.
.
.
.
.
.
Exo fanfiction by Lyla Angelica
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang Kim Jongdae merasa kesepian. Dia merasa member lain mulai membuat jarak satu dengan yang lainnya. Hingga sebungkus cokelat membuat semuanya berubah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Malam berlalu begitu cepat. Jongdae kali ini terbangun tanpa adanya gangguan, dia bisa dengan tenang membuka matanya dan merenggangkan tubuhnya. Hari ini mereka tidak memiliki jadwal, karena besok mereka akan ke Korea sehingga hari ini mereka manfaatkan untuk berkemas-kemas ataupun beristirahat. Kris tampaknya sudah bangun karena kasurnya kosong, sepertinya dia akan bermalas-malasan di sofa sambil menonton televisi dengan sekaleng soda di tangan.
Tapi Jongdae punya rencana lain. Jongdae berniat untuk jalan-jalan setelah menyiapkan kopernya. Jongdae buru-buru bangun dari kasur dan menarik koper hitam dari kolong tempat tidur, dia hanya mengemasi barang yang perlu dibawa saja. Jongdae baru saja selesai menutup kopernya dan berjalan keluar kamar untuk mencuci muka. Entah kenapa pagi ini mood nya sedang bagus. Jongdae mencuci mukanya dengan gumaman halus yang meluncur dari bibirnya.
BRAK
BRUK
PRANG
"Huh?" Jongdae menghentikan gerakannya seketika, matanya melotot dan rahangnya terbuka mendengar suara gaduh di pagi hari.
"Ada apa?!"
"Gege! Tolong aku!"
"Ya! Apa yang kau lakukan diatas meja-apa yang benda itu lakukan disini?!"
"Ya! Kris, kau berat!"
"Yixing! Makhluk itu menuju ke arahku-AAAAAAAAAAA!"
"Mana?! Mana?!"
"Lu ge! Hajar dia! Hajar!" "Singkirkan tanganmu dari wajahku Tao! Nanti kau yang ku hajar!"
"Xiumin! Awas, di kakimu!"
"Minggir!"
PRANG
"Wah! Dia kabur!"
"Rasakan ini!"
BRUAGH
Jongdae semakin menganga mendengar kegaduhan dengan bahasa campur aduk di dapur. Dia yakin tadi kaca kamar mandi bergetar saat suara yang terakhir terdengar. Jongdae mengambil handuk kecil dan mengelap wajahnya dengan tergesa-gesa. Dia buru-buru keluar kamar mandi dan berlari ke arah dapur. Pemandangan yang dilihatnya disana membuat rahangnya jatuh.
Ini adalah epic moment dimana Tao berdiri diatas meja, Kris yang terlihat bersembunyi di belakang Lay sedangkan Lay memegang pel, tak jauh dari meja tempat Tao berdiri ada Luhan dengan panci ditangan kiri dan wajan penyok ditangan kanan, kemudian ada Xiumin dengan rambut kusut khas bangun tidur. Mereka menatap...oven? Yang rusak parah dilantai? Belum lagi kenapa keadaan dapur seperti habis terkena tornado?
"Ada apa ini?" Jongdae memecah keheningan di dapur. Semua sontak menoleh ke arahnya.
"O..oh...itu...ta...tadi ada..." Ucapan Tao gagap dan bergetar seperti orang ketakutan.
"Ehm." Xiumin berdehem, menggaruk tengkuknya canggung. "Tadi ada...tikus." Xiumin tertawa garing, tidak percaya bahwa ia yang melemparkan oven ke arah tikus yang memicu kegaduhan di pagi hari yang tenang itu.
"Oh? Lalu tikusnya sudah mati?" Tanya Jongdae santai, seolah-olah ini adalah hal biasa. Memang sih. Pikirnya.
"Entah... Aku tidak mau melihatnya."
Jongdae berinisiatif maju untuk memeriksa tikus yang entah sudah bagaimana bentuknya di balik oven hancur dilantai. Ia tidak mau tahu sekuat apa Xiumin melempar oven itu. Jongdae mengangkat oven itu sedikit untuk mengintip keadaan si korban hari ini. Sementara yang lain menatap jijik.
"Ow..." Jongdae menurunkannya lagi. "Tikusnya sudah mati, aku yakin kalian tidak akan mau tahu bentuknya seperti apa." Ujar Jongdae. Yang lain bernafas lega, pundak mereka turun, Tao melompat turun dari meja dan ngacir ke kamarnya. Kris sudah kembali ke mode cool, lupa siapa yang berteriak paling keras tadi.
Jongdae mengambil kantong plastik hitam yang ada di counter dapur bekas cokelat kemarin malam untuk membuang bangkai tikus itu. Ia mengangkat oven itu sedikit untuk menyelipkan tangannya yang sudah tertutupi oleh plastik. Jongdae bisa merasakan daging lembek di tangannya, dengan cepat dia menggenggamnya dan memasukkannya ke dalam plastik lain beserta plastik yang dia gunakan untuk memegangnya.
"Kau tidak jijik dengan bangkai itu?" Jongdae menoleh ke arah Luhan yang ternyata sedari tadi memperhatikannya.
"Sedikit sih. Tapi mau bagaimana lagi, nanti kalian menangis kalau aku tidak membuangnya." Jongdae tetaplah Jongdae. Troll as ever.
"Hei, aku ini lebih tua darimu tahu." Luhan tersenyum tipis, hari ini perasaannya sedikit membaik daripada kemarin. Dia mengambil sapu dan membantu Jongdae untuk membereskan dapur yang kacau.
"Kau makan semua cokelat yang kemarin?" Tanya Luhan saat ia melihat tempat sampah penuh dengan bungkus merah muda.
"Tidak semua, aku sisakan beberapa di kulkas. Nanti aku yang akan buang bangkainya. Aku ingin jalan-jalan hari ini." Jongdae mencuci tangannya di wastafel setelah yakin mengikat plastik hitam itu dengan rapat.
"Kalau begitu nanti aku suruh Kris atau Xiumin untuk membantuku membereskan kekacauan ini. Kau jalan-jalan saja, kurasa kau butuh refreshing." Tentu saja Luhan tidak akan meminta tolong Lay untuk membersihkan dapur, mereka tidak akan pernah membiarkan Lay berjalan di dapur yang penuh dengan pecahan kaca walaupun memakai sandal. Kalau Tao, dia pasti punya 1001 aegyo untuk mengelak.
"Baiklah, aku akan ganti baju dulu." Jongdae pergi ke kamarnya, tak lama dia kembali ke dapur dengan pakaian olahraga.
Luhan mengangkat alisnya melihat jaket merah norak kebesaran yang dikenakan Jongdae. "Bukankah itu punya Kris?"
"Ini hangat. Aku pergi dulu Xiao Lu." Jongdae menyambar plastik hitam dan berlari ke luar dorm. Luhan terkekeh pelan, biasanya dia paling anti di panggil seperti itu oleh yang lebih muda darinya, namun entah kenapa dia merasa senang hari ini.
Hari ini adalah hari keberuntungan Jongdae. Dia bisa jalan-jalan di taman dengan tenang tanpa diikuti oleh fans. Memang ada beberapa yang memotretnya, namun sepertinya mereka menghargai privasi Jongdae yang ingin bersantai sehingga hanya memperhatikan dari jauh.
Jongdae duduk di bangku taman, dia sedikit lapar, untung dia sempat mengambil roti gandum milik Lay. Habisnya tergeletak begitu saja di meja. Jongdae membuka bungkus plastiknya dan akan menggigitnya sebelum melihat seekor kucing yang duduk di dekat kakinya. Mata kucing itu menatap roti yang di pegang Jongdae.
"Kau lapar kucing kecil? Ini, makanlah." Jongdae memberikan setengah rotinya pada kucing belang tiga tersebut, tersenyum manis melihat kucing kecil itu memakannya dengan lahap.
DEG
"Aduh..." Jongdae memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang, rasanya hampir menyakitkan.
"Kenapa ini? Akhh sakit sekali... Akhhh..." Jongdae tidak bisa memfokuskan pikirannya, yang dipikirkannya hanyalah rasa sakit, sakit, dan sakit. Semua disekitarnya buram, telinganya berdengung, kakinya lemas.
"Akkhh...tolo...ukkhh..." Jongdae berusaha meminta tolong, namun Dewi Fortuna sedang tidak bersamanya, daerah taman ini sepi karena tempatnya di ujung. Salahkan dirinya yang memilih tempat yang sepi untuk istirahat. Jongdae samar-samar bisa melihat kucing kecil yang diberinya makan tadi sebelum menghantam tanah yang keras.
Kakinya menyerah untuk menopang tubuhnya, matanya berat, nafasnya pendek. Namun rasa sakit di dadanya terganti dengan rasa panas di sekujur tubuhnya. Rasanya seperti terbakar, sama seperti saat dia demam tinggi beberapa minggu yang lalu. Perlahan kesadarannya semakin menjauh karena tidak tahan dengan panasnya.
"Ukh...sakit..." Bisik Jongdae sebelum semuanya gelap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Chen ge, tahu di-oh? Tidak ada di kamar?"
Tao memperhatikan kamar Kris dan Jongdae, kamar mereka sudah rapi dan tampaknya mereka sudah membereskan pakaian mereka. Tao tidak bisa menemukan kacamata hitamnya, terakhir kali Jongdae yang memakainya. Tao kembali ke ruang tengah dan melihat Luhan sedang memandangi ponselnya dengan wajah yang ditekuk.
"Gege, lihat Chen gege tidak?" Tanya Tao.
"Tadi dia bilang ingin jalan-jalan." Jawab Luhan tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Chen pergi?!" Suara teriakan terdengar dari arah dapur, kemudian kepala Lay mengintip dari dapur. "Kenapa dia pergi?"
"Dia ingin refreshing, sekali-kali kan tidak masalah Xing."
"Padahal belum sarapan tetapi malah pergi. Dasar anak itu." Lay mendumel di dapur, dia mematikan kompor dan mengambil mangkuk. Lay baru saja selesai memasak sup ayam untuk sarapan, padahal sudah pukul sepuluh pagi, namun mereka masih menganggapnya sarapan. "Ya sudah, aku sisakan saja untuknya."
"Xing, kau lihat jaket merahku?" Kris masuk ke dapur hanya menggunakan celana pendek dan kaus oblong.
"Tidak lihat, ini, makan dulu." Lay meletakkan semangkuk sup ayam di atas meja. Kris duduk di salah satu kursi dan mengambil mangkuk itu.
"Chen kemana?"
"Kata Luhan ge dia pergi keluar." Lay meletakkan empat mangkuk sup lagi di atas meja dengan tambahan sayuran segar untuk Tao. "Makanan siap!"
Mendengar kata 'Makanan' semua penghuni dorm segera ke dapur, Luhan, Tao dan Xiumin mengambil kursi yang biasa mereka tempati. Sementara Lay memasukkan sup ke dalam Tupperware dan menutupnya rapat. Dia memasukkan Tupperware tersebut ke dalam lemari pendingin.
"Itu untuk apa ge?" Tanya Tao dengan mulut penuh makanan.
"Untuk Chen, dia belum makan sejak pagi." Lay duduk di sebelah Kris dan menikmati sarapannya. Mereka makan dengan tenang. Setelah sarapan dan Xiumin yang harus mencuci piring, mereka melakukan hal yang diinginkan. Tapi entah kenapa Luhan tiba-tiba menjadi sangat emosional setelah melihat ponselnya. Entah apa yang dia lihat, namun wajahnya seperti menahan amarah, parahnya lagi Luhan mengumpat dengan wajah cantiknya yang sama sekali tak cocok.
"Sialan!"
PRAK
Luhan membanting ponselnya ke pojok ruangan. Tao yang sedang duduk di sofa bermain game bersama Kris hanya bisa menganga. Xiumin hampir saja menjatuhkan piring yang dicucinya mendengar suara keras dari ruang tengah. Luhan menatap ponselnya yang sudah tergeletak di lantai. Keadaan sunyi senyap, hanya terdengar suara game over dari game yang dimainkan oleh Tao dan Kris.
Luhan beranjak ke kamarnya dengan langkah yang di hentak-hentak. Kemudian membanting pintu dengan keras hingga membuat lukisan bunga di dinding terjatuh. Beruntung lukisan itu tidak memiliki kaca karena sudah pernah pecah sebelumnya, terimakasih pada Tao yang menghantamnya dengan tongkat wushu.
"Suara apa tadi?" Lay yang baru saja keluar dari kamar mandi mendapati Tao dan Kris yang masih terdiam. Kris mendengus kasar.
"Si rusa kutub kumat lagi." Jawabnya asal.
"Memangnya dia kenapa lagi?" Tanya Lay.
"Jangan tanya aku." Kris mengangkat kedua tangannya. Lay menatap Tao, sementara kungfu panda itu hanya menggeleng.
"Mungkin karena ini."
Mereka beralih menatap Xiumin, hyung tertua itu ternyata sedang memperhatikan ponsel yang dilempar oleh Luhan tadi. Tiga orang itu beranjak ke tempat Xiumin, mereka menatap layar ponsel Luhan yang retak seperti akar pohon. Ponselnya masih menyala dan menampilkan situs chat milik Luhan.
From : Bubble Hun
-Terserah kau saja! Aku tidak mau bicara denganmu lagi!-
five minutes ago
Mereka saling bertatapan, baru kali ini Sehun dan Luhan bertengkar sampai segitu parahnya. Bahkan Sehun tidak menggunakan bahasa yang formal.
"Sejak kapan mereka begini?" Tanya Xiumin dengan suara pelan.
"Tiga hari yang lalu..."
Mereka menatap Lay, akhirnya mereka tahu alasan kenapa Luhan tidak terlihat semangat pergi ke Korea. Ruang tengah tenggelam dalam kesunyian.
.
.
.
.
.
.
.
Entah sudah berapa lama Luhan tertidur, kepalanya sedikit pusing, dia terbangun karena mendengar suara ribut dari luar. Dia mencari ponselnya, namun tidak dapat ditemukan dimana-mana. Dibawah bantal, diatas meja bahkan dibawah kolong hingga akhirnya Luhan teringat sesuatu.
"Oh iya, aku membantingnya tadi..." Gumam Luhan. Luhan mengusap kedua matanya, berusaha menghilangkan kantuk. "Lagian itu ribut-ribut kenapa sih?"
Luhan keluar dari kamarnya, namun disuguhi dengan pemandangan yang aneh. Kris kasak kusuk sendiri dengan ponsel menempel di telinga, Xiumin apalagi, dia tidak berhenti mondar-mandir di depan televisi, member lain juga tidak jauh beda, mereka terlihat cemas dan panik.
"Bagaimana Kris? Sudah menyambung?"
"Sudah, tapi tidak di angkat."
"Astaga... Anak itu kemana sih?"
Luhan mengerutkan keningnya, kemudian dia bertanya kepada mereka, "Ada apa?"
Tao menatap Luhan, bibirnya dia gigit-gigit sendiri, "Chen gege belum pulang."
"Hah?" Luhan melihat jam dinding, sudah hampir pukul tujuh malam. Selama itukah Jongdae jalan-jalan?
"Bagaimana ini? Sudah malam tapi kenapa Jongdae belum pulang?"
"Xiu hyung, tenanglah..." Lay memperhatikan Xiumin yang resah di sebelah kanannya terlihat paling panik diantara mereka. Sementara dari sisi satunya dia mendengar umpatan-umpatan dari bibir Kris dalam bahasa inggris. Lay tidak mau tahu arti dari umpatan yang Kris ucapkan.
"Kita harus mencarinya."
Mereka menoleh ke arah Luhan secara bersamaan, Luhan memakai jaketnya dengan terburu-buru, hingga dia tidak sadar memakai jaket terbalik, bagian dalam diluar. "Kalian tunggu apa lagi? Cepat!"
Sentakan Luhan membuat mereka tersadar. Lay yang hanya memakai singlet langsung menyambar jas cokelat entah milik siapa di atas televisi. Mereka membuat keributan di pintu karena terlalu panik, Luhan langsung berlari entah kemana setelah berteriak untuk berpencar. Mereka juga berpencar, mengingat Jongdae yang tidak terlalu hapal daerah sekitar pasti memudahkan mereka untuk menemukan Jongdae ditempat yang pernah didatanginya. Mereka harus memastikan ponsel mereka selalu aktif, semoga saja mereka ingat untuk melakukannya.
.
.
.
.
.
.
Jongdae terbangun karena mendengar suara dari sekitarnya. Dia berusaha membuka matanya yang berat. Rasanya ada yang aneh. Jongdae merasa indera penciumannya semakin kuat. Dia mencium aroma tanah dan alkohol yang cukup kuat.
'Apa yang terjadi padaku?'
Jongdae memaksakan matanya untuk membuka,kemudian dia mendongak. Ada beberapa orang yang mengerubunginya, mereka adalah pria mabuk yang tampak mengerikan baginya.
'Mereka siapa? Kenapa mereka terlihat menakutkan?'
Salah seorang dari mereka mengucapkan sesuatu, tapi dia terlalu lelah untuk mendengarnya. Mereka meletakkan sebuah mangkuk di depannya, kemudian menuangkan alkohol ke dalam mangkuk itu, juga sepotong roti. Jongdae kembali menutup matanya saat mendengar mereka tertawa terbahak-bahak, dia merasa sangat lelah.
'Aku lapar, aku takut. Aku ingin pulang.'
Jongdae memundurkan tubuhnya perlahan, dia rasa dia sedang berbaring, sekitarnya juga terasa hangat.
'Siapapun... Tolong aku...'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ayolah Jongdae... Kau pasti tidak jauh." Kris memperhatikan penjaja yang berjejer di jalanan sekitar, Kris pernah mengajaknya kesini beberapa hari yang lalu. Dia memperhatikan setiap sudut jalan dan kios. Berharap menemukan Troll yang satu itu.
"Gege, kau dimana? Ini sudah gelap..." Tao bingung mau kemana, dia malah terlihat seperti anak hilang daripada mencari orang hilang. Alhasil dia malah berdiri saja didepan minimarket, Tao menggigit telunjuknya, matanya menatap nyalang kesana kemari.
"Bodoh... Aku meninggalkan ponselku..." Sekarang Luhan baru merutuki dirinya sendiri, dia tidak tahu bagaimana kabar yang lain, entah mereka sudah menemukan Jongdae atau belum.
Luhan berjalan ke arah taman, entah apa yang dia pikirkan namun dia hanya mengikuti instingnya untuk pergi ke sana. Dia yang pertama kali mengajak Xiumin dan Jongdae ke taman ini sambil memakan bakso ikan. Luhan mencari hingga ke sudut taman.
"Gege!"
Luhan menoleh ke samping, dia melihat Lay dan Xiumin yang berjongkok di semak-semak. Lay memberikan gestur pada Luhan untuk mendekatinya, sementara Xiumin terlihat seperti sedang mengintip. Luhan berlari kecil mendekati mereka.
"Ada apa?" Tanya Luhan begitu mencapai tempat mereka. Lay langsung menariknya untuk ikut berjongkok di sampingnya. Lay menyuruhnya untuk diam, kemudian dia ikut melihat keadaan di balik semak-semak seperti Xiumin. Luhan yang masih bingung tetap mengikutinya.
"Lihat mereka itu." Lay menunjuk sekelompok orang yang berkumpul di depan sebuah bangku taman.
"Mereka terlihat mencurigakan, aku punya firasat buruk." Xiumin memicingkan matanya. Salah seorang dari mereka mengangkat sebuah jaket merah. Luhan kenal betul dengan jaket merah norak yang mencolok itu.
"Itu jaket Kris! Chen memakainya sebelum pergi!" Luhan berdiri dan hendak menghampiri mereka, namun Xiumin lebih cepat menariknya kembali dan menahannya di tanah.
"Jangan bodoh! Kau bisa mati! Mereka ada delapan orang!"
"Tapi kita harus menolongnya gege!" Luhan berusaha bangun dari cengkeraman tangan Xiumin. Namun terkutuklah Xiumin dan kekuatannya, Xiumin berhasil menahannya tetap terbaring ditanah.
"Lepaskan aku gege! Biar aku lawan mereka!"
"Kita bertiga saja tidak akan kuat melawan mereka! Apalagi kalau kau sendiri!"
"Lalu kita harus bagaimana!?"
"Guys..."
"Aku sudah menghubungi Kris dan Tao, mereka akan datang tidak lama lagi."
"Mereka terlalu lama! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?!"
"Bersabarlah! Sebentar lagi pasti datang!"
"Bagaimana jika mereka tidak datang?!"
"Guys...hello..."
"Jangan pesimis! Aku yakin mereka akan segera sampai!"
"Bagaimana jika orang-orang itu melakukan sesuatu yang buruk? Bagaimana jika mereka melecehkan Chen?!"
"Ku bilang jangan pesimis!"
"Kau harus mendengarkan aku, Minseok!"
"Kau yang seharusnya mendengarkan aku! Aku lebih tua darimu, Luhan!"
"Guys..."
"APA?!" Mereka berteriak bersamaan ke arah Lay. Lay menunjuk ke arah kerumunan orang tadi.
"Mereka...sudah...pergi..." Ucap Lay pelan. Secepat kilat Xiumin melepaskan tangannya dari Luhan dan kembali ke posisi awalnya. Luhan menyusul di sampingnya. Tempat itu sudah sepi, hanya ada sebuah benda yang tergeletak di sana. Luhan adalah yang pertama keluar dari semak-semak dan berlari mendekati benda itu, Lay dan Xiumin juga menyusul Luhan. Tapi mereka hanya menemukan potongan kain, juga mangkuk berisi alkohol dan sepotong roti kotor.
"Hah?" Luhan membulatkan matanya, dia mengambil sebuah gelang yang tergeletak. Gelang sederhana dengan ukiran kayu yang bertuliskan Exo. Luhan ingat sekali Tao sangat antusias untuk mengukir gelang yang dibelinya bersama Kris. Hanya ada satu orang yang mau memakai gelang dengan ukiran yang aneh itu.
"I...inikan gelangnya Jongdae..." Ujar Xiumin pelan, berarti pakaian yang ada disini adalah milik Jongdae, tidak salah lagi. Lay hendak menyentuh pakaian itu saat ada sesuatu yang bergerak-gerak dari dalam pakaian itu.
"Gege! Kalian sudah menemukan Chen gege?!" Saat itu Tao dan Kris berlari ke arah mereka. Tapi mereka terlalu terpaku melihat sesuatu yang muncul dari balik pakaian yang tercecer di tanah.
Seekor kucing.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jongdae merasa seperti mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia membuka matanya dan memperhatikan sekelilingnya, dia seperti berada di dalam kantong baju, pengap namun hangat-tunggu. Kantong baju? Mana mungkin dia muat? Jongdae memajukan tubuhnya, (atau mungkin merangkak?) ke arah sumber cahaya yang dilihatnya. Begitu dia sudah terbebas, dia mendongak ke atas.
Dia melihat wajah semua membernya. Jongdae berteriak senang, namun suaranya terdengar aneh. Seperti rintihan anak kucing. Dia coba memanggil Xiumin.
Meow
Jongdae ingin menangis mendengar suaranya sendiri. Dia memanggil nama membernya yang lain, dia hanya bisa mengeluarkan kata meong.
"Gege, kenapa aku merasa tidak asing dengannya?"
Jongdae menatap Tao, dia terus memanggil nama Tao. Namun anak panda itu hanya menatap bingung padanya. 'Tao! Ini aku!' Jongdae terus mengeluarkan kata meong sekeras apapun dia berusaha.
"Kenapa kucing itu ada di tempat seperti ini?" Kris mengangkat kucing kecil yang terus-menerus mengeong sedari tadi. Kucing itu sangat lucu dengan bulu berwarna abu-abu. Kucing itu terlihat tidak nyaman di tangan Kris.
"Kris, ini adalah baju yang dipakai Chen saat dia pergi, juga barang-barangnya, bahkan celana dalam..." Lay memeriksa pakaian itu, kemudian dia melihat kucing yang sedang di pegang Kris. "Tapi kucing itu muncul dari dalam pakaian Chen..."
Kris menatap Jongdae, memutar tubuhnya, bahkan menjungkirbalikkan tubuh malang Jongdae yang sudah menjadi kucing itu. "Lalu itu kenapa ada mangkuk dan roti?"
"Tadi ada sekumpulan orang mabuk, mungkin mereka yang meletakkannya."
Kris menatap mata kucing yang sudah berhenti mengeong, mana mungkin kalau kucing ini...
"Chen?" Panggil Kris ragu. Sementara yang lain menatap Kris aneh karena berbicara pada kucing. Mereka terkejut saat kucing itu mengeong.
"Jongdae?" Kali ini Xiumin yang memanggil, kucing itu menoleh ke arah Xiumin dan kembali mengeong.
"Chen gege?" Tao juga memanggil, kucing itu menoleh ke Tao dan mengeong. Kris melempar kucing itu ke tumpukan pakaian. Jongdae berusaha bangun dengan keempat kakinya dan duduk diatas pakaian.
"Kau siapa?! Apa yang kau lakukan pada Chen?" Kris menunjuk Jongdae yang hanya menatap ke arahnya.
'Ini aku! Kim Jongdae!' Ucap Jongdae, tapi apa daya dia hanya bisa mengeluarkan kata meong.
"Chen? Ini benar kau? Angkat tangan-maksudku kaki depanmu jika kau memang Chen." Ucap Luhan. Dalam hatinya dia berharap kucing itu tidak melakukannya. Tapi kucing itu mengangkat satu kaki depannya. Mereka terdiam dengan mata melotot.
"Di-di-di-dia... Dia..." Xiumin tidak bisa melanjutkan ucapannya, matanya bisa keluar dari tempatnya kapan saja.
"Mustahil..." Bisik Luhan. Dia melongo jelek menatap Jongdae dalam wujud kucing.
"Astaga... Joonmyeon akan membunuhku..." Kris menarik rambutnya frustasi, otaknya yang jenius berusaha mencerna semua hal yang terjadi.
"Sebaiknya kita pulang. Kalian bawa Jongdae dan pakaiannya. Aku mau melamun dulu." Kris bicara sesuka hatinya dan pergi meninggalkan mereka. Mereka hanya saling tukar pandang, kemudian Tao mengangkat Jongdae dan memasukkannya ke dalam jaket besarnya, Jongdae tidak mau melawan karena selain lelah jaket Tao terasa hangat. Sementara Lay dengan baik hatinya memungut pakaian Jongdae yang berceceran, plus gelang yang dipakainya. Kemudian mereka semua menyusul Kris.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf jika saya lama update m(_ _)m
Maaf jika chapter ini mengecewakan m(_ _)m
