Well, berhubung ada yang request konflik dalam hubungan Takumi dan Eri makanya gue mencoba buat
Walaupun mungkin kurang 'woah', sih...
NicoNozoMaki semakin bikin gregetan di sini dan ada suprise bagi kalian, pecinta Kazuya-Kotori! Check it out!
Splash!
"Puanaaaaaas…!" keluh Kazuya sambil mengipas-ngipas lehernya yang bermandikan peluh dengan tangan kirinya.
"Jangan bawel, kerjakan saja sisa soal yang sudah kuajari tadi!" kata Takumi tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan PR musim panas yang tengah dikebutnya.
"Hahaha… Takumi-kun memang rajin, ya?" komentar Kotori. "Padahal liburan musim panas baru jalan seminggu,"
"Aku punya tugas lain yang harus kukerjakan, seperti latihan lebih banyak di dojo, membantu ibuku membuat makan siang, dan masih banyak lagi," ujar Takumi. "Jadi, aku harap kalian maklum,"
"Dan kencan dengan Eri-chan, iya, 'kan?" kata Kazuya sambil membaringkan kepalanya di atas meja.
Takumi pun terbatuk-batuk begitu mendengar perkataan leader µ's itu. Wajar saja karena dia tengah menyesap teh gandum yang baru dituangkan oleh Kotori.
"Ku, Kuzuya…!" seru Takumi geram.
"Ah, jadi benar, toh?" goda Kazuya sambil menaikkan alisnya. "Apa perlu kau kuberikan date spots' advice, Ta-ku-mi-kun~?"
"Su, sudah kubilang… bukan!" bantah Takumi yang wajahnya memanas.
"Zettai uso, desho?" balas Kazuya sambil tersenyum usil.
"Ugh… memangnya itu urusanmu?! Huh!" Takumi malah ngambek.
"Tunggu, tunggu… kok, kamu jadi tsundere, gitu?" Kazuya bergidik ngeri. "Geli, deh, aku…"
"Ahahahaha… sudah, sudah, sudah," Kotori berusaha menengahi. "Jangan berisik, kasihan mamanya Kazuya-kun, 'kan?"
"Ah, iya, aku lupa kalau ibuku tengah istirahat karena terkena demam musim panas," kata Kazuya sambil meregangkan lengannya dengan menariknya ke atas kepala.
"Tapi, Takumi-kun… kok, kamu enggak pernah bercerita ke kami tentang pengalamanmu berpacaran dengan Eri-chan, sih?" tanya Kotori sambil menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Hah? Untuk apa aku melakukannya?" kata Takumi. "Kalian sendiri juga enggak pernah membahas hubungan kalian yang serba tanggung itu,"
"Ahahaha… itu mah lain masalah, kali?" Kazuya berusaha menghindar.
Takumi menghela nafas. "Kalau Eri gagal merebut hatiku mungkin aku masih berusaha mengejar-ngejarmu dan melindungimu, Kotori…"
"Eh? Tunggu, kamu jangan bilang begitu, Takumi-kun!" tegur Kotori. "Memangnya kamu hanya asal move on ke Eri-chan hanya karena kutolak, apa?!"
"Bukan, itu hanya istilah kasarnya saja, kok," jelas Takumi. "Karena kamu jalan dengan otaku roti yang tololnya di luar nalar manusia, sih,"
"Ugh… rasanya ingin mati begitu aku mendengar sindiranmu itu, Takumi-kun…" kata Kazuya lemas.
"Makanya, jadi cowok jangan plin-plan, dong!" balas Takumi. "Kamu enggak tahu bagaimana perasaan Kotori yang sudah menyukaimu sejak pertama kali bertemu denganmu, apa? Hargailah dengan membalas perasaannya, bodoh!"
"Huh, berisik sekali kau, Takumi-kun!" dengus Kazuya. "Kamu ya kamu, aku ya aku, jangan samakan kisah asmaramu denganku, maniak otot!"
"A, apa katamu?!" seru Takumi kesal. "Kotori 'kan juga sahabatku! Apa salahnya kalau aku membantunya?!"
"Ya, dan bantuanmu itu benar-benar menggangguku, paham?" balas Kazuya.
Air mata mulai menetes dari mata yang polos itu.
"Mou… sudah, dong!" kata Kotori sambil terisak. "Jangan bertengkar hanya karena aku, Takumi-kun, Kazuya-kun…, hiks…"
"Bu, bukan begitu, Kotori…" kata Takumi sambil mengusap-usap kepala Kotori. "Aku hanya ingin kamu bahagia karena aku merasa berhutang budi padamu,"
"Hutang budi? Maksudmu?" tanya Kotori bingung.
"Karena kamu telah mempertemukanku dengan gadis yang sangat kucintai dan ingin kulindungi sampai kapan pun," ujar Takumi sambil tersenyum. "Makanya, sekarang giliranku untuk membuatmu merasakan hal yang sama dengan laki-laki bodoh yang kau sukai itu,"
"Tapi… kumohon, berbaikan lah," pinta Kotori. "Aku enggak suka kalau kalian bertengkar,"
Takumi dan Kazuya pun saling pandang kemudian keduanya merangkul gadis itu.
"Bagaimana? Dengan begini, kami sudah berbaikkan, bukan?" tanya Kazuya.
"Aku enggak mendengar kata 'maaf', tuh?" dengus Kotori.
"Yah, kau tahu, Kotori? Kadang para laki-laki berbaikkan dengan saling merangkul tanpa mengucapkan sepatah kata apapun," ujar Takumi. "Maklumi saja, oke?"
"Haaaah… aku benar-benar enggak ngerti jalan pikir kalian, laki-laki," keluh Kotori sambil menghela nafas.
"Terutama Kuzuya, bukan?" tambah Takumi.
"Oiiii…" Kazuya merasa tersindir.
Kemudian ketiga sahabat itu pun tertawa.
Malamnya para member µ's mengadakan diskusi di chat group mereka…
SpiritualGirl : "Hai, hai, semuanya~ masih hidup kah kalian setelah menjalani minggu pertama liburan musim panas? Wwwww :P"
IchibanAidoru : "Nozomi… mulut lo benar-benar harus disekolahkan lagi, kayaknya?"
SpiritualGirl : "Hahahaha… oh, Love&Peace~ , babe! :3"
IchibanAidoru : "Siapa yang lu panggil 'babeh'?!"
RedMelody : "'Babe', bego -_- bukan 'babeh'!"
CoolCats : "Ahahahaha… number one idol kok matanya picek? Wwwww"
DancingQueen : "Haruskah aku memberitahu Mr. Ono agar kau bisa dapat pelajaran tambahan, Nico? :P"
IchibanAidoru : "Kalian memang paling demen nge-bully orang, ya… dasar!"
DancingQueen : "Sebagai ketua OSIS sudah tugasku untuk membantu para siswa maupun siswi yang kesulitan, bukan? Hehehehe… :D"
IchibanAidoru : "Blablablablah… whatever!"
SamuraiClan : "Nico, harusnya kau senang banyak orang yang peduli padamu, tahu!"
IchibanAidoru : "Langsung, deh, lo ikutan ngoceh begitu pacar lo aktif!"
SamuraiClan : "HEI!"
BreadisJustice : "Oi… jangan ribut di chat group, atuh!"
ChunChun : "Baru masuk chat group, tapi udah perang aja, nih… (-")"
RiceisJustice : "Rin-kun, kamu juga jangan jahat, dong! Biar jelek-jelek juga Nico-kun tetap senpai kita!"
IchibanAidoru : "Maksudnya 'biar jelek-jelek juga' apa, ya, Koizumi-san…? (-")"
RiceisJustice : "E, etto… ehehehe ^^;"
IchibanAidoru : "'Ehehehe'? Oiiii… -_-"
DancingQueen : "Oh ya, bagaimana dengan latihan untuk live setelah liburan musim panas? Kita ada penampilan di bunkasai nanti, bukan?"
SamuraiClan : "Aku sudah menyusun menu latihannya, tapi aku masih belum tahu di mana kita harus latihan saat cuaca sepanas ini,"
SpiritualGirl : "Kalau menyewa studio setiap saat yang ada kita akan kehabisan jatah uang untuk liburan… (-")"
CoolCats : "Bagaimana kalau di alam terbuka yang sejuk saja, seperti di gunung, misalnya? :3"
ChunChun : "Tapi, Rin-kun, uangnya dari mana? Kita juga enggak mungkin pulang-pergi ke sana, bukan? Bisa-bisa jatah uang kita habis hanya untuk transport!"
CoolCats : "Wah, jadi kita akan menginap? Camping? Asyiknya~!"
RedMelody : "Oi, kita 'kan belum memutuskan apa-apa, meong bodoh!"
BreadisJustice : "OH YA! ITU SAJA!"
Kedelapan member lainnya pun cengo karena kaget.
BreadisJustice : "Kita adakan training camp saja! Uwaaah… kenapa kita enggak kepikiran dari kemarin? xD"
SamuraiClan : "Oi, oi, oi, oi… berhentilah ngelindur, Kuzuya!"
DancingQueen : "Kita 'kan seenggaknya harus sewa villa juga, Kazuya. Kamu pikir itu enggak mahal, apa?"
BreadisJustice : "Ugh… maafkan hamba… :'("
ChunChun : "Oh ya, Maki-chan, bukannya kamu punya villa yang jaraknya satu jam perjalanan dari Tokyo, ya? Dan kalau aku enggak salah ingat meski villa-mu di gunung, tapi jalan ke pantai di bawah lumayan dekat, 'kan?"
RedMelody : "Uweeeh…? Da, dari mana kamu tahu itu, Kotori?!"
ChunChun : "Hihihi, kamu lupa, ya? Dulu waktu masih kecil ibu-ibu kita pernah mengadakan reuni tiga angkatan sekaligus, 'kan? Kamu enggak ingat waktu itu aku dan kamu dibawa juga ke sana, ya?"
RedMelody : "Ma, masa', sih?"
BreadisJustice dan CoolCats : "SERIUSAN LU, MAKI-CHAN?!"
IchibanAidoru : "Bacot, woi!"
BreadisJustice : "Hei, kita lagi tanya serius, pinky boy!"
CoolCats : "Jangan asal potong, dong, Loli Senpai!"
IchibanAidoru : "Kalian ini…! :O"
DancingQueen : "Hei, hei… tenanglah dulu, kalian! Jadi, bagaimana, Maki? Apa benar kamu punya villa?"
RedMelody : "U, ugh…"
SamuraiClan : "Hah… kalau kau memang enggak mau meminjamkannya juga enggak jadi masalah, kok. Kami juga ikut enggak enak kalau kamu sendiri enggak ikhlas,"
SpiritualGirl : "Lebih baik kalau kamu ikhlaskan saja, Maki-chan ^^ daripada kamu ku-washi-washi? Wwwww"
DancingQueen dan SamuraiClan : "Oi! Nozomi!"
SpiritualGirl : "Ciyeeee… yang kompakan~ :P"
DancingQueen : (embrassed sticker)
SamuraiClan : (pissed off sticker)
RedMelody : "Baiklah, nanti kutanyakan pada orangtuaku,"
BreadisJustice : "Eh? Be, benarkah?"
RedMelody : "Huh! A, aku juga sudah berusaha keras membuat lagu untuk live di bunkasai nanti, tahu! Jadi, jangan sampai kita enggak sempat latihan dan jadi bahan olok-olok saat hari H nanti, ngerti enggak, sih?!"
SpiritualGirl : "Berarti itu bisa kita anggap sebagai 'yes', 'kan?"
RedMelody : "Huh, iya, iya…"
CoolCats : "Maki-chan, Maki-chan! Share foto-foto di villa-mu ke sini, dong!"
RedMelody : "Enggak mau, paham?"
CoolCats : "EEEEH? Nande?!"
RedMelody : "Nanti kalian bakalan heboh semalam suntuk di chat karena meributkannya pasti!"
CoolCats : "Ehehehehe… xD"
RiceisJustice : "Jadi, kita akan berangkat kapan, nih?"
RedMelody : "Bagaimana kalau lusa? Aku sudah tanya papaku dan beliau mengizinkan, yokatta…"
DancingQueen : "Wah, cepatnya! Benarkah, Maki? Arigatou!"
SamuraiClan : "Seperti biasa, Maki memang paling bisa diandalkan."
RedMelody : "Apaan, sih? Lebay banget kalian…" (embrassed sticker)
SpiritualGirl : "Tuh, Nicocchi… kamu juga harusnya mencontoh Maki-chan, dong!"
IchibanAidoru : "Apaan, sih? Ngapain juga aku niru-niru anak mami kayak dia? :p"
RedMelody : "Oh, gitu? Jadi, izinnya ingin kubatalkan, nih? Aku ngomong ke papaku dulu, ah…"
IchibanAidoru : "EH! Tunggu, tunggu, tunggu! Gue Cuma bercanda, woiiiii! 0_0;"
ChunChun : "Hihihi… duet lawak kalian memang paling top, ya? Wwww"
CoolCats : "Astaga, 'duet lawak'? Perutku sakit membacanya! Hahahahahaha!"
BreadisJustice : "Hei, hei, sudah! Lebih baik kita istirahat yang cukup supaya besok bisa packing dengan tenang, oke?"
RiceisJustice : "Oke, deh! ;)"
SamuraiClan : "Enggak biasanya perintahmu waras, Kuzuya?"
BreadisJustice : "OI…"
SpiritualGirl : "Jaa… oyasumi, minna~"
Percakapan pun berakhir dan satu per satu dari mereka mulai memasuki alam mimpi.
"Wah, kau mau ke mana, onee-chan?" tanya Arisa begitu melihat sang kakak tengah berpikir keras dalam kamarnya yang berantakan oleh pakaian-pakaian yang berserakan.
"Aku ada training camp dengan teman-teman di µ's," jawab Eri.
"Heh? TC? Kok, kayaknya bingung banget untuk menyiapkan baju saja?" tanya Arisa heran. "Onee-chan biasanya juga sering ikut TC dengan anak-anak OSIS, 'kan?"
"Umm… masalahnya saat TC nanti 'kan ada saatnya kita istirahat dan main ke pantai,"
"Lalu? Apa masalahnya?" dahi Arisa makin berkerut.
"A, aku… ingin Takumi lebih memperhatikanku, jadinya… aku bingung harus pakai bikini yang mana," ujar Eri dengan wajah merah padam.
Arisa awalnya cengo kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Ahahahahahahaha! Nani sore?"
"Iiiih… aku serius, Arisa!" dengus Eri.
"Baiklah, baiklah, aku akan membantumu, onee-chan!" kata Arisa sambil mengusap air matanya yang menitik gara-gara tertawa lepas tadi.
"Terima kasih!" kata Eri sambil memeluk adik kesayangannya itu.
"Semuanya sudah hadir, 'kan?" kata Kazuya begitu selesai mengecek jumlah anggota grupnya. "Yosh, ayo, kita berangkaaaaat!"
Mbok kepala pelayannya Maki pun tancap gas begitu Kazuya selesai bersorak heboh.
"Are? Padahal baru 20 menit kita jalan, tapi Eri-chan sudah tidur saja?" komentar Kotori begitu melihat Eri yang tertidur pulas sambil bersandar di bahu Takumi.
"Mungkin dia enggak bisa tidur karena memikirkan TC hari ini?" kata Nozomi. "Biar galak begitu, Ericchi itu sebenarnya masih bocah banget di dalamnya! Hehehe!"
"Takumi-kun, senyum, dong! Aku ingin memotret kalian, nya!" pinta Rin.
"Hei, hei… jangan, dong! Enggak sopan, 'kan?" kata Takumi. "Biarkan lah Eri tidur dengan tenang, Rin!"
"Takumi-kun, onegaiiii!" Kotori memelas dengan sok manis seperti biasa agar Takumi mengalah.
"Hahaha… jurusmu sudah enggak mempan lagi padaku, Kotori," balas Takumi sambil tersenyum licik.
"Ngggh…" Eri menggeram, namun untunglah dia tidak sampai terbangun karena dia hanya tengah membetulkan posisi kepalanya dengan semakin memendekkan jarak di antara dirinya dan Takumi.
"Yakin enggak mau diabadikan, nih?" tanya Nico. "Jarang-jarang melihat ketua OSIS kita tidur dengan begitu manisnya, bukan?"
Takumi menghela nafas. "Baiklah… asalkan setelah ini kalian enggak berisik lagi,"
"Hahaha, begitu, dong!" kata Rin puas.
"Rangkul Ericchi dengan mesra, dong, Tacchan!" tambah Nozomi.
"Iya, deh, iya…" Takumi menurut sambil merangkul bahu kekasihnya itu.
Ckrek! Satu momen dari pasangan itu berhasil diabadikan dalam smartphone-nya Rin.
"Cium dia, dong, Takumi-kun~!" tiba-tiba Kazuya ikut bersuara.
"Oi, Kazuya…" Maki berusaha menghentikan senpai-nya yang memang agak aneh itu.
"Sudah, sudah, lo enggak usah dengerin si maniak roti itu, Takumi," kata Nico. "Kasihan Eri nantinya,"
"Eh? Serius? Baru saja aku akan melakukannya, nih," Takumi agak kecewa.
MAJI KAYO?! kata ketujuh member lainnya dalam hati karena tidak percaya betapa tidak tahu malunya penulis lirik bermanik amber itu.
"Ehem! Etto… kamu enggak serius akan melakukannya, 'kan, Tacchan?" tanya Nozomi yang sebelah alisnya sudah naik-turun.
"Kalian bilang 'kapan lagi', bukan? Kupikir, kalau mau mesra, ya… sekalian saja, gitu," jawab Takumi polos.
"Enggak, enggak gitu juga, plis!" kata Maki.
"Aku tahu, kamu sayang banget sama Eri-chan, tapi… kamu enggak takut Eri-chan kaget setengah mati begitu melihat foto itu nanti?" tanya Kotori khawatir.
"Kalian ini serba salah banget, ya?" kata Takumi. "Aku tetap ingin melakukannnya, tahu,"
"Ci, ci, ciuman…?" semburat merah memenuhi wajah Hanayo yang telah 'konslet'.
"Yak, ayo, kita amankan dulu adek kita yang masih polos ini, anak-anak!" Nozomi memberi komando dengan gaya keibuannya seperti biasa.
Maki dan Kotori pun dengan sigap menutupi mata dan telinga Hanayo.
Chu! Takumi sukses merebut ciuman dari bibir sang gadis berdarah seperempat Russia yang tengah terlelap itu dan momen itu dengan jelas tersimpan dalam kamera milik Rin.
"Baiklah, apakah selanjutnya ini saja?" kata Takumi sambil menyingkap kerah blouse kekasihnya itu hingga lehernya yang putih pucat itu terekspos.
"Ano, Takumi-kun? Kamu mau apa?" tanya Kazuya yang sudah berkeringat dingin.
"Mencium lehernya, kenapa?" Takumi balik bertanya dengan bingung.
"Oiii… stop, stop, stop!" Nico berusaha menghentikan Takumi.
"Rin, tanomu!" perintah Takumi cepat seolah tidak mempedulikan peringatan dari Nico.
"Plis, lah! Dengerin gue, Takumi bego!" seru Nico kesal.
Rin hanya bisa menurut dan memotret momen ketika Takumi mencium leher si koreografer dengan nafsu seperti vampire dalam dongeng-dongeng.
"Ngggh… Takumi? Apa yang kamu lakukan…?" tanya Eri yang terbangun oleh kecupan di lehernya itu.
"Ohayou, Eri," sapa Takumi sambil tersenyum. "Sebentar lagi kita sampai jadi aku membangunkanmu,"
Eri bingung karena ketujuh temannya mengelilingi dirinya dengan wajah merah padam yang sudah enggak karuan.
"Ano, Rin? Apa yang kamu lakukan dengan smartphone-mu?" tanya Eri.
"Ah! Ini? A, aku hanya sedang selfie dengan Kotori-chan! Ya, 'kan, Kotori-chan?" Rin berusaha ngeles demi keselamatan jantung Eri.
"Un! Be, be, benar sekali, Rin-kun!" jawab Kotori sambil manggut-manggut dengan keringat dingin membasahi kedua pelipisnya.
"Ki, ki, ki… kissu…" kata Hanayo yang masih konslet.
"Chottoooo…! Koizumi-saaaaan!" Nico berusaha menghentikan Hanayo yang masih ngelindur.
Semburat merah pun memenuhi wajah Eri. "Ta, Takumi! Bisa kamu jelaskan padaku apa yang terjadi selama aku tidur?"
"Aku menciummu, masalah?" jawab Takumi santai.
"Ya, masalah, dong! Kamu enggak punya urat malu, apa?!" jerit Eri kaget bukan main.
"Hahahahaha…" Takumi hanya tertawa sambil menerima tinju dari Eri dengan kedua telapak tangannya.
"Takumi-kun benar-benar berani, nya…" kata Rin yang sepertinya kapok karena mengusulkan untuk memotret pasangan itu.
"Mou! Bakka Takumi!" seru Eri kesal sekaligus malu.
"Hahahahaha… aduh, sakit!" ringis Takumi sambil memegangi perutnya yang disikut oleh Eri.
Kamu beruntung, lho, Ericchi… gumam Nozomi sedih karena iri melihat kedekatan keduanya berbeda dengan dirinya yang hubungan pedekatenya belum juga membuahkan hasil.
"Yah, setelah kurevisi berulang-ulang kira-kira beginilah aktivitas rutin yang akan kita lakukan selama TC ini," ujar Takumi mengakhiri penjelasannya sambil mengetuk-ngetuk white board berisi jadwal latihan selama TC. "Bagaimana menurut kalian?"
"Ahahaha… padat seperti biasa, ya?" komentar Eri.
"Hei! Lalu, kapan kita mainnya?" tanya Kazuya karena tidak menemukan satu pun kata istirahat dalam jadwal itu.
"Main? Maksudmu?" Takumi balik bertanya dengan bingung.
"Duh… seperti berenang atau bermain bola, gitu, lho…" Rin berusaha menjelaskan.
"Ada, kok," jawab Takumi sambil menunjukkan kata 'pertandingan' dengan jarinya.
"Eh? Ta, tanding futsal dengan atlit lokal di sini…?" Kazuya agak kaget membacanya.
"Lomba renang di laut kelas 500 meter dan bolak-balik…?" tambah Rin.
"Juga lari marathon…?" timpal Nico.
"Bagaimana? Sudah lengkap, 'kan?" kata Takumi puas.
"Lengkap, ndasmu! Kau ini iblis, apa?!" protes trio oneng.
"Apaan, sih? Kalian 'kan cowok! Enggak usah protes kalau ingin stamina dan performa kalian selama di panggung makin bagus, dong!" balas Takumi cuek.
"Lo enggak mikirin nasib para member cewek, apa?!" seru Nico.
"Hmm… oh ya, aku lupa," kata Takumi dengan lugunya.
"Sumpah minta dihajar ini anak…" kata Nico yang mulai pegal hatinya.
"Kalau member yang perempuan serahkan saja padaku!" kata Eri penuh percaya diri.
"Oke, siapa yang setuju kalau begitu saja pembagian latihan fisiknya?" tanya Nozomi sambil mengacungkan tangan yang kemudian diikuti seluruh member perempuan.
"Baiklah, kalau begitu kuserahkan padamu, ya, Eri," kata Takumi sambil tersenyum penuh arti kepada kekasihnya itu.
"Hehe, makasete!" jawab Eri mantap.
"Yak, cukup! Kita istirahat dulu!" kata Takumi sambil menepuk kedua tangannya sekali setelah dirinya dan trio oneng lari mengelilingi lokasi wisata itu selama satu jam.
"Hah… hah… jadi, kami boleh main ke pantai, 'kan?" tanya Kazuya sambil mengatur nafasnya.
"Tentu," jawab Takumi sambil tersenyum puas. "Otsukare, minna!"
Begitu memasuki pantai mereka berempat pun berpapasan dengan para member perempuan.
"Wah, kalian juga baru selesai, ya?" sapa Nozomi.
"Haha… kalian sudah ganti pakai baju renang saja, nih," komentar Nico begitu melihat lima gadis itu hadir dengan balutan bikini andalan masing-masing.
"Bukannya dari tadi kita juga sudah mengenakan celana renang, Nico-kun?" celetuk Rin.
"Ah, iya, ya? Maaf, saking capeknya sampai enggak sadar aku," jawab Nico sambil tertawa garing.
"Kalau begitu, ayo, kita maiiiiin!" seru Kazuya heboh sambil melepas hoodie lengan pendek yang menutupi dadanya yang bidang yang kemudian juga diikuti oleh Rin dan Nico.
"Umm… ngomong-ngomong, Takumi? Kok, kamu enggak melepas kaosmu seperti yang dilakukan ketiga cowok itu, sih?" tanya Eri yang bingung betapa cueknya Takumi yang masih mengenakan kaos abu-abu sleeveless-nya padahal sudah mengenakan celana renang.
"Enggak usah, lah," jawab Takumi cuek. "Memalukan saja,"
"Ayolah, Tacchan! Mau sampai kapan kamu menutupi perutmu yang six pack itu~?" goda Nozomi sambil nyengir. "Masa', sih, kamu ingin menyimpannya untuk malam pertama dengan Ericchi nanti? Hehehehehe…"
"No, Nozomi! Jangan ngaco, ah!" seru Eri malu.
"Dasar, temanmu yang orang Kansai jadi-jadian itu bawelnya minta ampun, ya?" keluh Takumi.
"Hahaha… mohon dimaklumi saja, deh," kata Eri lesu.
Takumi pun membuka kaos abu-abu yang sejak tadi menyegel tubuhnya yang menggoda kaum hawa itu. Eri tersentak begitu melihat tubuh Takumi yang… sempurna itu. Rambut birunya yang selalu tertata dengan rapi, tubuhnya yang tinggi tegap, juga otot-otot yang terbentuk dengan cantik di tubuh yang kini dieksposnya itu. Kalau boleh jujur, Eri ingin pingsan saat ini juga karena tidak kuat dengan pesona yang dikeluarkan Takumi.
"Maki-chaaaan! Istirahat lah sebentar dari lagumu itu! Kemarilah!" seru Rin sambil melambaikan tangannya.
"Ya! Nanti aku akan segera ke sana!" jawab Maki tanpa mengalihkan pandangan dari kertas-kertas berisikan lagu yang dibuatnya.
Takumi menghampiri gadis bersurai merah itu dan duduk di bangku pantai di sebelahnya. "Ada yang bisa kubantu, Maki?"
"Sudahlah, enggak usah repot-repot," jawab Maki cepat. "Kasihan pacarmu, tuh!"
"Kalau memang ada bagian dari lirik yang kutulis belum pas tinggal ngomong saja apa susahnya, sih?" balas Takumi.
"Huh, oke, oke… bantu aku kalau begitu," kata Maki menyerah.
Pemilik manik berwarna amber dan ungu itu pun mulai sibuk berdiskusi untuk membuat lagu terbaik mereka hingga membuat gadis berdarah seperempat Russia itu dilanda rasa cemburu meski sedikit.
Eri tidak langsung menyerah sehingga dia mencoba menarik perhatian Takumi dengan melepas hoodie lengan pendek yang menutupi bikini-nya yang berwarna ungu. "Nee, Takumi? Bagaimana menurutmu tentang… baju renangku? Apakah pantas? Atau terlalu seksi?"
Takumi meliriknya sebentar kemudian kembali fokus pada kerjaannya. "Ah, bagus, kok, bagus… kamu cantik seperti biasa,"
"Umm… hanya itu?" Eri agak kecewa mendengar jawaban Takumi yang agak datar itu.
Takumi menghela nafas. "Eri, jangan kekanak-kanakan begitu, dong! Kalau lagunya saja belum beres memangnya kamu sebagai koreografer enggak akan kesulitan? Jangan kamu pikir aku masa bodoh denganmu! Ngerti sedikit bisa, 'kan?"
Eri agak sedih mendengar perkataan Takumi. Luarnya boleh saja dia terlihat tegar, namun benar seperti kata Nozomi kalau di dalamnya Eri masih bocah banget atau bahkan bisa dibilang cengeng.
"Mou, ya sudah! Terserah kamu! Maaf kalau aku mengganggumu!" kata Eri ketus sambil berjalan meninggalkan Takumi.
"Oi… Takumi? Minta maaf, gih," saran Maki yang merasa tak enak pada Eri.
"Biarkan saja," jawab Takumi. "Sesekali dia memang harus diperlakukan agak keras supaya lebih dewasa, Maki,"
"HALO? Kamu sadar diri, dong, Takumi? Yang kouhai itu lo, bukan Eri!" seru Maki kesal. "Udah, deh! Mending kamu nyusul Eri dulu! Kamu enggak merasa bersalah, apa?!"
"Berisik, ah! Ayo, lebih baik kita lanjutkan saja pekerjaan kita dulu!" balas Takumi tidak mau kalah.
"Tahu, ah! Pusing aku menghadapi pasangan bodoh seperti kalian!" kata Maki sambil bangkit dari kursinya. "Lebih baik aku tidur saja di villa, bye!"
Maki pun berlalu karena kesal.
"Makanya jadi orang tuh jangan serius-serius banget, Takumi," tegur Nico sambil menepuk bahu kouhai-nya itu. "Aku susul Maki dulu, ya,"
Nah, 'kan? Lebih enak santai di kolam renang pribadi begini! kata Maki dalam hati sambil duduk di ban renangnya dan menikmati dirinya yang dibawa naik-turun oleh gelombang air di kolam renang villa-nya.
Saking rileksnya, kesadaran Maki mulai memudar hingga akhirnya terlelap di atas ban renangnya. Tanpa disadarinya tubuhnya tidak seimbang hingga ia tercebur ke kolam renang. Bukannya Maki tidak bisa berenang, namun siapa pun juga akan kesulitan ketika terbangun dalam posisi bahaya seperti itu. Karena panik Maki gagal kembali ke permukaan dan benar-benar tenggelam.
"Ma, Maki?! Ampun, deh, si bodoh itu!" seru Nico kaget begitu melihat tubuh ramping itu mengambang di kolam renang dengan keadaan tak sadarkan diri.
Dengan sigap Nico membopong pewaris tunggal rumah sakit Nishikino itu dan membaringkannya di sisi kolam. Tanpa ba-bi-bu, Nico pun berusaha menyelamatkan nyawa gadis itu dengan memberikannya nafas buatan.
Gawat! Agar airnya bisa keluar dari paru-parunya aku harus menekan dadanya, tapi… mana mungkin aku melakukannya, 'kan? Ini saja aku sudah terkesan seperti merebut ciuman pertamanya! pikir Nico panik.
Nozomi yang menyusul Nico hanya bisa berdiri mematung karena shock laki-laki pujaannya tengah mencium 'rivalnya' itu. Tidak, tidak! Nozomi berusaha berpikir sepositif mungkin sehingga dia berusaha melangkahkan kakinya untuk membantu Nico.
"Nozomi! Kumohon, bantu aku!" kata Nico yang sudah desperate. "Tolong tekan dadanya Maki agar air di paru-parunya keluar, oke? Kumohon padamu!"
Tanpa berkata apapun, Nozomi melakukan apa yang diminta oleh Nico. Namun anehnya air matanya terus menetes seolah berharap agar Maki segera sadar dan Nico menghentikan nafas buatannya.
"Uhuk! Uhuk!" Maki tersadar sambil memuntahkan air yang mengisi paru-parunya tadi.
"Haaaah… syukurlah…" kata Nico lemas sambil meluruskan kakinya.
"Nico-kun…? Nozomi…? Apa yang terjadi?" tanya Maki.
"Kau hampir saja mati, bodoh! Harusnya kau berterima kasih pada Nico-nii-sama ini dan Nozomi, tahu!" ujar Nico.
Maki berusaha mencerna kata-kata Nico. Akhirnya, dirinya sadar bahwa dirinya baru saja tenggelam dan Nico melakukan… nafas buatan untuk menyelamatkannya yang artinya first kiss-nya baru saja direbut oleh senpai-nya yang bermanik merah itu. Alhasil, semburat merah memenuhi wajah sang pemilik manik berwarna ungu itu.
"Te, terima kasih…" kata Maki pelan. "Terima kasih sudah menyelamatkanku, Nico-kun, Nozomi…"
Nozomi yang awalnya dilanda cemburu pun kembali jernih pikirannya karena berhasil menyelamatkan nyawa temannya itu. Nozomi pun membantu Maki kembali ke villa untuk menyuguhi gadis bersurai merah itu air gula hangat yang juga bagian dari pertolongan pertama. Sedangkan Nico kembali ke pantai untuk mengambil barang-barangnya juga menyuruh para member lain untuk segera kembali karena hari semakin gelap.
"Ah, kenyangnya…" kata Kazuya sambil tidur-tiduran di sofa ruang tengah begitu selesai mencuci piring bekas makannya sendiri.
"Kau benar-benar akan jadi sapi kalau setelah makan langsung tiduran, Kuzuya," tegur Takumi.
"Oh, ayolah… aku sudah bosan mendengar teguran itu dari ibuku!" dengus Kazuya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Setelah ini kita mau ngapain, nih?" tanya Rin. "Aku sih sudah menyiapkan kembang api, nya!"
"Enggak, enggak ada kembang api!" kata Takumi tegas.
"Jangan bilang kita masih akan latihan?" kata Kotori.
"Tentu saja! Kita enggak boleh menyia-nyiakan waktu sebagai tanda terima kasih pada ayahnya Maki, bukan?" jawab Takumi. "Sudah! Cepat kalian bangun! Kita ke studio di lantai tiga sekarang!"
"E, Eri-chan… katakanlah sesuatu…" rajuk Kazuya sambil bersembunyi di belakang Eri.
Eri menghela nafas. "Aku enggak ikut latihan, ya? Aku ingin mandi kemudian langsung tidur, jaa nee…"
Takumi terang saja geram dengan sikap Eri yang seenaknya sehingga dia menarik lengan kekasihnya itu dan memojokkannya ke tembok.
"Apa-apaan, sih, kamu?!" seru Takumi kesal. "Kamu enggak mikir apa kalau bunkasai sudah tinggal menghitung hari?"
"Berisik!" kata Eri dingin sambil melepaskan diri dari Takumi. "Aku juga akan menyusul kalau aku mau!"
"Ayase Eri!" Takumi semakin kesal dibuatnya. "Jangan bawa-bawa masalah pribadi, dong! Kamu berusaha menghindari aku atau latihan, hah?!"
Eri tak bisa menahan tangisnya. "Ngaca saja sendiri! Dasar enggak peka!"
Eri berlalu ke kamarnya sambil membanting pintu.
"Apaan, sih?" dengus Takumi. "Ya sudah, terserah kau saja!"
"Duh, Tacchan… udah, dong!" Nozomi berusaha menenangkan Takumi. "Mau sampai kapan kamu keras pada Ericchi? Kamu pikir karena Ericchi lebih tua darimu, dia harus selalu tahan banting, gitu? Ayolah, Ericchi itu perempuan! Jangan perlakukan dia sama seperti kami, terlebih lagi dia pacarmu, 'kan?"
Takumi menghela nafas. "Maaf, sepertinya aku butuh waktu untuk menyendiri terlebih dahulu,"
Takumi berlalu meninggalkan teman-temannya dan menuju balkon untuk mencari angin.
Mou! Bakka Takumi! rutuk Eri sambil membenamkan sebagian wajahnya ke dalam bath tub berisikan air hangat.
Tok! Tok! Hanayo mengetuk pintu kamar mandi Eri.
"Eri-chan? Jangan lama-lama berendamnya, nanti kamu pusing!" tegur Hanayo dari luar.
Meski samar-samar Hanayo dan Kotori dapat mendengar Eri yang terisak di dalam sana.
"Ano, Eri-chan? Apakah kamu butuh bantuan untuk keluar dari sana?" tanya Kotori. "Kamu pusing, enggak?"
"Masuk saja, hiks… pintunya enggak kukunci, kok…" jawab Eri yang sepertinya tengah membenamkan wajahnya di atas lutut yang ditekuknya.
Setelah membalut tubuhnya dengan kimono mandi, Hanayo dan Kotori membantu Eri kembali ke kamarnya untuk berbaring.
"Maaf, ya, Eri…" kata Maki sambil mengompres dahi gadis bersurai pirang itu. "Gara-gara aku kamu jadi bertengkar dengan Takumi,"
"Sudahlah, Maki," kata Eri. "Itu bukan salahmu, kok! Takumi sendiri yang memang menyebalkan!"
"Mau sampai kapan kamu marah sama dia, sih?" tanya Maki yang merasa tidak nyaman. "Bukankah itu hanya masalah sepele? Lebih baik kalian coba bicara baik-baik, deh… enggak enak latihannya kalau kita, trio yang menyusun step dance, lirik lagu, juga musik enggak akur, bukan?"
"Aku tahu…" jawab Eri sambil menahan tangis.
Maki menghela nafas. "Ayo, Hanayo, Kotori! Mungkin akan lebih baik kalau kita biarkan koreografer kita menyendiri terlebih dahulu!"
"A, ano, Maki-chan, lalu siapa yang nanti akan memberikannya sports drink?" bisik Hanayo.
"Huh, kamu kayak enggak ngerti saja apa maksudku," kata Maki. "Kita biarkan saja si penulis lirik enggak tahu malu itu agar peka!"
"Kalau begitu, kita biarkan saja pintu kamarnya terbuka, ya?" tanya Kotori.
"Nah, itu ngerti," kata Maki puas. "Yuk, kita berendam di pemandian terbuka di belakang!"
Eri dapat merasakan seseorang menempelkan sebotol sports drink dingin ke pipinya. Eri membuka matanya perlahan-lahan dan mendapati Takumi tengah duduk di ranjangnya sambil menatapnya khawatir karena merasa bersalah.
"Umm… yo, Eri? Bagaimana keadaanmu?" Takumi mencoba menyapa agar suasana tidak canggung.
Eri berbaring membelakanginya. "Mau apa kamu ke sini? Cepat tinggalkan aku, Takumi bodoh!"
Takumi membenamkan wajahnya ke bahu Eri. "Maafkan aku, Eri… aku sudah kasar padamu seharian ini dan enggak memerhatikanmu,"
"Kamu enggak akan keras padaku lagi, 'kan?" tanya Eri sambil bangkit dan duduk di bibir ranjang.
"Enggak, kok," jawab Takumi sambil memeluk kekasihnya itu dengan begitu erat.
"Janji?"
"Janji," Takumi menyambut uluran jari kelingking Eri sebagai simbol perjanjiannya dengan gadis itu.
"Kalau begitu, kamu mau ikut denganku keluar untuk mencari angin?" tawar Takumi. "Aku enggak bisa tidur,"
"Tentu!" jawab Eri dengan senang hati.
Keduanya berjalan-jalan menelusuri setiap sudut di lokasi wisata yang dekat dengan villa-nya Maki. Kemudian mereka memutuskan untuk mengunjungi salah satu tugu legenda sebelum kembali ke villa.
"Jangan lepaskan tanganku, ya," kata Takumi. "Soalnya, tangganya agak licin dan jalannya juga lumayan gelap. Kamu enggak takut, 'kan?"
"Untuk apa aku takut jika ada kamu di sampingku?" balas Eri sambil terkekeh.
Akhirnya, keduanya sampai di tugu yang dimaksud.
"Ah, kirei!" Eri berdecak kagum melihat langit malam musim panas yang penuh dengan bintang-bintang.
"Pasti Maki bakalan iri banget sama kita, ya?" kata Takumi sambil tertawa.
Eri pun teringat akan ucapan Nozomi tentang legenda tugu itu. Katanya, jika sepasang kekasih berciuman di depan tugu itu maka hubungan keduanya akan langgeng terus bahkan hingga berumah tangga.
"Karena ini sudah larut, bagaimana kalau kita—"
Ucapan Takumi terhenti begitu melihat Eri yang menarik jaketnya sambil memejamkan matanya. Takumi yang mengerti maksudnya pun memegang pipi kiri Eri dan mencium bibir kekasihnya itu. Baru kali ini Eri yang meminta sendiri ciuman dari Takumi sehingga jantung Takumi berdegup cepat karena gugup. Begitu ciuman itu selesai wajah keduanya menjadi merah padam karena belum pernah mereka merasa semalu dan segugup itu.
Takumi pun memeluk Eri dan membiarkan gadis itu membenamkan wajahnya di dadanya yang lebar. "Aku mencintaimu, Eri…"
"Aku juga," jawab Eri sambil menangis terharu. "Terima kasih untuk semuanya hingga saat ini, Takumi… aku mencintaimu, sangat mencintaimu,"
"Ja, jangan bilang begitu, dong!" seru Takumi sambil memegang kedua bahu Eri. "Kamu mengatakan seolah-olah ingin mengakhiri hubungan kita saja!"
"Tapi itu lah yang kurasakan, Takumi…" ujar Eri. "Aku bersyukur perasaanku telah sampai padamu, menjadi kekasihmu, dan karena itu lah aku enggak mau berpisah sedikit pun darimu,"
Takumi kembali memeluknya dan mengelus-elus punggung gadis itu. "Begitukah? Maaf, kukira kamu ingin putus atau semacamnya,"
"Bodoh! Mana mungkin, 'kan?" jawab Eri.
"Tapi, Eri… kamu yakin enggak mau lepas dulu dariku untuk sementara?"
"Tunggu, apa maksudmu?"
"Sebentar lagi kamu akan ujian kelulusan dan ujian masuk universitas, 'kan? Kupikir aku akan membuatmu tergang—"
"Bodoh! Takumi bodoh!" seru Eri. "Kenapa kamu enggak ngerti-ngerti, sih?!"
"Hei, aku bilang begini demi kamu!" Takumi membela diri.
"Aku enggak pernah menganggapmu pengganggu, tahu! Malah karena kamu aku menjadi semakin semangat untuk belajar!" ujar Eri.
"Benarkah?"
"Ya, kalau begitu bagaimana kalau aku berjanji padamu supaya tetap mendapatkan nilai yang terbaik dan hubungan kita tetap berjalan?" usul Eri.
"Huh, yakin kamu?" tanya Takumi sambil tersenyum usil.
"Hei! Kamu meragukanku?!" dengus Eri.
"Hahahaha… baiklah, baiklah! Akan kupegang omonganmu!" kata Takumi sambil memberikan kecupan di dahi Eri. "Makanya, belajarlah dengan sungguh-sungguh, oke?"
"Tentu," jawab Eri sambil tersenyum. "Arigatou, darling~!"
"Rasanya enggak mungkin kita balik ke kamar masing-masing, ya?" kata Takumi begitu mengintip kamarnya yang sudah enggak karuan lagi karena Kazuya dan Rin yang tidurnya ke mana-mana.
"Hahaha… aku juga sama, nih," kata Eri begitu melihat keempat teman perempuannya yang sudah menguasai ranjang di kamarnya.
Suasana pun menjadi canggung.
"Ka, kalau begitu… kamu mau tidur denganku di ruang tengah?" tawar Takumi yang sudah gugup luar biasa.
"Selama kamu enggak melakukan yang aneh-aneh padaku, sih?" balas Eri sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Enggak, lah! Ayo!" jawab Takumi sambil menarik lengan Eri.
Mereka mengubah sofa itu menjadi tempat tidur dengan melebarkan bagian bawah sofa tersebut. Kata Maki, ayahnya sengaja membeli sofa seperti itu agar bisa menonton pertandingan sepak bola dengan tenang tanpa takut sakit punggung.
"Jaa… oyasumi," kata Takumi sambil berbaring menghadap Eri.
"Umm… Takumi?"
"Ya?"
"Bolehkah aku tidur sambil terus memelukmu hingga pagi? A, aku agak takut soalnya,"
"Hahaha… sini, deh, sini," Takumi memeluk tubuh yang ramping itu bagaikan seorang ayah.
Hangatnya… kuharap, waktu berjalan lebih lama, gumam Eri.
"Krrrrr…" semua temannya mendengkur keras begitu mbok kepala pelayannya Maki mengemudikan mobil. Hari ini mereka akan pulang ke Tokyo dan oleh sebab itu lah ketujuh member lainnya tertidur pulas, kecuali Kazuya dan Kotori.
"Hihihi, Nico-kun menang banyak, tuh?" komentar Kotori begitu melihat Nico yang tidur diapit oleh Maki dan Nozomi yang bersandar di kedua bahunya.
"Syukurlah, semuanya berjalan dengan lancar, ya, Kotori-chan?" kata Kazuya sambil tetap asyik memotret teman-temannya yang sedang memasang mode 'aib' itu.
"Oh ya, kita belum foto berdua semenjak sampai di sana,'kan, Kazuya-kun?" Kotori mengingatkan.
"Wah, benar juga!" seru Kazuya.
"Kalau begitu, ayo, kita selfie dengan smartphone-ku!" ajak Kotori. "Hai, cheese—"
Chu! Kazuya sukses memberikan kecupan di pipi Kotori bertepatan dengan kamera yang merekam momen itu.
"Eh? EEEEEH?!" Kotori tentu saja kaget.
"Aku sudah memutuskannya, Kotori-chan," kata Kazuya sambil tersenyum.
"Me, memutuskan?"
"Mulai hari ini dan seterusnya enggak ada lagi hubungan tanggung," ujar Kazuya. "Ya, mulai hari ini kamu adalah pacarku, Kotori-chan!"
Mata Kotori berkaca-kaca. "Un! Terima kasih, Kazuya-kun!"
Training camp itu pun menjadi momen paling diingat untuk semuanya, terutama untuk gadis yang selama ini statusnya digantung karena kepolosan kekasihnya itu.
