.
.
.
.
.
.
Exo fanfiction by Lyla Angelica
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang Kim Jongdae merasa kesepian. Dia merasa member lain mulai membuat jarak satu dengan yang lainnya. Hingga sebungkus cokelat membuat semuanya berubah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sekali lagi Jongdae bermimpi tentang kue. Namun entah kenapa ia memimpikan berada di rumah kue berwarna-warni dengan seorang wanita yang tersenyum ramah. Wanita itu memberikan Jongdae sebuah kotak kecil yang cantik dan tidak boleh dibuka sebelum sampai rumah karena ada suatu kejutan. Anehnya Jongdae menuruti wanita itu dan keluar dari rumah kue tersebut.
Tapi lagi-lagi dia terbangun di tengah-tengah mimpi. Jongdae merasa ada sesuatu yang mencekiknya. Jongdae membuka matanya lebar-lebar, melihat sebuah tangan yang melintang di atas lehernya membuatnya seperti tercekik. Jongdae mengerang dan menyingkirkan lengan itu perlahan takut membangunkan pemiliknya.
Tao terlihat sangat damai dalam tidurnya, Jongdae tersenyum manis melihat didi nya tidur. Jongdae bangkit pelan-pelan dari kasur dan keluar dari kamar Tao. Jongdae berjalan ke ruang tengah sambil merenggangkan tubuhnya. Hampir semua member sudah bangun.
Kris sedang duduk di single sofa dengan ponsel di tangan. Luhan duduk menyender di sofa panjang dengan ekspresi yang mengerikan di wajah *coretcantikcoret* tampannya. Lay yang tampak setengah sadar di sebelah Luhan. Xiumin mungkin berada di dapur karena dia mendengar suara mesin pembuat kopi yang menyala.
Jongdae berdiri awkward di ruang keluarga. Aura sangat suram dan gelap. Jongdae tanpa suara masuk ke dalam kamarnya dengan Kris. Duduk di kasur, Jongdae menghela napas panjang. Jongdae melirik kalender yang tertempel di dinding. Salah satu tanggal di sana di tandai dengan lingkaran merah.
"Tiga hari lagi... Kita akan ke Korea..." Jongdae tidak bisa menahan senyumnya, sudah hampir setengah tahun dia dan Xiumin tidak pulang ke Korea. Jongdae sudah merencanakan beberapa hal yang akan dia lakukan saat tiba di Korea.
Tapi senyumnya luntur saat mengingat bahwa keadaan mereka saat ini kurang baik. Mereka sedang stress, jadwal menumpuk, kurang istirahat, bahkan mereka ke Korea untuk latihan album baru mereka. Dia ragu bisa mereka menghabiskan waktu bersama.
"Ukh... Apa yang bisa aku lakukan?" Gumam pria bermarga Kim itu. Jongdae terlarut dalam lamunannya hingga dia sedikit tersentak kaget saat mendengar suara pintu di ketuk.
"Chen, bersiap-siap. Kita akan ke studio setengah jam lagi." Ucap Kris di ambang pintu.
"Iya gege..." Balas Jongdae. Dia segera mengambil handuknya dan berjalan ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur. Jongdae berjalan melewati dapur, dia menghentikan langkahnya saat dari sudut matanya dia melihat Xiumin yang tampak memegang keningnya di meja makan. Hyung tertua ini tampak sangat kelelahan, beberapa kali helaan nafas terdengar dari bibirnya. Jongdae memberanikan diri mendekat.
"Hyung... Hyung kenapa?" Tanya Jongdae.
"Oh, Chen-ah. Hyung tidak apa-apa, hanya sedikit lelah." Jawab Xiumin. Xiumin meminum kopinya sedikit. "Tidak usah khawatir, kau cepat mandi. Nanti kita bisa terlambat."
"Yang benar...?" Tanya Jongdae sekali lagi. Jongdae menatap Xiumin dengan tatapan penuh selidik.
"Iya, Chen-Chen. Cepat mandi. Kau bau."
"Ish! Hyung ini. Enak saja mengataiku bau. Memangnya hyung sendiri sudah mandi?" Jongdae memanyunkan bibirnya. Xiumin terkekeh pelan. Rasa penatnya sedikit berkurang.
"Awas kalau hyung sakit. Nanti ku hapus semua game dari laptop hyung." Ancam Jongdae. Bibirnya maju, matanya melotot, ekspresi yang lucu untuk mengancam seseorang.
"Hehehe, iya-iya. Sudah, sana mandi."
Jongdae kembali berjalan ke kamar mandi, matanya masih melotot dengan bibir bebek. Xiumin tersenyum tipis melihatnya. Mood nya sedikit membaik, Xiumin meminum lagi kopinya. Kali ini dengan senyuman yang membuat kopi pahit itu terasa manis.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Panas, sumpek, berisik, lelah, adalah gabungan kata yang paling menyebalkan. Namun bagi Jongdae itu adalah gabungan kata yang membuatnya puas. Rasa lelah di tengah kerumunan fans sungguh membuatnya merasa bahagia dan bangga. Bangga pada diri sendiri, Exo dan juga fans. Tanpa mereka, tidak akan ada seseorang yang bernama Chen yang berdiri disini. Setelah dari studio mengisi suatu acara, mereka mengadakan fan meeting singkat. Mereka mengobrol, menandatangani benda-benda yang disodorkan fans padanya, menerima beberapa bingkis cokelat. Karena ternyata Jongdae baru ingat bahwa 14 februari adalah hari valentine.
"Selamat hari valentine!"
"Selamat hari valentine! Kami menyayangi kalian!"
"Selamat hari valentine, aku membuat kue ini sendiri untuk kalian."
Jongdae tidak henti-hentinya tersenyum melihat fans yang antusias memberikan cokelat dengan bungkusan yang imut-imut. Mereka mendapat banyak hadiah, bahkan Luhan hampir tenggelam di tumpukan gunung cokelat di mejanya. Lay hanya tertawa dan berkata mereka akan sakit gigi setelah memakan semua cokelat ini.
"Oppa! Selamat hari Valentine! Ini hadiah untukmu!"
Jongdae kembali tersenyum melihat seorang gadis kecil yang mungkin masih sebelas atau dua belas tahun menyodorkan cokelat padanya. Gadis kecil berpipi chubby itu fasih berbahasa Korea, wajahnya imut, rambutnya panjang dan terlihat halus. Membuat Jongdae harus menahan tangannya yang gatal ingin mengelus rambut gadis kecil itu. Semua tahu Exo sangat menyukai anak kecil yang imut unyu-unyu.
"Terimakasih Noona kecil." Jongdae memberikan senyuman terbaiknya. Gadis itu mengangguk kecil kemudian berlari ke belakang seorang wanita yang Jongdae rasa adalah ibunya. Gadis itu mengintip malu-malu. Jongdae hanya tersenyum tipis melihatnya.
Jongdae memperhatikan interaksi antara member lain dengan para fans. Kris tersenyum tipis melihat Lay tengah berbicara dengan seorang anak kecil yang tidak bisa mencapai meja mereka, namun Lay yang berinisiatif untuk membungkukkan badannya ke depan. Sedangkan di sebelahnya ada pasangan LuMin yang sedang fanservice (ssst, diam-diam Jongdae itu LuMin shipper loh, walaupun terkadang iri karena ia jarang melakukan itu dengan hyung kesayangannya). Sementara di ujung sana, Tao sedang tertawa-tawa karena mendapatkan sebuah boneka pikachu.
Wajah mereka semua tampak sangat kelelahan. Namun pancaran kebahagiaan terlihat jelas di sorot mata mereka. Jongdae tidak bisa menahan senyumannya selama acara berlangsung.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tumpukan hadiah yang berwarna feminin sudah menggunung di coffe table dorm Exo-M. Kini mereka bingung mau diapakan semua cokelat-cokelat ini.
"Cokelatnya banyak sekali..." Ujar Jongdae, matanya mencari-cari cokelat dengan bungkus yang tampak menarik dan mungkin rasanya enak.
"Cokelat sebanyak ini mana mungkin kita makan semua." Lay menggaruk tengkuknya, dia sudah kenyang memakan lima bungkus cokelat. Bisa-bisa dia muntah jika tambah lagi.
"Kita simpan saja untuk besok." Saran Tao, dia mengusap matanya untuk menghilangkan rasa kantuk, salah satu tangannya memeluk boneka pikachu yang baru didapatnya hari ini.
"Kulkas kita mana mungkin muat, Tao." Ujar Kris gemas melihat tingkah imut Tao.
"Lalu mau diapakan? Hoaahm..." Tao menguap lebar, matanya setengah terbuka. Karena tidak tega, Kris menuntun Tao yang bisa saja ambruk kapanpun ke kamarnya sendiri. Luhan yang tampak suram berlalu ke kamarnya, Lay menyusul tak lama kemudian karena takut Luhan mengunci pintu kamar mereka. Dia kenal gege nya yang jika sedang stress bisa mengurung diri di kamar seharian untuk tidur.
Kini tinggal Xiumin dan Jongdae yang berada di ruang tengah. Jongdae mengambil satu bungkus cokelat dan membukanya.
"Hyung mau?" Tawar Jongdae pada Xiumin.
Xiumin hanya menggelengkan kepalanya, "Kau makan saja semuanya. Aku lelah, ingin tidur."
"Oh... Ya sudah, istirahatlah hyung..." Ucap Jongdae pelan, sekilas ada nada kecewa di suaranya namun tidak diketahui oleh Xiumin. Xiumin hanya berdehem singkat dan masuk ke kamarnya. Ruang tengah sepi, hanya ada Jongdae yang duduk di sofa. Jongdae memperlihatkan sekelilingnya.
Sepi. Suram. Gelap. Dingin...dan... Sendirian.
"Huft... Sendiri lagi..." Gumam Jongdae. Dia menggigit dark choco di tangannya. Entah kenapa rasanya pas sekali dengan keadaannya saat ini. Pahit.
Jongdae menghabiskan cokelatnya dan mengambil cokelat lain. Rasa choco ball yang seharusnya manis malah terasa berbeda di lidahnya. Jongdae menghabiskan lima choco ball itu dalam sekejap. Namun tetap saja rasanya sama. Pahit.
"Seandainya ada yang menemaniku, disini...dingin..."
Jongdae mengambil satu bungkus cokelat lagi. Hingga tanpa sadar ia hampir menghabiskan semua cokelat yang ada di meja. Jongdae mengambil sebungkus cokelat yang menurutnya menarik. Dari semua warna bungkus cokelat berwarna pink, hanya yang satu ini bungkusnya berwarna merah marun. Kotaknya kecil, mungkin hany cm, polos tanpa hiasan apapun, Jongdae membuka tutup kotak kecil itu.
"Wah! Lucu sekali!" Jongdae tersenyum lebar melihat cokelat yang imut berbentuk rumah kecil, hanya sebesar jempolnya, berwarna-warni dengan paduan yang pas, membuat cokelat itu tampak menggoda di matanya. Ada sebuah kertas yang dilipat dan diselipkan di samping cokelat itu. Jongdae mengambilnya dan membacanya.
-Make a Wish!-
Permohonan? Yang benar? Memangnya apa yang akan terjadi jika dia membuat permohonan? Jongdae menatap ragu cokelat yang tampak menggoda itu. Jongdae mengambi cokelat itu dan menatapnya lama. Sempat terlintas sebuah keraguan di benaknya.
'Masa bodoh, apa salahnya di coba.' Jongdae memejamkan matanya. Mendekap cokelat keras itu ke dekat dada dia mengucapkan sebuah permohonan.
"Tuhan, semoga saja besok semuanya berubah. Amin."
Jongdae langsung melahap cokelat itu dan mengunyahnya. Mendengung puas karena rasanya yang manis dan enak. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Jongdae membereskan sampah-sampah di ruang tengah dan menyimpan cokelat yang tersisa beberapa bungkus di kulkas.
Jongdae masuk ke kamarnya, dilihatnya Kris yang tidur terlentang di atas kasur yang terlihat sempit jika Kris yang berbaring diatasnya. Jongdae mengambil selimut yang entah kenapa pasti selalu berada di lantai dan memakaikannya pada Kris. Ini sudah seperti kebiasaan bagi Jongdae untuk menyelimuti Kris sebelum ia tidur. Dia kemudian naik ke atas kasurnya sendiri.
Jongdae bergelung di dalam selimutnya dan memejamkan matanya.
Entah kenapa perasaannya aneh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
