Tibalah saatnya untuk menanyakan kebenaran di balik ciuman dan pernyataan cinta di sore itu, bagaimana kah jawaban Takumi?

Dreamland

"EEEEEH?!" seperti biasa, Nico dan Nozomi berseru dengan heboh begitu Eri selesai menceritakan kejadian kemarin sore di apartemennya.

Karena kehebohan yang mereka buat, teman-teman di kelas sampai menoleh dan menatap dengan rasa ingin tahu. Nico pun sigap memberi bahasa isyarat kalau dia, Eri, dan Nozomi hanya sedang bercanda soalnya gawat kalau hal ini sampai diketahui banyak orang.

Eri menghela nafas kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku mesti gimana coba sekarang? Gara-gara kejadian itu aku jadi takut setiap kali bertemu dengannya…"

Nico dan Nozomi pun saling pandang.

"Kamu enggak mau coba tanya langsung ke orangnya?" usul Nico sambil melahap bekalnya.

"Payah kamu, Nicocchi! Gimana dia mau tanya kalau melihat dari jauh saja sudah parno?" kata Nozomi.

"Aku… ingin tanya, kok," kata Eri kemudian.

"Eh?"

"Tapi aku merasa kurang nyaman jika menanyakannya di sekolah," ujar Eri.

Nico merogoh saku blazer-nya. "Bagaimana kalau kau coba ajak dia ke sini?"

"Wah, itu 'kan tiket ke taman bermain di pinggir kota yang baru buka itu!" komentar Nozomi. "Kok, kamu bisa dapat tiketnya?"

"Tadi pagi aku dapat dari loper Koran sebanyak empat lembar," jawab Nico. "Yang dua ini untukmu saja dan Takumi,"

Wajah Eri langsung merah padam. "Ma, ma, maksudmu… aku mengajaknya pergi kencan denganku, gitu?"

"Yah, terserah mau disebut apa, sih…" kata Nico cuek. "Kalau kamu mau tahu maksud dari perbuatannya kemarin, kenapa enggak coba saja mengajaknya bicara di sana?"

"Huwaaa… mana mungkin, Nico bodoh!" bantah Eri sambil membenamkan wajahnya ke atas meja.

"Salah lagi, deh…" kata Nico sambil menopang dagunya dengan tangan kiri.

"Serahkan padaku, Nicocchi!" kata Nozomi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nico.

Lalu, Nozomi pun melakukan washi washi pada Eri.

"Kyaaa! No, Nozomi! Hentikan!" seru Eri.

"Enggak akan sebelum kamu menerima tiket itu dan mengajak Tacchan pergi denganmu!" jawab Nozomi.

"Aku enggak mau! Aku enggak mau pergi dengannya! Aaaargh… hentikan!" kata Eri.

"Oh? Kalau gitu aku tanya ke Takumi langsung saja, ah…" kata Nico memanas-manasi sambil bangkit dari kursinya.

Eri langsung menarik blazer Nico. "Tu, tunggu! Tunggu! Baiklah, aku mau! Berikan tiket itu, Nico!"

"Nico? Nico-nii-sama mungkin maksudmu?" Nico memanfaatkan kesempatan itu untuk mem-bully Eri.

"HAH? Untuk apa aku memanggilmu seperti itu?!" protes Eri.

"Oh oke… aku akan menelepon Takumi kalau begitu," balas Nico sambil mengeluarkan smartphone-nya.

"Nah, Ericchi, silakan kamu pilih! Di-washi washi olehku, Nicocchi menanyakannya langsung ke Tacchan, atau kamu mengajak Tacchan ke taman bermain itu," tambah Nozomi yang tidak kalah usil. "Nah, kamu pilih yang mana, Ericchi?"

"A, aku… mau tiket itu, Nico!" kata Eri kemudian.

"Apaaaa?" Nico sok budeg.

"Hamba mohon dengan sangat, Nico-nii-sama… berikan tiket itu," Eri akhirnya menyerah.

"Bagus, bagus…" kata Nico puas sambil meletakkan dua lembar tiket itu di atas meja. "Selamat bersenang-senang, bakka kaichou!"


"Ah, Eri-chan? Ada apa?" tanya Kotori begitu melihat Eri yang celingukan seperti tengah mencari seseorang di kelasnya.

"Ada Takumi, enggak?" Eri balik bertanya.

"Eh? Takumi-kun?"

"Kau mencariku?" tanya seseorang yang berdiri di belakangnya.

"Ah, panjang umur kamu, Takumi-kun!" kata Kotori.

"Jangan menghalangi pintu, dong," kata Takumi dingin sambil masuk ke dalam kelas. "Menyusahkan saja!"

Namun, Eri dengan cepat menarik blazer-nya. "Sudah kubilang, aku ada perlu denganmu, 'kan?"

Takumi menghela nafas. "Baiklah,"


Eri pun mengajak Takumi bicara di tempat latihan mereka, atap sekolah.

"Setelah menghindariku seharian kini kau tiba-tiba mengajakku bicara," kata Takumi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Kali ini ada apa?"

Eri menghela nafas. "Enggak usah sok jutek, gitu, deh… aku 'kan sudah mengajakmu bicara baik-baik,"

"Ya, dan ini sedang kudengarkan," jawab Takumi.

Jantung Eri berdegup begitu kencang sehingga ia harus beberapa kali menghela nafas agar bisa tenang.

"Ta, Takumi, apakah kamu ada waktu luang akhir pekan ini?" tanya Eri.

"Aku bisa mengaturnya kalau mau, ada apa memangnya?" jawab Takumi.

"A, aku ingin mengajakmu ke taman bermain di pinggir kota sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah banyak menolongku," ujar Eri. "Kumohon!"

Wajah Takumi memerah sehingga ia segera memalingkan wajah sambil menutupi rona merah di wajahnya dengan lengan kanannya.

"Eh? Jangan-jangan kamu sudah ada acara?" tanya Eri kecewa karena Takumi tidak langsung menjawab. "Padahal… aku ingin sekali-sekali bermain denganmu,"

Jantung Takumi berdegup kencang karena terpesona dengan Eri. Meski sedang kecewa ia masih terlihat begitu manis. Hatinya pun luluh dan berniat menerima ajakan gadis itu.

"Baiklah, aku mau," kata Takumi kemudian sambil tersenyum.

"Be, benarkah?" tanya Eri dengan mata berbinar-binar.

"Ya, yah… kupikir sesekali istirahat dari kegiatan dojo itu bagus," Takumi berusaha ngeles. "Ya, aku mau ikut denganmu,"

"Harasho!" seru Eri kegirangan sambil memeluk Takumi tanpa sadar.

"O, oi…!"

Eri pun sadar dengan apa yang dilakukannya dan segera melepaskan pelukannya. Wajah keduanya menjadi merah padam sehingga membuat mereka saling diam untuk beberapa saat. Suasana pun menjadi agak canggung.

"Ka, kalau begitu jam 10 di depan stasiun hari Minggu nanti, ya," kata Takumi memutuskan kemudian. "Jangan kesiangan, lho!"

"I, iya," jawab Eri sambil menyerahkan satu tiket padanya. "Ini tiketmu, Takumi, jangan sampai hilang, ya!"

"Ya, tentu," jawab Takumi sambil memasukkan tiket itu ke dalam dompetnya agar tidak hilang.


"Takumi!" panggil Eri sambil berlari menghampirinya. "Maaf, aku terlambat!"

"O, oi, jangan lari seperti itu!" tegur Takumi sambil berjalan mendekatinya. "Ah! Awas!"

Eri tersandung, tapi untunglah Takumi sudah berdiri di depannya sehingga ia jatuh ke pelukan Takumi.

"Dasar, kamu sih pakai lari-lari segala," kata Takumi. "Kamu enggak apa-apa, 'kan?"

"I, i, iya…" jawab Eri yang gugup juga malu setengah mati makanya tidak heran wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

Takumi melepaskan pelukannya dan menggenggam tangan gadis itu. "Ayo, kita pergi,"

Eri mengangguk dan berjalan sambil terus bergandengan dengannya.

Tanpa mereka sadari, Nico dan Nozomi memperhatikan mereka dari jauh.

"Nice, Tacchan! Hehehehe…" Nozomi tampak begitu puas melihat adegan itu.

"Hobimu ini benar-benar buruk, Nozomi…" komentar Nico.

"Memangnya kamu enggak khawa… eh, maksudku penasaran?" tanya Nozomi.

"Se, sedikit, sih…" jawab Nico gengsi.

"Soalnya, selain sebagai teman aku juga menganggap Ericchi seperti adikku sendiri," jelas Nozomi. "Oh! Mungkin juga sebagai anakku! Hehehe…"

"Terus, maksudmu aku papanya, gitu?" dengus Nico.

"Oh, boleh juga!" jawab Nozomi.

"Enggak, deh, makasih!" kata Nico. "Mana mau aku punya anak yang kikuk begitu!"

"Eeeeh? Tapi lucu, 'kan? Rasanya seperti melihat anakmu yang baru puber, hahaha…"

"Sifat keibuanmu udah kelewatan, deh, kayaknya?" kata Nico sambil melirik Nozomi dengan agak geli.

"Ah! Gawat! Mereka mulai jauh!" seru Nozomi. "Ayo, Nicocchi!"

"Ya, ya…" jawab Nico sambil menguap.

"Jangan lemot, deh! Ayo!" kata Nozomi sambil menyeret Nico dan berjalan cepat menyusul Takumi dan Eri.


"Wah, luasnya!" kata Eri kagum begitu dia dan Takumi telah masuk ke taman bermain itu.

"Kukira kamu sudah pernah ke sini, Eri?" kata Takumi yang bingung melihat Eri begitu norak.

"Ahahaha… belum, kok!" jawab Eri sambil tersenyum.

Wajah Takumi memerah kemudian ia menggaruk-garuk bagian belakang lehernya karena gugup. "Aku lupa mengatakan ini… ka, kamu begitu cantik hari ini, Eri…"

Mata Eri berbinar-binar mendengarnya. "Wah, benarkah? Terima kasih! Enggak rugi, deh, aku bangun pagi-pagi demi memilih pakaian yang cocok!"

"Tapi aku baru tahu kamu bisa keren juga di luar sekolah, Takumi!" Eri berbalik memujinya. "Ternyata kamu orangnya modis juga, ya?"

"Te, tentu saja, 'kan! Kamu saja sudah berusaha keras agar terlihat cantik," jawab Takumi. "Masa' aku berpakaian asal-asalan?"

"Hahahaha! Benar juga!" kata Eri. "Kalau begitu, ayo kita mulai main!"

"Tentu, kau mau naik apa dulu?"

"Roller coaster!" jawab Eri mantap. "Ayo, Takumi! Uwaaah… aku sudah tidak sabar!"

"Heh…?" Takumi hanya bisa pasrah diseret oleh Eri.

Sebenarnya, Takumi paling enggak bisa naik roller coaster.

"GYAAAAA!" sesuai dugaan, Takumi lah yang jeritannya paling kencang.


Aku enggak bakal mau naik roller coaster lagi seumur hidupku… kata Takumi dalam hati sambil duduk dengan lemas di salah satu bangku panjang.

Tiba-tiba ada seseorang yang menempelkan kaleng jus yang dingin ke pipinya. "Uwaaah!"

"Maaf, maaf! Aku mengagetkanmu, ya?" tanya Eri sambil nyengir. "Minumlah, kamu pasti haus setelah menjerit sekencang itu,"

"Ma, makasih…" kata Takumi dengan wajah memerah.

"Sama-sama," jawab Eri sambil duduk di sebelahnya.

"Habis ini, aku mau naik wahana yang tenang-tenang saja, Eri," kata Takumi. "Boleh, 'kan?"

"Tentu!" jawab Eri. "Kamu mau main apa?"

Takumi tersenyum licik. "Kali ini kamu yang enggak boleh protes, ya…?"


"Kyaaa!" jerit Eri saat kereta yang memasuki rumah hantu mulai berjalan.

"Oi, kita bahkan baru masuk, lho?" kata Takumi sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa rumah hantu, sih?!" protes Eri. "Aku benci tempat gelap, tahu!"

"Heh? Bukannya kamu udah janji enggak akan protes?" jawab Takumi sambil tersenyum licik.

Tiba-tiba di samping kanan Eri terlihat sumur dan dari dalamnya keluarlah Sadako dari The Ring.

"Kyaaa! Takumi! Takumi…!" jerit Eri ketakutan sambil memeluk Takumi erat.

"Payah kamu, Eri…" komentar Takumi. "Yang ada di sini 'kan hanya boneka dan orang-orang yang memakai kostum,"

"Aku enggak peduli! Pokoknya, aku takut!" seru Eri.

"Pa… sa… ngan yang… ma… nis…" sambut salah satu hantu yang berpakaian tradisional Jepang sambil membungkukkan tubuhnya. "Se… la… mat datang… ke dunia… kami…"

"Lihat? Kita bahkan disambut baik oleh mereka," kata Takumi sambil mengelus-elus kepala Eri. "Jadi, sebaiknya kau nikmati sa—"

Eri memeluk Takumi semakin erat dan membenamkan wajahnya di dada Takumi. "Kalau begitu, kamu saja yang melihat mereka untukku!"

"Huh, kamu ini benar-benar penakut, ya?" kata Takumi sambil menghela nafas. "Ya, sudahlah… kau bisa menutup matamu. Nanti, kuberitahu kalau kita sudah sampai pintu keluar,"

Ini kapan keluarnya?! Kumohon, bergeraklah lebih cepat, kereta sialan! Hatiku bisa meledak, tahu! rutuk Takumi yang sebenarnya sudah dag-dig-dug enggak karuan karena Eri terus menempel padanya.

Takumi melihat cahaya yang semakin dekat. "Ah! Kita sudah di pintu keluar, Eri!"

Eri melepaskan pelukannya dan melihat ke depan. Tidak disangka-sangka, hantu yang paling seram malah muncul untuk menutup permainan itu. Alhasil, Eri pun pingsan.

"Heh? Eri…? Eriiiii!" seru Takumi panik begitu melihat wajah Eri yang pucat seolah jiwanya akan keluar dari mulutnya saat itu.


"HUH!" Eri berjalan cepat meninggalkan Takumi sambil cemberut.

"O, oi… aku 'kan sudah bilang, aku minta maaf…" kata Takumi.

"Bodo! Bisa-bisanya kamu berbohong padaku kalau kita sudah sampai di pintu keluar!" balas Eri. "Menyebalkan!"

Takumi mempercepat langkahnya untuk menyusul Eri, kemudian ia pun menggenggam lengan kanan Eri untuk menahannya.

"Oh, ayolah… maafkan aku!" pinta Takumi. "Aku janji, akan menuruti semua keinginanmu hari ini, deh!"

"Janji?"

Takumi mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat. "Janji!"

Senyum kembali terukir di wajahnya. "Baiklah, ayo ikut aku!"

Eri berlari ke wahana permainan selanjutnya sambil kembali menyeret lengan Takumi.


Seharian itu mereka berdua bersenang-senang. Meskipun kebanyakan dari permainan nyaris membuat Takumi semaput karena jantungan, tapi itu tidak masalah karena senyuman Eri selalu sukses membuatnya sembuh kembali. Karena semua permainan yang menguji adrenalin sudah mereka coba semua maka sekarang mereka memilih wahana permainan yang santai.

"Bagaimana kalau kita ke the tunnel of love?" usul Eri. "Aku ingin bianglala yang terakhir kita mainkan supaya kita bisa melihat kembang api dari sana!"

"Tentu," jawab Takumi setuju.

Ketika mereka berjalan menuju wahana the tunnel of love banyak dari pengunjung yang memperhatikan mereka karena gemas.

"Wah, imutnya pasangan itu!"

"Itu cowok yang menjerit paling kencang di roller coaster tadi, bukan? Wah, gantengnya!"

Takumi entah kenapa merasa tidak nyaman menjadi pusat perhatian. "Ano, Eri? Entah kenapa aku merasa malu…"

"Hihihi, risiko punya wajah ganteng, sih!" jawab Eri sambil cekikikan.

"Pacarnya cowok itu cantik sekali! Seperti model!"

"Enaknya! Jadi iri, deh!"

Wajah Eri memerah kemudian ia menunduk.

Takumi hanya tersenyum sambil menggandeng tangan Eri. "Ayo, sudah giliran kita,"


"Ah, tanoshikatta!" kata Eri sambil bersandar pada bantal di perahu yang mereka naiki di the tunnel of love. "Arigatou, Takumi!"

Takumi tidak menjawab.

"Halo? Ta-ku-mi…?" Eri berusaha memanggil-manggilnya sambil menekan-nekan pipi kanan Takumi dengan telunjuknya.

Ternyata Takumi tertidur sambil menopang dagu dengan tangan kirinya.

Pasti dia capek… gumam Eri sambil memperhatikan Takumi dengan gemas.

"Izumi-… nee-chan… hari ini sangat menyenangkan, lho…" lagi-lagi Takumi mengigau seperti waktu itu. "Walaupun… aku… nyaris pingsan… karena naik… roller coaster…"

Dasar, Takumi itu adik yang manja pada kakaknya, ya? pikir Eri sambil terkekeh pelan.

Tiba-tiba Takumi tidak sengaja bersandar pada bahu kiri Eri karena goncangan dari perahu.

Uwaaaah… bagaimana ini? wajah Eri kini merah padam.

Tidak terasa perahu mereka telah dekat dengan pintu keluar. Takumi yang silau dengan cahaya dari sana pun menjadi terbangun.

"Hoaaaahm…" Takumi menguap sambil melemaskan otot-ototnya.

"Selamat!" tiba-tiba staff yang mengurus the tunnel of love menyambut mereka sambil melepaskan confetti. "Kalian berhasil menjadi pasangan dengan kategori termanis untuk hari ini!"

"EH?" Takumi dan Eri pun saling pandang karena bingung.

"Baiklah, ini dia hadiah untuk kalian!" kata staff itu sambil memberikan amplop berwarna pink pada Takumi. "Sampai jumpa di kesempatan berikutnya!"


"Ah, akhirnya sampai juga kita di wahana terakhir hari ini," kata Eri begitu mereka berdua telah sampai di depan bianglala.

"Silakan," kata staff bianglala sambil membukakan pintu gondola.

Takumi dan Eri pun duduk berhadap-hadapan. Saat gondola mulai naik keduanya saling diam. Mereka bingung harus bicara apa.

"Umm… boleh aku duduk di sampingmu?" tanya Takumi kemudian.

"Ya, tentu," jawab Eri sambil bergeser menyisakan ruang untuk Takumi.

Takumi pun duduk di sebelah Eri.

"Nee, Takumi?"

"Hmm?"

"Sebenarnya, ada satu hal yang ingin kutanyakan padamu mumpung kita masih di sini," ujar Eri.

"Apakah itu?"

"Me, mengenai… apa yang terjadi di apartemenku waktu itu," kata Eri sambil menunduk karena gugup. "Apa kamu benar-benar enggak ingat apa yang terjadi sebelum kamu pingsan?"

Takumi terdiam.

"A, aku… punya buktinya kalau kamu ingin menyangkalnya!" Eri berusaha memanas-manasi. "Jadi, sebaiknya kamu jawab dengan—"

"Kamu ingin tahu?" tanya Takumi sambil tersenyum.

"Te, tentu saja, 'kan! Dasar Takumi bodoh!" jawab Eri.

"Kalau begitu, bisa simpan dulu hp-mu?"

"Eh?"

"Sudahlah, lakukan saja," kata Takumi. "Sekarang pejamkan matamu,"

"A, apaan, sih?" tanya Eri sambil memejamkan kedua matanya.

Takumi memegang pipi kiri Eri dan mendekatkannya dengan wajahnya. Tepat saat kembang api meledak di angkasa, Takumi mencium bibir Eri.

Mata Eri terbelalak dan ia segera mendorong Takumi. "Apa-apaan kamu?!"

Tapi Takumi segera memeluknya. "Aku ingat semuanya, Eri…"

"Eh…?"

"Kalau aku boleh jujur, aku sama sekali tidak mabuk sore itu," ujar Takumi. "Aku melakukan semuanya dalam keadaan sadar,"

"Tu, tunggu! Lalu, kenapa kamu berbohong pada Arisa?!"

"Itu sengaja," jawab Takumi. "Karena aku ingin hanya kamu yang tahu,"

"Apa maksud—"

"Aku menyukaimu, Eri," bisik Takumi.

Eri menunduk. "Bohong…"

"Tidak, Eri… aku benar-benar—"

"Bohong!" seru Eri sambil menangis. "Kamu hanya ingin mempermainkanku, 'kan?!"

"Eri, aku sungguh-sungguh!" bantah Takumi. "Aku benar-benar menyukaimu! Aku mencintaimu!"

"Enggak! Kamu hanya ingin agar aku menjadi pengganti Kotori, 'kan?!" seru Eri.

Takumi memegang kedua pipi Eri. "Apakah kamu merasakan keraguan dalam ciuman itu?"

Eri hanya terdiam sambil menunduk.

"Apakah kamu pikir aku berbohong?" tanya Takumi lagi.

"Lalu, kenapa tiba-tiba kamu menciumku waktu itu…?" Eri balik bertanya sambil menahan tangis. "Setelah itu, kamu mengatakan enggak ingat apa-apa! Kamu pikir aku enggak takut? Kamu pikir aku enggak merasa di-PHP-in?"

"Aku sudah mencoba ingin menjelaskannya padamu!" seru Takumi. "Tapi kamu selalu kabur tiap kali melihatku!"

Eri menempelkan kepalanya ke dada Takumi. "Maafkan aku…"

"Aku telah lama melupakan perasaanku pada Kotori sejak saat itu," ujar Takumi. "Sejak kamu berusaha menyelamatkanku dari rasa frustasiku, sejak aku menangis di pelukanmu… aku telah jatuh cinta padamu,"

"Perasaanmu telah sampai padaku, Eri," lanjut Takumi.

Keduanya saling bertatapan.

"Aku menyukaimu, Eri," kata Takumi sekali lagi. "Jadilah pacarku!"

Air mata kembali menghiasi wajah yang putih pucat itu.

"Maaf…" kata Eri sambil mengusap air matanya.

"Eh? Tunggu, jangan-jangan kamu…"

"Bukan begitu," sela Eri. "Aku sangat bahagia sampai tak bisa berhenti menangis, tahu,"

Takumi menghela nafas lega.

"Akhirnya, hari yang kunantikan tiba juga," lanjut Eri. "Ini bukan mimpi, 'kan?"

Takumi menempelkan dahinya ke dahi gadis itu. "Menurutmu?"

Kemudian keduanya pun tertawa.

"Aku janji akan selalu menjagamu, Eri," kata Takumi kemudian. "Sekali lagi kutanya, maukah kamu menjadi pacarku?"

Eri memeluk Takumi dengan erat. "Tentu saja!"

Mereka berdua pun resmi berpacaran.


"Hiks… Ericchi, kamu sudah dewasa, nak…" Nozomi menangis terharu melihat bianglala di atasnya.

"Oi, sudahlah…" kata Nico sambil menepuk-nepuk bahu Nozomi.

"Kepada pengunjung di bianglala nomor 17 harap kembali duduk!" staff di bawah memperingati mereka dengan pengeras suara.

"Yah, yang penting semuanya telah berakhir dengan baik," kata Nozomi lega setelah membersihkan ingusnya.

"Yap, kau benar," jawab Nico.

"Apa sebaiknya kita jadian juga, Nicocchi?" goda Nozomi.

"Hahahaha… mana mungkin!" jawab Nico. "Nico-nii ini 'kan milik semuanya! Hahahaha!"

"Oh, gitu, ya…?" respon Nozomi dengan nada menyindir yang terdengar kurang senang.

"Hahaha… iya, lah!" jawab Nico bangga.

Andaikan Nico tahu apa maksud sebenarnya dari godaan itu.