Setelah menolak Eri, hari ini Takumi bermaksud untuk menyatakan perasaannya pada Kotori untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Eri. Bagaimanakah jawaban Kotori?

Takumi to Kotori

Keesokan harinya Takumi merasa aneh karena sikap Eri tetap seperti biasa meski kemarin baru saja ditolak olehnya. Lebih tepatnya agak mengurangi interaksi dengan dirinya dan sok menyibukkan diri dengan menyapa member yang lain saat latihan.

Apa benar yang dikatakan oleh Eri kemarin kalau Kotori menyukai Kazuya? pikir Takumi sambil tetap melirik gadis berdarah seperempat Russia itu diam-diam.

"Ada apa, Takumi-kun?" tanya Kotori yang bingung dengan gelagat Takumi.

Takumi agak kaget. "Oh, bukan apa-apa,"

"Nee, Kotori-chan! Kostum untuk lagu terbaru sudah jadi?" tanya Kazuya sambil menghampiri Kotori.

"Belum, nih," jawab Kotori. "Mungkin setelah latihan aku akan lanjut mengerjakannya di ruang PKK,"

"Eh? Serius? Aku enggak bisa menunggumu, nih," kata Kazuya. "Soalnya, hari ini aku harus jaga toko"

"Enggak apa-apa, kok," jawab Kotori sambil tersenyum agar Kazuya tidak cemas.

"Ayo, semua! Cukup ngobrolnya!" seru Nico sambil menepuk-nepukkan tangannya. "Kita lanjut latihannya!"

"Siap, ketua!" jawab Rin semangat.

Mereka bersembilan pun kembali latihan.


Latihan pun berakhir sehingga banyak dari mereka yang telah pulang, kecuali Kotori yang harus menyelesaikan kostum di ruang PKK, Takumi yang ingin menyatakan perasaannya pada Kotori, serta Eri. Nozomi bilang agar dia melihat sendiri hasil dari pengakuan cinta itu jadi Eri diam-diam mengikuti Takumi.

"Kotori, kau masih sibuk?" tanya Takumi sambil membuka pintu ruang PKK.

"Ah, Takumi-kun? Enggak, kok," jawab Kotori. "Ini juga lagi istirahat karena mendadak nge-blank,"

Takumi menarik lengan Kotori. "Maaf, tapi tolong ikut denganku sebentar!"

"Nee, Takumi-kun? Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" tanya Kotori begitu keduanya telah di luar ruangan PKK.

"Aku sudah lama ingin mengatakannya padamu," kata Takumi sambil mengatur nafasnya. "Tolong, dengarkan lah aku!"

Tidak mungkin! Jangan-jangan Takumi-kun…? Kotori entah kenapa langsung menduga apa yang akan dikatakan Takumi.

"Aku… sangat menyukaimu, Kotori!" ujar Takumi dengan lantang. "Jadilah pacarku!"

Kotori tersentak kemudian ia menunduk. "Terima kasih, tapi… maafkan aku, Takumi-kun,"

Suara Kotori terdengar agak gemetar saat menjawab pernyataan cinta dari pemuda bermanik amber itu.

"Bohong! Memangnya sudah ada laki-laki lain di hatimu?!"

Kotori mengangguk pelan. "Iya, aku sudah lama menyukai Kazuya-kun,"

Takumi dapat merasakan hatinya hancur berkeping-keping. Takumi yang depresi pun memojokkan gadis itu ke tembok.

"Kalau aku mencuri ciuman pertamamu, akankah kamu berpindah hati?" Takumi memaksakan perasaannya.

Jarak di antara wajah mereka semakin menyempit. Saat bibir Takumi hampir mengenai bibirnya, Kotori menampar Takumi.

"Hentikan, Takumi-kun!" air mata mulai menetes dari mata gadis itu. "Aku tahu aku mengecewakanmu, tapi tolong jangan menyakitiku!"

Takumi memegangi pipinya yang ditampar oleh Kotori dengan shock. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Kotori… menolakku?"

"Aku menyukai kalian berdua, tapi maafkan aku, Takumi-kun…" lanjut Kotori sambil terisak. "Yang ada di hatiku hanyalah Kazuya-kun,"

Kotori mencoba mengulurkan tangannya untuk membantu Takumi berdiri, tetapi Takumi menepisnya karena marah perasaannya tak berbalas. Tanpa berkata apa pun, Takumi berlalu.

Eri yang menyaksikan insiden penolakan itu merasa kasihan sekaligus lega karena yang dikatakan Kotori waktu itu bukan bohong. Meski lega tetap saja ia khawatir, bagaimana hari-hari ke depannya jika hubungan mereka bertiga jadi aneh karena hal ini?


Sesuai dugaan, hari-hari selanjutnya terasa canggung bagi Takumi, Eri, dan Kotori. Kazuya yang biasanya tidak peka pun mencoba untuk mencari tahu karena dia merasa tidak nyaman dengan atmosfer di antara ketiga orang itu. Ia pun mencoba menanyakannya pada Kotori saat latihan sepulang sekolah.

"Nee, nee, Kotori-chan?" Kazuya berbisik di telinga kiri Kotori.

"Kyaaa! Ka, Kazuya-kun! Jangan mengagetkanku begitu, dong!" jerit Kotori yang kaget karena Kazuya tiba-tiba sudah berada di dekatnya.

"Apa, sih? Aku memanggilmu biasa saja, deh!" Kazuya membela diri.

"Ada apa?" tanya Kotori setelah dirinya lebih tenang.

Kazuya menarik lengan Kotori. "Aku ingin bicara sebentar denganmu, ikut aku!"


"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Kazuya-kun?" tanya Kotori

Kotori hanya berharap Kazuya akan menembak dirinya karena mendadak mengajaknya berbicara berduaan di kelas mereka yang telah kosong.

"Ada masalah apa, sih, di antara kamu, Takumi-kun, dan Eri-chan?"

Yaaaah… soal itu, toh? Kotori sedikit kecewa.

"Enggak ada apa-apa, kok," Kotori berusaha menutupi.

"Jangan bohong!" Kazuya mencengkeram kedua bahu mungil gadis itu dan menyudutkannya ke tembok.

"I, ittai! Lepaskan aku, Kazuya-kun!" ringis Kotori sambil berusaha melepaskan diri.

"Tidak akan sebelum kau menceritakan yang sebenarnya kepadaku!" jawab Kazuya. "Jangan lagi kamu bermain rahasia-rahasiaan seperti waktu itu! Aku ini temanmu, 'kan?"

"Baiklah, baiklah! Akan kuceritakan! Tolong lepaskan aku!" Kotori menyerah.

Kazuya menurut dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

"Aku telah menolak pernyataan cinta Takumi-kun beberapa hari yang lalu," Kotori akhirnya mengaku.

"Eh?! Tunggu, bukannya selama ini kalian akrab? Kukira, kamu juga menyukainya!"

"Kata siapa? Yang kusukai itu hanya kamu, Kazuya-kun!" bantah Kotori.

Astaga, aku keceplosan?! kata Kotori dalam hati sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

Wajah Kazuya memerah. Ia sama sekali tidak menyadari perasaan Kotori terhadapnya. "Te, terima kasih, Kotori-chan,"

Kotori akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pernyataan cintanya. "Aku sudah lama sekali menyukaimu, Kazuya-kun,"

"Sejak kamu mengajakku berbicara dan berteman aku merasa senang sekali," ujar Kotori. "Berkatmu, aku tidak lagi sendirian. Kamu adalah pahlawanku dan aku jatuh cinta padamu,"

"Aku… ingin hubungan yang lebih spesial, khusus denganmu," lanjut Kotori. "Kumohon, jadikanlah aku pacarmu!"

Kazuya terdiam mendengar permintaan itu kemudian dia menjawab, "Maaf, Kotori-chan, aku… enggak pernah menganggapmu seperti itu,"

Kotori menangis mendengar jawaban Kazuya. "Tidak apa kalau tidak jadian asalkan kamu mau lebih perhatian padaku… a, aku… ingin lebih sering menghabiskan waktu berdua bersamamu! Aku ingin berkencan denganmu! Aku ingin melakukan banyak hal denganmu!"

Kazuya memeluk Kotori dengan erat. "Maafkan aku, Kotori-chan,"

"Lepaskan… lepaskan aku, Kazuya-kun," kata Kotori sambil terisak. "Kalau kamu terus memelukku seperti ini aku tak akan bisa berhenti menangis,"

Kazuya melepaskan pelukannya dan memegang pipi kanan gadis itu. Ia menatapnya lurus dan mendekatkan wajahnya. Kemudian Kazuya pun mencium bibir Kotori. Kotori tidak percaya dengan apa yang terjadi. Laki-laki yang merupakan cinta pertamanya kini tengah mencuri ciuman pertamanya. Ingin rasanya melepaskan diri, namun Kazuya mendekapnya dengan begitu kuat. Ciuman itu pun sampai berlangsung agak lama.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Kazuya sambil melepaskan Kotori.

"Ke, kenapa kamu melakukannya? Kamu saja tidak menyukaiku!" wajah Kotori memanas.

Wajah Kazuya terlihat sedih. "Maaf, apakah kamu membencinya?"

Kotori melingkarkan kedua lengannya di leher Kazuya. Ia pun jinjit dan sukses membalas ciuman itu di bibir Kazuya.

"Aku menyukai semua hal tentangmu, Kazuya-kun," ujar Kotori sambil tersenyum.

"Syukurlah kalau begitu," kata Kazuya lega sambil mengusap-usap dadanya. "Aku takut kamu membenciku soalnya aku enggak tahu mesti gimana lagi agar bisa menenangkanmu tadi,"

Kotori membenamkan wajahnya di dada Kazuya. "Bodoh, mana mungkin 'kan?"

Tidak disangka-sangka, Takumi menyaksikan semua yang dilakukan oleh kedua sahabatnya sejak kecil itu.

"Kazuya…? Kotori…?" matanya terbelalak karena shock.

Keduanya menoleh dan mendapati Takumi yang berdiri mematung.

"Tu, tunggu, Takumi-kun! Kazuya-kun hanya berusaha menghiburku!"

"Kami sama sekali enggak jadian!" tambah Kazuya.

"Diamlah! Aku tidak peduli!" teriak Takumi sambil berbalik.

"Semoga kau bahagia bersama laki-laki yang kau sukai, Kotori," kata Takumi pelan sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.


Setelah kejadian itu, atmosfer di antara mereka sudah tidak lagi terasa begitu canggung. Namun meski tidak menunjukkannya, Takumi adalah pihak yang masih merasa tersakiti. Setelah latihan selesai pun dia langsung pulang tanpa menyapa maupun ikut ke konbini dulu bersama para member µ's.

Bukannya tidak peduli, tapi mereka berusaha bersikap normal karena Takumi termasuk orang yang agak sensitif dan sulit diajak curhat. Mereka pun memutuskan untuk bersikap seperti biasa walaupun sebenarnya ada salah satu dari mereka yang ingin mencoba menolong Takumi.