.

.

.

.

.

.


Exo fanfiction by Lyla Angelica


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seorang Kim Jongdae merasa kesepian. Dia merasa member lain mulai membuat jarak satu dengan yang lainnya. Hingga sebungkus cokelat membuat semuanya berubah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seseorang pasti sering memimpikan sesuatu yang sangat diinginkannya. Kim Jongdae juga begitu, ia memimpikan dapat makan kue sebanyak yang dia inginkan di rumah berwarna pink, ditemani oleh maid cantik berwajah Minseok, koki manis berwajah Yixing, bodyguard berwajah Tao, dan yang paling sempurna adalah Luhan yang memotong kue untuknya. Oh, sungguh mimpi yang indah.

Hingga tiba-tiba saja rumahnya bergoyang dan terasa melayang. Semua kue lezat berhamburan di lantai, dan sebuah mata besar mengintip dari jendela yang terbuka. Jongdae melihat alis tebal yang tampak hampir menyatu, kemudian rumahnya terasa seperti di ayun-ayunkan. Dari jendelanya, Jongdae melihat tanah yang semakin mendekat ke jendela.

"KIM JONGDAE! BANGUN! KITA ADA JADWAL JAM SEMBILAN!"

Jongdae langsung terduduk, matanya menatap nyalang kesana kemari. Dia masih hidup kan?

"Kau itu, cepatlah mandi. Kami menunggu di ruang makan." Yifan tidak ambil pusing dengan sikap aneh membernya, berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban.

Jongdae melongo beberapa saat, kemudian sadar bahwa yang didudukinya bukan kasur empuknya yang hangat. Melainkan lantai keras yang dingin. Yifan telah mendorongnya dari kasur. Dan menghancurkan mimpi indahnya.

Ingatkan Jongdae untuk menyandera Ace nanti.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kim Jongdae. Nama panggungnya adalah Chen, 24 tahun, seorang main vokal dengan high note yang khas. Diatas panggung dia terlihat jahil, aneh, pecicilan, petakilan, apalagi saat bersama dua sobat beagle line, Chan & Baek. Tetapi di luar panggung dia dikenal ramah, perhatian terhadap member lain sebelum dirinya sendiri, berusaha membuat yang lain tersenyum dengan candaannya.

Tetapi yang namanya manusia pasti ingin di perhatikan, bermanja-manja, disayang oleh orang lain. Kim Jongdae juga tidak berbeda, dia hanya ingin member lain memperhatikannya, tidak lebih.

"Huaaaa...Akhirnya..." Pemuda bermata panda itu menjatuhkan diri di sofa panjang. Matanya terpejam, tubuh besarnya menginvasi sofa yang sebenarnya muat untuk tiga orang.

"Tao..." Yang dipanggil membuka matanya. Mendapati sosok gege nya berdiri dihadapannya dengan sebuah buku yang bersampul tulisan cina. Sedikit awkward karena Jongdae berdiri diantara kedua kakinya yang terbuka lebar. Membuat Jongdae merasa kecil.

"Hm? Ada apa gege?"

"Maukah kau mengajariku bahasa mandarin?"

"Maaf gege, aku lelah hari ini. Besok saja." Tao memasang wajah menyesal, berharap Jongdae tidak akan terlalu kecewa.

Jongdae tersenyum manis, "Tidak apa, kau istirahat saja, jangan lupa mandi dulu. Mumpung belum terlalu malam." Jongdae sedikit menggoda Tao dan memberikan kedipan jahil, yang di balas lemparan bantal sofa dari Tao.

Jongdae berjalan ke arah kamar Xiumin, dilihatnya hyung tertua itu sedang berkutat di depan laptop. "Hyung."

"Ada apa?" Jawab Xiumin tanpa menoleh.

"Mau menemaniku belajar bahasa mandarin?"

"Maaf ya, lain kali saja. Aku sedang sibuk." Lagi-lagi balasan tanpa menoleh. Jongdae menggembungkan pipinya. Sibuk apanya? Jongdae melihat dengan jelas bahwa layar laptop itu warna-warni. Sibuk dengan candy crush.

Jongdae beralih ke dapur. Lay sedang berdiri di depan kompor yang menyala. Jongdae mendekati Lay, melihat yang dilakukannya.

"Gege, sedang memasak apa?" Jongdae mengintip dari balik pundak Lay, Lay sedang memasak ramen, tapi kenapa tidak ada airnya sama sekali?

"Gege?" Jongdae memanggil Lay sekali lagi. Lay memang menatap panci kecil di hadapannya, tetapi pikirannya melayang entah kemana.

"Lay ge..." Jongdae menepuk pundak tegap Lay pelan. "Ramennya gosong..."

"Hah?" Lay akhirnya kembali ke dunia nyata. "Oh! Ramenku! Ya ampun, gosong!"

Jongdae hanya bisa facepalm melihat gege nya yang satu ini. Lay mulai gelagapan mengurus ramennya yang sudah kering.

"Tadi kau bilang apa? Maaf, akhir-akhir ini aku kurang fokus." Tanya Lay saat ramennya sudah berpindah ke dalam mangkuk. Dengan tambahan air panas, tentunya dengan rasa yang berbeda.

"Tidak ada ge, gege makan saja. Aku mau ke kamar dulu." Ucap Jongdae, dia berdiri dan meninggalkan Lay dengan ramen rasa terbarunya. Lay bahkan mengerenyit merasakan ramen buatannya sendiri.

Jongdae melihat Luhan sedang berdiri di dekat sofa, kening berkerut, wajah masam dengan sebuah rubik di tangannya. Luhan terlihat lucu saat dia sedang serius. Jongdae melangkah maju mendekati Luhan.

"Gege-"

"Kau tidak lihat aku sedang sibuk? Sana ganggu member lain! Jangan menggangguku!"

Dan juga menakutkan. Jongdae berjalan mundur menjauhi Luhan yang sedang dalam mode -ganggu-aku-maka-aku-akan-membunuhmu- saat si rusa itu sedang bad mood.

"Huft..." Jongdae menghela napas pendek, dia membawa buku tebal bahasa mandarin kembali ke kamarnya. Tidak ada harapan akan ada yang mengajarinya, Kris sudah melayang ke dunia mimpi, dengan kaus dan bokser, selimut yang terdampar di lantai, dan dengkuran nyaring. Jongdae mengambil selimut Kris dan menyelimuti tubuh Kris, meskipun kakinya tidak tertutupi karena selimut yang terlalu kecil, atau Kris yang terlalu besar?

Jongdae meletakkan bukunya di meja kecil. Jongdae menjatuhkan tubuhnya dan berguling menghadap tembok sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.

"Mereka tidak sayang lagi padaku ya?"

Tanpa sadar setetes airmata mengalir dari sudut matanya. Dengan kasar Jongdae menghapus airmatanya. Jongdae memang tidak mudah menangis, tetapi ada kalanya saat ia stress airmata mengalir setetes dua tetes. Terkadang Jongdae terlalu pandai berakting hingga tidak ada seorangpun yang tahu dia telah menangis.

Jongdae menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya dan mulai memejamkan mata.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suara petir yang menggelegar mengagetkan Jongdae dari tidurnya. Hujan deras memasuki musim semi memang sudah tidak asing lagi. Tapi petir yang tadi bisa saja memecahkan kaca jendela saking kerasnya. Udara semakin dingin. Jongdae meringkuk di balik selimutnya, mencoba untuk tidur lagi. Tapi matanya sudah tidak mengantuk.

Jongdae tiba-tiba saja merasa haus. Dia memilih untuk bangun dan pergi ke dapur untuk membuat segelas cokelat panas. Jongdae mengambil cangkir imut hadiah fans dan sebungkus cokelat instan. Jongdae menuang air panas dengan malas, mengaduknya dengan asal-asalan lalu meminumnya masih dengan uap yang mengepul. Setelah beberapa kali, Jongdae terdiam sambil memegang bibirnya.

"Lidahku perih..." Gumamnya. Jongdae menghabiskan cokelatnya dalam beberapa teguk. Mengabaikan rasa yang membakar di lidahnya. Jongdae mencuci gelas yang sudah kosong dan meletakkannya di lemari peralatan makan.

"Ya Tuhan!" Jongdae hampir melompat saat berbalik dan menemukan Tao yang berdiri dengan boneka panda di tangan.

"Kau mengagetkanku Tao. Kenapa tidak tidur?" Tanya Jongdae saat sudah bisa mengontrol detak jantungnya sehabis dikejutkan.

"Petir..."

"Hm?" Jongdae tidak mendengar dengan jelas karena suara Tao lebih mirip berbisik daripada bicara.

"Takut..." Ucap Tao sedikit lebih keras, namun masih terdengar seperti berbisik.

"Kau tidak bisa tidur?" Tanya Jongdae. Tao hanya mengangguk.

"Hh... Ya sudah, ayo gege temani." Ujar Jongdae dengan lembut. Wajah Tao cerah seketika. Tao menarik tangan Jongdae ke arah kamarnya yang untuk sementara dia tempati sendiri, karena manager sedang tidak menginap.

"Gege tidur bersamaku ya." Tao membaringkan tubuhnya di kasur, mepet ke tembok memberi ruang untuk Jongdae. Tao menepuk-nepuk kasur agar Jongdae berbaring di sampingnya. Jongdae tersenyum tipis dan ikut membaringkan tubuhnya.

Tao menggeser tubuhnya mendekat ke arah Jongdae, melingkarkan tangannya di atas perut Jongdae dan menutup matanya. Jongdae merasa sedikit kurang nyaman namun rasa hangat membuatnya mengantuk.

"Selamat tidur gege..." Gumam Tao setengah sadar dalam bahasa cina.

"Selamat tidur... Mimpi indah..." Balas Jongdae. Perlahan kesadarannya mulai menjauh dan memasuki dunia mimpi. Menikmati kehangatan dari salah satu temannya meski hanya semalam.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC or NOT?