tidak makin suka padamu? gumam Eri.

"Hei? Kok, bengong?" Takumi mencoba membuyarkan lamunan Eri. "Apa ada sesuatu di wajahku?"

"Ah! E, enggak, kok! Gomen!" jawab Eri cepat untuk menutupi alasan di balik lamunannya.

Cewek mana yang enggak bengong ketika diberikan senyum semanis itu, coba? Bahkan aku juga bisa luluh, tahu! gumam Eri.

Mereka berdua pun tiba di ruang OSIS dan meletakkan buku-buku itu di atas meja.

"Ta, Takumi!" panggil Eri sebelum Takumi berlalu meninggalkannya.

"Ya?" jawab Takumi sambil menoleh ke arahnya.

Eri tak bisa menahan rasa gugupnya sehingga jantungnya berdegup begitu kencang.

"Ah, maaf," kata Eri. "Nanti saja, deh,"

Takumi menaikkan sebelah alisnya. "Apa, sih?"


Begitu sesi istirahat di sela-sela latihan dance dimulai, Eri berjalan menghampiri Takumi yang tengah duduk sambil membersihkan peluh yang membasahi wajah dan lehernya dengan handuk.

"Nee, Takumi?" panggil Eri. "Setelah latihan ini kamu ada waktu, enggak?"

"Ada, kenapa memangnya?"

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, hanya… denganmu," Eri memperjelas.

"Oh, baiklah,"

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Eri?" tanya Takumi yang mulai bosan diajak berkeliling tidak karuan di koridor sekolah.

"Sebelum itu, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?" Eri balik bertanya dengan agak ragu.

"Terserah, tapi cepatlah," jawab Takumi sambil melihat jam di hp-nya.

"Apakah kamu memiliki gadis yang sangat kamu sukai saat ini?" tanya Eri.

Seketika wajah Takumi memanas. "Apa maksudmu?"

"Tidak apa, aku hanya penasaran," jawab Eri. "Ada atau tidak?"

"Tentu saja ada," jawab Takumi sambil berusaha untuk tenang.

Deg! Perasaan Eri campur aduk. Ia mulai was-was karena besar kemungkinan dirinya akan ditolak.

"Boleh aku tahu siapa orangnya?" tanya Eri sambil menelan ludah.

"Apa sih maumu?" Takumi agak kesal dengan kelakuan Eri. "Jadi, kamu mengajakku bicara hanya untuk mengorek privasiku?"

"Bu, bukan begitu!"

"Terserah! Lebih baik aku pulang saja!" Takumi berbalik dan mulai berjalan meninggalkan Eri.

Eri pun dengan refleks menarik blazer Takumi dan berkata agak pelan, "Aku menyukaimu, Takumi,"

"Apa katamu?"

"Aku menyukaimu!" Eri memperjelas dengan menaikkan sedikit volume suaranya.

Wajah Eri yang putih pucat itu kini merah padam seperti kepiting rebus. Meski sudah beberapa kali latihan di depan cermin tetap saja rasa gugup ketika menyatakan langsung ke orangnya bukanlah hal yang mudah.

"Terima kasih, tapi maaf, Eri," jawab Takumi.

"A, aku sudah lama menyukaimu sejak berselisih denganmu di taman kota waktu itu!" Eri tetap tidak menyerah. "Aku sangat menyukaimu terlebih setelah kamu menyelamatkanku malam itu! Aku ingin sekali menjadi pacarmu, apakah kamu tidak memiliki secuil pun rasa terhadapku?"

"Berisik!" Takumi mulai jengkel dengan kengototan Eri.

Bagai tersambar petir di siang bolong. Eri hanya bisa diam karena shock perasaannya tidak berbalas.

"Aku menolongmu bukan karena aku menyukaimu, tapi karena aku mengkhawatirkanmu," jelas Takumi. "Aku enggak membencimu, tapi bukan berarti aku menyukaimu! Aku enggak pernah menganggapmu lebih dari teman, Eri,"

Lalu, Takumi menghela nafas panjang. "Lagipula, aku sudah lama menyukai Kotori,"

"Ta, tapi Kotori 'kan menyukai Kazuya!" Eri terpaksa membeberkannya. "Aku dengar sendiri saat kami, cewek-cewek member µ's mengadakan girls' talk!"

"Aku tidak peduli," jawab Takumi sambil berbalik. "Hatiku hanya untuknya karena dia lah cinta pertamaku,"

Eri hanya bisa menangis tanpa suara saat Takumi meninggalkannya.


Aku baru tahu ternyata ditolak oleh seseorang yang merupakan cinta pertamaku seperti ini. Jadi, ini kah yang dirasakan para cowok yang kutolak? gumam Eri sambil menangis dan membenamkan wajahnya di kedua lututnya.

"E, Eri! Kamu kenapa?!" Nico yang baru balik setelah membeli minuman di vending machine pun berlari menghampiri gadis yang tengah menangis sambil memeluk kedua lututnya itu.

"Aku… aku ditolak, Nico… huwaaa…" Eri menangis di dada Nico.

"Ya ampun, memangnya Takumi ngomong sekasar apa tadi?" tanya Nico sambil mengusap-usap punggung Eri.

"Aku mencoba yang terbaik untuk menjelaskan alasan mengapa aku menyukainya, tapi… tapi…" Eri menjelaskan sambil sesenggukan.

"Ya udah, sekarang kamu cuci muka dulu," kata Nico. "Kita ke apartemennya Nozomi untuk membicarakan ini, oke?"

Eri mengangguk kemudian Nico membantunya berdiri. Setelah wajahnya bersih dari kesan 'habis nangis' mereka berdua berjalan menuju apartemennya Nozomi.


"Maaf, ya," kata Nico mengawali pembicaraan setelah mereka bertiga duduk melingkar di apartemennya Nozomi. "Gara-gara aku memaksamu untuk nembak Takumi hari ini juga,"

Eri menggelengkan kepalanya. "Bukan, kok, memang Takumi saja yang tidak menyukaiku,"

Air mata mulai menggenangi manik birunya kembali. "Eh? Bagaimana ini? Aku… aku enggak bisa berhenti nangis… huwaaa…"

Nico dan Nozomi pun saling pandang kemudian mereka berdua memutuskan dengan bahasa isyarat agar diam dulu untuk sementara sampai tangisan Eri agak mereda. Setelah tangisannya agak mereda, mereka berdua pun merangkul dan mengelus-elus punggung Eri.

"Kamu enggak mau move on aja?" tanya Nico.

"Ni, Nicocchi?!"

"Mana mungkin, hiks…" Eri menjawab sambil sesenggukan. "Aku begitu menyukainya karena dia adalah cinta pertamaku,"

Nozomi pun berpikir sebentar. "Bagaimana kalau kamu biarkan saja perasaan sukamu itu? Maksudku, kamu tetap menyukainya, tapi anggaplah dia hanya sebagai temanmu dengan begitu secara tidak langsung kamu bisa melupakan keinginanmu untuk menjadi pacarnya dan hubungan kalian tetap baik, bagaimana?"

"Apa bisa?" Eri agak ragu.

"Bisa, lah! Apa sih yang enggak bisa kamu lakukan?" Nozomi menyemangatinya.

"Enggak, daripada itu… kenapa kamu begitu bersikeras agar bisa jadi pacarnya?" tanya Nico.

Eri terdiam sebentar. "Entahlah,"

"HAH?"

"Aku… ingin lebih dekat dengannya, bukan sebagai teman maupun sahabat," ujar Eri. "Aku ingin lebih mengenalnya dan ingin agar dia juga menyukaiku,"

"Hah… ya sudahlah, aku 'kan cowok jadi mungkin kurang paham," kata Nico sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. "Tapi ya enggak jadi masalah, sih… kalau kamu masih belum menyerah,"

"Ngomong-ngomong, Tacchan 'kan suka sama Kotori-chan, tapi… bukannya Kotori-chan sukanya sama Kazu-chan, ya?" celetuk Nozomi.

"No, Nozomi! Pas girls' talk bukannya kita udah janji enggak ngebocorin di depan member cowok?" tegur Eri.

"Emang Nicocchi cowok, ya?" ledek Nozomi.

"Perlu banget kubuktikan?" Nico mencoba menahan rasa kesalnya.

"Te~he!" Nozomi hanya mengedipkan sebelah matanya dengan sok imut.

"Kalau benar begitu, berarti kamu masih punya kesempatan, Eri," kata Nico yang udah bodo amat sama keisengannya Nozomi.

"Iya, sih…" jawab Eri. "Tapi aku enggak yakin Takumi bisa move on segampang itu dari gadis yang sudah disukainya sejak kecil,"

"Kita lihat saja besok," usul Nozomi. "Aku yakin, setelah kamu ngomong begitu si Tacchan bakal langsung nembak Kotori-chan untuk membuktikan perkataannmu,"

"Benar juga!" kata Nico.

"Sudahlah," kata Eri ikhlas. "Aku enggak mau membuatnya terpaksa menyukaiku hanya karena dia ditolak, yang ada aku akan merasa sedih karena perasaanku dengannya tidak sama, 'kan?"

"Jadi, kamu sendiri gimana?" tanya Nozomi.

"Aku akan tetap menyukainya walaupun dia menyukai orang lain," ujar Eri sambil tersenyum.

"Yah, kurasa itu keputusan terbaik untuk saat ini," kata Nozomi.

"Maaf, kami enggak bisa banyak membantumu," kata Nico dengan nada menyesal.

"Enggak apa-apa," jawab Eri. "Aku senang kalian berusaha menghiburku dan membantuku memikirkan cara menghadapi Takumi untuk ke depannya,"

"Terima kasih, ya," kata Eri sambil memeluk kedua sahabatnya itu.

"Iya, sama-sama!" jawab Nico. "Kalau begitu, ayo, ikuti aku! Nico Nico nii~!"

"Sudah, jangan kecewa terlalu dalam," kata Nozomi sambil menepuk-nepuk kepala Eri. "Semua pasti akan indah saat waktu yang tepat, kok,"

"Nozomi…" mata Eri tampak berkaca-kaca.

"Oi…" Nico berusaha agar tidak dicuekin mereka berdua.

"Sering-sering lah berdoa," tambah Nozomi. "Siapa tahu kamu jodoh dengannya,"

"Ya, terima kasih," kata Eri sambil memeluk Nozomi.

"Oi, kalian emang sengaja ngacangin aku, ya?" gerutu Nico.

"Kacian deh yang third wheel!" ledek Nozomi.

"No-zo-mi…!" Nico seperti ingin membalas ledekan Nozomi dengan mengejar-ngejarnya sampai berkeliling di ruangan itu.

Eri tertawa melihat mereka bertengkar seperti anak kecil. Nico dan Nozomi saling pandang kemudian ikut tertawa. Mereka lega karena Eri tidak bersedih lagi.