Hari Jumat akhirnya tiba. Hari dimana Masquerade Party dilaksanakan.

Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 9.30pm. Hari yang panjang untuk dilalui karena sejak kejadian kemarin, Ren kembali menutup dirinya pada Aron, Minhyun maupun JR. Sejak pagi mereka tidak berbicara sama sekali.

Minhyun dan JR sudah berangkat menuju Tension Club sejak tiga jam yang lalu, untuk mengecek bahwa persiapan pesta sudah matang. Aron yang meminta mereka untuk pergi sedangkan ia yang diam disini. Ia tidak akan membiarkan Minhyun maupun JR berdua dengan Ren.

Ren selesai mandi. Ia segera mengenakan pakaiannya. Sebuah celana hitam yang ketat dengan atasan berwarna putih tanpa lengan yang longgar. JR mengatakan bahwa party ini tidak formal, maka tidak perlu memakai tuxedo. Hanya perlu memakai pakaian layaknya pergi ke club.

Aron sudah bersiap dengan pakaiannya, tidak jauh berbeda dari Ren. Ren keluar dari kamar setengah jam kemudian, dalam keadaan siap. Aron berdiri dari duduknya di sofa ruang tengah, menatap Ren yang menata rambutnya dengan begitu menarik. Menatanya ke sebelah kanan, menggelombangkan sedikit ujung poni dan rambutnya dan mengenakan topi hitam. Ada sedikit eyeliner di matanya. Ren tidak menutup luka di pipinya dengan kapas, tidak juga dengan luka di lengannya dengan perban. Ia membiarkan luka yang hampir mengering itu terbuka.

Aron terdiam menatap Ren dalam beberapa detik.

He's so amazing... no, no, I mean he's so sexy. Ah, what the fuck are you thinking, Aron? Don't tell me that you love him too. Fuck!

"Aron..." Ren berbisik. "Bisa kita berangkat sekarang?"

Aron tergagap. "Y-yeah... tentu..." ia berjalan mendekat ke arah Ren dan membiarkan Ren memeluk lengannya. "K-kau yakin... kita akan keluar dari... you know, apartment..."

Ren mengangguk perlahan dan tersenyum.

"Ayo, kita berangkat." Ia berbisik lagi dan mencium lembut pipi Aron.

Aron tersenyum canggung, membawa Ren ke arah pintu dan keluar dari apartment itu menaiki mobilnya.

.

.

Masquerade Party

A Thriller Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"An Angel has turned into a Demon"

A sequel of Watch It!

.

.

.

Mereka sampai di Tension Club pada pukul 10.44pm. Perjalanan yang cukup lama karena jalanan macet di malam itu. Tapi setidaknya mereka tidak telat untuk sampai disana.

Sudah ada beberapa orang yang sampai, namun belum terlalu banyak karena setiap sudut masih bisa terlihat, belum terhalang oleh orang-orang. Aron menarik Ren ke sebuah ruangan, dimana JR dan Minhyun berada disana.

"Kalian sudah datang?"

Terlihat Minhyun sedang merapikan pakaiannya di depan cermin.

Aron tersenyum, membawa Ren duduk di sebuah sofa setelah ia menutup pintu.

Minhyun dan JR mengarahkan pandangan mereka ke arah Ren secara bersamaan. Ren terlihat begitu cantik pada malam ini. Well, Ren selalu terlihat cantik di mata keduanya.

JR tersenyum, mendekati Ren dan membelai pipinya lembut. "Kau tidak apa, Cutie?"

Ren menggeleng pelan.

"Well, aku bisa mencekik 'mereka' satu-per-satu dan membiarkanmu menginjak dan meludahi wajah mereka. Kau mau aku melakukannya untukmu?"

Ren menggeleng lagi, namun kali ini seraya berdiri.

"Aku bisa lakukan sendiri..." Ren menangkup pipi JR dan mencium bibirnya lembut. "... Baby."

Dan Minhyun benar-benar ingin menambah lebam pada wajah JR sekarang juga.

JR tersenyum senang. Belum sempat ia meraih pinggang Ren mendekat, Ren sudah berjalan melewatinya dan mendekat ke arah Minhyun.

"Minhyun..." ia berbisik. Memainkan jarinya di dada Minhyun lalu menuju pahanya dan tersenyum, memberikan isyarat agar Minhyun mengikutinya keluar.

Minhyun menelan ludahnya, tepat ketika Ren beranjak keluar. Ia segera menyusul namja pirang itu.

Dan JR berusaha menahan amarahnya. Aron menepuk pundak JR dan membuat namja itu menoleh.

"Percayalah padaku bahwa mereka tidak akan melakukan apapun..."

Walau Aron tidak yakin dengan kalimatnya sendiri, ia berusaha menenangkan JR.

Ren membawa langkahnya menuju toilet dan Minhyun mengikutinya dari belakang. Mereka masuk ke dalam salah satu bilik toilet dan Minhyun menguncinya.

"I know you love me, Minhyun..." Ren berbisik.

Minhyun menyeringai "That's the reason why I'm here, Ren."

Minhyun tidak bisa menolak dan berpikir lurus untuk saat ini, sama halnya seperti apa yang dilakukan JR kemarin. Ren seperti sebuah mantra. Ketika ia berbisik, maka kau masuk ke dalam pesonanya.

Ren mendekat, menghimpit tubuh Minhyun dengan tubuhnya dan tanpa ragu melumat bibir atas Minhyun. Ciuman pertama mereka selama mereka saling mengenal.

Dan hal ini tidak akan Minhyun sia-siakan.

"Tentu kau bisa membantuku, bukan?"

Minhyun mengangguk dan memeluk pinggang Minhyun. "Apapun untukmu, Ren."

Ren mencium ujung hidung Minhyun, menjilat pipi lalu bibirnya. "Aku berjanji kita akan bersama setelah semuanya berakhir..."

"Bagaimana caranya?" Minhyun berbisik dan mencium aroma Ren dari lehernya. "Kau bilang kau mencintai JR..."

"Itu hanya untuk kepuasan."

Minhyun menarik kepalanya dan menatap Ren.

"But you're different..." Ren mencium bibirnya lagi. "I love you."

Minhyun tidak bisa mengatakan apapun setelah ini. Melihat Ren dan JR bercinta kemarin membuatnya ingin membunuh JR saat itu juga. Ia marah, karena ketika ia berpikir setelah kematian Baekho ia dapat memiliki Ren, JR mendahuluinya. Namun dengan adanya kesempatan ini membuat Minhyun tidak memperdulikan akal sehatnya. Ia menjilat bibir Ren yang tersenyum menggoda ke arahnya, lalu membawanya ke dalam sebuah ciuman yang penuh gairah.

"Mmh~"

-000-

Maaf ya pendek u,u

soalnya pengen tau respon kalian tentang ff ini, dan pengen tau ff ini cocok lanjut atau engga?

thanks beforeeeeee