Eri berada dalam misi penting malam ini, yaitu membujuk Takumi untuk membuka dirinya. Apakah dia akan berhasil?
Adegan dalam chapter ini terinspirasi dari manga/anime Ao Haru Ride, check it out~
Open Your Heart
Hubungan tanggung antara Kazuya dan Kotori masih berpengaruh besar terhadap perilaku sehari-hari Takumi. Mereka tidak pacaran, tapi cara mereka berinteraksi terlihat lebih mesra daripada sahabat. Hubungan 'abu-abu' itu seolah memiliki arti mereka bebas melakukan apapun yang biasa dilakukan oleh sepasang kekasih meski status mereka bukan pacaran.
Beberapa hari ini juga Eri dan Nozomi disibukkan oleh tugas-tugas di ruang OSIS yang sempat terbengkalai karena kesibukan mereka di klub peneliti idol. Tak heran jika tugas-tugas itu berkembang biak hingga memenuhi hampir seluruh permukaan meja di ruang OSIS.
"Haaaah… tugas kita ini rasanya seperti tidak ada habisnya!" keluh Eri sambil menempelkan dagunya di atas meja ruang OSIS. "Sebentar lagi latihan dance selesai, deh. Pasti kurang nyaman latihan hanya dengan tujuh anggota, ya, mereka?"
Nozomi yang tengah sibuk memeriksa dokumen tiba-tiba memanggilnya. "Ericchi?"
"Hmm?"
"Kamu lihat sendiri udah berapa hari Tacchan kayak gitu, 'kan?" tanya Nozomi. "Kamu yakin enggak mau menghiburnya?"
Eri membenamkan wajahnya ke atas meja. "Apa, sih? Ngapain juga aku harus repot-repot mengurusinya? Toh, bukannya kita berdelapan sudah sepakat untuk mendiamkannya karena dia sendiri enggak mau membuka diri?"
Nozomi yang kesal dengan jawaban Eri pun segera merebut semua pekerjaan di atas meja Eri. "Cepat kamu angkat kaki dari ruang OSIS, bakka Erichika!"
"Eeeeeh?! Apaan, sih, Nozomi?! Enggak lucu, tahu!" protes Eri. "Jangan main-main! Mana bisa kamu selesaikan semua dokumen itu sendirian!"
"Huh! Aku enggak butuh bantuanmu!" balas Nozomi sambil menjulurkan lidahnya. "Yang sedang sangat butuh bantuanmu itu Tacchan, tahu!"
"Sudah kubilang, aku enggak mau membantu—"
"Jangan bohong! Aku yakin, kamu ingin membantunya, 'kan?" sela Nozomi. "Sekarang yang dibutuhkan Tacchan itu seseorang yang berani mendobrak pintu hatinya, tahu! Dan yang bisa melakukannya hanya kamu, Ericchi!"
"Ta, tapi…"
"Kamu milih di-washi washi olehku atau menghiburnya?" ancam Nozomi.
"Huh, iya, deh…" Eri pun menyerah. "Aku pulang duluan, ya,"
Eri berjalan keluar dari gerbang sekolah dan mendapati punggung laki-laki yang dia sukai berada di depannya dengan jarak kurang lebih lima meter.
"Takumi!" panggil Eri sambil berjalan mengejarnya.
Bukannya menoleh, yang bersangkutan malah mempercepat langkahnya seolah ingin lari dari Eri.
"Hah… hah… menyebalkan! Aku kehilangan dia!" gerutu Eri dengan nafas terengah-engah karena Takumi berhasil lolos darinya.
Eri pun memutuskan untuk mencoba mengajaknya bicara besok. Dalam perjalanan pulang, Eri menyempatkan diri ke supermarket untuk membeli bahan-bahan untuk makan malam karena kedua orangtuanya sedang ada pekerjaan di luar kota. Meski keluarga Ayase termasuk kaya, orangtua Eri tidak pernah mempekerjakan pembantu rumah tangga selain supir demi mendidik anak-anaknya supaya mandiri.
Ketika berjalan ke rak-rak bumbu dapur, Eri melihat seorang wanita berambut biru seperti Takumi yang tengah diajak ngobrol oleh ibu-ibu yang sepertinya adalah tetangganya.
"Bu Sonoda, akhir-akhir ini saya sering lihat Takumi jalan-jalan sendirian tiap malam, lho!" kata ibu-ibu itu. "Lebih baik cepat ditegur sebelum dia kenapa-kenapa!"
"Oh, begitukah? Terima kasih atas informasinya, Bu Kataoka," jawab wanita berambut biru itu sambil tersenyum, senyum palsu.
"Iya, atuh! Takumi 'kan anak yang baik jadi kita sebagai orangtua harus lebih peduli padanya!" kata ibu-ibu itu. "Mudah-mudahan saja dia begitu bukan karena anakku yang NEET itu!"
"Ahahaha… jangan jelek-jelekkan anakmu sendiri, dong, Bu," tegur Bu Sonoda.
"Tapi memang kenyataannya begitu, kok," jawab Bu Kataoka. "Mungkin aku akan menyuruhnya berlatih di dojo-mu supaya dia lebih disiplin nanti,"
"Wah, sebaiknya jangan terlalu memaksanya, ya?" kata Bu Sonoda.
"Huh! Tentu saja, harus dipaksa! Sudah bangkotan begitu, tapi belum punya pekerjaan!" dengus Bu Kataoka. "Ah, belanjaanku sudah lengkap! Kalau begitu, saya duluan, ya!"
Bu Sonoda melambaikan tangannya. "Ya, bicaralah baik-baik dengan anakmu, ya,"
Bu Sonoda menghela nafas begitu Bu Kataoka sudah hilang dari pandangannya. "Haaah… seandainya kakak perempuanmu, Izumi ada di sini…"
Eri berjalan menghampiri Bu Sonoda. "Selamat sore, ibunya Takumi,"
"Oh, selamat sore," jawab Bu Sonoda. "Seragammu itu… kamu siswi SMA Otonokizaka?"
"Iya, namaku Ayase Eri," ujar Eri sambil membungkukkan tubuhnya dengan sopan. "Aku senpai sekaligus teman baiknya Takumi,"
"Oh, senpai, ya? Kok, bisa kenal sama Takumi?"
"Kami satu klub, tante," ujar Eri. "Oh ya, tentang Takumi yang sering jalan-jalan tiap malam itu…"
Bu Sonoda menghela nafas. "Iya, nih, sudah beberapa hari ini anak itu sering begitu,"
"Sering membolos latihan di dojo, begitu pulang sekolah langsung tidur, dan malamnya ketika tante dan suami tante sudah terlelap dia menyelinap keluar entah ke mana," ujar Bu Sonoda. "Kami sebagai orangtua sudah mencoba menegurnya, tapi dia selalu bilang enggak ada apa-apa,"
"Oh ya, apakah Takumi sering kabur ke suatu tempat kalau sedang ngambek seingat tante?" tanya Eri.
"Kalau dulu dia sering duduk di pematang rumput di pinggir sungai," jawab Bu Sonoda. "Enggak tahu kalau sekarang, sih…"
"Oh, begitu? Bagaimana kalau aku coba mencarinya begitu dia keluar rumah saat malam nanti?" tawar Eri.
"Ya ampun, tidak usah! Lagipula, berbahaya jika anak perempuan keluar rumah malam-malam!" kata Bu Sonoda cemas.
"Tidak apa, tante," jawab Eri sambil tersenyum. "Lagipula aku berhutang budi pada Takumi karena dia juga pernah menolongku saat aku diculik dulu,"
"Ah, jadi kamu yang ditolongnya, ya?" kata Bu Sonoda. "Pasti kamu melihat sisi menyeramkan dari Takumi, ya?"
"Iya, dia sangat menyeramkan malam itu," jawab Eri sambil memegang siku kirinya. "Tapi di sisi lain aku senang karena dia marah demi aku,"
"Anak itu memang enggak pernah berubah dari dulu, Ayase-san," kata Bu Sonoda. "Makanya saat Kazuya-kun atau Kotori-chan di-bully, dia selalu balik menghajar para penindas itu sampai enggak peduli dengan tubuhnya sendiri yang babak belur,"
"Itulah mengapa aku menyukainya, tante," ujar Eri tanpa malu-malu. "Dia populer, baik hati, sopan, juga setia kawan, tapi dari semua itu yang kurindukan adalah senyumannya, tante,"
"Ayase-san…"
"Oleh karena itu, biarkanlah kali ini aku yang menolongnya!" pinta Eri. "Kumohon, izinkan aku!"
Bu Sonoda memegang kedua pipi Eri agar dia mengangkat wajahnya. "Sudah, sudah, jangan membungkukkan badanmu seperti itu, Ayase-san. Lagipula, tante mengerti niat baikmu makanya tante minta tolong padamu, ya?"
Matanya berbinar-binar dan jantungnya berdegup kencang karena perasaannya telah tersampaikan pada ibu dari laki-laki yang ia sukai itu. "Baik! Akan kuseret dia supaya pulang ke rumah!"
"Hahahaha… hati-hati, ya!" kata Bu Sonoda sambil tersenyum.
Anak itu mirip sekali denganmu, Izumi… aku yakin, Takumi mau mendengarkannya, gumam Bu Sonoda.
Eri segera pulang agar bisa cepat memasak makan malam untuk adiknya karena dia sendiri ingin keluar lagi untuk mencari Takumi. Eri pun mencoba cara yang dilakukan Takumi saat mencari dirinya saat diculik dulu, yaitu menggunakan software di smartphone-nya yang memiliki fungsi melacak posisi seseorang dari nomor hp-nya. Eri mendapati lokasi Takumi berada di sekitar daerah pertokoan yang kurang terurus karena sering dijadikan tempat nongkrong oleh para yankee.
"Duh, ada di mana coba dia?" Eri bertanya-tanya dengan nafas tersenggal-senggal sambil mengintip satu per satu toko di sana.
"Gyahahaha! Hebat juga kau, anak baru!" terdengar suara heboh dari game center di sana.
Eri mencoba masuk ke dalam karena siapa tahu Takumi ada di sana. Dugaannya benar, Takumi sedang bermain salah satu fighting game di sana dengan tanpa ekspresi. Ia dikelilingi oleh para yankee yang menakutkan di sana.
"Hebat! Padahal yang kau gunakan itu 'kan karakter paling lemah!" puji salah satu yankee. "Gimana caranya, sih? Ajari kami, dong, bos!"
Bo, bos? Masa' sih Takumi sekarang berteman dengan mereka dan jadi berandalan? pikir Eri sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya karena shock. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Takumi melirik mereka tajam. "Berisik, diamlah!"
Para yankee itu menurut dan mulai sibuk ke sana kemari untuk menyenangkan hati bosnya itu.
"Bos! Saya sudah beli rokok dan sake!" kata salah satu dari mereka heboh sambil meletakkan belanjaannya itu di bangku kosong di samping Takumi. "Silakan dicoba untuk menenangkan hati bos!"
Eri sudah tidak tahan lagi. Ia tidak mau Takumi terjerumus ke pergaulan yang tidak baik itu sehingga ia segera berjalan cepat dan menarik lengan kanan Takumi.
"Takumi! Ayo, kita pulang!" seru Eri.
Takumi menoleh dan menatap Eri dengan dingin lalu ia melepaskan tangan Eri dan lanjut bermain seolah tidak mengganggap keberadaannya.
"Takumi!" seru Eri marah sambil menjewer telinga kanan Takumi. "Apa-apaan, sih, kamu?!"
"Wah, wah, siapa itu, Takumi? Temanmu? Pacarmu? Kok, dikacangin, sih?" tanya para yankee itu kepo.
"Bodinya bagus juga, blasteran lagi!" komentar mereka sambil berdiri di belakang Eri seolah siap untuk meraba tubuh gadis itu. "Kalau begitu, boleh 'kan kalau kami ajak dia bersenang-senang?"
Takumi mendelik dan meninju mesin game di belakang yankee yang hendak melakukan pelecehan seksual pada Eri itu. "Kubunuh kalian kalau berani menyentuhnya!"
"Hi, hieee…! Maafkan hamba!" mereka memohon ampun sambil dogeza pada Takumi.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Takumi menarik lengan Eri dan membawanya lari dari sana.
"Ta, Takumi! Berhenti! Lepaskan aku!" seru Eri saat mereka sampai di jalanan dekat tepi sungai yang dimaksud oleh ibunya Takumi tadi sore. "Lenganku sakit!"
Takumi melepaskan tangannya sambil tetap membelakanginya. "Kau ini bodoh, ya? Tempat itu berbahaya dan kau ke sana masih dengan seragammu, kalau aku enggak ada di sana pasti kamu sudah diapa-apakan oleh mereka, tahu!"
"Terus, kenapa kamu sendiri ada di sana?!"
"Itu bukan urusanmu!" balas Takumi marah.
"Tentu saja ini urusanku!" jawab Eri tak kalah gusar. "Jadi, selama ini kamu menjauhi kami karena sudah jadi bos berandalan di sana?!"
"Berisik! Mereka sendiri yang menganggapku begitu!" ujar Takumi sambil berbalik menghadap Eri. "Mereka hanya sok akrab denganku yang berhasil meraih skor tertinggi di sana! Lagipula, untuk apa kau sok peduli padaku? Menyebalkan!"
"BODOH! Dasar Takumi bodoh!" teriak Eri sambil menangis dan memukul-mukul dada Takumi.
"Begitu ditolak oleh Kotori kamu jadi aneh! Kamu langsung pulang begitu latihan selesai, ibumu juga bilang kamu mulai membolos latihan di dojo!" ujar Eri. "Gimana aku enggak khawatir?"
"Berisik, ah! Itu 'kan bukan urusanmu!" jawab Takumi. "Kalau begitu, aku minta maaf, deh… kita baikan, oke?"
Mendengar perkataan maaf yang setengah hati itu membuat Eri makin kesal dengan Takumi sehingga ia menerjang Takumi hingga mereka berdua terjungkal ke belakang dan terperosok ke pematang rumput di pinggir sungai.
Parah, parah, parah… kukira, aku bakal mati! kata Takumi dalam hati karena jantungan lantaran Eri mendadak menerjangnya hingga keduanya jatuh terperosok begini.
"Oi, Eri… bangun, dong! Berat, tahu!" kata Takumi dengan nada meledek agar Eri yang menindih tubuhnya segera bangun karena tersinggung.
Eri menggeleng dan menahannya semakin kuat. "Enggak mau!"
"Dasar keras kepala!" gerutu Takumi sambil berusaha melepaskan diri.
Eri membenamkan wajahnya ke dada Takumi. "Aku tahu aku enggak tahu diri karena terkesan masih mengejarmu, tapi… kalau kamu ada masalah kenapa enggak coba ceritakan padaku?"
"Sudah kubilang aku enggak ada masalah apa-apa! Makanya, lepaskan aku!"
"Kamu menutup diri untuk menyembunyikan kesedihanmu, 'kan? Aku tahu itu!" lanjut Eri. "Kamu putus asa karena enggak bisa berteman dengan normal lagi dengan mereka berdua, 'kan? Kamu merasa Kotori sudah menjadi milik Kazuya, begitu, 'kan?"
"Enggak, kok! Sudahlah, kamu enggak perlu repot-repot peduli pada—"
"Tentu saja aku peduli!" Eri kembali meneteskan air matanya. "Karena aku menyukaimu!"
"Kamu pikir karena saking depresinya kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau? Membolos latihan di dojo, mengacuhkan kami, bahkan berteman dengan para yankee! Kamu pikir orangtuamu enggak khawatir apa?!" kata Eri marah. "Kalau kamu ingin melampiaskan semua yang menyakiti hatimu maka lampiaskan lah padaku! Aku akan selalu ada di sisimu!"
Takumi tiba-tiba tersentak karena kata-kata Eri begitu mirip dengan apa yang dikatakan Izumi, kakak yang sangat dihormatinya itu ketika mencoba menghiburnya saat ia ada masalah.
"Aku merindukan senyumanmu, Takumi…" kata Eri sambil sesenggukan. "Kumohon, kembali lah… banyak orang yang mengkhawatirkanmu! Kalau kamu ingin menangis, menangis lah! Akan kupinjamkan tubuhku untuk kau peluk supaya kamu bisa mencurahkan seluruh isi hatimu makanya—"
Ucapan Eri terpotong karena Takumi tiba-tiba memeluknya dengan erat. Tubuhnya gemetaran dan ia menangis tanpa suara sambil membenamkan wajahnya di bahu kanan gadis itu. Eri pun bangun untuk duduk agar Takumi tetap bisa memeluknya tanpa merasa berat.
"Nee, Takumi? Apakah sudah cukup?" tanya Eri karena Takumi masih membenamkan wajahnya di bahunya setelah menangis selama kurang lebih sepuluh menit. "Ini sudah larut jadi sebaiknya kita pu—"
"Diamlah sebentar lagi," rajuk Takumi sambil memeluknya semakin erat. "Aku enggak mau kau melihat wajahku yang seperti ini, Eri… jadi, biarkan aku menenangkan diriku dulu,"
Jantung Eri berdegup begitu kencang. Takumi yang biasanya terasa jauh kini begitu dekat. Suhu tubuhnya menjadi satu dengan dirinya. Nafasnya terdengar begitu jelas di telinganya. Eri yang tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya hanya tersenyum pasrah.
"Kau sendiri yang bilang kalau enggak akan pernah meninggalkanku!" tambah Takumi.
"Iya, iya…" jawab Eri sambil mengusap-usap punggung Takumi. "Begitu kamu sudah lega, kita pulang, ya?"
Setelah membersihkan kesan 'habis nangis' di wajahnya, Takumi berjalan mengantar Eri pulang ke apartemennya. Selama perjalanan tiap kali matanya bertemu dengan mata gadis itu ia langsung memalingkan muka ke arah lain. Mungkin Takumi gengsi karena Eri telah melihat sisi memalukan dari dirinya malam ini.
"Apa, sih?" goda Eri yang gemas dengan sikapnya.
"Berisik! Bukan apa-apa, kok!" jawab Takumi.
"Ah, masa'?" balas Eri.
"Uuuugh…" Takumi hanya bisa cemberut.
Kemudian keduanya saling diam hingga tak terasa mereka telah sampai di depan pintu apartemen Eri.
"Terima kasih sudah mengantarku, Takumi," kata Eri sambil tersenyum manis padanya.
"Iya, sama-sama!" jawab Takumi sok jutek. "Aku enggak mau kau kenapa-kenapa di jalan karena aku jadi jangan salah paham!"
"Iya, iya…" jawab Eri cuek. "Besok kita latihan dengan semangat, ya!"
"Huh! Tak perlu kau bilang begitu aku juga ngerti, kok!" kata Takumi. "Jangan kelewat semangat kayak Kazuya, deh! Bikin kesal saja!"
Eri memegangi perutnya karena tak sanggup menahan tawa. "Hahahahaha…! Aduh, geli banget sama kelakuanmu ini, sumpah!"
"Hei! Apaan, sih? Enggak lucu, tahu!" omel Takumi.
"Habis kamu sok tsundere kayak gitu, sih! Enggak cocok, tahu!" jawab Eri. "Kamu mau niru Maki, gitu? Hahahahaha!"
"Ah, berisik!" kata Takumi kesal.
"Hah, aku jadi lapar! Mungkin aku akan makan beberapa coklat di kulkas," kata Eri yang mulai ngiler membayangkan coklat kesukaannya.
"Yah, silakan makan yang banyak!" kata Takumi. "Akan kutertawai kamu habis-habisan kalau sampai jadi gendut!"
"Mou, hidoi yo, Takumi!" rengek Eri sambil memukul-mukul dada Takumi.
"Itu balasan karena sudah menertawaiku!" jelas Takumi sambil tersenyum.
Eri lega karena senyumannya telah kembali. "Sampai ketemu besok, Takumi! Oyasumi!"
"Iya, iya," jawab Takumi. "Aku pulang, ya!"
Eri menutup pintu dan mulai bersorak heboh. "Yay, misiku berhasil! YAY!"
Arisa membuka pintu kamarnya dengan kasar. "Berisik! Kau pikir sekarang jam berapa, onee-chan?!"
"Hahahahahaha…!" Eri sepertinya tidak dengar.
"HEI!" seru Arisa kesal.
"Iya, iya… maaf!" kata Eri sambil menarik nafas karena capek kebanyakan tertawa.
"Seneng banget, sih, kelihatannya? Ada apa dengan Takumi-san memangnya?"
"Nandemo nai!" jawab Eri sok misterius sambil asyik mengambil box berisi coklat kesukaannya di kulkas.
"Diiih… gitu!" dengus Arisa.
"Pokoknya, Takumi sudah kembali normal lagi," ujar Eri sambil melahap coklatnya. "Aaaah… lega banget! Kerja kerasku rasanya langsung ada hasilnya!"
"Huh! Pantas saja aku ditinggal sendirian di rumah!" komentar Arisa sambil berkacak pinggang. "Habis kawin lari dengan Takumi-san, toh?"
"He, hei! Belajar dari mana kamu bahasa kayak gitu?" tanya Eri dengan wajah merah padam.
"Oh ya, jangan makan coklat banyak-banyak, lho…" Arisa memperingatkan. "Aku akan ikut menertawai onee-chan kalau kau sampai jadi gendut, hihihi…"
"Mou, bawel kamu, Arisa!"
"Emang onee-chan enggak takut Takumi-san jadi ill feel sama onee-chan?" tanya Arisa. "Kurasa, cowok perfect kayak Takumi-san enggak akan mau sama cewek rakus kayak onee-chan deh!"
"Ugh… iya, deh," kata Eri sambil meletakkan kembali box coklat itu ke dalam kulkas.
Arisa membuka kulkas dan memeriksa box itu. "Tunggu! Kok, malah kau habiskan?!"
Eri hanya tergelak. "Habis, aku lapar… mana enak banget pula coklatnya,"
"Ampun, deh…" Arisa hanya bisa facepalm.
"Yatta! Takumi-kun sudah kembali!" kata Kazuya heboh begitu latihan dance keesokan harinya memasuki sesi istirahat.
"Akhirnya ada kehidupan lagi di matanya itu," tambah Nico. "Padahal kemarin-kemarin dia lemas karena galau enggak jelas!"
"Ga, ga, galau enggak jelas?!" wajah Takumi langsung memerah mendengar ledekan Nico.
"Ah! Wajahnya merah! Berarti benar kata Nico-kun, nya!" komentar Rin. "Takumi-kun galau! Takumi-kun galau~!"
Takumi pun melakukan chop head pada ketiga cowok berisik itu. "Cukup! Istirahat selesai! Balik ke posisi kalian!"
"Diiih… baper!" ledek mereka bertiga.
"Uuuukh… awas, ya, kalian!" kata Takumi kesal sambil menyimpan tinjunya.
"Syukurlah, ya, Ericchi?" kata Nozomi pada Eri. "Kamu berhasil mendobrak pintu hatinya,"
"Iya," jawab Eri singkat sambil menatap sosok bermata amber itu penuh kelegaan.
Takumi yang sadar dirinya diperhatikan pun segera menoleh ke arah Eri dan tentu saja dia segera membuang muka karena wajahnya merona merah.
"Tapi… kelihatannya dia masih sentimen sama aku, ya? Hahahaha…" kata Eri.
"Sekarang yang enggak peka malah kamu, Eri," komentar Maki yang tahu-tahu sudah ikut nimbrung sambil memelintir rambutnya seperti biasa.
"Enggak peka? Maksudnya?" tanya Eri bingung.
"Tahu, deh…" jawab Maki cuek.
"Nenek kamu rugi banget memberimu panggilan 'kashikoi kawaii Erichika', hahahaha…" sindir Nozomi.
"Iiiih… apaan, sih?" Eri masih bingung dengan maksud mereka.
Sementara itu, Hanayo dan Kotori juga ikut membicarakan hal yang sama.
"Syukurlah, kita semua akur kembali, ya, Kotori-chan?" kata Hanayo.
"Iya, benar," jawab Kotori.
"Eri-chan memang hebat, ya?" komentar Hanayo. "Aku penasaran bagaimana dia bisa mengembalikan Takumi-kun seperti semula,"
"Iya, makanya kupikir pasti Takumi-kun lebih cocok dengannya," kata Kotori.
"Eh? Memangnya, Kotori-chan enggak pernah ada secuil pun rasa pada Takumi-kun?" tanya Hanayo.
"Kalaupun ada… itu hanya sebatas kekaguman, Ha-na-yo-chan~" jawab Kotori sambil mencolek hidung Hanayo dengan telunjuknya.
Masalah selesai, namun timbul perasaan aneh pada diri Takumi setiap kali melihat gadis seperempat Russia itu.
