Hoho, gomen... lama ya update-nya? -_-"

Maaf banget, seriusan maaf banget, ya... :'( soalnya, mbak author capek bangedh akhir-akhir ini karena mesti bolak-balik ke Depok supaya hafal rute ke kampus juga karena sempat blank ketika pengerjaan chapter ini, hontou gomeeeen!

Kalau dipikir-pikir, kayaknya mbak mulai sering sekalinya update puanjaaaang banget gitu, ya? Ahahaha... iyak, mbak juga merasa, kok -_- tapi mbak harap kalian enggak bosan, sih, ya... mbak juga ada alasan kenapa chapter yang mbak post semakin memanjang, hehe... well, check it out!

Bunkasai

"Surpriiiiiise!" seru Rin heboh sambil menunjukkan foto-foto TC yang telah dicetaknya.

"Uwaaah… nice, Rin-kun!" puji Kazuya.

Takumi hanya senyum-senyum sendiri melihat kumpulan foto dirinya dan Eri, namun saat dia melihat foto di tumpukan paling bawah dirinya kaget bukan main. Eri yang penasaran pun ikut melihat dan juga tak kalah kaget.

"Fufufu, kalian ternyata sudah melangkah ke step itu, ya? Kalian benar-benar sudah dewasa sekarang, ya…" kata Nozomi dengan nada mesum. "Ibu bangga pada kalian, hiks…"

"Tunggu, tunggu, tunggu! Ini salah paham!" seru Takumi mencoba membela diri. "Daripada itu, siapa yang memotret kami saat tidur di ruang tengah?!"

"Aku, kenapa memangnya?" jawab Maki cuek sambil mengacungkan tangannya.

"Ma, Ma, Maki…? Kenapa?" tanya Eri shock.

"Hahahaha… lumayan untuk pelampiasan," ujar Maki. "Pacarmu itu lumayan bikin kesal gara-gara keegoisannya itu, sih,"

"HAH? Tunggu, memangnya aku salah apa sama kamu, Maki?" tanya Takumi.

"Enggak gitu, sih… aku hanya kesal karena kamu keras pada Eri saat TC kemarin," jelas Maki. "Nah, begitu kulihat kalian tidur berdua kusimpulkan kalian sudah berbaikan jadi… ya kuabadikan saja sekalian,"

"Di luar dugaan kalian sudah selengket itu, ya?" kata Nico. "Bahaya juga, nih…"

"Ti, ti, tidur satu ranjang…?" Hanayo konslet lagi.

"Kalian berempat juga enggak menyisakan ruang untukku, 'kan!" Eri membela diri.

"Kazuya dan Rin juga tidurnya udah enggak karuan!" tambah Takumi.

"Wajar, dong! Kami 'kan capek banget!" kata Kazuya. "Siapa suruh kamu ngasih kita menu latihan neraka kayak gitu?!"

"Aku juga biasanya kalau tidur kalem-kalem aja, nya!" timpal Rin. "Kayo juga tahu itu!"

"Sebentar? Jadi, kalian juga sering tidur bareng?" sela Nico.

"Kadang-kadang, nya! Dan aku juga enggak melakukan yang aneh-aneh pada Kayo, kok!" ujar Rin. "Memangnya aku Takumi-kun yang main nyosor bibir anak orang pas lagi tidur dan di depan mata kita semua?!"

Eri pun menarik dasi Takumi dan menatapnya tajam. "Jadi, kamu benar-benar menciumku saat kita berangkat ke villa-nya Maki waktu itu, ya, Takumi? Hmm?"

"Bu, buat kenang-kenangan, 'kan?" kata Takumi sambil nyengir.

"Kalau aku jadi Takumi-kun rasanya aku juga mengerti, kok, Eri-chan," kata Kotori. "Takumi-kun melakukannya karena Eri-chan sangat cantik dan juga karena Takumi-kun sangat menyayangi Eri-chan, hehehe…"

"Terus? Karena saking sayangnya padaku, kamu sampai hati membuatku malu, gitu?" tanya Eri.

"Oh, ayolah…" kata Takumi. "Lagian yang tahu hanya anak-anak µ's, bukan Bu Minami, 'kan?"

Eri pun menyerah. "Ya sudahlah, kamu kumaafkan,"

"Yatta~" sorak Takumi.

"Kalau begitu, boleh kulihat foto-foto yang kamu pegang itu?" pinta Eri.

"Tentu," jawab Takumi sambil menyerahkan foto-foto itu.

Eri melihat foto-foto itu satu demi satu. Wajahnya mulai memerah begitu melihat foto saat Takumi mencium bibirnya juga lehernya.

"Bagaimana? Bagus, 'kan, hasil potretannya Rin?" kata Takumi.

"Mou! Bakka!" seru Eri kesal juga malu.

"Permisi!" kata Wada, si anak OSIS yang kepo waktu itu sambil masuk ke ruang klub peneliti idol.

"Dasar, kau ini enggak ngerti etika, apa, Wada? Ngetuk pintu, tapi sambil masuk juga!" dengus Nico.

"Enggak usah bawel, deh, mas trouble maker," respon Wada cuek. "Aku juga enggak akan repot-repot ke klubmu yang enggak jelas ini kalau enggak ada keperluan!"

"Apa katamu?!" seru Nico yang naik pitam.

"Te, tenanglah, Nico-kun!" Kazuya berusaha menahan tubuh Nico dengan dibantu oleh Rin sebelum dia menghajar Wada.

"Ampun, deh, Wada…" kata Eri sambil menghela nafas. "Padahal aku juga bagian dari klub ini, tapi kamu masih saja menghinanya,"

"Justru karena kaichou ada di sini aku jadi tak bisa menerimanya," ujar Wada.

"Cukup! Jangan bertele-tele! Cepat katakan keperluanmu sebelum kau kuusir dengan paksa!" seru Takumi yang juga mulai kesal.

"Oh, jadi cowok ini yang digosipkan ada hubungan spesial denganmu, ya, kaichou?" komentar Wada. "Memalukan banget, deh? Padahal posisi lo itu ace di klub Kyuudo, tapi lo malah buang-buang waktu dengan jadi banci tukang joget di sini,"

"Di OSIS juga masih banyak laki-laki yang lebih baik dari dia, kok, kaichou," lanjut Wada. "Aneh banget ketua sehebat Ayase Eri bisa suka sama Sonoda Takumi!"

"Jangan bicara seenaknya, Wada! Kamu bahkan enggak tahu apa-apa soal Takumi!" seru Eri.

"Siapa bilang aku enggak tahu? Aku tahu kalian sering bermesraan di ruang OSIS, Ayase-san," ujar Wada. "Untuk ukuran kouhai kurang ajar juga kau, Sonoda Takumi,"

Takumi tidak bisa membalas ocehan gadis berambut pendek seperti laki-laki itu sehingga dia hanya bisa menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Hentikan, Wada!" seru Nozomi.

"Oi, oi! Aku ngomong sesuai kenyataan, lho, mbak wakil ketua? Jangan-jangan mbak membela kaichou yang jelas-jelas melanggar peraturan sekolah kita ini?" kata Wada.

"Mau Ericchi jadian dengan Tacchan itu 'kan bukan urusanmu, Wada!" tegas Nozomi. "Sudahlah! Cepat katakan apa keperluanmu!"

"Toujo-san dan kau," kata Wada sambil menunjuk Nico. "Kalian dipanggil oleh anak-anak panitia bunkasai, sekarang! Enggak pakai lelet!"

Wada pun berlalu sambil menutup pintu dengan agak kasar.

"E, Eri-chan… apa biasanya Wada-senpai seperti itu?" tanya Hanayo.

"Entahlah, aku juga enggak ngerti," jawab Eri. "Aku bahkan enggak ingat pernah membuatnya sakit hati atau apa, tapi semenjak aku bergabung dengan µ's dia jadi sentimen begitu padaku,"

"Lo juga, sih, Takumi!" Nico mulai menyalahkan Takumi. "Makanya, jangan cium anak orang di sekolah, dong!"

"Iya, iya, maaf…" kata Takumi. "Semua ini salahku, iya, aku ngerti!"

"Apa jangan-jangan Wada-senpai itu iri sama Eri-chan yang memang beruntung banget, nya?" celetuk Rin. "Cerdas baik di bidang akademik dan non-akademik, punya pacar yang seorang ace klub Kyuudo, juga school idol yang disukai banyak orang! Aku yakin, Wada-senpai itu sebetulnya sirik pada Eri-chan!"

"Jadi, maksudmu Wada-senpai itu suka pada Takumi-kun, begitu?" tanya Kotori.

"Ah, iya, iya! Bisa jadi begitu!" kata Kazuya.

"Hei, hei, sudahlah… enggak baik menuduh orang sembarangan!" tegur Takumi. "Mau dia suka padaku atau berusaha menghambat µ's, aku enggak akan membiarkannya! Kalau mau ribut, ayo saja ribut sekalian! Aku enggak peduli mau dia itu senpai atau anak OSIS!"

"Sabar, Takumi… sabar!" Maki berusaha menenangkan Takumi.

"Kalau begitu, aku dan Nozomi mau menemui anak-anak panitia dulu, ya!" kata Nico sambil beranjak dari kursinya.


"Pertunjukan drama yang dipersembahkan oleh tiga angkatan?" kata Nico setelah anak-anak panitia menjelaskan maksud menyuruhnya dan Nozomi kemari.

"Benar, karena Yazawa-kun sendiri juga tahu jumlah murid di sekolah kita ini sedikit, bukan? Jadi, kami sebagai panitia memutuskan untuk membuat pertunjukan yang pemainnya adalah semua angkatan di sekolah ini sekarang," ujar Inaba, si ketua pelaksana bunkasai tahun ini.

"Lalu? Drama apa yang akan kita mainkan?" tanya Nozomi.

"Romeo dan Juliet, tetapi dengan beberapa perubahan yang telah disusun anak-anak klub drama," jawab Inaba.

Tiba-tiba salah satu panitia membisikkan sesuatu ke telinga Inaba dan yang bersangkutan pun berpikir sebentar kemudian manggut-manggut.

"Nah, Yazawa-kun, Toujo-san, bagaimana kalau kalian yang jadi tokoh utamanya?" tawar Inaba.

"HAH?!" Nico tentu saja kaget. "Lo gila, apa?! Drama-nya 'kan mulai setelah kami live! Lo enggak mikir bakal secapek apa coba kita?!"

"Hahahaha… kalau enggak mau capek ya mati aja, mas?" Inaba membela diri. "Keputusan anak-anak panitia itu mutlak, lhooo…"

"Enggak bisa gitu, dong! Masa' tahu-tahu kami ditunjuk ikut berperan dalam drama itu, sih? Mana dapatnya peran utama lagi!" protes Nozomi.

"Are? Memangnya, Toujo-san enggak mau dipasangkan dengan Yazawa-kun?" tanya Inaba kecewa.

Wajah Nozomi bersemu merah. Benar juga, kapan lagi dia bisa menjadi princess-nya Nico?

"Ba, baiklah… aku mau," kata Nozomi.

"E, eeeeeeh?! Serius lo, Nozomi?!" seru Nico sambil memegang kedua bahu Nozomi dan mengguncang-guncangkan tubuhnya.

"Oi, oi, Yazawa-kun? Masa' kamu kalah berani sama Toujo-san, sih?" Inaba mencoba memanas-manasi Nico. "Drama ini bisa jadi batu loncatan untukmu yang ingin jadi idol, lho…"

"Hah? Maksudmu?" tanya Nico.

"Kau enggak tahu, ya? Dari dulu itu banyak banget pencari bakat yang datang ke bunkasai-nya SMA Otonokizaka!" ujar Inaba. "Siapa yang tahu kalau mereka bakal scout kamu?"

"Serius lo, Inaba?! Gue hajar lo kalau bohong!" kata Nico heboh.

"Serius, lah… ngapain bohong sama kamu juga?" jawab Inaba.

"Yosh, lihatlah baik-baik! Akan kutunjukkan Romeo Nico-nii-sama yang hebat ini! Hahahahahaha!" seru Nico.

"Ahahaha… tadinya kami ingin menunjuk Sonoda-kun dan Ayase-san sebagai tokoh utamanya, sih…" ujar Inaba.

"Eh? Terus, kenapa dilempar ke kami?" tanya Nozomi heran.

"Kata anak-anak klub drama rasanya membosankan saja kalau dua orang populer di sekolah kita yang malah makin beken," jelas Inaba. "Lalu, mereka pun berpikir sepertinya kalau Yazawa-kun yang terkenal bad boy dan Toujo-san yang katanya alim dipasangkan pasti akan tercipta Romeo dan Juliet yang lebih greget lagi, begitu…"

"Nozomi? Alim kata lo? Hahahahahahaha!" Nico tertawa terbahak-bahak.

Nozomi pun langsung mengelitiki pinggang Nico.

"Adududuh! Geli! Sumpah, ampun!" ronta Nico.

"Intinya, kalian udah deal, 'kan?" tanya Inaba.

"Tentu saja!" jawab Nico semangat.

"Oh ya, lalu, bagaimana dengan Ericchi dan Takumi-kun?" tanya Nozomi.

"Oh, mereka? Kalau Ayase-san itu jadi ibu dari Romeo, sedangkan Sonoda-kun jadi ayahnya Juliet," ujar Inaba.

"Sepertinya ini akan jadi drama yang menyenangkan, ya, Inaba-kun?" kata Nozomi.

"Hahaha, tentu saja! Nih, script-nya!" kata Inaba sambil menyerahkan empat buku skenario untuk Nozomi, Nico, Takumi, dan Eri. "Tolong sesekali luangkan waktu kalian berempat agar bisa ikut latihan bersama kami, ya!"

"Oke," kata Nozomi.


"Sudah dengar? Katanya, pemeran Romeo dan Juliet untuk bunkasai nanti diganti, lho!"

"Eh? Enggak jadi Sonoda-kun dan ketua OSIS, dong?"

"Iya! Masa' yang main jadi Yazawa Nico dan wakil ketua OSIS! Iiiih… malas banget deh nontonnya!"

"Kok, gitu, sih? Anak-anak drama otaknya pindah ke dengkul, apa? Jelas-jelas si Yazawa anak bandel begitu! Kenapa malah dia yang jadi Romeo?!"

"Iya, 'kan?! Sayang banget! Padahal Toujo-san 'kan cantik banget, tapi malah dipasangkan sama bad boy yang idol wannabe itu! Huh!"

"Entah kenapa aku merasa auditorium bakal kosong seperti live pertama µ's, nih…" kata Nico sambil berjalan gontai melewati para anak perempuan yang tengah membicarakannya. "Kau benar-benar apes karena dipasangkan denganku, Nozomi,"

"Untuk apa kamu mendengarkan mereka? Bukannya kamu sendiri yang bilang akan menunjukkan betapa hebatnya Romeo yang kamu mainkan nanti?" Nozomi berusaha menyemangatinya.

"Bodoh! Kau pikir mereka akan melihat pertunjukan kita, apa?!" bentak Nico. "Harusnya kau juga malu karena dipasangkan denganku!"

"Untuk apa aku merasa malu?!" balas Nozomi. "Belum juga pertunjukan dimulai, tapi kamu sudah pesimis begini! Aku enggak pernah kenal Yazawa Nico yang pengecut begini!"

"Terserah! Kalau begitu, aku akan menarik ucapanku dan bilang pada Inaba agar mereka kembali memainkan Takumi dan Eri sebagai Romeo dan Juliet!" kata Nico sambil mempercepat langkahnya.

Tetapi tiba-tiba ada yang menarik lengan Nico.

"Uwah… tunggu, tunggu, Nico-kun!" kata Kazuya.

"Nico-kun! Kau lupa kalau masih punya kami, ya, nya?" tanya Rin.

"Hah? Apa maksud kalian? Memangnya, kalian bisa apa untuk pertunjukan itu?!" balas Nico.

"Nico-kun yang bilang sendiri kalau akan menunjukkan Romeo terhebat pada mereka, 'kan?" kata Kotori. "Aku bisa membantumu mewujudkannya, lho,"

"Eh?" Nico tidak mengerti.

"Kotori akan membuat kostum untuk drama itu, Hanayo menjadi make up artist, dan aku yang memainkan musik latarnya," jelas Maki. "Kami akan pastikan membuatmu dan Nozomi bersinar!"

"Jadi, untuk apa kamu merasa pesimis hanya karena omongan segelintir orang, Nico?" kata Eri. "Kamu lupa, ya, kalau kamu number one idol in the universe?"

"Sebaiknya, kamu tunjukkan pada mereka kemampuan terbaikmu," tambah Takumi. "Bukannya kamu ingin membalas Wada yang sudah menjelek-jelekkan klub kita?"

"Ayo, kita tampilkan Romeo dan Juliet-nya µ's kepada mereka, Nico-kun!" kata Hanayo sambil menggenggam tangan kanan Nico dengan kedua tangannya. "Aku yakin, Nico-kun akan menjadi Romeo yang membuat banyak orang tersenyum puas dan melakukan standing applause!

"Ka, kalian…" Nico terharu karena kebaikan teman-temannya.

"Jadi, bagaimana, Nicocchi? Kamu masih ragu?" tanya Nozomi.

"Huh! Berani sekali kau memanggilku 'Nicocchi', Juliet-ku?" jawab Nico sambil memegang dagu Nozomi. "Sebelum pertunjukan berakhir, panggil aku Romeo-sama!"

"Ya, ya, terserahlah…" kata Nozomi cuek.

"Oi… jangan kacangin gue, Juliet!" seru Nico kesal.

Itu artinya dia sudah kembali jadi Nicocchi yang biasanya, 'kan? Hihihi… gumam Nozomi sambil tergelak.


Akhirnya, tiba juga pertunjukan yang ditunggu-tunggu. Setelah selesai menampilkan live No Brand Girls, para anggota µ's pun bergegas menuju backstage auditorium untuk menyiapkan kostum dan keperluan drama lainnya.

Maki mengatur piano agar nada yang dihasilkannya pas. Kotori membantu memasangkan kostumnya Nozomi dan Eri. Hanayo merapikan rambut Nico dan merias wajahnya sedikit agar tidak terlihat kusam setelah live yang lumayan melelahkan tadi. Kazuya dan Rin yang berperan sebagai pohon dan semak-semak pun sudah siap dengan kostum mereka. Takumi yang sudah siap dengan kostum sang ayah dari Juliet pun meregangkan tubuhnya sambil bersandar di sudut ruangan.

"Karena bintang pertunjukan ini adalah Nico-kun jadi kami persilakan kepada Romeo-sama untuk memberi aba-aba!" kata Kazuya.

Nico pun maju dan meletakkan tangannya di atas tangan kedelapan member lainnya.

"Ehem! Sebelumnya, aku ingin berterima kasih pada kalian yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk latihan dan properti pertunjukan ini," kata Nico. "Nico-Nico-nii… ah, bukan, bukan! Maksudku, µ's drama…"

"Action!" seru mereka bersembilan kompak.

Pertunjukkan dimulai dengan kemunculan Nico yang melakukan monolog di bawah sorotan lampu panggung.

"Malam itu, saat pesta dansa itu aku bertemu dengan dirinya," kata Nico. "Gadis tercantik yang pernah kulihat, yang membuatku jatuh cinta hanya dengan sekali tatap! Tetapi… kudengar gadis itu adalah putri dari musuh bebuyutan keluargaku, apakah Tuhan memang tidak mengizinkan kami untuk bersatu?"

Para siswi yang waktu itu membicarakan Nico pun mulai berdebar jantungnya. Mereka tenggelam dalam pesona yang dikeluarkan pemuda bermanik merah itu. Ya, Nico memang tampan sekali sore itu sehingga para murid yang dulu mengucilkannya mulai merubah cara pandang mereka terhadap sang bintang.

"Namun, persetan dengan takdir ini!" seru Nico. "Aku sungguh mencintai gadis itu! Malam ini aku akan menemuinya dan membuatnya tahu apa yang kurasakan terhadapnya!"

Lampu sorot dimatikan dan Nico pun turun dari panggung. Para staff bergerak cepat untuk mengganti latar dengan suasana kastil milik keluarga Juliet. Begitu latar telah sempurna, lampu sorot kembali dinyalakan di atas Nozomi yang tengah menopang dagu di balkon kastil.

"Pemuda itu, siapakah gerangan dirinya? Tatapannya, senyumannya, semua hal tentang dirinya di malam itu sukses menjerat hatiku," kata Nozomi. "Wahai bintang, wahai bulan, kudengar dirinya adalah putra dari musuh bebuyutan keluargaku… apa yang harus kulakukan?"

"Daripada Juliet rasanya Nozomi-san lebih cocok menjadi Rapunzel, ya?" komentar Arisa yang duduk di sebelah Yukio untuk menonton drama yang dibawakan oleh kakaknya dan teman-temannya. "Yukio-kun? Kau dengar aku?"

Yukio menutupi wajahnya yang semerah tomat. Dia malu bukan main melihat kakaknya, Kousaka Kazuya yang memainkan peran pohon A. Arisa yang mengerti pun hanya bisa puk-puk ala kadarnya.

"Aku turut prihatin, ya, Yukio-kun," kata Arisa dengan nada datar.

"Sudah, jangan dikatakan! Kau membuatku tambah malu, tahu!" seru Yukio.

Suasana menjadi tegang saat Nico mulai memasuki kawasan kastil keluarga Juliet. Para penjaga tampak fokus mengawasi sekeliling karena merasakan kehadiran penyusup.

"Hei, kau dengar itu?" tanya penjaga A.

"Ada apakah gerangan?" penjaga B balik bertanya.

"Diriku merasakan hawa asing di kastil ini! Aku yakin, hawa ini berasal dari musuh keluarga yang kita layani!" ujar penjaga A.

"Kita harus temukan sang biang keladi itu sebelum dia menerobos masuk melewati balkon nona muda!" kata penjaga B.

Nico bersembunyi di belakang Kazuya yang memerankan pohon A. Begitu sang penjaga pergi, Nico menatap balkon dan memanggil Juliet.

"Wahai, pujaan hatiku! Ingatkah engkau pada diriku?" ucap Nico.

Nozomi menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena terkejut. "Ya, Tuhan! Romeo-sama, apakah benar itu dirimu?"

Nico memanjat tembok kastil dan berdiri di balkon tempat Nozomi berada.

"Syukurlah, sosok yang rendah ini masih diingat oleh Anda, dewiku," kata Nico sambil mencium tangan Nozomi.

"Sosok yang rendah? Janganlah engkau anggap dirimu serendah itu, Romeo-sama!" kata Nozomi sambil memegang pipi kiri Nico.

Keduanya saling bertatapan.

"Aku adalah putra dari musuh bebuyutan keluargamu," ujar Nico. "Pantas lah aku menganggap diriku rendah di hadapanmu, Juliet!"

"Tidak, Romeo-sama!" bantah Nozomi. "Bagaimana bisa sosok rendahan sukses menancapkan panah asmara di hati ini? Adinda jatuh cinta kepadamu, Romeo-sama! Tidakkah engkau mengerti?"

"Ya, Tuhan… betapa kejamnya takdir yang mempertemukan dua insan yang saling mencintai, namun tidak direstui!" kata Nico. "Apa yang harus kulakukan demi meminangmu, wahai, kekasihku? Diriku merindukanmu setiap malam, menginginkan dirimu selalu di sisiku!"

"Oh, Romeo-sama!" Nico dan Nozomi pun berpelukan sehingga auditorium menjadi riuh dengan sorak-sorai dari para penonton.

Sebenarnya adegan berpelukan di sini harusnya adalah adegan berciumannya Romeo dan Juliet, namun karena diberikan batas oleh kepala sekolah dan guru-guru para anggota klub drama mengubahnya menjadi berpelukan saja.

"Oh, guru! Apa yang harus diriku lakukan?" tanya Nico sambil menemui guru dari Romeo.

"Apa yang membuatmu sedemikian bingung, wahai, Romeo?" kata sang guru balik bertanya.

"Aku mencintai seorang gadis, namun dia adalah putri dari musuh bebuyutan keluargaku!" ujar Nico. "Aku ingin dia menjadi teman hidupku, namun apa daya takdir yang tidak mengizinkan kami untuk bersatu!"

"Wahai muridku, janganlah engkau gelisah!" kata sang guru. "Aku memang tidak pernah mengajari engkau untuk berbuat kotor, namun ini pengecualian untuk situasimu!"

"Wahai guru, apakah maksud Anda?"

"Bawalah sang putri kemari dan ucapkanlah janji sucimu padanya!" perintah sang guru. "Diriku lah yang akan menjadi saksi pernikahan kalian!"

Latar kembali berganti menjadi kastil keluarga Juliet.

"Oh, Juliet, ikutlah denganku!" kata Nico sambil mengulurkan tangannya.

"Maafkan adinda, Romeo-sama! Aku tidak bisa! Ayahanda melarangku, tidak! Bahkan seluruh keluargaku, Romeo-sama!" jawab Nozomi.

"Oleh karena itu, aku ingin membawamu pergi dengan paksa, wahai kekasihku," ujar Nico. "Biarkan aku meminangmu tanpa diketahui mereka!"

"Ta, tapi, Romeo-sama…" air mata Nozomi mulai menetes.

Sebenarnya, tidak ada adegan menangisnya Juliet dalam script, tapi dialog yang dilakukan Romeo dan Juliet ini mengingatkan Nozomi akan hubungannya dengan Nico yang tidak ada kemajuannya. Bahkan dalam kasus Juliet yang dirinya tidak direstui keluarganya untuk berjodoh dengan lelaki pujaannya itu membuat Nozomi tidak bisa menahan perasaannya.

Nico berpikir Nozomi tengah melakukan improvisasi sehingga dia berusaha mengikuti akting lawan mainnya itu.

"Wahai, kekasihku… janganlah engkau teteskan air mata itu!" kata Nico sambil memeluk Nozomi erat. "Aku berjanji akan membuatmu bahagia maka menangislah sepuasmu setelah kita ucapkan janji suci kita,"

Brak! Pintu kamar Juliet dibuka dengan kasar oleh ayahnya.

"Juliet! Bisa-bisanya engkau berhubungan dengan anak dari musuh abadi keluarga kita!" seru Takumi. "Beraninya kau sentuh putriku, dasar tikus got!"

"Pergilah, Romeo-sama!" kata Nozomi sambil mendorong Nico untuk lepas dari pelukannya.

"Baiklah, Juliet," kata Nico sambil melompat turun dari balkon. "Namun ini bukanlah akhir dari kisah kita, aku belum menyerah!"

Setelah malam itu, ayahnya Juliet memberikan obat agar putrinya koma untuk menuntut keluarga Romeo seolah-olah Romeo telah membunuh Juliet dan juga agar putrinya tidak disentuh lelaki lain yang tidak dikehendakinya menjadi menantu.

"Ya, Tuhan! Juliet!" seru Nico begitu melihat Nozomi yang telah menutup mata di dalam peti mati.

"Bagaimana, Romeo? Ini lah akibatnya karena kau lancang menyentuh anakku!" kata Takumi.

"Romeo! Katakanlah pada bajingan itu bahwa ini tidak benar!" seru Eri.

"Cukup!" seru Nico.

Nico meneteskan air matanya. Ia membopong Nozomi keluar dari peti itu dan membaringkan gadis bersurai ungu itu di pangkuannya.

"Juliet, apakah dirimu mendengarku?" tanya Nico. "Pasti tidak, ya? Maafkan aku karena terlambat menjemputmu…"

Romeo berpikir Juliet telah meninggal.

Nico mengeluarkan sebotol racun dalam sakunya. "Ibunda, ayahanda calon mertuaku, ampunilah kami yang saling mencintai ini… Juliet, kekasihku… biarkan aku menyusulmu, berada di sisimu selamanya,"

Romeo pun wafat di dada kekasihnya itu. Tak lama kemudian, efek obat yang membuat Juliet koma pun habis dan membuat Nozomi bangun.

"Oh, Romeo-sama! Tega nian dirimu yang tidak menyisakan setetes pun racun untuk diriku!" kata Nozomi.

Kemudian Nozomi mengambil pedang yang tersarung di pinggang Nico. "Tunggulah aku, pedang ini lah yang akan mengantarku menemuimu, menuju tempatmu berada, menjadi teman hidup dan matimu selamanya…"

Nozomi berakting menusukkan pedang itu ke jantungnya dan ceritanya meninggal sambil memeluk Nico. Pertunjukan pun berakhir. Lalu, auditorium ramai dengan sorak-sorai dan juga isak tangis. Para pemain dan staff berdiri di panggung kemudian memberi hormat dengan membungkukkan tubuh mereka pada para penonton.

"Otsukare!" kata semua member µ's sambil saling merangkul sebelum turun dari panggung.

"Hei, kamu!" panggil seorang wanita berusia sekitar 20an kepada Nico yang hendak kembali ke backstage.

"Sa, saya, kak?" kata Nico sopan sambil menunjuk dagunya.

"Iya, kamu! Kemarilah, ada yang ingin saya bicarakan!" kata wanita itu memperjelas.

Nico pun menurut dan mengekori wanita itu.

"Uwaaah… belum apa-apa Nico-kun sudah punya penggemar bahkan dari kelas usia 20an, nya!" komentar Rin begitu Nico berlalu.

"Apa boleh buat? Aktingnya Nicocchi 'kan bagus banget tadi!" kata Nozomi. "Enggak aneh kalau banyak wanita yang tertarik padanya,"

"Nozomi…" Eri menatap sahabatnya itu khawatir.

"Kalian ini benar-benar enggak tahu apa-apa, ya?" kata Wada sambil bertolak pinggang.

"Haaah… Wada-san, kami capek banget saat ini jadi bisakah kau tinggalkan kami?" kata Takumi dingin.

"Jangan salah sangka, aku hanya ingin mengucapkan selamat pada kalian!" ujar Wada.

"Huh! Jangan mengejek kami!" kata Maki.

"Heh, jadi anak kelas satu tuh jangan nyolot, ya!" balas Wada sambil menatap Maki tajam.

"Jadi, intinya ucapan selamat itu tulus, 'kan?" tanya Kazuya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Ya, aku tulus! Kalian sukses membuat auditorium penuh melebihi ekspektasiku jadi kuharap kalian mau memaafkan sikapku waktu itu," kata Wada.

"Umm… mungkin ada baiknya kalau senpai katakan itu saat Nico-kun kembali," saran Hanayo. "Karena senpai pertamanya memang mengajak ribut dengan ketua kami, 'kan?"

"Oiiii, kalian semua! Lihat, lihat!" seru Nico sambil melompat-lompat kegirangan seperti anak kecil sambil menghampiri mereka.

"Oh? Urusan dengan kakak cantik tadi sudah selesai, ya, Nicocchi?" sindir Nozomi sambil tersenyum kecut.

"Un! Lihat ini!" kata Nico sambil menunjukkan kartu nama wanita itu.

"Fujimiya Kaoru?" Eri membaca nama di kartu nama itu. "Kok, rasanya kayak pernah dengar, ya?"

"Payah, masa' kaichou enggak tahu siapa dia?" kata Wada. "Dia adalah alumni SMA Otonokizaka yang sekarang menjadi direktur Fujimiya Records, dapur rekaman yang sukses melahirkan idol-idol besar!"

"EEEEH?! Tunggu, Nico-kun… jangan-jangan kamu baru saja…?" kata Hanayo kaget.

"Hehehehe, yap! Setelah lulus SMA, beliau menawari aku untuk memulai debut di bawah naungannya!" ujar Nico sambil nyengir.

"Hahahaha, benar apa kataku, 'kan, Yazawa-kun?" kata Inaba dari bawah panggung.

"Terima kasih banyak, Inaba!" kata Nico. "You rock, man!"

"No prob, bro!" jawab Inaba. "Berjuanglah!"

"Syukurlah, aku bisa bernafas dengan lega sekarang," kata Maki sambil mengelus-elus dadanya.

"Hah? Apa maksudmu, Maki?" tanya Nico.

"Sekarang aku bisa tenang karena senpai-ku yang tololnya bukan main ini enggak akan jadi pengangguran begitu lulus, Ya Tuhan, terima kasih!" ujar Maki sambil merapatkan kedua tangannya seperti ingin berdoa.

"Oiiiii!" Nico kesal sekali dengan kelakuan Maki yang seolah meledeknya.

Syukurlah, ya, Nicocchi? Are? Kenapa ini? Kenapa aku menangis? kata Nozomi dalam hati sambil berusaha menghentikan air matanya.

"Nozomi? Kamu kenapa?" tanya Takumi khawatir.

"Enggak, bukan apa-apa, kok… aku hanya kelilipan," Nozomi berusaha berbohong.

"Apaan, sih? Jelas-jelas kamu nangis begitu!" kata Eri.

"Nozomi-chan, kamu kenapa?" tanya Kotori yang tak kalah khawatir.

Ah, iya, aku mengerti kenapa aku menangis mendengarnya. Itu karena aku akan semakin jauh darinya, bukan? Pikir Nozomi.

Kemudian Nozomi berlari meninggalkan teman-temannya padahal dia belum mengganti gaun Juliet-nya.

"Tunggu, Nozo—" Eri berusaha menyusulnya, namun dihentikan oleh Nico.

"Sudahlah, biar aku yang menyusul Juliet," kata Nico sambil tersenyum. "Aku belum ngomong apa-apa sama dia soalnya, hehe…"


Aku ini kenapa, sih? Harusnya aku senang karena orang yang kusukai berhasil meraih mimpinya, 'kan? gumam Nozomi.

Tiba-tiba ada tangan yang mendarat di kepalanya dan mengelusnya dengan lembut.

"Yo, kok, tiba-tiba lari, sih?" sapa Nico sambil duduk di sebelahnya.

"Ya, maaf…" kata Nozomi. "Selamat, ya, Nicocchi,"

"Bodoh, Fujimiya-san enggak akan scout aku kalau enggak ada kamu, tahu!" ujar Nico.

"Eh?"

"Jadi, dia tergerak untuk merekrutku setelah kamu menangis di malam kedua Romeo mengunjungi Juliet itu, lho…" jelas Nico. "Kalau kamu enggak improvisasi tadi mungkin dia enggak akan memanggilku,"

Huh, padahal aku menangis karena alasan lain… kata Nozomi dalam hati.

"Terima kasih, Nozomi!" kata Nico sambil tersenyum kegirangan. "Aku berhutang budi padamu!"

"Jangan ngerendah, deh! Seperti bukan dirimu saja!" kata Nozomi dengan wajah memerah.

"Hei… aku serius!" seru Nico. "Ini karenamu, Nozomi! Aku benar-benar beruntung telah menjadi Romeo-mu hari ini!"

Senyum mulai terukir di wajah gadis itu. "Ya, terima kasih, Romeo-sama…"

"Sudah kuputuskan!" kata Nico heboh sambil berdiri dan bertolak pinggang.

"Memutuskan apa, deh?"

"Kau harus jadi orang pertama yang menempati kursi VIP di konser perdanaku nanti!" kata Nico sambil nyengir. "Akan kuberitahu semua penggemarku betapa berartinya kamu untukku!"

"Hihi, baiklah!" kata Nozomi sambil tersenyum.

Bunkasai itu menjadi momen yang tidak terlupakan bagi gadis bersurai ungu itu. Meski sedikit, dirinya merasa jarak di antaranya dan lelaki pujaannya itu mulai memendek berkat janji itu. Ya, dirinya bersyukur menjadi seseorang yang berarti bagi hidup seorang Yazawa Nico.