Huwaaaa... mbak author mohon maaf sebesar-besarnya karena lama banget update untuk chapter ke-17 ini! :'(
Tapi mbak jamin isinya enggak mengecewakan, kok... (I hope so), so, let's check it out!
Hot 'n Cold
"Kalian berdua ngapain, sih?" tanya Maki begitu masuk ke ruang klub peneliti idol dan mendapati Hanayo juga Nico yang tengah mojok dengan lesu. "Jangan buat aura kesuraman kalian memenuhi ruangan ini, dong!"
"Ti, tinggal menghitung hari…" kata Nico dengan suara bergetar.
"Hah? Apaan yang tinggal menghitung hari?" tanya Maki bingung.
"Ta, taihen, desu…" kata Hanayo.
"Iya… makanya, ada apa, sih?" tanya Maki lagi.
Nico tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja. "Kita belum punya tempat untuk menampilkan live yang harus diunggah untuk babak penyisihan lima besar Love Live, bodoh!"
Kedua mata Maki membulat. "HAH? Sebentar, kita masuk lima besar?"
"Serius, Nico-kun, Hanayo-chan?!" seru Kazuya yang baru tiba dengan heboh.
"Iya, serius, makanya…" jawab Hanayo. "DAREKA TASUKETEEEE!"
Setelah semua member telah lengkap, mereka pun mengadakan rapat untuk menentukan tempat mereka akan melakukan live.
"Setelah dilihat-lihat kembali ternyata semua sudut sekolah sudah pernah kita gunakan untuk PV, ya?" kata Nozomi setelah selesai menyetel semua video yang diunggah oleh Eri ke website resmi kompetisi Love Live.
"Ugh… bagaimana ini, nya?" Rin mulai depresi.
"Memangnya enggak boleh kalau kita live di tempat yang sudah pernah kita pakai untuk PV-PV yang dulu, ya?" tanya Kotori.
"Bukannya enggak boleh, tapi daya tarik kita akan jadi berkurang kalau begitu," jelas Hanayo.
"Yang namanya idol itu harus selalu berusaha membuat terobosan baru," tambah Nico. "Apalagi posisi kita di ranking kelima saat ini, bukankah itu artinya kita sedang di ujung tanduk?"
"Heh… begitu, ya?" Kazuya hanya manggut-manggut.
"Oi, oi, kau jadi school idol, tapi enggak tahu beginian, apa?" kata Nico yang greget dengan kepolosan Kazuya.
"Ehehehehe…" Kazuya hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi, kita harus gimana untuk live selanjutnya?" tanya Eri.
"Bagaimana kalau kita adakan live di luar sekolah?" usul Maki.
"Boleh juga, tuh!" kata Kazuya. "Kita 'kan sudah latihan banyak dari kemarin-kemarin, gimana kalau hari ini kita istirahat dulu untuk cari lokasi yang pas untuk live kita nanti?"
"Setuju, nya!" kata Rin heboh sambil mengacungkan tangannya yang kemudian diikuti member lainnya satu per satu.
"Haaaah… ternyata memang mustahil menemukan lokasi yang pas kalau deadline-nya udah kurang dari seminggu begini, ya?" keluh Kazuya setelah mereka bersembilan berkeliling di sekitar Akihabara.
Mereka bersembilan menghentikan langkah di depan gedung sekolah UTX. Tampaklah di layar LCD besar A-RISE, grup school idol dari sekolah itu yang seperti biasa menyapa para pejalan kaki dengan progress latihan mereka untuk live yang akan datang juga sedikit spoiler tentang lagu baru mereka.
"Kousaka-kun?" sapa seorang pemuda yang bertubuh agak lebih pendek dari Kazuya.
Kazuya menoleh dan mendapati pemuda dengan rambut pendek coklat tengah tersenyum misterius padanya dan juga para member µ's.
"Tu, tunggu… jangan-jangan kau Kira Tsuba—" ucapan Kazuya terpotong karena Tsubasa lekas menempelkan telunjuk ke bibirnya dan menarik Kazuya menuju UTX.
Tsubasa memberikan bahasa isyarat pada kedelapan member lainnya untuk mengikutinya dan mereka pun menurut dengan berjalan tanpa menarik perhatian sekitar seperti yang dilakukan leader A-RISE tersebut.
"Selamat datang di sekolah kami tercinta, member µ's sekalian!" kata Tsubasa dengan ramah begitu dirinya dan para member µ's tiba di cafeteria khusus untuk A-RISE.
"E, etto… jadi, ada apa sampai kami ditarik ke sini, Ki, Kira—" tanya Hanayo yang gugup luar biasa.
"Sudah, sudah, santai saja, Hanayo-san," sela Tsubasa sambil tersenyum. "Kamu panggil aku, Tsubasa-kun juga tidak apa-apa, kok,"
"Eh? Ta, tapi…" Hanayo merasa tidak enak.
"Tidak perlu malu-malu," kata Yuuki Anju, satu-satunya member perempuan di grup school idol nomor satu itu. "Kami juga menganggap kalian sebagai teman karena kalian telah berhasil menembus ke lima besar, kok. Selamat, ya!"
"Duduklah," kata Toudou Allen sambil memegang bahu kanan Eri. "Kalian pasti capek setelah mengelilingi Akihabara, bukan?"
"Te, terima kasih…" kata Eri dengan wajah memerah.
Ya, bahkan seorang Eri pun dibuat speechless akan pesona yang dikeluarkan oleh para member A-RISE, terutama pemuda tinggi besar dengan tahi lalat di bawah mata kirinya yang tengah memegang bahu kanannya itu. Tentu saja, Takumi merasa terganggu melihat pacarnya disentuh seenaknya oleh Allen sehingga ia menatap keduanya dengan tajam.
"Paman! Tolong teh juga cake-nya, ya!" kata Tsubasa sambil menjentikkan jari pada pria paruh baya yang sepertinya adalah pelayan khusus untuk A-RISE.
"Siap, mas Tsubasa!" jawab pria itu penuh semangat.
"Enggak usah repot-repot, Tsubasa-kun! Kami paling juga hanya sebentar di sini!" kata Maki sungkan.
"Tidak apa, lagipula kami ingin ngobrol banyak dengan kalian," ujar Tsubasa sambil memegang tangan kanan Maki. "Terutama denganmu, si komposer muda yang hebat, Nishikino Maki-san,"
"Uweeeh?" semburat merah memenuhi wajah Maki begitu pemuda bermanik hijau itu menyentuh tangannya.
"Dari data yang kukumpulkan tentang seluruh grup peserta kompetisi Love Live, yang komposernya adalah member di grupnya itu hanya µ's saja, lho," ujar Tsubasa. "Kamu enggak marah kalau aku lumayan tertarik padamu, bukan?"
Nico pun bangkit dan pindah duduk di antara mereka. "Nah, bisa kita langsung ke intinya saja, Tsu-ba-sa-kun?"
Wah, Nicocchi tahu-tahu jadi panas, gitu, sih? gumam Nozomi sambil melirik Nico dengan awkward.
"Hahahaha… oke, oke!" kata Tsubasa sambil melepaskan genggamannya. "Tapi sungguh! Kalian sangat beruntung punya komposer sehebat Maki-san di grup kalian, lho! Kalau dia jadi masuk ke UTX dulu mungkin kami akan langsung merekrutnya,"
"Eh? Dulu kamu pernah mau masuk ke UTX, Maki-chan?" tanya Rin kaget.
"Hanya ikut ujian penerimaannya saja, kok," jawab Maki. "Tapi akhirnya aku memilih Otonokizaka, sih…"
"Karena ibumu alumni di sana, bukan?" kata Anju.
"Tu, tunggu! Tahu dari mana kamu?" tanya Takumi.
"Kami sudah banyak mencari tahu soal kalian, µ's," ujar Tsubasa. "Grup kalian awalnya dibentuk oleh trio anak kelas dua, yaitu Kousaka Kazuya-kun, Minami Kotori-san, dan kau, Sonoda Takumi-kun,"
"Lalu, disusul oleh Koizumi Hanayo-san yang langsung diikuti Nishikino Maki-san juga sahabat semasa kecil Hanayo-san, Hoshizora Rin-kun," tambah Anju. "Kemudian kalian merekrut Yazawa Nico-kun agar klub kalian bisa diresmikan,"
"Yang terakhir adalah Toujo Nozomi-san yang mengusulkan nama µ's dan juga mantan balerina yang mempesona, Ayase Eri-san," kata Allen sambil memegang dagu Eri.
"Tu, tunggu, Allen-kun…" Eri berusaha melepaskan diri dari Allen karena merasa tidak nyaman dengan 'aura pembunuh' yang dikeluarkan Takumi sejak Allen mulai menggodanya.
"Tapi sungguh, begitu kulihat dari dekat kamu memang cantik sekali, ya, Ayase-san?" kata Allen. "Mungkin sebelum Nishikino-san, aku lebih ingin merekrutmu terlebih dahulu…"
Takumi yang mendengarnya menjadi semakin panas sehingga dia bangkit dari tempat duduknya untuk menerjang Allen, tapi Nozomi dan Kotori segera menahannya.
"Sabar, Tacchan… sabar…" kata Nozomi.
"Takumi-kun, onegaiii!" tambah Kotori.
Sialan kau, Toudou Allen! rutuk Takumi dalam hati.
Sambil menghela nafas, Anju berjalan mendekati Allen.
"Jangan kasih kesan yang jelek, deh, poni sungut kecoa!" tegur Anju dingin sambil menarik tangan Allen yang tengah menyentuh dagu Eri. "Dasar playboy!"
"Oh, ayolah, Anju? Wajar kalau pria berkelas sepertiku merasa tertarik dengan gadis seperti Ayase-san, bukan?" kata Allen membela diri.
"Rasanya baru satu jam yang lalu kau mengatakan hal yang sama saat menggodaku tadi," balas Anju dengan ketus.
"Ahahahaha… harusnya kau merasa bangga, dong, karena Toudou Allen ini yang mengatakannya padamu," jawab Allen.
"Oke, oke, cukup!" Tsubasa pun menengahi mereka. "Kalau begini terus, kita enggak akan bisa membicarakan hal 'itu', 'kan?"
"Hal itu?" tanya Nozomi.
"Setelah berkeliling di Akiba pun kalian belum mendapatkan lokasi yang pas untuk live, bukan?" kata Tsubasa.
"Kami bertiga sudah mendiskusikannya," tambah Anju.
"Nah, bagaimana kalau kalian tampil satu stage dengan kami?" tawar Tsubasa.
"EEEEH?! Tunggu! Apa boleh begitu?" tanya Kazuya kaget.
"Tentu saja," jawab Allen.
"Ta, tapi… kami merasa enggak enak karena menggunakan fasilitas sekolah lain untuk keperluan kami," kata Hanayo.
"Memang enggak ada larangan untuk itu, sih…" kata Nico. "Tapi apa kata para fans nanti? Apa kalian ingin membuat kami dihujat habis-habisan?"
"Woah, woah, tenang dulu, Nico-kun!" kata Tsubasa. "Kami juga sudah memikirkan matang-matang tentang rencana ini,"
"Kami akan mengatakan pada para fans bahwa ini adalah live persahabatan antara µ's dan A-RISE," ujar Allen. "Dengan begitu, fans mana pun enggak ada yang berani memprotesnya,"
"Ini kesempatan yang sangat langka, lho…" timpal Anju. "Sayang sekali jika kalian menolaknya,"
"Baiklah, kami mau!" kata Kazuya sambil berdiri.
"EEEEEH?!" kedelapan member lainnya terang saja kaget dengan keputusan Kazuya yang mendadak itu.
"Kok, 'eeeeeh'? Benar kata mereka, dong?" kata Kazuya sambil menaikkan sebelah alisnya. "Dengan begitu kita juga bisa unjuk gigi ke fans A-RISE kalau kita enggak kalah hebat, bukan?"
"Sa, satu panggung dengan A-RISE…?" Hanayo masih tampak tidak percaya.
"Oi, Kuzuya! Jangan ngelindur, deh!" kata Takumi kesal.
"Ngelindur apanya? Aku serius, kok!" jawab Kazuya.
"Semangat yang bagus, Kazuya-kun," puji Tsubasa sambil bertepuk tangan. "Seperti yang diharapkan dari leader saingan kami,"
"Sa, saingan? Bukankah kalian A-RISE, si nomor satu?" kata Takumi.
"Takumi-kun, oh, Takumi-kun…" kata Anju sambil duduk di sebelah Takumi dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu benar-benar polos, ya? Rasanya, aku jadi tertarik padamu, hihihi…"
"Eh?" semburat merah memenuhi wajah Takumi tatkala gadis dengan rambut bergelombang itu menggodanya dan menyentuh pipinya.
Yap, kali ini giliran Eri yang cemburu melihat Takumi yang tengah didekati oleh member perempuan satu-satunya di A-RISE itu.
"Benar kata Anju," kata Tsubasa sambil meregangkan lengannya dengan menariknya ke atas kepala karena pegal. "Naif sekali jika kalian berpikir kami adalah A-RISE yang dulu,"
"Tunggu, apa maksudmu?" tanya Nico.
"Babak kali ini adalah penentuan siapa yang akan melaju ke babak semifinal," ujar Allen. "Mana mungkin kami menaikkan dagu kami dan memandang empat grup dengan rank di bawah kami dengan sebelah mata, bukan? Ya, 'kan, Ayase-san?"
Lagi-lagi Allen memegang dagu Eri dan tentu saja Anju dengan cepat menggaplok tangan mesum si playboy dengan poni ala sungut kecoa itu hingga yang digaplok pun meringis kesakitan.
"Intinya, kami tidak akan kalah dari kalian, µ's!" seru Tsubasa sambil bangkit dari tempat duduknya dan menatap Kazuya dengan tajam.
"Yah, karena kalian sudah setuju untuk tampil satu panggung dengan kami, mari kita lihat saja hasilnya saat hari H nanti," kata Anju.
"Tentu saja, kami tidak akan memberikan penampilan yang setengah-setengah di depan grup dengan member-member yang luar biasa seperti kalian," tambah Allen. "Terutama kalian, 'soldier game' trio yang menyusun lirik, lagu, dan step-step untuk dance,"
"Berisik…" kata Nico sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Ni, Nico-kun?" kata Hanayo khawatir.
"Kubilang, berisik!" seru Nico geram. "Awalnya, kalian menyanjung seluruh member di grup kami, tapi kemudian kalian langsung menjatuhkan keenam member lainnya dengan mengangkat trio bodoh ini!"
"Tri, trio bodoh?" kata Nozomi yang kewalahan menghadapi pemuda bermanik merah yang tengah emosi itu.
"Kayaknya si senpai cebol itu perlu dikasih cermin yang besar, deh!" kata Maki yang merasa agak tersinggung. "Dasar enggak tahu diuntung! Memangnya dia bisa nulis lagu, apa?"
Nico menunjuk A-RISE. "Jangan berani-beraninya kalian lupa kalau µ's bisa sampai sejauh ini berkat kesembilan member, bukan hanya karena 'soldier game' trio, ingat itu!"
"Dan satu hal lagi," kata Kazuya sambil berjalan mendekati Tsubasa. "Kami juga tidak akan kalah dari kalian!"
Tsubasa pun tersenyum. "Hahahaha, menarik sekali! Kalau begitu, berarti ini deal, 'kan?"
"Huh! Tentu saja!" jawab Kazuya sambil membalas jabatan tangan dari Tsubasa.
Hari H pun tiba…
"Wah, kostum yang cantik, Kotori-san!" puji Tsubasa. "Seperti yang diharapkan dari costume designer di µ's!"
"Ahahaha… bi, biasa saja, kok," jawab Kotori merendah.
"Heh? Temanya 'Peterpan', ya?" kata Anju sambil memperhatikan kostum yang dikenakan member perempuan dan laki-laki di µ's secara bergantian.
"Aku jadi semakin tidak sabar untuk melihat penampilan kalian," kata Allen, tetapi yang diperhatikannya hanya Eri.
"Allen, sebaiknya kau perhatikan seluruh member, bukan hanya Ayase-san!" tegur Anju sambil menyikut perut pemuda itu dengan kasar.
"Aduh! Iya, iya…" jawab Allen sambil memegangi perutnya. "Kau ini bawel sekali seperti pengasuhku di rumah!"
"Wajar saja kalau aku bawel," kata Anju. "Bisa gawat kalau nama A-RISE jadi jelek karena kelakuan pewaris tunggal perusahaan Toudou yang playboy sepertimu!"
"Hei, hei… jangan buka kartuku, dong!" gelak Allen. "Gawat kalau Ayase-san semakin tertarik padaku karena tahu latar belakang keluargaku, bukan?"
"Iiiish, pede banget itu orang!" komentar Rin sambil bergidik geli.
"Hahaha, sudah, sudah…" Hanayo berusaha menenangkannya.
"Huh! Mana mungkin juga Eri akan tertarik padamu!" kata Nico yang bertingkah seperti ayahnya Eri saja. "Jangan gunakan momen ini untuk modusin member kami yang berharga, Toudou Allen!"
"Ahahahaha… kita lihat saja nanti! Ya, 'kan, Ayase-san?" kata Allen sambil tersenyum licik.
Eri tiba-tiba tertawa. "Mou! Pede-mu ini memang keterlaluan, ya, Allen-kun?"
"Oh! Tentu saja!" Allen membanggakan diri sambil membusungkan dadanya.
"Ah, sudah hampir waktunya kita naik ke stage!" kata Anju. "Kalau begitu, kami duluan, ya~" lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit pada Takumi.
Setelah selesai merapikan dan menyempurnakan penampilan mereka dari atas hingga bawah, para anggota µ's pun menunggu di koridor tunggu sesuai instruksi dari pihak UTX.
"Naa, Eri?" panggil Takumi setelah mereka saling diam untuk beberapa saat.
"Hmm?" respon Eri.
"Sebaiknya kau hati-hati pada Toudou Allen," kata Takumi. "Jangan terlalu akrab dengannya,"
"Kamu bilang begitu padahal kamu sendiri juga kelihatan senang digoda oleh perempuan itu?" balas Eri sinis. "Iya, deh! Aku ngerti! Anju-san itu lebih menawan dariku, ya, 'kan?"
"Jangan bicara seenaknya!" seru Takumi. "Untuk apa aku memperingatkanmu tentang si sialan itu kalau aku tidak menyukaimu?"
"Plis, deh, Takumi! Jangan tunjukkan keposesifanmu di sini!" ucap Eri.
"Aku 'kan pacarmu! Bukankah harusnya kamu memakluminya?!" kata Takumi membela diri. "Oh? Jadi, sekarang kamu lebih memihak si Toudou itu daripada aku?"
"Uwaaah, baru kali ini aku lihat pasangan bodoh kita bertengkar seperti ini!" komentar Maki sok-sok ngeri.
"Kamu bukannya ngelerai malah duduk manis dan komentar saja!" kata Nico.
"Ahahaha, yoroshiku ne, chibi senpai~" kata Maki cuek dengan melemparkan tanggung jawab itu pada Nico.
"Chibi? Aku bahkan lebih tinggi darimu!" seru Nico kesal karena diledek junior-nya yang bersurai merah itu.
"Tapi tinggimu itu hanya 170 cm, 'kan?" balas Maki. "Itu sih standar dan pendek untuk ukuran cowok, kali? Hahahaha…"
"Ugh…" Nico pun tak berkutik.
"Hei, hei, sudah, sudah!" Nozomi berusaha melerai 'Tom and Jerry'-nya µ's itu.
"Kalau digoda sama dia, tinggal kamu cuekin saja apa susahnya, sih?!" seru Takumi pada Eri.
"Dasar Takumi bodoh! Kesempatan untuk bisa satu panggung dengan A-RISE itu bisa dibilang sekali dalam seumur hidup!" jawab Eri. "Aku 'kan hanya merespon Allen-kun dengan biasa saja! Kenapa juga kamu harus marah? Kamu cemburu?!"
Takumi rasanya ingin meledak mendengar jawaban Eri yang terus ngeyel dinasihati olehnya, tapi dia menarik nafas panjang demi mendinginkan kepalanya.
"Sudahlah, terserah kau saja!" kata Takumi sambil berjalan meninggalkan koridor tunggu. "Tapi kalau penampilanmu sampai jelek saat live nanti, aku tak akan segan-segan untuk menghajarmu meski kamu adalah pacarku, ingat itu!"
"Huh! Kata-kata itu kukembalikan padamu!" balas Eri sambil menjulurkan lidahnya. "Bweeek!"
"Duh, kita mesti gimana ini, Kazuya-kun?" tanya Kotori cemas. "Apa lebih baik kita coba rangkul mereka lagi supaya mereka berbaikan? Aku takut ini akan mempengaruhi penampilan kita nanti,"
Kazuya menghela nafas. "Jujur saja, dari tadi aku ingin sekali melerai mereka, tapi kamu tahu sendiri, 'kan, Kotori-chan? Dua orang itu punya pride setinggi langit jadi jangan tanya sekeras kepala apa mereka saat berselisih seperti ini,"
Eri pun duduk di atas lantai sambil menekuk kedua lututnya. Kemudian dia membenamkan wajahnya ke atas lututnya. Meski pelan, teman-temannya dapat mendengar isak tangis dari gadis pemilik surai berwarna blonde itu.
Mou! Bakka Takumi! rutuk Eri dalam hati sambil menangis.
Nico melirik Kotori dan Hanayo. "Oi, make up yang kalian pakai itu water proof, 'kan?"
"Eh? Iya, sih…" jawab Hanayo.
"Tentu saja karena kita pasti akan mandi keringat saat tampil nanti, bukan?" timpal Kotori.
Nozomi duduk di sebelah Eri dan mengelus-elus punggungnya. "Yosh, yosh… udah, seka air matamu, Ericchi. Ayo, sudah hampir saatnya!"
Maki membantu Eri bangkit dan memberikannya tisu agar gadis bermanik biru muda itu membersihkan kesan 'habis nangis' dari wajahnya yang pucat itu.
Para member A-RISE bertepuk tangan begitu µ's selesai menampilkan Yume no Tobira. Saat kembali ke ruang ganti, Eri menerima e-mail anonim begitu ia mengecek smartphone-nya.
Aku adalah salah satu siswi di UTX dan aku sudah lama nge-fans berat padamu, Ayase Eri-san! Kumohon, temuilah aku di ruang UKS-nya UTX! Aku ingin memberimu sesuatu, namun aku terlalu malu untuk memberikannya di depan orang banyak, begitulah isinya.
Tanpa rasa curiga Eri seolah terhipnotis oleh e-mail itu dan berjalan diam-diam ke tempat yang diminta.
Ugh… gelapnya! Apa benar aku diminta ke sini? gumam Eri begitu membuka pintu ruang UKS.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang mendorongnya dari belakang. Eri pun jatuh terjerembab ke dalam ruangan yang gelap itu dan pintu pun ditutup lalu dikunci oleh orang yang sepertinya juga mendorongnya tadi.
"Tu, tunggu! Siapa di sana?! Keluarkan aku! Kumohon!" jerit Eri sambil menangis karena phobia pada kegelapan.
Lampu pun menyala dan menampakkan sosok asli di balik jebakan ini.
"Yo, Ayase-san… lama juga kau datang," sapa sang pelaku, Toudou Allen.
"A, Allen-kun…? Tunggu, jadi pengirim e-mail itu…" kata Eri yang tentunya sangat terkejut.
"Oh, tentu saja aku, Toudou Allen-sama ini," jawab Allen dengan nada sombong.
"Ta, tapi, kenapa?" tanya Eri.
Allen tersenyum licik dan menarik lengan Eri hingga jarak antara wajahnya dan gadis itu semakin memendek. "Karena aku jatuh cinta padamu, Ayase Eri…"
Eri menunduk. "Maafkan aku, Allen-kun… aku tidak bisa,"
"Hoh? Berani juga kau menolak pria sesempurna diriku?" kata Allen. "Sebetulnya, apa yang kau lihat dari si Sonoda Takumi itu, Ayase-san? Kalian jadian? Oh, berita yang luar biasa sekali untuk menghancurkan grup kalian,"
"A, apa maksudmu?!"
"Kalau berita tentang jadiannya kalian diketahui pihak Otonokizaka itu artinya kalian akan dikeluarkan, bukan?" bisik Allen sambil menyeringai.
"Ku, kumohon, jangan bocorkan hal ini, Allen-kun!" pinta Eri.
"Kalau kau mau seperti itu maka jadilah pacarku, Ayase-san," jawab Allen sambil tersenyum licik.
Eri mendorong Allen agar lepas dari cengkeramannya. "Aku tidak mau!"
"Dasar gadis kurang ajar!" seru Allen murka sambil menjatuhkan Eri ke atas ranjang dan mengunci pergerakan gadis itu dengan mengenggam pergelangan kiri Eri dengan begitu kuat menggunakan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya ia tempatkan di sebelah bahu kanan Eri.
"Tunggu, Allen-kun! Apa yang ingin kamu lakukan?!" seru Eri sambil berusaha melepaskan diri.
"Kau tahu? Aku sudah tinggal dan sekolah lumayan lama di luar negeri," ujar Allen. "Harusnya kau tahu apa yang akan kulakukan padamu,"
"Ti, tidak! Hentikan!" ronta Eri.
"Heh? Jadi, si bodoh hanya bisa meninggalkan kiss mark, ya?" kata Allen sambil memegang leher Eri. "Dasar pengecut,"
"Keputusan yang bagus jika kamu memilihku daripada dia, Ayase-san," lanjut Allen sambil meraba pinggang Eri. "Sebab aku bisa 'memanjakanmu' lebih baik dari si Sonoda itu,"
Ta, Takumi… tasukete! Onegai! kata Eri dalam hati sambil menitikkan air matanya.
Takumi tiba-tiba tersentak seolah memiliki kontak batin dengan kekasihnya yang tengah dalam bahaya itu.
"Hei, ke mana Eri?" tanya Takumi pada ketujuh temannya begitu mereka selesai berganti baju.
Para member perempuan pun saling pandang.
"Ke, ke mana, ya?" kata Hanayo.
"Maaf, Takumi-kun, kami sama sekali enggak sadar Eri-chan pergi entah ke mana," kata Kotori.
"Apa dia masih mengenakan kostum itu?" tanya Takumi.
"Sepertinya masih," jawab Maki. "Lihat, seragamnya masih lengkap di tasnya!"
"Ada apa?" tanya Tsubasa sambil menghampiri mereka. "Wajah kalian tegang sekali,"
"Tsu, Tsubasa-kun! Kau lihat Eri-chan pergi ke mana, nya?" Rin balik bertanya.
Anju dan Tsubasa pun saling pandang.
"Maaf, kami juga enggak tahu, nih," kata Anju. "Apa mungkin dia ke toilet?"
"Ericchi itu penakut jadi mana mungkin dia akan ke toilet sendiri apalagi di daerah yang masih asing untuknya seperti ini," ujar Nozomi.
"Ta, Takumi-kun? Kamu enggak apa-apa?" tanya Kazuya khawatir karena keringat dingin membasahi kedua pelipis pemuda yang tengah mengepalkan kedua tangannya dengan gemetar itu.
Kemudian Takumi mulai berlari meninggalkan mereka semua demi mencari Eri. Mencari orang hilang di sekolah sebesar UTX bukanlah pekerjaan mudah, namun demi melindungi gadis yang dicintainya Takumi rela meski otot-otot kakinya akan sakit luar biasa nanti.
Di UKS…
"Ugh… ku, kumohon, hentikan, Allen-kun!" seru Eri sambil berusaha mendorong Allen dengan tangan kanannya.
Kemudian Allen mencengkeram bahu kanan Eri dengan tangan kirinya. "Huh, dasar gadis nakal! Aku jadi semakin berhasrat untuk memilikimu…"
Allen bermaksud untuk mencium leher Eri. Wajahnya semakin dekat, dekat, dan dekat…
Braaaak! Pintu UKS sukses didobrak oleh pemuda bermanik amber, pahlawan yang dinantikan oleh gadis yang hampir dilecehkan tubuhnya oleh Allen.
Takumi melemparkan sepatunya ke wajah Allen. "Jangan sentuh dia, brengsek!"
Kemarahan Takumi sudah tak bisa dibendung lagi sehingga ia berlari untuk menerjang Allen dan menghajarnya.
"Hanya segitu kemampuanmu?" tanya Allen sambil menghindar dari terjangan Takumi dengan lincah.
Buugh! Allen berhasil menghadiahkan satu tinju di perut Takumi hingga pemuda bermanik amber itu nyaris memuntahkan isi perutnya.
"Argh…!" ringis Takumi sambil bersimpuh dan memegangi perutnya.
"Ha? Cuma segitu?" kata Allen sambil mencengkeram wajah Takumi dengan tangan kanannya dan memojokkannya ke tembok dengan keras hingga bagian belakang kepala Takumi terbentur.
"Ta, Takumi!" seru Eri yang ketakutan karena pertama kali melihat kekasihnya dihajar seperti itu.
Takumi melirik Eri yang kostumnya sudah agak melorot hingga belahan dadanya agak terlihat dan rambut pirang gadis itu juga berantakan.
"Sialan, apa yang kau lakukan pada Eri?!" tanya Takumi sambil mencengkeram leher baju Allen.
Allen tertawa. "Aku merebut 'miliknya yang paling berharga', masalah?"
"Keparat!" umpat Takumi sambil meninju wajah Allen hingga pria bertahi lalat itu melepaskan cengkeramannya karena jatuh terpelanting.
Namun, Allen dengan cepat membalikkan keadaan seperti tadi lagi, yaitu dengan menahan Takumi ke tembok.
"Laki-laki lemah sepertimu tidak pantas ada di sisinya, kau tahu?" kata Allen sambil mencekik leher Takumi. "Harusnya kau sadar akan tempatmu, samurai lemah!"
Takumi shock mendengar ucapan Allen karena memang itu lah kenyataannya. Buktinya, dia tidak berdaya melawan pria yang ingin berbuat jahat pada kekasihnya itu.
"Tidak bisa membalas, ya?" ejek Allen. "Apa sebaiknya manik amber yang kamu banggakan itu kubuat tidak bisa melihat lagi?"
Allen memasang kuda-kuda karena hendak mencolok kedua mata Takumi.
Gawat… sekujur tubuhku sakit sekali… Tidak, apakah aku akan benar-benar buta di sini? kata Takumi dalam hati.
Grab! Ada seseorang yang menahan tangan yang hendak membutakan mata Takumi itu.
"Huh, jadi ini sifat aslimu, Toudou Allen?" kata seseorang yang menyelamatkan Takumi, Kousaka Kazuya.
"Huh, kalian datang terlalu cepat," kata Allen sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
"Bisa kau jelaskan apa artinya ini, Allen?" tanya Tsubasa sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Oh, ayolah, leader~" Allen berusaha membela diri. "Seperti kau tidak tahu aku saja, deh! Ini hanya sapaan ala aku yang telah lama menetap di Amerika, tahu,"
Plaaak! Anju menampar Allen dengan begitu keras.
"Aku kecewa karena kau jadi sebejat ini, Allen!" seru Anju sambil menitikkan air matanya.
"A, Anju…?" Tsubasa agak terkejut karena tidak biasanya Anju semarah itu hingga menitikkan air matanya.
"Beraninya kamu melampiaskan kekecewaanmu karena ditolak olehku tempo hari pada teman sekaligus saingan kita!" lanjut Anju. "Kamu sudah tidak punya otak, apa?!"
"Kata-kata itu kukembalikan padamu, dasar wanita jalang!" balas Allen. "Beraninya kau menolakku!"
"Karena aku tidak memiliki perasaan yang sama dengamu, lantas apakah salah jika aku menolakmu?!" bentak Anju. "Jangan egois, Allen!"
Tsubasa berjalan mendekati mereka dan berusaha melerai. "Sudah, cukup, kalian berdua!"
Kemudian Tsubasa berjalan mendekati µ's dan membungkukkan tubuhnya. "Aku mohon maaf sebesar-besarnya pada kalian!"
Tentu saja seluruh anggota µ's terkejut karena sang leader dari A-RISE tanpa malu memohon maaf atas kelakuan anggotanya sampai seperti itu.
"Silakan pakai UKS kami untuk mengobati Takumi-kun dan Eri-san," kata Tsubasa sambil menarik Anju dan Allen keluar dari sana. "Kami harus mendiskusikan masalah ini, sudah, ya!"
"Ta, Takumi… kamu enggak apa-apa? Bisa berdiri?" tanya Eri khawatir sambil berusaha membantu Takumi bangkit.
Lalu, Takumi menyelimuti tubuh Eri dengan blazer-nya karena kostum yang dikenakan oleh gadis itu sudah tidak karuan lagi akibat kejadian dengan Allen tadi.
Eri tersenyum sambil memapah Takumi ke ranjang. "Ayo, kita obati dulu lukamu, Takumi,"
"E, Eri-chan, apakah kamu butuh bantuan kami?" tawar Kotori.
"Maaf, aku ingin bicara berdua saja dengan Takumi," jawab Eri. "Kalian pulang duluan saja, oke? Kami akan pulang setelah aku menuntaskan masalahku,"
"Ta, tapi…" Hanayo tampak khawatir.
"Sudahlah, Hanayo," kata Nico sambil menepuk bahu Hanayo.
"Ayo, kita pulang," kata Maki.
Kemudian mereka bertujuh pun berlalu.
"Nah, jangan bergerak dulu, ya, Takumi," kata Eri sambil mengompres bagian belakang kepala Takumi yang terbentur cukup keras tadi.
Setelah memeriksa bahwa tidak ada luka yang berat atau kemungkinan kepalanya bocor, Eri pun membalutkan perban pada kepala kekasihnya itu.
"Lenganmu tidak apa-apa?" tanya Takumi setelah diam cukup lama sambil tetap menunduk. Ia khawatir karena terdapat bekas lebam pada lengan dan bahu Eri karena cengkeraman Allen tadi.
"Enggak apa-apa, kok," jawab Eri sambil tersenyum.
Takumi membenamkan wajahnya ke pelukan Eri. "Maaf… maaf… maafkan aku, Eri…"
Takumi menangis dengan penuh penyesalan di dada Eri. Lalu, Eri memeluknya erat sambil mengelus-elus punggungnya.
"Sudah, tidak apa-apa, Takumi," kata Eri yang juga mulai terisak. "Semua ini terjadi juga karena salahku jadi berhentilah menyalahkan dirimu, oke?"
"Mana mungkin aku tidak menyalahkan diriku…" jawab Takumi.
"Udah, udah, udah…" Eri berusaha menenangkannya.
"Aku mencintaimu, tapi aku bahkan tidak bisa melindungimu," lanjut Takumi. "Akan lebih baik jika kamu membenciku, Eri!"
Eri menatap Takumi dengan iba. Kemudian Eri memegang pipi kiri Takumi dan mengangkat wajahnya. Eri pun sukses memberikan ciuman di bibir si penulis lirik bermanik amber itu.
"Mana mungkin aku melakukannya, bodoh," kata Eri.
"Ta, tapi—"
"Aku mencintaimu bukan karena betapa kuatnya dirimu, bukan karena ketampananmu, bukan karena kecerdasanmu, bukan karena kamu adalah pewaris dojo klan Sonoda," ujar Eri. "Aku mencintaimu karena kamu adalah Sonoda Takumi, ya, aku mencintaimu apa adanya, Takumi…"
Eri pun membenamkan wajahnya ke dada Takumi. "Jadi, kumohon… berhentilah merendahkan dirimu dan meragukan perasaanku, oke? Kamu mencintaiku, 'kan, Takumi?"
"Eri…" Takumi menatap mata gadis itu dengan berkaca-kaca.
"Sudah, jangan bersedih lagi," kata Eri sambil menyeka air mata Takumi dengan ibu jarinya. "Yang penting, kita berdua baik-baik saja, 'kan?"
"Ya," jawab Takumi yang sudah mulai tenang sambil membersihkan sisa air mata di wajahnya dengan lengan kirinya.
"Baiklah, kalau begitu aku ingin mengganti bajuku dulu," kata Eri sambil bangkit dari ranjang. "Setelah itu, ayo, kita pulang,"
"Maaf sudah merepotkanmu, Eri," kata Takumi begitu mereka berdua turun di depan kediaman keluarga Sonoda.
"Merepotkan apanya, sih?" jawab Eri sambil menaikkan sebelah alisnya. "Memang sudah tugasnya Pak Mikami untuk mengantar-jemput keluarga Ayase, tahu!"
"Ano… ka, kalau begitu, terima kasih banyak untuk malam ini," kata Takumi sambil membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
"Huh! Dasar kaku!" ledek Eri sambil melakukan chop head pada bagian belakang kepala Takumi.
"Ittai! Kamu lupa kepalaku habis terbentur, apa?!" dengus Takumi kesal.
"Hahaha… kelakuanmu bikin gregetan, sih!" jawab Eri. "Kamu seperti berterima kasih pada orang lain saja!"
"Dasar, memangnya ucapan terima kasih yang normal untukmu itu seperti apa, sih?" tanya Takumi.
"Hihihi…" Eri pun tergelak sambil berjalan semakin dekat ke depan wajah Takumi. "Kamu yakin tidak ingin membalas ciuman yang tadi?"
"Oi, ada supirmu, lho?" kata Takumi.
"Ah, lama!" ucap Eri gregetan sambil menarik dasi Takumi dan lagi-lagi ia sukses menghadiahkan ciuman di bibir Takumi.
"Dengan begini kita sudah 2-0, Takumi, hihihi…" kata Eri sambil tersenyum puas. "Bagaimana? Apakah kamu sudah merasa lebih baik sekarang?"
"Huh, gara-gara Allen kamu jadi enggak tahu malu begini, ya, Eri?" komentar Takumi sambil menaikkan sebelah alisnya.
Kemudian keduanya pun tertawa.
