Woah, lama juga ya update-nya? :'D

Maaf banget, ya, readers... :'( soalnya gue kemarin selain mentok idenya juga lagi deg-degan-nya nunggu hasil SBMPTN

Tapi alhamdulillah... gue keterima di salah satu PTN yang dulunya swasta di Jakarta jurusan Sistem Informasi ^^ yatta~

Well, cukup dengan masalah real life mbak author... ehem! Check it out~

Aneue

"Wah, lihat, ada ketua OSIS, Ayase-san!" kata para siswa begitu Eri berjalan melewati mereka di koridor. "Selamat pagi, kaichou!"

"Selamat pagi," balas Eri sambil tersenyum ramah. "Sebentar lagi liburan musim panas dimulai, tapi kalian jangan sampai bermalas-malasan, ya!"

Para siswa itu bengong begitu Eri membalas sapaan mereka dengan begitu ramahnya. Begitu Eri telah berjalan agak jauh mereka pun saling pandang.

"Bro, i, itu… beneran ketua OSIS, Ayase-san, 'kan?"

Yang lainnya mengangguk cepat dengan wajah yang masih terlihat pucat.

"Gue enggak tahu apa yang terjadi, tapi…, tapi… Ayase-san jadi seramah itu…" yang memanggil teman-temannya dengan sebutan 'bro' itu pun mulai mewek. "Gue 'kan jadi enggak bisa ngemaso lagi! Huwaaaaa…!"

Maksud 'ngemaso' di sini adalah entah si siswa itu dikacangin oleh Eri, dijudesin, atau diomelin ketika melanggar peraturan sekolah. Kalau urusan ngomelin orang, Eri memang sebelas-dua belas dengan Takumi. Meski takut, orang-orang masih saja nge-fans pada mereka seolah kejudesan itu menjadi daya tarik tersendiri.

"Udah atuh, bro… enggak Cuma situ yang sedih," teman-temannya berusaha nge-puk-puk si mas maso itu ala kadarnya. "Cep, cep, cep…"

Para siswi yang melihat kelakuan para fanboys-nya Eri menatap mereka dengan agak geli.

"Tapi memang benar kata mereka, sih… kalau ketua OSIS sekarang jadi lebih ramah, ya!"

"Dia jadi terlihat lebih cantik, ya!"

"Ugh… padahal dulu aku membencinya, tapi entah kenapa sekarang aku malah jadi menghormatinya!"

Takumi datang dari arah yang berlawanan kemudian ia berpapasan dengan Eri. Keduanya sama-sama menghentikan langkahnya untuk saling bertegur sapa.

"Selamat pagi, Sonoda-kun," sapa Eri ramah.

µ's memang sudah menerapkan aturan baru, yaitu menghilangkan status senpai atau kebiasaan memanggil dengan nama keluarga, tapi untuk beberapa alasan seorang Ayase Eri yang notabene adalah Ms. Popular dari tiga angkatan ditambah posisinya sebagai ketua OSIS mau tidak mau dia harus agak jaim ketika memanggil anak laki-laki, terutama si ace klub Kyuudo yang tak kalah populer dengannya. Kalau orang-orang tahu tentang hubungan asli mereka yang ada keduanya akan berurusan dengan kepsek karena berpacaran termasuk dilarang di SMA Otonokizaka.

"Eh?" Takumi cengo karena tumben-tumbenan sang pacar memanggilnya dengan agak jaim begitu.

"Selamat pagi, Dra-cu-la-kun~" ulang Eri sambil mengecilkan volume suaranya dan mulai memperlihatkan bekas gigitan Takumi tempo hari di lehernya sedikit demi sedikit.

Semburat merah langsung menghiasi wajah ace klub Kyuudo tersebut.

"O, oi…" Takumi berusaha menghentikan keisengan Eri.

"Hari yang cerah, ya, Dracula-kun?" Eri semakin menjadi-jadi.

Takumi langsung menarik Eri agar keduanya menjauh dari sana. "Ah, ketua OSIS! Aku baru ingat punya laporan yang harus segera kuserahkan! Ahahaha… ayo, ikut aku!"

"Sonoda-kun pagi ini juga tetap manis, ya!" komentar para fangirls-nya Takumi. "Seandainya yang dia tarik itu aku, kyaaa… aku padamu, Sonoda-kuuuuun!"

Sekarang giliran fanboys-nya Eri yang menatap para siswi itu dengan jijik.

"Hahaha… si Takumi itu ada aja acting-nya!" komentar Nico yang saat itu tengah mengobrol dengan Nozomi di depan kelas.

"Mau enggak mau, 'kan?" kata Nozomi sambil menaikkan bahu. "Daripada banyak yang bunuh diri di pohon toge gara-gara tahu hubungan asli mereka,"

"Ya… enggak sampe bunuh diri juga, keleus?" jawab Nico sambil menaikkan sebelah alisnya. "Apalagi bunuh dirinya di pohon toge…"


Takumi menarik Eri ke ruang OSIS untuk memperingatinya tentang kejadian tadi. Setelah masuk ke sana, Takumi mengunci pintu dan melakukan kabedon pada pacarnya itu.

"Ada apa, Dracula-kun?" Eri masih saja menggodanya. "Apa jangan-jangan kamu sudah bernafsu untuk menggigit leherku padahal masih sepagi ini?"

Takumi menghela nafas. "Ayolah, Eri… berhentilah memanggilku dengan nama itu! Kumohon!"

"Eh? Nama yang mana, ya?" Eri malah pura-pura bego.

"Kamu ini ingin pamer ke semua orang kalau sudah jadian denganku, apa?"

Eri menggembungkan pipinya dan cemberut. "Habis… aku masih kesal dengan kelakuanmu waktu itu, Takumi,"

"Aku 'kan sudah minta maaf!" Takumi membela diri.

"Minta maaf? Kamu pikir dengan tertawa dan ngeles kalau perbuatanmu itu untuk menghukumku itu kamu sebut 'minta maaf'?" balas Eri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Takumi melepaskan tangannya dan menggaruk tengkuknya. "Ya… terus, aku harus gimana lagi supaya kamu maafin aku? Memangnya, mau sampai kapan sih kamu marah padaku?"

Eri tersenyum jahil. "Apa, yaaaa? Oh! Apa lebih baik kamu kujadikan budakku saja, ya?"

Urat-urat Takumi rasanya ingin mencuat keluar. Walaupun posisinya adalah kouhai-nya Eri tetap saja dia juga punya harga diri. Takumi pun memegang dagu Eri dengan tangan kanannya seolah ingin menciumnya.

"Kamu ingin aku melakukan yang lebih parah dari yang kemarin?" ancam Takumi.

Eri menunduk karena kesal Takumi mampu membalas keisengannya. "Zurui yo, Takumi…"

"Ya, makanya kamu jangan begitu, dong…" kata Takumi sambil membelai rambut blonde gadis itu. "Aku 'kan sudah tanya dengan serius,"

"Ya sudah, bagaimana kalau hari ini kita pulang bareng aja?" usul Eri. "Aku ingin makan crepes yang ada di jalan ke arah rumahmu itu, deh! Boleh, 'kan?"

Takumi memeluk Eri. "Tentu, kalau itu bisa membuatku dimaafkan olehmu,"

Eri membalas pelukan itu. "Oh, ayolah… aku sudah memaafkanmu dari tadi, tahu?"

Keduanya pun tertawa.

"Ah, bel masuk sudah berbunyi!" kata Eri.

"Kalau begitu, sampai ketemu nanti saat latihan, Eri," kata Takumi sambil membuka pintu dan berlalu.

Eri memegangi kedua pipinya yang memerah.

Uwaaah… masih pagi, tapi dia sudah memelukku seperti itu! Padahal kami sudah jadian, lantas kenapa jantung ini masih berdegup begitu kencang setiap kali ia menyentuhku? gumam Eri.


Sepulang sekolah di atap…

"Selamat atas jadiannya penulis lirik dan koreografer kita, Takumi-kun dan Eri-chan!" sorak teman-temannya sambil melepaskan confetti begitu Takumi dan Eri sampai ke atap.

Takumi jadi agak salah tingkah, sedangkan Eri melirik ke arah lain untuk menutupi rasa malunya.

"Humph! Kalau kalian ingin berterimakasih, berterimakasih lah padaku yang memberi mereka tiket ke taman bermain itu!" kata Nico menyombongkan diri.

"Huh, mulai, deh…" kata Maki yang malas mendengar ocehan ketua klubnya yang narsis itu.

"Bukannya sama loper koranmu, Nicocchi?" balas Nozomi. "Kalau enggak ada doi mungkin kamu juga enggak bakal dapet tiket itu!"

"Ugh… bawel kamu, Nozomi!" kata Nico sambil tersenyum kecut.

"Oh iya, ini step-step kemarin sudah kuperbaiki, Nico," kata Eri kemudian sambil menyerahkan beberapa lembar kertas berisikan detail step-step itu.

"Hmm… thanks," kata Nico sambil melihat lembar demi lembar.

"Ba, bagaimana?" tanya Eri.

Nico tampak puas. "Bagus, bagus banget malahan! Good job, nyonya Sonoda!"

Wajah Eri langsung memanas mendengarnya. "Mou! Aku 'kan belum jadi istrinya!"

"Yakin enggak mau cepat-cepat jadi istrinya?" goda Nico sambil nyengir.

"Duh, udah, ah!" kata Eri sambil menutupi wajahnya karena malu.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai pemanasan saja?" kata Kotori.

"Iya, nya! Mau sampai kapan kita ngeributin masalah jadiannya Takumi-kun dan Eri-chan?" timpal Rin.

Mereka bersembilan pun segera memulai pemanasan. Selama pemanasan teman-temannya tetap tidak berhenti menggoda pasangan itu bahkan mereka sengaja memasangkan Takumi dan Eri untuk pemanasan bersama.

Berkat step-step yang sudah direvisi mood Nico menjadi lebih baik sehingga latihan hari itu dapat berjalan dengan lancar.


"Cieee, yang mulai pulang bareng!" goda Kazuya dan Nozomi.

"Duh, bawel banget sih kalian!" kata Eri yang malu terus-terusan digoda.

"Hahahaha… namanya juga baru jadian, 'kan?" kata Kotori.

"Daripada itu, Kotori, kamu sendiri gimana dengan si Kuzuya?" tanya Takumi pada Kotori.

"Masih di tengah-tengah, nih… hahaha," jawab Kotori.

"Dasar, mau sampai kapan kamu menggantung statusnya Kotori, sih, Kuzuya?" tanya Takumi yang kesal dengan Kazuya yang belum juga jadian dengan Kotori.

"Mou, jangan samakan aku denganmu, dong, Takumi-kun!" balas Kazuya. "Dan lagi jangan memanggilku dengan nama itu! Namaku itu Kazuya!"

"Oh, ya? Menurutku, cowok yang ngegantungin nasib ceweknya lebih pas dipanggil kuzu (sampah), deh?" jawab Takumi.

"Enggak gitu juga, kali!" kata Kazuya. "Kejam banget sih kamu?!"

"Kayaknya masih lebih kejam kamu, deh?" balas Takumi.

"Udah, udah, udah!" Hanayo dan Kotori berusaha menengahi mereka.

"Takumi itu gampang banget sih panasnya?" komentar Maki. "Apa jangan-jangan kamu masih ada rasa sama Kotori?"

Nico pun spontan menginjak kaki Maki.

"Aduh! Eh, ketua bego! Lo ngajak berantem, apa?!" seru Maki kesal sambil memegangi kaki yang diinjak Nico.

"Kalau mau ngomong pakai otak kenapa, mbak?" balas Nico tidak kalah sengit.

"Aku 'kan hanya tanya!" Maki membela diri.

"Duh, ini anak dua kenapa malah ikut berantem?" Nozomi berusaha menengahi Maki dan Nico.

"Oh ya, Eri-chan! Bukannya kalian ingin makan crepes yang ke arah rumahnya Takumi-kun, ya?" kata Rin tiba-tiba. "Bukankah sebaiknya kalian cepat-cepat? Stand crepes itu tutup pukul setengah enam sore, lho!"

"EH? Serius, Rin?!" tanya Eri.

"Serius! Udah, cepetan kalian pergi, deh!" jawab Rin sambil mendorong keduanya.

"Terima kasih, Rin!" kata Takumi. "Kami duluan, ya!"

Punggung pasangan itu pun hilang dari pandangan.

"Itu beneran, Rin-kun?" tanya Hanayo.

"Enggak, lah!" jawab Rin sambil nyengir. "Stand itu masih buka sampai malam, tahu!"

"Lah? Terus, kamu ngapain?" tanya Maki bingung.

"Kalian berantem kayak anak kecil, gitu, sih! Bikin sakit kepala saja, nya!" ujar Rin.

"LU MENDING NGACA, DEH!" balas Maki dan Nico kesal.

"Good job, Rin-kun!" puji Nozomi sambil mengacungkan jempolnya.


"Kamu mau yang mana, Takumi?" tanya Eri begitu keduanya sampai di stand yang dimaksud.

"Aku lagi enggak mau makan yang manis-manis," jawab Takumi.

"Ih! Bukannya kamu janji mau nemenin aku?" kata Eri kesal. "Yang kompak, dong!"

"Nanti aku minta punyamu saja, lah," kata Takumi. "Aku lagi ngurangin makan makanan manis soalnya,"

"Apaan, sih? Lagakmu sok diet, gitu!" dengus Eri. "Enggak asyik, deh!"

"Emang aku enggak asyik orangnya, baru tahu?" balas Takumi cuek.

Si penjaga stand pun memberikan mereka crepes yang lumayan besar sehingga cukup untuk dimakan berdua.

"Ah… serasa hidup kembali!" kata Eri setelah mengigit crepes-nya.

"Hahaha… lebay banget, deh," komentar Takumi.

"Iya, lah! Aku 'kan suka banget makanan manis!" Eri membela diri sambil terus melahap crepes-nya.

"Duh, kamu ini kayak anak kecil saja makannya belepotan begitu," kata Takumi sambil mengelap sekitar bibir Eri yang belepotan krim dan coklat.

"Takumi juga coba, dong!" kata Eri sambil menyodorkan crepes-nya ke mulut Takumi.

"Udah, buat kamu aja!" kata Takumi malu-malu.

"Ya udah, paling kamu mau ketawain aku habis-habisan kalau jadi gendut, 'kan?" dengus Eri sebal.

"Haaah… iya, deh," kata Takumi menyerah. "Itadakimasu,"

"Hehehe… enak, 'kan?"

"Ampun, deh, manis banget! Kamu minta topping-nya apa saja, sih?!" protes Takumi.

"Kesukaanku semua sih tentunya, hehe…" Eri hanya nyengir.

Tiba-tiba ada wanita berusia sekitar 20-an berdiri di depan mereka. Mata wanita itu mirip Takumi, tapi rambutnya berwarna lebih kehitaman.

"Tadaima, Takumiiiin!" seru wanita itu heboh sambil berusaha memeluk Takumi.

Takumi dengan refleks menghindarinya dan sukses membuat wanita itu jatuh 'nyusruk' ke trotoar.

"Mou! Takumin sekarang udah gede jadi malu, ya, dipeluk kakak?" goda wanita itu.

"Tunggu, kakak? Jangan-jangan dia…" kata Eri.

Takumi menarik lengan Eri. "Udah, pura-pura enggak lihat saja!"

Wanita itu lebaynya makin jadi. "Sungguh teganya dirimu, teganya, oh… teganya!"

Ampun, deh! Ini kakak sableng ngapain sampai dangdutan di sini, sih?! kata Takumi dalam hati sambil menahan emosinya.

"Nee, Takumi? Yakin enggak mau disapa dulu?" tanya Eri. "Kamu enggak malu kakakmu jadi dilihatin orang-orang, begitu?"

Takumi menghela nafas kemudian berjalan ke arah sang kakak. "Sedang apa sih kau di sini?"

"Ah, Takumin mah, gitu! Enggak usah malu-malu! Kamu sebenarnya kangen sama diriku, 'kan?" kakaknya makin narsis aja.

"Idih, ngapain?" balas Takumi sambil menaikkan alisnya.

"Wih, lagi sama siapa tuh kamu? Pacarmu?" tanya kakaknya.

"Iya, masalah?" balas Takumi. "Udah, deh… aku mau mengantarnya pulang, tahu,"

Kakaknya Takumi tersenyum jahil kemudian menjentikkan jarinya. "Bawa mereka ke mobil!"

Para pria besar berkacamata hitam pun segera mendorong Eri dan Takumi masuk ke mobil sang kakak sableng.

"Tunggu, aneue! Aku 'kan ingin mengantarnya pu—"

"Udah, udah! Jangan banyak cingcong!" sela kakaknya Takumi. "Kapan lagi aku merayakan pubernya adik kesayanganku, coba? Hahahaha…!"

"Oiiiii!"


Akhirnya, mereka pun tiba di kediaman Sonoda.

"Wah, ternyata benar dugaan ibu kalau kamu sudah punya pacar, Taku—" kata Bu Sonoda.

"Maafkan, hamba!" Takumi melakukan dogeza di hadapan orangtuanya sampai kepalanya membentur lantai kayu di sana dengan lumayan keras.

"Ano, Takumi?" Eri berusaha membujuk agar Takumi mengangkat kepalanya.

"Maaf karena hamba lalai sebagai samurai!" lanjut Takumi. "Ambilkan pisau, biar kulakukan seppuku!"

EEEEEH?! Ini anak jadi konslet, apa?! gumam Eri.

"Takumi!" ayahnya Takumi mulai angkat bicara.

"Ba, baik, ayahanda!" Takumi segera mengangkat kepalanya dan kembali duduk.

'Ayahanda'? Ini anak dibesarkannya seperti apa, sih? pikir Eri.

"Memotong ucapan orangtua itu kamu pikir sopan, apa?" tanya ayahnya. "Kami tidak ingat pernah membesarkanmu seperti ini!"

"Huwaaa… maafkan aku! Maafkan aku, ayah!" Takumi kembali melakukan dogeza. "Aku lalai karena sempat-sempatnya jatuh cinta dan berpacaran! Maafkan aku!"

"Takumi!" seru ayahnya.

Mau sampai kapan adegan ini diulang-ulang, coba? Eri mulai bosan.

Tiba-tiba Sonoda Izumi, kakaknya Takumi yang tadi duduk di belakang Eri. Kemudian dia pun mulai meremas payudara Eri.

"Kyaaaa!" jerit Eri kaget.

"Hebat pilihanmu, Takumin!" kata Izumi sambil mengacungkan jempol.

"Aneue! Lepaskan Eri!" seru Takumi malu karena pacarnya diperlakukan begitu di depannya dan orangtuanya.

"Enggak mau sebelum kamu panggil aku Izumi-nee-chan!" rajuk Izumi.

Ayahnya Takumi berdiri dan menjitak kepala Izumi. "Maaf, nak Ayase, putriku ini memang dari lahir sudah begini,"

"What?! Itu maksudnya apa, ya, yah?" kata Izumi enggak terima.

"Jaga sikapmu, Izumi!" tegur Bu Sonoda sambil mencubit pipinya Izumi.

Izumi akhirnya duduk dengan anteng di sebelah orangtuanya.

"Takumi, apakah kamu serius menjalani hubungan dengannya?" tanya Pak Sonoda.

"Ya, aku serius, ayah," jawab Takumi mantap.

Eri rasanya ingin menangis terharu mendengar jawaban Takumi.

"Kalau begitu, kami ingin bicara sebentar dengan Takumi, Ayase-chan," ujar Bu Sonoda. "Kamu tunggu dulu di depan kamarnya Takumi, ya,"


"Rumahnya luas sekali, ya?" komentar Eri sambil berjalan mengelilingi rumah tersebut untuk mencari kamarnya Takumi.

Kediaman Sonoda adalah rumah khas tradisional Jepang dengan lantai kayu sebagai alasnya dan pekarangan yang dipenuhi pohon sakura juga bonsai.

Setelah berhasil menemukan pintu kamarnya Takumi, Eri pun duduk di depannya sambil memandang langit yang mulai gelap. Eri membuka smartphone-nya untuk memberitahu Arisa kalau dia akan pulang telat.

"Aku sudah beritahu Arisa," kata Takumi sambil berjalan mendekati Eri.

Eri menoleh dan wajahnya memerah karena terpesona melihat Takumi yang telah mengganti seragamnya dengan kimono berwarna biru tua yang biasa dikenakannya untuk latihan di dojo.

"Ma, makasih…" kata Eri.

Takumi pun duduk di sebelah Eri kemudian dia membenamkan wajahnya di kedua lutut yang ditekuknya.

"Maafkan kakakku yang sableng itu, ya, Eri…" kata Takumi lemas saking capeknya menghadapi kelakuan kakaknya.

"Hihihi… enggak apa-apa, kok," jawab Eri sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Takumi.

"Kamu ingin pulang sekarang? Aku akan mengantar—"

Eri menggeleng. "Kumohon, biarkan aku bersamamu sebentar lagi,"

"Apa boleh buat," kata Takumi sambil terkekeh pelan menanggapi kelakuan pacarnya yang manja itu.

"Rumahmu enak, ya, Takumi?" celetuk Eri. "Luas dan banyak pepohonan,"

"Ah, biasa saja, kok," kata Takumi merendah.

"Kamarmu juga enak karena menghadap langsung ke perkarangan dan saat malam kamu bisa melihat langit dengan leluasa," tambah Eri.

"Naa, Eri?" panggil Takumi tiba-tiba.

"Hmm?"

"Pejamkan matamu, dong," pinta Takumi sambil memegang pipi kiri Eri.

"Tu, tunggu, Takumi… nanti kalau orangtuamu lihat—"

"Sudahlah, biarkan saja," kata Takumi cepat.

Eri pun menurut dan memejamkan kedua matanya. Kedua bibir itu semakin berdekatan. Ketika mereka nyaris berciuman, pintu kamar Takumi terbuka.

"Duh, enaknya yang masih muda!" goda Izumi sambil membuka pintu.

"A, aneue?! Apa yang kau lakukan di kamarku?!" seru Takumi kaget sambil melepaskan Eri.

"Udah, udah, lanjutin aja!" kata Izumi cuek sambil melahap keripik kentangnya.

"Kau pikir ini hiburan, apa?!" protes Takumi.

"Huh, enggak usah sok jaim, deh…" goda Izumi. "Eri-chan, kamu dan si cengeng ini sudah sampai mana memangnya?"

"Oiiii!" Takumi berusaha menghentikan kakaknya.

Eri tidak menjawab dan hanya bisa menunduk dengan wajah merah padam.

"Ah! Ada apa tuh di lehernya?" celetuk Izumi setelah memerhatikan Eri. "Wah, wah, kamu agresif juga, ya, Takumin? Hahahahaha…"

"Oh, ayolah! Kasihan 'kan Eri!" Takumi berusaha menutupi Eri dengan punggungnya.

"Kamu sensi banget, sih, Takumin? PMS aja enggak!" kata Izumi sambil mengerucutkan bibirnya.

"Ayo, Eri! Akan kuantar kamu pulang!" kata Takumi sambil menarik lengan Eri. "Kasihan orangtuamu, takutnya mereka khawatir!"

"Jangan curi kesempatan dalam kesempitan, lho, Takumin!" kata Izumi sambil melambaikan tangannya.

"Be, berisik!" seru Takumi kesal.


"Nee, Takumi?" panggil Eri setelah keduanya berjalan dalam diam untuk beberapa saat.

"Ya?"

"Kamu sayang banget sama kakakmu, ya?"

"HAH? Dari mananya, coba?"

Eri berusaha menahan tawa. "Aku selalu dengar tiap kali kamu mengigau menyebut namanya, tahu? Saat kamu menciumku untuk pertama kalinya di apartemenku juga di the tunnel of love,"

"A, apa yang kukatakan saat itu?"

"Hehehe, kasih tahu, enggak, ya?" goda Eri.

"Ugh… baiklah, enggak usah, deh!"

Tidak terasa mereka telah sampai di depan apartemen Eri.

"Kamu enggak mau masuk ke dalam dulu?" tanya Eri.

"Enggak usah, takutnya ayahmu berpikir macam-macam kalau tahu kamu pulang jam segini dengan laki-laki," ujar Takumi. "Ayahmu itu sayang banget sama kamu soalnya,"

"Iya, sih… waktu kencan denganmu saja aku juga bilangnya bermain ke rumahnya Nozomi agar dia enggak cemas," kata Eri.

"Kalau begitu, aku pulang, ya…" kata Takumi.

"Iya, makasih banyak, ya!" kata Eri sambil melambaikan tangannya.

Tiba-tiba Takumi menghentikan langkahnya dan berjalan kembali mendekati Eri.

"Maaf, ada yang ketinggalan," kata Takumi.

"Eh?"

Takumi mencium kening Eri. "Selamat tidur, Erichika,"

Setelah itu Takumi segera berlalu meninggalkan Eri yang memegangi keningnya dengan semburat merah memenuhi wajahnya.