Yak, digoyang... aitai no summer~ /cukupRef
Ehem! Oke, ini juga termasuk surprise dari gue :3 bersiaplah untuk kesengsem melihat dua sejoli kita yang hubungannya makin bikin jantungan /gakgituplis
Storm in Lover
Sudah dua jam berlalu semenjak Takumi dan Eri resmi berpacaran. Semestinya saat ini mereka sudah di rumah masing-masing dan berguling-guling di tempat tidur saking girangnya. Namun sialnya…
Zrrrrrrrsh! Hujan badai seolah tak ingin mereka berpisah hari itu. Untungnya hari Senin besok sekolah libur karena SMA Otonokizaka akan digunakan sebagai lokasi olimpiade sains tingkat kota. Takumi dan Eri hanya bisa berdiri sambil menggigil di halte bus dengan pakaian yang basah kuyub dari atas hingga bawah.
"Maaf, ya, Takumi…" kata Eri sambil menahan ingusnya yang nyaris meler.
"Hah? Untuk apa?" tanya Takumi bingung.
"Lagi-lagi aku merepotkanmu bahkan di hari pertama kita kencan…" ujar Eri. "Hatchiiih!"
"Sudahlah, mana kita tahu kalau akan hujan badai seperti ini," Takumi mencoba menghiburnya. "Coba kulihat ramalan cuaca sebentar,"
"Diperkirakan wilayah posisi Anda saat ini akan mengalami hujan badai hingga tengah malam," begitulah yang dikatakan software ramalan cuaca di smartphone Takumi.
Takumi dan Eri saling pandang dengan wajah pucat. "KITA MESTI GIMANA?!"
"Ka, kalau gitu… aku akan coba lihat apakah masih akan ada bus yang lewat sini," kata Eri sambil membuka software serupa di smartphone-nya.
"Maaf, lokasi Anda saat ini tidak akan kedatangan kendaraan transportasi karena hujan badai yang berisiko menyebabkan kecelakaan lalu lintas," hasilnya sama seperti Takumi.
Takumi merasa kasihan pada Eri yang wajahnya semakin memerah. Mungkin saja dia mulai masuk angin karena pakaiannya basah kuyub ditambah dengan angin dingin yang serasa menusuk hingga ke tulang-tulang.
"Oh iya, amplop pink yang kamu terima di the tunnel of love itu apa sih isinya?" tanya Eri kemudian. "Syukur, syukur voucher transport, sih…"
Takumi membuka amplop itu dan membelalakkan matanya. "Aku tidak tahu ini lebih baik atau lebih buruk dari voucher transport, Eri…"
"Heh? Apa, sih? Apa, sih?" tanya Eri penasaran sambil ikut melihat isi amplop tersebut. "I, ini 'kan…"
"Iya, voucher untuk menginap satu malam di hotel yang ada di seberang kita ini," ujar Takumi sambil menunjuk hotel yang dimaksud.
"Hatchiiih!" Eri kembali bersin.
"Kurasa, kita enggak punya pilihan lain selain menginap di sana hingga hujan reda," kata Takumi sambil menarik lengan Eri. "Ayo!"
"EEEEH?!" seru Eri dan Takumi kaget begitu mendengar penjelasan dari resepsionis.
"Kami benar-benar mohon maaf!" kata mbak resepsionis. "Hari ini hotel kami sangat penuh oleh pengunjung sehingga kamar yang tersisa hanya kamar dengan single bed besar untuk dua orang!"
"Gi, gimana, nih?" Eri menyikut Takumi.
Tiba-tiba manajer hotel itu berdiri di belakang mereka dan menepuk bahu mereka. "Sudah, sudah! Sebelum kalian jatuh sakit lebih baik kalian menginap saja! Tenang, kami juga sudah menyediakan pakaian ganti di setiap kamar! Ayo, ayo!"
Mereka berdua pun didorong oleh si manajer ke kamar mereka.
"Nah, ini kartu untuk mengunci pintunya," kata si manajer sambil menyerahkan kartu tersebut pada Takumi. "Jangan sungkan untuk melepon resepsionis kalau kalian butuh sesuatu, ya!"
Belum sempat mereka berterima kasih, si manajer sudah keburu menutup pintu. "Selamat bersenang-senang~!"
Takumi pun berkeringat dingin mendengarnya.
Jangan ngomong kalimat yang ambigu begitu, dong, Pak tua sialan! kata Takumi dalam hati.
"Kalau begitu, aku mandi duluan, ya, Takumi," kata Eri setelah menaruh tasnya.
"Eh? Memangnya kamu sudah ambil baju gantinya?" tanya Takumi.
"Sudahlah, nanti saja," jawab Eri. "Nanti setelah keluar dari kamar mandi aku akan keluar menggunakan handuk, kok,"
Wajah Takumi langsung merah padam. "O, oi… jangan begitu, dong! Kamu lupa kalau sedang sekamar dengan laki-laki?!"
"Berisik, ah! Hatchiiih!"
Takumi akhirnya mengalah. "Ya sudah, tapi kalau mau aku bisa mengambilkannya untukmu,"
"Terima kasih, Takumi," kata Eri. "Aku akan mengambilnya sendiri nanti,"
Eri pun masuk ke kamar mandi.
Entah ini bisa disebut beruntung atau apes… gumam Takumi yang hanya mengenakan kaos dan celana pendeknya sambil duduk menghangatkan diri di depan mesin penghangat ruangan. Sedangkan, pakaiannya dan pakaian Eri dijemur di sisi lain ruangan tetapi masih dekat mesin penghangat ruangan dengan dilebarkan di kursi-kursi di sana.
"Takumi, aku sudah selesai," kata Eri sambil keluar dari kamar mandi.
Takumi menoleh dan wajahnya langsung merona merah melihat sosok berkulit putih pucat itu dengan rambut basahnya yang tergerai dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya yang elok.
"Kok, kamu bengong, sih? Cepatlah mandi! Aku ingin ganti baju, tahu!" kata Eri sambil membuka lemari pakaian.
Takumi menepuk-nepuk kedua pipinya. "Ah, iya, maaf…"
Ia pun segera berjalan menuju kamar mandi sambil membawa baju ganti yang telah diambilnya dari lemari.
Begitu selesai berpakaian, Eri segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil menutupi kedua matanya dengan lengan kirinya. Suhu tubuhnya semakin tinggi. Sepertinya demamnya mulai parah.
"Hei, Eri… jangan tidur dulu, dong! Kamu belum minum obat, 'kan?" kata Takumi yang telah selesai mandi sambil mengguncang-guncangkan tubuh yang terbaring lemah itu.
Eri pun bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. "Kamu mau keluar?"
"Ah, iya, aku mau ke mini market di bawah untuk membelikanmu obat dan air mineral," ujar Takumi. "Kamu mau titip apalagi?"
"Makanan yang manis-manis saja, deh…" jawab Eri. "Coklat, biskuit, terserah, deh… yang penting manis,"
"Ya sudahlah, aku buat pengecualian karena kamu sedang sakit," kata Takumi.
"Ugh… kenapa sih kamu segitu takutnya aku jadi gemuk?" ringis Eri.
"Bukan begitu… aku hanya enggak mau dihajar para fans-mu kalau kamu sampai jadi gemuk," jelas Takumi. "Sudahlah, aku turun dulu sebelum makin larut,"
Tiba-tiba kilat yang begitu besar menyambar hingga menyebabkan listrik mati. Meski sayup-sayup, Takumi mendengar kalau sumber listrik cadangan atau genset juga rusak akibat terendam air hujan yang menggenang dari perbincangan para staff di luar. Kemungkinan besar hotel tersebut akan mengalami mati lampu total hingga besok pagi.
"Kyaaaa!" lagi-lagi Eri menjerit ketakutan seperti di rumah hantu tadi siang. "Kumohon, jangan tinggalkan aku, Takumi! Aku takut! Sumpah!"
"Lepaskan aku! Kalau demammu tambah parah, gimana?!" kata Takumi kesal sambil berusaha melepaskan pelukan Eri.
Eri mulai menangis. Ternyata ketakutannya akan kegelapan bukan main-main. Akhirnya, Takumi menelepon resepsionis untuk membawakan obat.
"Ayo, kita duduk dulu di sofa," bujuk Takumi setelah menerima obat dari mbak resepsionis. "Supaya kamu bisa tenang minum obatnya,"
Eri menurut sambil terus merangkul lengan kiri Takumi. Setelah meminum obat, mereka berdua pindah duduk ke tepi ranjang yang menghadap jendela besar.
"Sepertinya hujannya sudah reda," kata Takumi. "Bagaimana kalau kubuka gordennya agar cahaya bulan bisa masuk?"
Eri mengangguk. "Ya, terima kasih…"
"Kamu tahu, Eri?" kata Takumi kemudian setelah keduanya saling diam beberapa saat. "Mungkin sebaiknya kamu jangan sering-sering menunjukkan kelemahanmu, apalagi… di depan laki-laki,"
Eri hanya cemberut mendengarnya.
"Hei… aku bilang begini demi kamu, lho?" kata Takumi sambil menekan-nekan pipi Eri yang ia gembungkan karena sebal. "Kamu beruntung karena aku masih bisa tahan diri, 'kan banyak laki-laki yang akan memanfaatkan kesempatan seperti itu untuk melecehkan tubuhmu,"
Eri kemudian menghela nafas. "Iya, makasih…"
Takumi tiba-tiba menggenggam tangan kiri Eri. "Naa, Eri…"
"Hmm?"
"Boleh aku menciummu?" tanya Takumi.
"Te, tentu…" jawab Eri sambil menelan ludah.
"Pejamkan matamu," kata Takumi sambil menahan tawa karena melihat Eri yang begitu gugup.
Bulan purnama seakan menjadi saksi bisu untuk dua sejoli itu. Mereka berciuman bermandikan cahaya bulan sambil tetap berpegangan tangan. Namun, tiba-tiba Takumi memegang pipi kiri Eri dengan tangan kanannya. Eri yang merasakan kehangatan dari tangan kekasihnya itu pun membuka mata. Dirinya pun agak terkejut karena kekasihnya tiba-tiba memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya. Ya, Takumi mencoba melakukan French kiss pada Eri.
Meski ini pertama kalinya Takumi melakukannya, Eri dapat merasakan lidahnya disapa dengan begitu lembut. Ciuman itu terasa begitu manis meski agak lebih menyesakkan dada dari biasanya. Eri tidak lagi meronta maupun berusaha mendorong Takumi agar menghentikan aksinya itu. Sebaliknya, Eri begitu menikmati permainan lidah itu. Seperti biasanya, Takumi mencium kekasihnya itu dengan durasi yang agak lama.
Setelah berciuman selama kurang lebih 10 menit, Takumi memeluk Eri dengan begitu erat.
"Maaf, aku tak bisa menahan diri…" kata Takumi pelan.
Tiba-tiba Takumi menjilat leher yang putih pucat itu.
"Kyaaa!" jerit Eri pelan karena tiba-tiba Takumi menjilati lehernya.
Takumi mendorong Eri hingga tubuhnya jatuh ke ranjang dan mengunci pergerakan gadis itu dengan menempatkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri bahu Eri.
"Tu, tunggu… Takumi! Apa yang ingin kamu lakukan?!" tanya Eri ketakutan.
"Sudah kubilang… jangan tunjukkan kelemahanmu, 'kan?" balas Takumi. "Kau pikir aku laki-laki yang sesempurna itu?"
"He, hentikan!" Eri berusaha melepaskan diri.
"Lehermu begitu manis, Eri…" kata Takumi dengan senyumnya yang mengerikan seperti malam penculikan itu. "Membuatku ingin lebih merasakannya,"
"Ti, tidak… tunggu, henti—"
Takumi mulai menjilati leher Eri dengan lembut. Eri hanya bisa mencengkeram seprai sambil memejamkan matanya. Air matanya mulai menitik. Ia tidak kuat menerima kelitikan dari lidah kekasihnya itu.
"Baiklah, ini yang terakhir," kata Takumi kemudian sambil menggigit lehernya.
"A, aaaaargh… sudah cukup, Takumi! I, ittai…! Hentikan!" jerit Eri sambil menangis.
Takumi sukses memberikan bekas 'cupang' kemerahan di leher gadis itu. Ia pun puas kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Ahahahahaha…! Maaf, maaf!" kata Takumi sambil memegangi perutnya yang geli. "Apa aku menakutimu?"
Eri bengong. Ia tidak percaya sikap Takumi dapat berubah secepat itu.
"Enggak lucu, tahu, enggak?!" kata Eri marah sambil berbaring membelakanginya.
"Soalnya, kamu kunasehati malah cemberut, sih!" jawab Takumi ngeles.
"Tunggu, jadi kamu melakukan semua itu untuk menghukumku, gitu?!" seru Eri sambil bangkit dari ranjang dan kembali duduk.
"Tapi sepertinya kamu menikmatinya, E-ri-chi-ka?" goda Takumi.
"Ka, kalau ciumannya sih iya…" jawab Eri gengsi. "Tapi enggak dengan apa yang kamu lakukan pada leherku! Kamu enggak tahu apa kalau leherku sensitif banget?!"
"Justru karena itulah aku menjilatinya dan mengigitnya," ujar Takumi. "Hahahaha… masa' gitu aja enggak tahan, sih?"
"Enggak, lah! Geli, tahu!" bantah Eri. "Enak di kamu, enggak enak di aku!"
"Hahahahaha… iya, deh! Maaf!" kata Takumi sambil mencubit pipi Eri pelan.
"Jujur saja, aku khawatir saat kamu tiba-tiba melakukan French kiss, tahu?" kata Eri. "Kalau kamu sampai tertular fluku, gimana?"
"Aku justru melakukannya demi mendapatkan flumu, tahu," jawab Takumi santai. "Habis aku kasihan melihat wajahmu sampai semerah tomat begitu padahal habis bersenang-senang di taman bermain!"
"Bakka nano?" kata Eri sambil menaikkan alisnya.
Keduanya pun tertawa.
Ternyata pasangan usil masih mengikuti Takumi dan Eri. Keduanya menyamar menjadi pasangan lansia dan memesan dua kamar dengan single bed untuk masing-masing. Oh, jadi mereka yang membuat Takumi dan Eri kehabisan tempat ternyata.
"Ahahahaha… syukurlah, Ericchi…" kata Nozomi kesengsem sambil melihat rekaman yang diperlihatkan kamera penyadap di smartphone-nya. "Kamu sudah selangkah menuju dunia orang dewasa,"
"Hobimu sudah kelewat parah, Nozomi…" komentar Nico.
Kini keduanya tengah menguping di depan kamar Takumi dan Eri.
"Memangnya sebagai cowok kamu enggak penasaran, Nicocchi?" goda Nozomi.
"Sori, ya… aku enggak semesum kamu, tahu," jawab Nico. "Ayo, kita balik ke kamar masing-masing! Kita jadi terlihat seperti pasangan lansia yang mesum, tahu!"
"Oh, ayolah… seenggaknya sampai mereka tidur kita baru balik, deh... pliiis!" rajuk Nozomi.
"Ehem!" tiba-tiba ada suara pria tua berdehem di belakang mereka.
Mereka berdua menoleh. "Ah, Pak manajer… ada yang bisa kami bantu?"
Tanpa ba-bi-bu si Pak manajer menyeret dan melempar mereka ke kamar masing-masing dengan mudah layaknya membawa anak kucing. "Jangan mengganggu pengunjung lain, pasangan bau tanah!"
Urat-urat Nico rasanya nyaris mencuat keluar. "YANG BAU TANAH 'KAN ELU!"
Keesokan paginya…
"Eri, Eri…" Takumi berusaha membangunkan gadis itu. "Bangunlah, kita 'kan harus buru-buru balik ke rumah,"
Eri hanya menggeram kemudian menutupi wajahnya dengan bantal.
Takumi menghela nafas. "Kau ingin kugigit lagi?"
Eri langsung bangkit dengan panik. "Enggak! Makasih!"
"Hahahaha…" Takumi hanya tertawa melihat reaksi pacarnya itu. "Ayo, kita bersiap-siap untuk pulang,"
