Kamis malam, dua hari setelah pengakuan Ren kepada ketiganya tentang ke-enam pemerkosanya. Sedikit ada perubahan dari Ren. Ia mulai mau makan, mandi dan melakukan aktivitas lain. Tapi tentu saja ia tetap tidak mau pergi keluar dari apartment. JR menahan dirinya untuk tidak membunuh ke-enam orang itu, terlebih untuk Yongguk dan Zelo. Dia begitu membenci mereka. Mereka yang memperkosa Ren lalu meninggalkannya sendirian.

Minhyun dan Aron pergi menuju Tension Club, club yang mereka sewa untuk party. Tentu saja keduanya pergi untuk mematangkan semuanya, untuk acara yang akan dilaksanakan besok pukul 11pm.

Setelah makan malam satu jam yang lalu, Ren segera masuk ke dalam kamarnya, sedangkan JR membereskan semuanya sendirian. Namun, ketika JR selesai membereskan semuanya, ia tidak tahu harus melakukan apa. Menghubungi Aron dan Minhyun untuk bertanya tentang semuanya sudah, dan mereka menjawab akan kembali ke apartment sekitar satu jam lagi—jika tidak macet.

Maka, JR memilih untuk melangkahkan kakinya ke arah kamar dan mengetuk pintunya.

Tok tok

"Ren?" kata JR.

Ada sahutan kecil dari dalam, menyuruhnya untuk masuk.

JR membuka pintunya dan masuk ke dalam. Ia dapat melihat Ren meletakkan topeng berwarna putih, yang akan digunakannya besok malam. JR menutup pintu, tersenyum dan berjalan mendekati Ren.

"Kau yakin... mau datang besok?"

Ren tersenyum dan menarik JR mendekat. Dia menyentuh kerah kaos yang JR gunakan dan JR terlihat kaget dengan perlakuan itu.

"Aku perlu membalaskan dendamku, JR..." Ren berbisik tepat di telinga JR.

JR mendorong tubuh Ren perlahan. "R-Ren..."

Ren menarik tubuh JR lagi. Lebih mendekat, lebih bersentuhan. "No. I know you want me..."

JR menelan ludahnya. Hasratnya tergoda dengan perlakuan ini namun akal sehatnya melarangnya.

"N-no. P-please Ren..." JR berusaha mendorong lagi tubuh Ren dan menjauhkan pandangannya. "D-don't do this..."

"I know you want this, JR..."

Ren menjilat perlahan pipi JR.

"F-fuck! Stop... stop it Ren!" JR mendorong tubuh Ren menjauh dengan lumayan keras.

Ren memiringkan wajahnya dengan tatapan memelasnya. "Kau tidak menginginkan aku? Bukankah... kau mencintaiku, JR?"

"B-bukan begitu Ren... a-aku tidak bisa..."

"Why?" Ren berbisik dan mendekat lagi ke arah JR. JR terdiam. "Aku single sekarang... I'm free..." Ren mengecup sudut bibir JR.

JR merasakan bahwa tubuhnya tidak bisa menolak perlakuan itu.

"R-Ren... Ren... kau harus istirahat... please, jangan lakukan ini..."

"JR..." Ren mendesah pelan di telinga JR. Perlahan mulutnya turun, menyentuh leher JR lalu mengendusnya. "Hm... don't you want me?" jari Ren menyentuh dada JR, turun perlahan menuju perutnya lalu ke dalam kaos yang JR kenakan.

"Hentikan ini sebelum kau menyesal, Ren..." JR menahan napasnya.

"I want you..." Ren menjilat leher JR.

JR mendorong tubuh Ren perlahan lalu menahan bahunya. Ia menatap namja cantik yang memandangnya sayu.

"I love you." Ren mencium kilat bibir JR.

JR menggeleng pelan. "Tidak... k-kau bohong Ren..."

Ren menatapnya dan ikut menggeleng pelan. "I love you..."

"Ren, kau tidak boleh main-main dengan—" Ren mendekat lagi lalu mencium bibir atas JR. "—kata cinta. Kata cinta bukan... untuk main-main Ren..."

Ren tidak membalas ucapan JR. Ia mencium lagi bibir atas JR, lalu beralih ke bibir bawahnya. JR menahan dirinya sekuat tenaga agar tidak membalas ciuman itu. Namun, perlahan ia kalah dan akhirnya menarik pinggang Ren, membawanya mendekat lalu membalas ciumannya.

Ren menyeringai dalam ciuman itu. Ia menangkup pipi JR, menciumnya lebih liar dan mengeluarkan lenguhan pelan yang membuat JR semakin tergoda.

"Mmh~"

Sorry, Baekho. Aku mencintai Ren. Aku tidak bisa menahannya.

JR membelai paha Ren sebelum Ren mengaitkan salah satu kakinya di pinggang JR. JR meraihnya, menaikkan satu kaki Ren lagi pada pinggangnya dan mendorongnya ke dinding.

Ren menggigit bibir atas JR dan menjilatnya. Mempersilahkan lidah JR untuk masuk, merebut lidahnya lalu menghisapnya.

"Umh~ mm~"

JR yang tidak tahan segera meraih celana tidur Ren, mendorongnya turun bersama celana dalamnya. Ren mengangkat tubuhnya untuk membatu JR melepaskan celananya. Ren mendesah pelan ketika tubuh JR bergesekkan dengan juniornya. JR menghentikan ciuman, beralih menuju leher Ren dengan napas memburu dari keduanya.

"Ngh~ J-JR..."

JR—yang sudah tidak bisa mengontrol nafsunya—membuka resletingnya, menurunkan celana dan boxernya, memperlihatkan miliknya yang sudah menegang karena suara desahan Ren sejak tadi.

Ia sudah lama menanti momen ini. Ia tidak akan melepaskannya begitu saja.

"Kau yakin?" JR bertanya dengan nada mendesah.

Dia menjilat leher Ren, mengecupnya lalu menghisap dan menggigitnya. Ren melenguh. Mendorong tengkuk leher JR untuk memperdalam hisapannya.

"Do it, Baby..."

JR menyeringai, menarik tubuh Ren sedikit ke atas, mengarahkan miliknya tepat di depan hole Ren lalu mendorongnya perlahan.

"A-anhh..." Ren mencakar bahu JR yang tertutup kaosnya.

JR mendesah pelan, mendorongnya dalam sekali hentakan hingga tertanam sempurna di dalam tubuh Ren.

"A-ah... feels good... sudah lama aku menantikan ini... hhh..."

Dengan mulut yang terbuka, Ren menjilat bibir JR dan menggigit bibir bawahnya. "Then, move it, Baby..."

JR segera merebut mulut Ren dan menciumnya dengan lebih liar. Ren memeluk leher JR sementara jarinya ia kubur dalam rambut JR. JR bergerak, dari perlahan dan kemudian menaikkan temponya.

"Ngh~ nnh... nh~"

JR mengeksplor seluruh mulut Ren dengan lidahnya, menghisap bibir atas dan bawahnya dengan liar dan kelaparan. Ren membantu JR bergerak dengan cara menaikkan pinggulnya lalu menghujamkannya seperti deru napas mereka. JR menahan kaki Ren yang ia rasakan melemas, namun tidak menghentikan aktivitas in-out-nya di dalam tubuh Ren.

JR melepaskan ciuman dan kembali pada leher Ren, membuat banyak kissmark disana.

"Anhh... anh..."

Ren mendesah dengan suara seduktif yang membuat JR bergerak semakin liar.

"Ahn... I-I really.. nhh.. angh... want this, JR... oh..."

"Nh... me too..." JR beralih dan menggigit telinga Ren.

Desahan Ren semakin terdengar menggoda ketika JR mempercepat gerakannya. Dengan wajah Ren yang memerah dan pandangannya yang sayu membuat JR tidak bisa menghentikan semuanya, sehingga ia tidak menyadari bahwa pintu utama terbuka ketika Aron dan Minhyun sampai disana.

"Ah... anh.. f-faster JR... anh..."

Minhyun dan Aron yang semula mengarahkan pandangannya—untuk mencari dimana Ren dan JR berada—mulai bertatapan satu sama lain. Perlahan, mata mereka membulat lebar ketika mendengar suara desahan Ren yang terdengar lebih jelas.

Sementara di dalam kamar, setelah Ren lebih dahulu keluar, JR memperkeras hujamannya, mengenai sweet spot Ren dan akhirnya mencapai klimaksnya.

"A-ah ah.. JR~"

"Ngh.. Ren~! Ahh... it's fucking hot..."

Bruk!

Dan ketika pintu kamar terbuka, Ren dan JR mengalihkan perhatiannya ke arah Minhyun dan Aron yang memandang mereka tak percaya.

"What the fuck are you doing?!" Minhyun berteriak. Tangannya menarik bahu JR, membuatnya terlepas dari Ren dan segera menonjok rahangnya.

Ren segera beranjak ke arah ranjang, menarik selimutnya lalu mengubur dirinya. Aron menarik tubuh Minhyun yang berhasil memukul JR lagi di wajahnya.

"Fuck!"

"Hey, hey... Minhyun, stop!"

Aron menarik tubuh Minhyun menjauh dari JR dalam sekali hentakkan. JR mengusap darah di sudut bibirnya lalu menaikkan celananya kembali.

"F-fuck! Apa yang salah pada kalian, hah?!"

Aron memeluk Minhyun, berusaha menenangkannya.

"Ssh, ssh, tenang Minhyun."

Minhyun mendorong kasar tubuh Aron menjauh. "Argh! Kita bicara di ruang tengah!" dia berteriak lalu melangkahkan kakinya kasar ke arah ruang tengah.

Dan hanya Aron yang tahu bahwa Minhyun mencintai Ren. Bukan karena Minhyun pernah mengakuinya, tapi dari perlakuannya untuk Ren—walaupun sejauh ini Minhyun berhasil menyembunyikannya.

Aron memandang JR sebentar, menarik napas lalu menyusul Minhyun ke ruang tengah. JR terdiam selama beberapa saat. Menatap Ren yang mengubur dirinya di dalam selimut kemudian, lalu menutup pintu dan keluar.

"Jaljayo..." bisiknya sebelum menutup pintu.

JR melangkahkan kakinya dengan pasrah ke arah ruang tengah, dimana Minhyun dan Aron sudah menunggunya di sana di sofa panjang yang sama. JR mendudukkan tubuhnya perlahan di sofa single hadapan mereka—terhalang oleh sebuah meja berbentuk persegi panjang.

"Sekarang jelaskan semuanya." Minhyun yang masih dalam emosi segera bertanya.

Aron dapat melihat Minhyun mengepalkan tangan dalam genggamannya, sedangkan JR mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

"Aku tidak tahu..." JR mendesah pelan.

"Tidak? Tidak tahu?!" Minhyun menggertakan giginya. "Fuck you! Dia diperkosa beberapa hari yang lalu dan sekarang kau—"

"Ren yang menginginkan ini! Dia yang menggodaku!" JR berteriak.

Minhyun melebarkan kedua bola matanya, tak lebih dari apa yang Aron lakukan sekarang. "Itu tidak mungkin, Brengsek! Apa yang kau lakukan? Argh!"

JR mengacak rambutnya frustasi. "P-pikiranku kacau... shit, aku tidak bisa mengontrolnya. Ini semua terasa—"

"You fuck him! God! Kita menemukan dia diperkosa oleh enam orang beberapa hari yang lalu dan sekarang kau—shit! Apa yang salah pada otakmu?!"

"I don't know!" JR membalas teriakan Minhyun. "Aku sama sekali tidak tahu!"

"Guys, bisa bicarakan ini baik-baik..." Aron buka suara. "Tidak seharusnya kalian saling berteriak, lagipula ini sudah malam."

JR mengusap wajahnya lagi dan mendesah berat. "I'm so sorry. Ini semua diluar akal sehatku. Aku benar-benar tidak bisa mengontrolnya. Aku... aku hanya masuk ke dalam kamar, melihat Ren menyiapkan topeng untuk besok, lalu Ren menarik dan menggodaku... dan... dan... aku sudah melawannya dan—"

Minhyun yang geram memotong kalimat JR. "Dan kau menidurinya! Bisakah kau cari orang lain untuk kepuasa—"

JR memukul meja dan berdiri dari duduknya. "Itu bukan untuk kepuasaan! Itu semua karena aku mencintainya!"

Kedua mata Minhyun membelalak lebar mendengar pengakuan itu, sedangkan Aron mendesah berat dan mengacak rambutnya. JR terdiam beberapa saat menyadari kalimatnya, lalu kembali duduk dengan perlahan sebelum mengubur wajahnya lagi dengan telapak tangannya.

"Sorry... I'm so sorry... tapi aku mencintainya... dan itu sudah sejak lama..."

Minhyun menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan mengubur wajahnya dengan telapak tangan. Dia tidak tahu harus apa sekarang. Baekho meninggal. Ada rasa senang dan sedih. Sedih karena Baekho adalah teman baiknya dan senang karena Ren sendiri sekarang. Tapi... JR dan Ren telah melakukan...

"And he loves me too..." JR berbisik pelan.

Minhyun menjauhkan tangannya. "Itu tidak mungkin, JR."

"Jika itu tidak mungkin, kenapa ia menggodaku dan memintaku untuk melakukannya ketika aku sudah menolak untuk hal itu?"

"Argh!" Minhyun berteriak dan mengacak rambutnya frustasi. "Dia tidak mungkin mencintaimu, JR! Dia mencintai Baekho!"

"Dia membalas ciumanku, ketika aku menciumnya sehari sebelum kelulusan!"

Dan Minhyun merasakan napasnya terhenti.

"Oh God..." ia mengubur wajahnya lagi dan mendesah pelan. Rasanya sudah tidak ada kesempatan lagi untuknya. Tidak ada kesempatan untuk ia memiliki Ren.

"Guys... please stop, okay? Ren hanya sedang bingung sekarang. Kematian Baekho dan dirinya diperkosa terjadi pada satu waktu yang sama, dia pasti bingung dengan semuanya. Ini semua hanya... hanya pelampiasan... maksudku..." Aron menggigit bibir bawahnya ketika ia tidak tahu kalimat apa yang harus ia ucapkan selanjutnya.

JR mengusap darah di sudut bibirnya yang sobek. "Maaf... maaf jika membuat kalian kecewa dengan apa yang aku lakukan tadi... tapi sungguh, aku mencintai Ren... biarkan aku—"

Minhyun menggeleng. "Tidak. Kau tidak bisa memilikinya JR..."

"A-aku akan menunggu... aku hanya—"

"Tidak, kau tidak bisa JR..."

"Tapi dia mencintaiku, Minhyun!" JR berteriak.

"DAN AKU JUGA MENCINTAINYA!"

Ren yang mendengar teriakan itu dari dalam kamar hanya bisa menutup telinganya seraya menggigit bibir bawahnya di dalam selimut. Tidak peduli dengan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.

"Please... jangan mencintaiku..."

-000-

HALOOOOOOO

SAYA BALIK LAGI DENGAN CHAPTER DUAAAAAAAAAAAAAA

Gimana gimana?

Aku pengen tahu pendapat kalian tentang ff iniii

Isi kotak review ya guuuuyss ^^

Sweet Venus : Makasiiih, pasti dilanjuuuut kook :)

swag. crack : Aaaaaa jinjjayooo? Thanks bangeeet aku seneng pada suka ff iniiiii

Ryu : Di chapie ini masih bingung ga? :) oh ya udah baca "Watch It!" belum? Soalnya ini sekuelnyaa

Jisaid : Thankseeuuu :3

Xelo : Ga hehe, soalnya pada pengen ada sekuelnya dari watch it. Iya makasih yaaaa :D bakal semangat kuliahnya kalau readers pada dukung ehehehe

.

.

Thanks a lot for

Sweet Venus swag. crack Ryu Jisaid Xelo

Seeya :D