Coz baby you're a fireworks...! /ditimpukreaders
Seriusan, sumimasen desu ta...! :'(
Mbak author lama enggak update karena lagi banyak urusan dan sedang di luar kota seminggu yang lalu, hontou gomeeeeen!
Tapi tenang, chapter kali ini lumayan panjang bahkan bisa dibilang paling panjang dibandingkan dengan chapter-chapter sebelumnya karena banyak kejutan dan hint RinPana, NicoNozo, dan NicoMaki... so, let's check it out!
Fireworks
"Nee, Yazawa-kun?" panggil salah satu anak OSIS kelas tiga saat Nico dan Nozomi tengah makan siang di kelas seperti biasa.
"Hmm?" respon Nico sambil mengulum garpunya.
"Ketua OSIS ke mana, ya?" tanyanya.
"Biasa… sibuk ngurusin kerjaan OSIS," jawab Nico cuek.
"Tapi, kok, tumben pas jam makan siang begini?" tanya anak OSIS itu heran.
"Sebentar lagi kita liburan musim panas, 'kan?" Nozomi gantian menjawab. "Nah, Ericchi tuh lagi ngebut kerjain kerjaan OSIS, Wada-san,"
"Terus, Toujo-san sendiri kenapa santai-santai di sini?" masih saja anak itu penasaran.
"Kamu enggak tahu? Aku 'kan habis jadian sama Nico—" gelak Nozomi.
"Enggak usah dengerin dia, Wada-san," potong Nico sambil menginjak kaki Nozomi. "Kayak kamu enggak tahu aja kalau Nozomi lagi hobi ngejayus akhir-akhir ini,"
"Oh, kalau begitu terima kasih, ya," kata Wada cuek sambil berlalu meninggalkan mereka.
Nico mengarahkan garpunya ke arah Nozomi begitu Wada sudah jauh. "Nozomi, plis deh… jangan bikin orang-orang salah paham, dong!"
"Enggak, betul kata Nicocchi, kok… aku emang 'ngejayus' tadi," jawab Nozomi sambil mengerucutkan bibirnya dan menekankan intonasi pada kata 'ngejayus'. "Maaf, deh!"
"Yah, baguslah kalau kau sadar akan perbuatanmu," kata Nico sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala. "Asal kamu enggak keceplosan soal 'doi' aja, sih…"
"Aku 'kan peka, enggak kayak kamu!" balas Nozomi.
"Ya, ya, ya…" jawab Nico enggak peduli.
Sebetulnya alibi 'ngebut ngerjain kerjaan OSIS' itu bukan bohong, tapi… alih-alih Nozomi yang jadi asisten ketua OSIS, sang pacar lah yang mengisi posisi itu. Yap, Nico dan Nozomi melindungi Eri yang sejak saat itu mulai makan siang bersama Takumi di ruang OSIS. Selain makan siang dan mengerjakan kerjaan OSIS tentunya kalian tahu apalagi yang mereka lakukan di ruang tertutup itu.
"Ta, Taku… ummph…! Hentikan!" Eri mendorong Takumi menjauh agar ia menghentikan ciumannya.
"Heh? Bukannya kau sendiri yang mengundangku ke sini?" tanya Takumi sambil melepaskan ciumannya.
"Tapi 'kan bukan untuk bermesraan di sini!" seru Eri kesal.
"Iya, iya… maaf!" Takumi menurut sambil duduk di sebelah Eri.
"Haaaah… aku enggak tahu kalau sifat aslimu begini, Takumi," kata Eri sambil menghela nafas. "Padahal dulu kamu tuh cowok yang pemalunya setengah mati!"
"Untuk apa aku malu-malu di depan gadis yang kusukai?" balas Takumi sambil menopang dagu dengan tangan kanannya.
Wajah Eri merona merah. "Mou! Pokoknya, aku enggak mau kalau kamu menciumku di sekolah, ngerti enggak, sih?!"
"Kalau aku enggak mau, gimana?" rajuk Takumi. "Kupikir, kita akan berciuman setiap sebelum makan siang sebagai appetizer?"
"Kamu mau membuat bibirku bengkak, apa?!" protes Eri. "Ini saja kita sampai mengunci pintu ruang OSIS agar tidak tersebar gosip yang aneh-aneh!"
"Huh, Erichika pelit!" dengus Takumi.
"Enggak usah sok imut, deh…" kata Eri sambil menahan emosinya. "Kamu enggak kasihan sama aku kalau sampai dikeluarkan dari OSIS?"
"Bagus, dong? Kita bisa bermesraan dengan bebas kalau begitu!"
"Takumi!"
"Iya, iya…" jawab Takumi. "Aku hanya bercanda, kok!"
Eri memegangi bahu kirinya, mungkin dia pegal karena sedari tadi sibuk mengurusi berbagai macam dokumen. Takumi pun berdiri di belakangnya dan memijat kedua bahu gadis itu.
"Bagaimana? Apakah terlalu kencang?" tanya Takumi.
"Enggak, pas, kok," jawab Eri. "Makasih, Takumi,"
"Kalau kamu butuh bantuan tinggal bilang saja, apa susahnya, sih?" kata Takumi. "Sebagai pacarmu, aku 'kan punya hak istimewa untuk meringankan bebanmu,"
"Iya, iya…" jawab Eri cuek karena dia begitu menikmati pijatan dari Takumi.
Takumi menghentikan pijatannya dan melingkarkan kedua lengannya di leher Eri. "Gomen, aku… terlalu agresif, ya?"
Eri menghela nafas. "Enggak apa-apa, kok… itu 'kan Sonoda Takumi yang kukenal,"
Kemudian Eri menyandarkan kepalanya di dada Takumi dan memegang salah satu lengan Takumi. "Hangatnya…"
Takumi hanya tersenyum sambil terus merangkul kekasihnya itu.
"Aku menyukaimu, Takumi," kata Eri.
"Aku juga," balas Takumi.
"Nee, Takumi?"
"Hmm?"
"Tolong duduk sebentar, deh, di sebelahku," pinta Eri.
Takumi menurut dan duduk di salah satu kursi di sebelah Eri.
"Aku pinjam dulu bahumu, ya," kata Eri sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kanan Takumi. "Aku mau tidur dulu sebentar,"
"Tentu, nanti akan kubangunkan begitu bel masuk berbunyi," jawab Takumi sambil mengelus-elus kepala Eri dengan lembut.
"Yatta! Akhirnya, tiba juga liburan musim panas!" seru Kazuya dan Rin dengan heboh begitu mereka bersembilan berjalan keluar dari gerbang sekolah.
"Hih! Bocah amat, sih!" komentar Nico.
"Iya, lah! Kita 'kan masih muda!" balas Kazuya.
"Memangnya Nico-kun yang sudah punya kerutan di dahi? Hahahahaha!" timpal Rin.
"Kalian ini…!" Nico rasanya ingin menghajar mereka saat itu juga.
"Walau libur musim panas kita enggak bisa nyantai gitu aja, 'kan?" kata Hanayo. "Ada latihan untuk persiapan live berikutnya dan PR yang menumpuk!"
"Ugh… jangan diingetin, dong, Kayo…" kata Rin lemas. "Kalau latihan sih enggak apa-apa deh diingetin, asal jangan PR, nya…"
"Memangnya, kamu bakal ngerjain kalau enggak dari awal diingetin?" sindir Maki.
"Nge, ngerjain, lah!" jawab Rin membela diri.
"Iya, ngerjain… tapi nyontek punya Hanayo, 'kan?" balas Maki sambil tersenyum meledek.
"Ahahahaha…" Hanayo hanya tertawa.
"Ka, Kayo… Maki-chan jahat, nya!" kata Rin manja.
"Tapi emang kenyataan, 'kan?" jawab Maki.
"Sudah, sudah, nanti kamu kuajari, Rin-kun," kata Hanayo. "Dengan begitu kamu akan mengerjakan PR dengan usahamu sendiri, 'kan?"
"Terima kasih, Kayo!" kata Rin lega sambil memeluk Hanayo.
"Ri, Rin-kun…!" wajah Hanayo merona merah.
"Hihihi, kalian akrab banget, ya?" komentar Kotori.
"Sudah, sudah! Cukup dengan kegalauan musim panasnya!" Nozomi seperti biasa berusaha mencairkan suasana. "Aku punya pengumuman penting untuk kita semua!"
Mereka semua pun menoleh ke arah Nozomi sambil menaikkan sebelah alis mereka karena penasaran.
"Ehem! Sebagai pembukaan liburan musim panas… ayo, kita ke festival musim panas!" seru Nozomi penuh semangat sambil mengepalkan tangan kanannya ke udara.
"Ou!" seru Kazuya tidak kalah bersemangat. "Kau dengar, Rin-kun? Festival musim panas, lho! Festival musim panas!"
"Pasti bakal banyak makanan enak, nya!" kata Rin. "Takoyaki, yakisoba, ringo ame, permen kapas, uwaaaah… membayangkannya saja sudah bikin ngiler, nya!"
"Ya, 'kan? Ya, 'kan?" kata Kazuya. "Ditambah lagi banyak permainan seru di sana!"
"Kalian ini pikirannya makanan dan main terus!" komentar Maki dan Nico hampir bersamaan.
"Kalian juga enggak kalah kompak, tuh?" goda Kotori.
Maki dan Nico saling pandang dengan wajah memerah kemudian mereka langsung membuang muka. "Huh!"
"Yosh, sudah diputuskan! Sebagai pembukaan liburan musim panas, µ's akan pergi ke festivaaaal!" seru Kazuya sambil mengepalkan tangan kanannya ke udara seperti Nozomi.
"Ou!" kedelapan anggota lainnya setuju.
"Wah, ini akan jadi pertama kalinya aku ke festival musim panas," kata Eri. "Kira-kira aku akan mengenakan apa, ya, ke sana?"
"Bagaimana kalau yukata saja?" usul Kazuya.
"Uwaaah… pasti Eri-chan akan jadi pusat perhatian di sana!" kata Kotori dengan mata berbinar-binar. "Rasanya seperti ada Barbie yang mengenakan yukata! Membayangkannya saja sudah membuatku meleleh, nih…!"
"Ka, kalian terlalu berlebihan, ah!" kata Eri yang agak malu mendengar perkataan Kazuya dan Kotori.
"Eh? Memangnya Eri-chan enggak mau coba pakai yukata, nya?" tanya Rin kecewa.
"Pakai saja, Eri-chan! Pasti cocok, kok!" bujuk Hanayo.
"Dan aku yakin, Takumi juga akan menyukainya," tambah Maki sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan melirik Takumi.
Wajah Takumi memerah sehingga ia memalingkan mukanya.
"Hahahaha… enggak usah malu-malu, deh, Tacchan!" goda Nozomi sambil menyikut-nyikut Takumi.
"Pasti kamu ingin melihat Barbie-mu ini mengenakan yukata, 'kan?" tambah Nico sambil tersenyum jahil.
Takumi menghela nafas. "Kalian kenapa, sih? Terserah Eri mau pakai apa, 'kan? Toh, pakai apapun juga dia akan tetap terlihat cantik,"
Tentu saja setelah mendengar perkataan itu semburat merah memenuhi wajah kekasihnya itu.
"Kalau kamu ragu, aku juga akan pakai yukata, Eri," kata Takumi sambil menepuk bahu Eri dan tersenyum padanya.
"Takumi…" Eri memandang pacarnya itu penuh haru sekaligus lega.
"Ecieee, cieeee…!" Nozomi, Kazuya, dan Rin menggoda mereka berdua.
"Tahu, deh, yang baru jadian!" tambah Maki.
"Ternyata Takumi-kun so sweet juga, ya?" komentar Kotori sambil terkekeh.
Takumi dan Eri pun tersipu malu.
"Kalau begitu, apa kita semua pakai yukata saja, ya?" kata Kazuya.
"Setuju, nya!" seru Rin heboh.
"Ugh… repot banget! Aku enggak mau, ah!" keluh Maki.
"Kalau kamu enggak bisa masangnya, kita akan bantu, kok," kata Hanayo sambil tersenyum. "Ya, 'kan, Kotori-chan?"
"Tentu!" jawab Kotori.
"Ta, tapi 'kan…" Maki merasa tidak enak.
"Sudahlah, pakai saja," saran Nico. "Jangan sok jadi beda sendiri, dong! Kamu juga pasti cantik, kok, pakai yukata!"
Wajah Maki bersemu merah. "E, eh…?"
"Duh, ada yang ketularan ngegombal, nih!" goda Nozomi.
"Ma, ma, maksudku cocok! Bukan cantik!" seru Nico.
"Ah, enaknya Maki yang akhirnya dipuji cantik sama ketua kita yang rese ini!" goda Nozomi.
"No, Nozomi!" Nico tentu saja malu terus-terusan digoda olehnya.
"Humph! Kenapa juga aku harus nge-fly hanya karena dibilang cantik oleh Nico-kun?" kata Maki muna' (baca : tsundere) untuk menutupi perasaan senangnya.
"Sudah, sudah!" Kazuya berusaha menengahi. "Kalau begitu, nanti kita janjian di depan tangga Kanda Myojin jam enam sore, ya!"
Semuanya pun setuju.
Setelah mandi dan berganti baju di rumah masing-masing, para member perempuan menuju rumah Kotori untuk memasang yukata.
"Silakan masuk, semuanya!" sambut Kotori sambil membukakan pintu.
"Ojamashimasu!" kata Nozomi, Eri, Maki, dan Hanayo.
"Wah, mau ke festival musim panas, ya?" tanya ibunya Kotori.
"I, ibu kepala sekolah?" Eri agak kaget dengan kehadiran beliau.
"Hihihi, 'kan bukan di sekolah jadi panggilnya tante saja, ya!" kata ibunya Kotori.
"E, eh? Masa', begitu?" Maki tidak setuju karena merasa kurang sopan.
"Enggak apa-apa, kok, Maki-chan!" kata beliau. "Yang penting panggilnya bukan di sekolah, 'kan?"
"Kalau begitu, kami ke kamarnya Kotori-chan dulu, ya, tante!" kata Nozomi yang dengan mudahnya terbiasa memanggil beliau seakrab itu.
"Kalian mau minum apa? Nanti biar si mbok bawakan ke atas," tanya ibunya Kotori.
"Aduh, jadi merepotkan, nih, tante!" kata Hanayo yang merasa tidak enak.
"Sudah, sudah, enggak apa-apa!" jawab ibunya Kotori. "Tante malah senang teman-temannya Kotori main ke rumah,"
"Kalau begitu teh saja, deh, ta… tante," kata Eri gugup.
"Oke, deh!" kata ibunya Kotori sambil tersenyum. "Mbok! Tolong buatkan teh lima cangkir, ya!"
Di kamarnya Kotori…
"Kalau begitu, aku dan Kotori-chan akan membantu memasangkan yukata kalian!" kata Nozomi sambil berkacak pinggang dengan bangganya. "Aku jago, lho!"
"Kalau aku bagian menata rambut, deh!" kata Hanayo sambil mengacungkan tangan.
"Mohon bantuannya!" kata Maki dan Eri sambil membungkukkan tubuh mereka.
"Kulit Eri-chan putih sekali, ya!" komentar Kotori begitu Eri melepas pakaiannya. "Seperti putri di dongeng-dongeng!"
"Ah, kamu bisa saja, Kotori," kata Eri tersipu malu.
"Oh ya, Ericchi, sebelum pakai yukata kamu mau dengar satu cerita, enggak?" tawar Nozomi. "Ini fakta lain yang lumayan penting tentang yukata, lhooo,"
Tak hanya Eri, tapi Maki, Hanayo, dan Kotori juga tertarik dengan apa yang akan diceritakan oleh Nozomi.
"Jadi… kalau pakai yukata itu kita sebaiknya enggak usah pakai pakaian dalam," ujar Nozomi.
Keempat cewek itu pertamanya cengo kemudian setelah mencerna kembali kata-kata Nozomi wajah mereka langsung merah padam. "HAH?!"
"Paling dianjurkan untuk yang udah punya pacar, seperti Ericchi misalnya? Hehehehe…" tambah Nozomi ngaco sambil cekikikan.
"Supaya gampang di-rape sama Takumi, gitu?" komentar Maki tanpa malu-malu. "Gila aja lo!"
"E, enggak boleh! Jangan lakukan, Eri-chan!" seru Hanayo panik.
"Aku tahu Takumi-kun itu kalem, tapi… harus kuakui, dia memang agresif, Eri-chan…" ujar Kotori. "Waktu aku menolaknya, dia sampai ngotot ingin mencuri ciuman pertamaku agar aku berubah pikiran…"
"Lebih baik kamu cepetan putusin dia, deh, Eri?" kata Maki. "Kamu mau kalau beneran kejadian begitu?"
Di luar dugaan, reaksi mereka serius parah…! gumam Nozomi yang berkeringat dingin karena mulai merasa bersalah.
Eri hanya bisa bengong dengan muka merah padam seperti kepiting rebus. Sepertinya dia 'konslet'.
"Hahahaha, Ericchi… aku minta maaf, ya?" kata Nozomi. "Jadi, ayo, kembali lah… oiiii!"
Eri akhirnya sadar dari bengongnya. "Ah, iya, ada apa?"
"Udahlah, enggak usah dibahas lagi," kata Maki sambil menghela nafas. "Enggak usah dengerin cerita bodohnya Nozomi karena kalau obi-mu tiba-tiba longgar dan yukata-mu melorot yang ada kamu bisa mati karena malu,"
"Ka, kalau begitu… aku dan Kotori-chan akan mulai memakaikannya, ya, Ericchi?" kata Nozomi sambil mengambil yukata-nya Eri di dalam kantung belanjaannya agar candaannya yang tadi tidak dibahas lagi.
"Uwaaah… sempurna!" puji Hanayo begitu yukata berwarna biru muda itu telah melekat dengan rapi di tubuh elok gadis seperempat Russia itu.
"Seperti kata Takumi, Eri memang cantik memakai apapun, ya?" timpal Maki.
"Duh, belum ketemu dengannya saja kalian sudah membuatku nge-blush, tahu!" dengus Eri sambil memegangi kedua pipinya yang sudah semerah tomat.
"Oke, sekarang giliranmu, Hanayo-chan!" kata Nozomi.
Hanayo pun mulai menata rambut Eri dengan memasangkan jepit rambut besar agar rambutnya tidak tergerai. Karena ini festival, Hanayo sengaja menatanya demikian agar ketika makan atau bermain rambutnya tidak kotor atau tersangkut.
"I, ini aku?" tanya Eri tidak percaya saat melihat bayangannya di cermin.
"Siapa lagi? Calon istrinya Takumi?" goda Maki.
"Mou! Udah, ah!" kata Eri malu.
Setelah kelima gadis itu siap dengan yukata mereka, mereka pun menuju tempat janjian, yaitu di depan tangga Kanda Myojin.
"Ah, itu mereka, nya!" kata Rin begitu melihat kelima member perempuan µ's berjalan semakin mendekat.
"Oiiii!" seru Kazuya sambil melambai-lambaikan kedua tangannya pada kelima gadis itu.
"Ampun, deh! Cewek itu kalau dandan beneran lama, ya!" keluh Nico begitu kelima gadis itu sudah berdiri di depannya.
"Huh! Kalau enggak janjian pakai yukata juga pasti cepat, kok!" dengus Maki.
"Hei, hei… udah, dong! Aku jadi merasa bersalah karena mengusulkan ide itu, nih!" kata Kazuya berusaha menengahi.
"Ngapain kamu merasa bersalah? Nih, coba kamu lihat Barbie-nya µ's!" kata Nozomi sambil menarik lengan Eri agar para member cowok dapat melihatnya dengan jelas.
Wajah Takumi juga si trio oneng merona merah karena terpesona melihat yukata berwarna biru muda yang cocok sekali dengan pemilik surai berwarna blonde itu.
Eri berjalan mendekati Takumi sambil menunduk untuk menyembunyikan semburat merah di wajahnya. "Ba, bagaimana? Apakah aneh?"
"Bodoh, aku sendiri yang bilang kalau kamu tuh cantik memakai apapun juga, bukan?" kata Takumi sambil mencubit pipinya pelan.
"Ma, makasih…" kata Eri lega.
"Lho? Bukannya itu kimono yang biasa kamu pakai untuk latihan di dojo, Takumi-kun?" komentar Kazuya.
"Ah, ini? Iya, sih…" jawab Takumi.
"Kenapa kamu enggak pakai yukata?" tanya Kotori.
"Umm… bukannya enggak mau, sih…" jawab Takumi. "Aku hanya merasa lebih nyaman kalau memakai ini juga agar bisa lebih bebas bergerak, gitu,"
"Sudah, sudah, enggak apa-apa, 'kan?" kata Nozomi menengahi. "Kupikir Tacchan memang cocoknya memakai kimono itu, ya, 'kan, Ericchi?"
Eri hanya mengangguk pelan karena dirinya sendiri masih deg-degan karena terpesona melihat kekasihnya mengenakan kimono biru tua yang pernah dilihatnya saat diseret ke kediaman Sonoda oleh si sableng, Izumi.
"Kalau begitu, ayo, kita jalan sekarang!" kata Hanayo.
"Ou!" seru kedelapan orang lainnya dengan kompak.
"Ayo, Eri," kata Takumi sambil menggandeng tangan yang putih pucat itu.
"Hai!" jawab Eri sambil tersenyum.
Sesampainya di festival mereka bersembilan mulai menjajal stand di sana satu per satu. Karena Rin dan Kazuya merengek-rengek ingin main di stand menembak hadiah akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti di stand itu terlebih dahulu.
"Ugh… ternyata lebih susah dari kelihatannya!" keluh Kazuya setelah dia mencoba untuk beberapa kalinya. "Padahal aku ingin tepung terigu yang mahal itu untuk membuat roti di rumah!"
"Ugh… aku ingin ramen cup itu, nya…" kata Rin lesu.
Dor! Dor! Dor! Tanpa ba-bi-bu Nico berhasil mendapatkan hadiah yang diinginkan oleh Kazuya dan Rin, lampu tidur bermotif bulan sabit, juga boneka gorilla.
"Nih!" kata Nico sambil memberikan tepung terigu dan ramen cup pada dua cowok yang berisik itu. "Payah banget gitu aja enggak bisa!"
Mata Rin dan Kazuya langsung berkaca-kaca. "Nico-senpai daisukiiiii!"
"Le, lepaskan aku! Kalian ini maho, apa?!" seru Nico kesal.
Keenam member lainnya hanya tertawa melihat kelakuan si trio oneng.
"Oh ya, nih, Nozomi!" kata Nico sambil memberikan lampu tidur bermotif bulan sabit pada pemilik manik berwarna hijau itu.
"Wah, makasih, Nicocchi!" kata Nozomi kegirangan. "Kok, kamu bisa tahu kalau aku ingin lampu ini?"
"Cuma mengira-ngira saja, sih…" jawab Nico sambil menggaruk tengkuknya. "Bagus lah kalau kamu suka,"
"Terus boneka gorilla itu buat siapa, Nico-kun?" tanya Hanayo.
Nico langsung tersenyum licik. "Tentu saja buat komposer judes kita ini, dong~"
"Ugh! Kenapa gorilla, sih?! 'Kan enggak ada imut-imutnya!" protes Maki sambil menerima boneka itu.
"Soalnya, begitu kulihat aku pikir boneka itu cocok banget sama kamu! Hahahahaha!" jawab Nico.
"A, apa maksudnya itu?!" kata Maki kesal.
"Hoh? Jadi, enggak suka, nih?" tanya Nico. "Kata yang jaga stand, boneka itu diproduksi dalam jumlah terbatas, lho! Enggak Cuma itu, boneka gorilla ini juga produk dari brand terkenal yang biasa kamu pakai!"
"HAH? Dari mana kamu tahu brand yang biasa kupakai?!"
"Apa sih yang Nico-nii-sama ini enggak tahu~?" Nico mulai membanggakan dirinya sehingga Maki hanya bisa menatapnya dengan jijik.
Nozomi hanya bisa tersenyum kecut sambil menunduk begitu melihat kedekatan Nico dan Maki.
Huh, Nicocchi itu memang baik ke semua perempuan, ya? pikir Nozomi.
"Nozomi-chan? Haloooo?" Kotori berusaha membuyarkan lamunan Nozomi.
"Ah, ada apa?" tanya Nozomi yang pikirannya sudah balik ke dunia.
"Dasar, kenapa kamu bengong begitu, sih?" tanya Takumi. "Jangan-jangan kamu enggak menikmati festival ini?"
"Hahahaha, Tacchan ngomong apa, sih?" Nozomi hanya tertawa sekenanya untuk menutupi alasan di balik lamunannya. "Jelas-jelas aku yang mengusulkan kita bersembilan pergi ke sini, 'kan? Mana mungkin aku enggak menikmatinya!"
Eri sebagai sahabatnya hanya bisa menatapnya penuh kecemasan. Meski tidak mengatakannya Eri tahu Nozomi tengah galau akan sesuatu.
Setelah puas mencoba semua stand permainan mereka bersembilan pun mulai berpencar untuk membeli makanan dan minuman.
"Nee, Nozomi?" Eri menarik lengan Nozomi yang hendak pergi membeli takoyaki.
"Hmm? Ada apa, Ericchi?"
"Boleh kita bicara sebentar?" kata Eri.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan, Ericchi?" tanya Nozomi begitu keduanya telah jauh dari ketujuh member lainnya.
"Maaf kalau aku terkesan sok tahu, tapi… bisakah kamu ceritakan padaku apa yang tengah mengganggu pikiranmu?"
"Heh? Apa maksudmu?" Nozomi hanya merespon sambil nyengir seperti biasa.
"No, Nozomi!"
"Sudah, sudah, lagi festival begini wajahmu malah suram begitu, sih? Ahahahaha!"
"Nozomi! Jangan sok menutup-nutupinya, deh!" seru Eri kesal. "Kamu sedang ada masalah, 'kan?"
"Sudah kubilang, enggak ada apa-apa!" jawab Nozomi. "Don't mind! Don't mind!"
"Kamu menyukai Nico, 'kan?" Eri langsung bicara to the point.
Nozomi tersentak dan senyumannya mulai memudar.
"Sudah kuduga," kata Eri. "Enggak heran sikapmu agak aneh,"
"Jadi, Ericchi memang sudah tahu, ya?" tanya Nozomi. "Sejak kapan kamu sadar?"
"Huh! Aku 'kan sahabatmu!" dengus Eri. "Enggak masalah kapan aku tahunya, 'kan?"
"Hihihi, dasar kamu, Ericchi," Nozomi hanya cekikikan melihat Eri yang sok tsundere.
"Umm… jadi, apakah kamu akan menyatakan perasaanmu?" tanya Eri.
"Entahlah," jawab Nozomi sambil menaikkan bahu.
"Eh?"
"Kurasa, aku enggak akan bisa mengalahkan Maki-chan," kata Nozomi murung.
"Tapi mereka enggak jadian, 'kan! Apaan, sih? Kok, kamu pesimis begitu?!" seru Eri gregetan.
"Cukup, Ericchi!" seru Nozomi.
"Tunggu, kenapa kamu marah? Aku hanya ingin bantu—"
"Mau sampai kapan kamu mengurusi urusanku yang enggak akan ada habisnya? Kok, kamu sendiri tega meninggalkan Tacchan, sih?"
"Tapi, Nozomi…"
"Sudahlah! Aku belum berniat sampai menyatakan perasaanku, kok!" kata Nozomi. "Ayo, kita kembali! Kembang apinya akan segera dimulai!"
Nozomi menarik lengan Eri dan kembali ke tempat ketujuh member lainnya berkumpul. Mendengar perkataan Nozomi tadi Eri pun hanya bisa diam dan menurut.
"Ah, datang juga dia!" kata Nico begitu melihat Nozomi dan Eri sampai.
"Dasar, kamu ke mana saja, sih, Eri-chan? Takumi-kun mencarimu, lho~" kata Kazuya.
"Huh, mulutmu ini ember banget, sih, Kuzuya?" dengus Takumi kesal.
"Hei! Berhentilah memanggilku dengan nama itu, Takumi-kun!" rajuk Kazuya.
"Enggak akan karena kau membuatku kesal," jawab Takumi cuek.
"Hei, hei, lagi festival begini kenapa kalian berantem terus, sih?" Nozomi berusaha menengahi seperti biasanya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu mencari-cariku, Takumi?" tanya Eri.
"Dasar bakka Erichika," ledek Nico. "Gitu aja masa' enggak ngerti, sih?"
"Iiiish, Nico berisik, deh!" kata Eri kesal.
"Hahaha… sudah, sudah," Takumi berusaha menenangkan Eri. "Aku hanya ingin menonton kembang api berdua denganmu, boleh enggak?"
"Eh?" semburat merah lagi-lagi memenuhi wajah Eri.
"Karena waktu di taman bermain kita belum sempat melihatnya, 'kan?" ujar Takumi. "Jadi, kupikir aku harus membayar hutangku padamu di sini,"
"Hahahaha, sudah, sudah! Terima saja, deh!" goda Nozomi.
"Enggak usah kebanyakan mikir dan nge-blush, deh, bakka Erichika!" timpal Nico.
"Kalian ini isengnya luar biasa, deh…" komentar Kazuya.
"Baiklah, aku mau," kata Eri kemudian.
Takumi tersenyum lega dan menggandeng tangan Eri. "Ayo, Eri,"
Punggung pasangan itu pun menghilang dalam kerumunan.
"Hiks, kamu benar-benar sudah dewasa, nak…" lagi-lagi Nozomi bertingkah keibuan.
"Ampun, deh… mau sampai kapan kamu terharu enggak jelas begitu, sih? Geli, tahu!" kata Nico.
"Ah, papa Nico ini sirik aja, deh!" goda Nozomi.
"SIAPA YANG LU PANGGIL 'PAPA'?!" seru Nico sebal.
Takumi dan Eri duduk di salah satu bangku panjang yang memang sepi dari pengunjung untuk menonton kembang api.
"Haaaah…" Eri menghela nafas dengan lesu.
"Eh, kenapa? Kamu capek?" tanya Takumi heran.
"Bukan capek, sih… aku hanya tengah mengkhawatirkan seseorang," ujar Eri.
"Hmm… siapa?"
"Nozomi,"
"Heh? Enggak biasanya, nih?" entah kenapa Takumi tertarik untuk membahasnya. "Memangnya dia ada masalah apa?"
Eri hanya terdiam karena dirinya ragu apakah harus mendiskusikannya dengan Takumi.
"Hei… kok, bengong?" Takumi berusaha membuatnya bicara.
"Aku bingung mesti gimana, tahu," ujar Eri. "Apakah aku harus mendiskusikannya denganmu atau enggak, gitu,"
"Dasar, memangnya kamu enggak percaya padaku?" dengus Takumi.
"Bukan begitu! Hanya saja ini masalah yang agak sensitif!" jelas Eri.
"Tentang?"
Eri menghela nafas. "Kamu enggak akan ember, 'kan?"
"Memangnya aku Kuzuya?" kata Takumi sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Nozomi… tengah menyukai Nico," ujar Eri.
"Hmm? Lalu, apa masalahnya?"
"Dia pikir Nico ada perasaaan khusus ke Maki karena mereka terlihat dekat," jelas Eri. "Padahal aku sudah meyakinkannya kalau Maki dan Nico enggak jadian,"
"Tunggu, memangnya kamu menyarankannya untuk menembak Nico?"
"Ya… aku hanya tanya 'apakah kamu akan menyatakan perasaanmu?', gitu," ujar Eri. "Di luar dugaan, Nozomi agak enggak suka karena aku mencampuri urusannya,"
Takumi tampak berpikir sebentar. "Mungkin ada baiknya kalau kita enggak terlalu membantunya dalam masalah ini, Eri,"
"Menurutmu begitu?"
"Ya, karena Nozomi 'kan beda denganmu dan Kotori yang bisa langsung jujur dengan perasaannya," jelas Takumi. "Dia masih butuh proses yang lumayan lama dan merenung beberapa kali, bukan dinasihati atau pun dibantu oleh kita,"
"Huh, entah kenapa aku merasa masih banyak yang kurang sebagai sahabat dekatnya," keluh Eri.
"Bukankah hal itu yang membuat persahabatan semakin menarik?" kata Takumi sambil tersenyum. "Kalau kita serba tahu, yang ada persahabatan yang kita jalani akan terasa menjemukan, bukan?"
"Terima kasih, Takumi," kata Eri sambil tersenyum lega. "Aku senang sudah diskusi denganmu,"
"Sama-sama," jawab Takumi. "Selain pacar, aku juga sahabat baikmu, bukan?"
"Nee, Takumi?" panggil Eri sambil menarik-narik lengan kimono-nya setelah mereka saling diam untuk beberapa saat.
"Hmm?"
Tanpa menjawab apapun, Eri menarik bagian leher kimono Takumi dan sukses menghadiahkan ciuman di bibir pemilik manik berwarna amber itu.
"E, Eri?" Takumi agak kaget dengan apa yang telah dilakukan gadis seperempat Russia itu.
"Ja, jangan lihat wajahku…" kata Eri sambil menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah padam bak kepiting rebus.
"Oh, ayolah…" kata Takumi sambil mengusap-usap pipi kiri Eri.
"Kamu… enggak marah, 'kan?" tanya Eri.
"Eh? Kenapa juga aku harus marah?" Takumi balik bertanya dengan bingung.
"Karena selama ini kamu yang selalu memulainya, 'kan?" ujar Eri. "Kupikir, kamu akan marah karena tiba-tiba aku yang memulai menciummu,"
Takumi memeluk Eri dengan erat. "Bodoh, mana mungkin,"
"Benarkah?"
"Tentu saja," jawab Takumi sambil memegang kedua bahu Eri. "Memang, sih… aku agak terkejut, tapi aku senang, kok,"
"Se, serius?"
"Iya, lah…" kata Takumi sambil membenturkan dahinya ke dahi Eri pelan. "Kamu berhasil, Erichika,"
Keduanya pun tertawa. Kembang api mulai melesat dan meledak di langit malam pertama musim panas satu demi satu. Takumi dan Eri sangat menikmati pertunjukan itu sambil tetap berpegangan tangan hingga acara berakhir.
"Uwaaah… benar-benar menyenangkan!" seru Kazuya heboh di perjalanan pulang.
"Terima kasih atas ajakannya, Nozomi-chan!" kata Hanayo.
"Hahaha, sama-sama!" jawab Nozomi sambil nyengir.
Satu per satu dari mereka mulai berpisah karena arah rumahnya yang berbeda-beda sehingga yang tersisa hanya Rin dan Hanayo.
"Tidak disangka, µ's menjadi 'cinta lokasi', ya, Rin-kun?" celetuk Hanayo berusaha memecahkan keheningan.
"Maksudmu?" Rin agak tidak mengerti dengan istilah yang digunakan Hanayo.
"Maksudku, aku tidak menyangka kalau satu per satu dari para member mulai saling suka dan jadian, seperti Takumi-kun dan Eri-chan," jelas Hanayo.
Mereka pun saling diam lagi.
"Nee, Kayo?" panggil Rin kemudian.
"Ya, Rin-kun?"
"Kamu… mau kita berdua ke depannya, gimana?" tanya Rin dengan wajah memerah.
"E, eeeeeh?!"
"Bukannya aku geer, sih… tapi kamu juga menyukaiku, 'kan, Kayo?"
Hanayo jadi salah tingkah karena pertanyaan itu.
"Aku juga menyukai Kayo, maksudku, aku saaaaaaangat menyukaimu!" jelas Rin.
"Te, terima kasih, Rin-kun…" kata Hanayo gugup. "Aku juga menyukai Rin-kun, kok,"
"Aku memang enggak seromantis Takumi-kun, sehebat Nico-kun, atau sehumoris Kazu-kun…" ujar Rin sambil menunduk. "Aku menyukaimu, tapi aku… enggak mau hubungan kita berubah menjadi pacaran,"
"Eh? Maksudmu?" Hanayo agak kecewa mendengarnya.
Rin menghela nafas. "Mau kita jadian atau gimana, interaksi kita enggak akan berubah, 'kan? Kayo tahu sendiri bagaimana childish-nya aku, bukan?"
"I, iya, sih…" kata Hanayo. "Jadi, Rin-kun maunya, gimana?"
Rin pun terkekeh. "Aku berjanji tidak akan mencuri ciuman pertamamu sebelum dapat restu dari orangtuamu, Kayo,"
Tentu saja semburat merah langsung memenuhi wajah gadis berpipi chubby itu. "Da, dareka tasukete…"
