Ini dia surprise yang gue janjikan, check it out~
Unexpected Experience
"Ah, payah! Payah! Payah! Zenzen dame!" seru Nico kesal karena step yang dibuat Eri masih belum juga cocok dengan lirik lagu yang dibuat oleh Takumi.
"Maaf, deh…" kata Eri.
"Apakah latihan hari ini sampai di sini dulu saja, ya?" kata Nozomi.
"Benar, percuma melanjutkannya kalau step dan lirik masih enggak sinkron!" tambah Hanayo.
"EEEH? Padahal aku masih ingin bersenang-senang, nya!" keluh Rin.
"Ya, mau gimana lagi? Kamu enggak budeg apa dengerin Nico-kun ngomel mulu?" kata Maki.
"Ah! Kalau begitu, gimana kalau kalian pulang bersama?" usul Kazuya pada Takumi dan Eri. "Dengan begitu, kalian bisa mendiskusikannya, 'kan?"
"Aku enggak masalah, sih…" jawab Takumi. "Tapi rumahku sedang dipakai karena ibuku mengadakan arisan dengan para tetangga,"
"Kalau begitu, rumah Eri-chan, gimana?" tanya Kotori.
"Ah, bisa-bisa aja, kok! Ayo aja kalau mau diskusi di rumahku hari ini, ya, 'kan, Takumi?" kata Eri sambil menoleh ke arah Takumi.
Padahal aku belum bilang setuju, lho… gumam Takumi sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Gue enggak mau tahu! Pokoknya, sebelum hari H yang tinggal seminggu lagi kalian harus bisa menyelesaikannya, ngerti?" perintah Nico.
Mereka berdua hanya bisa mengangguk dan menuruti ketua rese ber-cardigan pink itu.
"Maaf, ya, Takumi…" kata Eri lesu di perjalanan menuju apartemen Eri.
"Untuk?"
"Aku jadi merepotkanmu gara-gara step yang kubuat belum cocok," ujar Eri. "Pasti kamu capek banget, 'kan?"
"Sudahlah, enggak apa-apa, kok," jawab Takumi sambil tersenyum. "Aku juga sudah pusing mendengar omelan Nico terus menerus,"
Mereka pun sampai di depan pintu apartemen Eri.
"Lho? Kok, kamu bengong?" tanya Eri bingung.
"Ano, Eri? Apakah tidak apa-apa kita hanya berduaan begini?" Takumi balik bertanya karena malu dirinya hanya akan berduaan dengan gadis itu dalam waktu yang agak lama.
"Apa, sih? Kalau langsung kita diskusikan pasti kamu bisa cepat pulang, kok," kata Eri. "Segitu enggak betahnya, ya, tiap kali berduaan bersamaku?"
"Bu, bukan begitu!" bantah Takumi.
"Sssst! Udah, udah! Ayo, kita masuk!" kata Eri sambil mendorong Takumi masuk ke apartemennya.
Eri meletakkan tasnya di dalam kamarnya kemudian segera keluar lagi untuk menyuguhi tamunya itu.
"Aduh, aku kehabisan snack!" keluh Eri sambil membuka lemari persediaan snack di dapur. "Bagaimana kalau coklat saja, Takumi?"
"Eh? Enggak usah, lah! Jadi merepotkan begini!" kata Takumi merasa tidak enak.
"Sudahlah, makan saja!" kata Eri sambil meletakkan piring besar dengan banyak sekali coklat yang dibungkus kecil-kecil seperti permen di atasnya. "Aku mau ganti baju dulu, kamu makan saja coklatnya sembari menungguku, oke?"
Eri pun segera melesat ke dalam kamarnya untuk mengganti baju seragamnya dengan kaos dan celana pendek.
Dasar, enggak di sekolah, enggak di rumah selalu saja dia merepotkan dirinya sendiri, gumam Takumi sambil mengambil salah satu coklat dengan bahasa Russia di bungkusnya.
Takumi tidak tahu kalau coklat yang baru saja dilahapnya memiliki kadar alkohol yang lumayan tinggi sehingga wajahnya terasa panas. Saking pusingnya dia memegangi wajahnya sambil bersandar agak miring di sofa panjang di sana.
"Maaf lama, Takumi!" kata Eri sambil membuka pintu kamarnya. "EH?! Takumi! Kamu kenapa?!"
"Aduduh, enggak tahu, nih…" jawab Takumi lemas. "Kepalaku pusing sekali…"
"Kayaknya tadi kamu sehat-sehat aja pas latihan!" kata Eri sambil memperhatikan sekeliling. Ia pun mendapati penyebab Takumi seperti ini.
Mampus! Aku lupa memisahkan coklatku dan coklat punya ayah! kata Eri panik dalam hati sampai-sampai keringat dingin membasahi kedua pelipisnya.
"Ka, kalau begitu, gimana kalau kamu istirahat saja di rumah? Aku akan mengantarmu pulang," kata Eri yang hendak bangkit dari sofa untuk mengambil kunci mobil.
Tapi Takumi segera merebahkan tubuhnya di atas sofa dan membiarkan kepalanya jatuh di pangkuan gadis itu.
"Ano? Takumi?"
"Diamlah sebentar," kata Takumi sambil menutupi kedua matanya dengan lengan kirinya.
"Ta, tapi seenggaknya aku harus mengambilkan air minum untuk—"
"Diamlah dulu, Eri…" pinta Takumi. "Kumohon, kepalaku pusing banget… jadi, biarkan aku tidur sebentar,"
Eri menghela nafas. "Baiklah,"
Sudah sekitar 20 menit mereka seperti itu.
"Izumi-… nee-chan… aku berhasil menemukannya," Takumi mengigau. "Gadis yang sangat kusayangi dan ingin kulindungi… seumur… hidupku,"
Eri pun membelai kepala Takumi dan menjawab igauannya, "Ya, kamu memang hebat, Takumi,"
Siapa ya kira-kira gadis yang dimaksudnya? gumam Eri.
Tiba-tiba Takumi bangun dengan posisi tetap duduk menyamping.
"Oh? Kamu sudah bangun, Takumi?" tanya Eri lega. "Kalau begitu aku akan mengantar—"
Takumi menahan tangan kiri Eri dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang wajah Eri.
"Tunggu, Takumi? Apa yang ingin kamu laku—"
Takumi mencium bibir Eri sambil tetap memejamkan matanya.
EEEEEEH?! Tunggu, apa-apaan ini?! kata Eri dalam hati karena ciuman yang tiba-tiba itu.
Eri berusaha mendorong Takumi agar dia melepaskan ciumannya, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk lepas dari ciuman itu.
"Ummmph! Ta, Taku… ummph…!" Takumi tidak mendengarkan rontaan Eri dan terus mencium bibirnya.
Bagaikan dua ujung kutub magnet yang berlawanan, kedua bibir itu terus menempel hingga langit mulai gelap. Ciuman itu berlangsung lumayan lama hingga membuat Eri nyaris kehabisan nafas. Takumi melepaskan ciumannya dan menempelkan dagunya ke bahu kiri Eri.
"Aku menyukaimu, Eri…" bisik Takumi. Setelah mengatakan itu, Takumi pun pingsan di pelukan Eri.
Eri bengong karena dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
Ciuman pertamaku direbutnya dan dia menyatakan perasaannya padaku… Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam? gumam Eri sambil memegangi bibirnya yang masih terasa hangat dan agak basah.
Eri menoleh dan mendapati adiknya tengah merekamnya dengan smartphone sambil mengacungkan jempol.
"Arisa, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Eri.
"Ya?" yang bersangkutan merespon sambil tersenyum misterius.
"Sejak kapan kamu di sini?"
"Sejak awal,"
"Maksudmu?" Eri bingung.
"Sejak Takumi-san masuk ke rumah kita, memakan coklat itu, tidur di pangkuanmu, merebut ciuman pertamamu, dan membisikkan perasaan yang dirasakannya terhadapmu, lalu—"
"Oke, oke, oke! Stop!" kata Eri cepat karena dia takut meledak saking malunya mendengar kesaksian adiknya.
Arisa pun mengirimkan video 'sensasional' itu ke smartphone Eri.
Eri membuka hp-nya sambil mengernyitkan dahi kemudian berteriak dengan heboh. "Kyaaaaa!"
"Jangan dihapus, lho, onee-chan…" tegur Arisa.
"Enggak dihapus, gimana?!" kata Eri panik.
"Aduh, onee-chan ini…" kata Arisa sambil menghela nafas. "Kau 'kan bisa menggunakannya untuk mendesak Takumi-san, ngerti, enggak, sih?"
"Ta, tapi, 'kan…"
"Memangnya onee-chan enggak penasaran apakah dia serius mengatakannya atau tidak?" sela Arisa.
Eri hanya bisa terdiam sambil menunduk. "Kamu enggak akan ngadu ke ayah maupun ibu, 'kan?"
"Enggak, lah! Gila aja!" seru Arisa.
"Kalau begitu, bisa bantu aku untuk membaringkannya di kamarku?"
Tanpa ba-bi-bu Arisa langsung menyeret Takumi dengan satu tangan ke kamar kakaknya.
"Umm… Arisa? Boleh aku tanya satu hal lagi?"
"Iya?"
"Kamu ikut klub apa di sekolah?"
"Klub pecinta alam dan klub rugby," jawab Arisa polos.
"Kenapa?" tanya Eri bingung.
"Aku sih ngikut Yukio aja,"
YUKIO! Kamu apakan adikku yang manis ini?! kata Eri dalam hati karena shock adiknya sekarang begitu kuat sampai bisa menyeret orang dengan satu tangan.
"Mau kutanyakan pada Takumi-san, enggak?" tawar Arisa. "Nanti saat dia bangun akan kuinterogasi dia,"
"Ja, jangan! Plis, jangan!" seru Eri.
"Lah? Kenapa?"
"Ha, hatiku belum siap mendengar jawabannya, tahu!" ujar Eri. "Kumohon, jangan lakukan apapun begitu dia bangun!"
"Iya, deh…" jawab Arisa.
"Ka, kalau begitu… aku ngumpet di kamarmu, ya, Arisa!" kata Eri sambil ngacir ke kamar sang adik dan mengunci pintunya.
"Hei! Terus aku gimana?!" tanya Arisa sambil menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Tolong temani Takumi dulu! Aku belum sanggup bertemu dengannya!" seru Eri dari dalam. "Nanti kuganti coklatmu yang kuhabiskan waktu itu, oke?"
"Lima kali lipat, lho, ya?"
"Ah, umm… oke, lima kali lipat," Eri setuju meski gemetaran karena dompetnya akan tewas karena kehabisan fulus.
"Oh! Kau sudah sadar, Takumi-san?" sapa Arisa setelah menunggui Takumi selama kurang lebih 30 menit sejak mengancam kakaknya itu.
"Ah, iya…" jawab Takumi yang masih lemas. "Kalau begitu, aku akan pulang… maaf sudah merepotkanmu, Arisa,"
"Ah, tidak, kok!" kata Arisa. "Daripada itu… apakah Takumi-san sendiri ingat apa yang terjadi sebelum Takumi-san pingsan?"
Takumi berpikir keras. "Maaf, aku enggak ingat apa-apa,"
"Oh, begitu, ya? Kalau begitu, aku akan memanggilkan taksi untukmu, Takumi-san,"
"Ya, terima kasih," kata Takumi sambil bangkit dari tempat tidur Eri.
"Onee-chan! Orangnya sudah pulang!" seru Arisa setelah kembali dari mengantar Takumi ke lobi bawah.
"Gi, gimana katanya?" tanya Eri sambil membuka pintu.
"Dia bilang enggak ingat apa-apa, tuh?"
"Aaaaargh…" Eri hanya bisa lemas sambil jatuh bersimpuh.
"Sudahlah, mungkin karena pusing dia jadi enggak ingat?" Arisa mencoba menghibur.
"Tapi, 'kan PHP banget, Arisa…" kata Eri sambil memeluk adiknya.
"Udah, udah, besok diskusikan saja sama Nozomi-san dan Nico-san baiknya gimana, oke?" saran Arisa.
"Haaah… iya, deh," jawab Eri.
